Persebaran Industri Di Indonesia Secara Lengkap

Diposting pada

Persebaran-Industri-Di-Indonesia

Industri dan Industrialisasi

Pengertian Industri

Semua kegiatan manusia dalam bidang ekonomi yang sifatnya produktif dan komersial. Jumlah dan macam industri berbeda-beda untuk tiap negara atau daerah. Pada umumnya, makin maju tingkat perkembangan perindustrian di suatu negara atau daerah, makin banyak jumlah dan macam industri, dan makin kompleks pula sifat kegiatan dan usaha tersebut.


Argumentasi industrialisasi

Ada empat argumentasi dalam industrialisasi, dimana masing- masing dari argumentasi mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Jenis keunggulan

kelebihan

kekurangan

Argumentasi keunggulan komparatif (compartive advantage)Industri akan unggul, sumber daya ekonomi akan teralokasikan dengan baikJenis produk kurang diminati
Teori keterkaitan industrial (industrial linkage)Mampu menggerakan sektor lainKurang efisien
Argumentasi kesempatan kerjaSangat manusiawi karena berbasis pada penciptaan lapangan kerjaKurang dapat menggerakan sektor lain
Argumentasi loncatan teknologiMemicu perkembangan industri sektor lainBoros defisa

Strategi industrialisasi. Terdapat dua macam pola dalam industrialisasi  yang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing- masing.

Pola strategi industrialisasi

kelebihan

kekurangan

Pola substitusi imporIndustri akan bertumbuh besarIndustri akan tidak kunjung dewasa (ketergantungan)
Pola substitusi eksporMenumbuhkan devisa negaraTergantung pada pasar

Argumentasi dan strategi industrialisasi di indonesia

Selaras dengan negara- negara lain, di indonesia sektor industri juga diharapkan mampu menjari penggerak sektor- sektor lain. Dalam perkembangan perekonomian indonesia selalu diwarnai dengan pertumbuhan dan perkembangan industrialisasi. Argumentasi industrialisasi indonesia pada mulanya didominasi dengan argumentasi keterkaitan industrial (industrial linkage), namun sekarang berubah menjadi argumentasi loncatan teknologi (hi- tech). Industri di indonesia pada awalnya mengembangkan substansi impor namun seiring berkembangnya zaman indonesia mengubah sustansi industrialisasinya menjadi substansi ekspor.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Revolusi Industri : Pengertian, Latar Belakang Dan Dampaknya Secara Lengkap


Sejarah dan Klasifikasi Industri Di Indonesia

Sejarah sektor industri

Pada tahun 1920an sektor industri di indonesia masih banyak yang dikuasai asing. Jenis industri yng ada ada saat itu adalah alat- alat rumah tangga. Tenaga kerja terpusat pada pertanian dan perkebunan demi memenuhi kebutuhan kolonial balanda. Perusahaan besar hanya ada dua buah saja. Pada tahun 1939 mayoritas tenaga kerja bekerja pada pengolahan makanan, tekstil, dan barang logam. Investasi pada masa itu sebagian besar dikuasai swasta. Pada masa kependudukan jepang industri berkembang buruk, ha itu karena larangan impor bahan mentah. Pada tahun 1951 pemerintah mendorong perkembangan industri kecil dan membatasi berkembangnya industri besar yang ikuasai asing. Tahun 1957 sektor indstri mulai mengalami kemunduran karena situasi politik yang belum mendukung dan kurangnya tenaga kerja yang trampil. Pada saat orde baru kebijakan ekonomi dikomplekskan dan salah satunya adalah mengundang investor asing. Kebijakan- kebijakan ekonomi ini mampu membawa indonesia kedalam kondisi yang lebih baik.


