Pengertian, Fungsi, Dan Jenis-Jenis Pranata Sosial Beserta Cirinya Lengkap

0/50 ratings

Pengertian, Fungsi, Dan Jenis-Jenis Pranata Sosial Beserta Cirinya Lengkap – Selamat datang di gurupendidikan.com pada kesempatan sebelumnya sudah membahas tentang pranata ekonomi, pranata keluargapranata ekonomi , pranata pendidikan dan pranata politik. Pada kesempatan kali ini disini akan membahas tentang pengertian pranata sosial, Ciri pranata sosial, fungsi pranata sosial, dan jenis pranata sosial secara lengkap. Oleh karena itu marilah simak ulasan yang ada dibawah berikut ini.

pranata-sosial

Pengertian Pranata Sosial Menurut Para Ahli

  • Durkheim mengemukakan bahwa sosiologi mempelajari institusi. Dalam bahasa Indonesia dijumpai terjemahan berlainan dari konsep institution. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964), misalnya, menggunakan istilah “lembaga kemasyarakatan” sebagai ter-jemahan konsep social institution. Koentjaraningrat, Mely G. Tan dan Harsja W. Bachtiar menggunakan istilah “pranata.”

 

  • Sebagaimana halnya dalam konsep lain, maka mengenai konsep institusi pun dijumpai berbagai definisi. Kornblum (1988:60) membuat definisi sebagai berikut: “… an institution is a more or less stable structure of statues and roles devoted to meeting the basic needs of people in society”—suatu struktur status yang diarahkan ke pemenuhan keperluan dasar anggota masyarakat. Harry M. Johnson mengemukkan bahwa institusi ialah “seperangkat norma yang terinstitusionalisasi (institutionalized),” yaitu: (1) telah diterima sejumlah besar anggota system sosial; (2) ditanggapi secara sungguh-sungguh (internalized); (3) diwajibkan, dan terhadap pelanggarnya dikenakan sanksi tertentu.

 

  • Perumusan terakhir yang akan dibahas di sini bersumber pada Peter L. Berger (1978:104), yang mendefinisikan institusi sebagai “a distinctive complex of social actions.” Untuk memudahkan pemahaman mengenai konsep institusi Berger mengacu pada pendapat Arnold Gelhen yang menamakan institusi suatu “regulatory agency” yang menyalurkan tindakan manusia laksana naluri mengatur tindakan hewan.

Contoh yang dikemukakan Berger ialah dorongan untuk menikah; dalam banyak masyarakat dorongan untuk menikah merupakan suatu dorongan yang menyerupai suatu naluri, namun dorongan tersebut sebenarnya bukan naluri melainkan ditanamkan pada dirinya oleh masyarakat melalui institusi seperti keluarga, pendidikan, agama, media massa, iklan (Berger, 1978:105).

 

Para sosiolog telah berusaha merumuskan arti dari pranata (institusi) yang di antaranya adalah:

  1. Horton merumuskan bahwa pranata sosial adalah suatu sistem hubungan-hubungan sosial yang memandang nilai-nilai dan prosedur-prosedur tertentu dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat.
  2. Landis merumuskan bahwa pranata sosial adalah sebagai struktur budaya formal yang dirancang untuk menemukan dan memenuhi kebutuhan sosial yang pokok.
  3. Fitcer mengemukakan bahwa pranata sosial adalah strktur dari pola-pola sosial yang permanen. Pola-pola ini mengandung perananan dan hubungan-hubungan manusia dengan dukungan sangsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial yang pokok.
  4. Robert Mac Iver dan C.H. Page mengemukakan bahwa pranata sosial merupakan prosedur atau tata cara yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antarmanusia yang tergabung dalam suatu kelompok masyarakat.
  5. Leopold Von Wiese dan Becker mengemukakan bahwa pranata sosial adalah jaringan proses-proses hubungan antara manusia dan antarkelompok sosial yang berfungsi memelihara hubungan-hubungan itu serta pola-polanya sesuai dengan minat dan kepentingan individu dan kelompoknya.
  6. Soerjono Soekanto; pranata sosial merupakan lembaga kemasyarakatan yang diartikan sebagai himpunan norma dari berbagai tindakan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain, pranata sosial merupakan kumpulan norma (sistem norma) dalam hubungannya dengan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.
  7. Koentjaraningrat; pranata sebagai suatu sistem norma, khususnya yang menata suatu rangkaian tindakan berpola resmi untuk memenuhi suatu keperluan khusus dari manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
  8. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi; pranata sosial adalah semua norma dari segala tingkat yang berkisar pada suatu keperluan pokok dalam kehidupan masyarakat merupakan suatu kelompok yang diberi nama lembaga masyarakat.

