Media Massa Dalam Komunikasi Politik

Diposting pada

Media-Massa-Dalam-Komunikasi-Politik

Pengertian Media Massa

Menurut Leksikon Komunikasi, media massa adalah “sarana penyampai pesan yang berhubungan langsung dengan masyarakat luas misalnya radio, televisi, dan surat kabar”.

Media adalah bentuk jamak dari medium yang berarti tengah atau perantara. Massa berasal dari bahasa Inggris yaitu mass yang berarti kelompok atau kumpulan. Dengan demikian, pengertian media massa adalah perantara atau alat-alat yang digunakan oleh massa dalam hubungannya  satu sama lain (Soehadi, 1978:38).

Yang termasuk media massa terutama adalah suratkabar, majalah, radio, televisi, dan film sebagai The Big Five of Mass Media (Lima Besar Media Massa), juga internet (cybermedia, media online).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Media Massa – Pengertian, Jenis, Karakteristik, Fungsi, Peran, Faktor, Dampak, Contoh


Jenis Media Massa

Setelah memahami apa itu media massa dan fungsinya, selanjutnya kita akan mengulas mengenai jenis-jenis media massa. Jenis media massa secara garis besar terbagi menjadi jenis berdasarkan waktu dan jenis berdasarkan bentuk. Berikut adalah jenis media massa berdasarkan waktunya:


Media massa tradisional

Media massa tradisional menyampaikan informasi yang didapat dari lingkungan dan telah diseleksi, diterjemahkan, kemudian baru disebarluaskan kepada khalayak luas. Media massa tradisional merupakan perantara yang mengirimkan informasinya melalui saluran tertentu dalam prosesnya. Interaksi yang terjadi antara media massa dengan khalayak penerima pesan cenderung sedikit, namun bukan berarti penerima pesan bersifat pasif.


Penerima pesan dalam media massa tradisional adalah bagian dari struktur sosial masyarakat yang tidak pasif dalam menerima dan menyeleksi informasi yang disampaikan. Dengan kata lain, penerima pesan dari media massa tradisional tetap memiliki kekuatan dalam menyaring dan mempercayai informasi yang diberikan media. Beberapa contoh media yang termasuk ke dalam media massa tradisional adalah surat kabar, televisi, radio, dan film.


Media massa modern

Media massa modern terbentuk seirinig dengan perkembangan jaman dan kemajuan teknologi yang memungkinkan munculnya berbagai media baru dalam masyarakat, contohnya adalah internet dan telepon seluler atau telepon genggam (handphone). Media massa modern bukan saja dipegang dan dikuasai oleh lembaga tertentu, namun setiap individu dapat memberikan dan menyebarkan informasi kepada khalayak ramai. Hal ini juga didukung dengan tidak adanya perantara dalam interaksi yang terjadi antara pemberi dan penerima pesan dalam media massa modern.


Seperti pada media massa tradisional, sumber atau pemberi pesan dalam media massa modern juga dapat menyampaikan dan menyebarkan informasi kepada banyak orang sekaligus dengan cakupan yang luas. Namun berbeda dengan media massa tradisional, dalam media massa modern penerima pesan yang menentukan kapan terjadinya waktu interaksi dengan pemberi pesan. Komunikasi yang terjadi dalam media massa modern pun bersifat mengalir dan dua arah, dimana memungkinkan terjadi feedback langsung antara pemberi dan penerima pesan.


  • Media Massa Cetak (Printed Media).
    Media massa yang dicetak dalam lembaran kertas. Dari segi formatnya dan ukuran kertas, media massa cetak secara rinci meliputi (a) koran atau suratkabar (ukuran kertas broadsheet atau 1/2 plano), (b) tabloid (1/2 broadsheet), (c) majalah (1/2 tabloid atau kertas ukuran folio/kwarto), (d) buku (1/2 majalah), (e) newsletter (folio/kwarto, jumlah halaman lazimnya 4-8), dan (f) buletin (1/2 majalah, jumlah halaman lazimnya 4-8). Isi media massa umumnya terbagi tiga bagian atau tiga jenis tulisan: berita, opini, dan feature.

  • Media Massa Elektronik (Electronic Media).
    Jenis media massa yang isinya disebarluaskan melalui suara atau gambar dan suara dengan menggunakan teknologi elektro, seperti radio, televisi, dan film.


  • Media Online (Online Media, Cybermedia),
    yakni media massa yang dapat kita temukan di internet (situs web).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Kondisi Ekonomi dan Politik Sebelum Reformasi


Fungsi dan Peran Media Massa

Fungsi Media Massa

Media massa juga memiliki fungsinya sendiri dan terdapat berbagai peran dalam pelaksaan fungsi tersebut. Berikut adalah fungsi media massa sesuai dengan yang dijelaskan oleh Mc.Quail (1994):


  1. Fungsi informasi, dimana media massa berperan dalam menyediakan dan menyampaikan informasi mengenai berbagai peristiwa, kejadian, dan realita yang terjadi di dalam masyarakat.


  2. Fungsi kesinambungan, dimana media massa berperan penting dalam mengakui, mengekspresikan, dan mendukung adanya budaya dominan dan budaya khusus. Media masssa juga berperan dalam terbentuknya perkembangan budaya baru yang ada di masyarakat, sekaligus tetap melestarikan nilai yang sudah ada.


  3. Fungsi korelasi, dimana media massa menafsirkan dan menjelaskan peristiwa yang terjadi berikut kemungkinan hubungan dengan hal atau peristiwa lain yang terkait.


  4. Fungsi mobilisasi, dimana media massa berperan dalam menyebarkan informasi dan mengkampanyekan berbagai hal dalam bidang ekonomi, politik, negara, agama, dan lain sebagainya.


