Suku Limbai – Sejarah, Kekerabatan, Filosofi, Tradisi, Nilai-nilai, Mata Pencaharian, Asal Usul

Diposting pada

Suku Limbai – Sejarah, Kekerabatan, Filosofi, Tradisi, Nilai-nilai, Mata Pencaharian, Asal Usul : Orang Limbai merupakan salah satu kelompok orang Dayak yang berdiam dalam wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Pemukiman mereka ini terletak di aliran sungai Ella, salah satu anak sungai Melawi yang termasuk wilayah Kabupaten Sintang.


SUKU LAMBAI

Suku Limbai

Orang Limbai merupakan salah satu kelompok orang Dayak yang berdiam dalam wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Pemukiman mereka ini terletak di aliran sungai Ella, salah satu anak sungai Melawi yang termasuk wilayah Kabupaten Sintang. Dalam kabupaten ini, mereka berada dalam wilayah Kecamatan Kayan Hulu, Kecamatan Ella llir, Kecamatan Menukung.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Suku Serawai” Sejarah & ( Mata Pencaharian – Bahasa – Kekerabatan – Agama – Kepercayaan )


Orang Limbai dapat dibagi atas empat sub kelompok, yakni Limbai Kelait, Limbai Pantai, Limbai Darat dan Limbai Api. Pada tahun 1990 orang Limbai Kelait berjumlah 1.098 jiwa.


Sebagian dari mereka ada yang masih dalam rumah panjang “betang”, tetapi sebagaian besar sudah berdiam dalam rumah-rumah tunggal, seperti yang tampak di dusun-dusun Nanga Landau Mumbung, Nanga Apak, Nanga Siyai dan Belaban Ela. Konon dahulunya mereka berasal dari kawasan lain di luar dusun-dusun yang mereka tempati sekarang.


Kesatuan sosial yang terkecil disebut lawang yang bisa merupakan keluarga batih “perindu” atau keluarga luas tiga generasi “dua perindu atau dua periuk” atau keluarga luas empat generasi “tiga perindu atau tiga periuk”. Satu keluarga batih terdiri dari ayah “apa”, ibu “uma” dan anak-anak mereka yang belum kawin.


Dalam aktivitas ekonomi keluarga batih atau keluarga luas itu merupakan satu kesatuan produksi, artinya orang dewasa dan anak-anak yang sudah 15 tahun ke atas bekerja bersama-sama di ladang, kebun milik keluarga itu dan juga kegiatan berburu.


Namun dalam kegiatan tertentu mereka mungkin memerlukan tenaga tambahan dari luar, maka mereka mengadakan kerja sama secara timbal balik “behar hari” dengan keluarga lain dengan memperhitungkan tenaga dan jumlah hari secara ketat.


Pada kerja sama semacam ini pihak tuan rumah menanggung makan siang. Selain itu kini berkembang pula sistem upah yang dilakukan oleh keluarga yang berpunya atau karena seseorang harus membayar utangnya dengan tenaga.


Asal Usul Suku Limbai

Suku dayak limbai merupakan satu diantara suku-suku yang ada di Kabupaten Melawi. Asal usul dari suku dayak limbai sendiri masih belum diketahui oleh banyak orang tetapi didapat informasi bahwa yang menjadi temenggung pertama suku dayak limbai adalah Tumak Baya dari kelopok dan bonau dari guhung berajang, dan yang menjadi pemimpin suku dayak limbai atau bonuh limbai adalah Cai Elai dari kelait.


Bahasa-bahasa yang diucapkan oleh suku dayak limbai sendiri tak jauh berbeda dengan bahasa-bahasa lainnya di Melawi, seperti bahasa Kubitn dan kenyilu. Salah satu contoh yang paling menonjol yaitu adalah kata Abon untuk mengatakan ‘tidak ada’.


Penutur bahasa limbai diperkirakan berjumlah 11,773 jiwa yang terdiri dari penduduk kecamatan Menukung yang berjumlah 1.047 jiwa dan dikecamatan Kayan Hulu yang berjumlah 2.600 jiwa.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Suku Lauje” Sejarah & ( Mata Pencaharian – Kekerabatan – Agama – Kepercayaan )


Sejarah Suku Limbai

Orang Limbai dapat dibagi menjadi empat subkelompok, yakni Limbai Kelait, Limbai Pantai, Limbai Darat, dan Limbai Api. Pada tahun 1990, orang Limbai Kelait berjumlah 1.098 jiwa.


Sebagian dari mereka, ada yang masih tinggal di rumah panjang (betang), tetapi sebagian besar sudah berdiam di rumah-rumah tunggal, seperti yang tampak di dusun-dusun Nanga Landau Mumbung, Nanga Apak, Nanga Siyai, dan Belaban Ela. Konon, dahulu, mereka berasal dari kawasan lain di luar dusun-dusun yang mereka tempati sekarang.


Kesatuan sosial yang terkecil disebut “lawang”, yang bisa merupakan keluarga batih (perindu) atau keluarga luas tiga generasi (dua perindu atau dua periuk) atau keluarga luas empat generasi (tiga perindu atau tiga periuk). Satu keluarga batih terdiri dari ayah (apa’), ibu (uma’), dan anak-anak mereka yang belum kawin.


