Sistem Kekebalan Tubuh Pada Manusia

Diposting pada

Kali ini kita akan membahas tentang sistem kekebalan tubuh pada manusia yang sanagt penting untuk kita pelajari,  sebab sistem kekebalan tubuh sangat penting untuk melindungi tubuh kita dari berbagai serangan penyakit, sperti virus, parasit, bakteri dan lainnya. Dibawah ini kita akan membahas tentang sistem kekebalan tubuh manusia dan mahluk lainnya.

Sistem-Kekebalan-Tubuh-Pada-Manusia

Pengertian Sistem Kekebalan Tubuh Pada Manusia

Sistem kekebalan tubuh adalah sistem pertahanan manusia sebagai perlindungan terhadap infeksi dari makromolekul asing atau organisme yang menyerang, termasuk protozoa, virus, parasit dan bakteri. Sistem kekebalan tubuh juga berperan dalam resistensi tubuh terhadap protein dan molekul lain seperti yang terjadi pada autoimunitas, dan melawan teraberasi ke dalam sel tumor.


Kemampuan sistem kekebalan tubuh agar dapat membedakan komponen sel dari komponen tubuh akan mendukung amanat patogen asing yang diembannya dalam menanggapi infeksi patogen – baik yang berkembang biak dalam sel (intraseluler), seperti virus, dan yang berkembang biak di luar sel (ekstraseluler) – sebelum berkembang menjadi penyakit.

Baca Juga : Pengertian Sistem Endokrin Serta Fungsinya


Meski seperti itu, sistem kekebalan tubuh memiliki sisi kurang menguntungkan. Di saat proses peradangan, pasien bisa saja merasa tidak nyaman karena efek samping yang dapat menyebabkan sifat toksik dari senyawa organik yang dilepaskan selama proses perlawanan yang sedang berlangsung.


Barikade pertahanan awal terhadap organisme asing merupakan jaringan terluar dari tubuh ialah kulit, yang mempunyai banyak sekali sel, termasuk makrofag dan neutrofil siap melumat organisme lain dalam hal penetrasi permukaan kulit, namun tidak dilengkapi dengan antibodi. Barikade ke 2 (dua) merupakan clone kekebalan pada tubuh.


Meskipun sistem kedua memiliki fungsi yang sama, ada beberapa perbedaan penting yakni:

  • Sistem kekebalan tubuh yang diperoleh tidak dapat dipicu segera setelah sistem kekebalan tubuh bawaan.
  • Sistem kekebalan tubuh yang diperoleh hanya merespon imunogen tertentu, sedangkan sistem lain merespon hampir seluruh antigen.
  • Sistem kekebalan tiruan menunjukkan kemampuan untuk “mengingat” imunogen penyebab infeksi dan reaksi yang lebih cepat bila terkena lagi untuk infeksi yang sama. Sistem kekebalan tubuh bawaan tidak menunjukkan bakat memori imunologi.

Semua sel yang terlibat dalam sistem kekebalan berasal dari sumsum tulang. Progenitor sel induk myeloid berkembang menjadi neutrofil, eritrosit, monosit dan trombosit. Sementara sel induk lain merupakan prekursor dari sel T progenitor limfoid, sel NK, sel B.

Sistem kekebalan tubuh dipengaruhi oleh modulasi beberapa hormon neuroendokrin.


Fungsi Sistem Kekebalan Tubuh

Sistem pertahanan tubuh memiliki bebrapa fungsi,yaitu :

  1. Mempertahankan tubuh dari patogen invasif.
  2. Melindungi tubuh terhadap suatu agen dari lingkungan eksternal yang berasal dari tumbuhan, hewan dan zat kimia.
  3. Menyingkirkan sel-sel yang sudah rusak
  4. Mengenali dan menghancurkan sel abnormal

Baca Juga : Getah Bening – Pengertian, Klasifikasi, Ciri, Cara, Sistem, Fungsi, Pengobatan


Mekanisme Sistem Kekebalan Tubuh

Pada umumnya, mekanisme sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi 2, yaitu :


a. Pertahanan Nonspesifik (Alamiah)

Pertahanan Nonspesifik merupakan imunitas bawaan sejak lahir, berupa komponen normal tubuh yang selalu ditemukan pada individu sehat dan siap mencegah serta menyingkirkan dengan cepat antigen yang masuk ke dalam tubuh. Pertahanan nonspesifik meliputi pertahanan fisik, kimia, dan mekanis terhadap agen infeksi; fagotosit; inflamasi; serta zat antimikroba nonspesiif yang diproduksi tubuh.