Klasifikasi Industri

Di Indonesia, industri dapat digolongkan berdasarkan kelompok komoditas, skala usaha, dan berdasarkan hubungan arus produknya. Penggolongan paling universal berdasarkan “baku internasional klasifikasi industri” (International Standard of Industrial Classification, ISIC) penggolongan tersebut dibedakan menjadi 9 yaitu:

Kode

Kelompok Industri

31

32

33

34

35

36

37

38

39

Industri makanan, minuman, dan tembakau

Industri tekstil, pakaian jadi, dan kulit

Industri kayu, dan barang-barang dari kayu, termasuk perabot rumah tangga

Industri kertas dan barang-barang dari kertas, percetakan, dan penerbitan

Industri kimia dan barang-barang dari bahan kimia, minyak bumi, batu bara, karet, dan plastik

Industri barang galian bukan logam, kecuali minyak bumi, dan batu bara

Industri logam dasar

Industri barang dari logam, mesin, dan peralatannya

Industri pengolahan lainnya


Untuk keperluan perencanaan anggaran negara dan analisis pembangunan, pemerintah membagi sektor industri pengolahan menjadi tiga subsektor yaitu:

  1. Subsektor industri pengolahan nonmigas
  2. Subsektor pengilangan minyak bumi, dan
  3. Subsektor pengolahan gas alam cair.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Macam – Macam Industri – Pengertian, Klasifikasi, Contoh, Para Ahli

Persebaran Industri Di Indonesia

Industri di Indonesia Sebagian besar masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hal ini dikarenakan dipengaruhi oleh adanya faktor-faktor yang sangat menunjang terutama yang berhubungan dengan dalam ketersediaan tenaga kerja yang lebih banyak, sarana dan prasarana transportasi yang lebih lancar dan memadai, kemungkinan pada pemasaran hasil industri lebih memungkinkan karena selain penduduknya lebih padat, pasar juga sebagai salah satu tempat distribusi produk lebih variatif, baik pada pasar tradisional, supermarket maupun pusat-pusat pemasaran lainnya. Untuk mengetahui persebaran industri di Indonesia marilah simak ulasan yang ada dibawah berikut.


1. Industri Mesin dan Logam Dasar

Industri mesin dan logam dasar adalah suatu kelompok industry yang mengolah sebuah bahan baku logam dan produk dasar mesin, misalnya seperti kendaraan bermotor, perlengkapan pabrik, peralatan listrik, dan alat transportasi.

Contohnya :

  • PT Krakatau Steel terdapat di Cilegon (Banten) yang merupakan Industry besi-baja
  • PT Pal adalah sebuah industri kapal dan galangan kapal di Surabaya Gresik (Jawa Timur)
  • PT Dirgantara Indonesia di Bandung Jawa Barat
  • dan beberapa industri lainnya di kawasan industri Pulo Gadung (Jakarta) serta Tangerang (Banten).

2.  Industri Kimia Dasar

Industri kimia dasar yaitu jenis industri yang mengolah sebuah bahan baku atau bahan mentah untuk menghasilkan sebuah produk bahan bahan kimia.
Beberapa contoh jenis industri kimia dasar yaitu sebagai berikut :

  • Industri pupuk terdapat di wilayah Palembang-Sumatra Selatan (Pupuk Sriwijaya) dan Bontang-Kaltim (Pupuk Kaltim).
  • Industri bahan-bahan kimia, seperti pada pabrik Soda di Waru- Surabaya (Jawa Timur), Amoniak di Cepu (Jawa Tengah), dan pada Super Posfat di Cilacap (Jawa Tengah).
  • Industri semen yang tersebar di wialayah Padang (Sumatra Barat), Cibinong (Jawa Barat), Gresik (Jawa Timur), dan diwilayah Tonasa (Gowa-Sulawesi Selatan).
  • Ban kendaraan yang berada diwilayah Bogor (Jawa Barat), Tegal (Jawa Tengah), dan Palembang (Sumatra Selatan).
  • Industri kertas yang berada di wialayah Padalarang (Jawa Barat), Probolinggo dan Banyuwangi (Jawa Timur), dan Pematangsiantar (Sumatra Selatan).

3. Aneka Industri

Aneka industri ialah sebuah kelompok industri yang mengolah suatu produk-produk untuk suatu keperluan masyarakat luas dan kebutuhan konsumsi.
Beberapa contohnya, yaitu antara lain sebagai berikut :

  • PT Indofood di Jakarta yang mengolah sebuah aneka bahan pangan (mi instan, bumbu perasa, dan kecap) dan industri minuman di beberapa wialayah daerah di Pulau Jawa.
  • Pabrik rokok diwialayah Kediri, Kudus, dan Surabaya, serta pabrik tekstil dan garmen di wialayah Bandung (Jawa Barat).
  • Pabrik yang mengolah sebuah bahan bangunan terdapat di beberapa wilayah Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

4. Industri Kecil

Industri kecil yaitu suatu kelompok industri rumah tangga yang menggunakan sebuah modal dan tenaga kerja relatif kecil, dengan teknologi yang sifatnya tradisional dan sederhana. Beberapa contohnya yaitu industry kecil antara lain sebagai berikut.

