Aspek Pembinaan Keluarga Sejahtera

Diposting pada

Pengertian Keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Yang salah satu bentuk keluarga yuang banyak diimpikan ialah keluarga sejahtera.

aspek-pembinaan-keluarga

Keluarga sejahtera dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah serta mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik dari segi spiritula dan materiil dengan layak, bertakwa kapada Tuhan Yang Maha Esa, serta memiliki hubungan yang sama, selaras dan seimbang antara anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Baca Juga : Keluarga adalah


Fungsi Keluarga

Berikut ini adalah fungsi dari keluarga, sebagai berikut:


1. Dwifungsi Keluarga

  1. Fungsi Internal

Fungsi internal dari keluarga yaitu sebagai pusat pendidikan pertama dan utama. Perkembangan hidup setiap individu, terutama anak-anak, sangat ditentukan oleh berfungsi tidaknya keluarga sebagai pusat pendidikan pertama bagi mereka. Apabila keluarga mampu menjalankan fungsi pendidikan ini dengan baik dan benar, insya Allah akan lahir generasi-generasi Rabbi Radliyya atau generasi-generasi yang diridhai Allah SWT.


  1. Fungsi Eksternal

Fungsi eksternal keluarga adalah sebagai unit terkecil masyarakat. Masyarakat terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang disebut keluarga. Apabila unit-unit keluarga dalam masyarakat berfungsi dengan baik dan benar, maka masyarakatpun akan baik pula, dan begitupula sebaliknya.


2. Fungsi Keluarga Lainnya

Masyarakat adalah cerminan kondisi keluarga, jika keluarga sehat berarti masyarakatnya juga sehat. Jika keluarga bahagia berarti masyarakatnya juga bahagia. Selain sebagai penentu kondisi masyarakat tersebut, keluarga juga mempunyai beberapa fungsi lain dari sudut pandang yang berbeda,yaitu:


  1. Fungsi Reproduksi

Keluarga mempunyai fungsi produksi, karena keluarga dapat menghasilkan keturunan secara sah.


  1. Fungsi Ekonomi

Kesatuan ekonomi mandiri, anggota keluarga mendapatkan dan membelanjakan harta untuk memenuhi keperluan.


  1. Fungsi Protektif

Keluarga harus senantiasa melindungi anggotanya dari ancaman fisik, ekonomis dan psiko soisal. Masalah salah satu anggota merupakan maslaah seluruh anggota keluarganya.


  1. Fungsi Rekreatif

Keluarga merupakan pusat rekreasi bagi para anggotanya. Kejenuhan dapat dihilangkan ketika sedang berkumpul atau bergurau dengan anggota keluarganya.


  1. Fungsi Afektif

Keluarga memberikan kasih sayang, pengertian dan tolomg menolong diantara anggota keluarganya, baik antara orang tua terhadap anak-anaknya maupun sebaliknya.


  1. Fungsi Edukatif

Keluarga memberikan pendidikan kepada anggotanya, terutama kepada anak-anak agar tumbuh menjadi anak yang mempunyai budi pekerti luhur. Sehingga keluarga merupakan tempat Pendidikan yang paling utama.


Agar fungsi-fungsi di atas dapat dijalankan dengan baik, maka kunci utamanya terletak oada suami da istri. Suami dan istri harus benar-benar mengetahui dan menguasai tugas kewajiban masing-masing, dan harus mampu menjalankannya dengan baik, benar dan proporsional, sesuai dengan fungsinya tersebut baik di dalam maupun di uar rumah tangga. Karena itu, untuk membangun keluarga yang ampu menjalankan fungsi-fungsi tersebut hanya ada satu kata ang harus dipegang teguh oleh suami dan isteri, yaitu bahwa nereka berdua harus benar-benar “fungsional” di dalam keluarga artinya mereka mengetahui dan konsisten dalam menjalankan fungsinya tersebut. Jangan sampai keluarga tersebut mengalami kedisfungsian dalam menjalankan fungsinya.

