Resolusi Konflik – Model, Manfaat, Kelemahan, Kelebihan, Pembelajaran, Tujuan, Para Ahli

Diposting pada

Resolusi Konflik – Model, Manfaat, Kelemahan, Kelebihan, Pembelajaran, Tujuan, Para Ahli : Pemahaman yang memadai tentang kebudayaan dan seperangkat konflik yang ada di masyarakat merupakan sebuah kewajiban bagi kehidupan mannsia.

Conflict Resolution

Pengertian Resolusi  Konflik

Masyarakat dan kebudayaan (dimensi sosial) merupakan dua dimensi yang memiliki kaitan yang bersifat kausal namun mandiri. Dalam konteks ini tampak bahwa kebudayaan (perasaan, cipta, dan karya) yang telah dipelajarinya pada bangku sekolah hendaknya dapat diaplikasikan dalam kehidupan riil peserta didik sehari-hari. Individu sebagai bagian integral dari masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk menemukan berbagai alternatif terhadap berbagai fenomenasosial yang ada dan berkembang di masyarakatnya.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Berdirinya PBB Dan Tujuannya Terlengkap


Pemahaman yang memadai tentang kebudayaan dan seperangkat konflik yang ada di masyarakat merupakan sebuah kewajiban bagi kehidupan mannsia, baik yang diperoleh di sekolah maupun dari interaksi sosial, akan dapat melatih pesertadidik untuk bersikap dan berperilaku yang antisipatif terhadap dampak negatif yang timbul dalam kehidupan bennasyarakat.


Hal ini didasari oleh rasional, bahwa fenomena sosial dan kebudayaan dewasa ini telah memasuki hampir setiap aspek kehidupan umat manusia termasuk dalam bidang pendidikan, untuk ini pendidikan hendaknya diposisikan dalam konteks sosial budaya, agar tidak terjadi benturan-benturan yang mengarah pada terjadinya turbulensi sosial, yang pada akhirnya menyebabkan penderitaan bagi masyarakat yang berkepanjangan.


Dimensi konflikyang dimaksud dalam konteks ini adalah dinamika sosial-budaya yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan manusia di masyarakat yang kadangkala melahirkan berbagaikonflik yang dapat mengancam keutuhan dari masyarakat itn sendiri. Masyarakat dan seperangkat aturan hidup yang ada dan diadakan di tengah-tengah masyarakat merupakan sumber dari pembelajaran civic.


Sebagai salah satu disiplin dalam tataran keilmuan dalam nimpun ilmu-ilmusosial, civic pada hakikatnya adalah disiplin yang memfokuskan kajiannya padanilai-nilai Pancasila, sosial-budaya bangsa Indonesia, hukum, politik, dan pendidikankewarganegaraan.


Melalui pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila dan tata aturan bernegara, dengan berbagai fenomenanya, peserta didik diharapkan terampil dalam mencermati berbagai persoalan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakatnya dalam bingkaian nilai, moral, prinsip, dalil, dan teori-teori pendidikan kewarganegaraan (civic), sehingga mereka manipu memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Kebudayaan berperan dalam menjadikan kehidupan manusia dalam masyarakat lebih baik, baik dalam kapasitasnya sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial, sehingga pengembangan kebudayaan secara substansial diarahkan pada upaya perbaikan piranti-piranti kehidupan masyarakat secara menyeluruh.


Model Resolusi Konflik (MRK) sebagai sebuah model pembelajaran padadasarnya merupakan suatu gerakan revolutif yang interdisipliner dalam pembelajaran civicyang dikembangkan untuk menstimulasi dan eksplorasi hubungan antara masa lain,sekarang, dan masa yang akan datang dalam balutan konflik yang multidimensi sehingga setiap orang berkewajiban memiliki pengetahuan dan keterampilan menyelesaikan konflik yang ada di masyarakatnya bagi kesejahteraan umat manusia (NCSS,2000).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Asas-Asas Hukum Internasional Beserta Penjelasannya


Pengertian Resolusi Menurut Para Ahli

(Montgomery, 2000)

Model pembelajaran resolusi koflik merupakan suatu model pembelajaran yangdidasari oleh suatu pandangan bahwa ada hubungan kausalitas antara fenomenasosial, budaya, dan kemampuan serta tanggungjawab sosial individu bagi kehidupanmasyarakat secara siklus yang pada akhirnya membuat kehidupan manusia lebih baikdan mapan di tengah-tengah keharmonian.