 

 

Pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dalam hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi berbagai kebutuhan khusus dalam masyarakat. Pranata sosial berasal dari bahasa asing social institutions, itulah sebabnya ada beberapa ahli sosiologi yang mengartikannya sebagai lembaga kemasyarakatan, di antaranya adalah Soerjono Soekanto.  Lembaga kemasyarakatan diartikan sebagai himpunan norma dari berbagai tindakan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain, pranata sosial merupakan kumpulan norma (sistem norma) dalam hubungannya dengan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.


  • Tujuan Pranata Sosial

 

Menurut Koentjaraningrat, pranata sosial memiliki delapan tujuan, antara lain :

  1. Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sosial dan kekerabatan yaitu disebut kinship atau domestic institutions.
  2. Pranata yang memenuhi kebutuhan manusia seperti mata pencaharian hidup memproduksi, menimbun dan mendistribusi harta benda atau economic institutions.
  3. Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan dan pendidikan atau educational institutions.
  4. Pranata yang memenuhi kebutuhan ilmiah manusia atau scientific institutions.
  5. Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk menyatakan keindahan dan rekreasi.
  6. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia dalam berhubungan dengan Tuhan atau religius institutions.
  7. Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam membangun kehidupan berkelompok atau bernegara atau political institutions.

Pranata yang memenuhi kebutuhan jasmani manusai atau somatic institutions.


Fungsi pranata sosial

Berikut ini fungsi-fungsi pranata sosial.

  1. Memberikan pedoman kepada anggota masyarakat dalam hal bertingkah laku dan bersikap dalam menghadapi masalah kemasyarakatan.
  2. Menjaga keutuhan dan integrasi masyarakat.
  3. Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial, artinya sistem pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku anggota-anggotanya.

 

Selain fungsi umum tersebut, pranata sosial memiliki dua fungsi besar yaitu fungsi manifes (nyata) dan fungsi laten (terselubung).

 

  1. Fungsi manifes adalah fungsi pranata sosial yang nyata, tampak, disadari dan menjadi harapan sebagian besar anggota masyarakat. Misalnya dalam pranata keluarga mempunyai fungsi reproduksi yaitu mengatur hubugnan seksual untuk dapat melahirkan keturunan.
  2. Fungsi laten adalah fungsi pranata sosial yang tidak tampak, tidak disadari dan tidak diharapkan orang banyak, tetapi ada. Misalnya dalam pranata keluarga mempunyai fungsi laten dalam pewarisan gelar atau sebagai pengendali sosial dari perilaku menyimpang.

 


Ciri-ciri pranata sosial

Meskipun pranata sosial merupakan sistem norma, tetapi pranata sosial yang ada di masyarakat memiliki ciri serta kekhasan tersendiri yang membedakannya dengan norma sosial.

 

Adapun ciri-ciri atau karakteristik pranata sosial adalah meliputi hal-hal berikut ini.

  • Memiliki Lambang-Lambang/Simbol

Setiap pranata sosial pada umumnya memiliki lambang-lambang atau simbol-simbol yang ter-wujud dalam tulisan, gambar yang memiliki makna serta menggambarkan tujuan dan fungsi pranata yang bersangkutan. Contoh cincin pernikahan sebagai simbol dalam pranata keluarga, burung garuda merupakan simbol dari pranata politik negara Indonesia.

