Sejarah Suku Dompu

Diposting pada

sejarah-Suku-Dompu

Sejarah Suku Dompu

Dompu merupakan suku bangsa yang berdiam di pulau Sumbawa, dalam wilayah Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat “NTB”. Mereka ini tersebar dalam empat Kecamatan, yakni Huu, Dompu, Kempo dan Kilo. Di keempat Kecamatan ini mereka hidup berdampingan deng beberapa suku bangsa lain, baik sebagai penduduk asal maupun sebagai pendatang dari daerah lain, misalnya orang Donggo, Mbojo, Melayu, Bugis, Sasak dan lain-lain.
Tetangga sebagai penduduk asal di sekitar Kabupaten Dompu ialah orang Mbojo yang merupakan penduduk dominan di Kabupaten Bima disebelah timur dan orang Sumbawa di Kabupaten Sumbawa di sebelah barat.


Sejarah kebudayan dan Adat Istiadat Suku Dompu. Suku Dompu adalah salah satu etnis yang terdapat di pulau Sumbawa kabupaten Dompu provinsi Nusa Tenggara Barat dengan populasi diperkirakan lebih dari 80.000 orang. Penyebaran suku ini terdapat pada 4 kecamatan yakni kecamatan Huu, kecamatan Dompu, kecamatan Kempo dan kecamatan Kilo.


Menurut cerita rakya Dompu mengenai asal usul, bahwa dahulu kala di daerah ini merupakan salah satu daerah bekas Kerajaan Dompu. Yang merupakan salah satu kerajaan tua. Hal ini ditegaskan oleh seorang Arkeolog dari Pusat Balai Penelitian Arkeologi dan Purbakala, Sukandar dan Kusuma Ayu. Yang dari hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa Kerajaan Dompu, adalah merupakan salah satu kerajaan tua di wilayah timur Indonesia.


Berdasarkan catatan sejarah di Dompu, sebelum adanya kerajaan di daerah Dompu ini, telah ada beberapa kepala suku yang disebut sebagai “Ncuhi” (Raja kecil). Pada masa itu ada 4 orang Ncuhi yang berkuasa, yaitu:

  • Ncuhi Hu`u yang berkuasa di daerah Hu`u (sekarang kecamatan Hu`u)
  • Ncuhi Soneo yang berkuasa di daerah Soneo dan sekitarnya (sekarang kecamatan Woja dan Dompu).
  • Ncuhi Nowa berkuasa di Nowa dan sekitarnya.
  • Ncuhi Tonda berkuasa di Tonda (sekarang wilayah desa Riwo kecamatan Woja Dompu).

Dari keempat Ncuhi tersebut yang paling terkenal adalah Ncuhi Hu`u.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Kerajaan Tarumanegara


Kerajaan Islam Dompu

Kerajaan Dompu yang kini menjadi Kabupaten Dompu merupakan sebuah kerajaan kuno di Indonesia. Kerajaan ini terletak di antara kabupaten Bima dan kabupaten Sumbawa saat ini. Mayoritas penduduk kini beragama Islam, dengan tradisi dan budaya yang juga mayoritas Islam. Bangsawan Dompu atau keturuan raja-raja hingga kini masih ada. mereka dipanggil “Ruma” atau “Dae”. Istana Dompu, sebagai lambang kebesaran telah lama lenyap. Konon bangunan istana itu sudah diubah menjadi masjid raya Dompu saat ini. Namun rumah kediaman raja masih ada hingga sekarang dan terletak di Kelurahan Bada.


Pada tahun 2000-an, tim peneliti dari Jakarta, yang dipandu langsung oleh Bupati Dompu H Abubakar Ahmad menemukan situs berupa tapak kaki Gajah Mada di wilayah Hu’u sekitar 40 kilometer dari pusat kota Dompu.  Banyak yang meyakini Mahapatih Gajah Mada tewas dan atau menghabiskan sisa hidupnya di daerah ini. Dalam lembaran sejarah di Dompu mencatat, sebelum terbentuknya kerajaan konon didaerah ini pernah berkuasa beberapa kepala suku yang disebut sebagai ‘’NCUHI’’ atau raja kecil para ncuhi tarsebut terdiri dari 4 orang yaitu:


