Suku Nias – Rumah Adat, Bahasa, Kepercayaan, Marga, Asal Usul, Mata Pencaharian, Baju Adat, Alat Musik, Budaya, Makanan Dan Minuman

Diposting pada

Suku Nias – Rumah Adat, Bahasa, Kepercayaan, Marga, Asal Usul, Mata Pencaharian, Baju Adat, Alat Musik, Budaya, Makanan Dan Minuman : Kami akan mengulas mengenai suku nias yang dimana dalam hal ini meliputi definisi, asal usul, budaya, bahasa, mata pencaharian agama dan kepercayaan, nah agar lebih memahami dan dimengerti simak ulasannya dibawah ini.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Suku Lingon” Definisi & ( Asal Muasal – Ciri Fisik )


“Suku Nias” Definisi & ( Asal Usul – Budaya – Bahasa – Mata Pencaharian – Agama – Kepercayaan )

Definisi Suku Nias

Suku bangsa nias mendiami Pulau Nias yang terletak disebelah barat Pulau Sumatera. Bersama dengan beberapa pulau kecil disekitarnya daerah ini sekarang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara. Penduduk asli pulau itu manamakan diri mereka Ono Niha artinya “anak manusia” dan menyebut pulau mereka Tano Niha artinya “tanah manusia”, populasi suku bangsa ini diperkirakan berjumlah sekitar 480.000 jiwa. Sedangkan yang lain ialah para pendatang seperti orang Batak, Aceh, Minangkabau dan Cina.


Asal Usul Suku Nias

Menurut masyarakat Nias salah satu mitos asal usul Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut “Sigaru Tora’a” yang terletak disebuah tempat yang bernama “Teteholi Ana’a” menurut mitos tersebut diatas menagatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Teteholi Ana’a karena memperebutkan Takhta Sirao, ke 9 putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.


Menurut Mitologi

Asal-usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut “Sigaru Tora`a” yang terletak di sebuah tempat yang bernama “Tetehöli Ana’a”. Menurut mitologi tersebut mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana’a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.


Menurut Penelitian Ilmiah

Penelitian ilmiah terakhir yang dilakukan untuk mengetahui asal-usul masyarakat suku Nias adalah penelitian Deoksiribo Nukleat Acid (DNA). Penelitian ini dilakukan oleh dua peneliti asal Belanda, yakni ahli genetika Professor Ingo Kennerknecht dari University of Münster, Jerman, dan Mannis van Oven, mahasiswa S-3 bidang Biologi Molekuler Forensik, Erasmus MC-University Medical Center Rotterdam, Belanda.


Professor Ingo Kennerknecht mengumpulkan 407 sampel darah atau air liur orang Nias dari 11 klan atau marga yang tersebar di Nias bagian Utara, Tengah hingga Selatan. Pengambilan sampel dilakukan dalam kurun waktu tahun 2002 dan 2003. Sampel kemudian dikirim ke laboratorium di Jerman untuk ekstraksi DNA, lalu ekstraksi DNA tersebut dibawa ke Rotterdam untuk selanjutnya dianalisis.oleh Professor Ingo dan Mannis Van Oven.


Dari hasil penelitian ini, Mannis Van Oven menduga orang Nias mewarisi gen mereka dari orang Taiwan yang bermigrasi ke Indonesia melalui Filipina menuju Kalimantan dan Sulawesi. Rute ini didukung bukti kemiripan DNA suku Nias dengan penduduk Filipina. Orang Nias kemungkinan besar berasal dari Taiwan sekitar 4000-5000 tahun yang lalu.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Suku Batak” Sejarah & ( Bahasa – Kesenian – Kepercayaan – Mata Pencaharian )


Marga Suku Nias

Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal). Berdasarkan asal usul suku Nias secara mitologi, dikatakan bahwa Sirao memiliki  9 anak yang dianggap orang pertama yang menginjakkan kaki di pulau Nias. 4 dari anak Sirao dan seorang cucu dari anaknya tersebut berhasil menginjakkan kaki di pulau Nias dengan selamat, sehingga menjadi leluhur mado (marga) orang Nias zaman sekarang.


  1. Hiawalangi Sinada atau disebut juga Hia Walangi Adu atau Hia Walangi Luodan sering disingkat “Hia” diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh di daerah Gomo tepatnya di Börönadu.Hia adalah leluhur marga Hia, Laia, Waruwu, Harefa, Telaumbanua, Gulö, Mendröfa, dan lain-lain.
  2. Gözö Hela-hela Danö, atau disingkat “Gözö” diturunkan ke bumi dan jatuh di daerah bagian Utara Pulau Nias tepatnya di barat laut Hilimaziaya Kecamatan Lahewa. Gözö merupakan leluhur marga Baeha, Dawölö, dan lain-lain.

