Pengertian Konsumen

Diposting pada

Didalam suatu proses distribusi konsumen merupakan akhir dari suatu proses distribusi, konsumen adalah pengguna atau pemanfaat akhir dari suatu produk. Pada kesempatan kali ini disini akan mengulas tentang pengertian konsumen, hak konsumen, dan kewajiban konsumen secara lengkap. Oleh karena itu marilah simak ulasan yang ada dibawah berikut ini.

Pengertian-Konsumen
Pengertian-Konsumen

Pengertian Konsumen

Kata konsumen berasal dari kata consumer (Inggris-Amerika), atau consument/konsument (Belanda). Secara harafiah arti kata consumer yaitu (lawan dari produsen) setiap orang yang menggunakan barang. Konsumen pada umumnya adalah sebagai pemakai terakhir dari produk yang diserahkan kepada mereka oleh pengusaha, yakni setiap orang yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan atau diperjual belikan lagi. Konsumen menurut Pasal 1 angka 2 undang-Undang Perlindungan Konsumen yaitu setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.


Pengertian Konsumen Menurut Para Ahli

Berikut ini adalah pengertian konsumen menurut para ahli, sebagai berikut:


1. Menurut Dewi

Berdasarkan keterangan dari Dewi (2013:1), definisi konsumen ialah seseorang yang memakai suatu produk (barang dan/atau jasa) yang dipasarkan.


2. Menurut Sri Handayani

Berdasarkan keterangan dari Sri Handayani (2012:2), definisi konsumen ialah seseorang/ sebuah organisasi yang melakukan pembelian atau memakai sejumlah barang atau jasa dari pihak lainnya.


3. Menurut Aziz Nasution

Berdasarkan keterangan dari Aziz Nasution, makna konsumen ialah setiap orang yang menemukan barang atau jasa yang dipakai untuk destinasi tertentu.

Baca Juga : Penjelasan Karakteristik Konsumen Dalam Ekonomi


4. Menurut Philip Kotler

Berdasarkan keterangan dari Philip Kotler (2000) dalam bukunya “Principles Of Marketing”, definisi konsumen ialah semua pribadi dan lokasi tinggal tangga yang melakukan pembelian atau mendapat barang atau jasa guna dikonsumsi secara pribadi.


Jenis-Jenis Konsumen

Berikut ini adalah jenis-jenis konsumen, sebagai berikut:


1. Konsumen Perorangan (Personal Consumer)

konsumen perorangan (personal consumer) adalah konsumen yang membeli/ menggunakan suatu produk (barang/ jasa) untuk kebutuhan diri sendiri.

Personal consumer sering pun disebut dengan istilah end user. Contoh konsumen akhir; individu, keluarga.


2. Konsumen Organisasi (Organizational Consumer)

konsumen organisasi (organizational consumer) adalah konsumen yang membeli/ menggunakan suatu produk (barang/ jasa) untuk kebutuhan operasional organisasi tersebut.


Hak-Hak Konsumen

Dalam Pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Konsumen diatur mengenai hak konsumen. Hak konsumen yaitu sebagai berikut :

  1. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
  2. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
  3. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
  4. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
  5. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
  6. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
  7. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
  8. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai
  9. dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
  10. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Baca Juga : Pengertian Perilaku Konsumen – Teori, Model, Ciri, Pendekatan, Para Ahli


Kewajiban Konsumen

kewajiban konsumen juga diatur di dalam Pasal 7 Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Kewajiban konsumen yaitu antara lain sebagai berikut ini :
  • beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
  • membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
  • mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.

Menyangkut kewajiban konsumen beriktikad baik hanya tertuju pada sebuah transaksi pembelian barang dan/atau jasa. Hal ini tentu saja dikarenakan karena bagi konsumen, kemungkinan untuk bisa merugikan produsen mulai pada saat melakukan suatu transaksi dengan produsen. Berbeda dengan pelaku usaha kemungkinan terjadinya sebuah kerugian bagi konsumen dimulai sejak barang dirancang/diproduksi oleh produsen (pelaku usaha).


Kewajiban lain yang perlu mendapat penjelasan lebih lanjut yaitu kewajiban konsumen mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut. Kewajiban ini dianggap sebagai hal baru, sebab sebelum diundangkannya Undang-Undang Perlindungan Konsumen hampir tidak dirasakan adanya suatu kewajiban secara khusus seperti ini dalam perkara perdata, sementara dalam kasus pidana tersangka/terdakwa lebih banyak dikendalikan oleh aparat kepolisian dan/atau kejaksaan.


Karakter Konsumen

Berikut ini adalah karakter dari konsumen, sebagai berikut:


1. Konsumen Potensial

Tipe konsumen potensial ini mesti menjadi prioritas dari target pasar Anda. Secara teknis, konsumen potensial belum menjadi konsumen Anda, bakal tetapi paling berpotensi guna menjadi konsumen.

Pastikan Anda menyerahkan pelayanan dan informasi yang menyeluruh dan terbaik untuk tipe konsumen potensial.

pe-tipe ini seringkali telah menunjukan ketertarikannya terhadap produk atau jasa yang kita jual, baik melewati pengisian form contact, pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan kepada marketing channel yang kita miliki, atau minimal telah mendatangi website kita dan mengerjakan subscribe.