  1. Ncuhi Hu,u
    yang mempunyai wilayah kekuasaan Hu,u dan sekitarnya(sekarang kecamtan Hu,u)
  2. Ncuhi Saneo
    yang mempunyai wilayah kekusaan daerah Saneo dan sekitanya(sekarang kecamatan Woja Dompu).
  3. Ncuhi Nowa
    Yang mempunyai wilayah kekusaan Nowa dan sekitarnya(sekarang masuk kecamatan Woja).
  4. Ncuhi Tonda
    yang mempunyai wilayah kekusaan Tonda dan sekitarnya dan saat ini masuk dalam wilayah Desa Riwo kecamatan Woja Dompu.

Kerajaan Dompu merupakan hasil penyatuan atau bersatunya para Ncuhi yang ada diwilayah Dompu saat itu,sistim pemerintahan berbentuk kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja(sangaji)disebutah susunan Raja-raja yang pernah berkuasa di kerajaan dompu yang pertama.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Kerajaan Makassar


Awal Berdirinya Kerajaan Islam Dompu

Dompu, sebuah Kota Kabupaten di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Barat. Dulunya berawal dari wilayah sebuah Kerajaan,kemudian berubah menjadi Kesultanan.  Statusnya menjadi sebuah Kota  Kabupaten justru diperoleh karena nilai historisnya sebagai sebuah Kerajaan yang telah lama berdiri dan berdaulat. Kerajaan Dompo (sebutannya di jaman dulu), ma Dompo-na (yang memotong) wilayah Bima dan Sumbawa. Sebagaian berpendapat inilah asal dari nama  Dompo.

Sebelum menjadi sebuah Kerajaan, di wilayah Dompu tersebar beberapa kelompok masyarakat yang mendiami lahan-lahan pertanian (Nggaro) dan di daerah-daerah pantai. Setiap kelompok masyarakat ini dikepalai oleh seorangKepala Suku yang disebut  Ncuhi. Ncuhi-Ncuhi menyebar di seluruh wilayah Dompu antara lain Ncuhi Tonda, Ncuhi Soro Bawa, Ncuhi Hu’u (Ncuhi Iro Aro), Ncuhi Daha, Ncuhi Puma, Ncuhi Teri, Ncuhi Rumu (Ncuhi Tahira) dan Ncuhi Temba. Dari sinilah bermula Kerajaan Dompu berdiri, atas kesepakatan seluruh Ncuhi dari bagian pedalaman sampai daerah pesisir pantai dibentuklah Kerajaan Dompu dan sebagai Raja pertama (Sangaji) Dompu adalah Dewa Sang Kula.


Tidak ada catatan tertulis baik dalam bentuk dokumen atau batu tulis (prasasti) yang bisa mengungkapkan kapan mulai terbentuknya Kerajaan Dompu.   Namun beberapa catatan sejarah yang menunjukkan keterkaitannya dengan keberadaan Kerajaan Dompu yang berdiri sejak lama adalah sebagai berikut :


  • Dalam Atlas Sejarah dunia karangan Profesor Muhammad Yamin yang termuat di dalam Sejarah kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra sebagai Kerajaan pertama di   Indonesia sekitar tahun 600-an -1100, nama Dompo tercantum di dalam atlas (Riwayat perubahan nama dari Dompo ke Dompu terdapat di uraian berikutnya)


  • Terdapat juga keterkaitannya dengan sejarah Kerajaan Majapahit (1293-1527). Keterkaitan yang dimaksud terdapat dalam bunyi Sumpah Palapa yang diucapkan oleh patih Gajah Mada. Itu berarti, bahwa telah ada kerajaan kuat di bagian Timur Nusantara yang diperhitungkan oleh Gajah Mada untuk ditaklukkan, yaitu Kerajaan Dompo.


