Pengertian Rayap Dalam Kehidupan

Diposting pada

Pengertian-Rayap-Dalam-Kehidupan

Pengertian Rayap

Rayap adalah serangga sosial anggota bangsa Isoptera yang dikenal luas sebagai hama pengganggu dalam kehidupan manusia. Rayap bersarang didalam tanah dan memakan kayu perabotan atau kerangka rumah sehingga menimbulkan banyak kerugian secara ekonomi. Rayap masih berkerabat dengan semut, yang juga serangga sosial. Dalam bahasa Inggris, rayap disebut juga “semut putih” (white ant) karena kemiripan perilakunya.


Sebutan rayap sebetulnya mengacu pada hewannya secara umum, padahal terdapat beberapa bentuk berbeda yang dikenal, sebagaimana pada koloni semut atau lebah sosial. Dalam koloni, rayap tidak memiliki sayap. Namun demikian, beberapa rayap dapat mencapai bentuk bersayap yang akan keluar dari sarangnya secara berbondong-bondong pada awal musim penghujan (sehingga seringkali menjadi pertanda perubahan ke musim penghujan) di petang hari dan beterbangan mendekati cahaya. Bentuk ini dikenal sebagai laron atau anai-anai.


Rayap adalah detrivores (pengkonsumsi material organik yang membusuk), khususnya di daerah subtropis dan tropis, dan kemampuan mereka mendaur ulang kayu dan bahan tanaman lain adalah hal yang penting bagi keseimbangan ekologi. Sebagai serangga sosial, rayap hidup dalam bentuk koloni. Sebuah koloni dewasa dapat beranggotakan ratusan hingga jutaan individual. Kehadiran rayap di bangunan adalah sebagai konsekuensi dari pembukaan lahan yang pada awalnya adalah habitat mereka untuk mencari makan, kemudian diubah menjadi bangunan pemukiman yang berakibat hilangnya sumber makanan bagi rayap. Namun tidak mutlak keberadaan rayap selalu merugikan manusaia, ada beberapa peranan penting rayap yang sangat menguntungkan sebagai siklus biogoechemical dalam ekosistem. Untuk itu, seyogyanya kita lebih bijak dalam melakukan pengendalian rayap dengan memilih pengendalian yang ramah lingkungan.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Serangga Beserta Jenis, Contoh Dan Gambarnya


Taksonomi Rayap

Rayap merupakan salah satu ordo dari 30 ordo yang tergabung dalam kelas Hexapoda dari filum Arthropoda, yaitu organisme yang memiliki anggota tubuh bersegmen. Rayap adalah serangga satu-satunya yang berada dalam ordo isoptera. Ordo ini berasal dari kata “iso: sama” dan “ptera: sayap” artinya serangga yang memiliki sayap yang sama, baik dilihat dari ukuran dan bentuk pada kedua pasang sayapnya, yaitu sayap anterior dan sayap posterior (Astuti, 2013).


  • Asal Isoptera

Rayap merupakan serangga neoptera terresterial yang paling primitif. Rayap bersama dengan Blattodea (kecoa) dan Mantodea (mantid) sering dikelompokkan dalam Dictyoptera. Studi filogenetik terbaru telah menyarankan mantid sebagai cabang terlama dari Dictyoptera, meninggalkan kecoa dan rayap sebagai kerabat. Kecoa yang paling primitif (Cryptocercidae) terkait erat dengan rayap karena memakan kayu, hidup dalam sistem terowongan di dalam log, memiliki flagelata simbiosis dalam usus belakang, dan hidup dalam kelompok famili sub-sosial yang kecil dimana 11 induk berbagi liang dengan satu keturunan induk dengan cairan proctodeal sebagai makanan.


Rayap paling primitif (Famili Mastotermitidae) hanya diwakili oleh satu spesies yaitu Mastotermes darwiniensis, yang merupakan spesies Australia Tropis dengan lokasi temuan terbaru di Gold Coast, Queensland. Rayap ini sangat mirip dengan kecoa, yaitu rayap yang masih meletakkan telur di ootheca. Rayap ini memiliki tarsi bersegmen lima dan lobus anal di sayap belakang, seperti kecoa.


Karena kesamaan ini, diusulkan bahwa rayap berevolusi serangga sosial. Meskipun demikian, rayap tidak memiliki gambaran khas dari kebanyakan kecoa, yaitu tubuh pipih yang lebar dengan pronotum meluas sepanjang kepala sebagai perisai, sayap depan pendek dan tebal yang sedikit terproyeksikan keluar ujung abdomen, dan kaki sangat berduri. Oleh karena itu, rayap secara morfologi terlihat lebih sederhana dan lebih primitif daripada kecoa. Kecoa berkembang dengan bentuk tubuh lebih kuat yang sesuai untuk gaya hidup sebagai pemakan sisa makhluk hidup yang telah mati (detrivorous); sedangkan rayap sesuai untuk hidup dalam terowongan di dalam kayu atau substrat tanah dan mengembangkan integrasi keluarga dengan tingkatan yang lebih maju (Astuti, 2013).


