Objek Studi Geografi Beserta Penjelasannya

Diposting pada

Objek-Studi-Geografi

Ruang Lingkup Ilmu Geografi

“Geografi” berasal dari bahasa Yunani, asal kata ”geo” berarti ”bumi” dan ”graphein” yang berarti ”lukisan” atau ”tulisan. Menurut pengertian yang dikemukakan Eratosthenes, ”geographika” berarti ”tulisan tentang bumi” (Sumaatmadja, 1988: 31). Pengertian ”bumi” dalam geografi tersebut, tidak hanya berkenaan dengan fisik alamiah bumi saja, melainkan juga meliputi segala gejala dan prosesnya, baik itu gejala dan proses alamnya, maupun gejala dan proses kehidupannya. Oleh karena itu dalam hal gejala dan proses kehidupan, di dalamnya termasuk kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia sebagai penghuni bumi tersebut.  Jadi, kalau begitu apa pengertian geografi yang lebih lengkap? Ternyata dari beberapa ahli geografi, dapat dikemukakan sebagai berikut:


Menurut Richoffen (Hartshorne, 1960: 173) bahwa “Geography is the study of the eart surface according to its differences, or the study of different areas of the earth surface…, in term of total characteristics”. Bagi Richoffen bahwa bidang kajian geografi tidak hanya mengumpulkan bahan-bahan yang kemudian disusun secara sistematik, tetapi harus dilakukan penghubungan bahan- bahan tersebut untuk dikaji sebab akibatnya dari fenomena-fenomena di permukaan bumi yang memberikan sifat individualitas sesuatu wilayah. Sebab ruang lingkup geografi tidak sekedar fisik, melainkan juga termasuk gejala manusia dan lingkungan lainnya.


Begitu juga menurut Vidal de la Blache (1845¬1919) dari Prancis yang dikenal sebagai “Bapak Geografi Sosial Modern”, mengemukakan bahwa “geography is the science of places, concerned with qualities and potentialities of contries”(Hartshorne, 1960: 13). Kemudian Karl Ritter misalnya menyatakan bahwa “geography to study the earth as the dwelling-place of man”.


Dalam pengertian “the dwelling-place of man” tersebut bahwa bumi tidak hanya terbatas kepada bagian permukaan bumi yang dihuni manusia saja, melainkan juga wilayah-wilayah yang tidak dihuni manusia sejauh wilayah itu penting artinya bagi kehidupan manusia. Dengan demikian wilayah studi geografi meliputi semua fenomena yang terdapat di permukaan bumi, baik alam organiknya maupun alam anorganiknya dalam interelasi dan interaksinya dalam ruang (spatial relationship), di mana semuanya itu dikaji.


Oleh karena itu menurut Richard Hartshorne (1960: 47): “geography is that discipline that seeks to describe and interpret the variable character from place to place of earth as the world of mad”. Mengingat ilmu geografi tersebut sangat luas dapat dianalogikan sebagai perpaduan dari berbagai disiplin ilmu (murni, terapan, eksak, non eksak), alam, sosial), maka geografi sering disebut sebagai “ibu” atau “induk” ilmu pengetahua. Seperti halnya dikemukakan oleh Preston E. James (1959: 11): “Geography has sometimes been called the mother of sciences, since many fields of learning that started with observations of the actual face of earth turned to the study of specific processes whereever they might be located”


Sudah barang tentu pernyataan itu didasarkan atas alasan yang kuat ataupun bukan didasarkan alasan yang dibuat-buat. Sebab bidang geografi yang luas tersebut mencakup beberapa aspek-aspek alamiah yang sifatnya eksak, kemudian bidang-bidang sosial yang non-eksak. Selain itu alasan James memberikan sebutan sebagai “induk ilmu pengetahuan” kepada Geografi, bukan hanya didasarkan atas relita bahwa observasi dan pengkajian ilmu pengetahuan lain diambil dari bagian-bagaian di permukaan bumi, melainkan didasarkan bahwa perkembangan geografi ini telah begitu tua, sejalan dengan pemikiran filosofis tentang terjadinya alam semesta dengan kehidupannya, mulai dari zaman Herodotus pada tahun 480-430 sebelum masehi.