  5. Fungsi hiburan, dimana media massa memberikan hiburan kepada audience sebagai sarana relaksasi dan pengalihan perhatian dari ketegangan sosial yang terjadi di masyarakat.


Peran Media Massa

Denis McQuail (1987) mengemukakan sejumlah peran yang dimainkan media massa selama ini, yakni:

  1. Industri pencipta lapangan kerja, barang, dan jasa serta menghidupkan industri lain utamanya dalam periklanan/promosi.
  2. Sumber kekuatan –alat kontrol, manajemen, dan inovasi masyarakat.
  3. Lokasi (forum) untuk menampilkan peristiwa masyarakat.
  4. Wahana pengembangan kebudayaan –tatacara, mode, gaya hidup, dan norma.
  5. Sumber dominan pencipta citra individu, kelompok, dan masyarakat.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Tujuan Telah Diberlakukannya Politik Etis Di Indonesia Lengkap


Karakteristik Media Massa

  • Publisitas, yakni disebarluaskan kepada publik, khalayak, atau orang banyak.
  • Universalitas, pesannya bersifat umum, tentang segala aspek kehidupan dan semua peristiwa di berbagai tempat, juga menyangkut kepentingan umum karena sasaran dan pendengarnya orang banyak (masyarakat umum).
  • Periodisitas, tetap atau berkala, misalnya harian atau mingguan, atau siaran sekian jam per hari.
  • Kontinuitas, berkesinambungan atau terus-menerus sesuai dengan priode mengudara atau jadwal terbit.
  • Aktualitas, berisi hal-hal baru, seperti informasi atau laporan peristiwa terbaru, tips baru, dan sebagainya. Aktualitas juga berarti kecepatan penyampaian informasi kepada publik.

Karakteristik Media Massa menurut Cangara (2006):

  1. Bersifat melembaga, artinya pihak yang mengelola media terdiri dari banyak orang, yakni mulai dari pengumpulan,pengelolaan sampai pada penyajian informasi.
  2. Bersifat satu arah, artinya komunikasi yang dilakukan kurang memungkinkan terjadinya dialog antara pengirim dan penerima. Kalau pun terjadi reaksi atau umpan balik, biasanya memerlukan waktu dan tertunda.
  3. Meluas dan serempak, artinya dapat mengatasi rintangan waktu dan jarak, karena ia memiliki kecepatan. Bergerak secara luas dan simultan, dimana informasi yang disampaikan diterima oleh banyak orang dalam waktu yang sama.
  4. Memakai peralatan teknis atau mekanis, seperti radio, televisi, surat kabar, dan semacamnya.
  5. Bersifat terbuka, artinya pesannya dapat diterima oleh siapa saja dan dimana saja tanpa mengenal batas usia, jenis kelamin, dan suku bangsa

Karakteristik Media Massa menurut Djafar H. Assegaf (1991):

  1. Komunikasi yang terjadi dalam media massa bersifat searah. Komunikan tidak dapat memberikan tanggapan secara langsung kepada komunikatornya yang biasa disebut dengan  tanggapan yang tertunda (delay feedback).
  2. Media massa menyajikan rangkaian atau aneka pilihan materi yang luas, bervariasi. Ini menunjukkan bahwa pesan yang ada dalam media massa berisi rangkaian dan aneka pilihan materi yang luas bagi khalayak atau para komunikannya.
  3. Media massa dapat menjangkau sejumlah besar khalayak. Komunikan dalam media massa berjumlah besar dan menyebar di mana-mana, serta tidak pernah bertemu dan  berhubungan secara personal.
  4. Media massa menyajikan materi yang dapat mencapai tingkat intelek rata-rata.  Pesan yang disajikan dengan bahasa yang umum sehingga dapat dipahami oleh seluruh lapisan intelektual baik komunikan dari kalangan bawah sampai kalangan atas.
  5. Media massa diselenggrakan oleh lembaga masyarakat atau organisasi yang terstruktur. Penyelenggara atau pengelola media massa adalah lembaga masyarakat/organisasi yang teratur dan peka terhadap permasalahan kemasyarakatan.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 4 Pengertian Budaya Politik Menurut Para Ahli


Media Massa Dalam Komunikasi Politik

Komunikasi Politik merupakan sebuah komunikasi yang membawa pesan-pesan politik atau berkaitan terhadap pemerintahan, kekuasaan, serta kebijakan-kebijakan pemerintah. Artinya sebagai ilmu yang terapan, komunikasi politik tidaklah hal yang baru. Hal tersebut juga dapat kita pahami sebagai komunikasi antar “yang memberikan perintah” dan “yang diperintah”. “Komunikasi politik merupakan salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik” Hal ini dikemukakan oleh Gabriel Almond (1960).


  • Komunikasi Massa
    Komunikasi ‘satu-kepada-banyak’, komunikasi melalui media massa.


  • Komunikasi Tatap Muka
    Didalam rapat, konfersi pers, dll. dan Komunikasi Berperantara- ada perantara ada perantara antara komunikator dan khalayak seperti TV.


  • Komunikasi Interpersonal
    Komunikasi ‘satu-kepada-satu’. –.door to door visit, temui publik. atau Komunikasi Berperantara–. pasang sambungan langsung ’hotline’ buat publik.


  • Komunikasi Organisasi
    Gabungan komunikasi ‘satu-kepada-satu’ dan ‘satu-kepada-banyak’: Komunikasi Tatap Muka. diskusi tatap muka dengan bawahan/staf. dan Komunikasi Berperantara. pengedaran memorandum, sidang, konvensi, buletin, newsletter, lokakarya.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Penyimpangan Dan Kritik Politik Etis Serta Contohnya


Fungsi dan Peran Media dalam Politik

Media massa memiliki berbagai fungsi, salah satunya adalah fungsi sosial dan fungsi ekonomi. Dengan adanya fungsi tersebut, media bukanlah entitas yang pasif seperti robot yang hanya menditribusikan pesan, melainkan aktif, selektif, dan kritis. Hal ini karena media massa sebagai institusi memiliki kepentingan sendiri dan bahkan memiliki pemikiran dan idealisme secara independen.