  • Posisi Isoptera dalam Dictyoptera (Insekta)

Hubungan antar ordo yang terdapat dalam kelas insekta yang direkonstruksi oleh beragam peneliti dalam bentuk pohon filogeni masih 12 bersifat kontroversial. Meskipun saat ini bukti memberatkan menunjukkan bahwa rayap (termites) tersarang dalam kecoa (cockroach), sehingga membuat “Blattaria” merupakan parafiletik. Posisi tepat rayap dalam kecoa tidak pasti, meskipun Cryptocerus adalah kelompok kerabat yang paling masuk akal (Astuti, 2013).


Beberapa pohon filogeni yang menggambarkan hubungan ordo isoptera dengan ordo lain dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Posisi Isoptera dalam Dictyoptera (Insekta)

Filogeni dictyoptera: angka setelah nama cockroach mengindikasikan clade cockroach terpisah (tidak spesifik)


  • Hubungan Famili dalam Ordo Isoptera

Rayap yang termasuk kelompok serangga dari ordo Isoptera memiliki keragaman jenis dalam ekosistem yang cukup tinggi. Di dunia, jumlah rayap yang telah dideskripsikan mencapai 2.750 spesies yang tercakup dalam 281 genera dan 7 famili, yaitu Mastotermitidae hanya hanya spesies: Mastotermes darwiniensis, Hodotermitidae, Termopsidae, Kalotermitidae, Rhinotermitidae, Serritermitidae, and Termitidae (Astuti, 2013).


Di Indonesia telah ditemukan sekitar 10% dari total rayap dunia, yang mencakup 3 famili yaitu Kalotermitidae, Rhinotermitidae dan Termitidae, 6 subfamili dan 14 genus; dan di antaranya terdapat sekitar lima persen yang bersifat merugikan bagi manusia. Sejumlah peneliti merekonstruksi filogeni hubungan antara ketujuh famili tersebut berdasarkan data subset karakter, seperti morfologi umum, mandibel imago-pekerja, dan usus pekerja. Hubungan antar famili dalam ordo Isoptera lebih mudah terselesaikan dalam rekontruksi filogeni.


Umumnya, Mastotermitidae diterima sebagai kelompok rayap paling dasar. Termopsidae, Hodotermitidae dan Kalotermitidae adalah dasar bagi ketiga famili lainnya, yaitu Termitidae, Serritermitidae dan Rhinotermitidae; meskipun posisi kekerabatannya dalam bagian tersebut dari pohon filogeni masih dipertentangkan. Kebanyakan hasil penelitian mendukung hubungan Serritermitidae, Termitidae dan Rhinotermitidae sebagai satu kelompok kerabat. Meskipun demikian, tidak ada penelitian yang belum menemukan secara jelas monofiletik Rhinotermitidae. Termitidae mapan sebagai monofiletik dan sebagai famili rayap paling ujung dalam pohon filogeni. Namun, dalam famili Termitidae monofilik dari subfamili tidak ada yang mapan, sehingga membuat analisis pada level subfamili tidak terandalkan (Astuti, 2013). Sejumlah pohon filogeni yang menggambarkan hubungan antar famili dalam ordo Isoptera disajikan pada gambar berikut ini :

Hubungan Famili dalam Ordo Isoptera

Filogeni tingkat famili pada rayap: (a) Donovan, (b) Thompson, (c) Kambhampati, (d) Majority rule consensus


  • Rayap Genus Coptotermes

Coptotermes adalah genus tunggal dalam subfamili Coptotermitinae yang merupakan subfamili paling primitif dari famili Rhinotermitidae. Rayap ini tersebar luas di daerah tropis dan telah diintroduksi oleh manusia ke seluruh dunia. Semua spesies Coptotermes mengkonsumsi kayu dan menjadi hama strukturaldan bangunan yang penting secara ekonomis. Genus ini memiliki jumlah spesies yang paling banyak menimbulkan kerusakan di antara genera rayap lainnya, yaitu 28 spesies, yang diikuti secara berurutan oleh genus Odontotermes (16 spesies), Microtermes (15 spesies), Reticulitermes (11 spesies), dan Heterotermes (10 spesies).


Pada proses pencernaan makanannya, sebagaimana halnya semua anggota koloni rayap lainnya, rayap Coptotermes dibantu oleh mikrofauna protozoa flagellata yang berada di usus belakangnya yaitu Pseudotrichonympha grasii Koidzumi, Holomastigotoides hatmanni Koidzumi, dan Spirotrichonympha leidyi Koidzumi, dengan kemampuan mendekomposisi selulosa yang berbeda tergantung pada derajat polimerisasi (PD) selulosa yang dijadikan sebagai sumber makanan. Penelitian tentang jalur degradasi selulosa oleh protozoa menunjukkan bahwa protozoa memfermentasi selulosa menjadi asetat, karbondioksida dan hidrogen, selanjutnya rayap akan mengabsorpsi asetat sebagai sumber energi (Astuti, 2013).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Ragam Ordo Serangga – Pengertian, Klasifikasi, Sejarah, Kemampuan, Biologi, Metamorfosis, Morfologi, Peran, Makanan


