Penjelasan Klasifikasi Porifera Beserta Cirinya

Diposting pada

Pengertian Porifera, Fisiologi, Karakteristik, Klasifikasi, Ciri dan Peranan adalah Hewan yang memiliki pori pada struktur tubuhnya, diplobastik, simetri radial, tersusun atas sel-sel yang bekerja secara mandiri

filum-porifera


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Ciliata (Filum Ciliophora) : Pengertian, Ciri, Struktur Tubuh, Dan Klasifikasi Beserta Peranannya Lengkap


Pengertian Porifera

Porifera merupakan anggota dari Animalia yang merupakan paling sederhana atau primitif. Yang habitatnya dan cara hidup porifera ialah sebagian besar hidupnya di laut dan sebagian kecil lagi hidup di air tawar.

Pada umumnya porifera hidupnya ada di daerah pada perairan yang dangkal dan juga jernih, namun juga di perairan berpasir atau berlumpur. Porifera dewasa hidupnya sesil atau melekat di suatu substrak. Porifera hidup secara heterotrof dengan jenis makanan bakteri dan plankton.


Porifera merupakan salah satu filum dari kingdom animalia yang sangat primitif yang hidup di alam. Kata Porifera berasal dari bahasa Latin, porus yang berarti lubang kecil atau pori dan ferre yang berarti mempunyai. Jadi, Porifera dapat diartikan hewan yang memiliki pori pada struktur tubuhnya, diplobastik, simetri radial, tersusun atas sel-sel yang bekerja secara mandiri. Fase dewasa bersifat sesil, dan berkoloni. Habitat umumnya air laut dan ada yang di air tawar (Kusnadi, 2011).


Porifera berkembang biak secara aseksual dan seksual. Perkembangbiakan secara aseksual yaitu dengan pembentukan tunas (budding). Tunas atau budding yang dihasilkan tersebut kemudian memisahkan diri dari induknya dan hidup sebagai individu baru, atau tetap menempel pada induknya sehingga menambah jumlah bagian-bagian dari kelompok Porifera. Sedangkan perkembangbiakan secara seksual terjadi dengan cara peleburan antara sel telur dan Spermatozoid, dan menghasilkan zigot dan selanjutnya berkembang menjadi larva berflagel, larva tersebut dapat berenang dan keluar melalui osculum.


Tubuh Porifera masih diorganisasi pada tingkat seluler, artinya tersusun atas sel-sel yang cenderung bekerja secara mandiri. Porifera dikenal juga sebagai hewan berpori. Dibanding dengan Protozoa maka susunan tubuh porifera lebih komplek. Tubuh Porifera tidak lagi terdiri atas satu sel malainkan telah tersusun atas banyak sel. Berdasarkan sejarah embrionalnya dan ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh Porifera beberapa ahli memasukan Porifera ke dalam kelompok Parazoa atau hewan sampingan.. (Satino, 2004).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Protozoa Beserta Ciri, Klasifikasi Dan Produksinya

Fisiologi Filum Porifera

Sistem Gerak dan Rangka Tubuh

Gerak pada porifera hampir tidak ada atau tidak terlihat. Hewan dewasa hidup sebagai koloni yang sesil atau menempel pada suatu substrat. Gerak yang aktif hanya dilakukan saat masih larva (Amphiblastula). Sedikit gerak pengkerutan tubuhnya karena bagian tepi pinakosit yang dikontraksikan. Jadi hewan ini belum memiliki alat gera aktif, seperti halya sel-sel otot pada hewan-hewan tingkat tinggi, terutama kelompok Vertebrata (Kastawi, 2001).


Proses Pencernaan Makanan

Porifera bersifat holozoik dan saprozoik. Partikel-paertikel makanan menempel pada kolar. Saat itu mikrovili-mikrovili koanosit bertindak sebgaia filter. Makanan yang telah disaring oleh filter-filter diolah di dalam vakuola makanan dengan bantuan enzim-enzim pencernaan. Vakuola tadi kemudian mengadakan gerakan siklosis. Setelah itu zat-zat makanan diedarkan ke seluruh tubuh secara difusi dan osmosis oleh amubosit. Sistem ekskresi zat-zat sampah sisa metabolism diedarkan dari internal tubuhnya oleh amubosit (Rusyana, 2011).


Sistem Pernafasan

Alat pernafasan terdiri atas sel-sel pinakosit (bagian luar), dan koanosit (bagian dalam). Oksigen yang telah ditangkap oleh kedua jenis sel tersebut diedarkan ke seluruh tumbuh oleh sel-sel amubosit (Rusyana, 2011).