  • Industri kerajinan bambu di wilayah Tasikmalaya (Jawa Barat).
  • Kerajinan batik diwilayah Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan.
  • Kerajinan perak bakar di wialayah Kotagede dan Solo.
  • Ukiran kayu di wilayah Jepara dan Bali.
  • Kerajinan tanah liat di wilayah Plered (Jawa Barat), Banyumas (Jawa Tengah), dan Kasongan (Yogyakarta).
  • Kain tenun di wilayah Yogyakarta, Solo, Bali, Samarinda, Ujung Pandang, dan Nusa Tenggara.

Dengan semakin maju nya di dunia industri tidak menutup kemungkinan industri di Indonesia akan semakin banyak dan akan bertambah dengan berjalannya waktu.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Manajemen Investasi – Metode, Struktur, Teori, Kendala, Tipe, Industri


Pembangunan Industri di Indonesia

Fase Pembangunan Industri di Indonesia diantara lain sebagai berikut :

Periode Sampai 1996

Dalam era Soekarno sampai tahun 1966, pemerintah sangat mengintervensi dan memilih berorientasi ke dalam (inward looking)dalam pengembangan strategi industri. Fokus perhatian pemerintah dititik beratkan pada BUMN yang bergerak dalam sektor manufaktur. BUMN didukung dengan kucuran kredit perbankan, subsidi, dan valas. Namun, minimnya cadangan devisa nasional menyebabkan pemerintah menerapkan kontrol devisa, yang pada gilirannya menyebabkan langkanya bahan baku dan suku cadang impor. Banyak sekali terjadi privatisasi perusahaan domestik dan nasionalisasi perusahaan asing.


Sejarah BUMN Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dengan hasil nasionalisasi perusahaan dan perkebunan asing di masa Soekarno.Selama periode ini ketidakstabilan politik, defisit anggaran yang tak terselesaikan, inflasi yang melonjak, campur tangan pemerintah dalam pasar yang sangat kuat, menghasilkan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi perkembangan industri nasional.


Pada periode Soekarno, Indonesia masih tergolong sebagai negara yang tertinggal dalam hal pembangunan (leastdeveloping country). Perekonomian mengalami stagnasi. Akibat inflasi yang sangat tinggi, ketidakstabilan politik membuat dunia bisnis terganggu. Investasi di bidang industri sangat kecil dan sebagian besar tidak terselesaikan. Selain itu, kebanyakan industri hanya merupakan industri kecil dan menengah pengolah bahan mentah, hampir tidak ada industri besar yang modern. Investasi asing juga merupakan sesuatu yang langka, hal ini merupakan salah satu akibat dari kedekatan Indonesia dengan Uni Soviet dan Eropa Timur.


Periode 1966-1985

Mulai tahun 1966 pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto melakukan berbagai langkah reformasi perekonomian (Glassburner, 1971: Bab 1, 2, 13). Pemerintah melakukan sejumlah kebijakan yang menguntungkan sektor manufaktur terutama liberalisasi perdagangan dan unifikasi nilai kurs (Poot, et oL 1990). Selain itu, prioritas utama ditujukan pada pengembangan sektor swasta, di mana promosi banyak dilakukan untuk menarik investor asing masuk ke Indonesia. Di sisi lain, perlakuan khusus, seperti subsidi pada perusahaan pemerintah, mulai dihilangkan. Hasilnya, barang baku dan suku cadang industri semakin mudah ditemukan dan mulailah era bonanza industri.


Pada Repelita I, pembangunan industri terfokus pada industri di sector pertanian, dengan cara mengawasi input dan proses output, industry perdagangan internasional melalui substitusi ekspor atau impor, industri mentah domestik, industri yang padat karya, dan industri yang terkait pengembangan pembangunan regional. Selain itu, bantuan khusus diberikan kepada industri-industri dasar seperti pupuk, semen, kimia, pulp, kertas, dan tekstil. Tidak banyak perhatian diberikan untuk pembangunan usaha kecil.Repelita II (1974/75-1978/79) masih sama dengan Repelita I hanya saja perubahan prioritas.