  3. 3.Daeli Bagambolangi atau disebut juga Daeli Sanau Talinga atau Daeli Sanau Tumbo sering disingkat menjadi “Daeli” diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh di Tölamaera di Talu Nidanoi. Daeli merupakan leluhur marga Daeli, Gea, Larosa, dan lain-lain.
  4. Hulu Borodano atau Hulu , yang diturunkan di suatu tempat di Laehuwa, (di tepi sungai Oyo), kecamatan Alasa. Hulu merupakan leluhur marga Hulu, Nazara, Zaluchu, dan lain-lain.

Silögubanua atau disingkat Silögu diturunkan di bumi di sebelah Barat Pulau Nias dan mendirikan perkampungan pertamanya di Hiambua (di sebelah Timur Sungai Oyo). Silögubanua merupakan  leluhur marga Zebua, Zai, Zega, dan Iain-lain.


Budaya

Lompat batu “hombo batu: merupakan tradisi yang sangat populer pada masyarakat Nias di Kabupaten Nias Selatan. Tradisi ini telah dilakukan sejak lama dan diwariskan turun temurun oleh masyarakat di Desa Bawo Mataluo “Bukit Matahari”. Tradisi lompat batu sudah dilakukan sejakan jaman para leluhur, dimana pada jaman dahulu mereka sering berperang antar suku sehingga mereka melatih diri mereka supaya kuat dan mampu menembus benteng lawan yang konon cukup tinggi untuk dilompati.


Seiring berkembangnya jaman tradisi ini turut berubah fungsinya, karena jaman sekarang mereka sudah tidak berperang lagi maka tradisi lompat batu digunakan bukan untuk perang lagi melainkan untuk ritual dan juga sebagai simbol budaya orang Nias. Tradisi lompat batu ialah ritus budaya untuk menentukan apakan seorang pemuda di Desa Bawo Mataluo dapat diakui sebagai pemuda yang telah dewasa atau belum.


Para pemuda itu akan diakui sebagai lelaki pemberani apabila dapat melompati sebuah tumpukan batu yang dibuat sedemikian rupa yang tingginya lebih dari dua meter. Ada upacara ritual khusus sebelum para pemuda melompatinya. Sambil mengenakan pakaian adat, mereka berlari dengan menginjak batu penopang kecil terlebih dahulu untuk dapat melewati bangunan batu yang tinggi tersebut. Sampai sekarang tradisi ini tetap eksis di tengah budaya modern yang semakin menghimpit. Semoga saja kita dapat melestarikan budaya ini agar menjadi kebanggaan tersendiri untuk bangsa kita.


Bahasa Suku Nias

Bahasa Nias, atau Li Niha dalam bahasa aslinya, adalah bahasa yang dipergunakan oleh penduduk di Pulau Nias. Bahasa ini dapat dikategorikan sebagai bahasa yang unik karena merupakan salah satu bahasa di dunia yang setiap akhiran katanya berakhiran huruf vokal. Bahasa Nias mengenal enam huruf vokal, yaitu a, e, i, u, o dan ditambah dengan ö (dibaca dengan “e” seperti dalam penyebutan “enam” dan “pepaya”).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Suku Mentawai” Definisi & ( Sejarah – Bahasa – Kepercayaan – Adat Istiadat )


Abjad Bahasa Nias huruf besar dan huruf kecil sebagai berikut :

Aa, Bb, Dd, Ee, Ff, Gg, Hh, Ii, Kk, Ll, Mm, Nn, Oo, Őő, Pp, Rr, Ss, Tt, Uu, Ww, Ŵŵ, Yy, Zz,

huruf vokal (a, e, i, o, ő, u)

Huruf Konsonan (b, d, f, g, h, k, l, m, n, p, r, s, t, w, ŵ, y, z)

Huruf yang tidak ada dalam abjad bahasa Indonesia ( ő, ŵ)

Huruf yang tidak dipakai dari bahasa indonesia (c, j, q, v, x,)


Untuk menulis sebuah kalimat dalam bahasa nias, harus memperhatikan beberapa aturan

  1. Dalam penulisan kata yang terdapat huruf double harus menggunakan tanda pemisah (‘) contoh kata : Ga’a ( abang.)
  2. Semua kata dalam bahasa nias asli selalu ditutup oleh huruf vokal. Contohnya “omasido khömö soroi ba dödö gu”  yang artinya “Aku menyukaimu dengan sunguh-sunguh”