Media massa memiliki perspektif yang menjadi kerangka acuan dalam kegiatannya, yang sangat berhubungan dengan dukungan atau penolakan atas ide politik tertentu. Media memiliki kemampuan untuk membentuk pendapat umum. Adanya pendapat umum dengan snowball effect akan sangat mungkin mendorong sikap dan perilaku khalayak atas isu politik tertentu.


Dalam proses komunikasi politik, peran media menjadi sangan penting. Peran tersebut tak hanya dalam konteks pendistribusian pesan umum, tetapi jauh lebih penting adalah nilai berita yang diterima khalayak. Menurut McQuail, terdapat empat aspek yang menjadikan media sangat penting, yakni :


  • Sumber kekuatan alat kontrol, manajemen, dan inovasi dalam masyarakat.
  • Media merupakan lokasi atau forum yang semakin berperan untuk menampilkan peristiwa kehidupan Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang, jasa. Media merupakan industri yang memiliki peraturan dan norma yang menghubungkan institusi dengan masyarakat dan institusi sosial lainnya.
  • Media merupakan masyarakat, baik nasional maupun internasional.
  • Media berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan.
  • Media menjadi sumber dominan, tidak hanya bagi individu melainkan bagi masyarakat dan kelompok kolektif.

Media juga merupakan saluran yang dimanfaatkan untuk mengendalikan arah dan memberikan dorongan terhadap perubahan sosial. Media mempunyai peran dalam kehidupan manusia termasuk dalam kegiatan politik. Peran media dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Media memberikan informasi dan membantu masyarakat mengetahui secara jelas ikhwal tentang dunia sekelilingnya. Media sejak awal sebenarnya melakukan tugas mengumpulkan kemudian membagi informasi yang diinginkan masyarakat pada umumnya.

  2. Media membantu masyarakat menyusun agenda. Ketika masyarakat membaca surat kabar, medengar radio, menonton televisi, mereka mengetahui bagaimana kondisi pemerintahan saat ini, bagaimana keadaan perpolitikan di negara mereka. berdasarkan informasi tersebut, kita dapat mengambil keputusan mendahuluinya.


  3. Media membantu berhubungan dengan berbagai kelompok masyarakat lain. Media telah menghantarkan masyarakat untuk lebih dekat dengan konteks kehidupan dan kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat.


  4. Media digunakan untuk membujuk khalayak yang mencari keuntungan dari pesan yang diterimanya. Melalui media banyak orang yang mencari keuntungan.


  5. Media sebagai hiburan, sebagian besar media melakukan fungsi sebagai media yang memberikan hiburan kepada masyarakat.


Dari beberapa peran media di atas, kita dapat mencermati bahwa pada setiap peran yang dimiliki oleh media, sering kali terdapat unsur-unsur politik. Contohnya saja pada poin keempat, media dugunakan untuk mencari keuntungan, hal ini dapat kita amati dari para pemilik media yang menggunakan medianya untuk mempromosikan diri (pencitraan). Contohnya beberapa iklan Aburizal Bakhrie di TV One yang bertujuan untuk pencitraan dirinya. Begitu juga pada poin kelima. Di celah-celah acara hiburan, ternyata nuansa pesan-pesan banyak terkait dengan pesan-pesan politik, contohnya pada acara Republik Mimpi di Metro TV.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ 11 Pengertian Sosiologi Politik Menurut Para Ahli Serta Peran Dan Contohnya


Proses Media Masa dalam Komunikasi Politik

Proses komunikasi politik sama seperti proses komunikasi seperti umumnya (komunikasi tatap muka serta komunikasi bermedia) dengan komponen dan alur:

  1. Pengirim pesan
  2. Proses penyusunan ide menjadi simbol/pesan
  3. Pesan
  4. Media atau Saluran
  5. Proses pemecahan/ penerjemahan simbol-simbol
  6. Penerima pesan
  7. Umpan balik, respon.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pancasila Sebagai Etika Politik


Model Komunikasi Politik dalam Media Masa

  • Model aristoteles

Model aritoteles adalah suatu model yang sangat klasik dialam ilmu komunikasi. Aris toteles sewaktu masih hidup pada saat komunikasi tetorika sangat berkembang di Yunnani. Perkembangan pada keterampilan individu membuat pidato pembelaan didepan pengadilan serta saat kelakukan rapat-rapat umum yang pada saat itu dihadiri juga oleh rakyat. Sehingga, model tersebut lebih berorientasi pada pidato, yang utama pidato untuk memberikan pengaruh terhdap orang lain, sehingga model ini juga dapat disebut model retorika / model retoris, pada saat ini kita kenal sebagai komunikasi publik. Model komunikasi ini, memiliki 3 bagian dasar yakni, pendengar (listener), pesan (message), pembicara (speaker).


  • Model Harold Lasswell

Model komunikasi Lasswell berupa ungkapan verbal, yaitu :

  1. Who (siapa)
  2. Say what (mengatakan apa)
  3. In which channels (melalui saluran apa)
  4. To whom (kepada siapa)
  5. With what effect (dengan akibat apa)

  • Model Gudykunst dan Kim

Pada model ini sebenarnya adalah model komunikasi antarbudaya, yaitu komunikasi antara individu-individu yang berasal dari berbagam budaya, atau komunikasi dengan orang asing. Walaupun model ini juga tetap berlaku pada semua orang, sebab pada dasarnya tidak ada dua orang yang memiliki latar budaya, sosialbudaya, serta psikobudaya yang hampir sama. Asumsinya dari model tersebut adalah dua orang sama dalam berkomunikasi masing-masing dari mereka berperan mengirim dan juga untuk menerima atau keduanya untuk penyendian dan penyandian balik.