Baca Juga : Pranata Pendidikan – Pengertian, Keluarga, Agama, Ekonomi, Politik, Ciri


3. Empat Jenis Keluarga Dilihat dari Fungsinya

Dalam konteks berfungsi atau tidaknya suami isteri dalam sebuah keuarga, kita bisa mengelompokkan keluarga menjadi empat jenis diantaranya :

  • Keluarga yang “suami dan isteri” di dalamnya sama-sama fungsional (sholeh dan berakhlak baik). Salah satu contohnya adalah keluarga Nabi Ibrahim a.s. yang mendapatkan rahmat dan barakah dari Allah SWT.
  • Keluarga yang “isteri”nya fungsional (sholehah dan berakhlak baik), tapi “suami” nya tida fungsional (jahat dan berakhlak buruk). Salah satu contohnya adalah keluarga Fir’aun yang dilaknat Allah SWT, tetapi isterinya justru seorang perempuan yang shalehah.
  • Keluarga yang “suami” nya fungsional (sholehah dan berakhlak baik) tetapi “isteri” nya tidak fungsional (jahat dan berakhlak buruk). Salah satu contohnya adalah keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth a.s. Keduanya jelas sholeh karena memang utusan Allah SWT, tetapi isteri-isteri mereka adalah orang yang jahat dan suka berkhianat kepada Allah SWT.
  • Keluarga yang suami dan isterinya sama-sama tidak fungsional (jahat dan berakhlak buruk). Contohnya adalah keluarga Abu Lahab yang bersama isterinya sangat menentang kebenaran yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Proses Pembentukan Keluarga

Untuk membentuk dan mewujudkan keluarga muslim yang sakinah, mawadah, dan warohmah perlu melalui proses yang panjang dan pengorbanan yang besar, di antaranya:

  1. Pilih pasangan yang shaleh atau shalehah yang taat menjalankan perintah Allah SWT dan sunnah Rasulullah.
  2. Pilihlah pasangan dengan mengutamakan keimanan dan ketaqwaannya dari pada kecantikannya, kekayaannya, kedudukannya.

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

  1. Pilihlah pasangan keturunan keluarga yang terjaga kehormatan dan nasabnya.
  2. Niatkan saat menikah untuk beribadah kepada Allah SWT dan untuk menghidari hubungan yang dilarang Allah SWT.
  3. Suami berusaha menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami dengan dorongan iman, cinta, dan ibadah. Seperti memberi nafkah, memberi keamanan, memberikan didikan islami pada anak istrinya, memberikan sandang, pangan, dan papan yang halal, menjadi pemimpin keluarga yang mampu mengajak anggota keluarganya menuju ridha Allah dan surga-Nya serta dapat menyelamatkan anggota keluarganya dari siksa api neraka.
  4. Istri berusaha menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan dorongan ibadah dan berharap ridha Allah semata. Seperti melayani suami, mendidik putra-putrinya tentang agama islam dan ilmu pengetahuan, mendidik mereka dengan akhlak yang mulia, menjaga kehormatan keluarga, memelihara harta suaminya, dan membahagiakan suaminya.
  5. Suami istri saling mengenali kekurangan dan kelebihan pasangannya, saling menghargai, merasa saling membutuhkan dan melengkapi, menghormati, mencintai, saling mempercayai kesetiaan masing-masing, saling keterbukaan dengan merajut komunikasi yang intens.
  6. Berkomitmen menempuh perjalanan rumah tangga untuk selalu bersama dalam mengarungi badai dan gelombang kehidupan.
  7. Suami mengajak anak dan istrinya untuk shalat berjamaah atau ibadah bersama-sama, seperti suami mengajak anak istrinya bersedekah pada fakir miskin, dengan tujuan suami mendidik anaknya agar gemar bersedekah, mendidik istrinya agar lebih banyak bersukur kepada Allah SWT, berzikir bersama-sama, mengajak anak istri membaca Al-Qur’an, berziarah kubur, menuntut ilmu bersama, bertamasya untuk melihat keagungan ciptaan Allah SWT. Dan lain-lain.
  8. Suami istri selalu memohon kepada Allah agar dijadikan keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah.
  9. Suami secara berkala mengajak istri dan anaknya melakukan instropeksi diri untuk melakukan perbaikan dimasa yang akan datang. Misalkan, suami istri, dan anak-anaknya saling meminta maaf pada anggota keluarga itu pada setiap hari kamis malam jum’at. Tujuannya hubungan masing-masing keluarga menjadi harmonis, terbuka, plong, tanpa beban kesalahan pada pasangannnya, dan untuk menjaga kesetiaan masing-masing anggota keluarga.
  10. Saat menghadapi musibah dan kesusahan, selalu mengadakan musyawarah keluarga. Dan ketika terjadi perselisihan, maka anggota keluarga cepat-cepat memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan nafsu amarahnya.