Sistem Reproduksi

Porifera ada yang bersifat monosious (hermafrodit) dan ada juga yang bersifat diosious. Berkembang biak dilakukan secara seksual dan aseksual (Nizkon, 2010).


Sistem Saluran Air

Menurut Rusyana (2011), tempat proses terjadinya pengambilan zat-zat makanan atau sistem saluran air dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu:

  1. Ascon, merupakan tipe yang paling sederhana, proses pengambilan zat-zat makanan terjadi di dalam spongocoel.
  2. Sycon, proses pengambilan makanan terjadi di dalam rongga berflagel.
  3. Rhagon, proses pengambilan zat-zat makanan terjadi di kamar (ruang) kecil yang berflagel yang terdapat di bagian tengah saluran. Flagel tersebut bersal dari koanosit-koanosit yang melapisi dinding kamar atau ruang tersebut.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Coelentarata – Ciri, Habitat, Reproduksi, Klasifikasi, Cara Hidup, Peranan


Karakteristik Filum Porifera

Spons adalah pemakan suspense (suspension feeder). Mereka menangkap partikel makanan yang tersuspensi di dalam air yang di lewatkan melalui tubuhnya. Pada beberapa spesies, tubuh spons menyerupai kantong yang berpori-pori. Air ditarik melalui pori-pori ke dalam rongga tengah, spongosol (spongocoel), kemudian mengalir keluar dari spons melalui  bukaan yang lebih besar disebut oskulum (osculum). Spons lebih kompleks memiliki dinding tubuh yang berlipat-lipat, dan banyak yang memiliki kanal air yang bercabang-cabang dan beberapa oskulum. Spons adalah hewan basal, artinya mereka merepresentasikan garis keturunan yang bermula di dekat akar pohon filogenetik hewan. Tidak seperti semua hewan lain, spons tidak memiliki jaringan sejati, kelompok sel-sel serupa yang bertindak sebagai unit fungsional dan terisolasi dari jaringan-jaringan yang  lain oleh lapisan bermembran, akan tetapi,t ubuh spons mengandung beberapa tipe-tipe sel yang berbeda. Misalnya, lapisan interior spongosoel adalah koanosit (choanocyte) berflagela, atau sel kerah (dinamai berdasarkan kerah bermembran disekitar dasar flagelum) (Campbell, 2008)


Kemiripan antara koanosit dan sel-sel choanoflagellata mendukung bukti molekular yang menyatakan bahwa hewan berevolusi dari nenek moyang serupa Choanoflagellata. Tubuh spons terdiri dari dua lapisan sel yang dipisahkan oleh wilayah bergelatin disebut mesohil (mesohyl). Sel-sel yang mengembara melalui mesohil disebut amoebosit (amoebocyte), yang dinamai berdasarkan pseudopodia yang digunakan. Amoebosit memiliki banyak fungsi. Amoebosit mengambil makanan dari air dan koanosit, mencernanya, dan mengangkut nutrient ke sel-sel yang lain (Campbell, 2008).


Mereka menghasilkan serat rangka yang kokoh di dalam mesohil. Beberapa kelompok spons, serat-serat ini merupakan spikula tajam yang terbuat dari kalsium karbonat atau silica. Spons lain menghasilkan serat-serat yang lebih fleksibel, terbuat dari protein disebut sponging. Kebanyakan spons adalah hermafrodit (hermaphrodite), artinya setiap individu berfungsi sebagai jantan dan betina sekaligus dalam reproduksi seksual dengan menghasilkan sperma dan telur. Hampir semua spons menunjukkan hermafroditisme sekuensial, yakni berfungsi sebagai salah satu jenis kelamin dan kemudian  menjadi jenis kelamin yang satu lagi. Gamet spons muncul dari koanosit atau amoebosit. Telur menetap di dalam mesohil, namun sperma diangkut keluar dari spons oleh aliran air (Campbell, 2008)


Fertilisasi silang dihasilkan beberapa sperma yang ditarik kedalam individu-individu di sekitarnya. Fertilisasi terjadi di dalam mesohil, tempat zigot berkembang menjadi larva berflagela yang bisa berenang dan menyebar dari spons induk. Setelah menetap di substrat yang cocok, larva berkembang menjadi dewasa yang sesil. Spons menghasilkan berbagai antibiotik dan senyawa-senyawa pertahanan yang lain. Para peneliti kini sedang mengisolasi senyawa-senyawa ini, yang memberi harapan untuk memerangi penyakit-penyakit manusia, misalnya, senyawa disebut kribrostatin yang diisolasi dari spons laut dapat membunuh galur-galur resisten penisilin dari baketri streptococcus. Senyawa senyawa yang diperoleh dari spons sedang diuji sebagai agen antikanker potensial (Campbell, 2008).


