Pengertian Efektivitas Organisasi – Faktor, Pendekatan, Tujuan, Sistem, Nilai, Para Ahli

Diposting pada

Pengertian Efektivitas Organisasi – Faktor, Pendekatan, Tujuan, Sistem, Nilai, Para Ahli : Merupakan suatu konsep yang sangat penting karena mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai sasarannya atau dapat dikatakan bahwa efektivitas merupakan tingkat ketercapaian tujua.


Efektivitas Organisasi
Efektivitas Organisasi

Pengertian Efektivitas Organisasi

Konsep efektivitas sesungguhnya merupakan suatu konsep yang luas, mencakup berbagai faktor di dalam maupun di luar organisasi. Konsep efektivitas ini oleh para ahli belum ada keseragaman pandangan, dan hal tersebut dikarenakan sudut pandang yang dilakukan dengan pendekatan disiplin ilmu yang berbeda, sehingga melahirkan konsep yang berbeda pula di dalam pengukurannya. Namun demikian, banyak juga ahli dan peneliti yang telah mengungkapkan apa dan bagaimana mengukur efektivitas itu.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian, Fungsi Dan Unsur Manajemen Pemasaran Beserta Tugasnya Terlengkap


Pengertian Efektivitas Organisasi Menurut Para Ahli

Berikut ini merupakan definisi sudut pandang dalam pengertian Efektivitas Organisasi Menurut Para Ahli.

  • Emitai Etzioni (1982:54)

mengemukakan bahwa “efektivitas organisasi dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan organisasi dalam usaha untuk mencapai tujuan atau sasaran.” Komaruddin (1994:294) juga mengungkapkan “efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukan tingkat keberhasilan kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.”


  • The Liang Gie (2000:24)

juga mengemukakan “efektivitas adalah keadaan atau kemampuan suatu kerja yang dilaksanakan oleh manusia untuk memberikan guna yang diharapkan.”


  •  Gibson (1984:28)

mengemukakan bahwa “efektivitas adalah konteks perilaku organisasi merupakan hubungan antar produksi, kualitas, efisiensi, fleksibilitas, kepuasan, sifat keunggulan dan pengembangan.”


  • Soekarno K. (1986:42)

efektif adalah pencapaian tujuan atau hasil yang dikehendaki tanpa menghiraukan faktor-faktor tenaga, waktu, biaya, fikiran alat dan lain-alat yang telah dikeluarkan/ digunakan. Hal ini berarti bahwa pengertian efektivitas yang dipentingkan adalah semata-mata hasil atau tujuan yang dikehendaki. Jadi pengertian efektivitas kinerja organisasi adalah pencapaian tujuan atau hasil yang dilakukan dikerjakan oleh setiap individu secara bersama-sama.


Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat diketahui bahwa efektivitas merupakan suatu konsep yang sangat penting karena mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai sasarannya atau dapat dikatakan bahwa efektivitas merupakan tingkat ketercapaian tujuan dari aktivasi-aktivasi yang telah dilaksanakan dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya.


Faktor Efektivitas Organisasi

Efektivitas organisasi dipengaruhi oleh 4(empat) faktor di dalam budaya organisasi yakni keterlibatan (Involvement), adapatasi (Adadptation), Misi (Mision) , dan konsistensi (consistency).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Tujuan, Strategi Dan 6 Pengertian Pemasaran Menurut Para Ahli


Keterlibatan (involvement)

Keterlibatan ialah suatu perlakuan yang membuat staf merasa diikut sertakan didalam kegiatan organisasi sehingga dapat membuat staf bertanggung jawab mengenai tindakan yang dilakukannya (Casida, 2007). Keterlibatan (involvement) ialah kebebasan (independensi) yang dipunyai pada setiap individu didalam mengemukakan pendapat.


Keterlibatan tersebut perlu juga dihargai oleh kelompok maupun pimpinan suatu organisasi sepanjang menyangkut ide untuk dapat memajukan dan juga mengembangkan organisasi atau perusahaan. Keterlibatan terdiri dari 3(tiga) indikator yakni pemberdayaan (Empowerment), kerja tim (Team Orientation) dan juga kemampuan berkembang (Capability Development) (Casida, 2007).


