Sejarah-dan-Latar-Belakang-DI-TII

Sejarah Terbentuknya DI-TII Beserta Penjelasannya

Sejarah-dan-Latar-Belakang-DI-TII

Pengertian DI/TII

Gerakan DI/TII adalah organisasi yang berjuang atas nama Umat Islam yang ada di seluruh Indonesia. Nama NII sebenarnya kependekan dari “Negara Islam Indonesia” dan kemudian banyak orang yang menyebutkan dengan nama Darul islam atau yang dikenal dengan nama “DI” arti kata darul Islam ini sendiri adalah “Rumah Islam” dari kata tersebut dapat kita ambil pengertian bahwa organisasi ini merupakan tempat atau wadah bagi umat islam yang ada di Indonesia untuk menyampaikan aspirasi-aspirasi mereka, agar aspirasi-aspirasi mereka dapat tertampung dan dapat terorganisir sehingga berguna bagi umat islam di Indonesia.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Peristiwa Lengkap G30S PKI


Latar Belakang Gerakan DI/TII

Sudah hampir 60 tahun negara ini memperoleh kemerdekaannya setelah dijajah oleh beberapa bangsa asing selama tiga ratus tahun lebih. Dalam kurun waktu antara 1945, ketika republik ini diproklamasikan berdirinya, hingga saat ini, berbagai peristiwa telah terjadi dan tidak sedikit yang mengakibatkan munculnya ancaman terhadap keutuhan bangsa dan negara Indonesia.


Salah satu peristiwa penting yang meninggalkan bekas dalam catatan sejarah negeri ini adalah berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) di awal masa kemerdekaan. Topik ini memang selalu dan akan tetap menarik untuk diperbincangkan, lengkap dengan segala pendapat para ahli maupun saksi-saksi sejarah. Fakta—kalau memang benar-benar fakta yang diungkapkan  dalam buku pelajaran sejarah di bangku sekolah maupun yang tersimpan di dalam arsip nasional Pemerintah Indonesia dianggap sebagai kebohongan oleh sebagian pihak, termasuk di antaranya komunita yang mengaku sebagai Warga Negara Islam Indonesia dan para simpa tisannya. Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo adalah nama yang tak dapat dilepaskan dari pembahasan masalah yang berkaitan dengan Negara Islam Indonesia.


Dialah pendiri negara berasas Islam tersebut. Dalam sejarah yang kita pelajari, Kartosoewirjo adalah tokoh yang tidak lebih dari seorang pemberontak yang telah mendirikan negara baru di wilayah negara Republik Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sebuah gerakan yang mengatasnamakan Negara Islam Indonesia sangat gencar melakukan rekrutmen anggota baru, tetapi cara-cara yang mereka gunakan ternyata berlawanan dengan syariah dan sunnah Rasulullah saw. Di masa reformasi ini, saat tak ada lagi yang harus ditutup-tutupi, sudah selayaknya masyarakat, dalam hal ini umat Islam, menyadari bahwa di Indonesia pernah ada suatu gerakan anak bangsa yang beusaha membangun supremasi Islam, hingga akhirnya mereka memproklamasikan diri sebagai sebuah negara pada 7 Agustus 1949, danberhasil mempertahankan eksistensinya hingga 13 tahun lamanya (1949-1962).


Negara Islam Indonesia (disingkat NII; juga dikenal dengan nama Darul Islam atau DI) yang artinya adalah “Rumah Islam” adalah gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (ditulis sebagai 12 Syawal 1368 dalam kalender Hijriyah) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat. Diproklamirkan saat Negara Pasundan buatan belanda mengangkat Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema sebagai presiden.


Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia yang saat itu baru saja diproklamasikan kemerdekaannya dan ada pada masa perang dengan tentara Kerajaan Belanda sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara. Dalam proklamasinya bahwa “Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam”, lebih jelas lagi dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa “Negara berdasarkan Islam” dan “Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Hadits”. Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara untuk membuat undang-undang yang berlandaskan syari’at Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Alqur’an dan Hadits Shahih, yang mereka sebut dengan “hukum kafir”, sesuai dalam Qur’aan Surah 5. Al-Maidah, ayat 50.


Dalam perkembangannya, DI menyebar hingga di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat (berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah), Sulawesi Selatan, Aceh dan Kalimantan.  Setelah Kartosoewirjo ditangkap TNI dan dieksekusi pada 1962, gerakan ini menjadi terpecah, namun tetap eksis secara diam-diam meskipun dianggap sebagai organisasi ilegal oleh pemerintah Indonesia


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah BPUPKI : Pengertian, Anggota, Tugas, Sidang, Dan Tujuan Lengkap


Sejarah Singkat Terbentuknya DI/TII

Pada tanggal 7 Agustus 1949 disuatu desa di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia. Gerakannya dinamakan dengan Darul Islam “DI” sedang tentaranya dinamakan dengan Tentara Islam Indonesia “TII”. Gerakan ini dibentuk pada saat Jawa Barat ditinggal oleh pasukan Siliwangi yang berhijrah ke Yogyakarta dan Jawa Tengah dalam Rangka melaksanakan ketentuan dalam perjanjian Renville. Dalam perkembangannya, DI/TII menyebar sampai di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat “berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah”, Sulawesi Selatan, Aceh dan Kalimantan.


Ketika pasukan Siliwangi berhijrah, gerombolan DI/TII ini dapat leluasa melakukan gerakannya dengan membakar rumah-rumah rakyat, membongkar rel kereta api, serta menyiksa dan merampok harta benda penduduk. Akan tetapi setelah pasukan Siliwangi mengadakan Long March kembali ke Jawa Barat, gerombolan DI/TII ini harus berhadapan dengan pasukan Siliwangi. Dan untuk melindungi kereta apai, Kavaleri Kodam VI Siliwangi “sekarang Kodam III” mengawal kereta apai dengan panzer tak bermesin yang didorong oleh lokomotif uap D-52 buatan Krupp Jerman Barat. Panzer tersebut berisi anggota TNI yang siap dengan sejata mereka. Bila ada pertempuran antara TNI dan DI/TII didepan maka kerata api harus berhenti di halte terdekat.


Pemberontakan bersenjata yang berlangsung selama 13 tahun itu telah menghalangi pertumbuhan ekonomi masyarakat, ribuan ibu-ibu menjadi janda dan ribuan anak-anak menjadi yatim piatu. Dalam hal ini diperkirakan ada sekitar 13.000 rakyat Sunda, anggota organisasi keamanan desa “OKD” serta tentara gugur. Sementara itu, anggota DI/TII yang tewas tak diketahui dengan pasti, setelah Kartosoewirjo ditangkap TNI dan dieksekusi pada tahun 1962, gerakan ini menjadi terpecah, namun tetap eksis secara diam-diam meskipun dinyatakan sebagai organisasi ilegal oleh pemerintah Indonesia.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : PPKI : Sejarah, Tugas PPKI, Anggota, Tujuan Dan Hasil Sidang PPKI 1 2 3


Gerakan dan Berdirinya DI/TII

Gerakan DI/TII

Kata Darul Islam yang sering disingkat DI berasal dari bahasa arab Dar al-Islam yang secara harfiah berarti “rumah” atau “keluarga” Islam. Dengan begitu Darul Islam dapat diartikan sebagai dunia atau wilayah Islam. Dimana keyakinan Islam dan peraturan-peraturan berdasarkan syariat Islam merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan. Dimana lawan dari Darul Islam itu sendiri adalah Darul Harb yang berarti wilayah perang, atau dunia kaum kafir, yang berangsur-angsur ingin dimasukan ke dalam Darul Islam.


Di Indonesia sendiri kata Darul Islam digunakan untuk gerakan-gerakan sesudah tahun 1945 yang berusaha merealisasikan cita-cita mereka untuk mendirikan sebuah Negara Islam. Meski sebenarnya pada awalnya sempat beredar kabar, bahwa sebenarnya DI itu adalah singkatan dari Daerah I, dan artinya tidak dipahami secara umum. Menurut Alers, kata itu seakan-akan “Negara kesatuan”. Namun, berbeda dengan Alers, Pinardi mengemukakan bahwa latar belakangnya adalah suatu pembedaan terhadap daerah dalam negara Islam. “Daerah I” adalah daerah pusat negara, yang sepenuhnya dikuasai Oleh suatu pemerintahan Islam dan diatur sesuai dengan hukum Islam. “Daerah II” terdiri dari daerah-daerah di Jawa Barat yang hanya sebagian saja dikuasai oleh Negara Islam, sedangkan dalam “Daerah III” untuk daerah yang belum dikuasai oleh Negara Islam.


Lepas dari apa yang diungkapkan oleh Alers maupun Pinardi sendiri, Darul Islam telah dicatat dalam sejarah sebagai sebuah gerakan pemberontakan yang berusaha mendirikan Negara Islam, sementara saat itu Indonesia telah berdiri dan merdeka sejak tanggal 17 Agustus 1945.


Berdirinya DI/TII

Dibalik kemunculan dari Darul Islam itu sendiri sebenarnya ada dua tokoh yang tercatat berperan dalam membentuk gerakan ini. Tokoh pertama adalah Kiai Jusuf Tauziri, ia sebutkan sebagai pendiri gerakan Darul Islam pada tahap pertama, sebagai gerakan Islam yang damai. Yang kemudian ia menarik dukungannya dari Kartosuwirjo dikarenakan memberontak terhadap pemerintah Republik Indonesia.


Namun, tokoh yang benar-benar identik dengan gerakan Darul Islam ini adalah Kartosuwirjo, sosok yang bernama lengkap Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo ini adalah keturunan Jawa. Meski hampir seluruh karirnya banyak terjadi di Jawa Barat. Ia bukanlah pribumi Jawa Barat. Ia lahir di Cepu ( Jawa Tengah), antara Blora dan Bojonegoro, di perbatasan dewasa ini antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, pada 7 Februari 1905. Ia mendapat pendidikan Barat pada sekolah dasar dan sekolah menengah yang menggunakan bahasa Belanda. Jadi, ia bukan seorang santri dari sebuah pesantren. Bahkan diceritakan ia tidak pernah mempunyai pengetahuan yang benar tentang Bahasa Arab dan Agama Islam. Dari tahun 1923 sampai tahun 1926 ia mengikuti kursus persiapan pada Nederlands Indische Artsen School (NIAS), yaitu Sekolah Ketabiban Hindia Belanda di Surabaya. Di Kota itu kemudian ia bertemu dengan H. Oemar Said Tjokroaminoto, yang kemudian menjadi ketua PSII, serta menjadi bapak angkatnya.


Menurut Pinardi, Kartosuwirjo berhasil memulai studinya dalam ilmu kedokteran dalam tahun 1926, tetapi setahun kemudian ia dikeluarkan dikarenakan kegiatan politik yang dilakukannya. Dari tahun 1927 sampai tahun 1929  menjadi sekretaris pribadi Tjokroaminoto. Dan disebutkan dari pengalaman yang didapatkan dari pemimpin PSII inilah, terbesit niat Kartosuwirjo untuk mendirikan negara Indonesia yang berdasarkan Islam. Tahun 1929 Kartosuwirjo pindah ke daerahMalangbong dekat Garut, bagian timur Jawa Barat, daerah asal istrinya. Ia kemudian bekerja pada PSII di daerah tersebut. Dan sewaktu berusia 26 tahun ia terpilih sebagai sekretaris jenderal PSII pada tahun 1931. Dan kemudian setelah meninggalnya Tjokroaminoto (1934), Wondoamiseno terpilih menjadi ketua PSII, dan Kartosuwirjo sebagai wakilnya pada tahun 1936.


Kemudian pada tahun-tahun berikutnya terjadi pertentangan ditubuh PSII sendiri, berkaitan dengan kerjasama dengan pemerintah kolonial. Kartosuwirjo berada pada pihak nonkooperasi, ia kemudian dianggap radikal dan dikeluarkan dari PSII.

Namun Kartosuwirjo tidak berhenti sampai disitu, ia kemudian membentuk PSII tandingan pada tanggal 24 April 1940 di Malangbong bersama Kamran, yang kemudian menjadi komandan Darul Islam. Pada saat itu Kartosuwirjo juga mendirikan pesantren di daerah Malangbong. Bernama institute Supah atau Institut Suffah. Semula institute ini dimaksudkan sebagai latihan kepemimpinan dalam bidang politik-keagamaan. Namun kemudian berubah menjadi suatu pusat latihan untuk pasukan gerilya dimasa mendatang (seperti Hizbullah dan Sabilillah) dikarenakan pada masa pendudukan Jepang, semua kegiatan partai politik dibekukan. Dimana hal ini sebenarnya merupakan bentuk penyebaran propaganda dari Kartosuwirjo untuk membentuk “Negara Islam”


Berkaitan dengan Darul Islam Kartosuwirjo dikatakan sempat memproklamirkan Negara Islam Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1945, karena gagasan mendirikan Negara Islam Indonesia itu sendiri sebenarnya telah dicanangkan oleh Kartosuwirjo sejak tahun 1942. Namun ia dan gerakannya kemudian kembali ke Republik, saat Indonesia diproklamirkan. Ia juga kemudian menjadi anggota pengurus besar partai Masyumi. Ia merangkap sebagai Komisaris Jawa barat, dan sekretaris I partai tersebut. Selain itu pada masa jabatan cabinet Amir Sjarifuddin tanggal 3 Juli 1947, Kartosuwirjo sempat ditawari sebagai menteri muda pertahanan kedua, yang kemudian ditolak oleh sosok itu.


