Pengertian-Silogisme-Macam-Jenis-contoh

Silogisme : Pengertian, Contoh, Hukum, Macam, Dan Aturan Silogisme

Pengertian-Silogisme-Macam-Jenis-contoh

Pengertian Silogisme

Silogisme adalah jenis penalaran deduksi secara tidak langsung.Silogisme merupakan penemuan terbesar dari ahli filsafat terkenal yaitu Aristoteles.Dalam pengertian umum, silogisme adalah suatu argument deduktif yang terdiri dari dua premis dan satu kesimpulan.Silogisme adalah setiap penyimpulan tidak langsung, yang dari dua proposisi (premis-premis) disimpulkan menjadi suatu proposisi baru (kesimpulan).Premis yang pertama disebut premis umum (premis mayor) dan premis yang kedua disebut premis khusus (premis minor).Kesimpulan itu berhubungan erat sekali dengan premis-premis yang ada.Jika premis-premisnya benar maka kesimpulannya juga benar.


Silogisme ialah setiap penyimpulan tidak langsung, yang dari dua proposisi “premis-premis” disimpulkan suatu proposisi baru “kesimpulan”. Premis yang pertama disebut premis umum “premis mayor” dan premis yang kedua disebut premis khusus “premis minor”. Kesimpulan itu berhubungan erat sekali dengan premis-premis yang ada, jika premis-premisnya benar maka kesimpulannya juga benar.


Jadi yang dinamakan silogisme disini adalah suatu pengambilan kesimpulan dari dua macam keputusan (yang mengandung unsur yang sama dan salah satunya harus universal) suatu keputusan yang ketiga yang kebenarannya sama dengan dua keputusan yang mendahuluinya. Dengan kata lain silogisme adalah merupakan pola berpikir yang di susun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan

Contoh :

  1. Semua makhluk mempunyai mata, (Premis Mayor)
  2. Si kacong adalah seorang makhluk (Premis Minor)
  3. Jadi, Si kacong mempunyai mata. (Kesimpulan)

Silogisme adalah suatu cara untuk melahirkan deduksi. Silogisme mengajarkan pada kita merumuskan, menggolong – golongkan pikiran sehingga kita dapat melihat hubungannya dengan mudah, Dengan demikian kita belajar berfikir tertib, jelas, tajam. Ini diperlukan karena mengajarkan kita untuk dapat melihat akibat dari suatu pendirian atau penyataan yang telah kita lontarkan. Banyak orang merumuskan pendirian atau membuat pernyataan yang apabila ditelaah lebih lanjut, sebenarnya pendirian atau pernyataannya tadi kurang tepat atau kurang benar. Mungkin saja hal itu karena tidak mau menghargai kebenaran dari suatu tradisi atau tidak dapat menilai kegunaan yang besar dari sesuatu yang berasal dari masa lampau. Akan tetapi kita generasi penerus, proses pemikiran kita menurut kenyataannya mengikuti pola silogisme jauh lebih sering dari pada yang kita duga dan dari proses tersebut pemikiran kita lebih terbuka tertib dan jelas.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Struktur Generik – Pengertian, Struktur, Jenis, Naratif, Deskriptif, Argumentatif, Contoh


Silogisme Menurut Para Ahli

  • Menurut Asal Katanya
    Silogisme berasal dari bahasa Yunani yang berarti konklusi.
  • Menurut Sutrisno Hadi
    Silogisme itu terdiri atas empat yakni silogisme kategorik, silogisme hipotetik, silogisme alternatif, dan silogisme disjungtif.

Bentuk dan Jenis Silogisme

Beragam Corak dan Bentuk Silogisme

Bentuk silogisme dibedakan atas letak medium (term penengah = middle term) dalam premis.

1. Silogisme kategorik,

adalah silogisme yang semua posisinya merupakan proposisi kategorik.
Contoh:

  1. Premis Mayor : Semua manusia tidak lepas dari kesalahan
    Premis Minor : Semua cendikiawan adalah manusia
    Konklusi : Semua cendikiawan tidak lepas dari kesalahan
  2. Premis Mayor : Semua tanaman membutuhkan air
    Premis Minor : Padi adalah tanaman
    Konklusi : Padi membutuhkan air

2. Silogisme Hipotetik,

adalah argument yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik.  Macam tipe silogisme hipotetik:

  • Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent
    Contoh:
    Premis Mayor : Jika hujan , saya naik becak
    Premis Minor : Sekarang Hujan .
    Konklusi : Jadi saya naik becak.

  • Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekwensinya
    Contoh:
    Premis Mayor : Bila hujan , bumi akan basah
    Premis Minor : Sekarang bumi telah basah .
    Konklusi : Jadi hujan telah turun


  • Silogisme hipotetik yang premis Minornya mengingkari antecendent
    Contoh:
    Premis Mayor : Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul .
    Premis Minor : Politik pemerintah tidak dilaksanakan dengan paksa ,
    Konklusi : Jadi kegelisahan tidak akan timbul


  • Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekwensinya
    Contoh:
    Premis Mayor : Bila mahasiswa turun kejalanan, pihak penguasa akan gelisah
    Premis Minor : Pihak penguasa tidak gelisah
    Konklusi : Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan


3. Silogisme disjungtif ,

adalah silogisme dimana premis mayor maupun minornya, baik salah satu maupun keduanya, merupakan keputusan disjunctive.
Contoh :
Premis Mayor : Kamu atau saya yang pergi
Premis Minor : Kamu tidak pergi
Konklusi : Maka sayalah yang pergi
Silogisme disjungtive mempunyai dua buah corak diantaranya :


  1. modus ponendo tolles, contoh:
    Planet kita ini diam atau berputar.
    Karena berputar, jadi bukanlah diam
  2. modus tolledo ponens, contoh:
    Planet bumi kita ini diam atau berputar
    Planit bumi kita ini tidak diam
    Jadi . planet bumi kita ini berputar.
    Silogisme disjungtif dalam arti sempit maupun arti luas mempunyai dua tipe yaitu :
  3. Premis minornya mengingkari salah satu alternative, konklusinya adalah mengakuialternative yang lain, contoh :
    Premis Mayor : Ia berada diluar atau di dalam
    Premis Minor : Ternyata tidak berada di luar.
    Konklusi : Jadi ia berada di dalam.
  4. Premis minor mengakui salah satu alternative, kesimpulannya adalah mengingkarialternative yang lain, contoh:
    Premis Mayor : Budi di masjid atau di sekolah
    Premis Minor : Ia berada di masjid.
    Konklusi : Jadi ia tidak berada di sekolah

4. Silogisme Konjungtif,

adalah silogisme yang premis mayornya berbentuk suatu proporsi konjungtif. Silogisme konjungtif hanya mempunyai sebuah corak, yakni akuilah satu bagian di premis minor, dan tolaklah yang lain di kesimpulan.
Contoh:

  • Premis Mayor : Tidak ada orang yang membaca dan tidur dalam waktu yang bersamaan .
  • Premis Minor : Sartono tidur
  • Konklusi : Maka ia tidak membaca

Jenis-jenis Silogisme

Dalam penerapannya, ada tiga jenis silogisme, yaitu silogisme kategoris, silogisme hipotesis, dan silogisme alternatif.

1. Silogisme kategoris

Silogisme kategoris adalah silogisme yang terdiri dari tiga proposisi (premis) kategoris.

Contoh:

  • Semua manusia adalah makhluk berakal budi (premis mayor)
  • Afdan adalah manusia (premis minor)
  • Jadi, Afdan adalah makhluk berakal budi (kesimpulan)

2. Silogisme hipotesis

Silogisme hipotesis adalah silogisme yang premis mayornya berupa keputusan hipotesis dan premis minornya merupakan pernyataan kategoris.

Contoh:

  • Jika hari ini tidak hujan, saya akan ke rumah paman (premis mayor)
  • Hari ini tidak hujan (premis minor)
  • Maka, saya akan kerumah paman (kesimpulan).

3. Silogisme alternatif

Silogisme alternatif adalah silogisme yang premis mayornya premis alternatif, premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya, dan kesimpulannya menolak alternatif yang lain.

Contoh:

  • Kakek berada di Bantaeng atau Makassar (premis mayor)
  • Kakek berada di Bantaeng (premis minor)
  • Jadi, kakek tidak berada di Makassar (kesimpulan)

4. Entimen

Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.Baik dalam bentuk lisan maupun tulisan hanya dikemukakan premis mayor dan kesimpulannya.

Contoh :

  • Fajar berhak mendapatkan peringkat satu karena dia telah berusaha keras dalam belajar
  • Fajar telah berusaha keras dalam belajar, karena itu Fajar layak mendapatkan peringkat satu.

5. Silogisme Disjungtif

Silogisme Disjungtif merupakan silogisme yang premis mayornya merupakan disjungtif, sedangkan premis minornya bersifat kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor.