Seiring dengan melemahnya Kerajaan Majapahit oleh konflik berkepanjangan perebutan kekuasaan di antara pewarisnya, pengawasan terhadap Kerajaan-Kerajaan bawahannya pun menjadi lemah.  Satu persatu Kerajaan-Kerajaan Kecil mulai melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit, termasuk Kerajaan Dompu.
Lepasnya dari kekuasaan Majapahit ditandai dengan dinobatkannya (12 September 1545) putra  Dewa Ma wa a Taho sebagai Raja Dompu yang ke 9 atau sebagai Raja Dompu I yang mendapat sebutan Sultan. Hal ini menjadiawal dimulainya era Keraja an Islam sehingga disebut Kesultanan.  Sultan Syamsuddin yang bergelar Ma Wa a Tunggu telah terlebih dahulu memeluk agama Islam sebelum diangkat sebagai Sultan. Mendirikan istanaBata (Bata Ntoi) yang menyimpan cerita mistery. Beliau juga mendirikan masjid pertama di Dompu, tepatnya di Kampung Sigi, Karijawa.


Masa pemerintahan Sultan Muhammad Tajul Arifin II berakhir begitu dikeluarkannya peraturan  Undang-Undang No. 1 tahun 1957 tentang pokok-pokok pembentukan Pemerintah Daerah Swatantra Tk II. ini juga menandai masa berakhirnya era Kesultanan di Dompu. Kemudian berdasarkan Undang Undang No. 69 tahun 1956 menjadi Daerah Tk II Kabupaten sampai sekarang.Demikian sebagai bentuk penghormatan kepada Sultan Dompu yang terakhir, diangkatlah Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin II menjadi Bupati I Dompupada tanggal 1 Desember 1958 sampai dengan 30 April 1960.


Pengaruh Islam masuk ke Dompu sejak 1628 namun sebelumnya telah masuk sedikit demi sedikit  sejak 1528. Ulama yang dikenal menyebar Islam di dompu yaitu Syekh Abdul Gani yang juga menyebarkan Islam di Pulau Lombok dan pernah menjadi Imam Masjid di Masjidil Haram Makkah.


Sekitar 1528 Syekh Nurdin Ulama keturunan arab menginjakkan kaki di Dompu untuk menyebarkan agama Islam sambil berdagang. Pada saat itu kerajaan Dompu dipimpin Raja Bumi Luma Na’e bergelar Dewa Ma Waa Taho dan masih dibawah penguasaan Majapahit. Kemudian Putri raja memeluk Islam dan menikah dengan Syekh Nurdin dan berganti nama menjadi Siti Hadijah, dikaruniai 3 orang anak yaitu Abdul Salam, Abdullah dan Joharmani.


Pada Tahun 1545 Raja La Bata Na’e menggantikan ayahnya Raja Bumi Luwu Nae. Beliau sebelumnya belajar Islam di Kerajaan Bima, Kerajaan Gowa Makassar dan tanah Jawa. Pada masa ini Islam menjadi agama resmi kerajaan dan beliau menjadi Sultan Pertama Kesultanan Dompu bergelar Sultan Syamsuddin dan menikah dengan Joharmani. Sedangkan Syekh Abdul Salam menjadi Ulama Istana kesultanan Dompu.


Pada tahun 1585 datang dan menetap saudagar sekaligus ulama Islam kedompu yang menyebarkan Islam, mereka adalah : Syekh Hasanuddin (Sumatera) yang kemudian oleh Sutan Syamsuddin diangkat menjadi salah seorang Qadi (jabatan setingkat menteri agama di Kesultanan), Syekh Abdullah (Makassar) dan Syekh Umar Al-Bantani (Madiun) dipercaya menjadi Imam Masjid di Kesultanan Dompu. Sejak saat itu Dompu menjadi kesultanan yang diperintah oleh seorang Sultan dengan sistem pemerintahan berdasarkan agama Islam.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Kerajaan Kanjuruhan


Demografi Suku Dompu

Jumlah penduduk kabupaten Dompu tahun 1971 sebesar 74.150 jiwa dengan kepadatan 31 perkilometer persegi. Pada tahun 1985 jumlah penduduk Kabupaten ini menjadi 116.975 jiwa yang tersebar dalam empat Kecamatan tadi. Belum ditemukan data berapa jumlah orang Dompu diantara jumlah tersebut diatas.


