Pengertian Sosiologi Terlengkap

Diposting pada

Pengertian Sosiologi, Ciri, Sejarah, Hakikat, Manfaat, Teori dan Perkembagan : Adalah ilmu pengetahuan kemasyarakatan Umum, yang merupakan hasil terakhir perkembangan ilmu pengetahuan.

pengertian-sosiologi


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 32 Pengertian Konflik Menurut Para Ahli Terlengkap Dalam Sosiologi


Pengertian Sosiologi

Sosiologi berawal dari filsafat yang dianggap sebagai induk ilmu (Master scientiarum). Filsafat adalah ilmu mengenai pengetahuan, kritik, dan sistematika pengetahuan, penyimpulan ilmu pengetahuan empiris, pengajaran rasional, akal pengalaman, dan seterusnya. Sosiologi berasal dari kata latin socius yang berarti “kawan” dan kata Yunani logos yang berarti “kata” atau “berbicara”. Dapat dikatakan bahwa sosiologi berarti “berbicara mengenai masyarakat”. Menurut Auguste Comte (1798-1857) sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir perkembangan ilmu pengetahuan.

Secara etimologis, sosiologi berasal dari kata socius (bahasa Latin: teman) dan logos (bahasa Yunani: kata, perkataan, pembicaraan). Jadi dapat diartikan sebagai , sosiologi adalah membicarakan, memperbincangkan teman pergaulan.

Istilah dari ‘sosiologi’ pertama kali digunakan oleh Auguste Comte pada tahun 1839 , Auguste Comte adalah seorang ahli filsafat kebangsaan Prancis. Selain itu, dia juga memberi sumbangan yang begitu penting terhadap sosiologi. Oleh karena itu para ahli sepakat untuk menyebutnya sebagai ‘Bapak Sosiologi’.


Menurut Para Ahli

  1. Menurut August Comte, sosiologi adalah ilmu positip tentang masyarakat. Ia menggunakan kata positip yang artinya empiris. Jadi sosiologi baginya adalah studi empiris tentang masyarakat. Menurut August Comte, obyek studi dari sosiologi adalah tentang masyarakat, ada dua unsure yaitu struktur masyarakat yang disebut statika sosial dan proses-proses sosial di dalam masyarakat yang disebut dinamika sosial.
  2. Auguste Comte
    Auguste Comte “Bapak Sosiologi”  iyalah suatu ilmu positif tentang hukum-hukum dasar dari berbagai gejala sosial yang dibedakan menjadi sosiologi statis serta sosiologi dinamis.
  3. Roucek dan Warren
    Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia dalam kelompok.
  4. Pitirim A. Sorokin
    Pitirim A. SorokinSosiologi merupakan ilmu yang mempelajari:Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial.
  5. Emile Durkheim 
    Sosiologi iyalah ilmu yang mempelajari fakta sosial. Fakta sosial merupakan cara bertindak, berpikir, serta mampu melakukan pemaksaan dari luar terhadap individu.
  6. Wiliam F. Ogburn dan Mayer F. Nimkoff
    Sosiologi merupakan penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial serta hasilnya yaitu organisasi sosial.
  7. Paul B. Horton
    Sosiologi merupakan ilmu yang memusatkan kajian pada kehidupan kelompok serta produk kehidupan kelompok tersebut.
  8. Soerjono Soekanto
    Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
  9. Max Weber
    Sosiologi merupakan ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial. Tindakan sosial merupakan tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan serta berorientasi pada perilaku orang lain.
  10. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
    Sosiologi merupakan ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial serta proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.
  11.  J. A. A. Von Dorn dan C. J. Lammers
    Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur serta proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
  12. Mayor Polak
    Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat secara keseluruhan, yaitu hubungan antara manusia satu dengan manusia lain, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok.
  13. Hassan Shandily
    Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat serta menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai kehidupan dengan mencoba mengerti sifat serta maksud hidup bersama cara terbentuk serta tumbuh, serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup serta kepercayaan.

  14. Menurut Emile Durkheim, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta sosial.fakta sosial adalah sesuatu yang berada di luar individu. Contoh-contoh dari fakta sosial adalah kebiasaan-kebiasaan, peraturan-peraturan, norma-norma, hukum-hukum dan adat istiadat. Dan fakta sosial yang paling besar adalah masyarakat menurut Durkhiem. Fakta sosial ini bersifat eksternal, obyektif dan berada di luar individu.


  15. Menurut Max Weber, sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan memahami tindakan sosial secara interpretatif agar diperoleh kejelasan mengenai sebab-sebab, proses dan konsekuensinya. Dengan kata lain, sosiologi adalah ilmu yang berhubungan dengan pemahaman interpretative mengenai tindakan sosial agar dengan demikian bisa dipeoleh penjelasan kausal mengenai arah dan konsekuensi dari tindakan itu. Dengan interpretative dimaksudkan untuk memahami arti dan makna dari tindakan sosial.

  16. Menurut Peter L.berger, sosiologi adalah ilmu atau studi ilmiah mengenai hubungan antara individu dan masyarakat. Sosiologi sebagai ilmu memiliki beberapa unsur yaitu :
  • Bersifat empiris. Itu berarti sosiologi didasarkan pada pengalaman-pengalaman, fakta-fakta konkrit manusia dan dianalisis dengan akal nalar.misalnya, masyarakat cina di Indonesia adalah masyarakat yang memiliki jiwa bisnis. Pernyataan ini bersifat empiris karena semua orang dapat melihat cina buka toko dan bisnis di mana-mana.
  • Bersifat Teoristis. Hal ini berarti bahwa sosiologi berusaha membuat abtraksi-abtraksi dari observasi yang ada atau data empiris. Dan berteori berdasar data empiris tersebut.
  • Bersifat kumulatif. Ini berarti teori sosiologi dibangun berdasarkan data-data yang dikumpulkan, ditambah, serantak diperbaiki sehingga teori itu makin bagus.
  • Bersifat bebas nilai. Ini berarti sosiologi berusaha menganalisis situasi sosial menurut apa adanya dan bukan menurut yang seharusnya. Sosiologi sebagai ilmu, tidak memberi penilaian baik-buruk, sosiologi hanya meneliti dan menganalisa sebuah fakta atau situasi sosial sebagaimana adanya. Ini berarti sosiologi bersifat netral dan tidak memihak atau terjatuh pada penilaian moral, baik-buruknya suatu fakta sosial atau masyarakat.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Perkembangan Sosiologi Dari Abad Ke Abad Lengkap


Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Sosial

Ilmu Pengetahuan dan Sosiologi

Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan (knowlage) yang tersusun sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, yang selalu dapat diperiksa dan ditelaah (dikontrol) oleh setiap orang yang ingin mengetahuinya. Tidak semua pengetahuan merupakan suatu ilmu, hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis saja yang merupakan pengetahuan. Ilmu pengetahuan dapat timbul dari pelbagai cara, diantaranya:


