Pengertian Pedologi Menurut Ahli Geografi

Diposting pada

Pengertian Pedologi

Pedologi merupakan ilmu yang mempelajari asal usul atau hubungan antara tanah dengan factor pembentuk dan karakteristik tanah. Pedologi adalah ilmu yang mempelajari berbagai aspek geologi tanah. Di dalamnya ditinjau berbagai hal mengenai pembentukan tanah (pedogenesis), morfologi tanah (sifat dan ciri fisika dan kimia), dan klasifikasi tanah.

Pedologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai berbagai aspek geologi tanah. Di dalam Pedologi ditinjau berbagai hal tentang pembentukan tanah (pedogenesis), morfologi tanah (sifat dan ciri fisika dan kimia), dan juga klasifikasi tanah. Istilah tersebut dari bahasa Inggris, pedology, yang membentuknya dari dua kata bahasa Yunani: pedon (“tanah”) dan logos (“lambang”, “pengetahuan”).

Pedologi adalah ilmu yang mempelajari berbagai aspek geologi tanah. Di dalamnya ditinjau berbagai hal mengenai pembentukan tanah, morfologi tanah, dan klasifikasi tanah. Istilah ini dipinjam dari bahasa Inggris, pedology, yang membentuknya dari dua kata bahasa Yunani: pedon dan logos.


Cabang Dari pedologi

Ilmu yang mempelajari berbagai aspek mengenai tanah dikenal sebagai ilmu tanah. Dari segi klimatologi, tanah memegang peranan penting sebagai penyimpan air dan menekan erosi, meskipun tanah sendiri juga dapat tererosi. Komposisi tanah berbeda-beda pada satu lokasi dengan lokasi yang lain. Air dan udara merupakan bagian dari tanah.

Definisi tanah dari waktu ke waktu mengalami pengembangan pengertian. Saat ini terdapat 4 pengertian tentang tanah yang diuraikan lebih rinci sebagai berikut.

Definisi Tanah Berdasarkan Pendekatan Ahli Geologi

 Ahli geologi akhir abad XIX mendefinisikan tanah sebagai lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit yaitu lapisan partikel halus.


Definisi Tanah Berdasarkan Pendekatan Pedologi

Pada tahun 1870 seorang ahli pedologi yaitu Dokuchaev mendefinisikan tanah sebagai bahan padat (bahan mineral atau bahan organik) yang terletak dipermukaan, yang telah dan sedang serta terus menerus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: (1) bahan induk, (2) iklim, (3) organisme, (4) topografi, dan (5) waktu.


Definisi Tanah Berdasarkan Pendekatan Edaphologi

Seorang ahli edaphologi dari Inggris bernama Dr. H. L. Jones mendefiniskan tanah sebagai media tumbuh tanaman.


Definisi Tanah Berdasarkan Pendekatan Ilmu Tanah Terkini

Pada tahun 2005 seorang doktor ilmu tanah dari Indonesia bernama Hanafiah mendefiniskan tanah secara lebih komperhensif bahwa tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran penopang tumbuh tegaknya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang hara dan sumber penyuplai hara atau nutrisi (meliputi: senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur essensial seperti N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, dan Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.

  1. Pedogenesa: ilmu yang secara khusus mempelajari mengenai proses pembentukan tanah.
  2. Pedografi: ilmu yang mempelajari tentang penyanderaan tanah secara sistematik.
  3. Pedoklasifikasi: pengelompokan tanah secara terkoordinasi, bersifat sintesa dan alamiah dengan susunan kelas-kelas dasar atas beberapa jenjang generalisasi.

Sifat Mempengaruhi tanah

Sifat bahan induk yang mempengaruhi sifat tanah

  1. Susunan mineralogi, BI basa hasilkan tanah lebih basa dibanding BI miskin basa dan BI masam lebih sukar melapuk sehingga hasilkan tanah bertekstur kasar dan sukar sediakan unsur hara.
  2. Struktur bahan induk, bahan yg posus(sarang) lebih mudah melapuk daripada yg mampat.
  3. Tekstur bahan induk, tentukan daya ikat terhadap air yg mentukan lembab efektif dan kecepatan reaksi.

Peranan iklim dalam pembentuk tanah

Iklim merupakan sumber tenaga atau agensia-agensia yang menjalankan proses pembentukan tanah sehingga dinamakan faktor aktif. Pengaruh yang berperan secara langsung terhadap ganesa tanah adalah iklim tanah yang merupakan turunan dari iklim mikro.Iklim mikro adalah keadaan iklim pada perbatasan atmosfer dengan muka bumi.

Peran iklim:

  1. Pengumpulan gamping dangkal didalam profil tanah dalam kawasan dengan curah hujan rendah
  2. Pembentukan tanah-tanah masam oleh pelapukan dan pelindian intensif dibawah pengaruh iklim lembab basah dan hangat panas
  3. Erosi air pada tanah-tanah yang terletak miring didaerah lembab-basah dan erosi angin pada tanah-tanah didaerah terbuka luas dan iklim kering setengah kering
  4. Pengendapan bahan erosi di daerah bawahan
  5. Pembentukan tanah-tanah feralitika di kawasan tropika dan subtropika, yang umumnya tebal, kemerahan, BO rendah, miskin unsur hara essensial, dan keadaan fisikanya baik
  6. Pembentukan tanah-tanah daerah dingin, yang terutama terbentuk karena pelapukan fisika (disintegrasi), biasanya sangat dangkal sampai dengan lapisan beku abadi, berwarna sangat tua, kadar BO tinggi, dan kaya unsur hara karena pelindian sangat terbatas.