  • Model Interaksional

Model ini mempunyai karakter  yang kualitatif, nonlinier, serta nonsistemik. Komunikasi digambarkan sebagai pembentukan maka (penafsiran atas pesan atau perilaku orang lain) terhadap semua peserta komunikasi. Beberapa konsep penting yang dipakai ialah diri (self), simbol, makna, diri yang lain (other), tindakan, dan penafsiran.


  • Agenda Setting

Asumsi teori ini merupakan bahawa bila media memberikan tekanan terhadap peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggap penting. Jadi, apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan mempunyai efek yang sangat kuat, utamanya karena asumsi ini kerkaitan dengan proses belajar buka dengan perubahan sikap serta pendapat. Media massa mempunyai efek yang sangat kuat sebab keterkaitan dengan proses belajat dan bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Mediasi: Pengertian, Jenis, Tahapan Serta Efektivitasnya


Hubungan Media dengan Politisi dan Kegiataan Komunikasi Politik

Persoalan yang paling esensial dalam komunikasi politik adalah bagaimana para politisi dan pemerintah memanfaatkan media massa dalam membentuk citra dan public opinion pagi partai politik atau lembaganya serta aktifitasnya dalam masyarakat sebagai  pekerja politik.


  • Saling Ketergantungan antara Media dan Politikus

Bentuk komunikasi politik sangat terkait dengan perilaku politisi dan pemerintah untuk mencapai tujuan politiknya. Media massa memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan komunikasi politik. Dalam komunikasi politik mekanistis, politisi disebut sebagai komunkator politik. Politisi adalah pekerja politik yang melakukan aktifitas politik, baik dalam pemerintahan (presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, bupati) maupun di luar atau di dalam parlemen (DPR dan DPRD).


Politikus dan aktivis harus melaksanakan komunikasi politik untuk memperoleh dukungan massa atau dukungan pendapat umum. Oleh sebeb itu para politikus, pejabat, atau siapa saja yang ingin memanfaatkan media massa sebagai media komunikasi politik harus memiliki kemampuan yang prima dalam menciptakan berita, yaitu peristiwa yang aktual. Wartawan, selain sebagai orang yang berada di balik media massa juga merupakan bagian dari masyarakat, sehingga mereka memerlukan hubungan sosial termasuk dengan politikus. Dalam melaksanakan hubungan itu, para politikus melaksanakan komunikasi politik interaksional kepada wartawan tersebut.


Selain itu, hubungan media massa dengan politikus bersifat mutual simbiosis. Media memerlukan berita politik dan politikus dapat menjadi objek berita atau narasumber berita. Politikus dengan seluruh aktivitas (komentar dan perilaku) merupakan objek berita yang menarik. Hal tersebut dapat dipahami karena di tangan para politikus itu akan lahir banyak keputusan politik yang menyangkut hajat hidup orang banyak.


Seluruh kegiatan politik memang selalu aktual dan diminati oleh khalayak. Sebailiknya, berhubung politikus adalah pekerja dan pengambil keputusan politik, media merupakan sumber informasi yang sangat penting bagi para politikus. Dengan kata lain, informasi dari media terutama pendapat yang disalurkan oleh masyarakat selalu menjadi masukan yang berharga dalam proses pengambilan keputusan politik,termasuk dalam penyusunan peraturan perundangan. Justru itu, politikus dengan media massa memiliki saling ketergantungan dan saling membutuhkan.


  • Peran Media Mendukung Kegiatan Komunikasi Politik

Bentuk komunikasi politik sangat terkait dengan perilaku politikus atau aktivis politik untuk mencapai tujuan politiknya. Teknik komunikasi yang dilakukan diarahkan untuk mencapai dukungan legitimasi, yang meliputi tiga level, yaitu pengetahuan, sikap, dan perilaku khalayak. Kegiatan komunikasi politik meliputi upaya untuk mencari, mempertahankan, dan meningkatkan dukungan politik .


Keberadaan media massa dalam perspektif ilmuan komunikasi sangat berperan dan efektif dalam membahas dan menyebarluaskan pesan-pesan politik. Hal ini berkaitan dengan fungsi komunikasi massa, Wilbur Schamm menyatakan komunikasi massa berfungsi sebagai decoder, interpreter, dan encoder . Sedangkan DeVito menyebutkan 6 fungsi komunikasi massa, yakni

  1. menghibur;
  2. meyakinkan;
  3. menginformasikan;
  4. menganugerahkan status;
  5. membius; dan
  6. menciptakan rasa kebersatuan.

Enam fungsi komunikasi massa tersebut tentunya sangat mendukung berbagai kegiatan komunikasi politik. Yang paling dapat dirasakan yaitu fungsi meyakinkan. Fungsi meyakinkan terhadap tokoh politik dapat dilakukan media massa melalui persuasi kepada khalayak dalam empat bentuk, yakni:

  • Mengukuhkan dan memkuat sikap, kepercayaan, dan nilai seseorang;
  • Mengubah sikap, kepercayaan, atau nilai seseorang;
  • Menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu;
  • Memperkenalkan etika, atau menawarkan sistem nilai sesuatu.

Sehubungan dengan fungsi meyakinkan (to persuade) di atas, pemimpin politik, aktor, atau aktivis politik tentu sangat terbantu dalam melakukan berbagai bentuk kegiatan komunikasi politik. Bentuk kegiatan komunikasi politik yang sudah lama dikenal dan dilakukan oleh para politikus menurut Arifin antara lain retorika politik, agitasi politik, propaganda politik, public relations politik, kampanye politik, dan lobi politik.