Tubuh Porifera masih diorganisasi pada tingkat seluler, artinya tersusun atas sel-sel yang cenderung bekerja secara mandiri. Porifera dikenal juga sebagai hewan berpori. Dibanding dengan Protozoa maka susunan tubuh porifera lebih komplek. Tubuh Porifera tidak lagi terdiri atas satu sel malainkan telah tersusun atas banyak sel. Berdasarkan sejarah embrionalnya dan ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh Porifera beberapa ahli memasukan Porifera ke dalam kelompok Parazoa atau hewan sampingan. Sebagian besar Porifera  hidup di laut kecuali famili Spongillidae yang hidup di air tawar. (Satino, 2004).


Ukuran tubuh hewan spons sangat bervariasi, kebanyakan spons kalkareus berukuran kira-kira sebutir padi, tetapi sebuah spons yang besar bisa memiliki tinggi dan diameter bermeter-meter. Beberapa jenis hewan ini bersimetri radial, tetapi kebanyakan tidak teratur atau asimetris, yang menampakkan bentuk atau pola massif  (seperti sebongkahan batu), tegak, pipih melebar dan menempel (encrusting) atau bercabang-cabang (Kastawi, 2001).

Bagian permukaan tubuh spons askon akan berlubang-lubang kecil (pori) yang disebut pori masuk atau prosopil. Lubang kecil ini merupakan tempat masuknya air dari luar. Pori masuk akan bermuara pada spongocoel (rongga sentral) dan rongga sentral tersebut bermuara pada sebuah lubang besar yang disebut oskulum. Jadi air yang masuk melalui rongga sentral akan keluar melalui oskulum (Kastawi, 2001).


Menurut Satino (2004), Secara umum Porifera memiliki ciri-ciri khusus antara lain:

  1. Tubuh memiliki banyak pori yang merupakan system saluran air yang menghubungkan bagian luar dan bagian dalam tubuh
  2. Tidak memiliki alat gerak
  3. Sistem pencernaan berlangsung secara intraselular
  4. Tubuh disokong oleh mesenchim dan spikula-spikula atau bahan serabut yang tersusun dari bahan organic
  5. Struktur tubuh dibagi atas tiga tipe yaitu ascon, sycon dan rhagon
  6. Bersifat holozoik maupun saprozoik
  7. Berkembang biak secara seksual dan aseksual

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Lengkap Porifera, Ciri-Ciri, Reproduksi

Klasifikasi Filum Porifera

Klasifikasi pada filum ini berdasarkan bahan dasar pembentuk tubuhnya dan tipe spikulanya (Satino, 2004) adaah sebagai berikut:

Kelas Calcarea (Calcispongi)

Kelas Calcarea (Calcispongi)

Calcarea atau Calcispongi (spikula berkapur) hidup di laut (pantai yang dangkal), kerangka tubuh tersusun dari bahan kapur (CaCO3). Semua spikulanya berukuran relatif sama dengan bentuk monaxon atau tiga sudut atau 4 sudut empat sudut yang adanya secara terpisah. Contohnya: Leucosolenia dan Sycon (Kastawi, 2001).


Kerangka tubuh pada kelas Calcarea berupa spikula yang mirip dengan duri-duri kecil dari kalsium karbonat. Misalnya Scypha, Leucosolenia dan Grantia.

Ciri-Ciri Calcarea

  • Rangka tersusun atau kalsium karbonat.
  • Tubuhnya berwarna pucat dengan bentuk vas bunga atau silinder.
  • Tingginya kurang dari 10 cm.
  • Hidup di laut.

Kelas Hexactinelida (Hyalospongiae)

Kelas Hexactinelida (Hyalospongiae)

Hidup di laut yang dalam, tubuh tersusun dari bahan silikat, dan spikula tipe hexaxon. Hewan dari anggota ini dikenal sebagai spons kaca. Nama Hexactinellida diturunkan dari kenyataan bahwa spikula-spikulanya bertepi triakson dengan ujung atau cuatan atau kelipatannya. Bentuk tubuh menyerupai vas bunga, cangkir atau kendi dengan tinggi sekitar 10—30 cm. Spongocoelnya sangat berkembang dan oskulumnya tetutup rapat oleh plat seperti ayakan. Warna tubuhnya pucat. Contohnya: Euplectella aspergillum, dan Hyalonema longissimum (Kastawi, 2001).