Suatu hasil penelitian lapangan Depdikbud NTB tahun 1983 pada tiga dari empat Kecamatan tersebut, ada perkiraan jumlah orang Dompu dan anggota kelompok lain yang ada pada masing-masing Kecamatan tersebut. Kecamatan Kilo yang berpenduduk 5.990 jiwa diperkirakan terdiri dari orang Dompu “50%”, orang Melayu “18%”, orang Wera “15%”, orang Donggo “15%” dan sisanya ialah orang Sape, orang Bali, Timor dan lain-lain.


Kecamatan Dompu yang berpenduduk 59.526 jiwa diperkirakan terdiri dari orang Dompu “85%”, orang Mbojo atau Bima “5%”, Bugis “3%” dan selebihnya ialah orang Sasak, Bali, Cina, Arab, Timor dan lain-lain. Kecamatan Kempo yang berpenduduk 25.148 jiwa terdiri dari orang Dompu “82%”, orang Sasak “13%”, orang Bone “3,5%” dan selebihnya ialah orang Bali, orang Bajo, orang Cina dan lain-lain. Kecamatan Huu yang berpenduduk 12.447 jiwa terdiri dari orang Dompu, Bugis, Jawa, Sasak, Bali, Timor dan Cina. Untuk masing-masing kelompok ini tidak ada perkiraan jumlahnya, namun orang Dompu merupakan penduduk mayoritas.


Mobilitas orang Dompu keluar kecamatannya terbilang rendah. Kalau ada diantara mereka yang keluar terutama karena faktor pendidikan dan sebagaian lain karena faktor ekonomi. Sebaliknya orang luar banyak yang masuk ke daerah ini, seperti yang tampak pada data-data tersebut diatas. Orang Dompu umumnya menggunakan bahasa Mbojo yang biasa disebuat Nggahi Mbojo. Bahasa ini biasa pula disebut bahasa Bima dan orang Mbojo sendiri kadang-kadang disebut orang Bima. Suku bangsa lainnya tadi juga menggunakan bahasa sendiri misalnya bahasa Melayu, Bali, Sasak dan lain-lain.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Kerajaan Sunda atau Pasundan


Bahasa Suku Dompu

Suku Mbojo – Dompu  memiliki beragam bahasa dan dialek yang berasal dari berbagai wilayah di suku Mbojo – Dompu tiap bahasa yang digunakan memiliki arti dan makna sendiri. Adapun bahasa Mbojo – Dompu yang di maksud adalah sebagai berikut :


  • Kalembo ade

Kalembo Ade” adalah kata subyek yang selalu diucapkan dalam dioalog dou Mbojo – Dompu yang makna dari kata kalembo ade itu sendiri akan berubah-ubah sesuai dengan kata obyek yang dituju. Seperti dalam Bahasa Indonesia, ungkapan sering terbentuk dari berbagai unsur. ungkapan kalembo ade ini selalu mewarnai kegiatan/alur berkomunikasi dalam keseharian warga Mbojo Mbojo – Dompu. Frekuensi penggunaannya pun , boleh dikatakan, tiada hari tanpa ada ungkapan kalembo ade , bahkan tiada jam tanpa ada kalembo ade.


Secara sederhana, dapat dikatakan maknanya adalah bersabar. Itu dipahami karena ungkapan itu terbentuk dari kata kalembo (sabar)  ade (hati). Jadi kalembo ade artinya bersabar yang berarti keikhlasan hati nurani. Setelah diadakan penelitian sederhana, tafsiran kita terhadap ungkapan kalembo ade, memang beragam maknanya. Untuk tidak sekedar diperbincangkan, berikut ini, disajikan sebagai berikut:


  1. Kalembo ade bermakna: tidak mudah putus-asa. Ketika kita mengalami kesulitan, seperti kekurangan uang untuk membayar SPP, orang yang paling dekat dengan kita selalu menggunakan ungkapan,”Kalembo ade, kata orang bijak, sabar akan menjadi subur”. Atau salah satu krabat kita tertimpa musibah meninggal dunia, maka semua yang melayat tidak akan terlewatkan kata kalembo ade baru ditambahkan kata-kata lain yang menyetuh misalnya : “Kalembo ade ari e, aina ipi nangi, ndai ta manusia ke di mamade menampa”  yang artinya “jangan terlalu sedih (menangis) dik, karena kita sebagai manusia, semuanya bakal meninggal”