Klasifikasi Tanah

Pedologi adalah satu dari dua cabang utama ilmu tanah, selain edafologi (ilmu kesuburan tanah).

Dalam melakukan klasifikasi tanah para ahli pertama kali melakukannya dengan berdasarkan ciri fisika dan kimia, dan juga dengan melihat lapisan-lapisan yang membentuk profil tanah. Selanjutnya, setelah teknologi jauh berkembang para ahli juga kemudian melihat aspek batuan dasar yang membentuk tanah dan juga proses pelapukan batuan yang kemudian memberikan ciri-ciri khas tertentu pada tanah yang terbentuk.

Berdasarkan kriteria itu, ditemukan banyak sekali jenis tanah di dunia ini . Untuk memudahkannya, seringkali para ahli ini melakukan klasifikasi secara lokal. Untuk yang di Indonesia contohnya dikenal sistem klasifikasi Dudal-Soepraptohardjo (1957-1961) yang masih dirujuk hingga saat ini di Indonesia untuk kepentingan pertanian, khususnya pada versi yang dimodifikasi oleh Pusat Penelitian Tanah dan juga Agroklimat (Puslittanak) pada tahun 1978 dan 1982.

Klasifikasi tanah ini memiliki berbagai versi. juga Terdapat kesulitan teknis didalam melakukan klasifikasi untuk tanah sebab banyak hal yang memengaruhi pembentukan tanah. Selain itu juga, tanah merupakan benda yang dinamis sehingga selalu dapat mengalami proses perubahan. Tanah pun terbentuk dari batuan yang aus/lapuk yang diakibat terpapar oleh dinamika pada lapisan bawah atmosfer, seperti dinamika iklim, topografi atau geografi, dan juga aktivitas organisme biologi. Intensitas dan selang waktu dari berbagai faktor ini juga berakibat pada variasi tampilan tanah.

Untuk komunikasi di antara para ahli tanah dunia, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) telah mengembangkan sistem klasifikasi tanah pula sejak 1974. Pada tahun 1998 kemudian disepakati dipakainya sistem klasifikasi WRB dari World Reference Base for Soil Resources, suatu proyek bentukan FAO, untuk menggantikan sistem ini. Versi terbaru dari sistem WRB dirilis pada tahun 2007.

Sistem klasifikasi Dudal-Soepraptohardjo

Taksonomi tanah berdasarkan sistem Dudal-Soepraptohardjo mendasarkan pada penampilan profil tanah dan juga sejumlah ciri-ciri fisika dan juga kimia. Dasar sistem ini ialah dari Rudi Dudal, ahli tanah dari Belgia, yang dimodifikasi untuk situasi Indonesia oleh M. Soepraptohardjo. Sistem ini disukai oleh pekerja lapangan pertanian karena mudah untuk diterapkan di lapangan. Versi aslinya dirilis pada tahun 1957. Modifikasinya dilakukan oleh Pusat Penelitian Tanah pada tahun 1978 dan 1982. Sistem ini (dan modifikasinya) berlaku khusus untuk Indonesia, dengan mengadopsi beberapa sistem internasional, khususnya dalam penamaan dan pemberian kriteria.

Berikut adalah klasifikasi tanah Indonesia menurut sistem Dudal-Soepraptohardjo (D-S),

diberikan dengan padanannya menurut empat sistem klasifikasi lain.

Sistem Soil Taxonomy (USDA)

Sistem USDA atau Soil Taxonomy dikembangkann ialah  pada tahun 1975 oleh tim Soil Survey Staff yang bekerja di bawah Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Sistem ini pernah menjadi sangat populer tetapi juga dikenal sulit diterapkan.

Sistem ini bersifat hierarkis. Tterdapat penggolongan 12 (pada versi pertama berjumlah sepuluh) kelompok utama yang disebut soil order (“ordo tanah”). ialah sebagai berikut :

  • Entisol (membentuk akhiran -ent)
  • Inceptisol (membentuk akhiran -ept)
  • Alfisol (membentuk akhiran -alf)
  • Ultisol (membentuk akhiran -ult)
  • Oxisol (membentuk akhiran -ox)
  • Vertisol (membentuk akhiran -vert)
  • Mollisol (membentuk akhiran -mol)
  • Spodosol (membentuk akhiran -od)
  • Histosol (membentuk akhiran -ist)
  • Andosol (membentuk akhiran -and)
  • Aridisol (membentuk akhiran -id)
  • Gleisol (membentuk akhiran )
    Penamaan berikutnya ditentukan oleh kondisi masing-masing order. Sistem USDA mempertimbangkan aspek pembentukan tanah akibat faktor aktivitas di bumi dan atmosfer.

Berikut ini adalah para pakar pedologi di Indonesia

  • Moh.Isa Darmawidjaja
  • Rudi Dudal (Belgia)
  • M. Soepraptohardjo
  • Tejoyuwono Notohadiprawiro
  • Sarwono Hardjowigeno
  • E.C.J. Mohr (1873–1970)
  • J. van Schuylenborgh