 

  • Memiliki Tata Tertib dan Tradisi 

Pranata sosial memiliki aturan-aturan yang menjadi tata tertib serta tradisi-tradisi baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang akan menjadi acuan serta pedoman bagi setiap anggota masyarakat yang ada di dalamnya. Contohnya dalam pranata keluarga seorang anak wajib bersikap hormat kepada orang tua, namun tidak ada aturan tertulis yang baku tentang deskripsi sikap tersebut. Sementara itu dalam pranata pendidikan ada aturan-aturan tertulis yang wajib dipatuhi semua warga sekolah yang tertuang dalam tata tertib sekolah.

 

  • Memiliki Satu atau Beberapa Tujuan 

Pranata sosial mempunyai tujuan yang disepakati bersama oleh anggota masyarakat. Tujuan pranata sosial kadang tidak sejalan dengan fungsinya secara keseluruhan. Contoh: Pranata ekonomi, antara lain bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

  • Memiliki Nilai

Pranata sosial merupakan hasil pola-pola pemikiran dan pola-pola perilaku dari sekelompok orang atau anggota masyarakat, mengenai apa yang baik dan apa yang seharusnya dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian pranata sosial terdiri atas adat istiadat, tradisi atau kebiasaan serta unsur-unsur kebudayaan lain yang secara langsung maupun tidak langsung bergabung dalam suatu fungsi, sehingga pranata sosial tersebut mempunyai makna atau nilai di dalam masyarakat tersebut. Contoh tradisi dan kebiasaan dalam pranata keluarga adalah sikap menghormati atau sikap sopan santun terhadap orang yang lebih tua.

 

  • Memiliki Usia Lebih Lama (Tingkat Kekekalan Tertentu) 

Pranata sosial pada umumnya memiliki umur lebih lama daripada umur manusia. Pranata sosial pada umumnya tidak mudah berganti atau berubah. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya pranata sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pranata sosial yang telah diterima akan melembaga pada setiap diri anggota masyarakat dalam jangka waktu relatif lama sehingga dapat di-tentukan memiliki tingkat kekekalan tertentu. Contohnya tradisi silaturahmi pada waktu hari raya lebaran, merupakan tradisi turun temurun dari dulu hingga sekarang.

 

  • Memiliki Alat Kelengkapan

Pranata sosial dan memiliki sarana dan prasarana yang digunakan untuk mencapai tujuan. Misalnya mesin produksi pada sebuah pabrik merupakan sarana dalam pranata ekonomi untuk menghasilkan barang.


  • Tipe-tipe Pranata Sosial dalam Masyarakat Dan Contohnya

 

Berdasarkan fungsi-fungsi secara umum dan karakteristiknya tersebut, pranata sosial   dapat diklasifikasikan dari berbagai sudut. Berikut ini beberapa tipe atau penggolongan pranata sosial.

 

  • Berdasarkan perkembangannya, pranata sosial dapat dibedakan menjadi crescive institutions dan enacted institutions.

 

  1. Crescive institutions adalah pranata sosial yang secara tidak sengaja tumbuh dari kebiasaan masyarakat. Contohnya : tata cara perkawinan, norma-norma, dan berbagai upacara adat.

 

  1. Enacted institutions adalah pranata sosial yang sengaja dibentuk untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Contohnya : lembaga pendidikan, lembaga keuangan, lembaga kesehatan, dan lain-lain. 

 

  • Berdasarkan sistem nilai/kepentingan yang diterima masyarakat, pranata sosial dapat dibedakan menjadi basic institutions dan subsidiary institutions.

 

  1. Basic institutions adalah pranata sosial yang dianggap penting dalam upaya pengawasan terhadap tata tertib di masyarakat. contohnya keluarga, sekolah, dan negara.