  1. Penemuan secara kebetulan, artinya penemuan yang sifatnya tanpa direncanakan dan diperhitungkan terlebih dahulu.
  2. Hal untung-untungan, artinya penemuan melalui cara percobaan-percobaan dan kesalahan-kesalahan.
  3. Kewibawaan, yaitu berdasarkan penghormatan terhadap pendapat atau penemuan yang dihasilkan oleh seseorang atau lembaga tertentu yang dianggap mempunyai kewibawaan atau wewenang.
  4. Usaha-usaha yang besifat spekulatif, artinya dari sekian banyak kemungkinan, dipilih salah satu kemungkkinan walaupun pilihan tersebut tidak didasarkan keyakinan apakah pilihan tersebut merupakan cara yang setepat-tepatnya.
  5. Pengalaman, artinya berdasarkan pikiran kritis.
  6. Penelitian ilmiah, yaitu suatu metode yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala dengan jalan analisis dan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta-masalah.

Ilmu Sosial dan Sosiologi

Apabila istilah “sosial” pada ilmu-ilmu sosial menunjuk pada objeknya, yaitu masyarakat, sosiologi merupakan suatu ideology yang berpokok pada prinsip pemilikan umum. Sosiologi jelas merupakan ilmu social yang objeknya adalah masyarakat. Sosiologi merupakan suatu ilmu yang berdiri sendiri karena telah memenuhi segenap unsur-unsur ilmu pengetahuan yang ciri-cirinya adalah:


  • Sosiologi bersifat empiris, bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan.
  • Sosiologi besifat teoritis, yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi.
  • Sosiologi bersifat kumulatif, artinya teori-teori Sosiologi dibentuk berdasarkan teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori yang lama.
  • Sosiologi bersifat nonetis, artinya yang dipersoalkan bukanlah baik-buruknya fakta tertentu, tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.

Masyarakat yang menjadi objek ilmu-ilmu sosial dapat dilihat sebagai sesuatu yang terdiri dari beberapa segi; ada segi ekonomi, ada segi kehidupan politik, dan lain-lain.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Perbedaan Sosiologi Dengan Antropologi


Sifat Hakikat Sosiologi

Definisi Sosiologi dari beberapa ahli:

  • Pitirim Sorokin mengatakan bahwa Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari:
    1. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala social.
    2. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala social dan gejala nonsosial.
    3. Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala social.
  • Roucek dan Warren mengemukakan bahwa Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.
  • William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf berpendapat bahwa Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
  • J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers berpendapat bahwa Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
  • Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi menyatakan bahwa Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial. Struktur Sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah social (norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial. Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, umpamanya pengaruh timbal balik antara segi kehidupan ekonomi dengan segi kehidpuan politik, antara segi kehidupan hukum dan segi kehidupan agama, antara segi kehidupan agama dan segi kehidupan ekonomi dan lain sebagainya.

Hakikat Sosiologi adalah sebagai berikut:

  1. Sosiologi adalah suatu ilmu sosial dan bukan merupakan ilmu pengetahuan
    alam ataupun ilmu pengetahuan kerohanian.
  2. Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif akan tetapi adalah suatu disiplin yang kategoris, artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini dan bukan mengenai apa yang terjadi atau seharusnya terjadi.
  3. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni (pure science) dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai (apllied science).
  4. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang konkrit.
  5. Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola
  6. Sosiologi merupakan pengetahuan yang empiris dan rasional.
  7. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan merupakan
    ilmu pengetahuan yang khusus.

Ciri-ciri Sosiologi

Sebagai ilmu sosial yang objeknya masyarakat, sosiologi mempunyai beberapa ciri utama, sebagai berikut

  • Sosiologi bersifat empiris.
    Artinya bahwa sosiologi dikembangkan berdasarkan hasil penelitian empiris mengenai fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.Ciri empiris ini harus dapat dibuktikan kebenarannya berdasarkan kenyataan yang ada secara logis atau rasional. Bukan atas spekulasi atau wahyu.Contoh : Masyarakat Indonesia terkenal ramah , sederhana, kekeluargaan dan gotong royong.


  • Sosiologi bersifat teoritis
    Artinya bahwa fenomena atau gejala-gejala sosial budaya sebagai obyek kajian Sosiologi diteliti secara teoritis dan konseptual berdasarkan hubungan sebab akibat (kausal) dan dirumuskan dengan metode dan prosedur ilmiah.
    Contoh : seorang pelajar atau mahasiswa rajin belajar secara tekun karena didorong oleh keinginan menjadi orang yang pandai dan berguna bagi keluarga dan masyarakatnya.


  • Sosiologi bersifat kumulatif
    Artinya teori-teori Sosiologi dibangun atas dasar teori yang sudah ada sebelumnya (misal ilmu filsafat). Teori-teori baru yang lebih mendekati kebenaran dan lebih luas, pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari teori-teori yang sudah ada.
    Contoh : menurut teori Darwin, manusia di bumi ini berasal dari kera. Kenyataannya teori tersebut sudah tidak berlaku lagi. Dan mengalami perubahan.


  • Sosiologi bersifat bukan etika (non etis)
    Artinya Sosiologi bukan ajaran tentang tata susila dan tidak membicarakan tingkah laku baik atau buruk yang terjadi di masyarakat Tetapi tugas Sosiolog adalah mengungkapkan tentang tindakan sosial sebagai fakta atau hanya mendeskripsikan berbagai fenomena sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat berdasarka hukum kausalitas.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Aspek Penting Dalam Pembinaan Keluarga Sejahtera Dalam Sosiologi


Objek Sosiologi

Objek Sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antar
manusia, dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat. Masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama, bercampur untuk waktu yang cukup lama, adanya kesadaran bahwa mereka merupakan suatu kesatuan, mereka merupakan suatu system hidup bersama. Beberapa orang sarjana telah mencoba untuk memberikan definisi masyarakat (society) seperti berikut ini:


  1. Maclver dan Page mengatakan bahwa masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok dan penggolongan, dan pengawasan tingkah laku serta kebebasan-kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah ini kita namakan masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan hubungan social. Dan masyarakat selalu berubah.
  2. Ralph Linton menyatakan bahwa masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerjasama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.
  3. Selo Soemardjan mengatakan bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.
  4. J.L.Gillin menyatakan masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang terikat oleh suatu tata cara (sistem) kebiasaan dan adat istiadat tertentu yang dianut oleh anggota-anggotanya.