  1. Pertahanan Fisik, Kimia, dan Mekanis Terhadap Mekanisme Terhadap Agen Infeksi
  • Kulit yang sehat dan utuh, menjadi garis besar pertahanan pertama terhadap antigen. Sebaliknya, kulit yang rusak atau hilang akan meningkatkan resiko infeksi.
  • Membran mukosa, yang melapisi permukaan bagian dalam tubuh, menyekresikan mukus sehingga dapat memerangkap antigen, serta menutup jalannya ke sel epitel.
  • Cairan tubuh yang menganudng zat kimia antimikroba.
  • Pembilasan oleh air mata, saliva dan urine.

  1. Fagositosis

Fagositosis emrupakan garis pertahanan ke- 2 bagi tubuh terhadap agen infeksi. Fagositosis meliputi proses penelaan dan pencernaaan mikroorganisme dan toksin yang berhasil masuk ke dalam tubuh, ini dilakukan oleh jenis sel darah putih tertentu. Sel darah putih (leukosit) terdiri atas monosit, neutrofil dan eousinofil. Neutrofil adalah sel darah yang terbanyak dalam leukosit, yaitu sekitar 70%. Neutrofil bekerja dengan memasuki jaringan yang telah terinfeksi, kemudian memakan dan merusak mikroba yang terdapat di sana. Sel-sel yang terinfeksi oleh mikroba akan mengeluarkan sinyal kimiawi sehingga menarik neutrofil untuk datang. Proses tersebut disebut dengan kemotaksis.


Monosit hanya menyusun 5% dari leukosit. Cara kerja monosit hampir sama denga neutrofil. Perbedaanya, monosit akan menjadi makrofag setelah masuk ke dalam jaringan. Makrofag merupakan sel fagotosis yang terbesar. Sel makrofag ini memilikki kaki semu (pseudopodia). Pseudopodia ini berfungsi untuk melekatkan diri pada mikroba. Mikroba yang menempel pada pseudopodia ini akan ditelan dan kemudian dirusak oleh enzim-enzim  lisosom mikrofag.


Makrofag dapat dibedakan menjadi bebrapa jenis, yaitu:

  1. Makrofag jaringan ikat (histiosit) merupakan makrofag yang menetap atau berkeliaran.
  2. Markofag dan psekursornya (monosit) yang berdifusi untuk membentuk sel raksaa asing (sel multilateral) sebagai pertahanan di anttara massa benda asing yang besar dan jaringa  tubuh.
  3. Sistem fagosit mononukleus yang merupakan kombinasi antara monosit fagositik, makrofag bergerak dan makrofag jaringan tetap. Makrofag jaringan tetap contohnya, makrofagg alveulus, sel kupffer dalam hati, sel langerhans pada epidermis, mikrogilia pada saraf pusat, sel mesangial pada ginjal, dan sel retikuler dalam limpa, nodus limfa, timus, serta sumsum tulang.

Eosinofil bekerja melawan parasit yang ukurannya lebih besar, seperti cacing darah. Eosinofil dapat melepaskan enzim-enzim untuk  merusak dinding eksternal parasit.


  1. Inflamasi

Pembengkakan Inflamasi adalah reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera. Inflamasi dapat bersifat akut dan kronik. Tanda-tanda respons inflamasi, yaitu kemerahan, panas, , nyeri, atau kehilangan fungsi. Efek inflamsi menyebabkan demama (suhu tubuh tinggi abnormal). Demam itu sendiri merupakna respons tubuh terhadap radang. Selain itu, sel leukosit tertentu akan memproduksi moleku yang bernama pirogen. Pirogen ini dapat menyebabkan suhu tubuh menjadi tinggi. Suhu tubuh yang tinggi dapat membantu pertahanan  tubuh dengan cara menghambat pertumbuhan bebrapa mikroba. Selain itu, demam dapat mempermudah fagositosis dan perbaikan jaringan.


Mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dilihat pada gambar berikut.

Mekanisme-pertahanan-tubuh-secara-inflamasi

Berdasarkan gambar diatas mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dijelaskan sebagai berikut.

  • Jaringan mengalami luka dan merangsang pengeluaran histamin.
  • Histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah serta peningkatan aliran darah yang menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat, hal ini menyebabkan perpindahan sel-sel fagosit (neutrofil, monosit, dan eosinofil)
  • Sel-sel fagosit kemudian memakan patogen.

Setelah infeksi tertanggulangi, neutrofil dan sel-sel fagosit akan mati seiring dengan matinya sel-sel tubuh dan patogen. Sel-sel fagosit yang hidup atau mati serta sel-sel tubuh yang rusak akan membentuk nanah. Inflamasi mencegah infeksi ke jaringan lain serta mempercepat proses penyembuhan.


  1. Protein Antimikroba

Protein antimikroba ini sering juga disebut sitem komplemen, sistem ini terdiri atas 20 protein. Protein ini normalnya dalam keadaan non aktif.  Tetapi, apabila mikroba masuk ke dalam tubuh, glikoprotein dari permukaan sel tersebut akan mengaktifkan sistem komplemen ini.


Berikut ini beberapa fungsi dari komplemen yang sudah aktif.

  • Menghasilkan opsonin, yaitu suatu zat yag melekatkan mikroba pada leukosit sehingga memudahkan proses fagositosi
  • Menyebabkan pelepasan histamin oleh mastosit. Histamin menyebabkan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) dan meningkatakan permebilitas kapiler terhadap protein.
  • Menimbulkan suatu reaksiterhadap membran sel mikroba berupa munculnyalubang pada membran.  Pristiwa ini akan memtikan bagi mikroba.

Baca Juga : Pertahanan Tubuh Manusia – Pengertian, Mekanisme, Sistem, Struktur, Jenis, Fungsi, Nonspesifik


Aktivitas komplemen yang menghancurkan mikroorganisme atau antigen asing, terkadang dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh sendiri.


Selain komplemen, terdapat kumpulan protein sebagai pertahanan non spesifik yaitu interferon (IFN), interferon ini diproduksi oleh sel-sel yang terinfekksi virus. Kemudian inteferon tersebut akan berikatan dengan resptor membran plasma pada sel-sel yang sehat.  Sel-sel sehat yang telah terikat dengan interferon tersebut akan membentuk suatu protein antivirus yang berfungsi untuk menghalangi multiplikasi virus. Interferon tertentu akan langsung membunuh dan menghancurkan sel-sel yang telah terinfeksi virus.

Protein-Antimikroba


  1. Sel Natural Killer (sel NK)

Sel NK berjaga di sistem peredaran darah dan limfatik. Sel NK merupakan sel pertahanan yang mampu melisis dan membunuh sel-sel kanker serta sel tubuh yang terinfeksi virus sebelum diaktifkannya sel kekebalan adiptik. Sel NK tidak bersifat fagositik. Sel ini membunuh dengan cara menyerang membran sel target dan melepaskan senyawa kimia yang disebut perforin.


b. Pertahanan Spesifik ( Adaptik)

Pertahanan Spesifik merupakan sistem kompleks yang memberikan respon imun terhadap antigen spesifik.  Pertahanan spesifik mampu mengenal benda asing bagi dirinya dan memiliki memori terhadap kontak sebelumnya dengan suatu aagen tertentu. Sistem ini bekerja apabila antigen asing telah melewati pertahanan tubuh nonspesifik. Sistem pertahanan tubuh spesifik disebut juaga sistem kekebalan tubuh dan menjadi garis pertahanan yang ketiga dari tubuh.


