“Emosi” Pengertian Menurut Para Ahli & Bentuk ( Positif – Negatif )

Diposting pada

Pengertian-Emosi

Pengertian Emosi

emosi adalah suatu reaksi tubuh menghadapi situasi tertentu. Sifat dan intensitas emosi biasanya terkait erat dengan aktivitas kognitif (berpikir) manusia sebagai hasil persepsi terhadap situasi.

Sudah lama diketahui bahwa emosi merupakan salah satu aspek berpengaruh besar terhadap sikap manusia. Bersama dengan dua aspek lainnya, yakni kognitif (daya pikir) dan konatif (psikomotorik), emosi atau yang sering disebut aspek afektif, merupakan penentu sikap, salah satu predisposisi perilaku manusia.

Namun tidak banyak yang mempermasalahkan aspek emosi hingga muncul Daniel Goleman (1997) yang mengangkatnya menjadi topik utama di bukunya. Kecerdasan emosi memang bukanlah konsep baru dalam dunia psikologi. Lama sebelum Goleman (1997) di tahun 1920, E.L. Thorndike sudah mengungkap social intelligence, yaitu kemampuan mengelola hubungan antar pribadi baik pada pria maupun wanita. Thorndike percaya bahwa kecerdasan sosial merupakan syarat penting bagi keberhasilan seseorang di berbagai aspek kehidupannya.


Salah satu pengendali kematangan emosi adalah pengetahuan yang mendalam mengenai emosi itu sendiri. Banyak orang tidak tahu menahu mengenai emosi atau besikap negatif terhadap emosi karena kurangnya pengetahuan akan aspek ini. Seorang anak yang terbiasa dididik orang tuanya untuk tidak boleh menangis, tidak boleh terlalu memakai perasaan akhirnya akan membangun kerangka berpikir bahwa perasaan, memang sesuatu yang negatif dan oleh karena itu harus dihindari.


Akibatnya anak akan menjadi sangat rasional, sulit untuk memahami perasaan yang dialami orang lain serta menuntut orang lain agar tidak menggunakan emosi. Salah satu definisi akurat tentang pengertian emosi diungkap Prezz (1999) seorang EQ organizational consultant dan pengajar senior di Potchefstroom University, Afrika Selatan, secara tegas mengatakan emosi adalah suatu reaksi tubuh menghadapi situasi tertentu. Sifat dan intensitas emosi biasanya terkait erat dengan aktivitas kognitif (berpikir) manusia sebagai hasil persepsi terhadap situasi. Emosi adalah hasil reaksi kognitif terhadap situasi spesifik.


Emosilah yang seringkali menghambat orang tidak melakukan perubahan. Ada perasaan takut dengan yang akan terjadi, ada rasa cemas, ada rasa khwatir, ada pula rasa marah karena adanya perubahan. Hal tersebut itulah yang seringkali menjelaskan mengapa orang tidak mengubah polanya untuk berani mengikuti jalur-jalur menapaki jenjang kesuksesan. Hal ini sekaligus pula menjelaskan pula mengapa banyak orang yang sukses yang akhirnya terlalu puas dengan kondisinya, selanjutnya takut melangkah. Akhirnya menjadi orang yang gagal.


Emosi pada prinsipnya menggambarkan perasaan manusia menghadapi berbagai situasi yang berbeda. Oleh karena emosi merupakan reaksi manusiawi terhadap berbagai situasi nyata maka sebenarnya tidak ada emosi baik atau emosi buruk. Berbagai buku psikologi yang membahas masalah emosi seperti yang dibahas Atkinson (1983) membedakan emosi hanya 2 jenis yakni emosi menyenangkan dan emosi tidak menyenangkan. Dengan demikian emosi di kantor dapat dikatakan baik atau buruk hanya tergantung pada akibat yang ditimbulkan baik terhadap individu maupun orang lain yang berhubungan (Martin, 2003).


Tantangan menonjol bagi pekerja saat ini terutama adalah bertambahnya jam kerja serta keharusan untuk mengelola hal-hal berpotensi stress dan berfungsi efektif di tengah kompleksitas bisnis. Selain itu pekerja dituntut mampu menempatkan kedupan kerja dan keluarga selalu dalam posisi seimbang. Bahkan hanya soal kemampuan logika, saat ini tantangan pekerjaan juga terletak pada kemampuan berelasi dan berempati. Dalam berkata, bertindak dan mengambil keputusan, seseorang membutuhkan kecerdasan emosi yang tinggi, sehingga mampu melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain.