Untuk konsumen potensial ini, kita dapat mengerjakan sedikit pancingan guna sesegera barangkali membuatnya memungut keputusan guna membeli.

Salah satu caranya ialah dengan menyerahkan diskon untuk mereka. Tentunya, menyerahkan diskon untuk konsumen potensial bakal menjadi cara yang paling efektif.

Akan tetapi, pastikan Anda pun telah menunjukan nilai dari produk atau servis yang kita jual secara jelas untuk para konsumen potensial sebelum menyerahkan diskon.

Baca Juga : Globalisasi Ekonomi – Pengertian, Sistem, Ciri, Positif, Negatif, Contoh


2. Konsumen Baru

Kali ini, Anda bakal berhadapan dengan orang-orang yang baru saja melakukan pembelian produk Anda.

Konsumen baru seringkali akan menginjak fase beradaptasi ketika mencoba mengerjakan pembelian kesatunya, sampai-sampai Anda butuh meyakinkan bahwa fase beradaptasi ini berlangsung dengan lancar.

Meskipun kita telah sukses membuat mereka melakukan pembelian produk Anda, akan namun Anda tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja.

Anda mesti meyakinkan masing-masing konsumen baru merasa nyaman dan merasa senang dalam memakai produk atau jasa yang kita jual.

Untuk meyakinkan konsumen baru merasa nyaman dan senang, kita perlu menyerahkan arahan untuk konsumen baru tersebut.

Biasanya proses memberi arahan dilaksanakan dengan menyerahkan penjelasan menyeluruh mengenai produk dan teknik pemakaiannya ataupun sistem kerjanya.


3. Konsumen Impulsif

Tipe dari konsumen ini ialah tipe konsumen yang dapat menciptakan keputusan dengan cepat, bergantung bilamana kondisi yang terjadi paling tepat.

Anda tidak perlu mengerjakan hal persuasif berlebihan dalam meyakinkan tipe konnsumen yang mempunyai sifat impulsif. Apa yang diperlukan konsumen yang bertipe impulsif ialah kemudahan yang diberikan.

Semakin gampang langkah-langkah yang diserahkan untuk dapat melakukan pembelian produk atau servis Anda, maka semakin besar peluang konsumen impulsif akan menyimpulkan untuk membeli.

Contoh: Jika kita menawarkan jasa ekspedisi barang, maka fasilitas yang kita tawarkan seperti fasilitas melakukan tracking barang yang dikirim, atau fasilitas dalam pick-up barang bakal menjadi di antara hal urgen yang bakal mendorong konsumen impulsif untuk menyimpulkan pembelian.


4. Konsumen Diskon

Konsumen tipe ini ialah seorang konsumen yang sudah meliat nilai yang kita tawarkan dari produk atau servis, akan namun tetap tak mau untuk membelinya pada harga yang ada.

Untuk menanggulangi konsumen tipe ini, usaha mempersuasif mereka barangkali akan menjadi sia-sia. Hal yang bisa Anda lakukan ialah dengan memberikan sejumlah diskon atau penawaran untuk mereka.

Namun, disaat diskon yang kita berikan sudah habis, Anda barangkali akan kendala untuk menjaganya menjadi pelanggan.

Konsumen jenis ini seringkali akan pergi begitu diskon yang diserahkan suda berakhir dan tidak berlaku. Maka dari itu, untuk menambah peluang kita dalam mengawal konsumen tipe ini sebagai pelanggan, kita perlu mengindikasikan kepadanya bahwa dia tidak melulu mendapatkan produk dengan harga diskon, namun pun mendapat customer service yang spektakuler dengan pembeliannya.

Baca Juga : Ekonomi Mirkro – Pengertian, Kelebihan, Penerapan, Kegagalan, Perbedaan, Ruang Lingkup, Komponen, Tujuan, Contoh


5. Konsumen Loyal

Anda pastinya bercita-cita bahwa seluruh konsumen yang dipunyai mempunyai sifat loyal untuk produk atau servis Anda.

Konsumen loyal seringkali akan tetap berpulang pada Anda, dan bahkan bisa mejadi brand ambassador untuk Anda dengan bisa jadi word of mouth marketing yang terjadi.

Konsumen loyal bakal merekomendasikan produk atau servis Anda untuk teman maupu keluarganya. Sebab itu, konsumen tipe ini mempunyai pengaruh yang luar biasa untuk bisnis Anda.

Selalu berikan seluruh yang terbaik untuk mereka secara produk maupun after sales service, dan lihat hasil yang bakal diberikan.


Contoh Konsumen

Berikut ini adalah contoh dari konsumen, sebagai berikut:

  • Warga Desa Wedani melakukan pembelian baju seragam, maka beliau sebagai konsumen baju.
  • Pak Sabar melakukan pembelian barang elektronik, maka pak Sabar sebagai konsumen
  • Pak Lurah melakukan pembelian semen dan pasir, maka Pak lurah sebagai konsumen

Baca Juga : Pasar Bebas – Pengertian, Sejarah, Fungsi, Ciri, Kelebihan, Kekurangan, Dampak, Tujuan, Para Ahli