Ciri-cirinya :

  1. Bersifat selektif
  2. Tidak memiliki reaksi yang sama terhadap semua jenis benda asing
  3. Mampu mengingat infeksi yang terjadi sebelumnya
  4. Melibatkan pembentukan sel-sel tertentu dan zat kimia (antibodi)
  5. Perlambatan waktu antara eksposur dan respons maksimal

Sistem Pertahanan Spesifik ini dibedakan menjadi 2, yaitu:


  • Sistem Imun Spesifik Humoral

Yang paling berperan pada sistem imun spesifik humoral ini ada Sel B atau Limfosit B. Sel B ini berasal dari sumsum tulang dan akan menghasilkan sel Plasma lalu menghasilkan Antibodi. Antibodi inilah yang akan melindungi tubuh kita dari infeksi ekstraselular, virus dan bakteri, serta menetralkan toksinnya.


Struktur antibodi :

  • pada umunya berbentuk seperti huruf Y.
  • Dua rantai berat dan 2 rantai ringan yang dihubungkan jembatan disulfida.
  • Daerah variabel anatar molekul memiliki rangkaian asam amino yang berbeda dan embentuk suatu reseptor untuk antigen spesifik.
  • Daerah konstan (C) menstabilkan sisi pengikat antigen.
  • Daerah hinge (engsel) memungkinkan kedua lengan Y dapat membuka atau menutup untuk mengkomodasi pengikatan terhadap dua determinan antigen yang terpisah pada jarak tertentu seperti yang ditemukanpada permukaan bakteri.

Antibodi merupakan protein plasma yang disebut imunoglobulin (Ig). Terdapat lima kelas imunoglobin, yaitu;

  1. Ig M, berperan sebagai reseptor permukaan sel B dan disekresi pada tahap awalrespons sel plasma.,serta mengaktivitaskan komplemen dan memperbanayk fagosistosis.
  2. Ig G, Ig G terbanyak di darah, diproduksi jika tubuh berespons terhadap antigen yg sama, Ig M dan IgG berperan jika terjadi invasi bakteri dan virus serta aktivasi komplemen
  3. Ig E ,melindungi tubuh dari infeksi parasit dan merupakan mediator pd reaksi alergi; melepaskan histamin dari basofil dan sel mast
  4. Ig A ,ditemukan pada sekresi sistem perncernaan, pernapasan, dan perkemihan. Ig A, berfungsi untuk melawan mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh.

( contoh : pada airmata dan ASI)

  1. Ig D terdapat pada banyak permukaan sel B; mengenali antigen pada sel B.

Terdapat beberapa cara antibodi dalam menghadapi antigen yaitu :

  • Netralisasi, yaitu antibodi memblokir tempat-tempat dimana antigen seharusnya berikatan dengan sel inang. Selain itu antibodi menetralkan bakteri beracun dengan menyelubungi bagian beracunya sehingga makrofag dapat dengan mudah memfagositnya.
  • Penggumpalan atau aglutinasi patogen atau antigen sehingga memudahkan makrofag dalam menjalankan aktivitas fagositnya terhadap patogen.
  • Pengendapan, yaitu dilakukan pada antigen terlarut oleh antibodi yang menyebabkan antigen terlarut tidak dapat bergerak sehingga mudah ditangkap makrofag.
  • Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dimana antibodi berikatan dengan antigen akan mengaktifkan protein komplemen untuk membentuk pori atau lubang pada sel patogen.

Setelah infeksi berakhir sel B plasma akan mati, sedangkan sel B pengingat akan tetap hidup dalam waktu yang lama. Masuknya antigen atau patogen pertama kali dan serangkaian respon imun awal ini disebut respon kekebalan primer.


Seringkali antigen yang sama masuk kedua kalinya dalam tubuh, hal ini direspon sel B pengingat yang selanjutnya akan menstimulasi pembentukan sel B plasma yang akan memproduksi antibodi, respon untuk kedua kalinya ini disebut respon kekebalan sekunder dimana dalam prosesnya antibodi dalam menghadapi antigen berlangsung lebih cepat dan lebih besar dari respon kekebalan primer, hal ini dikarenakan adanya memori imunologi dalam hal ini adalah sel B pengingat, memori imunologi adalah kemampuan sistem imun untuk mengenali antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh.

Grafik-respon-kekebalan-primer-dan-sekunder


  • Sistem Imun Spesifik Selular

Pada sistem imun ini, sel T atau Limfosit T yang paling berperan. Sel ini juga berasal dari sumsum tulang, namun dimatangkan di Timus. Fungsi umum sistem imun ini adalah melawan bakteri yang hidup intraseluler, virus, jamur, parasit dan tumor. Sel T nantinya akan menghasilkan berbagai macam sel, yaitu sel CD4+ (Th1, Th2), CD8+, dan Ts (Th3).