Intrelasi dan integrasi keruangan gejala di permukaan bumi dari suatu wilayah ke wilayah lain selalu menunjukkan perbedaan. Hal ini dapat kita kaji sendiri bahwa ciri-ciri umum suatu wilayah dapat membedakan diri dari wilayah lainnya. Ciri umum yang merupakan hasil interelasi, interaksi dan integrasi unsur-unsur wilayah yang bersangkutan, merupakan obyek studi gegrafi yang komprehensif (Sumaatmadja, 1988: 33). Dengan demikian ruang lingkup disiplin geografi memang sangat luas dan mendasar, seperti yang dikatakan Murphey (1966: 5), mencakup “aspek alamiah” dan “aspek insaniah”, yang kemudian aspek-aspek tersebut dituangkan dalam suatu ruang berdasarkan prinsip-prinsip penyebaran, dan kronologinya.


Selanjutnya prinsip relasi ini diterapkan untuk menganalisa hubungan antara masyarakat manusia dengan alam lingkungannya, yang dapat mengungkapkan perbedaan arealnya serta persebaran dalam ruang. Akhirnya prinsip relasi, penyebaran, dan kronologinya pada kajian geografi ini dapat mengungkapkan karakteristik suatu wilayah yang berbeda dengan wilayah lainnya. Dengan demikian terungkaplah adanya region-region yang berbeda antara region satu dengan lainnya.


Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa cakupan dan peranan geografi itu setidaknya memiliki empat hal, seperti yang dikemukakan dari hasil penelitian UNESCO (1965: 12-35), maupun Lounsbury (1975: 1-6), sebagai berikut:

  • Pertama, geografi sebagai suatu sintesis. Artinya pembahasan geografi itu pada hakikatnya dapat menjawab substansi pertanyaan-pertanyaan tentang; “what, where, when, why, dan how”. Proses studi semacam itu pada hakikatnya adalah suatu sintesis, karena yang menjadi pokok penelaahan mencakup: apanya yang akan ditelaah, di mana adanya, mengapa demikian, bilamana terjadinya, serta bagaimana melaksanakannya ?

  • Kedua, geografi sebagai suatu penelaahan gejala dan relasi keruangan. Dalam hal ini geografi berperan sebagai pisau analisis terhadap fenomena- fenomena baik alamiah maupun insaniah. Selain itu dalam geografi juga berperan sebagai suatu kajian yang menelaah tentang relasi, interaksi, bahkan interdependisinya satu aspek tertentu dengan lainnya .


  • Ketiga, geografi sebagai disiplin tataguna lahan. Di sini titik beratnya pada aspek pemanfaatan atau pendayagunaan ruang geografi yang harus makin ditingkatkan. Sebab, pertumbuhan penduduk yang begitu pesat dewasa ini, menuntut peningkatan sarana yang menunjangnya baik menyangkut kualitas maupun kuantitasnya. Perluasan sarana tersebut, seperti tempat pemukiman, jalan raya, bangunan publik, tempat rekreasi, dan sebagainya, semuanya membutuhkan perencanaan yang lebih cermat dan matang.


  • Keempat, geografi sebagai bidang ilmu penelitian. Hal ini dimaksudkan agar dua hal bisa tercapai, yaitu: kesatu; meningkatkan pelaksanaan penelitian ilmiah demi disiplin geogafi itu sendiri yang dinamis sesuai dengan kebutuhan pengembangan ilmu yang makin pesat. Oleh karena itu dalam tataran ini perlu dikembangkan lebih jauh tentang struktur ilmu (menyangkut fakta, konsep, generalisasi, dan teori) dari ilmu yang bersangkutan. Kedua, meningkatkan penelitian praktis untuk kepentingan kehidupan dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia umumnya (Sumaatmadja, 1988: 41).