  • Media dan Gejolak Politik

Lebih dari dua puluh tahun silam, terdapat 3 (tiga) kasus yang popular pada pemerintahan di Asia Tenggara yang tidak disukai oleh rakyatnya dan diprotes melalui gerakan perlawanan rakyat. Di Filipina tahun 1986, gerakan People Power berhasil megusir Marcos dari kursi kuasa kepresidenan. Di Thailand tahun 1992 yang terkenal dengan Peristiwa Mei mendepak pemerintah Suchinda Kraprayoon dari kekuasaan negara, dan Indonesia tahun 1998. Media memainkan peranan penting dalam gerakan yang terjadi di negara -negara tersebut, kecuali Myanmar (1988).
Asumsi utama dalam kajian demokratisasi adalah semakin press independent dengan semakin besar kebebasan yang dimiliki maka akan memberi kontribusi positif pada perubahan politik, mendukung transisi demokrasi dan meruntuhkan rejim yang otoritarian.


Dengan kata lain, media dapat memainkan peranan yang sangat besar khususnya pada saat babak politik dalam transisi, karena media dapat bertindak sebagai agen perubahan. Neuman menjelaskan bahwa kebebasan memegang peranan penting di Asia Tenggara, khususnya dalam proses liberalisasi politik yang berhubungan dengan munculnya pers yang lebih terbuka dan kritis. Lalu, apa fungsi yang ditunjukkan oleh media sebagai institusi politik? Salah satu fungsi yang telah dirancang oleh Soeharto dan elite negara dalam negara berkembang adalah mempromosikan ideologi nasional dan melegitimasi proses pembangunan.


Dalam menjalankan fungsi I ni, pers adalah sebagai sebuah agen stabilitas, yang bertugas membantu melestarikan tatanan sosial politik. Fungsi ini umumnya berkaitan dengan istilah development journalism. Fungsi kedua adalah memonitor tatanan politik pada masa damai, melakukan checks and balances. Fungsi ketiga adalah sebagai fire-fighting , yaitu membantu dalam menentukan hasil dari perubahan politik dan sosial dramatik yang terjadi saat krisis.


Beberapa contoh di Asia dapat menunjukkan hal ini, yakni peran media dalam menggulingkan rezim Marcos di Filipina di tahun 1986, atau dukungan yang ditunjukkan pers pada demonstrasi pro-demokrasi pada bulan Mei 1992 di Bangkok. Dalam fungsi ketiga ini, pers merupakan agen perubahan (agent of change).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan )


Media sebagai Saluran Persuasi Politik/Kampanye Politik

Pada poin sebelumnya telah disebutkan bentuk kegiatan persuasi politik yang dilakukan oleh para politikus. Dan dalam poin ini penulis ingin membahsa secara lebih rinci tentang salah satu bentuk kegiatan politik, yaitu kampanye politik. Penulis memilih kampanye politik karena di Indonesia saat ini para politikus sedang sibuk melaksanakan kampanye politik terkait dengan kegiatan pemilihan kepala daerah.


Pemilu dilakukan menjelang pemilihan, terutama pemilihan anggota legisltif yang disebut pemilihan umum (Pemilu) atau pemilihan raya. Selain pemilihan anggota parlemen, yang tidak kalah pentingnya adalah pemilihan jabatan-jabatan politik, terutama pemilihan  presiden, gubernur, walikota, dan bupati.


Kampanye politik adalah bentuk komunikasi poltik yang dilakukan oleh seseorang atau sekompok orang atau organisasi politik dalam waktu tertentu untuk memperoleh dukungan politik dari rakyat. Pada umumnya, kampanye politik diatur dengan peraturan tersendiri, yaitu waktu, tata cara, pengawasan, dan sanki-sanksi jika terjadi pelanggaran oleh  penyelenggara kampanye.


  • Media Sebagai Pelantara Kampanye Politik

Penulisan ini membahas tentang media dan politik, maka penulis ingin memaparkan kegiatan kampanye dengan media sebagai alat atau pelantaranya. Penulis membagi media dalam kegiatan kampanye politik kedalam dua bagian, yaitu media cetak dan media elektronik.

1. Media Cetak sebagai Pelantara
Media cetak masih merupakan alat utama untuk berkomunikasi dengan khalayak. Kepustakaan kampanye (selebaran, brosur, foro, dsb), masih tetap merupakan bagian dari politik kontemporer. Berikut dua tipe media cetak yang sangat penting dalam melakukan kampanye politik , yakni:


a) Surat langsung
Industri surat langsung telah menguasai bagaian yang semakin besar dari anggaran kampanye kandidat. Berbagai perusahaan komersial melakukan kampanye surat langsung dan beberapa, terutama Richar Viguerie melakukan spesialisasi dalam pengiriman surat regional dan nasional selama pemilihan. Kampanye surat langsung ditujuakan pada:

  • Pengumpul dana
  • Pembinaan pengenalan nama dan citra kandidat
  • Imbauan untuk mengumpulkan dana.