Penciptaan lapangan kerja menjadi faktor yang utama diikuti pengembangan industri bahan mentah domestik atau promosi yang berhubungan dengan pertanian dan infrastruktur. Pada tahap ini pemerintah memberi perhatian lebih pada pengusaha pribumi daripada nonpribumi. Pada Repelita III (1979/80-1983/84), tujuan pembangunan ekonomi menjadi luas. Modal, pertumbuhan, dan stabilitas merupakan tujuan pokok pembangunan. Tujuan yang paling penting dalam industri adalah melindungi pengusaha yang lemah secara ekonomi, promosi pembangunan ekonomi, pembangunan industri yang broad based,dan promosi ekspor yang padat karya.


Periode Penurunan Harga Minyak 1986-1996

Pada periode penurunan harga minyak multi 1986, pemerintah masih berprioritas menguatkan struktur industri. Setidaknya ada tiga fokus pengembangan kebijakan industri di Indonesia. Pertama, pengembangan industri substitusi impor dengan pendalaman dan pemantapan struktur industri. Kedua, pengembangan penguasaan teknologi di beberapa bidang (pesawat terbang, mesin, perkapalan). Ketiga, pengembangan industri orientasi ekspor.


Pokok-pokok kebijakan industrialisasi pada periode 1983 sampai 1993diletakkan untuk menjadi arah bagi industrialisasi dengan cakrawala pandang sampai akhir Pembangunan jangka Panjang tahap pertama, yaitu pada tahun 1998. Pokok pokok kebijakan tersebut bertumpu pada industri dengan daya saing kuat. Kebijakan tersebut mencakup wawasan dan pola pikir dalam membangun industri nasional sertabutir-butir Kebijakan Industri Nasional yang mencakup strategi utama, strategi penunjang, dan langkah operasional yang perlu ditempuh.Pola pikir dan wawasan yang melandasi sektor industri tersebut adalah sebagai berikut (Sastrosoenarto, 2006:25-33).


  • Perlu ditempuh sejtunlah upaya agar pembangunan industri nasional bergerak semakin cepat dan meningkat. Upaya tersebut diimplementasikan dengan adanya kebijakan industri nasional yang memadai, dukungan iklim usaha yang semakin kondusif, dan dukungan partisipasi masyarakat, utamanya dunia usaha baik PMDN, PMA, non-PMA/PMDN, maupun UKM untuk memanfaatkan peluang pasar yang terbuka luas, baik dalam negeri maupun ekspor.

  • Sesuai dengan amanat GBHN pada waktu itu, sektor industri diharapkan mampu mewujudkan struktur ekonomi yang seimbang, yaitu sektor industri yang maju didukung oleh sektor pertanian yang tangguh. Sebagai penggerak utama pembangunan melalui ekspor nonmigas dengan peranan ekspor hasil industri yang semakin dominan.


Periode Krisis dan Pemulihan 1997-2004

Periode krisis di Indonesia berlangsung mulai 1997. Tentunya krisis ini memberi dampak yang cukup besar kepada sektor industri. Kebijakan yang diambil pemerintah dalam masa krisis sampai periode pemulihan berorientasi pada inward dan outward looking. Sektor industri manufaktur Indonesia tumbuh jauh lebih lamban sesudah krisisekonomi Asia pada tahun 1997 dan krisis keuangan global tahun 2008. Selama 1996sektor industri manufaktur tumbuh hampir 12%, tetapi pada 1997 tumbuh hanya 5,3%, dan pada 1998 justru mengalami kontraksi sebesar minus 11,4%. Setelah periode krisis Asia, industri manufaktur perlahan-lahan, namun pasti kembali mengalami pertumbuhan positif dan mencapai puncaknya pada tahun 2004 sebesar 6,4%.