  2. Kalembo ade bermakna: tidak tergesa-gesa. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak di antara kita dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan maunya cepat  selesai, orang akan menganggap pekerjaan yang dikerjakan dengan terburu-buru hasilnya tidak akan maksimal maka orang itu pasti akan menegur atau mengingat kita dengan kata : Kalembo ade, ai na ipi hura-hara krawi re, kanari-nari mpa diloa taho kai ndadina (jangan terlalu terburu buru, pelan – pelan saja, biar hasilnya maksimal)


  3. Kalembo ade bermakna : teliti dan tekun, dalam hal belajar misalnya, kita disarankan agar selalu memperhatikan dan memahami sepenuhnya tentang apa yang kita pelajari, Belajar dan belajar, tetap semangat untuk belajar, biasanya orang terdekat kita akan mengingatkan seperti ini ”Kalembo ade, tanao kapoda ademu, diloa kai raka aura ne’e mu” (belajar yang sungguh-sungguh agar cita-citamu tercapai).


  4. Kalembo ade bermakna jengkel atau marah.Ketika kita menagih utang kepada teman, kemudian teman kita selalu menunda-nunda pembayarannya, maka terkadang kesabaran kita habis sudah maka tanpa disadari emosional kita meledak dalam seketika. Kalembo ade ya, sambil menunjuk –tunjuk jemari kita di depan mata seseorang ; ”Kalembo ade , cina e, ndaim ma ka susah podaku ake, nahu ke, ngge’e nggongga senai-naiku di ake pala watipu cola conggo, bone aiku colamu” (banyak maaf teman, tiap hari saya bolak balik kesini tapi belum bayar juga utangmu, kapan kamu mau bayar).


  5. Kalembo ade bermakna: merendahkan diri. Pada waktu kita memberikan hadiah yang mahal harganya, tapi justeru kita mengatakan kalemboade hanya itu yang bisa kita berikan. Jauh dari lubuk hati si penerima mengatakan wah…, sudah dikasih hadiah yang mahal harganya malah dikatakan kalembo ade, biasanya sambil menyerahkan hadiah tersebut diiringi ucapan ”Kalembo ade, ake mpa mara wara, diloa kai samada angi ndai!” (mohon maaf, hanya ini yang dapat aku berikan sebagai kenang-kenangan antara kita)


  6. Kalembo ade bermakna: mohon maaf. Dalamkeseharian, kita terkadang terlambat datang pada suatu pertemuan. Oleh karenaitu, kita selalu meminta maaf atas keterlambatan kita. biasanya diungkapkan demikian,” Kalembo ade, mada wara sengiri ke“ (banyak maaf saya agak terlambat).


  7. Kalembo ade bermakna: tegur-sapa. Menegur atau menyapa adalah pola komunikasi yang sangat bermanfaat bagi sesama, begitupun di Bima, digunakan dalam kehidupan sehari-hari, Misalnya, “Kalembo ade, ampo ja eda angi,  tabe ku ra lao kai re (mohon maaf, kita kayaknya baru bertemu deh, kemana saja selama ini).


  • Nggahi Rawi Pahu

Nggahi rahi pahu merupakan Falsafa daerah yang diciptakan oleh orang-orang Dompu dulu, yang sampai sekarang Kata Nggahi Rawi pahu dibumikan oleh Masyarakat dan pemerintah Kabupaten Dompu sebagai ciri khas Daerah yang memiliki makna yang sangat dalam bila kita mengkajinya.