Dari definisi-definisi di atas, unsur-unsur masyarakat sebagai berikut :

  • Masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama. Di dalam Ilmu Sosial tidak ada ukuran mutlak ataupun angka pasti untuk menentukan berapa jumlah manusia yang harus ada. Akan tetapi secara teoretis angka minimnya adalah dua orang yang hidup bersama.
  • Bercampur untuk waktu yang cukup lama. Kumpulan dari manusia tidaklah sama dengan kumpulan benda-benda mati seperti umpamanya kursi, meja dan sebagainya. Oleh karena dengan berkumpulnya manusia akan timbul manusia-manusia baru. Manusia itu juga dapat bercakap-cakap, merasa dan mengerti;
    mereka juga mempunyai keinginan untuk menyampaikan kesan-kesan atau perasaan-perasaannya. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbulah sistem komunikasi dan timbulah peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara manusia dalam kelompok tersebut.
  • Mereka sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan.
  • Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama
    menimbulkan kebudayaan oleh karena setiap anggota kelompok merasa dirinya
    terikat satu dengan lainnya.

Dua hasrat kuat dalam diri manusia :

  1. Keinginan untuk menjadi satu dengan sesamanya atau manusia lain. disekelilingnya (misalnya, masyarakat).
  2. Keinginan untuk menjadi satu dengan lingkungan alam sekelilingnya Untuk dapat menyesuaikan diri dengan kedua lingkungan diatas, manusia mempergunakan pikiran, perasaan dan kehendaknya.

Kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan masyarakat agar dapat terus hidup:

  • Adanya populasi dan population replacement
  • Informasi
  • Energi
  • Materi
  • Sistem Komunikasi
  • Sistem produksi
  • Sistem distribusi
  • Sistem organisasi social
  • Sistem pengendalian social
  • Perlindungan masyarakat terhadap ancaman-ancaman yang tertuju pada jiwa
    dan harta bendanya.

Komponen-komponan dasar suatu masyarakat

  1. Populasi, yakni warga-warga suatu masyarakat yang dilihat dari setiap sudut pandangan kolektif. Secara sosiologis, maka aspek-aspek sosiologisnya yang diperlu dipertimbangkan adalah
    – aspek-aspek genetik yang konstan
    – variabel-variabel genetic
    – variabel-variabel demografis
  2. Kebudayaan, yakni hasil karya, cipta dan rasa dari kehidupan bersama yang mencakup :
    – sistem lambang-lambang
    – informasi
  3. Hasil-hasil kebudayaan materiil
  4. Organisasi social yakni jaringan hubungan antara warga-warga masyarakat yang bersangkutan, yang antara lain mencakup :
    – warga masyarakat secara individual
    – peranan-peranan
    – kelompok-kelompok social
    – kelas-kelas social
  5. Lembaga-lembaga sosial dan sistemnya.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Sosiologi : Pengertian Umum dan Tinjauan Para Ahli


Sejarah Teori Sosiologi

Suatu Teori pada hakekatnya merupakan hubungan antara dua fakta atau lebih, atau pengaturan fakta menurut cara-cara tertentu. Fakta tersebut merupakan sesuatu yang dapat diamati dan pada umumnya dapat diuji secara empiris.

Teori merupakan hubungan dua variabel atau lebih, yang telah diuji kebenarannya. Variabel merupakan karakteristik dari orang-orang, benda-benda atau keadaan yang mempunyai nilai-nilai yang berbeda, misalnya usia, jenis kelamin, dan lain sebagainya.


Kegunaan Teori Sosiologi antara lain :

  1. Suatu teori atau beberapa teori merupakan ikhtisar daripada hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang dipelajari sosiologi.
  2. Teori memberikan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada seseorang yang memperdalam pengetahuannya di bidang sosiologi.
  3. Teori berguna untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang dipelajari oleh sosiologi.
  4. Suatu teori akan sangat berguna dalam mengembangkan sistem klasifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta memperkembangkan definisi-definisi yang penting untuk penelitian.
  5. Pengetahuan teoritis memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan proyeksi sosial, yaitu usaha untuk dapat mengetahui kearah mana masyarakat akan berkembang atas dasar fakta yang diketahui pada masa lampau dan pada dewasa ini.

Masa Auguste Comte dipakai sebagai patokan, karena ilmuwan Perancis August Comte yang pertama sekali menggunakan istilah atau pengertian “Sosiologi” , sehingga sosiologi dikatan ilmu pengetahuan yang relatif muda usianya, karena baru mengalami perkembangan pada masa Comte tersebut. Walaupun sebenarnya perhatian dan pikiran terhadap masyarakat telah dimulai jauh sebelum Comte antara lain:

  1. Plato (429-329 S.M)
    Seorang filosof Romawi bermaksud untuk merumuskan suatu teori tentang negara yang dicita-citakan, yang organisasinya didasarkan pada pengamatan kritis terhadap sistem-sistem sosisal yang ada pada zamannya. Dengan jalan menganalisis lembaga-lembaga didalam masyarakat maka Plato berhasil menunjukkan hubungan fungsional antara-lembaga-lembaga tersebut yang pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan yang menyeluruh yang mencakup bidang-bidang kehidupan ekonomi dan sosial.


  2. Aristoteles (384-322 S.M)
    Di dalam buku politiknya, ia mengadakan suatu analisis mendalam terhadap lembaga-lembaga politik dalam masyarakat. Pengertian politik digunakan dalam arti luas mencakup juga berbagai masalah ekonomi dan social sebagaimana halnya dengan Plato. Perhatian Aristoteles terhadap Biologi menyebabkannya mengadakan suatu analogi antara masyarakat dengan organisme biologis manusia. Di samping itu ia menggariskan kenyataan bahwa basis masyarakat adalah moral.


  3. Ibn Khaldun (1332-1406)
    Ibn Khaldun telah menghasilkan sekumpulan karya yang mengandung berbagai pemikiran yang mirip dengan sosiologi zaman sekarang, ia melakukan studi ilmiah tentang masyarakat, riset empiris, dan meneliti sebab-sebab fenomena social. Ia memusatkan perhatian pada berbagai lembaga social (misalnya Politik dan ekonomi) dan hubungan antar lembaga tersebut. Ia juga tertarik melakukan studi perbandingan antara masyarakat primitive dan modern. Ibnu Khaldun tidak berpengaruh secara dramatis terhadap sosiologi klasik , tetapi setelah sarjana muslim khususnya meneliti ulang karyanya ia mulai diakui sebagai sejarawan yang mempunyai signifikansi hiostoris.


  4. Zaman Reanissance (1200-1600)
    – Thomas More dan Campanella
    Sangat terpengaruh oleh gagasan-gagasan terhadap adanya masyarakat yang ideal.
    – N. Machiavelli (bukunya Il Principe)
    Menganalisis bagaimana mempertahankan kekuasaan. Untuk pertamakalinya politik dipisahkan dari moral, sehingga terjadi suatu pendekatan yang mekanis terhadap masyarakat. Pengaruh ajaran Machiavelli antara lain, suatu ajaran, bahwa teori-teori politik dan sosial memusatkan perhatian mekanisme pemerintahan.