Menurut Astari dan dkk

model resolusi konflik ialahkemampuan dan keterampilan siswadalam menyikapi dan memecahkan serta mengambil tindakan terhadapberbagai fenomena dan masalah masalah sosial budaya yang terjadi dilingkungan masyarakatnya (lokal,regional, nasional, dan internasional)dengan bersandar pada nilai-nilai danbudaya masyarakat dimana merekahidup dan berkembang.


Pengertian Resolusi  Konflik Menurut Para Ahli

“Mochtar Kusumaatmadja, Etty.R.Agoes, Op.Cit.,hal.154.

Pengertian resolusi merupaka seiring perkembangan kedinamisan hukum internasional melahirkan suatu tatanan sumber hukum baru yakni resolusi atau keputusan suatu organisasi internasional yang menurut kebiasaan internasional diakui oleh negara-negara di dunia saat ini. Keputusan-keputusan yang dikeluarkan dapat berasal dari organ eksekutif, legislatif maupun yudikatif suatu organisasi internasional.


“operative paragraph”.

Resolusi ialah suatu hasil keputusan dari suatu masalah yang telah disetujuai melalui konsensus maupun pemungutan suara menurut aturan dan tata cara yang telah ditetapkan oleh organisasi internasional atau bada yang bersangkutan. Resolusi pada umumnya terdiri dari dua bagian, yakni paragraf yang bersifat mukadimah “preambule paragraph” dan paragraf yang bersifat operasional.


Menurut Black’s Law Dictionary, keputusan “decision”: “a determination arrived at after consideration of facts, and in legal contect law”,

disebutkan bahwa keputusan itu ialah suatu ketentuan yang telah dicapai setelah mempertimbangkan fakta-fakta dan dalam konteks hukum.


Resolution “a formal expression of the opinion or will of an official body or a public assembly, adopted by vote; as a legislative resolution. Bryan A Garner, Black’s Law Dictionary. hal. 457.

Hal ini berarti bahwa suatu resolusi merupakan suatu bentuk petanyaan resmi mengenai suatu pendapat atau kehendak dari suatu badan yang resmi atau suatu majelis yang bersifat umum serta disahkan melalui pemungutan suara serta dinyatakan bahwa suatu resolusi itu merupakan sebagai suatu bentuk penyelesaian secara legislatif.


Definisi Resolusi Yang Digunakan Oleh PBB

Istilah “resolusi” sebagaimana yang digunakan oleh PBB memiliki arti yang luas, yakni tidak hanya mencakup akan suatu rekomendasi melainkan juga keputusan, “Marko Divac Oberg, The Legal Effect of Resolution of The UN Security Council and General Assembly in The Jurisprudence of The ICJ, 16 Eur.J.Int’L.2006. hal. 879. Pada umumnya resolusi merupakan suatu pernyataan tercatat yang berisi kesepakatan oleh negara-negara anggota.


Richard K.Gardiner, International Law, “England: Pearson Education Limited, 2003”, hal. 254. Secara umum, organisasi internasional merupakan suatu bentuk kerjasama atau koordinasi antar negara dalam suatu wadah yang telah mereka sepekati. Boer Mauna, Op.Cit, hal. 465. Kesepakatan-kesepakatan antar negara tersebut mereka tuangkan dalam bentuk suatu perjanjian yang mengikat antar negara tersebut.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian, Macam Dan 3 Asas Hukum Internasional Beserta Contohnya Terlengkap


Keputusan-keputusan atau resolusi yang dilahirkan oleh suatu organisasi internasional ada yang mengikat pada ruang lingkup intern organisasinya saja. Namun ada juga organisasi internasional yang mana keputusan yang dikeluarkannya tidak hanya berlaku dan mengikat bagi negara- negara anggotanya saja melainkan juga mengikat bagi negara-negara non anggota. Oleh karena itu pengaruh dan ruang lingkup berlakunya keputusan tersebut sangat besar dan luas.