Klasifikasi Rayap

Secara klasik, rayap dibagi atas dua kelompok, yaitu rayap tingkat rendah yang mencakup semua famili kecuali Termitidae; dan rayap tingkat tinggi yang semua anggotanya dari Termitidae, yang mencapai sekitar 75% dari total semua spesies rayap. Rayap tingkat rendah dicirikan oleh adanya protozoa simbiotik pada usus belakangnya, yang membantu mencerna selulosa; sebaliknya pada rayap tingkat tinggi tidak memiliki protozoa. Ahli protozoa dan serangga telah menemukan genera dan spesies khusus dari flagellata oxymonad, trichomonad, dan hypermastigote yang terbatas pada empat famili dari rayap tingkat rendah, yaitu Mastotermitidae, Hodotermitidae, Kalotermitidae, dan Rhinotermitidae.


Flagellata tersebut mencerna partikel kayu yang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup rayap; dan antara keduanya membentuk hubungan simbiosis mutualisme sejati. Dalam literatur lain disebutkan bahwa pada rayap tingkat rendah selain protozoa juga terdapat bakteri yang bersimbiosis di saluran pencernaannya, sedangkan pada rayap tingkat tinggi hanya terdapat bakteri. Rayap juga dapat dikelompokkan berdasarkan preferensi makan.


Pengelompokan ini menggambarkan kesukaan makan yang berhubungan dengan gradien humifikasi dari substrat yang digunakan rayap, dan variasi jumlah fragmen jaringan tanaman (dari hancuran bahan organik) dan silika (dari bahan induk tanah) pada usus. Pengelompokan yang dikenal sebagai “Donovan’s feeding group” ini terbagi atas empat, yaitu (Astuti, 2013) :


  • Group I: kelompok ini memakan kayu mati dan rumput, serta memiliki usus yang relatif sederhana. Kelompok ini diwakili oleh semua rayap tingkat rendah (Mastotermitidae, Kalotermitidae, Rhinotermitidae, dan Serritermitidae). Hampir semua rayap pemakan kayu (wood-feeders), 17 kecuali Hodotermitidae yang juga termasuk pemakan rumput (grassfeeders) (Astuti, 2013).


  • Group II: kelompok ini memakan kayu, rumput, serasah daun, dan mikroepifit, serta memiliki usus yang lebih kompleks. Kelompok ini diwakili oleh beberapa spesies Termitidae, yang mencakup rayap pemakan kayu, pemakan rumput, pemakan serasah (litter-feeders), pemakan mikroepifit (microepiphyte feeders). Macrotermitinae penumbuh jamur juga termasuk di dalamnya, meskipun dapat juga ditempatkan sebagai kelompok yang terpisah, yaitu group II–fungus (Astuti, 2013).


  • Group III: kelompok ini memakan humus, yaitu material seperti tanah yang mengandung bahan tumbuhan yang masih dapat dikenali di dalamnya. Kelompok ini mencakup spesies Termitidae yang memakan kayu yang mengalami pelapukan hebat yang dicirikan oleh hilangnya struktur serta menjadi terpisah-pisah dan menyerupai tanah; dan juga memakan tanah dengan kandungan bahan organik tinggi. Rayap ini dapat dipertimbangkan sebagai organic-rich-soil-feeders atau humusfeeders, atau soil/wood interface feeders (Astuti, 2013).


  • Group IV: kelompok ini memakan tanah, yaitu material seperti tanah yang mengandung proporsi tinggi silika dan bahan tumbuhan yang sudah tidak dapat dikenali. Kelompok ini mencakup spesies Termitidae yang memakan tanah dengan kandungan bahan organik rendah, yang dianggap sebagai true-soil-feeders (Astuti, 2013).


Dalam sistem taksonomi, rayap Coptotermes yang merupakan salah satu genus dari famili Rhinotermitidae memiliki sistematika sebagai berikut (Astuti, 2013) :

Kingdom : Animalia
Filum        : Arthropoda
Kelas         : Insecta (Hexapoda)
Ordo          : Isoptera
Famili       : Rhinotermitidae
Subfamili : Coptoterminae
Genus       : Coptotermes
Spesies      : Coptotermes havilandi Holmgren


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Proses Metamorfosis Serangga – Pengertian, Ciri, Jenis, Sempurna, Tidak Sempurna, Hemimetabola


Jenis Rayap

Berdasarkan lokasi sarang utama atau tempat tinggalnya, rayap perusak kayu dapat digolongkan dalam tipe-tipe berikut :

1. Rayap pohon

Rayap pohon

yaitu jenis-jenis rayap yang menyerang pohon yang masih hidup, bersarang dalam pohon dan tak berhubungan dengan tanah. Contoh yang khas dari rayap ini adalah Neotermes tectonae (famili Kalotermitidae), hama pohon jati.


2. Rayap kayu lembab

Rayap kayu lembab

menyerang kayu mati dan lembab, bersarang dalam kayu, tak berhubungan dengan tanah. Contoh: Jenis-jenis rayap dari genus Glyptotermes (Glyptotermes spp., famili Kalotermitidae).