Pada saat agresi militer pertama Belanda, Kartosuwirjo bersama gerakan DI-nya bergerak mendukung Republik untuk menghancurkan kekuatan Belanda. Tapi kemudian saat dilakukan persetujuan perjanjian Renville, 8 Desember 1947. Pasukan TNI harus meninggalkan wilayah Jawa Barat,  namun, Kartosuwirjo yang memimpin Hizbullah dan Sabilillah tidak hijrah, dan bertahan di Jawa Barat. Sehingga kemudian ia membentuk Darul Islam dan mengganti tentaranya menjadi TII (Tentara Islam Indonesia), yang bermarkas di Gunung Cepu. Pada akhirnya ini berujung pada sebuah proklamasi pembentukan Negara Islam Indonesia, dengan Kartosuwirjo sebagai Imamnya.


Menurut C.A.O. Van Nieuwenhuijze menyebutkan bahwa seorang Kiai bernama Jusuf Tauziri sebagai pemimpin kerohanian gerakan DI (Darul Islam) selama tahap pertama. Kemudian seperti yang dikatakan oleh Hiroko Horikoshi, Kiai Jusuf Tauziri menarik dukungannya ketika Kartosuwirjo memberontak terhadap Republik 1949. Setelah memutuskan hubungan dengan Kartosuwirjo, dia menjadi pemimpin Darul Islam, Dunia Perdamaian, suatu gerakan untuk mendirikan negara Islam dengan cara damai.

Namun, banyak literatur sejarah mengungkapkan bahwa Kartosuwiryo-lah pemimpin atau pendiri dari Darul Islam. Ia jugalah yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia pada hari-hari sekitar menyerahnya Jepang.


Pembentukan Darul Islam dan TII (tentara Islam Indonesia) sendiri disebutkan sebagai respon negative yang diberikan oleh pihak Kartosuwirjo atas adanya perjanjian Renville, antara pemerintah dan pihak Belanda. Kesepakatan yang mengharuskan TNI menarik diri dari Jawa Barat, hal ini ditolak oleh Kartosuwirjo, dan Pasukannya, yang kemudian membentuk gerakan Darul Islam dengan pasukan yang berganti nama menjadi TII (tentara Islam Indonesia)


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Kapan Pancasila Ditetapkan Sebagai Dasar Negara Dan Latar Belakangnya


Pemberontakan DI/TII

Menurut Alers, sebenarnya pada tanggal 14 Agustus 1945, Kartosuwirjo sudah memproklamirkan suatu negara Darul Islam yang merdeka. Tetapi setelah tanggal 17 Agustus 1945 ia memihak Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta. Kemudian pada saat Belanda melancarkan agresi militer I terhadap Republik Indonesia pada tanggal 21 Juli 1947, Kartosuwirjo menyerukan Perang suci menentang Belanda pada tanggal 14 Agustus.


Kartosuwirjo beserta gerakan DI-nya sebenarnya mendukung Republik dalam perjuangan melawan Belanda, seperti juga yang dilakukan oleh pasukan Hizbullah dan Sabilillah yang ada di Jawa Barat, di bawah pimpinan Kamran dan Oni. Namun masalah kemudian muncul ketika Indonesia melakukan perjanjian Renville dengan pihak belanda. Darul Islam kembali bergejolak, hal itu sendiri disebutkan sebagai reaksi negative dari adanya persetujuan akan perjanjian Renville pada bulan Januari 1948. Menurut perjanjian tersebut pasukan TNI harus ditarik dari dari daerah Jawa Barat yang terletak dibelakang garis demarkasi Van Mook. Dan ketentuan itu harus dilaksanakan pada bulan Februari. Namun sekitar 4000 pasukan Hisbullah dibawah pimpinan Kartosuwirjo, bekas anggota PSII sebelum perang dan bekas anggota Masyumi menolak untuk berhijrah.


Reaksi keras dari Pihak Kartosuwirjo yang menentang hasil perjanjian Renville inilah yang dianggap sebagai sebuah pemberontakan bagi para sejarawan. Dikarenakan sebagai warga negara, Kartosuwirjo beserta pasukannya bisa menerima dan menjalankan hasil dari perjanjian Renville sendiri. Bukan malah melakukan perlawanan dengan pihak pemerintah. Apalagi pada akhirnya Darul Islam sendiri memproklamasikan kemerdekaannya sebagai Negara Islam Indonesia, sementara saat itu, Indonesia sudah merdeka. Itu sama saja berarti Darul Islam ingin mendirikan negara di dalam sebuah negara. Jelas saja itu dianggap sebagai bentuk dari sebuah gerakan pemberontakan.


Meski sebenarnya diungkapkan bahwa Negara Islam Indonesia tidak diproklamirkan pada negara Indonesia melainkan diproklamirkan di daerah yang dikuasai oleh Tentara Belanda, yaitu daerah Jawa Barat yang ditinggalkan oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) ke Jogya. Sebab daerah de-facto R.I. pada saat itu hanya terdiri dari Yogyakarta dan kurang lebih 7 Kabupaten saja ( menurut fakta-fakta perundingan/kompromis dengan Kerajaan Belanda; perjanjian Linggarjati tahun 1947 hasilnya de-facto R.I. tinggal pulau Jawa dan Madura, sedang perjanjian Renville pada tahun 1948, de-facto R.I. adalah hanya terdiri dari Yogyakarta).


Seluruh kepulauan Indonesia termasuk Jawa Barat kesemuanya masih dikuasai oleh Kerajaan Belanda. Jadi tidaklah benar kalau ada yang mengatakan bahwa Negara Islam Indonesia didirikan dan diproklamirkan didalam negara Republik Indonesia. Negara Islam Indonesia didirikan di daerah yang masih dikuasai oleh Kerajaan Belanda. Jadi itu berarti gerakan Darul Islam tidak bisa dikatakan sebagai suatu gerakan pemberontakan.


Sementara bagi pemerintah Indonesia itu sendiri tampaknya tidak berkeinginan memandang aksi dari Kartosuwirjo ini sebagai suatu pemberontakan terhadap Republik Indonesia, tetapi hanya dianggap sekedar sebagai suatu gerakan-gerakan tingkat daerah terhadap “Negara Pasundan” buatan Belanda. Karena perlu dijelaskan bahwa pada bulan Maret 1948 kebijakan pembentukan negara federal yang dianut oleh Belanda telah menghasilkan terbentuknya negara Pasundan di daerah-daerah yang diduduki Belanda di Jawa Barat. Artinya Jawa Barat menjadi salah satu dari negara boneka Belanda. Meski sebagian besar dari daerah Jawa Barat itu sendiri telah dikuasai oleh pihak Darul Islam, dengan Tentara Islam Indonesianya.


Ini menjadi pembantahan bahwa Darul Islam bukanlah sebuah pemberontakan, dikarenakan lebih mengarah pada sebuah gerakan untuk mengambil alih negara Pasundan, bukan membentuk negara dalam negara, yaitu Indonesia. Namun, tidak sepenuhnya alasan di atas bisa diterima, meski Darul Islam membentuk negara Islam di negara boneka Belanda, seorang tokoh bernama Kahin mencatat bahwa baru pada akhir bulan Desember 1948 Darul Islam bersikap anti-Republik secara terang-terangan


Kemudian pada saat Belanda melancarkan agresi militer ke II (19 September 1948) Kartosuwirjo mengulangi seruannya untuk melakukan perang suci terhadap pihak Belanda. Dengan begitu, pihak Darul Islam sudah secara terang-terangan tidak terikat dengan Perjanjian Renville lagi. Dan pada akhirnya pada tanggal 7 Agustus 1949, Kartosuwirjo sebagai Imam dari DI mendeklarasikan berdirinya negara Islam Indonesia. Sekali lagi ia secara resmi mendeklarasikan berdirinya Negara Islam Indonesia, yang kali ini sebagai pengganti terhadap Republik Indonesia (“Yogya”).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Agama Di Indonesia Yang Diakui Oleh Pemerintah Dan Hubungannya


Penyebab dan Timbulnya Gerakan DI/TII

Karena penolakan terhadap hasil Perundingan Renville, sehingga kekuatan militer Republik Indonesia harus meninggalkan wilayah Jawa Barat yang dikuasai Belanda. TNI harus mengungsi ke daerah Jawa Tengah yang dikuasai Republik Indonesia. Tidak semua komponen bangsa menaati isi Perjanjian Renville yang dirasakan sangat merugikan bangsa Indonesia. Salah satunya adalah S.M. Kartosuwiryo beserta para pendukungnya. Pada tanggal 7 Agustus 1949, Kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). Tentara dan pendukungnya disebut Tentara Islam Indonesia (TII). Gerakan Darul Islam yang didirikan oleh Kartosuwiryo mempunyai pengaruh yang cukup luas. Pengaruhnya sampai ke Aceh yang dipimpin Daud Beureueh, Jawa Tengah (Brebes, Tegal) yang dipimpin Amir Fatah dan Kyai Somolangu (Kebumen), kalimantan selatan dipimpin Ibnu Hajar, dan Sulawesi Selatan dengan tokohnya Kahar Muzakar.

Timbulnya Gerakan DI/TII di Jawa Barat (Kartosoewirjo)

Pada tahun 1943, ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Kartosoewirjo kembali aktif di bidang politik, yang sempat terhenti. Dia masuk sebuah organisasi kesejahteraan dari MIAI (Madjlis Islam ‘Alaa Indonesia) di bawah pimpinan Wondoamiseno, sekaligus menjadi sekretaris dalam Majelis Baitul-Mal pada organisasi tersebut.


Dalam masa pendudukan Jepang ini, dia pun memfungsikan kembali lembaga Suffah yang pernah dia bentuk. Namun kali ini lebih banyak memberikan pendidikan kemiliteran karena saat itu Jepang telah membuka pendidikan militernya. Kemudian siswa yang menerima latihan kemiliteran di Institut Suffah itu akhirnya memasuki salah satu organisasi gerilya Islam yang utama sesudah perang, Hizbullah dan Sabilillah, yang nantinya menjadi inti Tentara Islam Indonesia di Jawa Barat.


 Pada bulan Agustus 1945 menjelang berakhirnya kekuasaan Jepang di Indonesia, Kartosuwiryo yang disertai tentara Hizbullah berada di Jakarta. Dia juga telah mengetahui kekalahan Jepang dari sekutu, bahkan dia mempunyai rencana: kinilah saatnya rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, merebut kemerdekaannya dari tangan penjajah. Sesungguhnya dia telah memproklamasikan kemerdekaan pada bulan Agustus 1945. Tetapi proklamasinya ditarik kembali sesudah ada pernyataan kemerdekaan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Untuk sementara waktu dia tetap loyal kepada Republik dan menerima dasar “sekuler”-nya.


Namun sejak kemerdekaan RI diproklamasikan (17 Agustus 1945), kaum nasionalis sekulerlah yang memegang tampuk kekuasaan negara dan berusaha menerapkan prinsip-prinsip kenegaraan modern yang sekuler. Semenjak itu kalangan nasionalis Islam tersingkir secara sistematis dan hingga akhir 70-an kalangan Islam berada di luar negara. Dari sinilah dimulainya pertentangan serius antara kalangan Islam dan kaum nasionalis sekuler. Karena kaum nasionalis sekuler mulai secara efektif memegang kekuasaan negara, maka pertentangan ini untuk selanjutnya dapat disebut sebagai pertentangan antara Islam dan negara.


Situasi yang kacau akibat agresi militer kedua Belanda, apalagi dengan ditandatanganinya perjanjian Renville antara pemerintah Republik dengan Belanda. Di mana pada perjanjian tersebut berisi antara lain gencatan senjata dan pengakuan garis demarkasi van Mook. Sementara pemerintah RI harus mengakui kedaulatan Belanda atas Indonesia, maka menjadi pil pahit bagi Republik. Tempat-tempat penting yang strategis bagi pasukannya di daerah-daerah yang dikuasai pasukan Belanda harus dikosongkan, dan semua pasukan harus ditarik mundur –atau “kabur” dalam istilah orang-orang DI– ke Jawa Tengah. Karena persetujuan ini, Tentara Republik resmi dalam Jawa Barat, Divisi Siliwangi, mematuhi ketentuan-ketentuannya. Soekarno menyebut “kaburnya” TNI ini dengan memakai istilah Islam, “hijrah”. Dengan sebutan ini dia menipu jutaan rakyat Muslim. Namun berbeda dengan pasukan gerilyawan Hizbullah dan Sabilillah, bagian yang cukup besar dari kedua organisasi gerilya Jawa Barat, menolak untuk mematuhinya. Hizbullah dan Sabilillah lebih tahu apa makna “hijrah” itu.