  5. Hobbes(1588-1679)
    Tulisannya berjudul The Leviathan. Inti ajarannya diilhami oleh hukum alam, fisika dan matematika. Dia beranggapan bahwa dalam keadaan alamiah, kehidupan manusia didasarkan pada keinginankeinginan yang mekanis, sehingga manusia selalu berkelahi. Akan tetapi mereka mempunyai pikiran bahwa hidup damai dan tenteram adalah jauh lebih baik. Keadaan semacam itu baru dapat tercapai apabila mereka mengadakan suatu perjanjian atau kontrak dengan pihak-pihak yang mempunyai wewenang, pihak mana akan dapat
    memeliharaketenteraman. Supaya keadaan damai tadi terpelihara, maka orang-orang harus sepenuhnya mematuhi pihak yang mempunyai wewenang tadi. Dalam keadaan demikianlah masyarakat dapat berfungsi sebagaimana mestinya.


  6. John Locke(1632-1704)
    Manusia pada dasarnya mempunyai hak-hak asasi yang berupa hak untuk hidup, kebebasan dan hak atas harta benda. Kontrak antara warga masyarakat dengan pihak yang mempunyai wewenang sifatnya atas dasar faktor pamrih. Bila pihak yang mempunyai wewenang tadi gagal untuk memenuhi syarat-syarat kontrak, maka warga-warga masyarakat berhak untuk memilih pihak lain.


  7. J.J. Rousseau(1712-1778)
    Kontrak antara pemerintah dengan yang diperintah, menyebabkan tumbuhnya kolektivitas yang mempunyai keinginan-keinginan sendiri, yaitu keinginan umum. Keinginan umum tadi berbeda dengan keinginan masingmasing individu.


  8. Saint Simon(1760-1825)
    Manusia hendaknya dipelajari dalam kehidupan berkelompok. Dalam bukunya Memoirs sur la Science de I’home, dia menyatakan bahwa ilmu politik merupakan suatu ilmu positif. Artinya, masalah-masalah dalam ilmu politik hendaknya dianalisis dengan metode-metode yang lazim dipakai terhadap gejala-gejala lain. Dia memikirkan sejarah sebagai suatu fisika sosial. Fisiologi sangat mempengaruhi ajaran-ajarannya mengenai masyarakat. Masyarakat bukanlah semata-mata merupakan suatu kumpulan dari orang-orang belaka yang tindakan-tindakannya tidak mempunyai sebab, kecuali kemauan masing-masing.
    Kumpulan tersebut hidup karena didorong oleh organorgani tertentu yang menggerakan manusia untuk melakukan fungsi-fungsi tersebut.


  9. Auguste Comte(1798-1853)
    Auguste Comte yang pertama-tama mempergunakan istilah “sosiologi” adalah orang pertama yang membedakan antara ruang lingkup dan isi sosiologi dari ruang lingkup dan isi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Anggapannya sosiologi terdiri dari dua bagian pokok, yaitu social statistics dan social dynamics. Sebagai social statistics sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara lembaga-lembaga kemasyarakatan. Social dynamics meneropong bagaimana lembagalembaga tersebut berkembang dan mengalami perkembangan sepanjang masa. Menurut Comte ada tiga tahap perkembangan intelektual;


  • Tahap fiktif atau teologis
    Suatu tahap dimana manusia menafsirkan gejala-gejala disekelilingnya secara teologis, yaitu dengan dikendalikan oleh kekuatan roh dewa-dewa atau tuhan yang maha kuasa.
  • Tahap metafisik
    Dimana manusia beranggapan bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan.
  • Tahap positif
    Dimana manusia masih terikat oleh cita-cita tanpa verifikasi karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realita tertentu dan tidaka ada usaha untuk menemukan hokum-hukum alam yang seragam.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ 11 Pengertian Sosiologi Politik Menurut Para Ahli Serta Peran Dan Contohnya


Teori Madzhab Sosiologi

Teori-teori sosiologi sesudah Comte diantaranya:

Madzhab geografi dan lingkungan

  1. Edward Buckle(1821-1862)
    Karyanya Historyof Civilization in England Buckle meneruskan ajaran-ajaran sebelumnya tentang pengaruh keadaan alam terhadap masyarakat. Di dalam analisisnya, dia telah menemukan beberapa keteraturan hubungan antara keadaan alam dengan tingkah laku manusia. Misalnya, terjadinya bunuh diri adalah sebagai akibat rendahnya penghasilan, dan tinggi rendahnya pengahsilan tergantung keadaan alam. Taraf kemakmuran suatu masyarakat juga sangat tergantung pada keadaan alam di mana masyarakat hidup.
  2. Le Play(1806-1888)
    Dia menganalisis keluarga sebagai unit sosial yang fundamental dari masyarakat. Organisasi keluarga di tentukan oleh cara-cara mempertahankan kehidupannya yaitu cara mereka bermata pencaharian. Hal ini sangat tergantung pada lingkungan yimbal balik antara faktorfaktor tempat, pekerjaan dan manusia (atau masyarakat). Atas dasar faktor-faktor tersebut, maka dapatlah diketemukan unsur-unsur yang menjadi dasar adanya kelompok-kelompok yang lebih besar, yang memerlukan analisis terhadap semua lembaga-lembaga politik dan social suatu masyarakat.
  3. E. Huntington Karyannya (tahun 1915) Civilization and climate
    Menguraikan bahwa mentalitas manusia di tentukan oleh faktor iklim.