Rasulullah SAW bersabda “Apabila Allah menghendaki, maka rumah tangga yang bahagia itu akan diberikan kecenderungan senang mempelajari ilmu-ilmu agama, yang muda-muda menghormayi yang tua, harmonis dalam kehidupan, hemat dan hidup sederhana, menyadari cacat-cacat mereka dan melakukan taubat” (HR Dailami dari Abas ra).


Aspek Penting Dalam Pembinaan Keluarga Sejahtera

Dalam hal ini tidak mudah untuk membentuk sebuah keluarga sejahtera, namun hal ini mungkin saja tercapai jika memperhatiak ke empat berikut ini:


  • Aspek Agama

Agama memiliki peran yang pentiung sekalai dalam membina keluarga sejahtera, agama yang merupakan jawaban dan poenyelesaian terhadap fungsi kehidupan manusia adalah ajaran atau sistem yang mangatur tata keimanan “kepercayaan” dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Baca Juga : Pengertian, Ciri, Dan Fungsi Pranata Keluarga Beserta Contohnya Lengkap


Oleh karena itu, sebuah keluarga haruslah memiliki dan berpegang pada suatu agama yang diyakininya supaya pembinaan keluarga sejahtera dapat terwujud sejalan dengan apa yang diajarkan oleh agama.


  • Aspek Pendidikan

Dalam hal ini pendidikan keluarha sangatlah penting namun sering kali dianggap tidak penting. Etika yang benar harus diajarkan kepada anak semenjak kecil, sehingga ketika seorang anak menjadi dewasa ia akan berperilaku baik. Tentu saja perilaku oranng tua juga harus baik dan benar sebagai panutan untuk anaknya. Apabila sejak kecil seorang anak diajarkan dengan baik dan benar maka keluarga tersebut akan harmonis dan seandainya setiap keluarga mengajarkan nilai-nilai etika yang benar maka semua manusia akan hidup berdampingan dan damai.


Untuk hal ini keluarga merupakan wahana pertama dan utama dalam pendidikan karakter anak. Bila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya, maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga, dalam hal ini sekolah untuk memperbaikinya. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter.


Oleh karena itu, setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak dirumah. Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan “karakter” pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dan orang tua yang meliputi pemenuhan fisik, psikologis serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya.


  • Aspek Ekonomi

Pemerintah Indonesia mengelompokkan keluarga ke dalam 2 tipe yakni keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera. Berkebalikan dengan keluarga sejahtera, keluarga pra sejahtera identik dengan keluarga yang anaknya banyak, tidak dapat menempuh pendidikan secara layak, tidak memiliki pengahasilan tetap, belum memperhatikan masalah kesehatan lingkungan, rentan terhadap penyakit, mempunyai masalah tempat tinggal dan masih perlu mendapat bantuan sandang dan pangan.


Oleh karena itu, konsentrasi pembinaan terhadap keluarga yang dilakukan oleh pemerintah saat ini ialah menangani keluarga pra sejahtera. Hal itu terlihat dari beberapa program-program dasar pembinaan keluarga seperti: perencanaan kelahiran “KB”, POS pelayanan terpadu “POSYANDU”, pelayanan kesehatan gratis, pembinaan lansia, pengadaan rumah khusus keluarga pra sejahtera dan sejenisnya.