Dari tinjauan ilmuwan geografi kontemporer, bahwa geografi secara sederhana ‘geografi’ merupakan disiplin akademik yang terutama berkenaan dengan penguraian dan pemahaman atas perbedaan-perbedaan kewilayahan dalam distribusi lokasi di permukaan bumi. Fokusnya adalah sifat dan saling keterkaitan antara tiga konsep — lingkungan, tata ruang, dan tempat (Johnston, 2000: 403). Kemudian dalam perkembangannya muncul beberapa sub-bidang yang beragam, seperti; geografi fisik, geografi manusia (sosial), dan geografi regional.


Geografi fisik dan sosial memiliki cabang-cabang yang sistematis, bergerak dari sifat deskriptif menuju analitis dengan pendekatan positivisme yang menekankan pengujian hipotesis untuk merumuskan hukum-hukum dan derivasi teori kian menonjol. Untuk kajian geografi fisik dan manusia ini akan diuaraikan pada pembahasan selanjutnya. Sedangkan untuk geografi regional yang mempelajari sifat-sifat khusus masing-masing kawasan — yang didefinisikan sebagai wilayah permukaan bumi, yang dibatasi oleh kriteria tertentu — yang secara metodologis adalah lemah.


Geografi sebagai disiplin ilmiah yang hampir selalu ada pada tiap universitas dan lembaga pendidikan, usia ilmu ini secara formal dengan demikian lebih dari satu abad. Sosok akademiknya untuk pertama kalinya dibentuk di Jerman yang secara menyebar ke negara-negara lain, dan dimaksudkan menyediakan sumber informasi yang tertata mengenai tempat-tempat, yang merupakan hal penting dan sering digunakan oleh pemerintah kolonial ketika terjadi konflik (Taylor, 1985). Selain itu georafi juga diperkenalkan sebagai mata pelajaran penting dalam dunia pendidikan formal di berbagai negara, dengan tujuan untuk meningkatkan wawasan dan pengenalan dunia serta sebagai landasan ideologis wawasan nasional (Johnston, 2000: 403).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Geografi Sosial dan Menurut Para Ahli


Konsep Geografi

Dalam geografi dikenali sejumlah konsep esensial sebagai berikut. Menurut Seminar Lokakarya yang disepakati ada 10 konsep, yaitu :

  1. Konsep Lokasi
    Lokasi atau letak merupakan konsep utama yang mencirikan geografi. Konsep lokasi ada 2 yaitu Absolut dan Relatif. Konsep lokasi dibedakan menjadi dua yaitu :

    a. Lokasi absolut menunjukan letak yang tetap terhadap system grid (kisi- kisi) atau koordinat. Untuk penentuan lokasi absolute dimuka bumi dipakai sistem koordinasi garis lintang dan garis bujur yang biasa disebut Letak Astronomis. Letak absolut bersifat tetap, tidak berubah, meskipun kondisi tempat yang bersangkutan disekitarnya dapat berubah. Contoh : letak astronomis Indonesia berada pada 95° BT – 141° BT dan 6° LU – 11° LS.


    b. Lokasi relief lokasi relief lazim disebut dengan Letak Geografis. Artinya lokasi ini berubah-ubah berkaitan dengan keadaan sekitarnya. Misalnya : tempat yang mempuyai fakta 2° LS dan 134° BT yang sekarang berupa tempat di hutan daerah pegunungan pulau Irian, tempat itu mungkin tidak penting artinya, namun pada suatu saat apabila di lokasi itu diusahakan sebagai tambang minyak bumi maka tempat itu mempuyai arti yang sangat penting.