Emosi menjadi penting karena ekspresi emosi yang tepat terbukti bisa melenyapkan stress pekerjaan. Semakin tepat mengkomunikasikan perasaan, semakin nyaman perasaan tersebut. Ketrampilan manajemen emosi memungkinkan individu menjadi akrab dan mampu bersahabat, berkomunikasi dengan tulus dan terbuka dengan orang lain. Berbagai riset tentang emosi umumnya berkesimpulan sederhana bahwa ‘adalah penting untuk membawa emosi yang menyenangkan ke tempat kerja’.


Emosi yang tadinya sering ditinggal di rumah saat berangkat kerja saat ini justru semakin perlu dilibatkan di setiap setting bisnis. Naisbitt (1997) pun dalam bukunya “High Tech, High Touch : Technology and Our Search for Meaning” mendukung pendapat ini. Dikatakannya pada situasi teknologi mewabah, justru haus akan sentuhan kemanusiaan. Perkembangan tehnologi yang luar biasa yang kini terjadi dirasakan tidak diiringi dengan perubahan sosial yang memadai. Naisbitt (1997) menyebut era saat ini sebagai ‘zona keracunan tehnologi’. Di satu sisi sangat memuja tehnologi, di sisi lain melihat ada bagian yang hilang dari tehnologi, yaitu sentuhan kemanusiaan yang kita idamkan (Martin, 2003).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Budi Pekerti : Pengertian, Manfaat, Ciri, Tujuan, Sifat Dan Contohnya Lengkap


Emosi Menurut Para Ahli

Adapun beberapa ahli memberikan definisinya mengenai emosi yang diantaranya yaitu:

Menurut James-Lange

Emosi yang dirasakan adalah persepsi tentang perubahan tubuh. Salah satu dari teori paling awal dalam emosi dengan ringkas dinyatakan oleh Psikolog Amerika William James: “Kita merasa sedih karena kita menangis, marah karena kita menyerang, takut karena kita gemetar”.


Teori ini dinyatakan di akhir abad ke-19 oleh James dan psikolog Eropa yaitu Carl Lange, yang membelokkan gagasan umum tentang emosi dari dalam ke luar. Diusulkan serangkaian kejadian dalam keadaan emosi:

  1. kita menerima situasi yang akan menghasilkan emosi,
  2. kita bereaksi ke situasi tersebut,
  3. kita memperhatikan reaksi kita.

Persepsi kita terhadap reaksi itu adalah dasar untuk emosi yang kita alami. Sehingga pengalaman emosi – emosi yang dirasakan – terjadi setelah perubahan tubuh; perubahan tubuh (perubahan internal dalam sistem syaraf otomatis atau gerakan dari tubuh) memunculkan pengalaman emosional.


Agar teori ini berfungsi, harus ada suatu perbedaan antara perubahan internal dan eksternal tubuh untuk setiap emosi, dan individu harus dapat menerima mereka. Di samping ada bukti perbedaan pola respon tubuh dalam emosi tertentu, khususnya dalam emosi yang lebih halus dan kurang intens, persepsi kita terhadap perubahan internal tidak terlalu teliti.


Menurut Cannon-Bard

Emosi yang dirasakan dan respon tubuh adalah kejadian yang berdiri sendiri-sendiri. Di tahun I920-an, teori lain tentang hubungan antara keadaan tubuh dan emosi yang dirasakan diajukan oleh Walter Cannon, berdasarkan pendekatan pada riset emosi yang dilakukan oleh Philip Bard.


Teori Cannon-Bard menyatakan bahwa emosi yang dirasakan dan reaksi tubuh dalam emosi tidak tergantung satu sarna lain, keduanya dicetuskan secara bergantian. Menurut teori ini, kita pertama kali menerima emosi potensial yang dihasilkan dari dunia luar; kemudian daerah otak yang lebih rendah, seperti hipothalamus diaktifkan. Otak yang lebih rendah ini kemudian mengirim output dalam dua arah:

  • ke organ-organ tubuh dalam dan otot-otot eksternal untuk menghasilkan ekspresi emosi tubuh,
  •  ke korteks cerebral, dimana pola buangan dari daerah otak lebih rendah diterima sebagai emosi yang dirasakan.

