Sejarah Suku Donggo

Diposting pada

Sejarah Suku Donggo

Suku Donggo atau disebut juga dengan Dou Donggo adalah suku bangsa di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Suku ini merupakan kelompok penduduk asli, masyarakat Donggo yang bermukim di pegunungan dan dataran tinggi di sebelah barat dan tenggara teluk Bima yang dikenal dengan Dou (Orang) Donggo Ipa dan Donggo Ele. Orang (Dou) Donggo Ipa bermukim di sebelah barat teluk Bima yaitu di gugusan pegunungan Soromandi. Sedangkan Dou Donggo Ele bermukim di sekitar pegunungan Lambitu. Dengan demikian, Dou Donggo Ele diartikan sebagai orang dataran tinggi sebelah timur. Sedangkan Dou Donggo Ipa berarti juga orang dataran tinggi sebelah barat teluk Bima.


Masyarakat Donggo Barat atau Donggo Ipa merupakan masyarakat Bima (Mbojo) yang mendiami wilayah pegunungan Soromandi. Masyarakat ini sering diidentikkan dengan kesaktian, kekerasan, dan keteguhan pada pendirian sebagai akibat dari sejarah kehidupan mereka yang tegas dalam melawan penjajah Belanda (misalnya, dalam Perang Kala tahun 1909 dan Perang Mbawa tahun 1910).

Baca Juga : Sejarah Suku Dompu


Kekerabatan Suku Donggo

Kelompok kerabat keluarga batih ialah keluarga batih patrilineal, dalam keluarga batih seorang ayah sangat dihormati dan mempunyai kekuasaan yang lebih besar. Apabila terjadi perceraian maka anak-anak akan berada dipihak suami, sedangkan isteri dikembalikan kepada keluarganya dan hanya menerima benda-benda pusaka serta sebagian dari harta yang didapat sebelum bercerai.


Beberapa istilah kekerabatan dalam keluarga inti ialah ama untuk ayah, ina untuk ibu, wi untuk istri, rahi untuk suami, anak sulung ialah ulu, anak bungsi disebut cumpukai dan lain-lain. Satu keluarga yang anggotanya selain keluarga inti, tapi ada anggota kerabat lain, misalnya nenek, bibi atau kemenakan dan kelompok kerabat semacam ini disebut ngge’e la’bo.


Suatu kebiasaan mereka di masa lalu menjodohkan anaknya sejek masih kecil, dan rata-rata kawin muda. Seorang wanita sudah cukup syarat untuk kawin kalau sudah datang masa haid dan sudah pandai bertenun. Sekarang kebiasaan itu sudah banyak berubah. Pranata berpacaran agaknya tidak dikembangkan dalam masyarakat ini, kalau seseorang anak laki-laki menginginkan seseorang gadis ia langsung saja menyatakan keinginan itu kepada orang tuanya.


Orang tuanya akan melakukan peminangan, kalau pinangan itu diterima dan satu waktu mereka pun bertunangan. Kalau sudaha bertunangan maka si perjaka wajib mengabdi atau bekerja menolong calon mertuanya sampai tiba masa perkawinannya, mas kawin yang diminta ialah uang, rumah, kerbau dan ternak lainnya.


Daur hidup masyarakat ini antara lain sesudah melahirkan, sang bayi disusukan oleh saudara dekat dari yang bersalin itu, selama tujuh hari setelah melahirkan api di dapur tidak boleh mati. Setelah bayi berumur tujuh hari ada upacara pemberian nama “cafe sari”. Bagi mereka yang beragama Islam dilakukan sunatan baik untuk laki-laki maupun bagi anak perempuan.


Anak laki-laki disunat pada usia 5-6 tahun, dalam rangka sunatan ini masih juga dilakukan upacara berdasarkan tradisi setempat, misalnya acara mako yaitu memberi semangat kepada sang anak. Anak ini sambil memegang keris mengucapkan pantun-pantun tertentu dengan diiringi bunyi-bunyian seperti gendang.