Antibody akan menyerang bakteri atau virus sebelem pathogen tersebut masuk ke dalam sel tubuh. Antibody dihasilkan oleh limfosit B dan teraktivasi bila mengenali antigen yang terdapat pada permukaan sel pathogen, dengan bantuan sel limfosit T.


Terdapat 3 jenis sel limfosit B yaitu

  1. Sel B plasma : Mensekresikan antibody ke system sirkulasi tubuh. Setiap   antibody sifatnya spesifik terhadap satu antigen patogenik.
  2. Sel B memori : Sel yang diprogram untuk mengingat suatu antigen yang spesifik dan akan merespon dengan sangat cepat bila terjadi infeksi kedua.
  3. Sel B pembelah : Berfungsi untuk menghasilkan lebih banyak lagi sel-sel limfosit B.

Apabila kemudian antibodi menang melawan antigen mak morang tersebut akan sehat dan memiliki sel memori untuk melawan antigen yang sama di waktu yang akan datang. Oleh karena itu, jika suatu saat orang tersebut dimasuki oleh antigen (kuman) berjenis sama, tubuh orang tersebut akan mengaktifkan sel-sel memori yang telah terbentuk sebelumnya. Waktu untuk menanggapi dan melawan kuman tersebut cenderung lebih pendek di bandingkan respons pertahanan primer. Hal ini disebut respons pertahanan sekunder.


Imunitas yang diperantarai sel, melibatkan sel dalam menyerang organism asing. Terdapat 3 jenis sel T.

  • Sel T pembantu : Membantu atau mengontrol komponen respon imun spesifik lainnya. Mengaktivasi makrofag untuk segera bersiap memfagosit pathogen dan sisa-sisa sel.
  • Sel T pembuluh : Menyerang sel tubuh yang terinfeksi dan sel-sel pathogen yang relative besar secara langsung.
  • Sel T supreso : Berfungsi untuk menurunkan dan menghentikan respon imun. Mekanisme tersebut diperlukan ketika respon imun sudah mulai lebih dari yang diperlukan, atau ketika infeksi sudah berhasil diatasi.

Baca Juga : Sistem Peredaran Darah – Pengertian, Terbuka, Tertutup, Kecil, Besar, Fungsi


Mekanisme Respons Imunitas Seluler

  • Ekstraseluler
  1. Antigen ditelan oleh makrofag.
  2. Makrofag membentuk molekul MHC kelas II, dan molekul tersebut bergerak menuju ke permukaan makrofag.
  3. MHC kelas II menangkap peptida antigen dan membawanya ke permukaan serta memperlihatkannya ke sel T penolong.
  4. Sel T penolong akan mengaktivitaskan makrofag untuk menghancurkan mikroorganisme yang ditelan.

  • Intraseluler
  1. Antigen menginfeksi sel tubuh.
  2. Sel tubuh membentuk molekul MHC kelas I dan bergerak ke permukaan sel
  3. MHC kelas I menangkap peptida virus dan membawanya ke permukaan sel, serta memperlihatkannya ke sel T pembuluh (CTL).
  4. Sel T pembuluh akan teraktivitasi oleh kompleks MHC kelas I, peptida virus pada sel yang terinfeksi dan sel T penolong. Sel T pembuluh kemudian terdiferensiasi menjadi sel pembunu aktif yang akan menghancurkan sel terinfeksi.
  5. Sel T pembuluh yang tidak terdiferensiasi akan menjadi sel T memori.
  6. Sel T memori berfungsi dalam respons imunitas sekunder jika terjadi pajanan antigen berulang.