Pada tahun 1949 Indonesia mengalami suatu perubahan politik besar-besaran. Pada saat Jawa Barat mengalami kekosongan kekuasaan, maka ketika itu terjadilah sebuah proklamasi Negara Islam di Nusantara, sebuah negeri al-Jumhuriyah Indonesia yang kelak kemudian dikenal sebagai ad-Daulatul Islamiyah atau Darul Islam atau Negara Islam Indonesia yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai DI/TII. DI/TII di dalam sejarah Indonesia sering disebut para pengamat yang fobi dengan Negara Islam sebagai “Islam muncul dalam wajah yang tegang.” Bahkan, peristiwa ini dimanipulasi sebagai sebuah “pemberontakan”. Kalaupun peristiwa ini disebut sebagai sebuah “pemberontakan”, maka ia bukanlah sebuah pemberontakan biasa. Ia merupakan sebuah perjuangan suci anti-kezhaliman yang terbesar di dunia di awal abad ke-20 ini. “Pemberontakan” bersenjata yang sempat menguras habis logistik angkatan perang Republik Indonesia ini bukanlah pemberontakan kecil, bukan pula pemberontakan yang bersifat regional, bukan “pemberontakan” yang muncul karena sakit hati atau kekecewaan politik lainnya, melainkan karena sebuah “cita-cita”, sebuah “mimpi” yang diilhami oleh ajaran-ajaran Islam yang lurus.


Gagasan mendirikan Negara islam Indonesia telah mulai dicanangkan sejak tahun 1942. Pada waktu itu, tokoh DI/TII kartosuwiryo berencana mendirikan sebuah Negara islam didaerah jawa barat. Selanjutnya, selama masa kependudukan jepang dan setelah proklamasi kemerdekaan Kartosuwiryo menjadi anggota Masyumi dan menjadi sekretaris I partai Masyumi. Pada tanggal 14 agustus 1947, Kartosuwiryo menyatakan perang suci melawan Belanda dan menolak isi perjanjian Renville. Penolakannya terhadap perseyujuan Renville di wujudkan dalam sikap menolak melaksanakan hijrah dan bersama 4000 pasukannya, yang terdiri dari pasukan hizbullah dan sabilillah tetap tinggal di jawa barat. Dalam sebuah pertemuan di Cisayong pada bulan Februari 1948 Kartosuwiryo telah memutuskan untuk mengubah gerakan kepartaian Nasyumi Jawa Barat menjadi bentuk Negara serta pembekukan partai Nasyumi Jawa Barat. Selanjutnya, melalui Majelis Umat Islam (MUI) yangdi bentuknya, Kartosuwiryo diangkat sebagai imam Negara Islam Indonesia (NII). Selain itu, dibentuk angkatan perang Tentara Islam Indonesia (TII) yang di tempatkan didaerah pegunungan di daerah Jawa Barat.


Sebelum melakukan hijrah, pasukan-pasukan yang tergabung dalam Divisi Siliwangi di Jawa Barat berkuasa didaerah-daerah yang dikenal dnga sebutan “Kantong”. Persetujuan Renville ditandatagani oleh pihak belanda dan Republik Indonesia pada 17 Januari 1948, sedangkan perundingannya dimulai sejak 8 Desember 1947. Diantara organisasi-organisasi bersenjata atau lascar-laskar di Jawa Barat yang berjuang menentang Belanda ada yang menentang pokok-pokok persetujuan Renville. Mereka yang bersikap demikian antara lain ialah organisasi bersenjata darul Islam yang ada dibawahpimpinan S.M.Kartosuwiryo. daerah-daerah kantong yang kosong di Jawa Barat yang telah di tinggalkan oleh Tentara Republik Indonesia diisi mereka. Berita tentang peristiwa ini diterima dengan kegembiraan di ibu kota republic Indonesia, Yogyakarta, denga harapan bahwa mereka akan meneruskan perjuangan menentang Belanda demi kepentingan Republik Indonesia.


Pada akhir bulan Maret 1948 suatu pertemuan dari para tokoh DarulIslam menyatakan berdirinya sebuah “Negara” yang diberi nama “Negara Darul Islam”, dengan presidennya S.M.Kartosuwiryo da angkatan bersenjatanya yang disebut dengan tentara Islam Indonesia (TII). Pada mulanya “Negara” yang baru didirikan itu tidak menyatakan menentang Republik Indonesia. Tentaranya yaitu TII berhasil merebut beberapa daerah yang tadinya ada di bawah kekuasaan Belanda. Ruang gerak Darul Islam (DI) pada mulanya meliputi daerah-daerah Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan daerah-daerah sekitar Majelengka serta Kuningan.


Timbulnya gerakan DI/TII ini menimbulkan kesulitan pihak Belanda. Untuk mengatasinya, pihak Belanda mendorong R.A.A.Suriakartalegawa mendirikan sebuah partai yang disebut dengan Partai Rakyat Pasundan (PRP) dengan sekretarisnya Mr. R. Kustomo. Namun demikian usaha tersebut tidak mendapatkan sambutan baik dari penduduk Jawa Barat, bahkan sebagai reaksi dari para bekas tokoh pimpinan Pguyuban Pasundan timbul usaha untuk menghidupkan kembali organisasi tersebut. Sebagaimana halnya dengan organisasi-organisasi kebangsaan lainnya, Paguyuban Pasundan pada masa pendudukan Jepag dilarang melakukan kegiatan-kegiatan. Setelah dihidupkan kembali, untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi marsyarakat Indonesia yang telah berubah, ama paguyuban Pasundan diubah menjadi Partai Kebangsaan Indonesia yang disingkat menjadi PARKI di bawah pimpinan Suradirja.


Pada bulan akhir Desember 1948, sikap Darul Islam (DI) berubah, yang tadinya anti-Republik Indonesia, sekarang dengan secara terang-terangan menyatakan menentang Republik Indonesia. Terhadap rakyat sering melakukan tindakan terror. Pada permulaannya pada tahun 1949, banyak daerah di jawa Barat yang resminya merupakan daerah Negara pasundan, tetapi dalam kenyataannya ada di bawah pengawasan DI/TII. Tentara belanda pun tidak berdaya mengatasi keadaan ini. Beberapa pejabat penting Negara Pasundan termasuk wali negarannya, Wiranatakusuma, berkeyakinan behwa hanya angkatan bersenjata Republik Indonesia yang mempunyai kemampuan menindas gerakan DI/TII.


DI / TII Jawa Barat terjadi pada tanggal 7 Agustus 1949 , yang di pimpinan oleh Sekarmadji Maridjan kartosoewiryo

Sebab Khusus Pemberontakan :

Pemerintah RI menandatangani Perjanjian Renville yang mengharuskan pengikut RI mengosongkan wilayah Jawa Barat dan pindah ke Jawa Tengah , hal ini dianggap Kartosuwirjo sebagai bentuk pengkhianatan Pemerintah RI terhadap perjuangan rakyat Jawa Barat(karena ada beberapa komandan TNI yang menjanjikan akan meninggalkan semua persenjataannya di Jawa Barat jika mereka hijrah nanti. ). Bersama kurang lebih 2000 pengikutnya yang terdiri atas laskar Hizbullah dan Sabilillah, Kartosuwirjo menolak hijrah dan mulai merintis usaha mendirikan Negara Islam Indonesia (NII).


Sebab Umum Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat

  • Kekosongan kekuatan di Jawa Barat
  • Kartosuwirjo / rakyat menolak kalau Jawa Barat itu diserahkan kepada belanda begitu saja
  • Rasa tdk puas dg keputusan perjanjian yg mengharuskan TNI keluar dr daerah
    kantong dan masuk ke wilayah RI

Tujuan Pemberontakan DI/TII Jawa Barat

  • Ingin mendirikan negara yang berdasarkan agama islam lepas dari NKRI sewaktu tentara Belanda menduduki ibukota RI di Yogyakarta.
  • Menjadikan Syariat islam sebagai dasar Negara ( pola tingkah laku ,dalam keluarga /masyarakat/ bangsa ataupun Negara) bersumber pada”Alqur’an , Hadist,Isma,Qias”.

Upaya pemerintah mengatasi pemberontakan DI/TII Jawa Barat

  • Upaya Pemusnahan yang dilakukan Pemerintah

Untuk  menumpas gerakan DI/TII diJawa Barat tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai upaya seperti melakukan pendekatan musyawarah yang di lakukan M.Natsir. Namun pendekatan musyawarah tersebut tidak membawa hasil sehingga pemerintah RI terpaksa mengambil tindakan tegas dengan menerapkan operasi militer yang di sebut Operasi Pagar Betis dan Operasi Baratayudha untuk menumpas gerakan DI/TII. Operasi Pagar Betis dilakukan dengan melibatkan rakyat untuk mengepung tempat persembunyian gerombolan DI/TII. Disisi lain, operasi Barathayudha juga dilaksanakan TNI untuk menyerang basis-basis kekuatan gerombolan DI/TII.Dan dijalankanlah taktik dan strategi baru yang disebut Perang Wilayah. Pada tahun 1 April 1962 pasukan Siliwangi bersama rakyat melakukan operasi “Pagar Betis(mengepung pasukan DI/TII dengan mengepung dari seluruh penjuru )” dan operasi “Bratayudha(operasi penumpasan gerakan DI/TII kartosuwirjo).

Pada tanggal 4 juni 1962, S.M.Kartosuwiryo beserta para pengikutnya berhasil ditanggap oleh pasukan Siliwangi di Gunung Geber, Majalaya, Jawa Barat. Sekarmadji Maridjan kartosoewiryo sempat mengajukan grasi kepada Presiden,tetapi di tolak. Akhirnya S.M.Kartosuwiryo dijatuhi hukuman mati di hadapan regu tembak dari keempat angkatan bersenjata RI 16 Agustus 1962.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pancasila Pada Masa Orde Baru


Timbulnya Gerakan DI/TII di Jawa Tengah (Amir Fatah)

DI (Darul Islam) pada hakekatnya adalah persoalan yang ditimbulkan oleh golongan extrim Islam yang akan mendirikan Negara Islam Indonesia yang merdeka dengan agama Islam sebagai dasarnya. Pusat DI di Jawa Barat dipimpin oleh SM. Kartosuwiryo. Kemudian pengaruhnya meluas ke luar daerah yaitu Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan dan Sulawesi Selatan. Gerakan tersebut sesungguhnya telah dimulai pada tahun 1946. Akibat perjanjian Renville, pasukan pasukan TNI harus meninggalkan kantong kantong gerilya kemudian melaksanakan hijrah. Keputusan tersebut ditolak oleh Kartosuwiryo, karena politik yang demikian dianggap merugikan perjuangan. Oleh karena itu pasukan Hizbullah dan Sabilillah tidak diizinkan meninggalkan Jawa Barat. Setelah pasukan Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah, Kartosuwiryo lebih leluasa melaksanakan rencananya. Pada bulan Maret 1948 pasukan pasukan itu membentuk gerakan dengan nama Darul Islam (DI) dan tanggal 7 Agustus 1949 Kartosuwiryo memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII) dengan Tentara Islam Indonesia (TII). Hukum yang berlaku di negara Islam itu ialah hukum Islam. Hal ini jelas bahwa NII tidak mengakui UUD 1945 dan Pancasila.


Fatah adalah komandan Laskar Hizbullah di daerah Tulangan, Siduardjo, dan Mojokerto di Jawa Timur pada pertempuran 10 November 1945. Setelah perang kemerdekaan ia meninggalkan Jawa Timur dan bergabung dengan pasukan TNI di Tegal. Setelah bergabung dengan Kartosuwiryo, Amir Fatah kemudian diangkat sebagai komandan pertemburan Jawa Tengah dengan pangkat Mayor Jenderal Tentara Islam Indonesia. Untuk menghancurkan gerakan ini, Januari 1950 dibentuk Komando Gerakan Banteng Negara (GBN) dibawah Letkol Sarbini.


Gerakan DI/Tll Amir Fatah muncul setelah Agresi Militer Belanda II, yang ditandai dengan diproklamasikannya NII di desa Pengarasan, tanggal 28 April 1949. Gerakan ini didukung oleh Laskar Hisbullah dan Majelis Islam (MI), yang merupakan pendukung inti gerakan, serta massa rakyat yang mayoritas terdiri dari para petani pedesaan.
Kelompok-kelompok masyarakat tersebut memberikan dukungannya kepada DI/TII karena alasan ideologi, yaitu memperjuangkan Ideologi Islam dengan mengakui eksistensi Negara Islam Indonesia (NII). Amir Fatah merupakan tokoh yang membidani lahirnya DI/TII Jawa Tengah. Semula ia bersikap setia pada RI, namun kemudian sikapnya berubah dengan mendukung Gerakan DI/TII. Perubahan sikap tersebut disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, terdapat persamaan ideologi antara Amir Fatah dengan S.M.