Contoh :

  • Seno masuk sekolah atau tidak. (premis mayor)
  • Ternyata Seno tidak masuk sekolah. (premis minor)
  • Ia tidak masuk sekolah. (kesimpulan).

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Argumentasi – Pengertian, Isi, Struktur, Ciri, Pola, Langkah, Perbedaan, Contoh, Para Ahli


Struktur Silogisme

Sebuah silogisme terdiri dari atas tiga proposisi yaitu dua proposisi yang disajikan dan sebuah proposisi yang ditariknya. Proposisi yang disajikan dinamai premis mayor dan premis minor, sedangkan kesimpulannya dinamai konklusi. Setiap proposisi terdiri dari atas dua term.oleh karena itu, silogisme harus mempunyai enam term. Sebenarnya, silogisme hanya memiliki tiga term, karena untuk masing-masing dinyatakan dua kali. P konklusi disebut term mayor, sedangkan S-nya disebut term minor, dan term yang sama-sama terdapat pada kedua proposisi disebut term penengah. Term penengah ini merupakan faktor penting dalam silogisme, karen penyebab kedua premis dapat saling berhubungan sehingga menghasilkan konklusi. Dengan perkataan lain, term penengah menetapkan hubungan term mayor dengan term minor.

Hal-hal yang perlu diperhatiakn dalam silogisme yaitu :

  1. Premis mayor disajikan terlebih dahulu, lalu diikuti premis minor.
  2. Term penengah dilambangkan oleh M.
  3. Term mayor dilambangkan oleh P.
  4.  Term minor dilambangkan oleh S.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Teks Eksposisi : Pengertian, Contoh, Ciri, Jenis, Struktur, Kaidah


Macam Silogisme dan Contohnya

Silogisme Kategorik

Silogisme kategorik adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan proposisi kategorik. Proposisi yang menjadi pangkalan umum dan pangkalan khusus disebut premis (mukaddimah), sedangkan proposisi yang dihasilkan dari sintesis kedua premisnya disebut term penengah (middle term / terminus Medius ). Premis yang termnya menjadi predikat pada konklusi disebut premis mayor


Contoh sebagai berikut sebagai unsur silogisme:
Semua tanamanmembutuhkan air (permis mayor)
S−M P
Akasia adalah tanaman (permis minor)
S M−P
Akasiamembutuhkan air (konklusi)
S P

Keterangan:
S = subyek; P = predikat; M = medius term.


  • A. Hukum-hukum Silogisme Kategorik

Agar mendapat kesimpulan yang benar, kita harus memperhatikan patokan-patokan silogisme. Patokan-patokan itu adalah:

  1. Apabia salah satu premis bersifat partikular, maka kesimpulan harus pertikular juga. Contoh :
    Semua yang halal dimakan menyehatkan (mayor)
    Sebagian makanan tidak menyehatkan (minor)
    Jadi, sebagian makanan tidak halal dimakan (konklusi)

  2. Apabila salah satu premis bersifat negatif, maka kesimpulannya harus negatif juga. Contoh :
    Semua korupsi tidak disenangi (mayor)
    Sebagian pejabat korupsi (minor)
    Jadi, sebagian pejabat tidak disenangi (konklusi).


  3. Apabila kedua premis bersifat partikular, maka tidak sah diambil kesimpulan. Contoh :
    Beberapa politikus tidak jujur (premis 1)
    Bambang adalah politikus (premis 2).
    Kedua premis tersebut tidak harus disimpulkan. Jika dibuat kesimpulan, maka kesimpulannya hanya bersifat kemungkinan (bukan kepastian). Bambang mungkin tidak jujur (konklusi).


  4. Apabila kedua premis bersifat negatif, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Hal ini dikarenakan tidak ada mata rantai yang menghubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpulan dapat diambil jika salah satu premisnya positif. Contoh :
    Kerbau bukan bunga mawar (premis 1)
    Kucing bukan bunga mawar (premis 2)
    Kedua premis tersebut tidak mempunya kesimpulan.


  5. Apabila term penengah dari suatu premis tidak tentu, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Contoh :
    Semua ikan berdarah dingin.
    Binatang ini berdarah dingin.
    Maka, binatang ini adalah ikan? Mungkin saja binatang melata.