Arti yang sebenarnya dari kata Nggahi Rawi pahu adalah pertama, (Nggahi). Nggahi yang artinya bilang/mengatakan sesuatu apa yang dipikirkan dan apa yang dilihat yang keluar dari mulut seseorang. Kedua, Rawi; kata Rawi yang artinya “perbuatan/sikap” seseorang yang hasil dari apa yang mereka katakana terus yang dapat diaplikasikan langsung melalui sikap atau perbuatan seseorang. Dan yang ketiga, Pahu; kata pahu yang maknanya “bentuk/wujud” atau bukti nyata dari apa yang dikatakan/bicarakan dan langsung dilakukan dengan sikap/perbuatan,sehingga tidak sia-sia apa yang mereka katakana dihadapan orang lain.


  • Maja Labo Dahu

Mbojo memiliki semboyan yang dikenal dengan sebutan “Maja Labo Dahu”. Setiap aturan yang berdasarkan budaya ataupun hasil karya manusia adalah tidak akan pernah lepas dari aturan tuhan, mulai dari undang-undang Negara sampai pada tataran kebudayaan seperti yang dimilki oleh Bima itu sendiri. Kata Maja berarti Malu, Labo berarti dan serta Dahu berarti Takut.


Jika kita meninjau kata di atas secara semantik atau maknawi, Maja (malu) bermaknakan bahwa orang ataupun masyarakat Bima akan malu ketika melakukan sesuatu diluar daripada koridor tuhan, apakah itu kejahatan, perbuatan dosa dan lain sebagainya baik yang berhubungan dengan manusia ataupun terhadap tuhannya. Dahu (takut), hampir memilki proses interpretasi yang sama dengan kata Malu tersebut. Sama-sama takut ketika melakukan sesuatu kejahatan ataupun keburukan. Sebagai tambahan bahwa, orang Bima akan malu dan takut pulang ke kampung halaman mereka ketika mereka belum berhasil di tanah rantauan.


  • Santabe

Kata Santabe yang artinya “permisi”. Setiap orang yang mau lewat dihadapan orang-orang duduk dan ngumpul maka kata Santabelah yang harus kita sapa sebabagai bentuk tradisi budaya yang saling menghargai orang lain.Bahasa yang digunakan suku Dompu adalah bahasa Dompu, atau biasa disebut juga sebagai bahasa Nggahi Mbojo


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Kerajaan Ternate dan Tidore


Adat Istiadat Suku Dompu

Secara umum kebudayaan keluarga suku Mbojo yang tinggal di mataram tetap dipertahankan seperti Wa,a co’i, kapanca, nuzu bulan, akikah, khitan, compo sampari, compo baju, sunatan, do’a rasu, silaturrahmi dan mbolo weki. Makanan yang dihidangkan dalam acara sunatan dan resepsi pernikahan dikombinasi antara makan khas lombok dan khas bima seperti gule daging, sate, acar, palumara (singang), urap, dan saronco hi’i. Sedangkan budaya seperti doa rasu, silaturahmi dan nuzul bulan tetap mempertahankan makanan khas bima.


Upacara Adat dan TradisiSuku Mbojo – Dompu  berbagai macam upacara adat dan tradisi yang dilakukan pada saat hari – hari tertentu, antara lain :

  • Wa’a coi

Wa’a coi maksudnya adalah upacara menghantar mahar atau mas kawin, dari keluarga pria kepada keluarga sang gadis. Dengan adanya uacara ini, berarti beberapa hari lagi kedua remaja tadi akan segera dinikahkan. Banyaknya barang dan besarnya nilai mahar, tergantung hasil mufakat antara kedua orang tua remaja tersebut. Pada umumnya mahar berupa rumah, perabotan rumah tangga, perlengkapan tidur dan sebagainya. Tapi semuanya itu harus dijelaskan berapa nilai nominalnya.

Upacara mengantar mahar ini biasanya dihadiri dan disaksikan oleh seluruh anggota masyarakat di sekitarnya. Digelar pula arak-arakan yang meriah dari rumah orang tua sang pria menuju rumah orang tua perempuan. Semua perlengkapan mahar dan kebutuhan lain untuk upacara pernikahan seperti beras, kayu api, hewan ternak, jajan dan sebagainya ikut dibawa.