Kartosuwiryo, yaitu keduanya menjadi pendukung setia Ideologi Islam. Kedua, Amir Fatah dan para pendukungnya menganggap bahwa aparatur Pemerintah RI dan TNI yang bertugas di daerah Tegal-Brebes telah terpengaruh oleh “orang-orang Kiri”, dan mengganggu perjuangan umat Islam. Ketiga, adanya pengaruh “orang-orang Kiri” tersebut, Pemerintah RI dan TNI tidak menghargai perjuangan Amir Fatah dan para pendukungnya selama itu di daerah Tegal-Brebes. Bahkan kekuasaan MI yang telah dibinanya sebelum Agresi Militer II, harus disebahkan kepda TNI di bawah Wongsoatmojo. Keempat, adanya perintah penangkapan dirinya oleh Mayor Wongsoatmojo.


Pemberontakan di Kebumen dilancarkan oleh Angkatan Umat Islam (AUI) yang dipimpin oleh Kyai Moh. Mahfudz Abdulrachman (Romo Pusat atau Kiai Sumolanggu) Gerakan ini berhasil dihancurkan pada tahun 1957 dengan operasi militer yang disebut Operasi Gerakan Banteng Nasional dari Divisi Diponegoro. Gerakan DI/TII itu pernah menjadi kuat karena pemberontakan Batalion 426 di Kedu dan Magelang/ Divisi Diponegoro. Didaerah Merapi-Merbabu juga telah terjadi kerusuhan-kerusuhan yang dilancarkan oleh Gerakan oleh Gerakan Merapi-Merbabu Complex (MMC). Gerakan ini juga dapat dihancurkan. Untuk menumpas gerakan DI/TII di daerah Gerakan Banteng Nasional dilancarkan operasi Banteng Raiders.


DI / TII Jawa Tengah terjadi Pada tanggal 23 Agustus 1949, Pepimpinya Amir Fatah dan Mahfu’dz Abdurachman ( Kyai Somalangu). DI/TII itu kemudian memusuhi pasukan TNI dengan mengadakan pengadangan dan menyerang pasukan TNI yang sedang dalam perjalanan kembali ke Jawa Barat. Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dengan segala cara menyebarkan pengaruh nya ke Jawa Tengah. Gerakan DI/TII di Jawa Tengah di pimpin Amir Fatah. Daerah operasinya di daerah Pekalongan Tegal dan Brebes dimana daerah tersebut mayoritas pendudukanya beragama Islam yang fanatik.


Pada waktu daerah pendudukan Belanda terjadi kekosongan, maka pada bulan Agustus 1948 Amir Fatah masuk ke daerah pendudukan Belanda di Tegal dan Brebes dengan membawa 3 kompi Hizbullah. Amir Fatah masuk daerah pendudukan melalui Sektor yang dipimpiin oleh Mayor Wongsoatmojo. Mereka berhasil masuk dengan kedok untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda dan mendapat tugas istimewa dari Panglima Besar Sudirman untuk menyadarkan Kartosuwiryo.


Amir Fatah setelah tiba di daerah pendudukan Belanda di Pekalongan dan Brebes kemudian melepaskan kedoknya untuk mencapai tujuan. Dengan jalan intimidasi dan kekerasan berhasil membentuk organisasi Islam yang dinamakan Majlis Islam (MI) mulai tingkat dewasa sampai karesidenan. Disamping itu menyusun suatu kekuatan yaitu Tentara Islam Indonesia (TII) dan Barisan Keamanan serta Pahlawan Darul Islam (PADI). Dengan demikian di daerah pendudukan, Amir Fatah telah menyusun kekuatan DI di Jawa Tengah.


Sementara itu Mayor Wongsoatmojo pada bulan Januari 1949 masuk daerah pendudukan Belanda di Tegal dan Brebes dengan kekuatan 4 kompi. Kemudian diadakan perUndingawn dengan pimpinan Majelis Islam (MI) yang diawali Amir Fatah. Dengan perundingan itu dapat dicapai suatu kerjasama antara pemerintah militer dengan MI juga antara TNI dengan pasukan Hizbullah dan Amir Fatah diangkat menjadi Ketua Koordinator daerah operasi Tegal Brebes.


Dibalik itu semuanya Amir Fatah menggunakan kesempatan tersebut untuk menyusun kekuatan TII dan DI nya. Usaha untuk menegakkan kekuasaan di Jawa Tengah semakin nyata. Lebih-lebih setelah datangnya Kamran Cakrabuana sebagai utusan DI/TlI Jawa Barat untuk mengadakan perundingan dengan Amir Fatah maka keadaan berkembang dengan cepat. Amir Fatah diangkat Komandan Pertempuran Jawa Tengah dengan pangkat Mayor Jenderal TII. Sejak itu Amir menyerahkan tanggung jawab dan jabatannya selaku Ketua Koordinator daerah Tegal Brebes kepada Komandan SKS (Sub Wherkraise) III. Ia mengatakan bahwa Amir Fatah dengan seluruh kekuatan bersenjatanya tidak terikat lagi dengan Komandan SWKS III.


Untuk melaksanakan cita citanya di Jawa Tengah, DI mengadakan teror terhadap rakyat dan TNI yang sedang mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Dengan demikian dapat dibayangkann betapa berat perjuangan TNI di daerah SWKS III, karena harus menghadapi dua lawan sekaligus yaitu Belanda dan DI/TII pimpinan Amir Fatah. Kemudian pasukan DI mengadakan penyerbuan terhadap markas SWKS III di Bantarsari. Pada waktu itu pula terjadilah pembunuhan massal terhadap satu Regu Brimob pimpinan Komisaris Bambang Suprapto. Pukulan teror DI di daerah SWKS III membuat kekuatan TNI menjadi terpecah belah tanpa hubungan satu sama lain. Akibatnya teror DI tersebut, daerah SWKS III menjadi gawat.


Untuk mengatasi keadaan ini Letkol Moch. Bachrun Komandan Brigade 8/WK I mengambil tindakan mengkonsolidasikan SWKS III yang telah terpecah pecah. Kemudian diadakan pengepungan terhadap pemusatan DI. Gerakan selanjutnya dilaksanakan dalam fase ofensif. Gerakan tersebut berhasil memecah belah kekuatan DI/TII sehingga terjadi kelompok kelompok kecil. Dengan terpecahnya kekuatan DI menjadi kelompokkelompok kecil tersebut akhirnya gerakan mereka dapat dipatahkan. Setelah itu gerakan diarahkan kepada pasukan Belanda DI/TII. Gerakan itu dilaksanakan siang dan malam, sehingga kedudukan mereka terdesak. Dalarn keadaan moril pasukan tinggi, datang perintah penghentian tembak menembak dengan Belanda. Akhirya menghasilkan KMB yang keputusan keputusannya harus dilaksanakan oleh TNI antara lain penggabungan KNIL dengan TNI. Dalam situasi TNI berkonsolidasi, Amir Fatah mengambil kesempatan untuk menyusun kekuatan kembali. Kekuatan baru itu memilih daerah Bumiayu menjadi basis dan markas komandonya. Setelah mereka kuat mulai menyerang pos pos TNI dengan cara menggunakan massa rakyat.


Untuk mencegah DI Amir Fatah agar tidak meluas ke daerah daerah lain di Jawa Tengah, maka diperlukan perhatian khusus. Kemudian Panglima Divisi III Kolonel Gatot Subroto mengeluarkan siasat yang bertujuan memisahkan DI Amir Fatah dengan DI Kartosuwiryo, menghancurkan sama sekali kekuatan bersenjatanya dan membersihkan sel sel DI dan pimpinannya. Dengan dasar instruksi siasat itu maka terbentuklah Komando Operasi Gerakan Banteng Nasional (GBN). Daerah Operasi disebut daerah GBN.


Pimpinan Operasi GBN yang pertama Letkol Sarbini, kemudian diganti oleh Letkkol M. Bachrun dan terakhir Letkokl A. Yani. Dalam kemimpinan Letkol A. Yani untuk menumpas Di Jawa Tengah dan gerakan ke timur dari DI Kartosuwiryo yang gerakannya meningkat dengan melakukan teror terhadap rakyat, maka dibentuk pasukannya yang disebut Banteng Raiders. Kemudian diadakan perubahan gerakan Banteng dari defensif menjadi ofensif. Gerakan menyerang musuh dilanjutkan dengan fase pembersihan. Dengan demikian tidak memberi kesempatan kepada musuh untuk menetap dan konsolidasi di suatu tempat. Operasi tersebut telah berhasil membendung dan menghancurkan exspansi DI ke timur, sehingga rakyat Jawa tengah tertindar dari bahaya kekacauan dan gangguan keamanan dari DI.


Dibawah kepemimpinan Amir Fatah, sampai dengan tahun akhir tahun 1950, Gerakan DI/TII mengalami perkembangan yang cukup pesat. Bahkan ia behasil mempengaruhi Angkatan Oemat Islam (AOI), dan Batalyon 426 untuk melakukan pemberontakan. Sedangkan pengaruhnya terhadap Batalyon 423 tidak sempat memunculkan pemberontakan kerena adanya tindakan pencegahan dan Panglima Divisi Diponegoro.


  • Sebab Khusus Pemberontakan
  • Terjadi karena Batalion 624 pada Desmber 1961 membelot dan menggabungkan diri dangan DI/TII di daerah Kudus dan Magelang(selain di daerah Tegal-Brebes , di daerah selatan(Kebumen ) juga terdapat gerkan DI/TII yang dipimpin oleh Muhamad Mahfudh Abdurahcman / Kyai Somalangu .
  • Tujuan Pemberontakan
    1. Ingin mendirikan negara yang berdasarkan agama islam lepas dari NKRI
    2. Menjadikan Syariat islam sebagai dasar Negara ( pola tingkah laku ,dalam keluarga /masyarakat/ bangsa ataupun Negara) bersumber pada”Alqur’an , Hadist,Isma,Qias”.
  • Upaya Pemerintah Mengatasi Pemberontakan

Untuk menumpas pemberontakan ini pada bulan Januari 1950 pemerintah melakukan operasi kilat yang disebut “Gerakan Banteng Negara” (GBN) di bawah Letnan Kolonel Sarbini (selanjut-nya diganti Letnan Kolonel M. Bachrun dan kemudian oleh Letnan Kolonel A. Yani). Gerakan operasi ini dengan pasukan “Banteng Raiders.” Sementara itu di daerah Kebumen muncul pemberontakan yang merupakan bagian dari DI/ TII, yakni dilakukan oleh “Angkatan Umat Islam (AUI)” yang dipimpin oleh Kyai Moh. Mahudz Abdurachman yang dikenal sebagai “Romo Pusat” atau Kyai Somalangu. Untuk menumpas pemberontakan ini memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan.
Pemberontakan DI/TII juga terjadi di daerah Kudus dan Magelang yang dilakukan oleh Batalyon 426 yang bergabung dengan DI/TII pada bulan Desember 1951. Untuk menumpas pemberontakan ini pemerintah melakukan “Operasi Merdeka Timur” yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Brigade Pragolo.
Pada awal tahun 1952 kekuatan Batalyon pemberontak terrsebut dapat dihancurkan dan sisa- sisanya melarikan diri ke Jawa Barat dan ke daerah GBN.


Timbulnya Gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan

Pemberontakan DII/TII di Sulawesi Selatan dipimpin oleh Kahar Muzakkar. Kahar Muzakkar dilahirkan di Lanipa, kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu pada tanggal 24 Maret 1921. Lantaran sebuah kekecewaan kepada TNI, Kahar Muzakkar memilih masuk hutan. Dia meletakkan pangkat kolonelnya. Bersama pengikutnya, Kahar Muzakkar terus bergerilya dihutan. Mereka mengobarkan perlawanan kepada TNI dan pemerintahan Soekarno.
Untuk merealisasikan obsesinya yang menginginkan Indonesia menjadi negara islam, Kahar Muzakkar lalu mengikuti jejak Kartosuwiryo yang bermarkasdi Jawa Barat dengan gerakkan DI/TII(Darul Islam/Tentara Islam Indonesia).


Dengan dengung nuansa islam, DI/TII sulsel semakin mendapat simpati dari masyarakat luas. Bagaikan sebuah ajakan yang menjajikan sesuatu. Gerakan itupun semakin besar dan meluas. Hampir semua daerah tingkat dua di sulsel khususnya wilayah pegunungan dIjadikan markas anggota setia DI/TII.


Pemerintahan Soekarno melihat gerakan itu membahayakan. Apalagi tentara-tentara Kahar Muzakkar selain dilatih militer secar profesionaljuga dilengkapi dengan senjata api yang ampuh. Lanatarn itu pihak TNI pun melancarkan perang dengan DI/TII. Markas-markas DI/TII menjadi bulan-bulanan penyerbuan . bukan hanya dari tentara yang ada di daerah ini, tapi tentara-tentara jawa pun terpaksa didatangkan. Tujuannya, menghancurkan gerakan radikal islam ini. Meski penyerbuan bertubi-tubi, Kahar Muzakkar bersama anggotanya tak pernah gentar memberikan perlawanan. Bahkan pihak DI/TII sesekali menadhului peneyerangan.perumpahan darahpun dari kedua belah pihak tak terhindarkan itulah sebuah resiko perang yang lahir dari sebuah sikap tak mengenal kompromi. Dan itu sangat disadari oleh Kahar Muzakkar.