Krisis keuangan global pada tahun 2008 kembali memperlambat laju pertumbuhan sektor industri manufaktur yang menyebabkan laju pertumbuhan sektor tersebut hanya sebesar 2,11% pada tahun2009. Sejak krisis ekonomi Asia sampai dengan 2005 pertumbuhan industri manufaktur hanya meningkat dengan laju satu digit. Perkembangan tersendat-sendat ini jauh berbeda dengan masa sebelum krisis pada saat sector industry manufaktur dapat tumbuh dengan dua digit.Selama kurun waktu 1994-1996 sektor ini tumbuh dengan laju rata-rata dua digit setahun, sedikit lebih rendah dibanding dengan kurun waktu 1989-1993.


Periode Pemulihan dan Pengembangan 2005-2009

Tahun 2005 hingga 2009 adalah masa pemulihan dan pengembangan industri krisis. Revitalisasi, konsolidasi, dan restrukturisasi industri masih menjadi salah satu kebijakan industri, sementara pemerintah juga memprioritaskan pengembangan berkeunggulan kompetitif dengan pendekatan Kluster (Departemen Perindustrian, 2005).


Dalam membahas industri di Indonesia banyak hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, industri Indonesia sangat beragam. Mulai dari industri pertambangan di pedalaman hingga ribuan industri rumah tangga tersebar di seluruh pelosok negri Industri pertambangan membutuhkan tingkat investasi yang sangat besar, tingkat teknologi tinggi, beroperasi bertahun-tahun, dan berorientasi global. Sementara ituindustri rumah tangga umumnya hanya sekadar bermodal kurang dari Rp l juta, dikelola oleh keluarga, beroperasi musiman, menggunakan teknologi sederhana dan hanya bersifat lokal. Dengan kata lain, salah jika kita menyebut “sektor industri” Sebagai sesuatu yang homogen. Kedua, juga penting untuk membagi industri Indonesia menjadi dua bagian besar, yakni antara industri sektor minyak dan gas (migas) dan industi lain yang di luar sektor minyak dan gas (nonmigas).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Industri – Cabang, Jenis, Tujuan, Faktor, Dampak, Para Ahli


Permasalahan Industri di Indonesia

Industrialisasi di negara berkembang pada umumnya dilakukan sebagai upaya mengganti barang impor, dengan mencoba membuat sendiri komoditi-komoditi yang semula selalu diimpor.  Mengalihkan permintaan impor dengan melakukan pemberdayaan produksi dari dalam negeri. Strategi yang pertama dilakukan adalah pemberlakuan hambatan tarif terhadap impor produk-produk tertentu. Selanjutnya disusul dengan membangun industri domestik untuk memproduksi barang-barang yang biasa di impor tersebut.


Ini biasanya dilaksanakan melalui kerja sama dengan perusahaan-perusahaan asing yang terdorong untuk membangun industri di kawasan tertentu dan unit-unit usahanya di negara yang bersangkutan, dengan dilindungi oleh dinding proteksi berupa tarif. Selain itu, mereka juga diberi insentif-insentif seperti keringanan pajak, serta berbagai fasilitas dan rangsangan investasi lainnya. Untuk industri kecil yang baru tumbuh terutama di negara yang sedang berkembang. Industri yang baru dibangun belum memiliki kemampuan yang memadai untuk berkompetisi secara frontal dengan industri mapan dari negara-negara yang sudah maju. Industri negara maju sudah berada di
jalur bisnisnya dalam waktu yang sudah lama dan sudah mampu melakukan efisiensi dalam proses-proses produksinya. Mereka mempunyai informasi dan pengetahuan yang cukup tentang optimisasi proses produksi, situasi dan karateristik pasar, serta kondisi pasar tenaga kerja sehingga mereka mampu menjual produk yang berharga murah di pasar internasional tetapi masih tetap bisa menghasilkan keuntungan yang memadai.


Dibeberapa negara, para produsen domestik mereka tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik tanpa tarif, akan tetapi juga untuk ekspor ke pasar internasional. Hal ini bisa mereka lakukan karena mereka telah mampu menghasilkan produk tersebut dengan struktur biaya yang murah sehingga harga yang ditawarkan sangat kompetitif dan mampu bersaing di pasar luar negeri, maka banyak pemerintahan negara-negara dunia ketiga yang tertarik dan menerapkan strategi industrialisasi substitusi impor tersebut.