Madzhab Oganis dan Evolusioner

  • Herbert Spencer(1820-1903)
    Suatu organisme akan bertambah sempurna apabila bertambah kompleks dan dengan adanya diferensiasi antara bagian-bagiannya. Hal ini berarti adanya fungsi yang lebih matang antar bagian-bagiannya. Hal ini berarti adanya organisasi fungsi yang lebih matang antara bagian-bagian organisme tersebut, dan integrasi yang lebih sempurna pula. Secara Evolusioner, maka tahap organisme tersebut akan semakin sempurna sifatnya. Dengan demikian makaorganisme tersebut ada kriterianya yakni kompleksitas, diferensiasi, dan integrasi. Kriteria mana akan dapat diterapkan dalam masyarakat. Evaluasi sosial dan perkembangan sosial pada dasarnya berarti bertambahnya
    diferensiasi dan integrasi, peningkatan pembagian kerja, dan suatu transisi dari keadaan homogen ke keadaan yang heterogen.
  • W.G. Summer(1840-1910)
    Salah satu karyanya Folkways. Folkways dimaksudkan dengan kebiasaan-kebiasaan social yang timbul secara tidak sadar dalam masyarakat, kebiasaan-kebiasaan mana menjadi bagian dari tradisi. Hampir semua aturan-aturan kehidupan sosial, upacarasopan- santun, kesusilaan, dan sebagainya, termasuk dalam Folkways tersebut. Aturan-aturan tersebut merupakan kaidah-kaidah kelompok yang masing-masing mempunyai tingkat atau derajat kekuatan yang berbeda-beda. Apabila kaidah-kaidah tadi dianggap sedemikian pentingnya, maka kaidah-kaidah tadi dinamakan tata kelakuan (mores). Kaidah-kaidah tersebut tidaklah menjadi bagian dari suatu masyarakat secara menyeluruh, dan oleh karena itu summer membedakan antara kelompok sendiri (in-gropus) dengan kelompok luar (out-groups). Pembedaan ini ditujukan untuk dapat memberikan petunjuk bahwa ada orang-orang yang diterima dalam suatu kelompok dan ada pula yang tidak. Pembedaan tersebut menimbulkan pelbagai macam antagonisme, pertentangan serta pertikaian.
  • Emile Durkheim(1855-1917)
    Karyanya Division of labor dapat digolongkan dalam Mazhab ini. Menurutnya unsur baku dalam masyarakat adalah faktor solidaritas. Dia membedakan antara masyarakatmasyarakat yang bercirikan faktor solidaritas mekanis dengan yang memiliki solidaritas organis. Pada masyarakat-masyarakat dengan solidaritas mekanis, warga masyarakat belum mempunyai diferensiasi dan pembagian kerja. Warga masyarakat mempunyai kepentingan bersama dan kesadaran yang sama pula. Masyarakat dengan solidaritas organis telah mempunyai pembagian kerja yang ditandai dengan derajat spesialisasi tertentu.
  • Ferdinad Tonnies(1855-1936)
    Bagaimana warga suatu kelompok mengadakan hubungan dengan sesamanya.
    Dasar hubungan tersebut disatu pihak adalah factor perasaan, simpati pribadi dan kepentingan bersama. Di pihak lain dasarnya adalah kepentingan-kepentingan rasional dan ikatan-ikatan yang tidak permanen sifatnya.
    Bentuk-bentuk sosial yang pertama dinamakannya paguyuban (gemeinschaft), sedangkan yang kedua adalah patembayan (gesellschaft).

Madzhab Formal

  1. Georg Simmel(1858-1918)
    Elemen-elemen masyarakat mencapai kesatuan melalui bentuk-bentuk yang mengatur hubungan antara elemenelemen tersebut. Pelbagai lembaga di dalam masyarakat terwujud dalam bentuk superioritas, subordinasi dan konflik. Semua hubungan-hubungan sosial, keluarga, agama, peperangan, perdagangan, kelas-kelas dapat diberi karakteristik menurut salah satu bentuk diatas atau ketiga-ketiganya. Menurutnya, seseorang menjadi warga masyarakat untuk mengalami proses individualisasi dan sosialisasi. Tanpa menjadi warga masyarakat tak akan mungkin seseorang mengalami proses interaksi antara individu dengan kelompok. Dengan perkataan lain, apa yang memungkinkan masyarakat berproses adalah bahwa setiap orang mempunyai peranan yang harus dijalankannya. Maka, interaksi individu dengan kelompok hanya dapat dimengerti dalam kerangka peranan yang dilakukan oleh individu.
  2. Leopold von Wiese(1876-1961)
    Sosiologi harus memusatkan perhatian pada hubungan-hubungan manusia tanpa mengaitkannya dengan tujuantujuan atau kaidah-kaidah. Sosiologi harus mulai dengan pengamatan terhadap perilaku kongkrit tertentu. Ajarannya bersifat empiris dan dia berusaha untuk mengadakan kuantifikasi, terhadap proses-proses sosial yang terjadi. Proses sosial merupakan hasil perkalian dari sikap dan keadaan, yang masing-masing dapat diuraikan ke adalam unsur-unsurnya secara sistematis.
  3. Alfred Vierkandt(1867-1953)
    Sosiologi menyoroti situasi-situasi mental. Situasi-situasi tersebut tak dapat dianalisis secara tersendiri, akan tetapi merupakan hasil perilaku yang timbul sebagai akibat interaksi antar individu-individu dan kelompok-kelompok dalam masyarakat. Dengan demikian, tugas sosiologi adalah untuk menganalisis dan mengadakan sistematika terhadap gejala sosial dengan jalan menguraikannya ke dalam bentuk-bentuk kehidupan mental. Hal itu dapat ditemukan dalam gejala-gejala seperti harga diri, perjuangan, simpati, imitasi dan lain sebagainya. Itulah prekondisi suatu masyarakat yang hanya dapat berkembang penuh dalam kehidupan kelompok atau dalam masyarakat setempat (community). Oleh karena itu sosiologi harus memusatkan perhatian terhadap kelompok-kelompok sosial.

Madzhab Psikologi

  • Gabriel Tarde(1843-1904)
    Dia memulai dengan suatu dugaan atau pandangan awal bahwa gejala sosial mempunyai sifat psikologis yang terdiri dari interaksi antara jiwa-jiwa individu, dimana jiwa tersebut terdiri dari kepercayaan-kepercayaan dan keinginan-keinginan. Bentuk-bentuk utama dari interaksi mental individu-individu adalah imitasi, oposisi dan adaptasi atau penemuan baru. Imitasi seringkali berhadapan dengan oposisi yang menuju pada bentuk adaptasi baru. Dengan demikian mungkin terjadi perubahan sosial yang disebabkan oleh penemuan-penemuan baru. Hal ini menimbulkan imitasi, oposisi penemuan-penemuan baru, perubahan-perubahan dan seterusnya. Tarde berusaha untuk menjelaskan gejala-gejala sosial di dalam kerangka reaksi-reaksi psikis seseorang.
  • Albion Small(1854-1926)
    Mengadakan analisis terhadap reaksi-reaksi individu terhadap individu, maupun kelompok terhadap kelompok lainnya. Small merupakan orang yang pertama membuka departemen sosiologi pada Universitas Chicago, dan menerbitkan American Journal of Sociology.
  • Horton Cooley(1864-1924)
    Individu dan masyarakat saling melengkapi,di mana individu hanya akan menemukan bentuknya di dalam masyarakat. Di dalam karyanya Social Organization dia mengambangkan konsep kelompok utama (primary group), yang ditandai dengan hubungan antar pribadi yang dekat sekali. Dalam kelompok-kelompok tadi perasaan manusia akan dapat berkembang dengan leluasa.
  • L.T. Hobhouse(1864-1929)
    Sangat tertarik pada konsep-konsep pembangunan dan perubahan sosial. Dia menolak penerapan prinsip-prinsip biologis terhadap studi masyarakat manusia; psikologi dan etika merupakan kriteria yang diperlukan untuk mengukur perubahan sosial.