 

  1. Subsidiary institutions adalah pranata yang dianggap kurang penting. contohnya tempat-tempat hiburan atau rekreasi. 
  • Berdasarkan penerimaan masyarakat, pranata sosial dapat dibedakan menjadi approved institutions dan unsanctioned institutions.

 

  1. Approved institutions adalah bentuk pranata sosial yang diterima secara umum oleh masyarakat. contohnya lembaga pendidikan, lembaga peradilan, dan lainlain.

 

  1. Unsanctioned institutions adalah bentuk pranata sosial yang secara umum ditolak oleh masyarakat. contohnya berbagai perilaku penyimpangan, seperti merampok, memeras, pusat-pusat perjudian, prostitusi, dan lain-lain.

 

  • Berdasarkan faktor penyebarannya, pranata sosial dapat dibedakan menjadi general institutions dan restricted institutions.

 

  1. General institutions adalah bentuk pranata sosial yang diketahui dan dipahami masyarakat secara umum. contohnya keberadaan agama dalam kehidupan.

 

  1. Restricted institutions adalah bentuk pranata sosial yang hanya dipahami oleh anggota kelompok tertentu. contohnya pelaksanaan ajaran agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, atau berbagai aliran kepercayaan lainnya.

 


Jenis-Jenis Pranata Sosial

Dalam kehidupan masyarakat, terdapat lima jenis pranata sosial, yaitu sebagai berikut :

  • Pranata keluarga, yaitu suatu sistem nilai atau aturan-aturan yang mengatur aktivitas-aktivitas anggota keluarga di lingkungannya. Pranata keluarga ialah suatu bagian dari pranata sosial yang wilayah berlakunya meliputi sebuah lingkungan keluarga dan kerabat.
  • Pranata Agama yaitu sebuah pranata yang memiliki andil penting dalam menuntun serta mengatur jalan hidup manusia. Agama yaitu sebuah kepercayaan kepada Tuhan yang maha esa, sisitem budaya, serta pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan dari kehidupan dengan berbagai ajaran, larangan, anjuran dan kewajiban yang mengikat bagi umatnya.
  • Pranata pendidikan, Kata pendidikan berasal dari bahasa Latin, Educare yang berarti keluar. Pendidikan yaitu suatu proses membimbing manusia dari kegelapan menuju kecerdasan pengetahuan dari tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan adalah suatu proses yang terjadi karena proses interaksi berbagai faktor yang menghasilkan penyadaran diri dan penyadaran lingkungan sehingga menampilkan rasa percaya akan lingkungan.
  • Pranata ekonomi yaitu suatu sistem norma atau kaidah yang mengatur tingkah laku individu dalam masyarakat guna memenuhi kebutuhan barang dan jasa.
  • Pranata politik yaitu suatu peraturan-peraturan untuk memelihara tata tertib, untuk mendamaikan pertentangan-pertentangan, dan untuk memilih pemimpin yang berwibawa. Pranata politik merupakan perangkat norma dan status yang mengkhususkan diri pada pelaksanaan dan wewenang. Dengan demikian pranata politik akan meliputi eksekutif, legislatif, yudikatif, militer dan partai politik.

Contoh kasus Pranata Sosial dalam keluarga :

 

Pada umumya orang mempercayai bahwa suatu perkawinan adalah sesuatu yang sacral, oleh karenanya setiap keluarga berupaya menjaga agar tetap utuh. Meski demikian perkawinan terkadang harus menghadapi kenyataan bahwa ikatan yang mempertalikan suami istri terputus, sehingga terjadilah perpisahan atau perceraian. Selain itu juga ada beberapa problem keluarga yang lain, yaitu kekerasan di dalam rumah tangga, seperti pemukulan, dan juga broken home.

 

Untuk mempelajari kekerasan terhadap pasangan, beberapa sosiolog telah mempelajari korban secara mendalam (Goetting 2001), sedangkan sosiolog lain telah mewawancarai suatu sampel representative dari pasangan Amerika Serikat (Straus dan Gelles 1988; Straus 1992). Meskipun tidak disepakati oleh semua sosiolog (Dobash dkk. 1992, 1993; Pagelow 1992), Murray Straus menyimpulkan bahwa suami dan istri berpeluang sama untuk menyerang satu sama lain. Meskipun kesetaraan gender ada, dampak dari kekerasan menunjukkan hal yang sebaliknya. 85 persen dari mereka yang cedera adalah perempuan (Renisson 2003).