Di Indonesia, kampanye melalui sutat langsung jarang digunakan. Kampanye melalui surat langusung biasanya memakan banyak biaya. Dalam membangun citra dan mempengaruhi pemilih, surat langsung biasanya lebih tidak menguntungkan. Robyn dan Miller memeriksa pengaruh pengiriman surat langsung kepada 72.000 orang pada tahun 1974. Mereka menemukan bahwa surat langsung tidak memiliki cukup pengaruh terhadap tingkat informasi pemilih, pandangan kandidat, tujuan memberikan surat dalam pemilihan, atau pemilihan kandidat. Singkatnya, hasil dari surat langsung tidak selalu mamadai bagi biayanya.


b) Surat kabar
Tiga tipe surat kabar yang bertindak sebagai sarana bagi kampanye politik adalah ihwal berita, editorial, dan iklan. Semuanya membantu pembinaan citra dan penyajian masalah. dalam editorial, dukungan lebih berorientasikan masalah, tetapi juga dengan cara mengesankan atau dengan cara menghinakan, berbicara tentang sifat pribadi kandidat. Begitu juga dengan iklan politik. Periklanan politik melaksanakan fungsi lain di luar pembuatan citra dan penyajian masalah. ikaln politik dalam surat kabar, begitu pula yang dibagikan dengan selebaran, brosur, dan surat langsung menyokong morel para pekerja kampanye: setikdaknya mereka mendapat kesan bahwa terjadi pengeluaran uang.


Periklanan politik dalam media cetak adalah suatu cara untuk menyelundupkan iklan yang sewaktu-waktu yang keberatannya terlalu besar untuk ditempatkan di radio atau televisi. Jenis iklan ini adalah iklan yang mencantumkan dafta nama orang yang mendukung seorang kandidat. Yang terpenting dalam menimbang peran suarat kabar dalam persuasi politik adalah dampak dukungan surat kabar kepada bagaimana orang memilih.


c) Poster Politik
Poster politik merupakan salah satu teknik komunikasi kampanye yang paling beraneka warna dan paling menarik. Yang tersebar pada lanskap pada pemilihan, pada billboard, pohon, tiang listrik, dan dinding bangunan adalah contoh bentuk periklanan politik ini. Gary Yanker menyebut poster politik sebagai “Prop Art” atau seni propaganda.
Poster mencari dukungan luas untuk kandidat, partai, dan program partai; mengumumkan pertemuan politik dan rapat umum partai yang akan datang; membantu mengumpulkan dana; mengkritik oposisi; membinan pengenalan nama bagi kandidat yang tidak dikenal; dan membangkitkan semangat para pekerja kampanye.


2. Media Elektronik sebagai Pelantara
Bila memkirkan media elektronik, biasanya kita menjadi ingat kepada radio dan televisi, namun dalam komunikasi politik, telepon juga merupakan media yang penting. Apalagi, terdapat berbagai inovasi dalam komunikasi elektronik yang juga mempunyai efek di bidang politik.


a. Kampanye telepon
Telepon sebagai alat komunikasi lisan mempunyai beberapa kegunaan bagi kampanye kontemporer. Telepon merupakan sarana yang bergunan bagi hubungan pribadi jika organisasi kampanye ingin mengumpulkan dana. Baik melalui panggilan telepon kepada para pendukung atau digunakan bersama-sama dengan teleton (acara televisi yang menghimpun dana untuk darmabakti), telepon mencapai sejumlah pemilih dalam tempo yang sangat singkat.
Telepon juga menambah jumlah pemilih yang datang. Hal ini terutama berguna jika seorang kandidat menginginkan banyak pemilih yang hadir dalm distrik dan seleksi yang diketahuinya banyak simpati yang laten terhadap pencalonannya. Hubungan telepon juga memperkenalkan kandidat kepada pemilihnya. Kandidat merekam suatu pesan, kemudian pesan itu diputar pada setiap pesawat penerima telepon setelah terjadi sambungan melalui pemutaran nomor secara otomatis.


Imbauan untuk mendapat suara juga dapat dilakukan melalui telepon, biasanya oleh staf besar yang terdiri atas pekerja sukarela yang mengoperasikan sederatan telepon atau oleh pekerja perseorangan yang menelepon dari rumah masing-masing. Pesan yang terkandung bahwa sukarelawan itu cukup menaruh perhatian kepada kandidat sehingga ia menelopon secara pribadi. Akhirnya, telepon membantu survei tentang opini para pemilih; polling telepon, dengan menggunakan teknik pemutaran nomor secara acak.  Untuk melengkapi telepon bagi setiap tujuan ini terdapat beberapa sarana teknik: sambungan WATS yang memungkinkan sejumlah besar hubungan interlokal dengan biaya tetap; mesin pemutar nomor otomatis, seperti TELO/PLAY yang digunakan dalam kampanye tahun 1972, menungkinkan seorang pekerja kampanye mengadakan 300 hubungan telepon dalam lima jam dari sebuah telepon rumah.


b. Kampanye radio
Radio memiliki keuntungan tertentu yang melebihi sarana komunikasi lain. Radio lebih murah daripada televisi dan surat langsung. Di samping itu radio merupakan saluran massa dan saluran minoritas. Berbagai saluran radio melayani khalayak khusus. Seorang kandidat bukan menyebarkan imbauannya ke wilayah dan kepada khalayak yang luas yang tidak relevan dalam kampanyenya, malainkan menunjukkanya kepada sasaran berupa jenis pemilihan yang paling besarnya ditanggapi.


Radio mulai berperan selama pemilihan dalam berbagai hal. Contoh yang paling terkenal adalah Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika Serikat. Ia menggunakan radio dengan sangat efektif untuk memperoleh dukungan publik. Waktu Presiden Roosevelt menggunakan media, suasana politik dan ekonomi Amerika Serikat sedang terjerembab karena krisis ekonomi bangsa (depresi ekonomi) dan usaha Roosevelt untuk pemulihan ekonomi kembali, tidak saja usaha pemerintah tapi juga dengan dukungan rakyat Amerika. Inilah salah satu yang mendorong Roosevelt menggunakan media bagi program-program ekonominya.