Kebalikan dengan teori James-Lange, teori ini menyatakan bahwa reaksi tubuh dan emosi yang dirasakan berdiri sendiri-sendiri dalam arti reaksi tubuh tidak berdasarkan pada emosi yang dirasakan karena meskipun kita tahu bahwa hipothalamus dan daerah otak di bagian lebih bawah terlibat dalam ekspresi emosi, tetapi kita tetap masih tidak yakin apakah persepsi tentang kegiatan otak lebih bawah ini adalah dasar dari emosi yang dirasakan.


Menurut Teori Kognitif tentang Emosi

Teori ini memandang bahwa emosi merupakan interpretasi kognitif dari rangsangan emosional (baik dari luar atau dalam tubuh). Teori ini dikembangkan oleh Magda Arnold (1960), Albert Ellis (1962), dan Stanley Schachter dan Jerome Singer (1962). Berdasarkan teori ini, proses interpretasi kognitif dalam emosi terbagi dalam dua langkah:


  1. Interpretasi stimuli dari lingkungan
    Interpretasi pada stimulus, bukan stimulus itu sendiri, menyebabkan reaksi emosional. Contohnya, jika suatu hari kamu menerima kado dari Wini dimana Wini adalah musuh besarmu, maka kamu akan merasa takut atau bisa mengganggap bahwa kado tersebut berbahaya. Tetapi akan berbeda ceritanya bila Wini adalah seorang teman karibmu, maka kamu akan dengan senang hati menerima dan membuka kado tersebut tanpa curiga. Jadi dalam teori kognitifpada emosi, informasi dari stimulus berangkat pertama kali ke cerebral cortex, dimana akan diinterpretasi pada pengalaman masa kini dan lamapau. Lalu pesan tersebut dikirim ke limbyc system dan sistem saraf otonom yang kemudian akan menghasilkan arousl secara fisiologis.


  2. Interpretasi stimuli dari tubuh yang dihasilkan dari arousal saraf otonom
    Langkah kedua dalam teori kognitif pada emosi yaitu interpretasi stimulus dari dalam tubuh yang merupakan hasil dari arousal otonom. Teori kognitif menyerupai teori James-Lange teori menekankan pentingnya stimuli internal tubuh dalam mengalami emosi, tetapi sebenarnya itu berlanjut ke interpretasi kognitif dari stimuli, dimana hal tersebut lebih penting dari pada stimuli internal itu sendiri.


Menurut Daniel Goleman

Pengertian Emosi menurutnya ialah setiap kegiatan atau pergolakan perasaa, pikiran, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Daniel juga mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dari serangkaian kecenderungan untuk bertindak.


Menurut Chaplin

Pengertian Emosi menurutnya ialah suatu keadaan yang terangsang dari organisme yang mencakup perubahan-perubahan yang disadari yang sifatnya mendalam dari perubahan perilaku tersebut. Chaplin juga membedakan emosi dengan perasaan dan dia mengatakan bahwa perasaan ialah pengalaman yang disadari yang diaktifkan baik itu oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.


Menurut Soergada Poerbakawatja

Pengertian Emosi menurutnya ialah respons terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus. Respons demikian terjadi baik terhadap perasaan-perasaan eksternal maupun internal. Dengan pengertian emosi menurut Soergada ini terlihat jelas perbedaan antara perasaan dengan emosi, bahkan terlihat jelas bahwa perasaan termasuk ke dalam emosi atau menjadi bagian dari emosi.


Menurut Daniel Goleman

Setidaknya ada ratusan emosi bersama dengan variasi, campuran, mutasi dan nuansanya sehingga makna yang dikandungnya lebih banyak, lebih kompleks dan lebih halus dari pada kata dan pengertian yang digunakan untuk menjelaskan emosi.


Dari pengertian emosi diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian emosi ialah setiap kegiatan atau pergolakan perasaan, pikiran, nafsu, serta setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Emosi juga merujuk kepada pikiran-pikiran yang khas dalam suatu perasaan, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Adapun perasaan “feelings” ialah pengalaman yang disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ 14 Peran Pendidikan Bagi Kehidupan Manusia Dan Bermasyarakat Serta Fungsinya


Macam-macam Emosi

Secara garis besarnya emosi digolongkan menjadi dua golongan yaitu emosi positif dan emosi negative. Emosi positif seperti bahagia, senang, gembira, dan cinta. Sedangkan emosi negatif seperti takut, marah, sedih, dan cemas.