  6. Term predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term predikay yang pada premisnya. Apabila tidak konsisten, maka kesimpulannya akan salah. Contoh :
    Kerbau adalah binatang (premis 1)
    Kambing bukan kerbau (premis 2)
    Jadi, kembing bukan binatang?
    Binatang pada konklusi merupakan term negatid sedangkan pada premis 1 bersift positif.


  7. Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda kesimpulan menjadi lain. Contoh :
    Bulan itu bersinar di langit (mayor)
    Januari adalah bulan (minor)
    Jadi, januari bersinar dilangit?


  8. Silogisme harus terdiri dari tiga term, yaitu term subjek, predikat, dan term, tidak diturunkan konklusinya. Contoh :
    Kucing adalah binatang (premis 1)
    Domba adalah binatang (premis 2)
    Beringin adalah tumbuhan (premis 3)
    Sawo adalah tumbuhan (premis 4)
    Dari premis tersebut tidak dapat diturunkan kesimpulannya.


  • B. Absah dan benar

Dalam membicarakan silogisme kita harus mengenal dua istilah yaitu absah dan benar. Absah (valid) berkaitan dengan prosedur penyimpulannya, apakah pengambilan konklusi sesuai dengan patokan atau tidak. Dikatakan valid apabila sesuai dengan patokan di atas dan dikatakan tidak valid bila sebaliknya.


Keabsahan dan kebenaran dalam silogisme merupakan suatu satuan yang tidak bisa dipisahkan, untuk mendapatkan konklusi yang sah dan benar. Hanya konklusi dari premis yang benar dari prosedur yang sah konklusi itu dapat diakui. Hal itu karena bisa terjadi dari premis salah dan prosedur valid menghasilkan konklusi yang benar, demikian juga dari premis salah dan prosedur invalid dihasilkan konklusi benar


  • C. Selogisme Berdasarkan Modusnya

Silogisme berdasarkan dari modusnya dapat dibedakan menjadi 16 bentuk yang terdiri dari premis mayor A, E, I dan O dan premis minor A, E, I dan O.

  1. Mayor: A A A A E E E E I I I I O O O O
  2. Minor: A E I O A E I O A E I O A I E O

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di bawah ini. Modus Silogisme Kategorik pada Premis

P/S

A

E

I

O

A AA EA IA OA
E AE EE IE OI
I AI EI II OE
O AO EO IO OO

Silogisme mempunyai 16 modus dan 4 susunan dasar, maka secara teoritis, silogisme dapat dibedakan menjadi 64 jenis. Untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini.

Premis/Konklusi A E I O
AA (A-A-A) A-A-E (A-A-I) A-A-O
AE A-E-A (A-E-E) A-E-I A-E-O
AI A-I-A A-I-E (A-I-I) A-I-O
AO A-O-A A-O-E A-O-I (A-O-O)
EA E-A-A (E-A-E) E-A-I (E-A-O)
EE E-E-A E-E-E E-E-I E-E-O
EI E-I-A E-I-E E-I-I (E-I-O)
EO E-O-A E-O-E E-O-I E-O-O
IA I-A-A I-A-E (I-A-I) I-A-O
IE I-E-A I-E-E I-E-I I-E-O
II I-I-A I-I-E I-I-I I-I-O
IO I-O-A I-O-E I-O-I I-O-O
OA O-A-A O-A-E O-A-I (O-A-O)
OE O-E-A O-E-E O-E-I O-E-O
OI O-I-A O-I-E O-I-I O-I-O
OO O-O-A O-O-E O-O-I O-O-O

Dari 64 Silogisme yang sohih hanya ada

  • Susunan I:
    A-A-A nama Barbara
    E-A-E nama Celarent
    A-I-I nama Darii
    E-I-O nama Ferio

  • Susunan II:
    A-E-E nama Camestres
    E-A-E nama Cesare
    A-O-O nama Baroco
    E-I-O nama Festino


  • Susunan III:
    A-A-I nama Darapti
    E-A-O nama Felapton
    A-I-I nama Datisi
    E-I-O nama Fresion
    I-A-I nama Disamis
    O-A-O nama Borcado


  • Susunan IV:
    A-A-I nama Bramantis
    A-E-E nama Camenes
    E-A-O nama Fesapo
    E-I-O nama Ferison
    I-A-I nama Dimaris


Silogisme hipotetis

Merupakan suatu silogisme yang premisnya berupa pernyataan bersyarat. Predikat diakui atau dimungkiri tentang subyek tidak secara mutlak, akan tetapi tergantung kepada suatu syarat. Silogisme Hipotetis adalah argument yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik sedangkan premis minornya adalah proposisi kategorik yang menetapkan atau mengingkari term antecindent atau term konsecwen premis mayornya. Sebenarnya silogisme hipotetik tidak memiliki premis mayor maupun premis minor, karena kita ketahui premis mayor itu mengandung term predikat pada konklusi, sedangkan premis minor itu mengandung term subyek pada konklusi.