Kerangka tubuh kelas Hexatinellida berupa spikula bersilikat atau kersik ( SiO2 ), yang umumnya berbentuk silinder atau corong. Misalnya Euplectella aspergillum.

Ciri-Ciri Hexatinellida

  • Spikula berjumlah enam.
  • Tubuhnya berwarna merah pucat dan bentuknya seperti vas.
  • Hidup di laut pada kedalaman 200-1000 meter.

Kelas Demospongiae

Kelas Demospongiae

Hidup di laut dan air tawar, kerangka tubuh ada yang tersusun dari bahan silikat atau bahan sponging atau campuran silikat dan sponging, spikula tipe tetra-axon atau tanpa spikula. Contoh: Oscarella, Cliona, Spongilla dll. Kira-kira 90% dari semua spesies hewan spons yang telah dideskripsikan termasuk dalam anggota kelas Demospongiae.. Warna tubuhnya cerah diakibatkan oleh adanya granula-granula pigmen warna di amubosit. Tipe spikula dari spons Demospongiae sangat bervariasi, mulai dari spikula silica, serabut sponging, atau kombinasi keduanya. Semua anggota Demospongiae saluran airnya bertipe leukonoid dan berbentuk ireguler (Kastawi, 2001).


Kelas tubuh kelas Demospongia terbuat sponging saja atau campuran dari sponging dan zat kersik. Misalnya Euspongia sp. Dan Spongilla sp.

Ciri-Ciri Demospongia

  • Tersusun dari sponging.
  • Tubuhnya berwarna merah cerah mengandung pigmen yang terdapat pada amoebosit.
  • Tinggi dan diameternya menjadi lebih dari 2 meter.
  • Bentuk tubuhnya tidak beraturan dan bercabang.
  • Hidup dilaut dan di air tawar.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Tingkatan Takson Dalam Klasifikasi

Sistem Reproduksi  Porifera

Porifera berkembang biak secara seksual maupun aseksual. Reproduksi seksual terjadi dengan cara pembentukan tunas (budding) atau pembentukan sekelompok sel esensial terutama amoebocyte, kemudian dilepaskan. Sepon air tawar dan air laut membentuk gemuk, yaitu tunas internal.Gemuk terbentuk dari sekumpulan amoebocyte berisi cadangan makanan dikelilingi amoebocyte yang membentuk lapisan luar yang keras dan acapkali terdapat spikula sehingga membentuk dinding yang resisten.


Porifera mempunyai kemampuan melakukan regenerasi yang tinggi. Bagian tubuh sepon yang terpotong atau rusak akan mengalami regenerasi yang utuh kembali. Kemampuan melakukan regenerasi ada batasnya, misalnya potongan sepon leuconoid harus lebih besar dari 0,4 mm dan mempunyai beberapa sel choanocyte supaya mampu melakukan regenerasi menjadi sepon baru yang kecil.


Reproduksi aseksual terjadi baik pada sepon yang hermaproduktif, namun sel telur dan sperma diproduksi pada waktu yang berbeda sperma dan telur dihasilkan oleh amoebyte osculum bersama aliran air dan masuk ke individu lain melalui ostium juga bersama aliran air. Dalam spongocoel ataufeagelated chamber, sperma akan masuk ke choanocyte atau amoebocyte. Sel amoebocyte berfungsi sebagai pembawa sperma menuju sel telur, terjadilah pembuahan (fertilisasi), perkembangan embrio sampai menjadi larva berflagella masih di dalam mesohyl.Larva berflagella disebut juga larva amphiblastula.Keluar dari mesohyl dan bersama aliran air keluar dari tubuh induk melalui osculum.Larva amphiblastula berenang bebas beberapa saat kemudian menempel pada substrat dan berkembang menjadi sepon muda yang sessile dan akhirnya tumbuh menjadi besar dan dewasa.


Porifera tersebut berkembang biak dengan secara aseksual serta seksual. Berikut ini penjelasan reproduksi porifera dengan secara seksual dan aseksual.

