Spesifikasi Bacillariophyceae Beserta Penjelasannya

Diposting pada

Pengertian Bacillariophyta, Klasifikasi, Ciri, Struktur dan Karakteristik adalah alga bersifat uniseluler atau berbentuk koloni, pola persebarannya tersebar di air tawar dan air asin. Dinding sel terdiri dari dua lapisan, atau katup, yang saling menutupi.

pengertian-bacillariophyta

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Fagellata (Mastigophora) Beserta Ciri Dan Reproduksinya

Pengertian Bacillariophyta (Diatom)

Bacillariophyta adalah alga bersifat uniseluler atau berbentuk koloni, pola persebarannya tersebar di air tawar dan air asin. Kebanyakan spesies berenang-renang bebas, tetapi beberapa menempel pada tumbuhan atau benda-benda lain. Dinding sel terdiri dari dua lapisan, atau katup, yang saling menutupi. Bentuk umum sel itu persegi panjang sampai bulat. (Almeida, 2001). Jumlah diatom sangat banyak, diperkirakan mencapai 16.000 Jenis. Karena jumlahnya yang banyak, diatom yang berperan sebagai salah satu fitoplankton menjadi komponen produsen penting di perairan laut.


Diatom ada yang hidup sendiri dan ada yang berkoloni membentuk filamen. Sebagian hidup bebas di permukaan air, beberapa jenis yang lain hidup menempel pada substrat. Bacillariophyta memiliki makanan yang disimpan sebagai leukosin yang berupa tetes-tetes minyak dan memiliki pigmen fotosintetik, yaitu klorofil a, klorofil c, xantofil, dan karoten.

Taksonomi dan Morfologi

Diatom merupakan fitoplankton yang bersifat uniseluler , namun seringkali ditemukan dalam bentuk koloni. Diatom secara istilah berarti 2 bagian yang tidak dapat dibagi lagi yang mencerminkan struktur sel diatom.

Diatom berasal dari bahasa Yunani yaitu Dia (through) dan Tomos (cutting) adalah kelompok alga plankton terbesar yang paling sering ditemui.

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan   : Protista
Divisi     : Heterokontophyta
Kelas      : Bacillariophyceae


Diatom termasuk Alga uniseluler yang merupakan penyusun fitoplankton baik di perairam tawar maupun di lautan. Bentuk Diatom sangat khas dengan dinding tubuhnya terdiri atas kotak (hipoteka) dan tutup (epiteka). Antara tutup dan kotak tersebut terdapat celah yang disebut rafe. Ganggang ini dikenal sebagai diatoma atau ganggang kersik karena dinding sel tubuhnya mengandung zat kersik. Kersik merupakan komponen penting dalam plankton. Dinding sel diatom bagian dalam mengandung pectin dan bagian luarnya mengandung silikat.


Berisi sel tunggal atau rangkaian sel, diatom memiliki bagian luar yang keras yang merupakan lapisan skeleton-silika (pektin yang berisi silika) yang disebut frustula. Frustula atau dinding sel silika disusun dari dua katup yaitu katup bagian atas yang disebut epiteka dan katup bagian bawah yang disebut hipoteka. Kedua katup tersebut cocok satu sama lainnya seperti petridisk dan sering berisi ornamen yang kompleks. Ada celah sempit pada frustula yang berfungsi mempercepat pergantian nutrien, gas-gas dan produk metabolik. Frustula diatom dengan lapisan epiteka dan hipoteka Bentuk dan kesimetrisan frustula membantu para ahli taksonomi dalam mengklasifikasikan diatom. Didasarkan pada penampilan-penampilan ini dikenal dua kelompok diatom yaitu centris diatom (diatom bulat) yang memiliki bentuk katup bulat atau berbentuk kubah dan paling banyak berada sebagai planktonik dan pennate diatom (diatom runcing) yang memiliki katup berbentuk bujur atau bentuk kapal (boat-shape) dan biasa hidup pada daerah dasar perairan (bentik).