Perekonomian nasional memiliki berbagai permasalahan dalam kaitannya dengan sektor industri dan perdagangan:

  1. Industri nasional selama ini lebih menekankan pada industri berskala luas dan industri teknologi tinggi. Adanya strategi ini mengakibatkan berkembangnya industri yang berbasis impor. Industri-industri tersebut sering terpukul oleh depresiasi mata uang rupiah yang tajam,

  2. Penyebaran industri belum merata karena masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Industri yang hanya terkonsentrasi pada satu kawasan ini tentulah tidak sejalan dengan kondisi geografis Indonesia yang
    menyebut dirinya sebagai negara kepulauan.


  3. Lemahnya kegiatan ekspor Indonesia yang tergantung pada kandungan impor bahan baku yang tinggi, juga masih tingginya tingkat suku bunga pinjaman bank di Indonesia, apalgi belum sepenuhnya Indonesia diterima
    di pasar internasional


  4. Komposisi komoditi ekspor Indonesia pada umumnya bukan merupakan komoditi yang berdaya saing, melainkan karena berkaitan dengan tersedianya sumber daya alam – seperti hasil perikanan, kopi, karet,
    dan kayu. tersedianya tenaga kerja yang murah – seperti pada industri tekstil, alas kaki, dan barang elektronik


  5. Komoditi primer yang merupakan andalan ekspor Indonesia padaumumnya dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang diperoleh sangat kecil. Misalnya Indonesia mengekspor kayu dalam bentuk
    gelondongan, yang kemudian diimpor lagi dalam bentuk mebel karena terbatasnya penguasaan desain dan teknologi.


  6. Masih relatif rendahnya kualitas sumber daya manusia. Hal ini sangat dipengaruhi oleh sistem pendidikan formal dan pola pelaksanaan pelatihan yang cebderung masih bersifat umum dan kurang berorientasi
    pada perkembangan kebutuhan dunia usaha. Selain itu, rendahnya kualitas sumber daya manusia akibat dari pola penyerapan tenaga kerja di masa lalu yang masih mementingkan pada jumlah tenaga manusia yang
    terserap. ketimbang kualitas tenaga manusianya.

Beberapa ahli menilai penyebab utama dari kegagalan Indonesia dalam berindustri adalah karena industri Indonesia sangat tergantung pada impor sumber-sumber teknologi dari negara lain, terutama negara-negara
yang telah maju dalam berteknologi dan berindustri. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor teknologi ini merupakan salah satu faktor tersembunyi yang menjadi penyebab kegagalan dari berbagai sistem industri dan sistem ekonomi di Indonesia. Sistem industri Indonesia tidak memiliki kemampuan pertanggungjawaban dan penyesuaian yang mandiri.


Karenanya sangat lemah dalam mengantisipasi perubahan dan tak mampu melakukan tindakan-tindakan pencegahan untuk menghadapi terjadinya perubahan tersebut. Tuntutan perubahan pasar dan persaingan antar industri secara global tidak hanya mencakup perubahan di dalam corak, sifat, kualitas, dan harga dari komoditas yang diperdagangkan, tetapi juga tuntutan lain yang muncul karena berkembangnya idealisme
masyarakat dunia terhadap hak azasi manusia, pelestarian lingkungan, liberalisasi perdagangan, dan sebagainya. Gerak ekonomi Indonesia sangat tergantung pada arus modal asing yang masuk atau keluar Indonesia serta besarnya cadangan devisa yang terhimpun melalui perdagangan dan hutang luar negeri.


Kebijakan yang telah secara berkelanjutan ditempuh tersebut, teramati tidak mampu membawa ekonomi Indonesia menjadi makin mandiri, bahkan menjadi tergantung pada:

  • ketergantungan kepada pendapatan ekspor,
  • ketergantungan pada pinjaman luar negeri,
  • ketergantungan kepada adanya investasi asing,
  • ketergantungan akan impor teknologi dari negara-negara industri.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Komoditas Perdagangan – Karakteristik, Jenis, Bahan Bakar, Industri


Tujuan Pembangunan Industri Di Indonesia

Dalam pandangan umum, bahwa pembangunan industri di Indonesia bertujuan untuk :