Radio memberikan para pendengarnya peluang untuk mengevaluasi pejabat-pejabat publik yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan. Dari pada siaran radio hanya untuk pidato dan kampanye, Roosevelt berbicara secara bersahabat dengan publik Amerika tentang cara penanggulangan depresi ekonomi. Yang menarik, pidatonya itu seolah-olah semacam ‘pelajaran perbankan’ kepada penduduk Amerika yang waktu itu berjumlah sekitar 60 juta jiwa.  Pidato radio Roosevelt dinamakannya Fireside Chat karena dilaksanakannya dekat perapian di lantai dasar Gedung Putih. Dan kemudian, pidato-pidato lainnya dengan menggunakan media radio juga dinamakannya sebagai fireside chat dilakukan di tempat yang sama di Gedung Putih.


Terdapat beberapa pedoman praktis bagi kandidat yang mempersiapkan penyajian radio, di antaranya:

  1. Bagi pembicaraan radio, pilih tema pokok yang dikenal baik;
  2. Membuka siaran dengan pernyataan atau gagasan yang memikat agar pendengar tetap mendengarkan;
  3. Sajikan pidato dengan urutan yang logis dengan kata-kata sederhana dan kalimat-kalimat deklaratif yang sederhana;
  4. Gunakan sedikit mungkin statistik;
  5. Capai kesimpulan yang pasti.

c. Kampanye televisi
Televisi tetap digunakan secara luas sebagai saluran komunikasi kampanye. Pada dasawarsa 1950-an dan 1960-an, tekanan dalam kampanye televisi adalah pada pembentukan citra. Pada tahun 1960-an, pertama kali dalam sejarah Amerika, debat antara calon presiden AS, Kennedy dengan Nixon. Dalam empat kali perdebatan melalui televisi siaran, Kennedy yang sebelumnya dipandang oleh rakyat Amerika, bukanlah calon yang tepat untuk presiden AS, namun sewaktu debat via televisi secara total merubah pandangan masyarakatnya bahwa pemimpin AS yang akan datang adalah Kennedy.


Rahasianya, sebagaimana diungkapkan oleh pakar media, Joseph C. Spear (1984) dalam bukunya: Presidents and the Press, sewaktu panelis meminta Kennedy mengajukan pertanyaan, Nixon cenderung bersikap difensif, menjawab pertanyaan Kennedy point by point dan kurang menghiraukan khalayak massa (pemirsa) di balik kamera. Sedangkan Kennedy, sebaliknya, tampil santai, tenang, meyakinkan sekali. Ketika ia menjawab pertanyaan, ia mengarahkan pandangannya pada kamera seolah-olah ia berbicara kepada jutaan pemirsa Amerika yang mengikuti debat terbuka tersebut. Akhirnya pada pemilihan presiden 8 November 1960, John F. Kennedy keluar sebagai pemenang dengan selisih suara tipis pada popular vote. Ia meraih 34.220.984 popular vote (49,7 %), sedangkan rivalnya Nixon memperoleh 34.108.157 popular vote (49,6 %). Sementara pada tingkat electoral vote, Kennedy jauh meninggalkan Nixon dengan perolehan 303 suara sedangkan lawannya hanya mendapat 219 suara.


Memperhatikan dampak televisi dalam kampanye pemilihan presiden, beberapa pengamat media massa berpendapat bahwa andaikata pada zaman George Washington sudah ada televisi mungkin ia tidak akan terpilih sebagai presiden karena mukanya datar tanpa ungkapan apapun juga sedangkan tingkah-lakunya kaku. Pengamat lain berpendapat bahwa Franklin Delano Roosevelt yang lumpuh setengah badannya dan terpaksa memakai kursi dorong kemungkinan besar juga tak akan terpilih.


  • Inovasi dalam Media Politik

Semakin berkembangya teknologi, para juru politikus dan juru kampanye politikpun menerapkannya untuk tujuan persuasif. Beberapa inovasi teknologi yang digunakan para politikus dalam melakukan kampanye, antara lain:


  1. Televisi antena komunitas => seperti televisi kabel atau CATV sangat menambah jumlah saluran televisi yang tersedia. Terdapat kemungkinan membuat acara 24 jam sehari pada saluran-saluran khusus yang di sampaikan ke rumah melalui CATV.


  2. Rekaman video elektronik => seorang kandidat dapat memasok sejumlah besar pemilih dengan penampilan televisi yang direkam. Cocok untuk ditonton pada waktu luang melalui playback pada pesawat televisi di rumah.


  3. Studio elektronik mobil ( Paxmobiles) => saluran ini menjelajah dari kota ke kota. Dilengkapi dengan deretan pesawat telepon, perlengkapan perekam audio dan video, dan perkakas elektronik lainnya. Mobil van ini memasok para pekerja kampanye dengan beraneka ragam komunikasi seketika.


  4. Radio citizen (CB) => salah satu yang menggunakan media ini adalah Betty Ford. Ia melakukan kampanye untuk suaminya dalam pemilihan pendahuluan kepresidenan tahun 1976 di Texas. Betty menggunakan CB dengan nama siar First Mama.


  • Jejaring Sosial

Menguasai komunikasi publik memang salah satu kunci kemenangan. Franklin Delano Roosevelt menggunakan radio dan John F Kennedy memanfaatkan televisi untuk menggapai kemenangan. Kini Barack Obama menggunakan internet sebagai media sosial, menyapa masyarakat melalui teknologi komunikasi yang berkembang amat pesat, yakni  jejaring sosial ( social networking ).


Namun, Obama bukan politisi Amerika pertama yang memanfaatkan jejaring sosial untuk menuju kursi kepresidenan. Howard Dean menggunakan Meetup.com saat nominasi Partai Demokrat dalam pemilihan presiden tahun 2004. Dean berhasil mengumpulkan 27 juta dollar AS melalui online. Pakar komunikasi Phil Noble, menyebutkan, Obama meraih hampir satu miliar dollar AS selama kampanye tahun 2008. Jumlah ini 12 kali lebih banyak dibandingkan dengan perolehan John Kerry, yang juga memperoleh dana kampanye lewat cara yang sama tahun 2004.