Melihat ketegaran gerakan tentara islamini tak kenal kompromi, pemerintah terpaksa mengubah strategi serbuannya. Dan itu terjadi menjelang 15 tahun kejayaan DI/TII dihutan belantara sulsel pimpinan Kahar muzakkar. Strategi itu tampaknya ampuh, soalnya sejumlah petinggi milik DI/TII sempat dipengaruhi untuk bergabung dengan pemerintah, dalam hal ini TNI. Mereka dijanjikan kejayaan dan pengkat yang menggiurkan. Ternyata iming-imng itu banyak diantara pengikut Kahar Muzakkar membelot masuk kepangkuan TNI.
Sekitar setahun proses pelumpuhan perjuangan DI/TII itu berjalan, akhirnya pihak pemerintah memetik buahnya. DI/TII saat itu memang mulai kehilangan gigi. Nafas perjuangannya sudah terputus-putus lantaran andalan-andalan Kahar muzakkar sebagian telah menghianati ikrar perjuangan yang telah dicuatkan bersama.


Di saat seperti itulah entah berapa kali pihak pemerintah membentuk tim khusus untuk melakukan perundingan dengan Kahar Muzakkar yang tetap konsisten dihutan. Tim perundingan yang bertujuan mengajak Kahar Muzakkar untuk berdamai itu kadang diketuai M. Jusuf (kini jendral). Ternyata meski sudah milai kehilangan anak buah andalan, Kahar Muzakkar tetap dalam sikapnya tak mengenal kompromi, apalagi menyerah. Kata menyerah tak ada dalam kamus Kahar Muzakkar.


Menghianatnya sejumlah orang dekat pejuang islam itu, membuat Kahar Muzakkar merasa kecewa. Namun rasa kekecewaan itu tidak dijadikan sebagai alasan untuk menghentikan perjuangan. Bersama sisa-sisa anggotanya yang tetap konsisten, Kahar Muzakkar tetap mengobarkan perlawanan, meski hal itu dilakukan dihutan-hutan belantara dengan cara berpindah-pindah. Kadang di hutan Sulawesi Selatan, kadang di hutan Sulawesi Tenggara. Begitula stategi perlawanan yang dilakukan DI/TII.


Entah bagaimana prosesnya dan peristiwa ini masih diragukan oleh sejumlah pengikut Kahar Muzakkar pada 2 februari 1965, bertempat dipinggiran sungai Lasolo Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, tiba-tiba tersiar kabar Kahar Muzakkar tewas ditembak oleh pasukan siliwangi yang menyerbu markas DII/TII.
Mencuatnya informasi dari pihak pemerintah dalam hal ini TNI memang ampuh mematikan api semangat perjuangan sebagian anggota DI/TII yang bertahan di hutan. Soalnya mereka yang berhasil diyakinkan akan kematian komandannya itu, membuat mereka merasa kehilangan nyalinperjuangan.


Peristiwa itu sejak dicuatkannya kepermukaan hingga sekarang ini masih menjadi perdebatan dikalangan masyarakat sulsel. Sebagian percaya dan sebagian besar tidak percaya. Mereka yang tidak meyakini kebenaran kematian komandannya itulah yang tak henti-hentinya mendengungkan bahwa Kahar Muzakkar masih hidup.itulah akhir dari sebuah perlawanan selama 15 tahun dihutan. Melahirkan sebuah misteri. Yang tak jadi misteri adalah Kahar Muzakkar tak pernah menyerah.


Lima belas tahun dia bertualang di hutan-hutan Sulawesi Selatan dan Tenggara. Sejak 7 agustus 1953 Kahar Muzakkar mempermaklumkan bahwa daerah Sulawesi menjadi bagian negara islam Indonesia dipimpin Kartosuwiryo. TNI dijadikannya tentara islam di Indonesia. Menarik juga Kahar yang begitu membenci segala sesuatu yang bersifat Jawa seperti yang biasa dibaca dalam konsepsi negara demokrsai Indonesia yang disusunnya namun bersedia menerima kepemimpinan S.M Kartosuwiryo, seorang yang tak diragukan kejawaannnya. Kahar diangkat sebagai panglima difisi IV TII.


Menyandang sepucuk pistol, granat dan beberapa buah buku, Kahar yang berpakaiaan hitam meloncat dari jendral. Dibawah dia dihadang oleh kopral sadeli tak menghiraukan perintah “angkat tangan”, Kahar Muzakkar mencoba bermain api Sadeli memuntahkan tembakan mendatar. Imam itu gugur, tak sempat mewasiatkan sepatah kata pun.
Kisah kematian pejuan islam radikal diatas trntu saja versi pemerintah, dalam hal ini TNI. Namun bagi sebagian besar simpatisannya khususnya dari mantan anggota DI/TII hingga kini belum mengakui kebenaran mantan komandannya itu buktinya banyak cerita muncul kalau Kahar Muzakkar masih hidup.


Namun semua itu tidak memperkuat posisi Kahar Muzakkar dalam keikut sertaanya mengatur bangsa ini. Malahan makin dipersempit oleh pasukan TNI. Merasa terancam dan kecewa, Kahar Muzakkar bersama pasukannya mengubah haluan. Mencari jalan alternatif. Dia lalu menggabungkan diri dalam gerakan DI/TII pimpinan Karosuwiryo di Jawa Barat. Itu berarti konsep pancasila versi Kahar Muzakkar diganti dengan konsep negara islam Indonesia. Setidak-tidaknya Kahar Muzakkar harus mengubah 2 hal, ideologi dan tujuan gerakannya.
Perhitungan Kahar Muzakkar dengan balik haluan ini memang mendapat dukungan dari masyarakat, baik secara aktif maupun secara pasif. Mengingat masyarakat Sulawesi Selatan dan Tenggara mayoritas beragama islam.
Begitu menyatakan dirinya bergabung dengan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo pada 1953 Kahar Muzakkar melakukan pembenahan. Pertama mengubah ideologi dari pancasila menjadi islam, dan dari republik Indonesia menjadi Negara Islam Indonesia. Masa ini disebut sebagai penggalangan dan masa peralihan.


Kendati dia lahir dikalangan masyarakat Sulawesi Selatan yang dikategorikan berkeyakinan kuat terhadap agama islam, namun Kahar Muzakkar tidak memperoleh pendidikan formal islam dari sebuah madrasa atau pesantren. Kahar Muzakkar memperoleh pendidikan islam disekolah muhammadiyah di Jawa.
Menyadari kekurangan dirinya, Kahar Muzakkar melancarkan jurusnya. Termasuk merangkul beberapa kiai besar di Sulawesi Selatan. Bahkan dia tidak segan-segan menculiknya bila memperlihatkan perlawanan tersebutlah nama KH. Abd. Rahman Ambo Dalle dan KH. Muin Yusuf yang sudah punya pengaruh besar di masyarakat berhasil dirangkul, setelah diperdaya. Tujuannya, tak lain memperbesar dan memperluas pengaruhnya. Dengan begitu konsep negara islam Indonesia di sulawesi Selatan cepat tersebar. Belakangan KH. Abd Rahman ambo Dalle dan KH. Muin Yusuf diangkat sebagai ketua dewan patwa.


Proklamasi ini satu paket dengan undang-undang dasar republik Indonesia. Berisikan 3 bagian, 14 bab, dan 57 pasal. Wilayah RPII seperti tercantum dalam undang-undang meliputi wilayah Indonesia. Negara menghargai dan membantu kehidupan segenap bahasa daerah dalam wilayah negara. Yang menarik juga dalam undang-undang RPII ini yaitu disebutkan hak milik : “penggunann kekayaan yang ada dilangit, udara, bumi, dan laut, diatur dalam undang-undang sepanjang ajaran islam. Begitu bunyi pasal 28 undang-undang RPII. Disamping ada hak milik, juga terdapat bab hak asasi manusia. Bab ini terdiri atas 6 pasal. Pemerintah berdasarkan islam, merupakan obsesi Kahar Musakkar yang tak perlu diragukan lagi. Paham itu sudah dijadikan harga mati dalam perjalanan hidupnya. Bila dalam prosesnya menemukan jalan buntu, dia berupaya mencari jalan baru. Begitulah ketika berselisih paham dengan kartosueiryo dan Daud Beureueh, Kahar muzakkar menyatakan diri berdiri sendiri dan memproklamasikan negara yang di impikannya itu, yakni repoblik persatuan indonesia


Bukankah Kartosuwiryo yang memperkenalkan konsep negara islam untuk Kahar Muzakkar dan bukankah juga Kartosuwiryo menjadi iman dan pimpinan tertinggi DI/TII di indonesia. Namun demi sebuah cita-cita, Kahar Muzakkar mencoba tidak sepaham dengan langkah-langkah perjuangan atasannya itu.  Untuk mewujudkan RPII, Kahar Muzakkar terlebih dahulu mengorganisasikan suatu pertemuan bersama pengikutnya di Sulawesi Selatan. Pertemuan itu bernama PUPIR III (pertemuan urgentie pejuang islam revolusioner III) pada 14 Mei 1962.


Menurut Kahar Muzakkar, undang-undang RPII itu Kahar Muzakkar sebagai pejabat chalifa. Dalam pernyataannya, Kahar Muzakkar mengajukan beberapa alasan kenap ajaran islam harus diperjuangkan. Menurut Kahar Muzakkar, Undang-undang RPII memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan UUD negara atau yang dinilainya “dunia sekulerisme” itu. Karena kelebihan itu Kahar Muzakkar membatalkan dua proklamasi yang pernah ada di Indonesia. Pertama, proklamasi 17 agustus 1945 yang dinyatakan Soekarno Hatta dan Proklamasi 17 agustus 1945 yaitu duta politik bahkan Kahar Muzakkar menuduh Soekarno sebagia pimpinan “gadungan”. Kedua, penolakan proklamasi 7 agustus 1949 proklamasi pembentukan NII( negara islam indonesia) yang melahirkan DI/TII di Indonesia.
Untuk mewujudkan negara yang diimpikan Kahar Muzakkar itu dia menyebutkan feodalisme dan alim ulama dan mazhab sebagai perusak kehidupan kesatuan masyarakat islam. Itu sebabanya kedua golongan ini menjadi prioritas pertama yang harus dihilangkan Kahar Muzakkar. Juga bertekat membersihkan masyarakat islam dari hadist-hadist palsu. Karena satu-satuny landasan pengaturan hidup masyarakat islam ialah Alqur’andan hadist-shahih, dan campur tangan manusia.


Suasana wilayah Bonepute, Kabupaten Luwu tahun 1962 cukup tegang, Andi Muhammad Jusuf panglima komando Operasi Kilat Kodam XIV Hasanuddin usai mengadakan pertemuan dengan Kahar Muzakkar pemimpin DI/TII wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara. Hasilya, tidak ada kesepakatan. Dalam pertemuan empat mata di sebuah kamar M. Jusuf meminta Kahar Muzakkar untuk berdamai saja. Namun tidak diterima pimpinan DI/TII itu
Kahar Muzakkar kemudian mengirim surat kepada komandan RTP Guntur, Andi Sose yang sebelumnya adalah anak buahnya ketika awal masuk bergerilya. Andi Sose yang sudah kembali kepangkuan ibu pertiwi setelah mengetahui perundingan Bonepute gagal, menawarkan pula perundingan. Andi Sose menawarkan berbagi alternatif agar terjadi kesepakatan antara pihak DI/TII dengan TNI. Namun sikap Kahar Muzakkar Tidak berubah, karena apa yang ditawarkan kepadanya dianggapnya merupakan suatu kesalahan.


Untuk itu, pemimpin DI/TII sulsel ini mengirim surat tantangan Kahar Muzakkar kepada Andi Sose untuk tetap bertempur. Surat Kahar Muzakkar kepada Andi Sose ini Merupakan ungkapan refleksi kemarahannya kepada andi Sose yang dinilai lancang telah memeranginya dan berusaha mempengaruhinya untuk berdamai. Meski dalam suratnya, Kahar Muzakkar menganggap perang yang telah dihadapinya adalah perang yang melawan kebathilan. Pejuang islam yang tidak pernah gentar ini menganggap dirinya berada di pihak yang yang baik dan benar. Dengan demikian pertempuran yang akan diteruskan akan mendapat perlindungan Tuhan.