  • Pemberdayaan (empowerment)

    Pemberdayaan (empowerment) ialah proses yang memungkinkan staf untuk dapat memiliki input serta kontrol atas pekerjaan mereka, dan juga kemampuan untuk secara terbuka berbagi saran serta ide tentang pekerjaan mereka.


    Pemberdayaan akan dapat membuat staf memiliki kekuasan untuk dapat mampu membuat pilihan dan juga berpartisipasi pada tingkat yang lebih bertanggung jawab yang pada akhirnya akan dapat menimbulkan perasaan bahagia pada diri staf tersebut dan juga mengakibatkan staf akan dapat berpikiran positif terhadap lingkungannya.


  • Kerja tim (team orientation)

    Kerja tim (Team Orientation) tersebut akan menunjukkan efektifnya kerja secara tim didalam memberikan kontribusi pada suatu organisasi yang mana proses di dalam kerja tim ialah usaha untuk dapat memecahkan suatu masalah dan juga meningkatkan inovasi anggotanya.


  • Kemampuan berkembang (capability development)

    Kemampuan berkembang (Capability Development) ialah kemampuan pada suatu organisasi untuk dapat meningkatkan kemampuan stafnya sehingga dapat ataupun mampu berkompetisi serta juga untuk mencapai tujuan organisasi.


Adapatasi (Adadptation)

Kemampuan adaptasi adalah kemampuan pada organisasi untuk dapat menerjemahkan pengaruh lingkungan terhadap organisasi. Adaptasi ialah kemampuan organisasi didalam merespon perubahan-perubahan lingkungan eksternal dengan cara melakukan perubahan internal pada suatu organisasi.


Denison dan juga Mirsha (1995) dalam Casida (2007) tersebut menggemukakan yakni kemampuan adaptasi dapat dilihat dari 3(tiga) indikator yakni perubahan (Creating Change), berfokus pada pasien (Customer Focus) dan juga keadaan organisasi (Organizational Learning).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Strategi Pemasaran Serta Hal Penting Dari Sudut Pandang Penjual Dan Konsumen


  • Perubahan (creating change)

Perubahan (Creating Change) ialah kemampuan pada organisasi untuk dapat melakukan pembaharuan, dan juga mampu mengikuti perkembangan serta bereaksi dengan cepat terhadap tren serta mengantisipasi dampak dari pembaharuan tersebut.


  • Berfokus pelanggan (costumer focus)

Berfokus pada pasien (Customer Focus) ialah kemampuan pada organisasi untuk dapat mampu memberikan perhatian kepada kepuasan pelanggan.


  • Keadaan organisasi (organizational learning)

    Keadaan organisasi (Organizational Learning) ialah proses yang mendukung suatu organisasi untuk dapat mampu beradaptasi terhadap perubahan, dan juga mampu untuk bertumbuh ke arah yang lebih baik dengan melalui penciptaaan serta pengaplikasian hal-hal baru seperti knowledge, kemampuan serta kompetensi sekaligus juga mampu untuk mentransformasikannya kepada anggota lainnya.


    Keadaan organisasi ialah kemampuan pada organisasi untuk menerima, menerjemahkan, dan juga menginterpretasi dari lingkungan eksternal menjadi suatu usaha untuk dapat mendorong inovasi, memperoleh pengetahuan serta meningkatkan pengetahuan.


Misi (Mission)

Misi ialah dimensi budaya yang menunjukkan pada tujuan inti organisasi yang menjadikan anggota organisasi teguh serta fokus terhadap apa yang dianggap penting oleh suatu organisasi. Sesuai dengan penelitian Denison (2006) yang menunjukkan bahwa organisasi yang kurang didalam menerapkan misi akan dapat mengakibatkan staf tidak dapat mengerti hasil yang akan dicapai dan juga tujuan jangka panjang yang ditetapkan menjadi tidak jelas.


Denison dan Mirsha (1995) menyatakan ialah bahwa kemampuan adaptasi dapat dilihat dari 3(tiga) indikator yakni strategi yang terarah serta tetap (Strategic Direction and Intent), Tujuan dan juga objektivitas (Goals and Objectif), Visi (Vision) .