Bahasa Suku Donggo

Terdapat sedikit perbedaan bahasa yang digunakan pada masyarakat Donggo Ipa dan Donggo Ele. Bahasa dan budaya yang berkembang pada masyarakat Donggo Barat (Donggo Ipa) hampir sama dengan bahasa dan budaya yang berkembang pada masyarakat Bima pada umumnya. Sedangkan masyarakat Donggo Timur atau Donggo Ele (Dou Donggo Ele) adalah kelompok masyarakat Bima (Mbojo) yang mendiami daerah sekitar puncak Gunung Lambitu. Berbeda dengan masyarakat Donggo Ipa, masyarakat Donggo Ele mempunyai bahasa dan budaya tersendiri.


Bahasa orang Donggo Ele lebih sering dirujuk sebagai Nggahi Sambori (Bahasa Sambori) oleh masyarakat Bima pada umumnya, walaupun sebenarnya bahasa tersebut juga digunakan di Kawuwu, Kuta, Kalodu, Tarlawi, Baku, dan Nggelu. Salah satu faktor yang menjadi pendorong pelabelan ini adalah jumlah orang asal Sambori yang menempuh pendidikan di Kota Bima dan daerah sekitarnya relatif lebih banyak dibandingkan dengan daerah Donggo Ele lainnya. Bahasa Sambori dengan bahasa Bima memiliki kesamaan dalam hal kosakata yang kurang dari 10 % dan layak disebut sebagai bahasa tersendiri.

Baca Juga : “Suku Karera” Sejarah & ( Bahasa – Mata Pencaharian – Kekerabatan – Kepercayaan )


Mata Pencaharian Suku Donggo

Sejak lama mereka melakukan pertanian ladang dengan sistem tebas bakar “ngoho” setelah pembakaran pohon yang ditebang dilaksanakan pembersihan sisa bakaran “boro”. Kemudian lahan itu siap untuk ditanami sambil menanti hujan, tetapi sebelumnya ada upacara raju untuk menentukan hari yang tepat untuk bertanam. Selanjutnya ada upacara kadaki yaitu pengusiran hama kalau tanaman itu sudah cukup besar dan sambil menanti datangnya masa panen. Pertanian sawah belum lama dikenal oleh masyarakat.


Kegiatan berburu sudah berakar lama dalam masyarakat ini. Berburu biasanya dilaksanakan dalam kelompok yang dilakukan seminggu atau sebulan sekali. Mereka juga melakukan perburuan massal setahun sekali. Pembagian hasil buruan tergantung kepada banyak sedikitnya tenaga dan jasa yang diberikan oleh seseorang. Namun kalau hasil buruannya cukup banyak maka daging buruan itu akan diberikan secara cuma-cuma kepada penduduk kampung. Hasil binatang buruan itu mereka tafsirkan pada hasil pertanian.


Apabila mereka banyak yang memperoleh kijang “maju” maka hasil pertanian diperkirakan akan kurang, sedangkan kalau mereka banyak memperoleh babi “wawi” maka mereka tafsirkan hasil pertanian akan melimpah. Ternak yang dipelihara ialah sapi, kuda, kambing, kerbau, ayam dan babi. Ukuran kekayaan pada masyarakat ini ialah luasnya sawah, ladang dan banyaknya ternak.


Agama Dan Kepercayaan Suku Donggo

Kini sebagian besar orang Donggo memeluk agama Islam dan sebagian lainnya beragama Kristen. Sebagian contoh dari 20.724 jiwa penduduk kecamatan Donggo pada tahun 1986 di antaranya 97% beragama Islam, 3% beragama Kristen.


Orang Donggo juga pernah mengenal dan mempercayai kekuatan gaib yaitu “Dewa Langit” (Dewa Langi). “Dewa Air” (Dewa Oi) dan “Dewa Angin” (Dewa Wango). Dewa langit tadi dulunya dianggap yang paling berkuasa dan berada diatas awan dan matahari. Dewan Angin tadi mereka puja kalau ada wabah penyakit, sedangkan Dewa Air kalau ada musim kemarau panjang yang mengancam tanaman mereka.


Kesenian Suku Donggo

Berikut ini adalah kesenian dari suku donggo, sebagai berikut:


  • Arugelu

Arugele adalah suatu tarian dan nyanyian yang dilakukan masyarakat saat menanam atau memanen hasil pertanian.Tarian Arugele diperagakan oleh kaum perempuan dewasa maupun para remaja. Jumlah penarinya beragam, ada enam orang kadang juga delapan, bahkan bisa lebih. Mereka berbaris membentuk syaf. Sambil menyanyikan syair Arugele, para gadis ini memegang tongkat kayu yang telah diruncingkan ujungnya dan menancapkannya ke tanah, sehingga membentuk lubang untuk dimasukkan, jagung kedelai, biji padi, dll. Sementara kalangan lelaki mengikuti alunan langkah para gadis, dan menutup lubangnya.