 

Sebagian besar alasannya tentu saja karena sebagian besar suami lebih besar dan lebih kuat dibandingkan istri mereka, sehingga para istri berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dalam pertempuran antar jenis kelamin (secara harafiah). Kekerasan terhadap perempuan berhubungan dengan struktur masyarakat yang mendiskriminasikan gender. Karena mereka dibesarkan dengan norma yang mendorong agresi dan penggunaan kekerasan, beberapa orang laki – laki merasa bahwa berhak mengendalikan perempuan.

 

Jika mereka mengalami frustasi tentang hubungan yang mereka jalani, atau bahkan peristiwa di luar hubungan itu sendiri, beberapa laki – laki mengarahkan kemarahan mereka pada pada istri bahkan anak – anaknya. Pertanyaan sosiologis mendasar ialah bagaimana cara mensosialisasikan para suami untuk menangani frustasi dan perbedaan pendapat tanpa harus berpaling  ke kekerasan (Rieker dkk. 1997). Masalah pertengkaran tersebut akan dapat berkelanjutan sehingga menjadikan suatu percerai.

 

Pembahasan kasus :

 

Setelah mempelajari perceraian dan penganiayaan keluarga, orang dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa pernikahan jarang berhasil. Untuk mengetahui apa yang membuat suatu perkawinan yang berhasil, sosiolog Jeanette dan Robert Lauer (1992) mewawancarai 351 pasangan yang telah menikah selama lima belas tahun atau lebih. Terdapat 51 pasangan tidak memiliki perkawinan yang bahagia, tetapi pasangan tersebut tetap memutuskan untuk tidak bercerai karena alasan agama, tradisi keluarga, atau “demi anak”.

 

Di sisi lain, 300 pasangan yang merasa bahagia, semuanya menganggap pasangan mereka sebagai teman terbaik mereka, menganggap perkawinan sebagai komitmen seumur hidup, bahwa perkawinan bersifat sacral, percaya bahwa pasangan mereka telah tumbuh menjadi seseorang yang semakin menarik seiring dengan waktu, dan sangat menginginkan agar hubungan mereka langgeng. Sosiolog lain telah menemukan bahwa semakin baik hubungan pasangan dengan mertua, semakin bahagia perkawinannya (Bryant dkk. 2001).

 

Dari jurnal di atas juga dapat ditarik kesimpulan bahwa beberapa penyebab perceraian karena perselingkuhan dari pihak suami atau istri, faktor ekonomi dalam keluarga. “jika seorang istri berpenghasilan lebih tinggi daripada suaminya, pernikahannya lebih berpeluang kandas; jika seorang suami berpenghasilan lebih tinggi daripada istrinya, peluang terjadinya perceraian lebih sedikit” Alex Heckert, Thomas Nowak, dan Kay Snyder (1995).

 

Perceraian akan membawa dampak diantaranya tidak berjalannya fungsi seks dan reproduksi, tidak berfungsinya sosialisasi (anak menjadi terlantar karena kurang perhatian dari anggota keluarga, terutama orang tua yang bercerai), fungsi afeksi dan perlindungan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

 

 Referensi :
  1. M. James Henslin Sosiologi dengan Pendekatan Membumi Penerbit Erlangga.
  2. Sunarto Kamanto Pengantar Sosiologi.

 


Itulah ulasan tentang  Pengertian, Fungsi, Dan Jenis-Jenis Pranata Sosial Beserta Cirinya Lengkap Semoga apa yang diulas diatas bermanfaat bagi pembaca. Sekian dan Terima Kasih.


Loading...
/* */
Click to Hide Advanced Floating Content