Mazhab Ekonomi

  1. Karl Marx (1818-1883)
    Marx telah mempergunakan metode-metode sejarah dan filsafat untuk membangun suatu teori tentang perubahan yang menunjukkan perkembangan masyarakat menuju suatu keadaan dimana ada keadilan sosial.
    Manurutnya, selama masyarakat masih terbagi atas kelaskelas, maka pada kelas yang berkuasalah akan terhimpun segala kekuatan dan kekayaan, Hukum, filsafat, agama, dan kesenian merupakan refleksi dari status ekonomi kelas tersebut. Namun demikian, hukum-hukum perubahan berperanan dalam sejarah, sehingga keadaan tersebut dapat berubah baik melalui suatu revolusi maupun secara damai. Akan tetapi selama masih ada kelas yang berkuasa, maka tetap terjadi eksploitasi terhadap kelas yang lebih lemah. Oleh karena itu selalu timbul pertikaian antara kelas-kelas tersebut, pertikaian mana akan berakhir apabila satu-atu kelas (yaitu kelas proletar) menang, sehingga terjadilah masyarakat tanpa kelas.
  2. Max Weber (1864-1920)
    Semua bentuk oranisasi sosial harus diteliti menurut perilaku warganya, yang motivasinya serasi dengan harapan warga-warga lainnya. Untuk mengetahui dan menggali hal ini perlu digunakan metoe pengertian (Verstehen). Tingkah laku individu-individu dalam masyarakat dapat diklasifikasikan menurut empat tipe ideal aksi sosial, yakni:
  • Aksi yang bertujuan, yakni tingkah laku yang ditujukan untuk mendapatkan hasil-hasil yang efisien.
  • Aksi yang berisikan nilai yang telah ditentukan, yang diartikan sebagai perbuatan untuk merealisasikan dan mencapai tujuan.
  • Aksi tradisional yang menyangkut tingkah laku yang melaksanakan suatu aturan yang bersanksi.
  • Aksi yang emosional, yaitu yang menyangkut perasaan seseorang.
    Atas dasar hal-hal tersebut diataslah maka timbul hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat.

Mazhab Hukum

  1. Emile Durkheim
    Ajaran-ajaran Durkheim menggunakan banyak pendekatan termasuk pendekatan hukum. Menurutnya hukum adalah kaidah-kaidah yang bersanksi yang berat ringannya tergantung pada sifat pelanggaran, anggapan-anggapan serta keyakinan masyarakat tentang baik-buruknya suatu tindakan. Di dalam masyarakat terdapat dua macam sanksi kaidahkaidah hukum yaitu sanksi yang refresif (hukum pidana) dan sanksi yang restitutif (hukum perdata, hukum dagang, hukum acara, hukum administrasi dan hukum tata negara setelah dikurangi dengan unsur-unsur pidananya).
  2. Max Weber
    Weber mempunyai latar belakang pendidikan hukum, dia mempelajari pengaruh faktor-faktor politik, agama dan ekonomi terhadap perkembangan hukum. Menurut Weber ada empat tipe ideal hukum :
  • Hukum irasional dan materiil, yaitu dimana pembentuk undang-undang dan hakim mendasarkan keputusan-kepurtusannya semata-mata pada nilai-nilai emosional tanpa menunjuk pada suatu kaidahpun.
  • Hukum irasional dan formal, yaitu dimana pembentuk undang-undang dan hakim berpedoman pada kaidah-kaidah di luas akal, oleh karena didasarkan pada wahyu atau ramalan.
  • Hukum rasional dan materiil, di mana keputusankeputusan para pembentuk undang-undang dan hakim menunjuk pada suatu kitab suci, kebijaksanaan-kebijaksaan penguasa dan ideologi.
  • Hukum rasional dan formal yaitu di mana hokum dibentuk semata-mata atas dasar konsep-konsep abstrak dari ilmu hukum.

Manfaat Metode Dalam Sosiologi

Terdapat dua metode, yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif.

  • Metode kualitatif mengutamakan bahan yang sukar dapat diukur dengan angka-angaka atau ukuran-ukuran lain yang bersifat eksak, walaupun bahan-bahan tersebut ada dengan nyata dalam masyarakat. Dalam metode kualitatif termasuk metode historis dan metode komparatif. Metode historis menggunakan analisis atas peristiwa-peristiwa dalam masa silam untuk menetukan prinsip-prinsip umum. Metode komparatif mementingkan perbandingan antara bermacam-macam masyarakat beserta bidang-bidangnya untuk memperoleh perbedaan-perbadaan dan persamaan-persamaaan serta sebab-sebabnya.
  • Metode kuantitatif mengutamakan bahan-bahan keterangan dengan angka-angka, sehingga gejala yang diteliti dapat diukur dengan skala-skala, indeks, table, formula, yang semuanya menggunakan ilmu pasti.

Dan dua metode lainnya yaitu:

  1. Metode deduktif: berdasarkan hal-hal yang bersifat umum kemudian ditarik ke hal-hal yang lebih khusus.
  2. Dan metode induktif: berdasarkan hal yang khusus kemudian diambil generalisasinya.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Gestur Dalam Ilmu Sosiologi


Perkembangan Sisiologi di Indonesia

Berawal dari ajaran wulan reh yang diciptakan oleh sri paduka mangkunegoro IV dari Surakarta antara lain mengajarkan tata hubungan antara masyarakat jawa yang berasal dari golongan yang berbeda banyak mengandung aspek sosiologi. Kemudian setelah perang dunia kedua, sisiologi di Indonesia banyak mengalami perkembangan yang pesat, diantaranya dikuliahkannya sosiologi sebagai ilmu penegtahuan dalam jurusan pemerintahan dalam negri, hubungan luar negri dan publisistik.


Proses Sosial Dan Interaksi Sosial

Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentu-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang terlah ada. Proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbale-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh-mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dengan hukum, dan seterusnya. Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interkasi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama.


Interaksi Sosial sebagai Faktor Utama dalam Kehidupan Sosial

Bentuk umum proses sosial adalah interaksi social (yang juga dapat dinamakan sebagai proses sosial) karena interasi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial antara kelompok-kelompok manusia terjadi anatara kelompok tersebut sebagai suatu kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya.


Dalam kamus Bahasa Indonesia Innteraksi didifinisikan sebagai hal saling melalkukan akasi, berhubungan atau saling mempengaruhi. Dengan demikian  interaksi adalah hubungan timbale balik (social) berupa aksi salaing mempengaruhi antara indeividu dengan individu, antara individu dankelompok dan antara kelompok dengan dengan kelompok.

Interaksi sosial antara kelompok-kelompok manusia terjadi pula di dalam masyarakat. Interaksi tersebut lebih mencolok ketika terjadi benturan antara kepentingan perorangan dengan kepentingan kelompok. Interaksi sosial hanya berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi terhadap dua belah pihak. Interaksi sosial tak akan mungkin teradi apabila manusia mengadakan hubungan yang langsung dengan sesuatu yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem syarafnya, sebagai akibat hubungan termaksud.


Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada pelbagai faktor :

  • Imitasi
    Imitasi adalah pembentukan nilai melalui dengan meniru cara- cara orang lain. Contoh : Seorang anak sering kali meniru kebiasan – kebiasan orang tuanya .
  • Sugesti
    Adalah suatu ide yang didasari oleh kepercayaan diri, inisiatif, atas dasar ilham, egosentris, atau wawasan pengetahuan, kemudian diterima oleh pihak lain baik secara otoriter ataupun karena berwibawa dan berpengaruh.
  • Identifikasi
    Identifikasi adalah menirukan dirinya menjadi sama dengan orang yang ditirunya. Contoh : Seorang anak laki – laki yang begitu dekat dan akrab dengan ayahnya suka mengidentifikasikan dirinya menjadi sama dengan ayahnya.
  • Simpati
    Adalah rasa tertarik seseorang terhadap orang lain, hal tersebut didasari oleh penghormatan karena mempunyai kelebihan, kemampuan, yang patut dijadikan contoh. Rasa simpati keluar dengan sendirinya tanpa adanya paksaan, kemudian timbul rasa untuk memahami pihak lain dan keinginan untuk bekerjasama.

Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok. Dua syarat terjadinya interaksi sosial :

  • Adanya kontak sosial (social contact)
    yang dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu antar individu, antar individu dengan kelompok, antar kelompok. Selain itu, suatu kontak dapat pula bersifat langsung maupun tidak langsung.
  • Adanya Komunikasi
    yaitu seseorang memberi arti pada perilaku orang lain, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.

Kata kontak berasal dari bahasa Latin con atau cum (artinya bersama-sama) dan tango (yang artinya menyentuh). Arti secara hanafiah adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik, kontak baru terjadi apabila terjadinya hubungan badaniah. Sebagai gejala seosial itu tidak perlu berarti suatu hubungan badaniah, karena dewasa ini dengan adanya perkembangan teknologi, orang dapat menyentuh berbagai pihak tanpa menyentuhnya. Dapat dikatakan bahwa hubungan badaniah bukanlah syarat untuk terjadinya suatu kontak. Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu sebagai berikut,


  1. Antara orang-perorangan
    Kontak sosial ini adalah apabila anak kecil mempelajari kebiasaan- kebiasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi melalui sosialisasi, yaitu suatu proses dimana anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat dimana dia menjadi anggota.
  2. Antara orang-perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya
    Kontak sosial ini misalnya adalah apabila seseorang merasakan bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat atau apabila suatu partai politik memkasa anggota-anggotanya untuk menyesuaikan diri dengan ideologi dan programnya.
  3. Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya
    Umpamanya adalah dua partai politik mengadakan kerja sama untuk mengalahkan parpol yang ketiga di pemilihan umum.

Terjadinya suatu kontak tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan, tetapi juga tanggapan terhadap tindakan tersebut. Kontak sosial yang bersifat positif mengarah pada suatu kerja sama, sengangkan yang bersifat negatif mengarah pada suatu pertentangan atau bahkan sama seali tidak menghasilkan suatu interaksi sosial.

Suatu kontak dapat bersifat primer atau sekunder. Kontak perimer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka. Kontak sekunder memerlukan suatu perantara. Sekunder dapat dilakukan secara langsung. Hubungan-hubungan yang sekunder tersebut dapat dilakukan melalui alat-alat telepon, telegraf, radio, dan seterusnya.


Arti terpenting komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gera-gerak badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.

Dengan adanya komunikasi tersebut, sikap-sikap dan perasaan suatu kelompok manusia atau perseorangan dapat diketahui oleh kelompok lain atau orang lainnya. Hal itu kemudian merupakan bahan untuk menentukan reaksi apa yang dilakukannya.


Kehidupan yang Terasing

Pentingnya kontak dan komunikasi bagi terwujudnya interaksi sosial dapat diuji terhadap suatu kehidupan yang terasing (isolation). Kehiduapan terasing yang sempurna ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengadakan interaksi sosial dengan pihak-pihak lain. Kehidupan terasing dapat disebaban karena secara badaniah seseorang sama sekali diasingkan dari hubungan dengan orang-orang lainnua. Padahal perkembangan jiwa seseorag banyak ditentuan oleh pergaulannya dengan orang lain.


Kehidupan terasing dapat disebabkan karena secara badaniah seseorang sama sekali diasingkan dari hubungan dengan orang-orang lainnya. Terasingnya seseorang dapat pula disebabkan oleh karena cacat pada salat-satu indranya. Dari beberapa hasil penelitian, ternyata bahwa kepribadian orang-orang mengalami banyak penderitaan akibat kehidupan yang terasing karena cacat indra itu. Orang-orang cacat tersebut akan mengalami perasaan rendah diri, karena kemungkinan-kemungkinan untuk mengembangkan kepribadiannya seolah-olah terhalang dan bahkan sering kali tertutup sama sekali.

Pada masyarakat berkasta, dimana gerak sosial vertikal hampir tak terjadi, terasingnya seseorang dari kasta tertentu (biasanya warga kasta rendahan), apabila berada di kalangan kasta lainnya (kasta yang tertinggi), dapat pula terjadi.


Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict). Pertikaian mungkin akan mendapatkan suatu penyelesaian, namun penyelesaian tersebut hanya akan dapat diterima untuk sementara waktu, yang dinamakan akomodasi. Ini berarti kedua belah pihak belum tentu puas sepenunya. Suatu keadaan dapat dianggap sebagai bentuk keempat dari interaksi sosial. Keempat bentuk poko dari interaksi sosial tersebut tidak perlu merupakan suatu kontinuitas, di dalam arti bahwa interaksi itu dimulai dengan kerja sama yang kemudian menjadi persaingan serta memuncak menjadi pertikaian untuk akhirnya sampai pada akomodasi. Gillin dan Gillin mengadakan penggolongan yang lebih luas lagi. Menurut mereka, ada dua macam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial :


1.    Proses-proses yang Asosiatif

a.    Kerja Sama (Cooperation)

Suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai suatu atau beberapa tujuan bersama. Bentuk kerja sama tersebut berkembang apabila orang dapat digerakan untuk mencapai suatu tujuan bersama dan harus ada kesadaran bahwa tujuan tersebut di kemudian hari mempunyai manfaat bagi semua. Juga harus ada iklim yang menyenangkan dalam pembagian kerja serta balas jasa yang akan diterima. Dalam perkembangan selanjutnya, keahlian-keahlian tertentu diperlukan bagi mereka yang bekerja sama supaya rencana kerja samanya dapat terlaksana dengan baik. Kerja sama timbul karena orientasi orang-perorangan terhadap kelompoknya (yaitu in-group-nya) dan kelompok lainya (yang merupakan out-group-nya). Kerja sama akan bertambah kuat jika ada hal-hal yang menyinggung anggota/perorangan lainnya.