Hal ini dapat dilihat pada keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh Majelis Umum maupun Dewan Keamanan PBB dimana ruang lingkup resolusi yang dikeluarkannya juga berlaku bagi negara non anggota PBB. Dalam praktiknya adapun fungsi-fungsi suatu resolusi yang dikeluarkan oleh suatu organisasi internasional ialah: Marko Divac Oberg, Op. Cit, hal. 881.


  • Menciptakan kewajiban, hak dan tau kekuatan maupun wewenang “fungsi subtantif”.
  • Menentukan fakta atau keadaan hukum yang dapat menentukan fungsi subtantif tersebut.
  • Menentukan bagaimana dan kapan suatu subtantif tersebut dapat berlaku.

Conflict Resolution

Aplikasi Model Resolusi Konflik

Aadapun asumsi yang mendasari pengembangan dan aplikasi model resolusi konflik dalam konteks pembelajaran di dalam jenjang pendidikan formal tersebut adalah:


  1. Paham dan sadar (literasi) terhadap dinamika dan problema hidup merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap orang termasuk peserta didik dalam kehidupannya di masyarakat agar mereka mampu mengantisipasi sedini mungkin dampak dinamika kultural bagi masyarakatnya,

  2. Revolusi teknologi yang merupakan buah cipta kebudayaan, mengakibatkan perubahan-perubahan yang dramatis dalam cara hidup manusia sehari-hari, carakerja, cara berpikir, cara merasakan, sebagaimana halnya dengan sistem kepercayaan dan nilai hidup yang mendasar,

  3. Inovasi-inovasi teknologi yang tiada terbendung dapat membawa ketakutan bagi umat manusia; di mana teknologi telah meracuni nilai-nilai original masyarakat,sehingga menimbulkan berbagai benturan sosial yang merusak tatanan berkehidupan yang telah tumbuh dan tebina di masyarakat,

  4. Kini manusia memiliki hak, tanggungjawab dan kesempatan untuk berdebat danmembentuk jenis masyarakat di mana kita dan anak-anak kita hidup; kesempatansemacam ini dapat berhenti untuk berada di masa datang yang dekat dan tepatjikakita memiliki conflictliteration yang visible,

  5. Orang yang tidak paham dan sadar terhadap konflik hidup dan hidup dalam konflik takut akan ketidaktahuannya dan dapat dengan mudahdimanipulasi serta tersesat, sementara orang yang paham dan sadar dengan konflik hidup dan tetap berpegang pada sistem nilai-etika yang baik mereaksi secara logis dan menilai situasi-situasi dengan ukuran bahwa: data + nilai = respon sosial dan moral secara etis serta tersosialisasikan.

  6. Kita sedang berada dalam proses menjadi dua masyarakat, yaitu humanis dan teknologis, di mana jurang di antara keduanya makin lebar; sehingga melalui modelMRK diharapkan jurang tersebut tidak menjadi lebih lebar dan berbahaya, dimana setiap individu telah mahir dalam menyikapi dan menyelesaikan konflikyang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakatnya.

Tujuan Model Pembelajaran Resolusi Konflik

David dan Porter (Rusman, 2017: 114) mengungkapkan alasan-alasan untuk  mengadakan pendidikan resolusi konflik di sekolah sebagai berikut:


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Rumus Kerucut : Volume Luas Permukaan, Tinggi, Dan Gambar


  1. Konflik merupakan sifat manusia yang alami dan dapat menjadi kekuatan yang konstruktif bila didekati dengan keterampilan.
  2. Proses pemecahan masalah pada resolusi konflik dapat meningkatkan iklim sekolah.
  3. Strategi resolusi konflik dapat mengurangi kekerasan, vandalisme, ketidakhadiran di sekolah yang parah dan skorsing.

  4. Pelatihan resolusi konflik membantu siswa dan guru memperdalam pemahaman mereka tentang diri mereka sendiri dan orang lain serta mengembangkan keterampilan hidup yang penting.
  5. Pelatihan dalam negosiasi, mediasi, dan pengambilan keputusan secara konsensus mendorong kegiatan warga negara pada tingkat tinggi.