  • Aspek Sosial Budaya

Perkembangan anak pada usia antara 3 hingga 6 tahun ialah perkembangan sikap sosialnya. Konsep perkembangan sosial mengacu pada perilaku anak dalam hubungannya dengan lingkungan sosial untuk mandiri dan dapat berinteraksi atau untuk menjadi manusia sosial.


Interaksi ialah komunikasi dengan manusia lain, suatu hubungan yang menimbulkan perasaan sosial yang mengikatkan individu dengan sesama manusia, perasaan hidup bermasyarakat seperti tolong menolong, saling memberi dan menerima simpati dan empati serta rasa setia kawan dan sebagainya.

Baca Juga : Lembaga Keluarga


Faktor-Faktor Pembentukan Keluarga Sejahtera

Membina sebuah keluarga bahagia dalam rumah tangga bukanlah suatuperkara yang mudah. Terdapat banyak faktor yang mendorong pasangan suami istri boleh membentuk keluarga bahagia yang diridhai Allah SWT. Antara faktor-faktor yang dinyatakan dalam kajian ini ialah faktor suami istri, faktor keilmuan, faktor hubungan ahli kerabat, dan faktor ekonomi.


  1. Faktor Suami Istri

Suami istri merupakan tunjang utama dalam pembentukan sebuah keluarga bahagia. Damainya sebuah institusi perkawinan itu bergantung kepada hubungan dan peranan suami istri untuk membentuk keluarga masing-masing. Ibu bapak atau ketua keluarga perlu memainkan peranan terutamanya saling hormat-menghormati di antara satu sama lain karena anak-anak akan mudah terpengaruh dengan tingkah laku mereka. Walaupun ketenteraman rumahtangga tanpa krisis dan kesepahaman merupakan ateri penyumbang kepada kebahagiaan rumahtangga, tetapi tanggung jawab suami istri seharusnya tidak ditepikan. Suami istri perlu menjalankan tanggungjawab sebagai suami, istri, dan tanggung jawab bersama. Suami merupakan ketua keluarga yang memainkan peranan paling penting untuk membentuk sebuah keluarga bahagia. Suami yang bahagia ialah suami yang sanggup berkorban dan berusaha untuk kepentingan keluarga dan rumah tangga yaitu memberi makan makanan yang baik untuk anak-anak dan istri, menjaga hak istri, memberi pakaian yang bersesuaian dengan pakaian Islam, mendidik anak-anak dan istri dengan didikan Islam yang benar serta memberi tempat perlindungan. Istri solehah ialah istri yang tahu menjaga hak suami, harta suami, anak-anak, menjaga maruah diri dan juga maruah suami serta membantu menjalankan urusan keluarga dengan sifat ikhlas, jujur, bertimbang rasa, amanah, dan bertanggungjawab. Tanggungjawab istri terhadap ahli keluarganya amatlah besar dan ia hendaklah taat terhadap segala perintah suaminya selagi tidak bertentangan dengan larangan Allah.


  1. Faktor Keilmuan

Membentuk sebuah keluarga bahagia bukanlah   bergantung kepada pengalaman semata-mata. Setiap pasangan hendaklah mempunyai ilmu pengetahuan yang kukuh dalam semua aspek dan bukannya hanya mengutamakan ilmu perkawinan semata-mata. Pasangan perlu memahirkan diri dalam pelbagai bidang ilmu antaranya ilmu ekonomi, ateri, akhlak, ibadah dan sebagainya. Ilmu pengetahuan mampu menyelesaikan segala masalah yang melanda dalam rumahtangga secara rasionalnya. Membina sebuah keluarga bahagia dengan asas yang kukuh terutamanya dengan pengetahuan keagamaan dapat menjadikan individu berfikir, dan bertindak sesuai dengan fitrah insaniah yang diberikan oleh Allah SWT. Keluarga Islam harus selalu meningkatkan kualiti pemikiran Islam yang sebenarnya sesuai dengan perubahan zaman.