Baca Juga : “Suku Musi Banyuasin” Sejarah & ( Bahasa – Mata Pencaharian – Kekerabatan – Agama – Kepercayaan )


  • Belaleha

Belaleha

Belaleha merupakan lantunan syair yang biasanya digunakan pada saat acara sunatan atau pesta pernikahan. Belaleha hanya boleh diiringi dengan irama mulut tanpa alunan musik apapun serta hanya boleh dilantunkan oleh kaum wanita. Para pelantun Belaleha tidak dibatasi jumlahnya, semakin banyak semakin baik. Syair Belaleha variatif, baik dari syair lama maupun baru yang mencerminkan kegembiraan atau kesedihan, dan berisi petuah kehidupan dari leluhur.


Upacara Adat Suku Donggo

Upacara-Adat-Suku-Donggo

Kalero adalah jenis upacara adat untuk menghormati para arwah leluhur mereka yang telah meninggal, dan para keturunannya agar dijauhkan dari marabencana. Tarian ini dipercaya tercipta sejak abad ke-7 saat tanag bima masih dikepalai para Ncuhi dan masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Arti dari setiap gerakan Kalero adalah kesedihan, harapan, dan penghormatan kepada orang yang telah meninggal. Pakaian yang digunakan serba hitam dengan alunan musik tradisional Bima yang ritmenya mnggambarkan kesedihan kerabat yang sangat mendalam.


Pakaian Adat Suku Donggo

Berikut ini adalah pakaian adat dari suku donggo, sebagai berikut:


1. Pakaian adat wanita

Pakaian-adat-wanita

Pakaian adat suku Donggo didominasi dengan warna hitam dan telah mereka pakai sejak zaman nenek moyang dahulu, yang digunakan pada upacara adat dan ritual masyarakat Donggo. Pakaian adat untuk perempuan dewasa menggunakan Kababu, yang terbuat dari benang katun yang disebut baju pendek (baju Poro). Di bagian bawah memakai Deko (sejenis celana panjang sampai di bawah lutut). Mereka menggunakan kalung dan manik manik giwang sebagai perhiasannya. Sedangkan untuk perempuan remaja tetap memakai Kababu yang membedakan adalah cara memakai perhiasan yang terlihat agak unik yaitu dengan dililitkan dan dibiarkan terjuntai dari leher ke dada.


2. Pakaian Adat Laki-laki

Laki-laki suku Donggo mengenakan baju Mbolo Wo’o (baju leher bundar berwarna hitam). Di bagian bawah mengenakan sarung yang disebut Tembe Me’e Donggo, yang terbuat dari benang kapas berwarna hitam dan bergaris-garis putih. Lalu dipinggang dipasang Salongo (sejenis ikat pinggang berwarna merah atau kuning yang berfungsi sebagai tempat untuk menyematkan pisau atau keris atau parang). Untuk alas kaki atau sandal mereka menggunakan Sadopa yang terbuat dari kulit binatang.

Baca Juga : Agama Di Indonesia Yang Diakui Oleh Pemerintah Dan Hubungannya


Senjata Tradisional Suku Donggo

Senjata tradisional masyarakat Donggo adalah Pisau Mone (pisau kecil) yang behulu panjang dengan bentuk agak panjang.


Rumah Adat Suku Donggo

Rumah-Adat-Suku-Donggo

Suku Donggo memiliki rumah adat tradisional disebut Uma Leme yang bentuknya berbeda dengan masyarakat lain di Bima. Tinggi rumah ini mencapai 7 meter dengan ukuran sekitar 3×4 meter. Atap yang digunakan adalah alang-alang dan menggunakan dinding kayu sangga (kayu yang diyakini bisa menolak bala dan bencana). Rumah ini disebut juga rumah Ncuhi atau Uma Ncuhi. Di rumah ini disimpan barang-barang sesembakan dan alat-alat kesenian.