  • Kapanca

Upacara  Peta Kapanca adalah salah satu bagian dari prosesi perkawinan Adat Bima – Dompu. Biasanya upacara ini dilaksanakan sehari sebelum dilaksanakan Akad Nikah dan Resepsi perkawinan. Peta Kapanca adalah melumatkan Daun pacar (Inai) pada kuku calon pengantin wanita yang dilakukan secara bergantian oleh ibu-ibu dan tamu undangan yang semuanya adalah kaum wanita.

Makna dari upacara Kapanca ini merupakan peringatan bagi calon pengantin wanita bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi akan melakukan tugas dan fungsi sebagai ibu rumah tangga atau istri. Disamping itu, Kapanca dimaksudkan untuk memberi contoh kepada para gadis lainnya agar mengikuti jejak calon penganten wanita yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ratu yang akan mengakhiri masa lajangnya sehingga mereka dapat mengambil hikmah.


  • Nuzul Bulan

Nuzul Bulan adalah suatu acara yang dilaksanakan pada usia kehamilan 7 bulan yang bertujuan untuk keselamatan dengan harapan bayi yang dikandung lahir sehat. Prosesi acara ini melibatkan sesepuh yang telah lama tinggal di mataram. Makanan yang dihidangkan dalam acara ini adalah pisang ambon, oha mina serta karaba, pangaha bunga, bolu dan mangonco (rujak). Rujak yang dibuat oleh pihak acara diberikan kepada para undangan. Menurut kepercayaan masyarakat suku Mbojo, jika rujak yang diberikan rasanya pedas maka anak yang dikandung adalah anak laki-laki. Sedangka jika rujak yang diberikan rasanya manis maka anak yang dikandung adalah anak perempuan.


  • Khitan

Upacara khitanan dalam adat Mbojo disebut upacara suna ro ndoso (Suna = sunat. Ndoso = memotong atau meratakan gigi secara simbolis sebelum sunat). Biasanya upacara suna ro ndoso dilakukan ketika anak berumur lima sampai tujuh tahun. Bagi anak perempuan antara dua sampai dengan empat tahun. Upacara khitan bagi anak laki-laki disebut suna. Sedangkan bagi puteri disebut”sa ra so”. Sebelum di khitan terlebih dahulu akan di lakukan compo sampari dan compo baju pada anak laki – laki dan perempuan. Dalam acara khitan serta compo sampari dan compo baju terdapat makanan yang sering disajikan seperti : uta janga puru (ayam bakar), sia dungga, uta mbeca ro,o parongge,oha mina, kalo.


  • Compo sampari

Upacara compo Sampari atau pemasangan keris( memakaikan keris) kepada anak laki – laki yang akan di Suna Ro Ndoso. Dilakukan oleh seorang tokoh adat, diawali dengan pembacaan do’a disusul dengan membaca shalawat Nabi. Upacara ini digelar sebagai peringatan bahwa  sebagai anak laki – laki harus memiliki kekuatan dan keberanian yang dilambangkan dengan sampari (keris).


  • Compo baju

Upacara compo baju yaitu upacara pemasangan baju kepada anak perempuan yang akan di saraso ro ndoso. Baju yang akan dipasang sebanyak 7 lembar baju poro(Baju pendek) yang dilakukan secara bergilir oleh para tokoh adat dari kaum ibu. Makna compo baju adalah merupakan peringatan bagi anak, kalau sudah di saraso berarti sudah dewasa. Sebab itu harus menutup aurat dengan rapi. Tujuh lembar baju  adalah tujuh simbol tahapan kehidupan yang dijalani manusia yaitu masa dalam kandungan, masa bayi, masa kanak – kanak, masa dewasa, masa tua, alam kubur dan alam baqa(akherat).


  • Doa rasu

Doa rasu adalah suatu kebiasaan berdoa pada hari jum’at yang dilaksanakan pada pagi hari, dimana maksud acara ini sebagai ungkapan rasa syukur dan sebagai tola bala agar keluarga tersebut terhindar dari bencana dan mala petaka. Biasanya anak-anak dikumpulkan setelah sholat subuh atau sebelum matahari terbit dan diberikan makan berupa karedo (bubur) yang diletakan di atas nare yang dialasi daun pisang. Tempat makan diadakan doa rasu tergantung pada tujuan yang membuat acara seperti di depan pintu bertujuan untuk memurahkan rejeki.