  6. Mengalihkan tanggung jawab kepada siswa untuk memecahkan konflik tanpa
  7. Sistem manajemen perilaku yang lebih efektif dari pada penahanan, pengskorsingan, atau pengusiran (pemecatan) diperlukan untuk mengatasi konflik dalam ajang sekolah.
  8. Pelatihan resolusi konflik meningkatkan keterampilan dalam mendengarkan, berfikir kritis, keterampilan memecahkan masalah yang menjadi dasar bagi semua pengajaran.

  9. Pendidikan resolusi konflik menekankan keterampilan untuk melihat sudut pandang orang lain dan menyelesaikan perbedaan secara damai yang membantu seseorang untuk hidup dalam suatu dunia yang multikultural.
  10. Negosiasi dan mediasi merupakan alat-alat pemecahan masalah yang sangat cocok dengan masalah-masalah yang dihadapi generasi muda, dan orang-orang yang dilatih dalam pendekatan-pendekatan ini sering menggunakannya untuk memecahkan masalah tanpa mencari bantuan orang dewasa.

Sementara itu, untuk mengukur sikap siswa terhadap resolusi konflik dilakukan dengan skala sikap yang disederhanakan yang disusun dalam bentuk skala sikap yang terdiri dari tiga skala, yaitu setuju, netral, dan tidak setuju. Sikap terhadap resolusi konflik memiliki tiga indikator, yaitusikap terhadap konflik, sikap terhadap pengendalian diri pada rasa marah, dan sikap terhadap strategi penyelesaian konflik.


Conflict ResoConflict Resolutionlution

Manfaat Model Pembelajaran Resolusi Konflik

Selain itu manfaat pembelajaranresolusi konflik dapat dirasakan dalam pembelajaran secara individu maupun secara berkelompok.


Manfaat Model Pembelajaran Resolusi Konflik Bagi Individu

  1. Konflik membantu memunculkan dan mempertegas persoalan.
  2. Konflik memberikan kekuatan untuk lebih fokus pada isu-isu dari persoalan.
  3. Konflik membantu kita untuk tetap hidup realistis di dalam dunia nyata
  4. Konflik membantu kita untuk belajar dan mengambil manfaat dari berbagai perbedaan

Manfaat resolusi konflik dalam kelompok

  • Menambah pengalaman

Kita tentunya mendapat pengalaman dari kelompok, bagaimana bekerja dalam kelompok yang terdiri dari individu-individu majemuk,beraneka ragam latar belakang dan pola pikir. Dengan menyelesaikan konflikini, kitaharus belajar strategi menyatukan visi, membagi kerja, dan menjalankan tugas. Begitu pula saat pembagian kerja, akan menjadi terbiasa untuk bekerja secara team work, saling membantu, mendukung satu dengan yang lainnya.


  • Sikap mental

Dengan pengalaman berkelompok yang kita dapatkan secara sadar ataupun tidak tingkat kepercayaan diri juga meningkat, kepercayaan diri yang tinggi amat berguna saat harus melangkah dan menentukan sesuatu.


  • Keuntungan tambahan

Dari kemampuan berkelompok hendaknya disertai dengan kemampuan mengatur waktu dengan baik, agar kita dapat mendapatkan semua manfaat berorganisasi tanpa mengorbankan prestasi.


Pelaksanaan Model Pembelajaran Resolusi Konflik

Secara lebih jelas langkah-langkah model pembelajaran resolusi konflik disajikan dalam tabel berikut:

I

Identifikasi

a.      Menjelaskan tujuan pembelajaran

b.      Tanya jawab untuk menggali konsep yang telah dimiliki siswa

c.      Memberi contoh konflik/isu/masalah

d.     Pengecekan nilai-nilai personal pemeran masalah

e.      Tanya jawab terhadap konflik yang disajikan

 

II

Explorasi

a.      Penyajian pokok-pokok materi pembelajaran, identifikasi konflik yang disampaikan di bagian awal

b.      Pencarian sumber-sumber/pemberian bacaan untuk mendukung pemecahan masalah

c.      Mendiskusikan kaitan berbagai pihak dalam konflik yang diajarkan.