3. Rayap kayu kering

Rayap kayu kering

seperti Cryptotermes spp. (famili Kalo­termitidae), hidup dalam kayu mati yang telah kering. Hama ini umum terdapat di rumah-rumah dan perabot-perabot seperti meja, kursi dsb.Tanda serangannya adalah terdapatnya butir-butir ekskremen kecil berwarna kecoklatan yang sering berjatuhan di lantai atau di sekitar kayu yang diserang.Rayap ini juga tidak berhubungan dengan tanah, karena habitatnya kering.


4. Rayap subteran

Rayap subteran

yang umumnya hidup di dalam tanah yang mengandung banyak bahan kayu yang telah mati atau membusuk, tunggak pohon baik yang telah mati maupun masih hidup. Di Indonesia rayap subteran yang paling banyak merusak adalah jenis-jenis dari famili Rhinotermitidae.Terutama dari genus Coptotermes (Coptotermes spp.) dan Schedorhinotermes.


Perilaku rayap ini mirip rayap tanah seperti Macrotermes namun perbedaan utama adalah kemampuan Coptotermes untuk bersarang di dalam kayu yang diserangnya, walaupun tidak ada hubungan dengan tanah, asal saja sarang tersebut sekali-sekali memperoleh lembab, misalnya tetesan air hujan dari atap bangunan yang bocor. Coptotermes pernah diamati menyerang bagian-bagian kayu dari kapal minyak yang melayani pelayaran Palembang-Jakarta.Coptotermes curvignathus Holmgren sering kali diamati menyerang pohon Pinus merkusii dan banyak meyebabkan kerugian pada bangunan.


5. Rayap tanah

Rayap tanah

Jenis-jenis rayap tanah di Indonesia adalah dari famili Termitidae. Mereka bersarang dalam tanah terutama dekat pada bahan organik yang mengandung selulosa seperti kayu, serasah dan humus. Contoh-contoh Termitidae yang paling umum menyerang bangunan adalah Macrotermes spp. (terutama M. gilvus) Odontotermes spp. dan Microtermes spp.


Jenis-jenis rayap ini sangat ganas, dapat menyerang obyek-obyek berjarak sampai 200 meter dari sarangnya. Untuk mencapai kayu sasarannya mereka bahkan dapat menembus tembok yang tebalnya beberapa cm, dengan bantuan enzim yang dikeluarkan dari mulutnya.Macrotermes dan Odontotermes merupakan rayap subteran yang sangat umum menyerang bangunan di Jakarta dan sekitarnya.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 100 Ciri-Ciri Insecta (Serangga) dan Klasifikasinya Terlengkap


Peranan Rayap Dalam Kehidupan

Keberadaan koloni rayap tidak mutlak selalu merugikan bagi kehidupan manusia. Beberapa peranan rayap bila ditinjau secara keseluruhan dari keberadaannya dimuka bumi, antara lain :

  • Sarang Rayap Bisa Menguak Lokasi Tambang Emas
    Dalam hal ini ternyata hewan satu ini dapat menemukan lokasi tambang emas, bahkan saking kayanya , sarang hewan kecil itu ada yang mengandung serbuk logam mulai tersebut. Para peneliti menemukan sarang rayap itu mengandung kosentrasi emas tinggi, lima hingga enam kali lebih tinggi dari pada konsentrasi yang ditemukan lebih dari 16 meter dari gundukan.Rayap dapat masuk sampai jauh ke dalam tanah, dalam hal ini kemampuan ini tergantung dari jenis rayap. Rayap sangat suka terhadap lokasi-lokasi yang mengandung logam, terutama logam mulia (emas). Logam ini akan dikeluarkan kembali oleh rayap.

  • Sarang rayap tidak hanya sekadar tempat tinggal, akan tetapi juga sangat membantu ekosistem di sekitarnya untuk bertahan dalam masa kekeringan. Rayap membangun sarang dengan menggali lubang serupa pori-pori kecil di tanh. Akibatnya, air meresap lebih jauh ke dalam tanah sehingga tidak menguap. Para peneliti dari Universitas Princeton, Amerika Serikat menyatakan sarang rayap ibarat oasis di padang gurun. Corina Tarnita, peneliti dan asisten profesor ekologi dan biologi evolusi di Princeton University, mengatakan proses penggurunan tidak terlalu mempengaruhi habitat di sekitar sarang rayap.Manfaat dan peranan lain dari rayap untuk kehidupan manusia ialah 95% dari jenis rayap yang ada di Indonesia justru sangat bersahabat dengan manusia. Mereka ini ialah jenis rayap yang makanannya kayu lapuk. Pohon yang sudah mati ini dimakan rayap, kemudian diubah menjadi zat hara tanah yang dapat menyuburkan. Begitu juga daun tidak dapat membusuk, tanah menjadi miskin unsur hara karena tidak ada yang kembali ke tanah.