  • Menurut Heider (1990), emosi sesih, marah, gembira, dan kaget mendekati kesamaan universal, tetapi emosi cinta, takut, jijik, dan muak lebih bersifat khusus dan tergantung budaya.

  • Menurut Ekman (1972), emosi dapat digolongkan menjadi enam, yaitu marah, muak, takut, bahagia, sedih dan kaget. Dalam perkebanganselanjutnya Ekman (1999) menggolongkan emosi menjadi tujuh belas macam, yaitu: girang, marah, jijik, suka, muak, memalukan, senang, yakut, merasa bersalah, bahagia, bangga, lega, sedih, puas, senang, puas, malu, dan kaget.


  • Sylvan Tomkins menggolongkan emosi cukup sederhana. Sylvan menggolongkan emosi menjadi delapan golongan yaitu senang, gembira, kaget, marah, jijik, sedih, khawatir, dan malu. The Li Chi menggolongkan emosi yang lebih rinci dikemukakan oleh prinz (2004). Mengemukakan emosi menjadi Sembilan golongan yaitu kecewa, panic, cemas, jijik (fisik), menderita, enggan puas, rangsangan, dan kasih sayang.


  • Meskipun berbeda-beda pendapat para ahli tentang penggolongan emosi, tetapi ada beberapa persamaan bentuk-bentuk emosi yaitu senang, bahagia, jijik, sedih dan takut. Perbedaan terletak pada emosi yang lebih khusus sperti kaget dan merasa bersalah.


  • Lovheim (2011) mengusulkan hubungan langsung antara kombinasi spesifik dari tingkat sinyal zat noradrenalin, dopamine, serotonin dengan delapan emosi dasar. Sebuah model kubus tiga dimensi Lovheim tentang emosi, di man zat sinyal membentuk sumbu system koordinat, dan delapan emosi dasar menurut Tomkins Sylvan ditempatkan di delapan sudut. Menurut model ini kemarahan misalnya, yang dihasilkan oleh kombinasi serotonin rendah, dopamine tinggi, dan noradrenalin yang tinggi. Lovheim mengatakan bahwa selama tidak ada serotonin maupun sumbu dopamine identik dengan dimensi “keenakan” dalam teori-teori sebelumnya


Emosi dasar digolongkan menjadi empat golongan, yakni:

  1. Emosi senang
    emosi senang adalah gambaran rasa senag yang dialami seseorang. Emosi senang ini terdiri dari bermacam-macam bentuk, misalnya bahagia, riang, gembira, dan cinta.

  2. Emosi sedih
    Emosi sedih adalah gambaran rasa tidak senang yang dialami seseorang. Emosi ini juga banyak macamnya seperti duka, kecewa, hampa, dan malu.


  3. Emosi takut
    Emosi takut artinya gambaran rasa tidak senang yang dialmai oleh seseorang, baik terhadap objek dari luar diri maupun dalam diri orang tersebut. Objek dari luar diri misalnya takut pada pencuri, takut pada harimau, dan perampok. Rasa takut yang objeknya dalam diri orang tersebut misalnya takut tidak lulus dan takut berbuat salah.


  4. Emosi marah.
    Emosi marah merupakan gambaran perasaan terhadap suatu objek seperti peristiwa, perilaku orang, hubungan sosial, dan keadaan lingkungan. Masing-masing emosi dasar terdiri dari berbagai emosi yang sejenis. Masing-masing emosi tidak ada yng bersifat universal, tetapi ada pula yang bersifat khusus, artinya kata sifat emosi tersebut hanya ada pada golongan atau suku tertentu saja sesuai dengan budaya golongan tersebut.

Secara rinci emosi dasar dan jenis-jenisnya dicantumkan pada tabel berikut ini:

SenangSedihTakutMarah
Gembira

Bahagia

Cinta

Suka

Riang

Gembira

Sayang

Takjub

Kagum

Damai

Pilu

Duka

Lara

Kecewa

Hampa

Merana

Putus asa

Galau

Frustasi

Rindu

Cemas

Cemburu

Ngeri

Malu

Ragu-ragu

Khawatir

Merinding

Gelisah

Jengkel

Jijik

Dendam

Dongkol

Geram

Kesal

Sebal

Benci

Muak

 


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Faktor Kebutuhan Manusia – Pengertian, Mempengaruhi, Macam, Pendapatan, Teknologi, Alat Pemuas