  2. Konsep Jarak
    Dinyatakan dalam satuan geometrik dan satuan waktu (jarak tempuh)


  3. Konsep Keterjangkauan
    Mudah atau sulitnya suatu lokasi dijangkau. Faktor-faktor yang mempengaruhi: lokasi, jarak dan kondisi setempat.


  4. Konsep Pola
    Kaitan antara pola gejala alam dengan kehidupan


  5. Konsep Geomorfologi
    Geografi selalu membicarakan mengenai bentuk permukaan bumi


  6. Konsep Aglomerasi
    Aglomerasi adalah kecenderungan persebaran yang bersifat mengelompok pada suatu wilayah yang relatif sempit dengan aktifitas manusia. Misalnya pengelompokkan permukiman daeerah kumuh (slum), permukaan daerah elit dan pengelompokkan pusat perdagangan.


  7. Konsep Perbedaan Wilayah atau Differensiasi areal
    Satu wilayah dengan wilayah,terwujud hasil integrasi berbagi unsur atau fenomena lingkungan baik bersifat alam maupun kehidupan. Integrasi fenomena menjadikan suatu tempat atau wilayah mempuyai corak tersendiri sebagai region yang berbeda dari tempat atau wilayah lain.


  8. Konsep Nilai Kegunaan
    Nilai kegunaan bersifat relatif, sesuai sudut pandang manusia.


  9. Konsep Interaksi
    Interaksi adalah terjadinya hubungan yang saling mempengaruhi antara objek atau tempat yang satu dengan yang lainnya. Setiap tempat mengembangkan potensi sumber dan kebutuhan yang tidak selalu sama dengan yang ada di tempat lain. Interdependensi itu sendiri merupakan peristiwa yang tidak bisa dipisahkan keterkaitannya dengan interaksi. Karena interdenpendensi mempuyai arti saling tergantung. Jadi, faktor interaksi bisa terjadi karena adanya saling ketergantungan dalam banyak hal.


  10. Konsep Keterkaitan dengan keruangan
    Keterkaitan antara suatu fenomena dengan fenomena yang lain.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sistem Informasi Geografis


Geografi dalam fenomena Permukaan bumi

Geografi dalam mengkaji suatu fenomena ada di permukaan bumi menggunakan 3 pendekatan sebagai berikut :


  • Pendekatan keruangan
    Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksistensi ruang dalam perspektif geografi dapat dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess) (Yunus, 1997).


  • Pendekatan kelingkungan
    Dalam pendekatan ini penekanannya bukan lagi pada eksistensi ruang, namun pada keterkaitan antara fenomena geosfera tertentu dengan varaibel lingkungan yang ada


  • Pendekatan kewilayahan
    merupakan kombinasi antara pendekatan yang pertama dan pendekatan yang kedua. Oleh karena sorotan wilayahnya sebagai obyek bersifat multivariate, maka kajian bersifat horisontal dan vertikal.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Pedologi Menurut Ahli Geografi


Objek Studi Geografi

Objek-Studi-Geografi

Pada dasarnya Bumi kita huni ini merupakan objek kajian geografi. Dalam objek kajian tersebut dapat dibagi menjadi objek material dan objek formal. Untuk lebih jelasnya dari masing objek tersebut simak ulasannya dibawah ini.


  • Objek Material

Objek material ini meliputi letak dan gejala atau fenomena yang terdapat dan terjadi di geosfer. Untuk letak geografi ini dibedakan menjadi letak fisiografi dan letak sosiografi. Contoh letak geografi ialah letak astronomis, maritime, klimatologi dan letak geomorfologi, contoh letak sosiografi ialah letak sosial, ekonomi, politik dan letak kultural.


Objek material berkaitan dengan bentang lahan fisik dan bentang lahan manusia ( budaya ). Bentang lahan fisik atau lingkungan alam meliputi atmosfer ( meteorologi dan klimatologi ), litosfer ( geologi, geomorfologi dan pedologi ), hidrosfer ( oseanografi dan hidrologi ), serta biosfer ( botani dan zoologi ). Bentang lahan budaya atau lingkungan manusia meliputi geografi sosial, geografi penduduk, geografi kota, geografi ekonomi dan lain-lain.