Frustula dari centris diatom memiliki jari-jari simetri (radial simetri) sekitar sumbunya sedangkan pada pennate diatom memiliki bilateral simetri. Ukuran diatom berkisar dari < 10 μm sampai mendekati 200 μm. Tidak adanya flagel, cilia atau organ pergerakan lain, spesies planktonik bersifat non motil dan tenggelam pada perairan yang tidak ada turbulensi. Menurut Smayda (1970) dalam Kennish (1990) laju penenggelaman diatom dan fitoplankton yang lain bergantung ukuran dan bentuk sel, ukuran koloni, kondisi fisiologis dan umur. Sel-sel diatom hidup, turun pada laju 0 sampai 30 m per hari menembus kolom air, tetapi sel-sel mati jatuh lebih cepat melebihi 60 m per hari dalam kasus yang sama. Daya apung b(uoyancy) menurun dengan umur. Penambahan ukuran sel atau koloni berkaitan dengan laju tenggelam bergantung luas permukaan per satuan volumenya.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Protozoa Beserta Ciri, Klasifikasi Dan Produksinya

Struktur Bacillariophyta

Struktur Bacillariophytaket Struktur Bacillariophyta

Struktur sel Bacillariophyta ini Terdapat dinding sel yang disebut frustula tersusun dari bagian dasar yang dinamakan hipoteka dan bagian tutup (epiteka) dan sabuk (singulum). Frustula ini tersusun oleh zat pektin yang dilapisi silikon. Epiteka dan Hipoteka tersusun oleh valve atas dan valve bawah. Valve tersusun dari : rafe, stria, nodulus pusat dan nodulus kutub. Pennales pinna berarti sirip, strianya tersusun menyirip, banyak ditemukan di air tawar. Centrales, central berarti pusat, strianya tersusun memusat, banyak ditemukan di air laut.


Diatom merupakanfitoplankton yang bersifatuniseluler ,namunseringkaliditemukandalambentukkoloni. Diatom secaraistilahberarti 2 bagian yang tidakdapatdibagilagi yang mencerminkanstruktursel diatom.

Untuk memahami bagaimana struktur atau bagian-bagian sel diatom, kita ambil contoh Pinnularia Viridis yang merupakan salah satu spesies Bacillariophyta. Struktur tubuh Pinnularia sp. dan fungsinya diperlihatkan pada gambar dan keteterangannya di bawah ini.

Struktur Bacillariophyta


Dindingsel (frusule)

Dinding sel diatom terbuat dari zat pektin dan silika sehingga strukturnya sangat keras. Dinding sel terdiri atas dua bagian yang disebut katup (walves). Katup ini memiliki 2 bagian yang tumpang tindih dan dibatasi oleh lapisan yang disebut dengan cingulum. Kedua bagian katup tersebut bersama dengan protoplas disebut dengan frustule. Katub terluar disebut epitheca sedangkan katub sebelah dalam yang lebih kecil disebut hypotheca.
pada diatom mengandung silica yang terdiridari 2 katup (valve). Valve menyerupai tutup (epiteka) dan yang menyerupai wadah (hipoteka). Terdapat bagian sabuk di bagian tengah frustule (Girdle). Terdapat karakter sekunder yang juga dapat digunakan dalam mengindetifikasi diantaranya adalahjumlah dan susunan cincin di antara valve padabagiangrdle(interculary band), keberadaanduri (spine) dan tonjolan pada rafeserta keberadaan modus yang memisahkanrafemenjadi 2 bagian. (David 1995 : 157)

Dindingsel (frusule)


Berdasarkan poladan strukturpada frustule , diatom dibagimenjadi 2 ordo yaitu Centralesdan Pennales.

CentralesdanPennalesCentrales dan Pennales.


Perkembangbiakan Bacillariophyta

Perkembangbiakan Bacillariophyta

Adapun perkembangbiakan dari spesies Bacillariophyta adalah sebagai berikut:

  1. Secara vegetatif, dengan pembelahan sel (aseksual).
  2. Secara gametik (seksual) dengan membentuk auxospora, dengan cara: Partegonosis, pedogami, konjugasi isogami, konjugasi anisogami, autogami dan oogami.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Klasifikasi Porifera Beserta Cirinya

Habitat dan Penyebaran Baccilariophyta

Habitat baccilariophyta

Diatom adalah kelompok luas. Dan dapat ditemukan di lautan, di air tawar, dalam tanah dan pada permukaan basah. Kebanyakan hidup di perairan terbuka pelagically, meskipun beberapa hidup sebagai film permukaan pada antarmuka air-sedimen (bentik), atau bahkan di bawah kondisi atmosfer lembap. Mereka terutama penting di samudera, di mana mereka diperkirakan berkontribusi hingga 45% dari keseluruhan produksi primer kelautan. (Effendi, H. 2003)


Mikroalga dari kelas Bacillariophyceae mendominasi komunitas fitoplankton di lintang tinggi di daerah Artik dan Antartika, pada zona neritik daerah tropis dan perairan lintang sedang (temperate), dan pada daerah upwelling. Beberapa ahli menganggap bahwa diatom merupakan kelompok fitoplankton paling penting yang memberi kontribusi secara mendasar bagi produktivitas laut, khususnya di wilayah perairan pantai.