  1. Faktor Ahli Kerabat

Setiap pasangan yang telah berkahwin perlu menyesuaikan diri dengan keadaan ahli keluarga pasangan masing-masing. Perkara ini sangat penting supaya tidak berlaku salah faham yang boleh mengeruhkan keharmonian rumah tangga yang baru ingin dibina. Asas yang paling utama ialah mengadakan hubungan yang erat dengan ibu bapa kedua-dua belah pihak. Al-Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa selain ibu bapak, seorang anak juga perlu menjaga hubungan kekeluargaan dengan kerabat-kerabat sebelah ibu dan bapak. Al-Nawawi menjelaskan bahwa seorang anak berbakti kepada ibu bapaknya jika dia menjaga hubungan yang baik dengan kerabat-kerabat mereka (Kamarul Azmi Jasmi, 2004 : 11). Islam juga turut menggalakkan supaya diutamakan kaum kerabat terlebih dahulu sekiranya ingin memberikan sedekah kerana melalui cara ini ia akan dapat membantu mengeratkan hubungan kekeluargaan disamping mendapat ganjaran pahala bersedekah.


  1. Faktor Ekonomi

Pengurusan ekonomi dalam rumah tangga seharusnya tidak dipandang remeh oleh setiap pasangan. Masalah akan terjadi jika suami tidak dapat memberi nafkah yang secukupnya, atau istri terlalu mementingkan aspek material di luar kemampuan suami atau keluarga. Sebaiknya, setiap keluarga harus mengukur kemampuan masing-masing agar jangan sampai aspek ekonomi rumah tangga sebagai sebab bergolaknya keluarga dan penghalang untuk membentuk sebuah keluarga bahagia. Suami istri sepatutnya bijak dalam menyusun, mengatur, dan merancang keuangan keluarga. Oleh karena itu, pasangan perlu merancang setiap perbelanjaan dan bukannya hanya mengikut tuntutan nafsu yang ingin memenuhi kehidupan aterial. Perbelanjaan tanpa perancangan menyebabkan kehidupan sentiasa terasa terhimpit


Tahapan Keluarga Sejahtera

Sebenarnya tidaklah mudah untuk menentukan tingkat kesejahteraan sebuah keluarga. Karena diakui atau tidak, kesejahteraan maupun kebahagiaan sebuah keluarga sulit diukur hanya dengan satu atau dua parameter. Misalnya hanya dengan kepemilikan harta benda atau kemampuan sosial ekonomi saja. Juga dengan parameter jumlah anak atua tercukupinya kebutuhan pokok. Salah satu alasannya yang mendasar adalah bahwa kesejahteraan itu relatif. Tidak sama standarnya antar satu kelurga dengan keluarga lainnya.


Sangat boleh jadi, keluarga yang secara ekonomis (menurut standar normal) termasuk kategori miskin, seluruh anggota keluarganya merasa sudah cukup sejahtera. Sementara pada keluarga lain yang secara ekonomi berlimpah, tidak jarang anggota-anggotanya merasa tidak sejahtera dan bahagia. Begitu juga dalam hal jumlah anak, sebuah keluarga sudah merasa cukup bahagia dengan dua anak, namun pada keluarga lainnya mungkin masih merasa kurang atau bahkan merasa berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan dan kebahagiaan sangatlah relatif, bersifat pribadi dan penilaiannya selalu berhubungan dengan faktor emosi.


Tanpa bermaksud mengurangi esensi kesejahteraan itu sendiri, pemerintah khususnya BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) yang bekerja dengan institusi terkait, khususnya ISI (Ikatan Sosiologi Indonesia) telah mengembangkan indikator keluarga sejahtera. Sebenarnya indikator yang rumit dan banyak telah dihasilkannya. Namun karena masyarakat belum pernah mengetahui indikator yang rumit, karenanya diputuskan untuk menyederhanakan indikator tersebut dan mengambil bagian-bagian yang bersifat mutable saja. Artinya, indikator-indikator itu adalah variabel-variabel yang dapat dipengaruhi dan apabila berhasil dapat merangsang “tuntutan perubahan perilaku” dari keluarga yang bersangkutan