Macam tipe silogisme hipotetis:

  • Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent. Contoh :
    Jika hujan, saya naik becak
    Sekarang Hujan.
    Jadi saya naik becak.

  • Silogisme hipotetik yang premis minornya bagian konsekwensinya.
    Contoh:
    Jika hujan saya naik becak (mayor)
    Sekarang hujan (minor)
    Jadi, saya naik becak (konklusi).


  • Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari antecendent. Contoh:
    Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.
    Politik pemerintah tidak dilaksanakan dengan paksa, Jadi kegelisahan tidak akan timbul.


  • Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekwensinya. Contoh:
    Bila mahasiswa turun kejalanan, pihak penguasa akan gelisah
    Pihak penguasa tidak gelisah
    Jadi mahasiswa tidak turun kejalanan.


Hukum-hukum silogisme hipotetik

Hukum-hukum silogisme hipotetik mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih mudah dibanding dengan silogisme kategorik. Tetapi yang penting menentukan kebenaran konklusinya bila premis-preminya merupakan pernyataan yang benar. Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B maka hukum silogisme hipotetik adalah:

Bila antecedent kita lambangkan A dan kosekuen kita lambangkan B, jadwal hokum silogisme hipotetik adalah:


  1. Bila A terlaksana maka B terlaksana, seperti:
    Bila terjadi peperangan harga-harga bahan makanan membubung tinggi.
    Nah, peperangan terjadi.
    Jadi harga bahan makanan membubung tinggi.


  2. Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana (tidaksah= salah), seperti:
    Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi.
    Nah, peperangan tidak terjadi.
    Jadi, harga bahan makanan tidak membubung tinggi. (tidaksah= salah).


  3. Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidaksah= salah), seperti:
    Bila terja dipeperangan harga bahan makanan membubung tinggi.
    Nah, sekarang harga makanan membubung tinggi.
    Jadi peperangan terjadi. (tidaksah= salah)


  4. Bila B terlaksana maka A terlaksana, seperti:
    Bila peperangan terjadi harga bahan makanan membubung tinggi. Nah, harga makanan tidak membubung tinggi.
    Jadi peperangan tidak terjadi.


Silogisme Disjungtif

Silogisme disjungtif ialah silogisme yang premis mayornya terdiri dari keputusan disjungtif. premis minor menyatakan atau memungkiri salah satu dari “kemungkinan” yang disebut dalam mayor. Kesimpulan mengandung kemungkinan yang lain.

Keputusan disjungtif ialah keputusan yang didalamnya terkandung suatu pilihan antara dua (atau lebih) kemungkinan (menunjukkan apa yang disebut suatu “alternatif”, dinyatakan dengan kalimat dengan atau atau). Dibedakan:


1. Disjungtif dalam arti sempit

Hanya mengandung dua kemungkinan, tidak lebih dan tidak kurang, tidak dapat bersama-sama benar. Dan tidak ada kemungkinan ketiga. Jadi, dari dua kemungkinan yang disebut hanya satu dapat benar, jika kedua kemungkinan itu bersama-sama benar atau ada kemungkinan ketiga, maka silogisme tidak sah. Misalnya:

  • Kesebelasan kita menang atau kalah. Nah, tidak kalah, jadi menang (salah, sebab ada kemungkinan ketiga, yaitu sama kuat)
  • Bunga itu merah atau berwarna (yang satu mengandung yang lain)
  • Tuknas masuk atau tinggal diluar (= tidak masuk). Nah, ia masuk, jadi tidak tinggal diluar (ini sah, sebab antara masuk dan tidak masuk tak ada kemungkinan lain)

2. Disjungtif dalam arti luas

Juga mengemukakan pilihan antara dua kemungkinan A atau B, tetapi kemungkinan-kemungkinan yang disebut itu dapat juga bersana-sama benar, atau ada kemungkinan ketiga. Jadi, satu kemungkinan benar, yang lain mungkin benar juga sebab dapat dikombinasikan. Misalnya:

Dia yang pergi atau saya (dapat juga bersama-sama)


Silogisme disjungtif dalam arti sempit atau dalam arti luas mempunyai dua tipe:

  1. Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusinya adalahmengakui alternatif yang lain, seperti:
    Ia berada diluar atau didalam
    Ternyata tidak berada di luar
    Jadi Ia berada di dalam
    Ia berada diluar atau di dalam
    Ternyata tidak berada di dalam
    Jadi Ia berada di luar

  2. Premis minor mengakui salah satu aternatif, kesimpulannya adlah mengingkari alternatif yang lain, seperti:
    Budi di masjid atau di sekolah
    Ia berada di masjid
    Jadi Ia tidak berada di sekolah
    Budi di masjid atau di sekolah
    Ia berada di sekolah
    Jadi Ia tidak barada di masjid


Hukum-hukum silogisme Disyungtif:

  • Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid.
  • Silogisme disyungtif dalam arti luas, kebenaran konklusinya sebagai berikut:

Pertama, Bila premis minor mengakui salah satu alternatif, maka konklusinya sah (benar).
Kedua,Bila premis minor mengingkari salah satu alternatif, konklusinya tidak sah(salah).


4. Dilema

Menurut Mundari dalam bukunya yang berjudul logika ia mengartikan Dilema adalah argumerntasi, bentuknya merupakan campuran antara silogisme hipotetik dan silogisme disyungtif. Hal ini terjadi karena premis mayornya terdiri dari dua proposisi hipotetik dan premis minornya satu proposisi disjungtif. Konklusinya, berupa proposisi disyungtif, tetapi bisa proposisi kategorika. Dalam dilema, terkandung konsekuensi yang kedua kemungkinannya sama berat. Adapun konklusi yang diambil selalu tidak menyenangkan. Dalam debat, dilemma dipergunakan sebagai alat pemojok, sehingga alternatif apapun yang dipilih, lawan bicara selalu dalam situasi tidak menyenangkan.


Suatu contoh klasik tentang dilema adalah ucapan seorang ibu yang membujuk anaknya agar tidak terjun dalam dunia politik , sebagai brikut;

  1. Jika engkau berbuat adil manusia akan membencimu . Jika engkau berbuat tidak adil tuhan akan membencimu . Sedangkan engkau harus bersikap adil atau tidak adil . Berbuat adil ataupun tidak engkau akan dibenci.
  2. Apabila para mahasiswa suka belajar , maka motivasi menggiatkan belajar tidak berguna . Sedangkan bila mahasiswa malas belajar motivasi itu tidak membawa hasil. Karena itu motivasi menggiatkan belajar itu tidak bermanfaat atau tidak membawa hasil.

Pada kedua contoh tersebut, konklusi berupa proposisi disjungtif, Contoh pertama adalah dilemma bentuk baku, kedua bentuk non baku. Sekarang kita ambil contoh dilema yang konklusinya merupakan keputusan kategorika.

  • Jika Budi kalah dalam perkara ini, ia harus membayarku berdasarkan keputusan pengadilan. Bila ia menang ia juga harus membayarku berdasarkan perjanjian. Ia mungkin kalah dan mungkin pula menang. Karena itu ia harus tetap harus membayar kepadaku.
  • Setiap orang yang saleh membutuhkan rahmat supaya tekun dalam kebaikan. Setiap pendusta membutuhkan rahmat supaya dapat ditobatkan. Dan setiap manusia itu saleh atau pendusta. Maka setiap manusia membutuhkan rahmat.

Dilema dalam arti lebih luas adalah situasi (bukan argumentasi ) dimana kita harus memilih dua alternative yang kedua – duanya mempuyai konsekwensi yang tidak diingi, sehingga sulit menentukan pilihan


Aturan – aturan dilema dan Cara Mengatasi Dilema

1. Aturan – aturan dilema :

  • Disjungsi harus utuh. Masing – masing bagian harus betul – betul selesai, sehingga tidak ada kemungkinan lain. Apabila terdapat kemungkinan lain, hal akan merupakan jalan keluar. Tutuplah jalan keluar tersebut. Waspadalah untuk tidak tergelincir kedalam sofisme, yakni pemikiran yang nampaknya betul, tetapi sesungguhnya salah.
  • Consequent haruslah sah disimpulkan dari masing – masing bagian.
  • Kesimpulan yang ditarik dari masing – masing bagian, haruslah merupakan satu satunya kesimpulan yang mungkin diambil. Jika tidak, maka lawan kita akan sanggup mengambil kesimpulan yang berlawanan dengan kesimpulan kita