  • Reproduksi Aseksual
    Reproduksi aseksual porifera dengan cara pembentukan tunas (budding). Tunas tersebut yang dihasilkan kemudian memisahkan diri dari induknya serta hidup sebagai individu baru, atau juga tetap menempel pada induknya sehingga akan menambah jumlah bagian-bagian dari kelompok Porifera tersebut


  • Reproduksi Seksual
    Reproduksi seksual tersebut berlangsung dengan persatuan antara sel telur serta juga spermatozoid, yang akan menghasilkan yang namanya  zigot, selanjutnya akan berkembang menjadi larva yang berflagel. Larva itu bisa berenang serta keluar dengan  melalui oskulum. Jika menemukan tempat yang seksual, larva tersebut maka akan menempel kemudian tumbuh menjadi porifera.yang  baru.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Keanekaragaman Hayati, Manfaat, Jenis dan Klasifikasi

Ciri-Ciri Porifera

Didalam membedakan spesies dari filum porifera, maka kita perlu mengetahui ciri-ciri porifera dengan secara umum. Ciri-ciri porifera ialah sebagai berikut :

  1. Hewan jenis ini  yang bersel banyak (metazoa) yang paling sederhana atau juga primitif
  2. Sebagian besar hidup di laut yang dangkal pada kedalaman sekitar 3,5 meter
  3. Bentuk tubuh porifera tersebut menyerupai vas bunga atau juga piala serta melekat didasar perairan
  4. Tubuhnya terdiri dari 2 lapisan sel (diploblastik) dengan lapisan luarnya (epidermis) yang tersusun dari sel-sel yang mempunyai bentuk pipih, disebut dengan pinakosit.
  5. Pada epidermis terdapat porus atau lubang kecil yang disebut ostia yang dihubungkan oleh saluran ke rongga tubuh (spongocoel)
  6. Lapisan ddialamnya tersusun atas sel-sel yang berleher serta berflagel yang disebut koanosit yang berfungsi untuk dapat mencernakan makanan
  7. Di dalam mesoglea juga terdapat beberapa jenis sel, yakni sel amubosit, sel skleroblas, sel arkheosit.
  8. Di antara epidermis serta koanosit mempunyai lapisan tengah yang berupa suatu bahan kental yang disebut mesoglea atau mesenkin
  9. Sel amubosit atau juga amuboid yang berfungsi untuk dapat mengambil makanan yang telah dicerna di dalam koanosit. Sel skleroblasnya tersebut berfungsi dengan membentuk duri (spikula) atau juga spongin. Spikula terbuat dari kalsium karbonat atau juga silikat
  10. Spongin tersusun atas serabut-serabut spongin yang lunak berongga yang membentuk seperti spon.
  11. Sel arkheosit tersebut berfungsi sebagai sel reproduktif, misalnya pembentuk tunas, pembentukan gamet, pembentukan bagian-bagian yang rusak serta juga regenerasi.

Makanan porifera tersebut berupa partikel zat organik atau juga makhluk hidup kecil yang masuk bersama air dengan melalui pori-pori tubuhnya. Makanan lalu ditangkap oleh si flagel dikoanosit yang kemudian dicerna di dalam koanosit. Dengan demikian pencernaannya tersebut dengan secara intraselluler. Setelah dicerna, zat makanan tersebut kemudian  diedarkan oleh sel-sel amubosit ke sel-sel lainnya. Zat sisa makanan yang dikeluarkan dengan melalui oskulum bersamaan dengan sirkulasi air.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Ekosistem Air Laut – Pengertian, Ciri, Jenis, Habitat, Komunitas, Masalah, Pembagian Daerah

Peranan Filum Porifera

Secara ekonomis, Porifera tidak terlalu mempunyai arti penting. Hewan Demospongia yang hidup di laut dangkal dapat dimanfaatkan oleh manusia, misalnya spons untuk mandi dan pembersih kaca (Kusnadi, 2011).

Beberapa jenis sepon air laut seperti sepon jari berwarna orange axinella conabina diperdagangkan untuk menghias aquarium air laut, adakalanya di di ekspor ke Singapura dan Eropa. Jenis sepon dari Famili Clionidae mampu mengebor dan menembus batu karang dan cangkang moluska, sehingga


membantu pelapukan pecahan batu karang dan cangkang moluska yang berserakan di tepi pantai. Ada pula sepon yang tumbuh pada kerang-kerangan tertentu dan mengganggu peternakan tiram.


  1. Selain itu porefera yang dijadikan obat kontrasepsi (KB)
  2. Sebagai campuran bahan industri (kosmetik)
  3. Mempunyai nilai estetika yang tinggi
  4. Manfaat bagi sumber daya perairan sebagai tempat perlindungan dan sebagai makanan hewan lain.

Adapun peranan atau manfaat porifera dalam kehidupan manusia, manfaat Porifera ialah sebagai berikut:

  • Hewan Demospongia hidup di laut dimanfaatkan sebagai spons untuk mendi dan pembersih.
  • Zat kimia yang dikeluarkan dapat mengobati penyakit kanker.