Jenis-Jenis Sistem Kekebalan Tubuh

Berikut ini adalah jenis-jenis sistem kekebalan tubuh, sebagai berikut:


1) Kekebalan Aktif

Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dihasilkan oleh tubuh itu sendiri dimana jika seseorang mengalami sakit karena infeksi patogen dan tubuh merespon dengan membuat antibodi, setelah sembuh antibodi tersebut dapat bertahan lama sehingga orang tersebut menjadi kebal terhadap penyakit tersebut, seperti contoh orang yang pernah sakit cacar air tidak akan terkena penyakit tersebut untuk kedua kali. Kekebalan jenis ini dinamakan kekebalan aktif alami. Kekebalan pasif dibagi 2 yaitu

  1. Alami : bila terserang antigen
  2. Buatan : bila memasukkan antigen yang dilemahkan

Selain itu terdapat juga kekebalan aktif buatan seperti dengan menyuntikan antigen bakteri, patogen, atau mikroba yang sudah tidak aktif cara ini dikenal dengan vaksinasi. Vaksinasi menyebabkan orang yang disuntik tersebut mendapatkan kekebalan karena tubuhnya akan membentuk antibodi.


2) Kekebalan Pasif

Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh setelah mendapat antibodi dari luar. Sebagai contoh kekebalan yang diperoleh bayi dari ibunya melalui air susu pertama (kolostrum) atau diperoleh bayi pada saat masih berada dalam kandungan. Kekebalan jenis ini dinamakan kekebalan pasif alami. Kekebalan pasif dibagi 2 yaitu:

  • Alami : bila bayi mendapatkan imunitas dari ibunya
  • Buatan : bila menyuntikan serum, antibisa, immunoglobin lainnya dari darah orang yang telah kebal. Hanya bertahan beberapa minggu

Faktor yang Mempengaruhi Sistem Kekebalan Tubuh

Beberapa aktor yang mempengaruhi sistem pertahanan tubuh sebagai berikut.

  1. Genetik (keturunan), yaitu ketentuan terhadap penyakit secara gnetik.
  2. Fisiologis, melibatkan fungsi organ-organ tubuh.
  3. Stres, dapat mempengaruhi sistem kekbalan tubuh karena melepaskan hormon.
  4. Usia, dapat meningkatkan atau menurunkan kerentanan terhadap penyakit tertentu.
  5. Hormon, bergantug pda jenis kelamin.
  6. Lingkungan

Gangguan Sistem Kekebalan Tubuh

Berikut ini adalah gangguan sistem kekebalan tubuh, sebagai berikut:


  1. HIV / AIDS

Juga dikenali sebagai sindrom kurang daya tahan melawan penyakit; yang mana virus HIV menyerang sistem imun. Apabila memasuki badan manusia, virus tersebut akan memusnahkan sel otak dan ‘leucocytes’ dan ia membiak dan berkembang di limfosit menyebabkan badan manusia hilang keupayaan untuk melawan penyakit. Yang sakit akan lemah dan terdedah kepada berbagai penyakit berjangkit seperti tuberkulosis pulmonari, kandidiasis, kayap, manakala enteritis, pneumonia, ‘cephalitis’ dan lain-lain yang disebabkan oleh mikroorganisma patogenik yang luar biasa.


AIDS (acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). AIDS sendiri merupakan kumpulan dari berbagai penyakit.


AIDS disebabkan virus HIV yang menyerang sel T pembantu yang berfungsi menstimulasi sel T lainnya serta sel B plasma. Ketika virus berhasil menginfeksi sel T virus menggunakan perangkat selnya untuk menggandakan diri setelah itu menembus membran sel kemudian menginfeksi sel T yang lain. Hal ini menyebabkan kemampuan tubuh melawan kuman penyakit menjadi berkurang. Sel T pembantu menjadi target utama virus HIV karena pada permukaan selnya terdapat molekul CD4 sebagai reseptor, dimana infeksi dimulai ketika molekul glikoprotein (gp120) yang terdapat pada permukaan HIV menempel ke reseptor CD4. Pada orang normal jumlah sel T dalam tubuh sekitar 1000 sel/mm3 , hal ini berbeda dengan orang yang menderita AIDS dimana jumlah sel T nya hanya sekitar 200 sel/mm3.