2. Cara Mengatasi Dilema
Ada beberpa cara yang dapat kita pakai dalam mengatasi dilemma yang kita hadapi.

  • Dengan meneliti kausalitas premis mayor. Sering benar terjadi dalam dilema terdapat hubungan kausalitas tidak benar yang dinyatakan dalam premis mayornya. Dalam contoh diatas dikemukakan bahwa motivasi peningkatan belajar tidak berguna atau tidak membawa hasil. konklusi tidak benar , karena di tarik dari premis mayor yang mempuyai hubungan kausalitas tidak benar . Tidak semua mahasiswa yang tidak suka belajar mempuyai sebab yang sama. Dari sekian mahasiswa yang tidak suka belajar, bisa disebabkan kurang kesadaran, sehingga motiovasi sangat berguna bagi mereka. Untuk mengatasi dilemma model ini kita tinggal menyatakan bahwa premis tidak mempuyai dasar kebenaran yang kuat.

  • Dengan meneliti alternative yang di kemukakan. Mengapa, karena mungkin sekali alternative pada permasalahan yang diketegahkan tidak sekedar dinyatakan, tetapi lebih dari itu. Pada masa lalu seorang pemimpin sering berkata: Pilihlah Sukarno atau biarlah Negara ini hancur. Benarkan hanya Sukarno yang bisa menyelamatkan Negara ini? Apakah tidak ada orang lain nyang bisa menggantinya? Tentu saja ada, sehingga alternatifnya lebih dari dua.


  • Dengan contra dilemma. Bila dilema yang kita hadapi tidak mengandung kemungkinan, maka dapat kita atasi dengan mengemukakan dilemma tandingan. Banyak sekali dilema yang di hadapi orang kepada kita merupakan alat pemojok yang sebenarnya tidak mempuyai kekuatan, maka dilema itu dapat dinyatakan dalam bentuk lain yang mempuyai konklusi berlainan dengan penampilan semula. Sebagai contoh adalah pendapat orang yang menyatakan bahwa hidup ini adalah penderitaan, hendak memaksakan keyakinan itu dengan mengajukan dilemma kepad kita sebagai berikut:
    Bila kita bekerja maka kita tidak bisa menyenangkan diri kita. Bila kita tidak bekerja, kita tidak dapat uang. Jadi bekerja atau tidak bekerja, kita dalam keadaan tidak menyenangkan
    Dilema itu dapat kita jawab dengan kontra dilema sebagai berikut:
    Bila kita bekerja, kita mendapat uang. Bila kita tidak bekerja kita dapat meyenangkan diri kita. Jadi bekerja atau tidak, selalu menyenangkan kita.


  • Dengan memilih alternative yang paling ringan. Bila dilema yang kita hadapi tidak mungkin kita atasi dengan teknik diatas, maka jalan terakhir adalah memilih alternatif yang paling ringan. Pada dasarnya tidak ada dilema yang menampilkan alternatif yang benar- benar sama beratnya. Dalam dilema serupa dibawah ini kita hanya dapat memilih alternative yang paling ringan. Contoh: Apabila tuan masih tercatat sebagai pegawai negeri, maka tuan tidak bisa menduduki jabatan tertinggi pada PT “Buana Jaya” ini. Untuk menduduki jabatan tinggi pada PT ini maka anda harus rela melepaskan status tuan sebagai pegawai negeri. Sementara itu anda berat melepas pekerjaan sebagai pegawai negeri, sedangkan bila tidak menjabat pimpinan pendapatan anda di PT itu tetap sedikit


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Etnosentrisme – Pengertian, Metateori, Konsep, Faktor, Penyebab, Dampak, Contoh, Para Ahli


Aturan-aturan dalam Silogisme

Dalam silogisme, aturan umum dibagi menjadi dua bagian. Aturan yang berdasarkan pada term dan aturan yang berdasarkan pada premis.

A. Aturan yang berdasarkan pada Term.

Aturan I: Jumplah term tidak boleh lebih atau kurang dari tiga, atau jumplah term harus tiga buah.
Silogisme katergoris adalah pola penyimpulan tidak langsung, dimana dua buah term dibandingkan dengan term ketiga. Term minor sebagai subjek dari kesimpulan dan term mayor sebagai predikatnya. Sedangkan term antara sebagai pembanding antara term minor dengan term mayor. Sehingga ketiga term saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Misalnya jika hanya ada dua term, maka tidak dapat dilakukan penyimpulan, melainkan yang ada hanya sebuah putusan atau proposisi.