Objek material geografi adalah sasaran atau isi kajian geografi. Objek material yang umum dan luas adalah geosfer (lapisan bumi), yang meliputi:

  1.  Litosfer (lapisan keras), merupakan lapisan luar dari bumi kita. Lapisan ini disebut kerak bumi dalam ilmu geologi.
  2. Atmosfer (lapisan udara), terutama adalah lapisan atmosfer bawah yang dikenal sebagai troposfer.
  3. Hidrosfer (lapisan air), baik yang berupa lautan, danau, sungai dan air tanah.
  4. Biosfer (lapisan tempat hidup), yang terdiri atas hewan, tumbuhan, dan manusia sebagai suatu komunitas bukan sebagai individu.
  5. Pedosfer (lapisan tanah), merupakan lapisan batuan yang telah mengalami pelapukan, baik pelapukan fisik, organik, maupun kimia.

Jadi secara nyata objek material geografi meliputi gejala-gejala yang terdapat dan terjadi di muka bumi, seperti aspek batuan, tanah, gempa bumi, cuaca, iklim, gunung api, udara, air serta flora dan fauna yang terkait dengan kehidupan manusia.


  • Objek Formal

Dalam objek ini merupakan cara pandang dan cara piker terhadap objek material dari sudut geografi, cara pandang dan cara piker terhadap objek material dilihat dari segi keruangan, kelingkungan dan konpleks wilayah, serta waktu.

  1. Sudut Pandang Keruangan
    Dalam sudut ini melalui sudut pandang keruangan, objek formal ditinjau dari segi nilai suatu tempat dari berbagai kepentingan. Dari hal ini kita dapat mempelajari tentang letak, jarak, keterjangkauan ( aksesibilitas ) dan sebagainya.

  2. Sudut Pandang Kelingkungan
    Sudut pandang ini diterapkan dengan cara mempelajari suatu tempat dalam kaitannya dengan keadaan suatu tempat beserta komponen-komponen di dalamnya dalam satu kesatuan wilayah. Komponen-komponen tersebut terdiri atas komponen abiotik dan biotik.


  3. Sudut Pandang Kewilayahan
    Pada sudut pandang ini, objek formal dipelajari kesamaan dan perbedaannya antar wilayah serta wilayah dengan ciri-ciri khas. Dari sudut pandang ini kemudian muncul pewilayahan seperti kawasan gurun, yaitu daerah-daerah yang memiliki ciri-ciri serupa dalam komponen atmosfer.


  4. Sudut Pandang Waktu
    Objek formal dipelajari dari segi perkembangan dari periode ke periode waktu atau perkembangan dan perubahan dari waktu ke waktu. Contoh : perkembangan wilayah dari tahun ke tahun dan kondisi garis pantai dari waktu ke waktu.


Objek formal adalah sudut pandang dan cara berpikir terhadap suatu gejala di muka bumi, baik yang sifatnya fisik maupun sosial yang dilihat dari sudut pandang keruangan (spasial). Dalam geografi selalu ditanyakan mengenai di  mana gejala itu terjadi, dan mengapa gejala itu terjadi di tempat tersebut.


Di sini ilmu geografi diharapkan mampu menjawab berbagai pertanyaan sebagai berikut.