Dalam opersi-operasi penumpasan pasuka DI/TII di wilayah Sulsel dan Tenggara, hampir seluruh resimen yang dibawahi koodam XIV Hasanuddin ikut tterlibat penumpasan. Andi Sose misalnya dengan pangkat mayor, salah seorang pejabat di kodam XIV Hasanuddin waktu itu berkali-kali dipercaya meminpin komando operasi. Ketika berlangsung operasi kilat, Mayor Andi Sose sebagai kepala Staf Resimen 23 dipercaya meminpin Komando Operasi. Dari sinilah dia menawarkan kepada Kahar Muzakkar untuk berdamai tapi tawaran itu ditolak pimpinan DI/TII itu
Kordinasi Operasi yang dilakukan oleh komando operasi kilat dinilai lancar. Soalnya didukung kondisi yang berkembang di dalm negeri. Saat itu terjadi penyelesaiian keamanan diseluruh wilayah Negara RI temasuk irian jaya. Dalam priode 1960-1962 terjadi proses penyelesaian pemberontakan DI/TII pimpinan Muhammad Daud Beureueh. Di Aceh, dapat diselesaikan melalui perundingan damai pada tahun itu juga. Irian barat dapat pula di selesaikan melalui jalan damai pada tahun itu juga. Irian dapat pula diselesaikan melalui jalan damai.


Ketika Andi sose turun gunung dan kembali bergabung dengan TNI, dia dimasukkan kedalam APRI Pada 1952. Semasa bersama Kahar Muzakkar, sebelum masuk Hutan Andi Sose merupakan seorang Komandan TKR (Tentara Keamanan Rakyat )pimpinan Kahar Muzakkar. TKR waktu itu merupakan pasaukan dan disegani banyak pihak. Saat berada di APRI beberapa kali Andi Sose memeimpin Operasi penumpasan pasukan DI/TII
Diantara Operasi Penumpasan itu, dia melakukan pendekatan terutama terhadap Kahar Muzakkar dan pasukannya. Tujuannnya, agar peneylasaian keamanan antara TNI dengan DI/TII dapat berlangsung dengan damai. Salah satu diantara sekian cara pendekatan yang dilakukan Andi Sose kepada Kahar Muzakkar adalah dengan menggugah nurani emimpin DI/TII itu melalui sebuah surat.


Meski sejak peristiwa itu hingga kini masih banyak simpatisan DI/TII dan Kahar Muzakkar meyakini kalau yang terbunuh saat itu bukan Kahar Muzakkar, kata seorang mantan anggota DI/TII yang menjalani hari-hari tuanya di Luwu. Belakangan perundingan antara warou dengan Kahar Muzakkar tidak berlanjut. Bersama Usman Balo, Kahar Muzakkar kembali masuk hutan, pasukan CTN yang belakangan berubah menjadi TKR harus menyusun taktik baru dalam hutan. Termasuk menjalin hubungan dengan pimpinan DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat.
Jalinan Kahar Muzakkar dengan pimpinan DI/TII Kartosuwiryo membuat Usman Balo merasa dikhianati. “setelah saya mendengarkan Kahar Muzakkar memproklamirkan DI/TII di Sulsel, saya menyatak mundur dari pasukan Kahar Muzakkar,” aku Usman Balo. “saya tak ingin mendirikan negara diatas negara. Saya tetap mempertahankan pancasila,” tegas Usman Balo.


Sejak itu tahun 1952 pasukan Usman Balo harus mengahdapi 2 musuh sekaligus; Pasukan Kahar Muzakkar di TII dan TNI. Saran dan usul yang selalu dilancarkan Usman Balo, datang selalu disabot Sanusi Daris. Hubungan Kahar Muzakkar dengan Usman Balo pun terputus.Pergolakan dan pertempuran DI/TII, berlangsung dalam kurun waktu 15 tahun, membawa dampak dan pengaruh begitu luas di daerah ini. Kahar Muzakkar merupakan figur utama dalam pergerakan itu. Dia punya peranan penting menentukan pasang surut gerakan dan pemberontakan.


Bertepatan waktu gerakan DI/TII sedang berlangsung di makassar diproklamirkan Permesta(perjuangan Semesta Alam), dini hari 2 maret 1957. Di ikrarkan oleh 51 tokoh masyarakat sebagian dari sipil, sebagian dari militer.
Permesta dan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar menjalin pertemuan dan melahirkan kerjasama. Pertemuanpun berlangsung pada 17 april 1958. Pemesta diwakili Saleh Lahade dan Mochtar Lintang, sedangkan pihak DI/TII diwakili Kahar Muzakkar.


Jumpa pers yang dilakukan kedua pimpinan itu mengatakan, telah dilakukan persetujuan bersama untuk bekerjasama dalam tujuan sama: memerangi kaum komunis Indonesia dan Internasional.
Gerungan dalam struktur Pemesta, selaku komandan sektor II Resimen Tim Pertempuran Anoa di Sulawesi Tengah dengan basis di Poso. Saat operasi militer dari pemerintah terhadap pasukan permesta, gerungan menghindar kewilayah selatan Poso bersama 200 anggota pasukan dan masuk kesulsel. Pada 1959 gerungan menjalin kerjasama militer dengan DI/TII. Pada 1960, dia masuk agama islam dan menjadi kepercayaan Kahar Muzakkar.
Ribuan mahasiswa di Makassar menuntut sebuah negara baru bernama Bangsa Indonesia Timur Merdeka. Diproklamirkan di depan monumen mandala Makassar pada jum’at 22 Oktober 1999. Memang Kahar Muzakkar dan pasukannya yang melakukan pemberontakan menolak bergabung dengan negara kesatuan RI dan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo memproklamirkan sebuah negara bernama RPII (Republik Persatuan Islam Indonesia) pada 14 Mei 1962.


Namun ketika melihat ketidak adilan yang dirasakan oleh Kahar Muzakkar bersama pasukannya menyatakan menolak bergabung dengan negara RI, maka Kahar Muzakkar bersama pasukannya menyatakan menolak bergabung dengan negara RI, kemudian menyatakan bahwa wilaya Sulsel adalah bagian dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kartosuwiryo yang berpusat di Jawa Barat.
Tindakan Kahar Muzakkar dan pasukannya membuat presiden Soekarno marah besar. Kahar Muzakkar dan pasukannya dinyatakan pemberontak sehngga harus ditumpas. Melaui operasi-operasi militer dilakukan Tentara Nasional Indonesia. Terhadap pasukan DI/tii yang menyatakan hutan sebagai basis perjuanganya. Operasi militer tentara tidak mampu meredam perjuangan DI/TII untuk menjadikan Indonesia ini sebuah negara berdasarkan syariat islam.


Apalagi DI/TII yang menjadikan islam basis perjuangannya mendapat sambutan hangat dari sebagian masyarakat Sulawesi Selatan yang fanatisme terhadap islam. Berkat dukungan besar dari masyarakat Sulsel terutama yang menetap diwilayah pedalaman, DI/TII semakin kuat melakukan perlawanan terhadap TNI.
Belakangan Kahar Muzakkar mengaku pula, ikut bergabung dengan negara republik Indonesia. Keduanya baik RI maupun DI/TII tetap menghindari negara kesatuan, yang letak kepemimpinannya berada di Jawa Barat. Padahal Kahar Muzakkar memilki ide agar DI/TII meilih bentuk federasi sehingga wilayah-wilayah di luar pulau Jawa menjadi negara bagian yang mempunyai hak otonomi luas.


Ide Kahar Muzakkar untuk menjadikan negara DI/TII dalam bentuk federasi ditolak mentah-mentah oleh Kartosuwiryo. Pimpinan DI/TII tetap menghendaki negara kedaulatan dengan alasan agar kepemimpinan tetap berada ditangannya. Akibat penolakan Kartosuwiryo itu, Kahar Muzakkar dan pasukannya kemudian menyatakan melepaskan diri dari DI/TII dan menyatakan membentuk sebuah negara RPII dan berdasarkan chalifah republik berdaulat berdasarkan al-qur’an.


Bukit raminta ini gua yang pernha di tempati Sanusi Daris salah seorang panglima DI/TII yang tetap bertahan selama 21 tahun dihutan. Ketika Ka har Muzakkar dinyatakan tewas tertembak pada tnggal 2 Februari 1965, perlahan-lahan pasukan DI/TII yang berada di huatan maupun yang bergerilya di kota mnyerahkan diri dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Mereka menganggap bahwa tewasnya pemimpin DI/TII maka berakhir pula perjuangan DI/TII untuk mendirikan negara berdasarkan syariat agama islam.


Bagi Sanusi Dari smendapat amanat dari Kahar Muzakkar sebelum dinyatakan tewas tertembak versi pemerintah agar bertahan dihutan meneruskan perjuangan dan cita-cita DI/TII. Disebut-sebut setelah pertemuan antara letkol (kini jendral purn.) M. Jusuf dan Kahar Muzakkar, pimpinan DI/TII ini mengadakan oertemuan dengan orang-orang kepercayaannya.


Sisa-sisa kekuatan DI/TII di Sulsel yang dipimpin Sanusi Daris pernah berunding dengan pemerintah. Untuk itu, Sanusi Dari sebagai wakil dari Kahar Muzakkar mengambil alih tanggung jawab memimpin perjuangan DI/TII. Sesuai cita-cita awal, mewujudkan sebuah negara yang berasaskan islam bersama psukannya, Sanusi Daris tetap bertahan dalam huatan dan melakukan gerilya menghadapi operasi militer tentara yang terus meburu sisa pasukan DI/TII yang masih bertahan didalam hutan.


Operasi militer yang dilakukan kodam XIV Hasanuddin tidak pernah berhasil menumpas sisa psukan DI/TII yang lebih menguasai medan hutan.bahkan ketika operasi militer TNI dipimpin kapten Mappiabang menelusuri jejak-jejak pasukan DI/TII dihutan wilayah enrekang, Tator dan Pinrang. Mereka menganggap bahwa Sanusi Daris sudah meninggalkan daratan Sulawesi.


Sebelum era reformasi datang , membicarakan mati hidupnya kahar Muzakkar adalah sesuatu yang tabu. Telah menjadi kesan di tengah masyarakat Sulsel, membicarakan tentang mati hidupnya pemimpin DI/TII sama dengan bermain-main dengan maut.hampir semua orang yang pernha dekat dengan Kahar Muzakkar selama berada dihutan mengakui pimpinan DI/TII itu memilki kelebihan dapat berubah-ubah wajahnya. Kelebihan Kahar Muzakkar itu, menurut mereka yang percaya dan mantan anggota DI/TII tidak terlepas dari ilmu spiritualyang dimilkinya.


Untuk menghentiakan perjuangan DI/TII, TNI melakukan berbagai pendekatan. Pendekatan keamanan dilakukan dengan melakukan operasi militer, TNI berusaka melokalisir dan mempersempit basis-basis perjuangan DI/TII bahkan mendesak jauh ketengah hutan agar tidak saling berhubungan antara basis yang satu dengan basis yang lain.
Diantaranya melakukan prundingan di Bonepute pada 1962 untuk menyelesaikan konflik antara DI/TII dengan TNI pemerintah. Paham-paham Kahar Muzakkar yang kelihatan ‘bangkit’ belakangan ini dimanipulir oleh orang-oarang yang fanatik pada perjuangan DI/TII bahwa Kahar Muzakkar masih hidup.Perjuangan Kahar Muzakkar pemimpin DI/TII bersama pengikutnya dipatahkan oleh pasukan TNI yang melakukan operasi militer yang diberi nama operasi kilat dalam menumpas pemberontak DI/TII.


Dari sekian operasi-opers\asi militer yang dilakukan TNI, diantaranya bertujuan untuk menangkap hidup atau mati pemimpin DI/TII itu, agar perjuangan mendirikan negara islam bisa pupus. Bahkan TNI berhasil merangkul orang kepercayaan Kahar Muzakkar. Orang itu lalu membelot dan menyerahkan diri kepada TNI. Dari situ pihak TNI memperoleh informasi tentang dimana posisi pemimpin DI/TII Kahar Muzakkar. Akhirnya dilakukan operasi militer dan berhasil menembak mati Kahar Muzakkar.


Keberhasilan pasukan TNI menembak mati Kahar Muzakkar kemudian diumumkan kepada masyarakat luas. Bahkan mayatnya diperlihatkan kepada umum, sebgai bukti. Upaya ini berhasil mematahkan semangat sebagian besar para pengikut DI/TII yang berada dihutan-hutan wilayah Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Maka berbondong-bondonglah gerombolan DI/TII menolak kebenaran pengumuman TNI itu. Bahkan dinilai sebagai informasi bohong belaka mereka tidak percaya Kahar Muzakkar telah meninggal dan menganggap mayat yang diperlihatkan secara umum itu bukan mayat Kahar Muzakkar melainkan wajah orang lain yang mirip Kahar Muzakkar. Namun itu tidak mengganggu proses meredupnya perjuangan DI/TII hingga akhirnya tidak terdengar lagi.


Seorang pengurus mesjid Al-markas yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan keyakinannya tentang masih hidupnya pejuang islam yang tidak pernah menyerah, Kahar Muzakkar. Pengurus mesjid itu tergolong fanatik, bahkan termasuk perintis pelaksanaan syariat islam yang dicanangkan diSulsel.
Pada tanggal 30 april 1950 Kahar Muzakkar menuntut kepada pemerintah agar pasukannya yang tergabung dalam Komando Gerilya Sulawesi Selatan dimasukkan kedalam angkatan perang RIS (APRIS). Tuntutan ini ditolak karna harus melalui penyaringan. Untuk mengahdapi pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan ini pemerintah melakukan operasi militer.