Karakteristik Emosi

Emosi memiliki karakteristik yaitu:

  1. emosi berasal dari proses bio-evolusi,
  2. emosi biasanya tanggap terhadap rangsangan ekologis yang berlaku, tetapi emosi mungkin dipengaruhi oleh temperamen / kepribadian, evolusi budaya, dan proses epigenetik lainnya;
  3. emosi biasanya diaktifkan oleh sebuah proses persepsi yang sederhana (misalnya, melihat ular di jalan anda) yang tidak memerlukan penilaian yang kompleks atau kognisi orde tinggi, dan mereka sering beroperasi dengan pesat dan lebih atau kurang secara otomatis;
  4. perasaan yang unik / komponen motivasi adalah fase dari proses neurobiologis evolusi berasal (ch. Langer, 1967/1982);
  5. setiap emosi urutan pertama memiliki fungsi regulasi yang unik yang memodulasi kognisi dan tindakan;
  6. berbeda dengan negara afektif siklus atau proses seperti lapar, haus, dan gairah seksual, emosi menyediakan sumber terus-menerus motivasi dan informasi yang memandu kognisi dan tindakan. (Izard, 2011:373).

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Fungsi Rambut Manusia – Pengertian, Isolasi, Struktur, Susunan, Klasifikasi, Para Ahli


Bentuk-Bentuk Emosi

Suatu fungsi psikis, seperti halnya emosi, selain diperoleh dari lahir, juga dipengaruhi oleh lingkungan (Sobur, 2003:428). Emosi merupakan sesuatu yang berkembang. Pada anak kecil terdapat bebrapa emosi dasar yang kemudian akan berkembang menjadi macam-macam emosi yang lain. Watson (Sobur, 2003:428) menyatakan manusia pada dasarnya mempunyai tiga emosi dasar, yaitu:

  • fear, yang nantinya berkembang menjadi anxiety (cemas)
  •  rage, yang akan berkembang antara lain menjadi anger (marah)
  • love, yang akan berkembang menjadi simpati.

Syamsudin (2004:114) menggolongkan bentuk-bentuk emosi sebagai berikut:

  1. Amarah : beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, dan barang kali yang paling hebat, tindak kekerasan dan kebencian patologis.
  2. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan kalau menjadi patologis, depresi berat.
  3. Rasa rakut : cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, sedih, tidak tenang, ngeri, kecut; sebagai patologi, fobia dan panik.
  4. Kenikmatan : bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, rasa terpesona, rasa puas, rasa terpenuhi, kegirangan luar biasa, senang sekali, dan batas ujungnya, mania.
  5. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih.
  6. Terkejut : terkejut, terkesiap, takjub, terpana.
  7. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah.
  8. Malu : rasa bersalah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.

Adapun menurut Daniel Goleman “2009” menggolongkan bentuk emosi sebagai berikut:

  • Amarah : beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, tersinggung, bermusuhan dna paling hebat ialah tindakan kekerasan dan kebencian patologis.
  • Kesedihan : pedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, kesedihan, ditolak dan depresi berat.
  • Rasa takut : tekut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak senang, ngeri, takut sekali, fobia dan panic.
  • Kenikmatan : bahagia, gembira, puas, terhibur, bangga, takjub, terpesona, senang sekali dan manis.
  • Cinta : persahabatan, penerimaan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat dan kasmaran.
  • Terkejut : terpana dan takjub.
  • Jengkel : hina, jijik, muak, benci.
  • Malu : rasa bersalah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib dan hati hancur lebur.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Makalah Integrasi Sosial : Pengertian, Bentuk, Tahapan, Contoh Dan Faktor


Ekspresi Emosi

Manifesting emosi atau ekspresi emosi seseorang dapat dilihat dari kata-kata atau verbal dan tingkah laku nonverbal orang yang bersangkutan, contoh emosi marah. Ekspresi emosi marah seseorang dapat diobservasi dari kata-kata atau verbal yang bersangkutan, misalnya nada suara yang keras, atau nada keras disertai suara gemetar. Indikator lain dapat dilihat tingkah laku nonverbal yang bersangkutan seperti ekspresi wajah, gerakan-gerakan tangan, napas, dan gerakan-gerakan tubuh lainnya. Ekspresi emosi tersebut terjadi baik disadari maupun tidak disadari.