d.     Kaitan konsep yang telah mereka miliki dengan masalah sosial budaya yang dihadapi dalam pelajaran

III

Ekplanasi

a.      Merumuskan hipotesis tentang konflik yang diajar, mencari pihak-pihak/lembaga-lembaga yang paling bertanggung jawab, berwenang untuk menangani konflik

b.      Klarifikasi lagi konsep-konsep yang telah dimiliki siswa untuk penguatan unsur kognitif

c.      Buat tim kerja untuk membahas hal-hal lebih lanjut

d.     Tahap pengujian kebenaran hipotesis yang sudah disampaikan

IV

Negosiasi Konflik

a.       Guru mengawasi jalannya diskusi

b.      Membimbing siswa untuk mencetuskan ide-ide

c.       Membantu siswa mengumpulkan informasi yang dibutuhkan

d.      Laporan oleh masing-masing tim kerjaSimpulan hasil diskusi

V

Resolusi Konflik

a.       Menentukan sikap masing-masing terhadap konflik yang sudah dibahas, cek pemecahan mereka/pemahaman mereka

b.      Cek perumusan mereka/keputusan yang mereka buat terhadap sebuah konflik yang sudah diberikan

c.       Cek perumusan rekomendasi mereka, rekomendasi yang mereka buat, orang yang berperan, misalnya: kepala desa semestinya apa yang dilakukan kepala dusun, dan sebagainya.

Conflict Resolution

Kelemahan dan Kelebihan Model Pembelajaran Resolusi Konflik

Dalam model resolusi konflik terdapat kelebihan dan kekurangan diantaranya sebagai berikut:


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Lembaga Pendidikan : Pengertian, Macam Dan 6 Fungsi Lengkap


Kelebihan Model Resolusi Konflik

  1. Paham dan sadar (literasi) terhadap dinamika dan problema hidup merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap orang termasuk peserta didik dalam kehidupannya di masyarakat agar mereka mampu mengantisipasi sedini mungkin dampak dinamika kultural bagi masyarakatnya serta memahami dan mengadaptasi secara lebih baik perubahan-perubahan besar yang terjadi sebagai akibat dari benturan sosial-budaya di masyarakat, di mana keduanya berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupan manusia.

  2. Menyadari hubungan-hubungan yang kompleks yang ada di antara manusia dan masyarakat serta fenomena alamiah, khususnya konsekuensi-konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang dan meluas dan kompleksnya konflik sosial lokal, regional, nasional, dan global.

  3. Mengetahui dengan baik dan terampil dalam mengambil keputusan-keputusan sosial dan moral yang berkaitan dengan pemanfaatan unsur budaya dalam kehidupan masyarakat, karena hal tersebut berkenaan dengan berbagai permasalahan utama yang dihadapi oleh masyarakat, seperti pencemaran lingkungan, transportasi, abrasi moral-budaya, nilai hidup, nilai-nilai transendental, dan pengembangan masyarakat.

  4. Secara realistik dapat memproyeksikan (memperhitungkan) masa depan alternatif dan mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi positif dan negatifhya berdasarkan nilai-nilai luhur kebudayaan, filosofi bangsa, dan konvensi nilai global.

  5. Dapat bekerja sesuai dengan masa depan yang diinginkan dan adil bagi semua manusia dengan dilandasi oleh nilai-nilai kebudayaan yang luhur serta dibekali dengan seperangkat kemampuan dan keterampilan dalam menyikapi dan menyelesaikan konflik-konflik sosial di masyarakat.

Kekurangan Resolusi Konflik

Adapun kekurangan yang dimiliki oleh model pembelajaran resolusi konflik yaitu memungkinkan siswa menjadi jenuh karena harus berhadapan langsung dengan masalah dan memungkin siswa kesulitan dalam memperoses sejumlah data dan informasi dalam waktu singkat, sehingga Pembelajaran  ini membutuhkan waktu yang relatif lama.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Peran PBB Dalam Hak Asasi Manusia Dan Bantuan Kemanusiaan