Virus HIV yang menyebabkan AIDS dapat menular dari satu orang ke orang lain dengan banyak cara antara lain penggunaan jarum suntik secara bersamaan, transfusi darah dari penderita, serta hubungan seksual. Pada dasarnya penderita AIDS meninggal bukan karena virus HIV yang menyerangnya tapi karena melemahnya kekebalan tubuh maka beberapa penyakit bisa berakibat fatal bagi penderita AIDS, penyakit-penyakit itu seperti TBC, kanker darah, kanker, meningitis, harpes dan berbagai penyakit lainnya.


  1. Autoimunitas

Autoimunitas adalah respon imun tubuh yang berbalik menyerang organ dan jaringan sendiri. autoimunitas bisa terjadi pada respon imun humoral atau imunitas diperantarai sel. Beberapa kelainan yang diakibatkan oleh autoimunitas adalah :

  • Addison’s Disease adalah kegagalan korteks kelenjar adrenal untuk memproduksi hormon dalam jumlah yang adekuat sehingga akan mempengaruhi kerja tubuh dalam menekan dan meregulasi tekanan darah serta mengatur keseimbangan air dan garam, dapat terjadi pada semua kelompok umur dan menimpa pria-pria dan wanita-wanita sama rata.
  • Diabetes Melitus yakni penyakit yang disebabkan oleh kadar gula dalam darah yang meningkat tinggi. penyakit ini akibat kekurangan hormon insulin. pada dasarnya penyakit ini karena antibodi menyerang sel-sel beta di pankreas yang insulin.
  • Myasthenia Gravis Yakni kelainan yang diakibatkan oleh antibodi yang menyerang otot lurik. akibatnya otot lurik akan mengalami degradasi sehingga kemampuan otot untuk menangkap asetil kolin akan berkurang.
  • Lupus erythematosus, yaitu keadaan dimana antibodi menyerang sel-sel tubuh yang lain sebagai sel asing dimana ketika kondisi tubuh melemah maka seranggan antibodi akan meningkat

  1. Alergi

Alergi merupakan respons yang berlebihan atau hipersensitif terhadap antigen yang masuk ke dalam tubuh. antigen penyebab alergi disebut dengan alergen. alergen dapat berupa debu, serbuk sari , gigitan serangga , cuaca yang dingin dan jenis makanan tertentu. reaksi terhadap alergi dapat bermacam-macam seperti bersin, gatal-gatal, muntah, kesulitan bernafas bahkan dapat menimbulkan kematian.


  1. Penolakan transplantasi

Penolakan transplantasi terbagi menjadi tiga kategori:

  • Penolakan Hiperakut , terjadi segera begitu transplantasi dilakukan.Dapat diatasi dengan cara mencangkokkan organ pada resipien yang memiliki golongan sama dengan donor
  • Penolakan Akut, biasanya terjadi beberapa hari setelah transplantasi. Untuk mengatasi inibiasanya diberikan obat,seperti siklosporin yang memengaruhi respons molekul MHC resipien terhadap donor
  • Penolakan Kronis,terjadi karena organ yang ditransplantasikan kehilangan fungsi yang disebabkan oleh darah beku pada pembuluh dalam organ.

  1. Isoimunitas

Isoimunitas adalah keadaan dimana tubuh mendapatkan kekebalan dari individu lain yang melawan sel tubuhnya sendiri. Isoimunitas dapat muncul akibat transfusi darah atau karena cangkok organ dari orang lain.


  1. Penyakit Lupus

Penyakit Lupus adalah penyakit kronis yang merusak sistem kekebalan tubuh (imunitas) dan memengaruhi berbagai macam jaringan, kulit, persendian, jantung, darah, ginjal, dan otak. Penderita penyakit lupus sering disebut odipus (orang hidup dengan lupus). Para penderita penyakit lupus akanmenghidari hal-hal yang Mengakibatkan penyakitnya kambuh.


  1. Sindrome Kawasaki

Sindrom Kawasaki atau Kawasaki disease adalah penyakit yang menyerang anak-anak dibawah usia 5 tahun, dan 2 kali lebih sering ditemukan pada anak laki-laki. Penyakit ini pertama kali ditemukan oleh Dr. Tomisaku Kawasaki dari jepang pada tahun 1967 dan saat itu dikenal sebagai mucocutaneous lymphnode syndrome yang menyerang selaput lendir, kelenjar getah bening, lapisan pembuluh darah dan jantung.