  • Strategi yang terarah dan juga tetap (strategic direction and intent)

    Strategi yang terarah dan juga tetap (Strategic Direction and Intent) ialah rencana yang jelas tentang tujuan organisasi dan juga membuat anggota organisasi dapat memahami kontribusi serta fungsi mereka di dalam suatu organisasi. Manager tingkat pertama yang secara umum akan lebih dilibatkan dalam penetapan suatu strategi. Strategi adalah elemen terpenting yang memberikan penjelasan mengenai cara-cara untuk dapat melaksanakan suatu tindakan.


  • Tujuan dan objektivitas (goals and objectivity)

    Tujuan dan jufa objektivitas (Goals and Objectivity) ialah hasil yang diinginkan dengan melalui usaha yang terarah dapat diukur, ambisius tetapi harus tetap realistis. Tujuan dan juga objektivitas adalah kumpulan sasaran yang dikaitkan dengan misi, visi, dan juga strategi dan juga mampu memberikan arahan yang jelas bagi staf dalam bertindak.


  • Visi (vision)

    Visi (Vision) ialah pandangan bersama mengenai tujuan yang akan dicapai pada suatu organisasi yang terdiri dari nilai-nilai dan juga pemikiran bersama yang mampu untuk memberikan arahan bagi anggota organisasi. Visi adalah rangkaian kalimat yang menyatakan cita-cita maupun impian suatu organisasi atau juga perusahaan yang ingin dicapai di masa depan atau juga dapat dikatakan bahwa visi adalah pernyataan “apa yang diinginkan”dari organisasi ataupun perusahaan. Visi juga ialah hal yang sangat krusial bagi suatu perusahaan untuk dapat menjamin kelestarian dan juga kesuksesan jangka panjang.


    Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Kebutuhan Manusia Yang Tidak Terbatas Beserta Faktornya


Konsistensi (Consistency)

Konsistensi (Consistency) ialah tingkat kesepakatan anggota suatu organisasi terhadap asumsi dasar dan juga nilai-nilai inti organisasi. Konsistensi dalam menekankan pada sistem keyakinan-keyakinan, nilai-nilai, dan juga simbol-simbol yang dimengerti serta dianut bersama oleh para anggota organisasi dan juga pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang terkoordinasi.


Adanya konsistensi dalam suatu organisasi akan ditandai oleh staf merasa terikat; terdapat nilai-nilai kunci; kejelasan mengenai tindakan yang dapat dilakukan dan juga tidak dapat dilakukan. Konsistensi didalam organisasi adalah dimensi yang menjaga kekuatan serta juga stabilitas di dalam organisasi. Denison dan Mirsha (1995) menyatakan bahwa konsistensi dapat dilihat dari 3(tiga) indikator yakni nilai inti (core value), kesepakatan (Agreement), koordinasi dan juga integrasi (Coordination and Integ


ration).


  • Nilai inti (core value)

    Nilai inti (core value) ialah pedoman atau kepercayaan permanen tentang sesuatu tepat dan juga tidak tepat yang mengarahkan tindakan serta juga perilaku staf dalam mencapai tujuan suatu organisasi.


  • Kesepakatan (agreement)

    Kesepakatan (Agreement) ialah suatu proses ketika staf di dalam organisasi dapat mencapai kesamaan pendapat mengenai masalah-masalah yang terjadi ataupun suatu hal yag mendasari dan juga mampu menyelesaikan perbedaan pendapat yang terjadi di dalam suatu organisasi.


  • Koordinasi dan integrasi (coordination and integration)

    Koordinasi dan integrasi (Coordination and Integration) ialah berbagai fungsi serta unit di dalam organisasi yang bekerja sama untuk dapat mencapai tujuan organisasi tanpa harus mengganggu hak masing-masing. Koordinasi dan juga integrasi sangat bermanfaat untuk dapat meningkatkan efisiensi, kualitas, serta juga pelayanan yang diberikan kepada publik.


Pendekatan-Pendekatan Keefektifan Organisasi

 Berikut ini merupakan pendekatan yang dilakukan organisasi untuk mencapai tujuanya.

Pendekatan Pencapaian Tujuan (goal attainment approach)

Pendekatan pencapaian tujuan mengasumsi bahwa organisasi adalah kesatuan yang dibuat dengan sengaja, rasional, dan mencari tujuan. Oleh karena itu, pencapaian tujuan yang berhasil menjadi sebuah ukuran yang tepat tentang keefektifan.