  • Keberadaan koloni rayap berperan penting dalam siklus biogeochemical (dekomposer bahan organik) seperti siklus Nitrogen, Karbon, Sulfur, Oksigen, dan Fosfor.


  • Keberadaan koloni rayap disuatu daerah mampu memengaruhi bentuk vegetasi yang tumbuh dan berkembang di sekitar koloni itu dengan altivitas dari rayap tersebut melalui modifikasi profil dan sifat kimia tanah.


  • Di daerah Gurun Afrika Selatan, rayap Hodotermes berperan dalam proses siklus nutrisi tanah. Aktivitas rayap membawa air ke daerah yang ditumbuhi tanaman sangat menguntungkan karena ketersediaan air pada tanaman menjadi lebih banyak.


  • Di daerah berpasir, rayap mampu meningkatkan infiltrasi air dan mengembalikannya ke bagian atas tanah.


  • Mengakibatkan kerusakan pada bangunan, seperti: perumahan, perkantoran, gedung olahraga dan lain sebagainya. Selain itu rayap juga dapat merusak tanaman, buku, arsip ataupun dokumen lainnya karena mereka dapat mencerna atau menguraikan selulosa.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Metamorfosis Serangga Dan Amfibi Terlengkap


Kasta Rayap

Koloni rayap yang merupakan jenis serangga sosial terbagi atas tiga kasta yang memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda. Ketiga kasta tersebut adalah kasta reproduksi, kasta prajurit, dan kasta pekerja. Tidak kurang daro 80-90% populasi koloni rayap merupakan kasta pekerja. Penjelasan dari kasta-kasta tersebut adalah sebagai berikut:


  • Kasta reproduktif

Pada kasta ini terdiri atas individu-individu seksual yaitu betina (yang abdomennya biasanya sangat membesar) yang tugasnya bertelur dan jantan (raja) yang tugasnya membuahi betina. Raja sebenarnya tak sepenting ratu jika dibandingkan dengan lamanya ia bertugas karena dengan sekali kawin, betina dapat menghasikan ribuan telur; lagipula sperma dapat disimpan oleh betina dalam kantong khusus untuk itu, sehingga mungkin sekali tak diperlukan kopulasi berulang-ulang.


Jika koloni rayap masih relatif muda biasanya kasta reproduktif berukuran besar sehingga disebut ratu. Biasanya ratu dan raja adalah individu pertama pendiri koloni, yaitu sepasang laron yang mulai menjalin kehidupan bersama sejak penerbangan alata. Pasangan ini disebut reprodukif primer. Jika mereka mati bukan berarti koloni rayap akan berhenti bertumbuh. Koloni akan membentuk “ratu” atau “raja” baru dari individu lain (biasanya dari kasta pekerja) tetapi ukuran abdomen ratu baru tak akan sangat membesar seperti ratu asli. Ratu dan raja baru ini disebut reproduktif suplementer atau neoten.


Jadi, dengan membunuh ratu atau raja kita tak perlu sesumbar bahwa koloni rayap akan punah. Bahkan dengan matinya ratu, diduga dapat terbentuk berpuluh-puluh neoten yang menggantikan tugasnya untuk bertelur. Dengan adanya banyak neoten maka jika terjadi bencana yang mengakibatkan sarang rayap terpecah-pecah, maka setiap pecahan sarang dapat membentuk koloni baru.


  • Kasta prajurit

Kasta ini ditandai dengan bentuk tubuh yang kekar karena penebalan (sklerotisasi) kulitnya agar mampu melawan musuh dalam rangka tugasnya mempertahankan kelangsungan hidup koloninya. Mereka berjalan hilir mudik di antara para pekerja yang sibuk mencari dan mengangkut makanan.


Setiap ada gangguan dapat diteruskan melalui “suara” tertentu sehingga prajurit-prajurit bergegas menuju ke sumber gangguan dan berusaha mengatasinya. Jika terowongan kembara diganggu sehingga terbuka tidak jarang kita saksikan pekerja-pekerja diserang oleh semut sedangkan para prajurit sibuk bertempur melawan semut-semut, walaupun mereka umumnya kalah karena semut lebih lincah bergerak dan menyerang.


Tapi karena prajurit rayap biasanya dilengkapi dengan mandibel (rahang) yang berbentuk gunting maka sekali mandibel menjepit musuhnya, biasanya gigitan tidak akan terlepas walaupun prajurit rayap akhirnya mati. Mandibel bertipe gunting (yang bentuknya juga bermacam-macam) umum terdapat di antara rayap famili Termitidae, kecuali pada Nasutitermes ukuran mandibelnya tidak mencolok tetapi memiliki nasut (yang berarti hidung, dan penampilannya seperti “tusuk”) sebagai alat penyemprot racun bagi musuhnya.