  •  Apa (what), berkaitan dengan struktur, pola, fungsi dan proses gejala atau kejadian di permukaan bumi.
  • Di mana (where), berkaitan dengan tempat atau letak suatu objek geografi di permukaan bumi.
  • Berapa (how much/many), berkaitan dengan hal-hal yang menyatakan ukuran (jarak, luas, isi, dan waktu) suatu objek geografi dalam bentuk angka-angka.
  • Mengapa (why), berkaitan dengan rangkaian waktu dan tempat, latar belakang, atau interaksi dan interdependensi suatu gejala, peristiwa, dan motivasi manusia.
  • Bagaimana (how), berkaitan dengan penjabaran suatu pola, fungsi, dan proses gejala dan peristiwa.
  • Kapan (when), berkaitan dengan waktu kejadian yang berlangsung,  waktu yang lampau, sekarang, maupun yang akan datang.
  • Siapa (who), berkaitan dengan subjek atau pelaku dari suatu kejadian atau peristiwa.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Letak Geografis Indonesia” Definisi & ( Pengaruh – Akibat )


Macam Aspek Geografi

a. Aspek Geografi Fisik

Geografi fisik adalah cabang dari ilmu geografi yang mempelajari gejala fisik dari permukaan bumi yang meliputi tanah, air, dan udara dengan segala prosesnya. Selain itu, geografi fisik juga mengkaji gejala-gejala alamiah permukaan bumi yang menjadi lingkungan hidup manusia. Geografi fisik dapat dijadikan pelengkap dalam mempelajari geografi manusia, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Sesuai dengan pembagian geografi ortodok, geografi fisik terdiri atas geomorfologi, hidrologi, klimatologi, pedologi, dan lain-lain.


b. Aspek Geografi Manusia

Geografi manusia adalah cabang dari ilmu geografi yang mempelajari semua aspek gejala di permukaan bumi yang mengambil manusia sebagai objek utamanya. Sesuai dengan pembagian geografi ortodok, geografi manusia dapat dibagi menjadi geografi ekonomi, geografi penduduk, geografi perkotaan, dan geografi pedesaan.


c. Aspek Geografi Regional

Geografi regional merupakan perpaduan dari geografi fisik dan geografi manusia. Geografi regional merupakan studi tentang variasi persebaran gejala dalam ruang pada waktu tertentu baik lokal, nasional, maupun kontinental. Melalui analisis geografi regional, karakteristik yang khas dari suatu wilayah dapat ditonjolkan, sehingga perbedaan wilayah dapat terlihat jelas. Dalam studi geografi regional, semua gejala geografi ditinjau dan dideskripsikan secara berkaitan dalam hubungan integrasi dan interrelasi keruangan.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Dataran Tinggi ( Plateau/Palto ) Definisi & ( Kondisi Geografis – Sebagai Atap Dunia )


Paradigma Geografi 

paradigma secara komprehensif yaitu merupakan kesamaan pandang keilmuan yang didalamnya tercakup asumsi-asumsi, prosedur-prosedur dan penemuan-penemuan yang diterima oleh sekelompok ilmuan dan secara berbarengan menentukan corak/pola kegiatan ilmiah yang tetap. Terdiri dari :


  1. Pandangan Kosmografis yaitu pandangan sementara para ilmuwan terhadap alam semesta. Disebut juga pandangan holistic, munculnya berbagai teori seperti “geosentris” oleh ptolomeus bahwa bumi sebagai pusat tata surya dan “ heliosentris “ oleh Nicholas Copernicus bahwa sebenarnya mataharilah sebagai pusat tata surya.

  2. Pandangan Environmentalis / Determinism Fisik yaitu pandangan kehidupan manusia masih dipengaruhi oleh alam dan lingkungan. Tokohnya adalah Ratzel dan Elsworth Huntington.


  3. Pandangan Possilibis / Neo Determinism yaitu pandangan untuk segala kemungkinan manusia masih dipengaruhi oleh alam tetapi manusia dapat menentukan sendiri nasibnya dengan bantuan teknologi. Tokoh yang terkenal yaitu Paul Vidal de Blache.


  4. Pandangan Probabilisme yaitu pandangan segala kemungkinan terhadap ukuran prilaku manusia dilihat dari statistikanya. Tokonya adalah Peter Hagget.