Pola-pola fisiologik tertentu akan berkaitan dengan emosi tertentu. Orang yang sedang marah maka matanya melotot, mukanya merah padam, pucat atau tangannya gemetar, tetapi hal tersebut tidak berlaku secara universal. Artinya, tidak seluruh orang yang sedang marah mengalami hal tersebut. Orang yang penegendalian dirinya baik malahn tidak terlihat perilaku verbal dan nonverbal yang mewujudkan dia sedang merah. Dalam kondisi stress kelenjar adrenalin mengeluarkan hormone epinefrin dan norepinefrin. Kedua hormone ini akan menambah tekanan darah dengan cara epinefrin memengaruhi jantung, sedangkan norepinefrin akan menyempitkan pembuluh darah sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan tekanan darah.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Kesenjangan Sosial : Pengertian, Contoh, Penyebab Dan Solusi


Fungsi Emosi dalam Kehidupan

Manusia adalah makhluk yang memiliki rasa dan emosi.Hidup manusia diwarnai dengan emosi dan berbagai macam perasaan.Manusia sulit menghadapi hidup secara optimal tanpa memiliki emosi.Manusia bukanlah manusia, jika tanpa emosi.Kita memiliki emosi dan rasa, karena emosi dan rasa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita sebagai manusia.


Ahli psikologi memandang manusia adalah makhluk yang secara alami memiliki emosi.Menurut James (Purwanto dan Mulyono, 2006) emosi adalah keadaan jiwa yang menampakkan diri dengan sesuatu perubahan yang jelas pada tubuh. Emosi setiap orang adalah mencerminkan keadaan jiwanya, yang akan tampak secara nyata pada perubahan jasmaninya. Sebagai contoh ketika seseorang diliputi emosi marah, wajahnya memerah, napasnya menjadi sesak, otot-otot tangannya akan menegang, dan energy tubuhnya memuncak.


Bagi manusia, emosi tidak hanya berfungsi untuk Survival atau sekedar untuk mempertahankan hidup, seperti pada hewan. Akan tetapi, emosi juga berfungsi sebagai Energizer atau pembangkit energi yang memberikan kegairahan dalam kehidupan manusia. Selain itu, emosi juga merupakan Messenger atau pembawa pesan (Mpengertiann dalam DR. Nyayu Khodijah, 2006)


  • Survival, yaitu sebagai sarana untuk mempertahankan hidup. Emosi memberikan kekuatan pada manusia untuk membeda dan mempertahankan diri terhadap adanya gangguan atau rintangan. Adanya perasaan cinta, sayang, cemburu, marah, atau benci, membuat manusia dapat menikmati hidup dalam kebersamaan dengan manusia lain.


  • Energizer, yaitu sebagai pembangkit energi. Emosi dapat memberikan kita semangat dalam bekerja bahkan juga semangat untuk hidup. Contohnya : perasaan cinta dan sayang. Namun, emosi juga dapat memberikan dampak negatif yang membuat kita merasakan hari-hari yang suram dan nyaris tidak ada semangat untuk hidup.Contohnya : perasaan sedih dan benci.


  • Messenger, yaitu sebagai pembawa pesan. Emosi memberitahu kita bagaimana keadaan orang-orang yang berada disekitar kita, terutama orang-orang yang kita cintai dan sayangi, sehingga kita dapat memahami dan melakukan sesuatu yang tepat dengan kondisi tersebut. Bayangkan jika tidak ada emosi, kita tidak tahu bahwa disekitar kita ada orang yang sedih karena sesuatu hal yang terjadi dalam keadaan seperti itu mungkin kita akan tertawa-tawa bahagia sehingga membuat seseorang yang sedang bersedih merasa bahwa kita bersikap empati terhadapnya.


Dari pemaparan tentang fungsi emosi itu sendiri, maka kita dapat tarik suatu kejelasan bahwa emosi dalam kehidupan sangat berperan untuk menunjang segala aktifitas yang dilakukan oleh manusia. Penggunaan emosi yang tepat dalam situasi yang tepat dapat memepengaruhi terhadap hasil dari aktifitas yang dilakukan oleh manusia. Maka dari itu, patutlah kita menyadari tentang fungsi emosi pada diri kita serta menempatkan emosi tersebut pada situasi yang tepat.