Prajurit Cryptotermes memiliki kepala yang berbentuk kepala bulldogtugasnya hanya menyumbat semua lobang dalam sarang yang potensial dapat dimasuki musuh. Semua musuh yang mencapai lobang masuk sulit untuk luput dari gigitan mandibelnya. Pada beberapa jenis rayap dari famili Termitidae seperti Macrotermes, Odontotermes, Microtermes dan Hospitalitermes terdapat prajurit dimorf (dua bentuk) yaitu prajurit besar (p. makro) dan prajurit kecil (p. mikro)


  • Kasta pekerja

Kasta ini membentuk sebagian besar koloni rayap. Tidak kurang dari 80 persen populasi dalam koloni merupakan individu-individu pekerja. Tugasnya melulu hanya bekerja tanpa berhenti hilir mudik di dalam liang-liang kembara dalam rangka mencari makanan dan mengangkutnya ke sarang, membuat terowongan-terowongan, menyuapi dan membersihkan reproduktif dan prajurit, membersihkan telur-telur, dan — membunuh serta memakan rayap-rayap yang tidak produktif lagi (karena sakit, sudah tua atau juga mungkin karena malas), baik reproduktif, prajurit maupun kasta pekerja sendiri.


Dari kenyataan ini maka para pakar rayap sejak abad ke-19 telah mempostulatkan bahwa sebenarnya kasta pekerjalah yang menjadi “raja”, yang memerintah dan mengatur semua tatanan dan aturan dalam sarang rayap. Sifat kanibal terutama menonjol pada keadaan yang sulit misalnya kekurangan air dan makanan, sehingga hanya individu yang kuat saja yang dipertahankan. Kanibalisme berfungsi untuk mempertahankan prinsip efisiensi dan konservasi energi, dan berperan dalam pengaturan homeostatika (keseimbangan kehidupan) koloni rayap.
Feromon penanda jejak dan pendeteksi makanan.


Telah merupakan suatu diktum bahwa rayap (pekerja dan prajurit) itu buta. Mereka jalan beriiringan atau dapat menemukan obyek makanan bukan karena mereka mampu melihat atau mencium bau melalui “hidung”. Kemampuan mende­eksi dimungkinkan karena mereka dapat menerima dan menafsirkan setiap bau yang esensial bagi kehidupannya melalui lobang-lobang tertentu yang terdapat pada rambut-rambut yang tumbuh di antenanya. Bau yang dapat dideteksi rayap berhubungan dengan sifat kimiawi feromonnya sendiri.


Feromon adalah hormon yang dikeluarkan dari kelenjar endokrin., tetapi berbeda dengan hormon, feromon menyebar ke luar tubuh dan empengaruhi individu lain yang sejenis. Untuk dapat mendeteksi jalur yang dijelajahinya, individu rayap yang berada didepan mengeluarkan feromon penanda jejak (trail following pheromone) yang keluar dari kelenjar sternum (sternal gland di bagian bawah, belakang abdomen), yang dapat dideteksi oleh rayap yang berada di belakangnya. Sifat kimiawi feromon ini sangat erat hubungannya dengan bau makannannya sehingga rayap mampu mendeteksi obyek makanannya.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Jamur Zygomycota Beserta Ciri-Cirinya


Biologi dan Morfologi Rayap

Menurut (Nandika et, al.dalam Pratama 2013) C. curvignatus merupakan rayap yang paling luas serangannya di Indonesia. Klasifikasi rayap tanah C. curvignatus sebagai berikut :
Isoptera berasal dari bahasa latin yang berarti Insekta bersayap sama. Ciri-ciri lain yang dimiliki oleh ordo Isoptera adalah

  1. tubuh lunak,
  2. memiliki dua sayap,
  3. bersifat hemitabola,
  4. memiliki dua pasang sayap tipis yang tipe dan ukurannya sama. Toraks berhubungan langsung dengan abdomen yang ukuran lebih besar, merupakan serangga sosial.
  5. mengalami metamorfosis tidak sempurna,
  6. tipe mulut penguyah,
  7. cara hidupnya membentuk koloni dengan sistem pembagian tugas tertentu yang disebut polimorfisme,
  8. rayap memiliki 4 kasta, yaitu : kasta reproduksi pertama bersayap dan akan ditanggalkan setelah perkawinan, kasta reproduksi kedua dewasa secara seksual tapi dalam bentuk nympha, kasta pekerja tidak bersayap dan memiliki banyak tugas untuk memelihara koloni, kasta tentara bersifat steril dan memiliki kepala dan mandibula yang besar serta bertugas menjaga koloni (Pratama, 2013).

Rayap yang ditemukan di daerah tropis jumlah telurnya dapat mencapai ± 36.000 sehari bila koloninya sudah berumur ± 5 tahun. Bentuk telur rayap ada yang berupa butiran yang lepas ada pula uang berupa kelompok terdiri dari 16-20 butir telur yang melekat satu sama lain. Telur-telur ini berbentuk silinder dengan ukuran panjang yang bervariasi antara 1-1,5 mm (Hasan dalam Pratama, 2013). Tubuh Isoptera tersusun oleh:


  • Kepala
    Prognathous, mempunyai mata mejemuk, kadang-kadang mengecil, mempunyai dua occellus atau tidak mempunyai antena panjang tersusun atas sejumlah segmen, sampai tiga puluh segmen, tipe mulut penggigit dan pengunyah (Rizali dalam Pratama, 2013).