Menurut Arinardi dkk (1994), jenis diatom yang banyak dijumpai di perairan lepas pantai Indonesia antara lain Chaetoceros sp., Rhizosolenia sp., Thalassiothrix sp. dan Bachteriastrum sp, sedangkan pada daerah pantai atau muara sungai biasanya terdapat Skeletonema sp., dan kadang-kadang Coscinodiscus sp. Sunarto (2002) menemukan beberapa jenis diatom yang terdapat di perairan pantai Teluk Hurun Lampung antara lain jenis Naviluca, Thalassiosithic, Rhizosolenia dan Skeletonema (Gambar 4). Jenis-skeletonema kadang berlimpah, hal ini diduga karena jenis ini dapat memanfaatkan nutrient lebih cepat dari pada diatom lainnya.


Peran Baccilariophyta

Peran baccilariophyta

  • Sebagai bahan penggosok,
  • Sebagai isolasi dinamit,
  • Sebagai campuran semen,
  • Sebagai penyerap nitrogliserin pada bahan peledak.

Selain berguna bagi kehidupan manusia, tapi bukan berarti semuanya menguntungkan, kehadiran mikroalga dalam habitat air dapat mencemari air tersebut. Selain akan mengakibatkan timbulnya kotoran juga dapat menurunkan kualitas air. Hal ini disebabkan karena:

  1. Alga dapat menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak
  2. Alga dapat menurunkan pH
  3. Menyebabkan warna dan keruhan; d) Beberapa jenis alga dapat mengeluarkan racun
  4. Dapat mengeluarkan lendir yng mengakibatkan waterblooms.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Lengkap Porifera, Ciri-Ciri, Reproduksi

Spesifikasi Bacillariophyta

Diatom ada yang hidup sendiri dan ada juga yang berkoloni yang membentuk filament. Yang sebagian hidup bebas di permukaan air, beberapa jenis yang lain yang hidup menempel pada substrat. Pada setiap sel mengandung satu nukleus dengan satu atau beberapa plastid yang berbentuk pita atau cakram, yang berisi pigmen cokelat keemasan yang melimpah.


Untuk zat makanan beerupa tetes-tetes minyak. Dab bentuk sel diatom memanjang, yang dilapisi oleh dinding sel ( cangkang ) yang terdiri dari dua belahan yang saling menutupi. Yang pada dinding sel ini terbuat dari lapisan pectin dan silika. Bila diatom mati, maka cangkang silika yang tembus cahaya. Cangkang pada diatom dilengkapi dengan lubang kecil yang memungkinkan sel berhubungan dengan lingkungan air. Diatom berkembang biak dengan cara seksual dan aseksual.


Untuk cara pembelahan yang utama ialah pembelahan sel. Setelah nukleus, protoplasma dan plastid membelah menjadi dua, masing-masing bagian akan berada di dalam belhan katup. Kemudian masing-masing sel akan membentuk katup baru di sebelah dalam. Sel anak dapat melepaskan diri atau tetap melekat membentuk koloni.

Dan jikan diatom ini mati maka protoplasma dan pectin terdekomposisi dan terpisah dari lapisan silikat. Yang selanjutnya silikat mengedap air di dasar air dan menjadi tanah diatom.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Ciliata (Filum Ciliophora) : Pengertian, Ciri, Struktur Tubuh, Dan Klasifikasi Beserta Peranannya Lengkap


Klasifikasi Bacillariophyta

Klasifikasi Bacillariophyta

Bacillariophyta hanya terdiri dari 1 classis yaitu Bacillariophyceae diatom uniseluler terdapat dalam bermacam bentuk. Menurut bentuknya dibagi dalam 2 ordo :

  • Ordo Centrales
    Diatom dengan bentuk simetri radial ini hidup di laut, merupakan salah satu penyusun plankton. Untuk memudahkan melayang di dalam air, terdapat alat-alat melayang, yang berupa duri-duri atau sayap, atau dengan perantara lender.
  • Ordo Pennnales
    Diatom yang memiliki tubuh simetri radial ini biasanya melekat pada tumbuh-tumbuhan air. Perkembang-biakan seksual berlangsung dengan isogami.