  1. Meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara adil dan merata dengan memanfaatkan dana, sumber daya alam, dan/atau hasil budidaya serta dengan memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup;
  2. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara bertahap, mengubah struktur perekonomian ke arah yang lebih baik, maju, sehat, dan lebih seimbang sebagai upaya untuk mewujudkan dasar yang lebih kuat dan lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi pada umumnya, serta memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan industri pada khususnya;
  3. Meningkatkan kemampuan dan penguasaan serta mendorong terciptanya teknologi yang tepat guna dan menumbuhkan kepercayaan terhadap kemampuan dunia usaha nasional;
  4. Meningkatkan keikutsertaan masyarakat dan kemampuan golongan ekonomi lemah, termasuk pengrajin agar berperan secara aktif dalam pembangunan industri;
  5. Memperluas dan memeratakan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, serta meningkatkan peranan koperasi industri;
  6. Meningkatkan penerimaan devisa melalui peningkatan ekspor hasil produksi nasional yang bermutu, disamping penghematan devisa melalui pengutamaan pemakaian hasil produksi dalam negeri, guna mengurangi ketergantungan kepada luar negeri;
  7. Mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan industri yang menunjang pembangunan daerah dalam rangka pewujudan Wawasan Nusantara;
  8. Menunjang dan memperkuat stabilitas nasional yang dinamis dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Dan Latar Belakangnnya


Pengaruh Pembangunan Industri Perekonomian Indonesia

Arti penting perindustrian terhadap perkembangan perekonomian dapat dilihat dari arah kebijakan ekonomi yang tertuang dalam GBHN 2000-2004, yaitu “Mengembangkan perekonomian yang berorientasi global sesuai kemajuan teknologi dengan membangun keunggulan kompetitif berdasarkan keunggulan komparatif sebagai negara maritim dan agraris sesuai kompetensi dan produk unggulan di setiap daerah, terutama pertanian dalam arti luas, kehutanan, kelautan, pertambangan, pariwisata serta industri kecil dan kerajinan rakyat, serta mengembangkan kebijakan industri, perdagangan dan investasi dalam rangka meningkatkan daya saing global dengan membuka aksesbilitas yang sama terhadap kesempatan kerja dan berusaha bagi segenap rakyat dan seluruh daerah melalui keunggulan kompetitif terutama berbasis keunggulan SDA dan SDM dengan menghapus segala bentuk perlakuan diskriminatif dan hambatan”.


Selanjutnya disebutkan dalam Undang-Undang No 25 tahun 2001 tentang Program Pembangunan Ekonomi Nasional (Propenas) yang mengamanatkan bahwa dalam rangka memacu peningkatan daya saing global dirumuskan lima strategi utama, yaitu pengembangan ekspor, pengembangan industri, penguatan institusi pasar, pengembangan pariwisata dan peningkatan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.


Perkembangan industri sangat penting untuk menghadapi persaingan ketat, baik di pasar dalam negeri maupun pasar ekspor dalam era globalisasi dan liberalisasi perdagangan dunia. Hal tersebut kembali dipertegas dalam konsiderans Undang-Undang Perindustrian (Undang-Undang Nomor 5 Th. 1984) yang menyatakan bahwa untuk mencapai sasaran pembangunan di bidang ekonomi dalam pembangunan nasional, industri memegang peranan yang menentukan dan oleh karenanya perlu lebih dikembangkan secara seimbang dan terpadu dengan meningkatkan peran serta masyarakat secara aktif serta mendayagunakan secara optimal seluruh sumber daya alam, manusia, dan dana yang tersedia.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Tujuan Otonomi Daerah


Masalah Keterbelakangan Industrialisasi di Indonesia

Dari jumlah penduduk Indonesia termasuk negara sedang berkembang terbesar k-3 setelah india dan cina. Namun diluar dari segi industrialisasi, Indonesia dapat dikatakan baru mulai salah satu indikator dari tingkat industrialisasi adalah sumbangan sektor industri dalam GDP (groos domestic product). Dari  ukuran ini sektor industri di Indonesia sangat ketinggalan dibandingkan dari negara-negara utama di asia. Dua ukuran lain adalah besar nya nilai tambah yang di hasilkan sektor industri dan nilai tambah perkapita.