Beberapa kosakata :Ya’ahowu = Selamat (salam), ini digunakan baik di pagi, siang maupun sore hari. Bahasa Nias tidak memiliki kebiasaan membedakan salam berdasarkan waktu seperti halnya Selamat Pagi, Siang, Sore, Malam ;Saohagölö = Terima kasih ; Hadia Duria? = Apa Kabar? ;Manörö-nörö = Jalan-jalan ; Ya’o = Saya ; ya`ugö = Kamu ; Ya’ami = Kalian ; Ya’ita = Kita ; Ya’ira = Mereka ; Ahono = Tenang, Diam ; Aukhu =Panas


Rumah Adat Suku Nias

Rumah adat Nias (bahasa Nias: Omo Hada) adalah suatu bentuk rumah panggung tradisional orang Nias, untuk masyarakat pada umumnya. Selain itu terdapat pula rumah adat Nias jenis lain, yaitu Omo Sebua, yang merupakan rumah tempat kediaman para kepala negeri (Tuhenori), kepala desa (Salawa), atau kaum bangsawan.


Rumah panggung ini dibangun di atas tiang-tiang kayu nibung yang tinggi dan besar, yang beralaskan rumbia. Bentuk denahnya ada yang bulat telur (di Nias utara dan barat), ada pula yang persegi panjang (di Nias tengah dan selatan).Bangunan rumah panggung ini tidak berpondasi yang tertanam ke dalam tanah, serta sambungan antara kerangkanya tidak memakai paku, hingga membuatnya tahan goyangan gempa.Ruangan dalam rumah adat ini terbagi dua, pada bagian depan untuk menerima tamu menginap, serta bagian belakang untuk keluarga pemilik rumah.


Di halaman muka rumah biasanya terdapat patung batu, tempat duduk batu untuk berpesta adat,serta di lapangan desa ada batu-batu besar yang sering dipakai dalam upacara lompat batu.Saat ini peninggalan batu dari masa Megalitik seperti itu yang keadaannya masih baik dapat dilihat di desa-desa Bawomataluwo di Hilisimaetano.


Rumah adat Nias 

Baju Adat Suku Nias

Pakaian adat suku Nias dinamakan Baru Oholu untuk pakaian laki-laki dan Õröba Si’öli untuk pakaian perempuan. Pakaian adat tersebut biasanya berwarna emas atau kuning yang dipadukan dengan warna lain seperti hitam, merah, dan putih. Adapun filosofi dari warna itu sendiri antara lain:


  • *Warna kuning yang dipadukan dengan corak persegi empat (Ni’obakola) dan pola bunga kapas (Ni’obowo gafasi) sering dipakai oleh para bangsawan untuk menggambarkan kejayaan kekuasaan, kekayaan, kemakmuran dan kebesaran.
  • *Warna merah yang dipadukan dengan corak segi-tiga (Ni’ohulayo/ ni’ogöna) sering dikenakan oleh prajurit untuk menggambarkan darah, keberanian dan kapabilitas para prajurit.
  • *Warna hitam yang sering dikenakan oleh rakyat tani menggambarkan situasi kesedihan, ketabahan dan kewaspadaan.
  • *Warna putih yang sering dikenakan oleh para pemuka agama kuno (Ere) menggambarkan kesucian, kemurnian dan kedamaian.

Pakaian adat suku Nias

Makanan Dan Minuman


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Hukum Internasional – Perbedaan, Bentuk, Istilah, Asas, Sumber, Sejarah, Para Ahli


Makanan :

  1. Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk)
  2. Harinake (daging babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil)
  3. Godo-godo (ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut)
  4. Köfö-köfö(daging ikan yang dihancurkan, diawaskan durinya lalu disajikan dengan santan kelapa atau digoreng)
  5. Ni’owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar bisa bertahan lama)
  6. Rakigae (pisang goreng) 7)Tamböyö (ketupat) 8) Gae nibogö (pisang bakar)

Minuman :Tuo nifarö (tuak) adalah minuman yang berasal dari air sadapan pohon nira (dalam bahasa Nias “Pohon Nira” = “töla nakhe” dan pohon kelapa (dalam bahasa Nias “Pohon Kelapa” = “töla nohi”) yang telah diolah dengan cara penyulingan.


Makanan Dan Minuman

Alat  Musik Daerah Nias

1.Göndra atau gendang dalam bahasa Indonesia adalah salah satu alat musik tradisional khas suku nias, tidak jauh berbeda dengan gendang pada umumnya göndra juga terbuat dari kulit sapi atau kerbau, suaranya juga sama.