  • Dada (thorax)
    Mempunyai dua pasang sayap yang bersifat membran, kedua pasang sayap ini mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, pada keadaan istirahat pasangan sayap melipat di bagian dorsal abdomen. Kebanyakan pekerja dan tentara tidak bersayap.Pasangan-pasangan kaki pendek, coxae sangat berkembang, tarsus terdiri atas empat sampai lima segmen, dengan sepasang ungues (Rizali dalam Pratama, 2013)


  • Perut (abdomen)
    Tersusun atas sebelas segmen.Sternum segmen abdomen pertama mengecil.Sternum segmen abdomen kesebelas menjadi paraproct.Cercus pendek tersusun atas enam sampai delapan segmen (Rizali dalam Pratama, 2013).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Morfologi Protozoa Dalam Biologi


Bionomik Rayap

Perilaku Makan pada Rayap
Rayap merupakan serangga daerah tropika dan subtropika. Rayap ditemukan mulai dari pantai sampai ketinggian 3000 m di atas permukaan laut, dengan kelembaban 60-70%, dan temperatur udara antara 250C danh 290C. Makanan utamanya adalah kayu atau bahan yang memiliki kandungan selulosa. Dari perilaku makanya, dapat dikatakan bahwa rayap termasuk golongan makhluk hidup perombak bahan mati yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan dalam ekosistem kita.


Mereka merupakan konsumen primer dalam rantai makanan yang berperan dalam kelangsungan siklus beberapa unsur penting seperti karbon dan nitrogen. Secara umum makanan rayap adalah semua bahan yang mengandung selulosa. Bignell dan Eggleton (2000), membagi rayap menjadi beberapa kelompok berdasarkan jenis makanannya, yaitu :

  1. Rayap Pemakan Tanah
    Rayap tingkat rendah mendapatkan makanan dari mineral tanah. Material yang dicerna sangat heterogen, mengandung banyak bahan organik tanah dan silika. Rayap jenis ini ditemukan pada Apicotermitinae, Termitinae, Nasutitermitinae, dan Indotermitinae.

  2. Rayap Pemakan Kayu (Wood-Feeder)
    Rayap yang mendapatkan makanan dengan memakan kayu dan sampah berkayu, termasuk cabang mati yang masih menempel di pohon. Hampir semua rayap tingkat rendah adalah pemakan kayu, semua subfamili dari Termitinae kecuali Apicotermitinae.


  3. Rayap Pemakan Serasah (Litter-Feeder)
    Rayap jenis ini mendapatkan makanan dari daun atau kayu-kayu kecil. Rayap ini terdapat pada Macrotermitinae, Apicotermitinae, Termitinae, dan Nasutitermitinae. Rayap memakan kayu yang kaya selulosa kristalin dan amorf, hemiselulosa dan lignin. Tingkat hidrolisis hemiselulosa dan lignin yang tinggi dapat membatasi aktivitas selulolitik melalui penghambatan produk akhir. Hal ini yang menyebabkan rayap mengekspresikan berbagai macam gen selulase.


    Rayap mampu makan (menyerap) selulosa melumatkan dan menyerapnya sehingga sebagian besar ekskremen hanya tinggal lignin saja. Kemampuan rayap dalam melumatkan selulosa dikarenakan pada usus bagian belakang rayap memiliki protozoa yang berperan sebagi simbion untuk melumatkan selulosa sehingga mampu mencernakan dan menyerapnya (Waryono, 2008).


    Saluran pencernaan rayap terdiri atas usus depan, usus tengah, dan usus belakang. Saluran ussus ini menempati sebagian besar dari abdomen. Kelenjar saliva mensekresikan endoglukanase dan enzim lain ke saluran pencernaan.pada usus tengah, mensekresikan suatu membrane peritrofik di sekeliling material makanan. Rayap dapat bertahan hidup dengan memanfaatkan lignoselulosa yang mengandung sedikit nutrisi. Rayap dapat mencerna lignoselulosa dengan menggunakan enzim selulase yang dihasilkan oleh rayap itu sendiri dan simbion. Lignoselulosa adalah suatu campuran dari tiga polimer yang dihasilkan tanaman yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Selulosa adalah polimer glukosa yang terikat oleh ikatan β-1,4 dan terikat bersama dengan hemiselulosa.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Jenis Dan Penyebaran Kura Kura Serta Penjelasannya

Siklus Hidup Rayap

Siklus Hidup Rayap

Siklus hidup perkembangan rayap adalah melalui metamorfosa hemimetabola, yaitu secara bertahap, yang secara teori melalui stadium (tahap pertumbuhan) telur, nimfa, dewasa. Walau stadium dewasa pada serangga umumnya terdiri atas individu–individu bersayap (laron) (Tarumingkeng, 2001).