  • Silaturahmi

Silaturrahmi adalah suatu kebiasaan suku Mbojo mengunjungi keluarga atau kerabat untuk mempererat tali persaudaraan. Bagi masyarakat suku Mbojo – Dompu mengadakan silaturahmi berupa acara arisan, dimana masyarakat suku Mbojo – Dompu menyempatkan diri berkumpul ditengah kesibukan mereka masing-masing dan dengan arisan itu mereka saling mengenal sehingga ikatan persaudaraan mereka lebih erat. Pada acara ini makanan yang dihidangkan adalah makanan khas  Mbojo – Dompu  yang dibuat oleh tuan rumah.


  • Mbolo weki

Mbolo weki adalah upacara musyawarah dan mufakat seluruh keluarga maupun handai taulan dalam masyarakat untuk merundingkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan hajatan/rencana perkawinan yang akan dilaksanakan. Dalam tradisi khitanan juga demikian. Hal-hal yang dimufakatkan dalam acara mbolo weki meliputi penentuan hari baik, bulan baik untuk melaksanakan hajatan tersebut serta pembagian tugas kepada keluarga dan handai taulan. Bila ada hajatan pernikahan, masyarakat dengan sendirinya bergotong royong membantu keluarga melaksanakan hajatan. Bantuan berupa uang, hewan ternak, padi/beras dan lainnya. Dalam acara mbolo weki ini biasanya di sajikan beberapa macam jajanan seperti bolu, dadar, pisang, binka dolu.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Makalah Kerajaan Malaka : Sejarah Dan Peninggalan Serta Pendirinya


Sistem Kepercayaan Suku Dompu

Data tahun 1985 menunjukkan bahwa 98% penduduk Kabupaten Dompu ialah pemeluk agama Islam dan selebihnya beragama Katolik, Protestan, Hindu dan Buddha. Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari para ulama merupakan salah satu golongan masyarakat yang kedudukannya terpandang, disamping golongan terdidik yang ekonominya baik.


Sebagian masyarakat suku Dompu memeluk agama Islam dan sebagian kecil memeluk agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha. Mereka sangat menghormati ulama. Para ulama merupakan golongan masyarakat yang dianggap terhormat dan terpandang, selain itu ada golongan masyarakat yang terdidik dan memiliki ekonomi yang baik juga dianggap sebagai orang terhormat.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Kerajaan Aceh : Raja Pendiri, Peninggalan, Masa Kejayaan Dan Kehidupan Politik


Lingkungan Alam Orang Dompu

Kabupaten Dompu yang luasnya 3.324 kilometer persegi itu merupakan daerah berbukit-bukit dan daerah vulkanik. Di sela-sela perbukitan itu terdapat dataran yang dimanfaatkan masyarakatnya untuk persawahan dan usaha pertanian lainnya.

Curah hujan rata-rata setiap tahunnya 1.000-1.500 melimeter. Disana ada tiga sungai yang relatif besar yaitu sungai Guwukara, Nae dan Kilo. Awal tahun 1980-an hutan primer seluas 72.125 hektar dan hutan sekunder 35.500 hektar yang lainnya berupaa padang rumput dan alang-alang, sawah, ladang, kebun dan lain-lainnya.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Kerajaan Banten : Sejarah, Raja, Dan Peninggalan, Beserta Masa Kejayaannya


Mata Pencaharian Suku Dompu

Sebagian besar anggota masyarakat Dompu hidup dari pertanian, tanaman pangan dan kebun, serta perikanan. Sebagian lainnya ialah pedagang, beternak dan pegawai. Pertanian sawah teknis, setengah teknik dan sederhana meliputi wilayah sekitar 13.000 hektar pada tahun 1985. Hasil-hasil pertanian lain ialah ubi kayu, ubi jalar, kacang kedelai dan jagung.

Hasil-hasil perkebunan yang cukup penting ialah tembakau, kapuk, kemiri, pinang dan asam. Perkebunan kelapa dan kopi masih belum memberi hasil yang cukup berarti. Perikanan laut dan air tawar telah memberikan hasil yang cukup besar.