2.Aramba (gong) adalah jenis alat musik tradisional khas suku nias yang terbuat dari logam besi, atau Kuningan, sama seperti gong pada umumnya aramba juga di mainkan dengan cara dipukul dan mengeluarkan suara yang sangat keras. Alat musik aramba biasa di gunakan pada saat upacara adat, seperti upacara kematian siulu (raja), upacara owasa dan upacara adat lainnya.


3.Faritia adalah jenis alat musik yang mirip dengan talempong atau gamelan. Faritia bisa juga di sebut gong mini atau kecil bahan dan cara memainkannya sama seperti aramba.

4.Lagia adalah alat music yang hampir sama dengan rebab atau biola bedanya lagia di mainkan dengan cara meletakkan nya diatas permukaan tanah atau apasaja lalu di mainkan dengan cara di gesek.

5.Doli-doli adalah alat musik tradisional yang mirip dengan alat musik kolintang yang berasal dari Sulawesi, hanya saja ukuran Doli-doli lebih kecil daripada ukuran kolintang.


Alat  Musik Daerah Nias

Peniggalan Budaya Nias

Artefak Megalit

Di suatu pulau kecil di tengah samudera Hindia yang luas ada jejak budaya megalit yang masih hidup sampai saat ini. Nias, di wilayah Gomo, Kabupaten Nias Selatan. Salah satu lokasi eksotis tempat peninggalan artefak megalit di Wilayah Gomo ini bernama Tetegewo. Letaknya di  Desa Hilisao’ötö (Hilisaoto) kecamatan Sidua’öri (Siduaori).


Sesuai dengan namanya Desa Hilisao’ötö, hili artinya bukit maka daerah ini terletak di wilayah dataran tinggi serta dikelilingi oleh jajaran bukit-bukit yang tinggi sehingga tersembunyi dari dunia luar. Komplek batu megalit yang saya temui ini terdiri jajaran batu pipih bundar sepert meja, yang berjajar. Ada juga tiang-tiang batu. Orang setempat mengatakan ini adalah tempat untuk bermusayawarah pada jaman dahulu, dan konon katanya sering pada malam hari terdengar suara-suara seperti tarian di atas batu.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 7 Subjek Hukum Internasional : Teori, Pengertian, Perkembangan, Sumber Hukum

Artefak Megalit

Destinasi Wisata Pulau Nias

  1. Pink Beach Gawu Soyo
  2. Pulau Asu
  3. Pantai Sorake dan Lagundri
  4. Pantai Toyolawa
  5. Turelotu
  6. Tradisi Lompat batu
  7. Desa Bawomataluo
  8. Desa Orahili
  9. Danau Megoto

Mata Pencaharian Suku Nias

Mata pencaharian utama orang Nias ialah berladang tanaman ubi jalar, ubi kayu, kentang dan sedikit padi. Mata pencaharian tambahannya ialah berburu dan meramu, pada saat sekarang di pulau ini ditanam cengkeh dan semak nilam untuk diambil minyaknya.


Agama Dan Kepercayaan Suku Nias

Pada masa sekarang sebagian besar orang Nias sudah memeluk agama Kristen dan sedikit Islam. Agama asli mereka disebut malohe adu “penyembah roh” yang didalamnya dikenal banyak dewa, di antaranya yang paling tinggi ialah Lowalangi. Mereka memuja roh dengan mendirikan patung-patung dari batu dan kayu, rumah tempat pemujaan roh disebut osali. Pemimpin agama asli disebut ere. Pada masa sekarang nama Lowalangi diambil untuk menyebut Tuhan Allah dan osali menjadi nama gereka dalam konsep Kristen.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Suku Ambon” Pengertian & ( Rumah Adat – Pakaian – Tarian – Makanan – Agama – Kepercayaan )

DAFTAR PUSTAKA
Raharjo, Budi. 2000.adat pernikahan di nias. Diambil dari: www.kaskus co.id (4 april 2018)
Waruwu, Yohanes. 2014.rumah adat Nias. Diambil dari: www.arsitag.com (4 april 2018)
Christy, Agnes. 2018.alat music tradisional suku nias. Diambil dari: http://www.silontong com/2018/02/07/alat-musik-tradisional-nias/ (4 april 2018)
Zendrato, Aldo.2001.artefak megalit di nias. Diambil dari: http://www.museum-nias org/pameran/ (4 april 2018)
Daeli,Eunike.2003.baju adat nias. Diambil dari: https://sisteminformasipulaunias.wordpress com/category/baju-adat-nias/ (4 april 2018)