Yang pasti, Obama dan tim suksesnya betul-betul memanfaatkan internet sebagai alat menuju kemenangan. Hal ini tidaklah heran karena di AS sebesar 71,9 persen atau 218,3 juta dari 303,8 juta penduduknya menggunakan internet. Bahkan, internet telah menjadi bagian utama kehidupan politik Amerika. Sampai akhir Oktober lalu, Obama memiliki lebih dari 1,7  juta sahabat di Facebook, beberapa di antaranya warga negara Indonesia, dan 510.000 teman di MySpace. Di jejaring sosial Twitter, Obama memiliki lebih dari 45.000 pengikut. Semua aktivitasnya diinformasikan melalui jejaring sosial tersebut langsung kepada sahabat-sahabatnya.


Jutaan orang di dunia, tidak hanya di Amerika, dapat menyaksikan pidato Obama melalui You Tube. Obama juga memiliki blog pribadi, mengajak pendukungnya berperan serta dalam pengumpulan dana melalui online. Obama dan tim suksesnya telah mengubah cara politisi menarik publik Amerika, termasuk mengumpulkan dana kampanye melalui online. Obama telah memindahkan politik kepresidenan masuk ke abad digital.


Di indonesia pun, beberapa politisi juga menggunakan jejaring sosial dalam untuk mendapatka dukungan dari rakyat. melalui fasilitas jejaring sosial mereka bisa melakukan  persuasi kepada masyarakat indonesia, khususnya kaula muda.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Media Gambar – Jenis, Fungsi, Manfaat, Karakteristik, Kelebihan, Kekurangan, Prinsip, Contoh, Para Ahli


Pemilihan Media Komunikasi Politik

Dalam komunikasi politik, seluruh media dapat digunakan karena tujuannya adalah untuk membentuk dan membinan pendapat umum, serta mempengaruhi pemberi suara dalam  pemilihan umum. Selain itu, komunikasi politik juga bertujuan untuk mempengaruhi kebijakan atau keputusan dalam pembuatan peraturan dan perundangan.


Namun perlu juga diperhatikan penggunaan medium (tunggal) atau media (jamak) dalam komunikasi politik. Perlu dipilih dengan cermat untuk menyesuaikan dengan kondisi dan situasi khalayak, dengan memperhatikan sistem komunikasi politik di suatu negara. Medium atau media hanya digunakan untuk komunikasi jarak jauh. Sedangkan untuk komunikasi tatap muka, tentu media tidak diperlukan. Khusus untuk komunikasi jarak jauh dengan orang banyak (massa), diperlukan media massa atau media interaktif (internet).


Penggunaan salah satu media sangat tergantung pada kebutuhan atau kemampuan khalayak menerima atau mencerna pesan-pesan politik yang akan disampaikan. Jadi, seleksi media didasarkan pada kemampuan, kebutuhan, dan kepentingan serta lokasi khalayak yang dijadikan sasaran komunikasi politik.


Seperti yang telah dijelaskan di atas, pemilihan media komunikasi politik tentu juga harus memperhatikan keadaan khalayak. contohnya saja kegiatan polittik di Amerika, para calon politikus yang ingin mempersuasi masyarakat melakukan persuasinya melalui televisi, dan yang semakin merambah yaitu media internet. Hal ini memang sesuai dengan keadaan masyarakat Amerika yang tergolong sudah maju.


Berbeda dengan Indonesia, televisi memang sudah lumrah digunakan sebagai media komunikasi politik. Namun, apabila media internet digunakan di Indonesia, tentunya hal ini masih tabu bagi masyarakat, hanya sebagian kecil masyarakat indonesia yang mengetahui cara mengakses internet. Sudah pasti, media internet belum menjadi media yang tepat digunakan dalam komunikasi politik di indonesia.


Intinya, masing-masing media memilki kelebihan dan kelemahan tertentu. Diperlukan kecermatan dari komunikator politik untuk memilihnya. Jika pemilihan medianya tepat, tentu komunikasi yang dihasilkan pun akan efektif, begitu juga sebaliknya. Jika media yang digunakan tidak efektif, maka bisa saja terjadi misscommunication antara komunikator politik dengan komunikannya (masyarakat) sehingga pesan yang disampaikan tidak sempurna dan hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diharapkan.


Media dan Privasi Dalam Politik

Selain sebagai sarana melakukan persuasi politik, media juga menciptakan lawan dari rasa kesatuan dan hubungan, yaitu privasi. Ini merupakan kecenderungan bagi seseorang untuk manarik diri dari kelompok sosial dan mengucilkan diri kedalam dunianya sendiri. Beberapa ahli teori berpendapat bahwa berlimpahnya informasi yang dijejalkan kepada individu telah membuat mereka merasa berkekurangan. Laporan gencar tentang perperangan, inflasi, kejahatan, dan pengangguran membuat orang merasa begitu putus asa sehingga mereka menarik diri ke dalam dunianya sendiri.


Selain hal di atas, media dan privasi juga sering dihubungkan dengan kepentingan  pemberitaan sebuah media dengan menyoroti kehidupan orang-orang yang menjadi sasaran media tersebut. Karena penulis membahas tentang media dan politik, maka ‘orang’ yang dimaksud di sini adalah para politisi/pejabat pemerintah.


Kebebasan media terkadang membuat wartawan lupa akan pentingnya sebuah privasi seseorang. Sering kali media menonyorot kehidupan pribadi seorang aktor politik dan kemudian mempublikasikannya ke khalayak. Hal ini sering kali terjadi terhadap berita yang sifatnya negatif, seperti perceraian bahkan pereselingkuhan. Tentu saja hal tersebut akan  berdampak buruk bagi citra negara Indonesia.