Dengan kita tepat dalam menggunakan emosi kita maka kitapun akan tepat dalam menghadapi suatu hal. Emosi tidaklah selalu harus dipengertiankan sebagai hal yang buruk untuk dilibatkan dalam sesuatu karena Emosi pada prinsipnya menggambarkan perasaan manusia menghadapi berbagai situasi yang berbeda. Oleh karena emosi merupakan reaksi manusiawi terhadap berbagai situasi nyata maka sebenarnya tidak ada emosi baik atau emosi buruk. Berbagai buku psikologi yang membahas masalah emosi seperti yang dibahas Atkinson (1983) membedakan emosi hanya 2 jenis yakni emosi menyenangkan dan emosi tidak menyenangkan.


Dengan demikian emosi di kantor dapat dikatakan baik atau buruk hanya tergantung pada akibat yang ditimbulkan baik terhadap individu maupun orang lain yang berhubungan (Mpengertiann, 2003). Maka dari itu sangat penting untuk disadari bahwa melibatkan emosi yang tepat dalam segala hal aktifitas dapat mempengaruhi terhadap perilaku individu kearah perilaku yang tepat pula khususnya dalam mengambil suatu keputusan.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Interaksi Manusia Komputer Terlengkap


Faktor-Faktor Mempengaruhi Emosi

Menurut Hurlock (1997:6) “faktor yang memainkan peranan penting dalam perkembangan adalah kematangan dan belajar.” Kematangan adalah terbukanya sifat-sifat bawaan individu (Hurlock, 1997:6). Menurut Syamsudin (2004:79) “kematangan menunjukkan kepada suatu masa tertentu yang merupakan titik kulminasi dari suatu fase pertumbuhan sebagai titik tolak kesiapan dari suatu fungsi psikofisik untuk menjalankan fungsinya.” Pola kematangan emosi pada tahun pertama perkembangan individu menjadi dasar bagi perkembangan emosi.


Hurlock (1997:6) menyatakan belajar adalah “perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha pada pihak individu.” Belajar dalam kaitannya dengan perkembangan emosi individu dapat dilakukan dengan belajar cara mengekspresikan emosi, dan belajar memahami peristiwa yang menimbulkan emosi (Hilgard, 1962:169). Belajar yang dilakukan individu dapat mengubah cara individu mengekspresikan emosi. Perkembangan emosi individu dipengaruhi kebudayaan dan lingkungan disekitar individu. Cara individu untuk mengekspresikan emosi dipelajari dari kebudayaan dan kebiasaan tempat tinggal individu. Karena pengaruh kebudayaan, dalam perkembangan emosi terdapat pola-pola ekspresi dan pengendalian emosi, yaitu berada pada halaman berikut (Sukmadinata, 2003:83):


  • Pertama, spontanitas dan Pengendalian. Anak pada umumnya sangat spontan dalam menyatakan emosinya, tetapi karena pengaruh dari kebudayaan individu dituntut harus dapat mengendalikan ekspresi emosinya.

  • Kedua, karena faktor kebudayaan tidak semua rangsangan emosional dapat dinyatakan sebagaimana keinginan individu. Ekspresi emosi yang dapat diterima masyarakat dapat dinyatakan sesuai dengan keinginan individu, tetapi yang negatif atau ditolak oleh masyarakat perlu ditahan dan ditekan. Anak-anak sering dilarang menangis, tertawa terbahak-bahak, marah, takut dan sebagainya, dalam perkembangan emosi-emosi ini terpaksa ditekan, tidak dinyatakan.


  • Ketiga, ekspresi langsung atau tersembunyi. Emosi-emosi yang dimiliki intensitas tinggi seperti benci, permusuhan dan sebagainya, mungkin dapat dinyatakan secara langsung, mungkin juga tidak. Pada umumnya emosi-emosi demikian, bukan hanya ditahan atau ditekan, tetapi disembunyikan.


Penilaian seseorang terhadap setiap permasalahan yang dihadapi tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi. Goleman (2009:6) berpendapat “penilaian kita terhadap setiap permasalahan pribadi dan reaksi terhadapnya terbentuk bukan hanya oleh penilaian rasional atau sejarah pribadi kita, melainkan juga oleh pengalaman nenek moyang kita.” Penilaian atau persepsi seseorang terhadap permasalahan yang dihadapi akan mempengaruhi dalam bertindak. menurut Goleman (2009:318) “kemampuan emosional kita bukanlah harga mati; dengan pelajaran yang tepat, kemampuan itu dapat diperbaiki. Alasannya terletak pada bagaimana otak manusia menjadi matang.”