Ciri Bacillariophyta

  1. Tubuh bersifat simetris bilateral atau simetris radial.
  2. Bersifat autotrof karena mampu melakukan fotosintesis.
  3. Sel mikroskopis dalam berbagai bentuk seperti oval, bulat, segitiga, kapal dan sebagainya.
  4. Umumnya uniseluler (bersel tunggal) dan hidup bebas. Namun ada beberapa anggota yang membentuk koloni dalam berbagai bentuk seperti filamen.
  5. Tipe sel eukariotik karena sudah memiliki selaput inti.
  6. Cadangan makanan disimpan dalam bentuk minyak.
  7. Merupakan alga yang sebagian besar berhabitat di air tawar dan air laut.
  8. Memiliki dinding sel yang kaku yang terbuat dari zat pektin dan silika.
  9. Memiliki pigmen fotosintesis yaitu klorofil a dan klorofil c serta santofil seperti fukosantin, diatosantin dan diadinosantin.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Materi Kingdom Protista : Mirip Jamur, Hewan, Tumbuhan, Dan Ciri Juga Klasifikasinya


Karakteristik Bacillariophyta

  1. Bacillariophyta umumnya dikenal sebagai diatom adalah sekelompok uniseluler (meskipun terkadang kolonial), diploid, ganggang berpigmen emas atau coklat,
  2. Umumnya bersifat fototrof tetapi sebagian hidup sebagai endosimbiosis protista lain dan sejumlah kecil telah kehilangan kapasitas fotosintesis dan telah menjadi heterotrof. Contohnya : stramenopil fototrofik terkait (heterokont)
  3. Bersifat Motil namun beberapa ada yang Non-motil , melekat, atau tergantung
  4. Fotosintesis memiliki kloroplas yang dibatasi oleh empat membran dan mengandung tylakoid yang dikelompokkan menjadi tiga.
  5. Diatom memiliki siklus hidup diplontik yang sederhana, bertambah banyak dengan pembagian mitosis selama fase vegetatif diploid dan menghasilkan sel haploid hanya sebagai hasil dari gametogenesis.
  6. Ciri khas dari sebagian besar diatom adalah ukuran sel rata-rata berkurang selama fase vegetatif dan harus dipulihkan melalui pembentukan sel khusus – (auxospore).
  7. Pigmen cahaya utama berupa fucoxanthin, klorofil a, dan berbagai bentuk klorofil c.
  8. Dinding sel yang diisilisasi, yang disebut sebagai (frustule) yang tidak seperti apa pun yang ditemukan pada organisme lain.
  9. Berdasarkan tipe dinding tersebut, Diataom dibagi menjadi 2 bangsa yaitu Centrales dan pennales.
  10. Reproduksi seksual yaitu Oogami
  11. Hidup di habitat air tawar dan laut; hanya beberapa yang hidup di darat. Spesies akuatik dapat bersifat planktonik atau bentik. Sebagian besar diatom adalah hidup bebas
  12. Diatom yang hidup bebas terjadi di dua jenis komunitas utama: a) plankton, yang terdapat di perairan terbuka dan benthos yang ditemukan di permukaan permukaan bawah air (Putaran 1981a).

Reproduksi dan Siklus Hidup

Menurut Kennish (1990) dan Nybakken (1988) sebagian besar diatom melakukan reproduksi melalui pembelahan sel vegetatif. Hasil pembelahan sel menjadi dua bagian yaitu bagian atas (epiteka) dan bagian bawah (hipoteka). Selanjutnya masing-masing belahan akan membentuk pasangannya yang baru berupa pasangan penutupnya. Bagian epiteka akan membuat hipoteka dan bagian hipoteka akan membuat epiteka.