Menurut Nandika dkk (2003) sistematika dari rayap (C. curvinagthus) adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda , Kelas : Insecta , Ordo : Isoptera Famili : Rhinotermitidae , Genus : Coptotermes, Spesies : Coptotermes curvinagthus Holmgren


Panjang telur bervariasi antara 1-1,5 mm. Telur C. curvignathus akan menetas setelah berumur 8-11 hari. Jumlah telur rayap bervariasi, tergantung kepada jenis dan umur.Saat pertama bertelur betina mengeluarkan 4-15 butir telur.Telur rayap berbentuk silindris, dengan bagian ujung yang membulat yang berwarna putih. Telur yang menetas yang menjadi nimfa akan mengalami 5-8 instar (Nandika dkk, 2003).


Nimfa yang menetas dari telur pertama dari seluruh koloni yang baru akan berkembang menjadi kasta pekerja. Kasta pekerja jumlahnya jauh lebih besar dari seluruh kasta yang terdapat dalam koloni rayap.Waktu keseluruhan yang dibutuhkan dari keadaan telur sampai dapat bekerja secara efektif sebagai kasta pekerja pada umumnya adalah 6-7 bulan.Umur kasta pekerja dapat mencapai 19- 24 bulan.


Struktur kepala pada nimfa muda dan pekerja sama dengan bentuk kasta reproduktifnya. Kadang tidak terdapat mata majemuk dan ocelli.Jika terdapat mata majemuk maka mata tersebut belum berkembang seperti halnya pada kasta reproduktif.Mata majemuk tampak jelas pada nimfa tua sebelum terbentuk laron.Jumlag segmen antenanya lebih sedikit dibandingkan setelah menjadi laron (Nandika dkk, 2003).


Strategi Pengendalian Rayap

Dari uraian di atas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa untuk menghindar atau meminimumkan kemungkinan terjadinya serangan rayap pada bangunan perlu diperhatikan hal-hal berikut.


  1. Hindari adanya bahan-bahan kayu seperti sisa-sisa tunggak pohon di sekitar halaman bangunan, yang potensial untuk menjadi sumber infeksi rayap. Demikian pula adanya pohon-pohon tua yang sebagian jaringan pohon maupun akarnya telah mati merupakan sumber makanan rayap dan dapat menjadi lokasi sarang perkembangan koloni rayap.


  2. Hindari kontak antara tanah dengan bagian-bagian kayu dari bangunan. Walaupun cara ini tidak mutlak mampu mencegah serangan rayap karena rayap mampu membuat terowongan kembara di atas tembok, lantai dan dinding untuk mencapai obyek kayu makanannya tetapi bagi bangunan sederhana cara ini dapat memperlambat serangan rayap, dan adanya terowongan-terowongan dapat dideteksi.


  3. Pergunakan kayu yang awet (seperti bagian teras kayu jati), atau kayu yang telah diawetkan dengan bahan-bahan pengawet anti rayap. Untuk kayu-kayu yang digunakan di bawah atap jenis-jenis garam pengawet seperti garam Wolman dengan retensi yang cukup telah memadai, sedangkan bagi kayu di luar bangunan diperlukan bahan pengawet larut minyak seperti kreosot .


  4. Cara yang paling efektif adalah melindungi bangunan dengan cara membuat “benteng yang kuat terhadap rayap” di bagian fondasi dengan cara menyampur bahan fondasi dengan termitisida atau memperlakukan tanah di bawah dan di sekitar fondasi dengan termitisida yang tahan pencucian (persisten) serta memiliki afinitas dengan tanah.


  5. Jika bangunan telah terserang, gunakanlah cara-cara pengendalian yang ramah lingkungan, seperti dengan pengumpanan dan pengendalian koloni dengan menggunakan insektisida penekan pertumbuhan kutikel seperti heksaflumuron dsb.


Daftar Pustaka

  • Astuti. 2013. Identifikasi, Sebaran Dan Derajat Kerusakan Kayu Oleh Serangan Rayap Coptotermes (Isoptera: Rhinotermitidae) Di Sulawesi Selatan. Universitas Hasannudin.
  • Exterra. 2009. Tentang Rayap – Sejarah singkat mengenai rayap beserta jenisnya.
  • Haryo. 2012. Makalah Urban Pest Rayap. Universitas Padjajaran Jatinangor
  • Pratama, Ady. 2013. Ketahanan Kayu Mindi (Melia Azedarach L.) Dari Rayap Kayu Kering Cryptotermes Cynocephalus Setelah Perlakuan Pemanasan. Skripsi : Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Bogor
  • Subekti Niken, Dedy Duryadi , Dodi Nandika , Surjono Surjokusumo , Syaiful Anwar. 2008. Sebaran dan Karakter Morfologi Rayap Tanah Macrotermes Gilvus Hagen di Habitat Hutan Alam (Distribution and Morphology Characteristic of Macrotermes gilvus Hagen in The Natural Habitat) Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan 1(1): 27-33.
  • Waryono, Tarsoen. 2008. Ekosistem Rayap Dan Vektor Demam Berdarah Di Lingkungan Permukiman. Kumpulan makalah periode 1987-2008. Universitas Indonesia.
  • Nandika, dkk. 2003. Rayap ; Biologi dan Pengendaliannya. Muhamadiyah University Press. Surakarta.
  • Tarumingkeng. 2001. Serangga dan Lingkungan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.