Di depan banyak orang dia mengisahkan perjumpaanya dengan Kahar Muzakkar. “kahar Muzakkar memang masih hihup”. Beberapa bulan bulan lalu saya saya sempat mengantarnya ke palopo. “jadi saya sangat tidak mempercayai informasi yang mengatakan Kahar Muzakkar telah meninggal dunia ditambak oleh tentara siliwangi pada tahun 1965. Saat itu bukan Kahar yang tertembak, tetapi seorang anggota DI/TII yang mirip wajah Kahar.” Katanya.
Menurut Muarrif, pada awal perjumpaannya di sebuah rumah di Makassar, dia tidak tidak terlalu yakin lelaki tua berjenggot putih yang duduk di depannya, adalah Khar Muzakkar.


Muarrif mengaku, saat itu dia bersama tiga rekannya menemeani Kahar di palopo. Mereka mengendarai mobil kijang warna hijau muda metalik. Dalam perjalanan sempat sinngah beberapa kali, selain diwarung, juga di sejumlah lokasi yang pernah ditempati anggota DI/TII berjuang. Kahar dalam perjalanan itu selalu mengatakan perjuangan DI/TII belum berhenti. “perjuangan ini tidak boleh berhenti di tengah jalan. Generasi muda harus merasa terpanggil meneruskannya karena ini adalah panggilan Allah SWT”, tegas Kahar seperti yang disampaikan ustadz Muarrif.


Selain itu, lanjut Muarrif, ketika meraka singgah istirahat di siwa sebuah lokasi yang pernah menjadi wilayah latihan anggota DI/TII Kahar menceritakan tentang banyaknya rekan seperjuangan yang menghianat. “ dalam perjalanan Kahar Muzakkar banyak bercerita tentang nuansa gerakan DI/TII. Terkesan dari ucapan-ucapannya, dia masih optimis, suatu waktu gerakan yang pernah Berjaya selama 15 tahun di negeri ini, akan bangkit dengan sebuah pekik kemenangan.Apa yang diungkapkan Kahar itu, juga disampaikan kepada ratusan ummat di Palopo. Setelah tiga hari di Palopo, Kahar pun kembali ke Makassar lalu entah kemana.


Pada tahun 2000, Muhammad Jufri Tamboro mantan panglima perang DI/TII dikabarkan sakit keras. Mungkin lantaran sudah tuanya lelaki bertubuh besar ini, sehinggah keluarganya memilih cukup merawat di kediamannya di desa Lambai, Kec Lasusua, Kab Kolaka, Sultra.Jufri Tambora begitu sering dipanggail selama tinggal di desa bekas kekuasaan DI/TII itu, dia terus dijaga khusus oleh pihak keamanan. Kepala Desa Lambai memang sejak dulu sudah diwanti-wanti agar tidak memberikan kebebasan kepada Jufri Tambora untuk memberikan kebebasan kepada Jufri Tambora untuk memberikan Kotbah di Masjid, termasuk di tempat-tempat keramaiaan.


Lantaran adanya perjuangan model seperti itu, pejuang Islam ini pun menjalani hidupnya dengan berkebun coklatdan mencari dana untuk pembangunan mesjid di daerahnya. Tidak lam atersiarnya tentang skitnya Jufri Tambora, seketiaka juga tersiar cerita tentang seorang lelaki tua renta berjenggok putih menjenguk Jufri Tambora di rumahnya. Belakagan, khususnya di Palopo muncul cerita kalau lelaki berjenggot putih itu adalah Kahar Muzakkar komandan DI/TII yang dikabarkan oleh pemerintah. Orde lama dan Orde baru telah meninggal dunia ditembak oleh seorang perajurit Siliwangi.


Saat itu ketika jufri Tambora sedang berbaring di tempat tidurnya tampa diduga muncul seorang lelaki berjenggot. Dia tidak bicara apa-apa. Sambil diam dia melihat tajam tubuh Jufri Tambora yang sedang sakit keras. Hanya beberapa menit kemudian, lelaki itu meninggalkan rumah Jufri Tambora.
Beberapa minggu setelah munculnya lelaki berjenggot putih itu di rumah Jufri Tambora, mantan panglima perang DI/TII ini dikabarkan meninggal dunia. Tokoh ini dikebumikan di Desa Lambai, Kecematan Lasusua, Kab Kolaka, Sultra. Ratusan warga sekitar, ditambah puluhan warga dari palopoikut memberikan doa khusus akan kepergian Jufri Tambora.


Dua minggu setelah kepergiannya, muncul lagi cerita aneh di Desa Lambia. Sejumlah warga melihat seorang lelaki tua berjenggot sangat mirip dengan lelakiyang menjenguk Jufri Tambora turun dari petepete lalu duduk di bawah rimbunan daun pohon kelapa. Di desa ini memang banyak pohon kelapa. Menurut informasi, pohon kelapa itu masih peningalan pejuang-pejuang dan pengikut gerakan DI/TII


Imaniar seoarang gadis manis asal Soppeng mengaku pernah ketemu Kahar Muzakkar. Saat itu, niar begitu panggilannya naik mobil panther dari soppeng menuju ke Makassar. Di sampingnya seorang lelaki berjenggot putih. Ketika sampai di sebuah warung, sopir mobil menghentikan mobilnya. Niar lalu mengajak sang lelaki tua turun untuk menikmati makanan. “terima kasih, nak saya lagi kenyang. Kebetulan tadi saya sudah makan, “ jawabanya kepada niar. Mendengar jawaban itu, entah mengapa, Niar juga tidak turun dari mobil
Usai penumpang menikmati makanan di warung, sang sopir pun melanjutkan perjalanan. Ketiak sampai di Kota Pangkep, niar menyinggung soal sejarah gerakan Kahar Muzakkar yang di tumbangkan rezim orde lama. Tak terasa perjalanan mereka sudah sampai di Daya Makassar. Dalam kediaman, tiba-tiba sang lelaki kembali melirik Niar lalu memberikan sebuah pengakuan yang tidak pernah di sangka sang gadis. “ sayalah Kahar Muzakkar. Memng saya belum meninggal. Ketika dikabarkan saya telah mati diberondong senjata oleh tentara siliwangi, itu hanya bohong besar. Soal init any asaja sama Jusuf ( Jendral M. Jusuf)


Setelah pengakuan itu dalam perjalan niar memilih diam sambil menghayalkan sesuatu.” Ternyata informasi dari seoarang teman di kampus tentang masih hidupnya pejuang islam itu, memiliki kebenaran. Ketika sudah sampai di terminal panaikang, penumpang pun turun satu persatu. Niar lalu mencari taksi untuk pulang kerumahnya di perumnas tamalate. Sampai dirumah, dia lalu menceritakan kisah perjumpaanya dengan Kahar Muzakkar kepada keluarganya. Mendengar kisah nyata itu, keluarganya pun penasaran dan seketika hendak menghubungi sang lelaki
Pengakuan seorang Dokter Ibrahim, seorang dokter asal kabupaten Wajo kini bertugas di Jakarta. Baru-baru ini dia ke Makassar menghadiri perkawinan keponakannya yang diadakan di Tamalanrea. Dalam suasana santai banyak bercerita tentang gejolak yang terjadi di ibu kota Negara . entah mengapa dalam suatu hari di bulan Januari 2001 Ibrahim mengungkapkan tentang masih hidupnya komandan DI/TII Kahar Muzakkar. Soal informasi bahwa Kahar masih hidup sampai sekarang say asangat mempercayainya,” katanya kepada semua anggota keluarganya.
Mendengar keyakinan yang di ungkapkan secara tak terduga itu membuat sejumlah keluarganya dan tamu yang mendengarnya merasa penasaran. Mereka ingin mendengar cerita lebih jauh tentang refleksi keyakinan dokter Ibrahim itu Ibrahim pun melanjutkan ceritanya. Menurut mantan pengurus KNPI Sulsel ini, baru-baru ini ia sempat merawat kesehatan Kahar Muzakkar


Pada awalnya Ibrahim agak ragu mendengar pengakuan itu. Namun keesokan harinya orang tua berjenggot itu datang lagi. Ia datang lagi untuk memeriksa kesehatannya. Dalam kesempatan kedua pertemuan ini Ibrahim pun memanfaatkanya untuk mengetahui lebih jauh tentang pengakuannya, bahwa dialah Kahar Muzakkar komandan DI/TII yang selama ini diinformasikan oleh pemerintah telah meninggal dunia ditembah oleh seorang perajurit siliwangi di sebuah desa di Kolaka, Sultra


Menurut Ibrahim pertemuan keduanya ini semakin membutanya merasa yakin kalau lelaki tua ini adalah Kahar Muzakkar. “ pertemuan kedua saya ini dengannya, dia banyak bercerita tentang perjuangan ummat Islam yang tidak konsisten. Katanya banyak tokoh-tokoh di negeri ini yang ingin Negara ini beriodologi islam, namun tidak berkonsisten dalam memperjuangkannya. Mereka katanya, hanya sebatas ngomong saja,”kat Ibrahim menyampaikan hasil pembicaraanya dengan sang lelaki tua.melalui Ibrahim, sang lelaki tua yang mengaku kahar Muzakkar itu berpesan kepada ummat islam, utamanya kepada generasi muda Islam, agar mulai sekarang membangun sebush perjuangan secara sistematis.”sebenarnya perjuangan kami dulu melalui wadah DI/TII itu sudah hampir tercapai. Hanya saja sejumlah anggota di hutan-hutan belantara di sulsel ini tiba-tiba menjadi pengecut. Sebagian diantara mereka membelot dan masuk dalam pemerintahan soekarno. Sehingga tentu saja melemahkan perjuangan, apalagi orang-orang itu, selain menjadi pengecut juga menjadi mata-mata yang membocorkan rahasia perjuangan kepada pemerintah Soekarno,” cerita Kahar seperti yang di cerikan Ibrahim.
Sejak pertemuan yang tidak disangka itu, membuat Ibrahim, selain merasa yakin akan hidupnya Kahar, juga berjanji dalam dirinya untuk melanjutkan obsesi Kahar Muzakkar itu. “ cara saya melanjutkan perjuangannya, tentu tidak seperti gerakan DI/TII dulu. Tetapai saya berusaha menyampaikan kepada teman-teman dekat, khususnya mereka yang konsisten dalam memperjuangkan nilai-nilai islam, agar tetap dalam satu barisan memperkokoh hukuman-hukuman islam, agar tetap dalam satu barisan memperkokoh hokum-hukm islam,” tambah Ibrahim
Surat Kahar dari Klimantan, seorang pengusaha dari Makassar mengaku sering menerima surat dari Kahar Muzakkar. Menurut pengusaha yang bernama Syamsuddin (61 tahun ) ini Kahar Muzakkar berada di Kalimantan. “setiap ada perkembangan soal pengembangan agama Islam, bias any dia mengabarkan kepada saya melalui surat. Misalnya soal musibah yang bernuansa keagamaan di Ambon dan Poso,” Kata Syamsuddin awal Januari 2001.
Syamsuddin memang tercatat sebagai pejuang dalam gerkan DI/TII yang dipimpin Kahar Muzakkar. Dia sempat hidup beberapa tahun di hutan dengan cara berpindah-pindah wilayah. Selain dia mengenal Kahar melalui gerakan Islam, dia juga secar pribadi dikenal sangat dekat dan akrab komandan pejuang islamitu. Lantaran banyak watak pribadi Kahar yang dikenal dengan baik. Termasuk soal wanita dan makan yang disukai Kahar.” Saya tahu Kahar itu sangat senang makan kapurung, makanan kahas orang luwu.” Ujarnya.


Lelaki yang memiliki tubuh kekar ini merasa keberatan kalu dikatakan kahara telah meninggal ditembak tentara siliwangi pada tahun 1965. “memang saat itu di adiserang tentara siliwagi di suatu desa di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Seorang teman Kahaar korban terkena peluru. Sedangkan Kahar berhasil berhasil bersembunyi di semak-semak. Angota DI/TII yang terkena peluru dan meninggal dunia itu lalu di angkat ramai-ramai oleh tentara siliwangi dikiranya mayat itu adalalah Kahar Muzakkar. Jadi yang dibawa tentara itu ke kota bukan Kahar tetapi anggot adari gerakan DI/TII,” kata Syamsuddin yakin.