Pembuatan bagian-bagian tersebut disekresi atau diperoleh dari sel masing-masing sehingga semakin lama semakin kecil ukuran selnya. Dengan demikian ukuran individu-individu dari spesies yang sama tetapi dari generasi yang berlainan akan berbeda. Reproduksi aseksual seperti ini menghasilkan sejumlah ukuran yang bervariasi dari suatu populasi diatom pada suatu spesies. Ukuran terkecil dapat mencapai 30 kali lebih kecil dari ukuran terbesarnya (Kennish, 1990). Tetapi proses pengurangan ukuran ini terbatas sampai suatu generasi tertentu. Apabila generasi itu telah tercapai diatom akan meninggalkan kedua katupnya dan terbentuklah apa yang disebut auxospore.

Proses seperti diatas digambar kan pula oleh Parsons dkk(1984) menyatakan bahwa reproduksi seksual dan pembentukan spora mungkin juga terjadi pada diatom. Dari gambar tersebut terlihat pengurangan ukuran sel selama pembelahan aseksual (1 s.d 2), reproduksi seksual dengan susunan gamet-gamet berflagel (2 s.d. 3), pembentukan auxospore (4). Pembentukan spora non aktif (resting spore) mungkin juga terjadi (5) secara langsung dari sel vegetatif. Laju penggandaan sel diatom berlangsung sekitar 0.5 sampai 6 sel/hari.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Coelentarata – Ciri, Habitat, Reproduksi, Klasifikasi, Cara Hidup, Peranan


Distribusi Spasial dan Temporal

Ditribusi Horizontal

Distribusi fitoplankton secara horizontal lebih banyak dipengaruhi faktor fisik berupa pergerakan masa air. Oleh karena itu pengelompokan (pathciness) plankton lebih banyak terjadi pada daerah neritik terutama yang dipengaruhi estuaria dibandingkan dengan oseanik. Faktor-faktor fisik yang menyebabkan distribusi fitoplankton yang tidak merata antara lain arus pasang surut, morfogeografi setempat, dan proses fisik dari lepas pantai berupa arus yang membawa masa air kepantai akibat adanya hembusan angin. Selain itu ketersediaan nutrien pada setiap perairan yang berbeda menyebabkan perbedaan kelimpahan fitoplankton pada daerah-daerah tersebut. Pada daerah dimana terjadi up welling atau turbulensi, kelimpahan plankton juga lebih besar dibanding daerah lain yang tidak ada.

Distribusi Vertikal

Menurut Seele dan Yentch (1960) dalam Parsons dkk (1984), distribusi fitoplankton di laut secara umum menunjukkan densitas maksimum dekat lapisan permukaan (lapisan fotik) dan pada waktu lain berada dibawahnya. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi vertikal sangat berhubungan dengan dimensi waktu (temporal). Selain faktor cahaya, suhu juga sangat mendukung pergerakannya secara vertikal. Hal ini sangat berhubungan dengan densitas air laut yang mampu menahan plankton untuk tidak tenggelam. Perpindahan secara vertikal ini juga dipengaruhi oleh kemampuannya bergerak atau lebih tepat mengadakan adaptasi fisiologis sehingga terus melayang pada kolom air. Perpaduan kondisi fisika air dan mekanisme mengapung menyebabkan plankton mampu bermigrasi secara vertikal sehingga distribusinya berbeda secara vertikal dari waktu ke waktu.

Distribusi Harian dan Musiman

Distribusi temporal banyak dipengaruhi oleh pergerakan matahari atau dengan kata lain cahaya sangat mendominasi pola distribusinya. Distribusi harian plankton, terutama pada daerah tropis, mengikuti perubahan intensitas cahaya sebagai akibat pergerakan semu matahari. Pada pagi hari dimana intensitas cahaya masih rendah dan suhu permukaan air masih relatif dingin plankton berada tidak jauh dengan permukan. Pada siang hari plankton berada cukup jauh dari pemukaan karena ’menghindari’ cahaya yang telalu kuat. Pada sore hingga malam hari plankton begerak mendekati bahkan berada pada daerah permukaan (Gross,1990).


Daftar Pustaka
Almeida M.R., Pereira A. L. P., Almeida R.R., Almeida Pedrin R.R., Silva Filho OG, 2011, Prevalence of Malocclusion in Children Aged 7 to 12 Years, Dental Press J Orthod, 16(4):123-31
Effendi, H. 2003 . Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. 258 halaman.
http://www.idbiodiversitas.com/2016/04/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html