Namun demikian agar pencapaian tujuan bisa menjadi ukuran yang sah dalam mengukur keefektifan organisasi, asumsi-asumsi lain juga harus diperhatikan. Pertama, organisasi harus mempunyai tujuan akhir. Kedua, tujuan-tujuan tersebut harus diidentifikasi dan ditetapkan dengan baik agar dapat dimengerti. Ketiga, tujuan-tujuan tersebut harus sedikit saja agar mudah dikelola. Keempat, harus ada consensus atau kesepakatan umum mengenai tujuan-tujuan tersebut.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Pendapatan Menurut Para Ahli Beserta Jenisnya


Beberapa permasalahan dalam pendekatan ini antara lain adalah :

  • apa yang dinyatakan secara resmi oleh sebuah organisasi sebagai suatu tujuan tidak selalu mencerminkan tujuan yang sebenarnya.
  • Tujuan jangkan pendek sering kali berbeda dengan tujuan jangka panjangnya.
  • Organisasi yang memiliki tujuan majemuk akan menciptakan kesulitan.

Pendekatan Sistem (system approach)

Pendekatan system terhadap efektifitas organisasi mengimplikasikan bahwa organisasi terdiri dari sub-sub bagian yang saling berhubungan. Jika slah satu sub bagian ini mempunyai performa yang buruk, maka akan timbul dampak yang negative terhadap performa keseluruhan system.


Keefektifan membutuhkan kesadaran dan interaksi yang berhasil dengan konstituensi lingkungan. Manajemen tidak boleh gagal dalam mempertahankan hubungan yang baik dengan para pelanggan, pemasok, lembaga pemerintahan, serikat buruh, dan konstituensi sejenis yang mempunyai kekuatan untuk mengacaukan operasi organisasi yang stabil.


Kekurangan yang paling menonjol dari pendekatan system adalah hubungannya dengan pengukuran dan masalah apakah cara-cara itu memang benar-benar penting. Keunggulan akhir dari pendekatan system adalah kemampuannya untuk diaplikasikan jika tujuan akhir sangat samar atau tidak dapat diukur.


Pendekatan Konstituen-Strategis (strategic-constituencies approach)

Pendekatan konstituensi-strategis memandang organisasi secara berbeda. Organisasi diasumsikan sebagai arena politik tempat kelompok-kelompok yang berkepentingan bersaing untuk mengendalikan sumber daya. Dalam konteks ini, keefektifan organisasi menjadi sebuah penilaian tentang sejauh mana keberhasilan sebuah organisasi dalam memenuhi tuntutan konstituensi kritisnya yaitu pihak-pihak yang menjadi tempat bergantung organisasi tersebut untuk kelangsungan hidupnya di masa depan.


Kekurangan dari pendekatan ini adalah dalam praktik, tugas untuk memisahkan konstituensi strategis dari lingkungan yang lebih besar mudah untuk diucapkan, tetapi sukar untuk dilaksanakan. Karena lingkungan berubah dengan cepat, apa yang kemarin kritis bagi organisasi mungkin tidak lagi untuk hari ini.


Dengan mengoperasikan pendekatan konstituensi strategis, para manajer mengurangi kemungkinan bahwa mereka mungkin mengabaikan atau sangat mengganggu sebuah kelompok yang kekuasaannya dapat menghambat kegiatan-kegiatan sebuah organisasi secara nyata.


Pendekatan Nilai-nilai Bersaing (Competing-values approach)

Nilai-nilai bersaing secara nyata melangkah lebih jauh dari pada hanya pengakuan tentang adanya pilihan yang beraneka ragam. Pendekatan tersebut mengasumsikan tentang adanya pilihan yang beraneka ragam. Pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa berbagai macam pilihan tersebut dapat dikonsolidasikan dan diorganisasi.


Pendekatan nilai-nilai bersaing mengatakan bahwa ada elemen umum yang mendasari setiap daftar criteria Efektifitas Organisasi yang komprehensif dan bahwa elemen tersebut dapat dikombinasikan sedemikian rupa sehingga menciptakan kumpulan dasar mengenai nilai-nilai bersaing. Masing-masing kumpulan tersebut lalu membentuk sebuah model keefektifan yang unik.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Inflasi Menurut Para Ahli Terlengkap