Tak ada kata menyerah, pada awalnya suasana hotel itu biasa-biasa saja. Sejumlah tamu kelihatannya ngobrol di ruangan-ruangan khusus. Ada juga sambil berdiri kelihatannya serius membicarakan sesuatu. Menjelang sore suasana berubah. Tiga mobil sedan tiba-tiba berhenti di depan hotel. Seketiak sekitar orang turun dari mobil mewah itu. Tampak seorang lelaki tua berjenggot putih. Lelaki tua yang memakai surban itu langsung digiringi masuk kesebuah ruangan khusus hotel. Temanya yang lain mengikutinya Sekitar 10 menit kemudian puluhan orang datang karena mereka belum tahu diman tempat kamar sang lelaki tua berjenggot putih itu, merekapun menanyakan ke karyawan hotel. Siapa sang lelaki tua. Pertanyaan itu berkecamuk dalam diri sejumlah tamu yang menginap di hotel saat itu. “ lelaki tua berjenggot itu adalah Kahar Muzakkar”,jawabannya sambil berlalu berusaha menembus kerumunan orang. “waktu itu saya mengikuti kuliah keja nyata di sebuah desa Palopo.


Desa itu ternya ta pernah menjadi basis perjuangan DI/TII yang digerakkan Kahar Muzakkar. Pembuktian sisa-sisa peninggalan perjuangan islam radikal itu masih dapat dijumpai. Bahkan sejumlah warga di situ mengaku keluarga dekat dengan Kahar yang dulu dikenal dengan nama panggilan La Domeng. Katanya, nama melekat lantaran Kahar sangat senang dengan bermain domino. Sebagia desa itu meyakini kalu Kahar masih hidup dan kini berada di Malaysia.Sekitar satu jam Kahar berceramah dan tukar pikiran. Mereka yang datang sebagian besar teman seperjuangannya, juga sejumlah genersi muda yang mengaku sangat simpati dengan perjuangan Kahar yang menginginkan negara ini berideologi Islam.


Refleksi sepenggal masih hidupnya Kahar Muzakkar, sebanyak 200 angket yang disebar, ternyata 75 persen dari jumlah itu meyakini kalu Kahar Muzakkar masih hidup. Hanya saja model perjuangannya sudah berubah. Dia lebih mementingkan menyuarakan penegakan hokum Allah SWT dengan suara Tasawuf dan sufi daripada langkah-langkah radiaklisme gaya perjuangan DI/TII di hutan. Mungkin kuat Kahar Muzakkar sudah meninggal tetapi tidak menutup kemungkinan dia juga masih hidup simpulan itu mencuat lantaran adanya sejumlah catatan sejarah yang mengarah ke uda pilihan tersebut.


Pertama Kahar Muzakkar sudah meninggal. Alasanyya pihak pemerintah soekarno bersama TNI telah mengumumkan Kahar Muzakkar meninggal terkena peluru di pinggir sungai Lasolo, Kolaka, Sulawesi Tenggara pada 2 februari 1965. Peristiwa pengepungan itu dilakukan oleh personil operasi kilat dibawah perintah panglima Kodam XIV, brigjen TNI M. Jusuf. Pejuang islam kelahiran Kabupaten Luwu itu di tembak oleh seorang perajurit, kopral Sadeli dari kesatuan siliwangi. Atas perintah M. Jusuf, sang mayat dinaikkan ke helicopter milik tentara lalu dibawa ke ruamh sakit pelamonia Makassar. Ada juga informasi, mayat yang disebut-sebut Kahar Muzakkar itu sempat di perlihatkan kepada presiden Soekarno di Jakarta lantara sang Presiden ingin sekali melihat mayat Kahar Muzakkar. Begitulah catatan sejarah yang lahir dari versi pemerintah.


Kedua, Kahar Muzakkar masih hidup alasannya, sejak dinyatakan telah meninggal pada 1965 oleh pemerintah ternyata hingga kini tahun 2001 belum pernah ada satu orang pun melihat kuburan Kahar Muzakkar. Bahkan saat dinyatakan telah tertembak , Hj Corry van Stevanus isteri Kahar Muzakkar yang sangat setia mendampingi suaminya di hutan belantara berlangsung melihat langsung mayat Kahar Muzakkar, tidak diizinkan oleh M. Jusuf. Juga orang-orang dekat setia Kahar Muzakkar ketika berjuang dalam gerakan DI/TII tidak ada yang mengaku pernah melihat mayat Kahar Muzakkar.


Mungkin karena itu seorang anak kandung Kahar Muzakkar yaitu Titiek kini tinggal di Jakarta tidak percaya ayahnya sudah meninggal dunia. Begitu juga dengan KH. Sulaiman Habib Mufti besar Republik Persatuan islam Indonesia dan teman seperjuangan Kahar Muzakkar hingga kini ia tetap yakin Kahar Muzakkar masih hidup bahkan kiai Kharismatik ini pernah mendatangi Corry van Stevanus di Jakarta. Dia menyampaikan kalau suami ibu Corry masih Hidup. Cerita lain muncul berkaitan dengan peristiwa penembakan di pinggir Sungai Lasolo. Katany ayang tertembak saat itu bukan Kahar Muzakkar, tapi seorang anggota DI/TII yang mirip wajah Kahar Muzakkar. Strategi itu sudah diatur oleh M. Jusuf dengan Kahar Muzakkar dalam pertemuan Khususnya di Bone Pute, sebelum penyerbuan Operasi Kilat digelar di salah satu markas DI/TII di Sulawesi Tenggara, Tepatnya di Kolaka.


Timbulnya Gerakan DI/TII Daud Beureueh

Pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai dengan “Proklamasi” Daud Beureueh bahwa Aceh merupakan bagian “Negara Islam Indonesia” di bawah pimpinan Imam Kartosuwirjo pada tanggal 20 September1953.
Daued Beureueh pernah memegang jabatan sebagai “Gubernur Militer Daerah Istimewa Aceh” sewaktu agresi militer pertama Belanda pada pertengahan tahun 1947. Sebagai Gubernur Militer ia berkuasa penuh atas pertahanan daerah Aceh dan menguasai seluruh aparat pemerintahan baik sipil maupun militer. Sebagai seorang tokoh ulama dan bekas Gubernur Militer, Daud Beureuh tidak sulit memperoleh pengikut. Daud Beureuh juga berhasil memengaruhi pejabat-pejabat Pemerintah Aceh, khususnya di daerah Pidie. Untuk beberapa waktu lamanya Daud Beureuh dan pengikut-pengikutnya dapat mengusai sebagian besar daerah Aceh termasuk sejumlah kota.


Sesudah bantuan datang dari Sumatera Utara dan Sumatera Tengah, operasi pemulihan keamanan ABRI ( TNI-POLRI ) segera dimulai. Setelah didesak dari kota-kota besar, Daud Beureuh meneruskan perlawanannya di hutan-hutan. Penyelesaian terakhir Pemberontakan Daud Beureuh ini dilakukan dengan suatu ” Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh” pada bulan Desember 1962 atas prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel Jendral Makarawong.


Timbulnya Gerakan DI/TII Ibnu Hadjar

Pada bulan Oktober 1950 DI/ TII juga tercatat melakukan pemberontakan di Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh Ibnu Hadjar. Para pemberontak melakukan pengacauan dengan menyerang pos-pos kesatuan ABRI (TNI-POLRI). Dalam menghadapi gerombolan DI/TII tersebut pemerintah pada mulanya melakukan pendekatan kepada Ibnu Hadjar dengan diberi kesempatan untuk menyerah, dan akan diterima menjadi anggota ABRI. Ibnu Hadjar sempat menyerah, akan tetapi setelah menyerah dia kembali melarikan diri dan melakukan pemberontakan lagi sehingga pemerintah akhirnya menugaskan pasukan ABRI (TNI-POLRI) untuk menangkap Ibnu Hadjar. Pada akhir tahun 1959 Ibnu Hadjar beserta seluruh anggota gerombolannya tertangkap dan dihukum mati.


Timbulnya Gerakan DI/TII Amir Fatah

Amir Fatah merupakan tokoh yang membidani lahirnya DI/TII Jawa Tengah. Semula ia bersikap setia pada RI, namun kemudian sikapnya berubah dengan mendukung Gerakan DI/TII. Perubahan sikap tersebut disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, terdapat persamaan ideologi antara Amir Fatah dengan S.M. Kartosuwirjo, yaitu keduanya menjadi pendukung setia Ideologi Islam. Kedua, Amir Fatah dan para pendukungnya menganggap bahwa aparatur Pemerintah RI dan TNI yang bertugas di daerah Tegal-Brebes telah terpengaruh oleh “orang-orang Kiri”, dan mengganggu perjuangan umat Islam. Ketiga, adanya pengaruh “orang-orang Kiri” tersebut, Pemerintah RI dan TNI tidak menghargai perjuangan Amir Fatah dan para pendukungnya selama itu di daerah Tegal-Brebes. Bahkan kekuasaan yang telah dibinanya sebelum Agresi Militer II, harus diserahkan kepda TNI di bawah Wongsoatmojo. Keempat, adanya perintah penangkapan dirinya oleh Mayor Wongsoatmojo. Hingga kini Amir Fatah dinilai sebagai pembelot baik oleh negara RI maupun umat muslim Indonesia.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Nilai-Nilai Pancasila” Karakteristik Yang Terkandung Didalamnya


Penangkapan DI/TII Pusat

Sebelumnya perlu diketahui bahwa penumpasan DI dilakukan oleh TNI dari Divisi Siliwangi. Sebenarnya berkaitan dengan Gerakan Darul Islam yang kemunculannya bersamaan dengan agresi Militer II, TNI sendiri memiliki rencana tertentu untuk menghadapi agresi militer Belanda II. Dimana TNI menyusun rencana umum yang terkenal dengan nama Perintah Siasat No.1 atau instruksi Panglima Besar pada November 1948 yang telah mendapat pengesahan dari Pemerintah RI. Rencana ini didasarkan atas peraturan pemerintah No. 33 tahun 1948 dan peraturan pemerintahan No 70 tahun 1948. Gerakan TNI atas perintah ini lebih dikenal dengan sebutan Wingate TNI.


Berkaitan dengan hal itu, Divisi Siliwangi juga memulai gerakan Wingate-nya, pada tanggal 19 Desember 1948, setelah mendengar Perintah kilat dari Panglima Besar Sudirman yang merupakan perintah bergerak menyusun Wehrkreise-wehkreise di tempat-tempat dalam perintah Siasat No.1, seperti telah disinggung di muka yang antara lain, mengatur :

  1. Cara perlawanan, ialah bahwa kita tidak lagi akan melakukan pertahanan liniar
  2. Melakukan siasat /politik bumihangus
  3. Melakukan pengungsian atas dasar politik non-kooperasi.
  4. Pembentukan Wehkreise-wehkreise.

Perintah kilat ini disambut dengan gembira oleh anak-anak Siliwangi yang bagaimanapun juga sudah sangat merindukan kampung halaman mereka di Jawa Barat. Letnan Kolonial Daan Yahya, Kepala Staf Divisi segera pergi ke Istana untuk melaporkan, bahwa Siliwangi akan memulai gerakan kembali ke Jawa Barat sebagaimana yang telah ditentukan dalam perintah siasat No.1.


Kemudian, TNI, Divisi Siliwangi, memulai long march-nya berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Barat. Hal ini kemudian dianggap oleh pihak Kartosuwirjo sebagai ancaman bagi kelangsungan dan cita-cita Kartosuwirjo untuk membentuk Negara Islam. Maka dari itu Pasukan tersebut harus dihancurkan agar tidak memasuki daerah Jawa Barat. Pada tanggal 25 Januari 1949 terjadi kontak senjata utuk pertama kalinya antara pihak TNI, Divisi Siliwangi dan Tentara Islam Indonesia. Bahkan pada akhirnya terjadi perang segitiga antara DI/TII-TNI-Tentara Belanda.


Pemimpin Masyumi sendiri Moh. Natsir, yang menjadi menteri penerangan dalam Kabinet Hatta pada tanggal 29 Januari sampai awal agustus 1949, berusaha menghubungi Kartosuwirjo melalui sepucuk surat pada tanggal 5 Agustus 1949. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mencegah timbulnya keadaan yang semakin buruk. Dikarenakan kemelut ini mengakibatkan penderitaan bagi rakyat Jawa Barat. Bahkan banyak orang-orang tak berdosa tewas pada pertikaian ini. Moh. Natsir juga kemudian membentuk sebuah komite yang dipimpin oleh dirinya sendiri di bulan September 1949, sebagai upaya kedua untuk mengatasi hal ini. Namus sekali lagi ia gagal.


Operasi militer untuk menumpas gerakan DI/TII dimulai pada tanggal 27 Agustus 1949. Operasi ini  menggunakan taktik “Pagar Betis” yang dilakukan dengan menggunakan tenaga rakyat berjumlah ratusan ribu untuk mengepung gunung tempat gerombolan bersembunyi. Taktik ini bertujuan untuk mempersempit ruang gerak mereka. Selain itu, juga dilakukan operasi Tempur Bharatayudha dengan sasaran menuju basis pertahanan mereka. Walaupun demikian, operasi penumpasan ini memakan waktu yang cukup lama. Baru pada tanggal 4 Juni 1962, Kartosuwirjo terkurung dan berhasil ditangkap di Gunung Geber di daerah Majalaya oleh pasukan Siliwangi. Yang kemudian selanjutnya ia diberi hukuman mati.