  5. Pandangan Voluntarisme yaitu pandangan para ilmuwan bahwa manusia bebas menguasai apapun di dunia ini.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ 22 Konsep Geografi : Contoh, Prinsip, Dan Aspeknya [LENGKAP]


Ilmu Yang Memperlajari Geografi

  • Geologi, adalah ilmu yang mempelajari perubahan bentuk permukaan bumi akibat tenaga dari dalam bumi (endogen: vulkanisme, tektonisme, gempa bumi), termasuk struktur, komposisi dan sejarahnya
  • Geomorfologi, adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk-bentuk muka bumi serta perubahannya akibat tenaga dari luar (Exogen: pelapukan, erosi, sedimentasi).
  • Meteorologi, adalah ilmu yang mempelajari atmosfer, yaitu tentang udara, cuaca, suhu, angin, awan, curah hujan, radiasi matahari, dan sebagainya.
  • Hidrologi, adalah ilmu yang mempelajari tentang air di permukaan bumi/tanah, di bawah tanah; termasuk sungai, danau, mata air, air tanah dan rawa-rawa.
  • Klimatologi, adalah ilmu yang mempelajari tentang iklim dan kondisi rata-rata cuaca.
  • Antropologi, adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia khususnya mengenai ciri, warna kulit, bentuk fisik, masyarakat dan kebudayaannya.
  • Ekonomi, adalah ilmu yang mempelajari usaha manusia dalam memenuhi kebutuhannya.
  • Demografi, adalah ilmu yang mempelajari dan menguraikan tentang penduduk..

Ilmu Yang Memperlajari Geografi


Daftar Pustaka

  • Ackoff, Russell, L. (1974) Redesigning the Future, New York: John Willey & Sons.
  • Andreae, Bernd (1986) Geografi Pertanian di Daerah Tropis Beriklim Lembab” dalam Pembangunan Pertanian daerah tropis beriklim lembab” dalam Jurgen H.Honholz, (Ed) Geografi Pedesaan: Masalah Pengembangan Pangan, PenerjemahThomas Rieger dan Sony Keraf, Jakarta: Karya Unipress.
  • Barnes, Trevor (2000) “Geografi Ekonomi” dalam Adam Kupper & Jessica Kupper, Ed. Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, Diterjemahkan Haris Munandar dkk. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada., hlmn.266-267.
  • Burgess, E.W. (1925) ”The Geography of city” dalam R.E. Park et. Al. The City, Chicago: Chacago University Press.
  • Buttimer, A. (1971) Society and Milleu in the French Geographical Tradition, Chicago.
  • Cater, J. dan Jones, T. (1989) Social Geography: An Introduction to Contemporary Issues, London.
  • Chadwick, George, (1971) A System View of Planning, New York: Pergamon Press.
  • Curran, P.J. (1987) “Remote sensing methodologies and geography’, International Journal of Remote Sensing, 8.
  • Davies, Wayne, K.D. (1972) The Conceptual Revolution in Geography, London: Universuty of London Press.
  • Dickinson, Robert, E. (1970) Regional Ecology, New York: Jhon Willey & Sons. Inc.
  • Domros, Mamfred (1986) Iklim Sebagai Faktor Penghambat Pertanian Daerah Tropis”, dalam dalam Pembangunan Pertanian daerah tropis beriklim lembab” dalam Jurgen H.Honholz, (Ed) Geografi Pedesaan: Masalah Pengembangan Pangan, PenerjemahThomas Rieger dan Sony Keraf, Jakarta: Karya Unipress.
  • Dunbar, G. (1977) “Some early occurrence of the term “social geography”, Scottish Geographical Magazine,” 93.
  • Duverger, Murice (1985) Sosiologi Politik, Penerjemah Daniel Dhakidae, Penyunting dan Pengantar Alfian, Jakarta: CV Rajawali.
  • Eyles, J. (ed) (1986) Social Geography in International Perspective, London: Universuty of London Press.