Keterampilan sosial dan keterampilan emosional dapat diberikan bagi peserta didik, diantaranya sebagai berikut (Goleman, 2009:403)

  1. Kesadaran-diri emosional; (a) perbaikan dalam mengenali dan merasakan emosinya sendiri, (b) lebih mampu memahami penyebab perasaan yang timbul, (c) mengenali perbedaan perasaan dengan tindakan.

  2. Mengelola emosi; (a) toleransi yang lebih tinggi terhadap frustasi dan pengelolaan amarah, (b) berkurangnya ejekan verbal, perkelahian, dan gangguan di ruang kelas, (c) lebih mampu mengungkapkan amarah dengan tepat, tanpa berkelahi, (d) berkurangnya larangan masuk sementara dan skorsing, (e) berkurangnya perilaku agresif atau merusak diri sendiri, (f) perasaan yang lebih positif tentang diri sendiri, sekolah, dan keluarga, (g) lebih baik dalam menangani ketegangan jiwa., (h) berkurangnya kesepian dan kecemasan dalam pergaulan


  3. Memanfaatkan emosi secara produktif; (a) lebih bertanggung jawab, (b) lebih mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan dan menaruh perhatian, (c) kurang impulsif; lebih menguasai diri, (d) nilai pada tes-tes prestasi meningkat.


  4. Membaca emosi; (a) lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, (b) memperbaiki empati dan kepekaan terhadap perasaan orang lain, (c) lebih baik dalam mendengarkan orang lain.


  5. Membina hubungan; (a) meningkatkan kemampuan menganalisis dan memahami hubungan, (b) Lebih baik dalam menyelesaikan pertikaian dan merundingkan persengketaan


Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual mempengaruhi berkembangnya emosi atau perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan baru yang dialami sebelumnya, seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis (Yusuf, 2008:196).


Menurut Ahmadi (1998:102) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi emosi remaja sebagai berikut:

  • Keadaan jasmani
    Apabila kedaan jasmani kurang sehat, dapat mempengaruhi emosi yang ada pada remaja, terutama siswa kelas unggulan. Pada umumnya remaja yang dalam keadaan sakit, sifatnya lebih perasa dibandingkan remaja yang sehat.

  • Keadaan dasar remaja (pembawaan)
    Berhubungan dengan struktur pribadi remaja. Ada remaja yang mudah marah, sebaliknya ada remaja yang sukar untuk marah. Dengan demikian, struktur pribadi remaja akan turut menentukan mudah tidaknya remaja mengalami suatu perasaan.


  • Keadaan remaja pada suatu waktu, atau keadaan temporer remaja
    Remaja yang pada suatu waktu sedang kalut pikirannya, akan mudah sekali mengalami emosi negatif dibandingkan remaja yang dalam keadaan normal.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sifat Wajib Dan Mustahil Bagi Nabi Dan Rasul


Dampak Emosi Positif dan Negatif

Berikut ini penjelasan mengenai Emosi Positif Dan Emosi Negatif yaitu:

Dampak Emosi Positif

Misalnya bahagia, senang, ceria, damai, rasa syukur. Emosi positif mengexpresikan sebuah evaluasi atau perasaan menguntungkan.


Dampak Emosi Negatif

Misalnya sedih, menangis, marah, kecewa, benci, dll. Emosi negatif mengexpresikan sebuah evaluasi atau perasaan merugikan.

Suatu contoh ada seorang remaja cewek usia 18 tahun. Dia punya seorang teman cowok yang memiliki hubungan dekat lebih dari sekedar teman, sebut saja mereka pacaran. Dia sudah lama menjalin hubungan ini “pacaran sudah sejak kelas 3 SMP”. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, hingga tak terasa hubungan mereka berjalan selama kurang lebih 3 tahun. Hubungan yang sudah terjalin begitu lama, entah ada masalah apa, akhirnya mereka putus.
Bagaimanakah emosi yang muncul ketika kalian mengalami kejadian tersebut? Pastinya akan muncul rasa marah, kecewa, benci dll. Inilah contoh emosi yang timbul karena ada stimulus. Namun dari peristiwa diatas sebenarnya anda juga bisa memunculkan emosi positif. Tapi kebanyakan orang, akan cenderung melihat peristiwa tersebut melihat dari sudut pandang negatif, sehingga emosi yang muncul juga negatif.