Dalam aktivitas ekonomi, keluarga batih atau keluarga luas merupakan satu kesatuan produksi, artinya orang dewasa dan anak-anak yang sudah 15 tahun ke atas bekerja bersama-sama di ladang, kebun milik keluarga itu, dan juga kegiatan berburu.


Namun, dalam kegiatan tertentu, mereka mungkin memerlukan tenaga tambahan dari luar, maka mereka mengadakan kerja sama secara timbal balik (behar hari) dengan keluarga lain dengan memperhitungkan tenaga dan jumlah hari secara ketat.


Pada kerja sama semacam ini, pihak tuan rumah menanggung makan siang. Selain itu, kini berkembang pula sistem upah yang dilakukan oleh keluarga yang berpunya atau karena seseorang harus membayar utangnya dengan tenaga.


Sistem Kekerabatan Suku Limbai

Dalam sistem kekerabatan mereka menganut prinsip bilineal atau cognatixc artinya menarik garis keturunan kepada pihak ayah dan pihak ibu, meskipun pihak ayah lebih kuat dari pada pihak ibu.


Sebagai contoh perkawinan antara sepupu tingkat pertama “sana tua” diperkenankan sepanjang keduanya dari pihak ibu, sebaliknya akan dilarang “mali” bila keduanya masing-masing dari pihak ayah dan ibu atau keduanya dari pihak ayah.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Suku Lematang” Sejarah & ( Bahasa – Mata Pencaharian – Agama – Kepercayaan )


Prinsip pewarisan jatuh pada anak bungsu “bungsu” laki-laki ataupun perempuan “ultimogeniture” jika seseorang meninggalkan keluarga asalnya karena kawin, maka ia tidak lagi memiliki hak atas sejumlah harta pusaka berupa gong, tempayan kuno, kebun, babi atau sapi.


Mata Pencaharian Suku Limbai

Mata pencaharian utamanya ialah berladang dengan padi sebagai tanaman pokok. Selain itu mereka juga menanam jagung, ubi kayu, ubi jalar, sayur-mayur, pisang dan lainnya. Selain itu mereka juga sudah mulai membudidayakan karet, kopi, tengkawang, cengkeh.


Pada masa yang lebih akhir “1980” banyak anak-anak muda, misalnya dari Dusun Siyai, yang menjadi buruh di perusahaan kayu atau mencari gaharu dihutan yang jatuh dari lokasi pemukiman mereka dan memakan waktu berhari-hari untuk mengisi kebutuhan sehari-hari.


Hal ini terjadi karena mereka tidak banyak memiliki kebun karet, meluasnya padang alang-alang dan semakin sempitnya lahan untuk ladang, karena masuknya tiga perusahaan kayu ke wilayah pemukiman mereka.


Filosofi Kehidupan Suku Limbai

Pada dasarnya warga masyarakat suku dayak limbai bertahan hidup dan mencari rezeki dengan mata pencarian utamanya yaitu berladang disawah perbukitan, menyadap dan mengambil semua cairan-cairan dari pohon karet lalu diolah.


Meskipun dibilang mata percarian utama masyarakat suku dayak limbai, tetapi mereka juga punya punya mata pencarian tambahan agar kebutuhan masyarakat limbai bisa teratasi dengan berkebun sayur mayur, memelihara hewan ternak,


mencari kayu-kayu dihutan untuk bahan-bahan bangunan untuk dijual maupun dipakai sendiri, dan masyarkat suku limbai juga berburu binatang dihutan dan menangkap ikan dilaut. Dan jangan salah bahwa masyarakat suku limbai juga tidak sedikit yang menjadi Pegawai Negeri, Karyawan swasta dan menjadi pedagang dipasar-pasar.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Perusahaan Di Indonesia Berdasarkan Bentuk Hukumnya


Tradisi Suku Limbai

Tradisi yang ada di suku dayak limbai yaitu Tradisi Lisan. Tradisi lisan yaitu cerita daerah dan pengobatan dari suku dayak limbai. Dalam cerita-cerita daerah tersebut dikaitkan dengan cerita-cerita kepahlawanan, dan dalam saat pengobatan cerita-ceritanya tersebut dilagukan, dan lagu tersebut dinamakan dengan belian.


Tradisi pengobatan lisan ini dapat dilakukan hampir satu malam pelaksanaannya dan setelah itu barulah mulai untuk menyembuhkan penyakit yang akan disembuhkan.


Rata-rata yang dapat melakukan proses ritual pengobatan ini adalah laki-laki. Berbeda dengan masyarakat suku Uud Danum yang dimana rata-rata yang bisa melakukan proses ritual pengobatan ini adalah wanita, yang disebut dengan jaja.


Nilai-nilai yang dapat diambil dari suku Limbai

Meskipun suku dayak limbai tinggal jauh ke arah daratan tetapi mereka tetap bersemangat dalam mencari rezeki dan tetap dapat bertahan hidup sampai sekarang dengan perkerjaan yang halal, dan bahkan warga suku dayak limbai juga dapat menjadi Pegawai Negeri atau Swasta yang dimana berarti suku dayak limbai mempunyai semangat juang yang tinggi.


Jadi jika warga suku dayak limbai tetap semangat dalam hidupnya meskipun permukimannya jauh dari daratan, berarti kita harus lebih bersemangat lagi karena kita hidup diperkotaan yang dimana semua fasilitas sudah tersedia.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Suku Solor” Sejarah & ( Bahasa – Mata Pencaharian – Kekerabatan – Agama )