Fungsi Kerjasama digambarkan oleh Charles H.Cooley sebagai berikut ”kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut; kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta penting dalam kerjasama yang berguna”

Dalam teori-teori sosiologi dapat dijumpai beberapa bentuk kerjasama yang biasa diberi nama kerja sama (cooperation). Kerjasama tersebut lebih lanjut dibedakan lagi dengan :


  • Kerjasama Spontan (Spontaneous Cooperation): Kerjasama yang sertamerta
  • Kerjasama Langsung (Directed Cooperation): Kerjasama yang merupakan hasil perintah atasan atau penguasa
  • Kerjasama Kontrak (Contractual Cooperation): Kerjasama atas dasar tertentu
  • Kerjasama Tradisional (Traditional Cooperation): Kerjasama sebagai bagian atau unsur dari sistem sosial.

Ada lima bentuk kerjasama, yaitu sebagai berikut:

  1. Kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong-menolong.
  2. Bargaining, yaitu pelaksana perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih.Kooptasi (cooptation), yakni suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan.
  3. Koalisi (coalition), yakni kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu karena dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan mempunyai struktur yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Akan tetapi, karenamaksud utama adalah untuk mencapat satu atau beberapa tujuan bersama, maka sifatnnya adalah kooperatif.
  4. Joint venture, yaitu kerjasama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu, misalnya pengeboran minyak, pertambangan batubara, perfilman, perhotelan, dan seterusnya.

b.    Akomodasi (Accomodation)

Istilah Akomodasi dipergunakan dalam dua arti : menunjuk pada suatu keadaan dan untuk menujuk pada suatu proses. Akomodasi menunjuk pada keadaan, adanya suatu keseimbangan dalam interaksi antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai suatu proses akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha manusia untuk mencapai kestabilan.


Menurut Gillin dan Gillin, akomodasi adalah suatu perngertian yang digunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan adaptasi dalam biologi. Maksudnya, sebagai suatu proses dimana orang atau kelompok manusia yang mulanya saling bertentangan, mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya.


Tujuan Akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya, yaitu:

  1. Untuk mengurangi pertentangan antara orang atau kelompok manusia sebagai akibat perbedaan paham. Akomodasi di sini bertujuan untuk menghasilkan suatu sintesa antara kedua pendapat tersebut, agar menghasilkan suatu pola yang baru.
  2. Mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu atau secara temporer.
  3. Memungkinkan terjadinya kerjasama antara kelompok sosial yang hidupnya terpisah akibat faktor-faktor sosial psikologis dan kebudayaan, seperti yang dijumpai pada masyarakat yang mengenal sistem berkasta.
  4. Mengusahakan peleburan antara kelompok sosial yang terpisah, misalnya lewat perkawinan campuran atau asimilasi dalam arti luas.

Akomodasi sebagai suatu proses mempunyai beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut:

  • Coercion (penggunaan paksaan atau kekerasan),
    Adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh karena adanya paksaan.
  • Compromise (kompromi),
    Adalah suatu bentuk akomodasi dimana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.
  • Arbritation (perwasitan),
    Adalah suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri.
  • Mediation (mediasi)
    Penyelesaian sengketa yang menyerupai arbritation, tetapi pihak ketiga hanya sebagai perantara dan tidak mempunyai kewenangan mengambil prakarsa.
  • Conciliation (konsiliasi),
    Suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.
  •  Toleration (toleransi),
    Merupakan bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya.
  • Stalemate, suatu akomodasi dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada satu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya.
  • Adjudication, Penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.

Hasil-hasil Akomodasi adalah sebagai berikut:

  1. Akomodasi dan Intergrasi Masyarakat
    Akomodasi dan intergrasi masyarakat telah berbuat banyak untuk menghindarkan masyarakat dari benih-benih pertentangan laten yang akan melahirkan pertentangan baru.
  2. Menekankan Oposisi
    Sering kali suatu persaingan dilaksanakan demi keuntungan suatu kelompok tertentu dan kerugian bagi pihak lain.
  3. Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda
    Hal ini tampak dengan jelas apabila dua orang, misalnya bersaing untuk menduduki jabatan pimpinan suatu partai politik.
  4. Perubahan lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan baru atau keadaan yang berubah
  5. Perubahan-perubahan dalam kedudukan
    Akomodasi menimbulkan penetapan baru terhadap kedudukan orang-perorangan dan kelompok-kelompok manusia. Pertentangan telah menyebabkan kedudukan-kedudukan tersebut goyah dan akomodasi akan mengukuhkan kembali kedudukan-kedudukan tersebut.
  6. Akomodasi membuka jalan ke arah asimilasi
    Dengan adanya proses asimilasi, para pihak lebih saling mengenal dan dengan timbulnya benih-benih toleransi mereka lebih mudah untuk saling mendekati.
  7. Akomodasi dan Intergrasi Masyarakat
    Akomodasi dan intergrasi masyarakat telah berbuat banyak untuk menghindarkan masyarakat dari benih-benih pertentangan laten yang akan melahirkan pertentangan baru.
  8. Menekankan Oposisi
    Sering kali suatu persaingan dilaksanakan demi keuntungan suatu kelompok tertentu dan kerugian bagi pihak lain.
  9. Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda
    Hal ini tampak dengan jelas apabila dua orang, misalnya bersaing untuk menduduki jabatan pimpinan suatu partai politik.
  10. Perubahan lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan baru atau keadaan yang berubah
  11.  Perubahan-perubahan dalam kedudukan
    Akomodasi menimbulkan penetapan baru terhadap kedudukan orang-perorangan dan kelompok-kelompok manusia. Pertentangan telah menyebabkan kedudukan-kedudukan tersebut goyah dan akomodasi akan mengukuhkan kembali kedudukan-kedudukan tersebut.
  12. Akomodasi membuka jalan ke arah asimilasi
    Dengan adanya proses asimilasi, para pihak lebih saling mengenal dan dengan timbulnya benih-benih toleransi mereka lebih mudah untuk saling mendekati.

Asimilasi (Assimilation)

Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap, dan proses-proses mental dengan memerhatikan kepentingan dan tujuan bersama. Proses Asimilasi timbul bila ada :

  • kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya;
  • orang-perorangan sebagai warga kelompok tadi saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu yang lama sehingga;
  • kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri.

Beberapa bentuk interaksi sosial yang memberi arah ke suatu proses asimilasi (interaksi yang asimilatif) bila memilii syarat-syarat berikut ini:

  1. Interaksi sosial tersebut bersifat suatu pendekatan terhadap pihak lain, dimana pihak yang lain tadi juga berlaku sama.
  2. Interaksi sosial tersebut tidak mengalami halangan-halangan atau pembatasan-pembatasan