Dari segi ukuran mutlak sektor industri di Indonesia masih sangat kecil, bahkan kalah dengan negara-negara kecil seperti Singapura, Hongkong dan Taiwan. Secara perkapita nilai tambah sektor industri di Indonesia termasuk yang paling rendah di asia. Indikator lain tingkat industrialisasi adalah produksi listrik perkapita dan prosentasi produksi listrik yang digunakan oleh sektor industri. Di Indonesia produksi listrik perkapita sangat rendah, dan dari tingkat yang rendah ini hanya sebagian kecil yang di gunakan oleh konsumen industri. Keadaan sektor industri selama tahun 1950-an dan 1960-an pada umumnya tidak menggembirakan karena iklim politik pada waktu yang tidak menentu. Kebijakan perindustrian selama awal tahun 1960-an mencerminkan filsafat proteksionalisme dan eatisme yang ekstrim, dengan akibat kemacetan produksi. Sehingga produksi sektor industri praktis tidak berkembang (stagnasi). Selain itu juga disebabkan karena kelangkaan modal dan tenaga kerja ahli yang memadai.


Industrialisai di Indonesia mengalami kemunduran mulai dari semenjak krisis ekonomi terjadi di tahun 1998, hal ini terjadi karna suhu politik yang tidak stabil pada saat itu. Akan tetapi kemunduran ini bukanlah berarti Indonesia tidak memiliki modal untuk melakukan investasi pada industri dalam negeri, tetapi indonesia lebih memfokuskan kepada penyerapan barang hasil produksi industri dalam negeri. Membuka pasar dalam negeri adalah kunci penting bagi industri Indonesia untuk bisa bangkit lagi karena saat ini pasar Indonesia dikuasai oleh produk produk luar.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Dampak Perdagangan Internasional Menurut Para Ahli


Dampak Dan Tantangan Pembangunan Industri di Indonesia

Berikut dampak dan kendala dengan adanya pembangunan industry :

Dampak positif pembangunan industry

Pada umumnya, negara-negara maju di dunia, sebagian besar perekonomiannya ditunjang oleh sektor industri. Pembangunan industri banyak memberikan dampak positif bagi kehidupan bangsa, di antaranya :

  • Terpenuhinya kebutuhan masyarakat oleh hasil industri dalam negeri sehingga pada barang-barang buatan luar negeri
  • Industri turut meningkatkan pemasukan devisa bagi negara
  • Pembangunan industri berarti membutuhkan tenaga kerja yang akan mengurangi pengangguran
  • Meningkatkan pendapatan (income) masyarakat
  • Memungkinkan terbukanya usaha-usaha lain di luar bidang industri, misalnya jasa angkutan, perbankan, perumahan, dan lain-lain
  • Mendorong masyarakat berpikir lebih maju dan ekonomis
  • Menunda usia perkawinan (usia subur) generasi muda/moral restrain.

Dampak negatif pembangunan industry

Pembangunan industri memang tidak selalu menguntungkan karena ada beberapa dampak negatif yang merugikan, yaitu:

  1. Berkurangnya lahan pertanian yang subur, karena pembangunan industri memerlukan lahan yang cukup luas, baik untuk mendirikan industri itu sendiri maupun untuk prasarana lainnya, seperti perumahan, perkantoran, dan lain-lain
  2. Industri dapat menimbulkan pencemaran, terutama berupa pencemaran udara, air, tanah dan pencemaran suara. Limbah industri yang tidak melalui pengolahan lebih dahulu akan merugikan kesehatan dan mata pencaharian petani di sekitarnya.
  3. Timbulnya gaya hidup yang lebih menyukai buatan luar negeri (impor) karena tuntutan gengsi semata.
  4. Terjadinya arus urbanisasi yang meningkat di kota-kota.
  5. Tumbuhnya perilaku konsumerisme dalam masyarakat dan gaya hidup yang boros.

Ada tujuh tantangan pengembangan sektor industry yaitu :

  • Postur indus­tri yang tidak imbang dengan komposisi terbesar merupakan industri berskala mikro dan ke­cil serta peran Industri Kecil Menengah (IKM) dalam rantai industri manufaktur Indonesia yang masih belum optimal
  • Kualitas sumber daya manusia masih relatif rendah
  • Belum tersediannya energi yang andal dengan harga kompetitif
  • Kebijakan yang belum terintegrasi antar lembaga terkait
  • Struktur industri yang belum berimbang yang menciptakan ketergantungan bahan baku pada luar negeri
  • Keterbatasan sumber pembiayaan industri
  • Masih rendahnya daya beli masyarakat.