Contoh: Mahasiswa (M) adalah warga akademisi (P)
Jika ada empat term, maka tidak ada term khusus yang membandingkan antara term mayor dengan term minor, sehingga tidak ada yang digunakan untuk membandingkan apakah term minor (S) cocok atau tidak cocok dengan term mayor (P).

Contoh:

  • Premis Mayor : Keadaan sosial politik saat ini (S) sangat genting (M1)
  • Premis Minor : Gentingnya (M2) banyak yang bocor (P)
  • Kesimpulan : jadi, Keadaan sosial politik saat ini (S) sudah banyak yang bocor (P)
    Menggunakan metode silogisme, kesimpulannya kelihatan benar, namun tidak memiliki hubungan logis dengan premis-premisnya. Kesalahan silogisme dapat terjadi karena adanya term yang memiliki makna ganda atau term ekuivok.

Aturan II: term Subjek (S) atau term predikat (P) di dalam kesimpulan tidak boleh lebih luas daripada term subjek (S) atau term predikat (P) yang terdapat dalam premis-premisnya.
Artinya adalah term mayor (P) di dalam kesimpulan tidak boleh universal jika di dalam premisnya term tersebut bersifat partikular. Atau term minor (S) di dalam kesimpulan tidak boleh universal jika di dalam premisnya term tersebut bersifat partikular. Karena jika term mayor (P) dan term minor (S) adalah partikular di dalam premis-premisnya dan universal di dalam kesimpulannya, maka yang cocok dengan term hanya sebagian objek saja.

Contoh :

  1. Premis Mayor : Mahasiswa (M) adalah kaum intelektual (P)
  2. Premis Minor : Karyawan (S) bukan mahasiswa (M)
  3. Kesimpulan : Karyawan (S) bukan kaum intelektual (P).

Term P kaum intelektual dalam preposisi afirmatif adalah partikular, dan term ini menjadi universal ketika berada dalam kesimpulan setelah menjadi predikat dari proposisi negatif. Dari contoh dapat difahami bahwa beberapa referent dari term Mayor (P) kaum intelektual cocok dengan term minor (S) mahasiswa. Kesimpulannya tidak ada satupun term antara (M) yang cocok dengan term minor (S). Artinya tidak ada karyawan yang kaum intelektual, padahal hanya ada kemungkinan karyawan adalah mahasiswa, dan mahasiswa adalah kaum intelektual. Sehingga sebagian karyawan adalah kaum intelektual. Maka silogisme diatas dinilai salah.


Aturan III: term antara (M) tidak boleh masuk dalam kesimpulan.
Term antara (M) adalah pembanding antara term mayor (P) dan term minor (S). antara term mayor (P) dan term minor (S) ada kesesuaian atau tidak. Sehingga term antara (M) harus terdapat pada kedua premis dan tidak terdapat pada kesimpulan. Jika term antara (M) muncul lagi dalam kesimpulan, maka artinya dalam proses penalaran tidak terjadi penyimpulan.

Contoh :

  • Premis mayor : setiap orang dapat menangis
  • Premis minor : setiap orang dapat tertawa
  • Kesimpulan : setiap orang dapat menangis dan tertawa

Proses penalaran yang terjadi seperti contoh tersebut adalah logis, namun tidak menciptakan kesimpulan dan kebenaran baru dari premis-premisnya, sehingga tidak dinamakan silogisme.


Aturan IV: term antara harus sekurang-kurangnya satu kali universal
Referent (objek) dari term antara (M) sekurang-kurangnya identik atau tidak identik dengan referent (objek) dari term mayor atau term minor. Jika term antara digunakan dua kali secara pertikular di dalam premis-premisnya, maka term minor hanya sesuai dengan bagian tertentu dari term mayor.

Contoh :

  1. Premis mayor : tikus (P) mempunyai ekor (M)
  2. Premis minor : ikan (S) mempunyai ekor (M)
  3. Kesimpulan : Ikan (S) sama dengan tikus (P)

Fakta membutikan bahwa antara tikus dan ikan sama-sama memiliki ekor, namun keduanya tidak bisa disamakan secara keseluruhan seperti yang ada pada kesimpulan yang bersifat universal. Sehingga kesimpulan tidak cocok dengan premis-premisnya, dan silogisme dinyatakan salah.


B. Aturan yang berdasarkan pada Premis.

Aturan I: jika premis-premisnya afirmatif, maka kesimpulannya harus afirmatif.
Artinya kedua premis mayor dan minor adalah afirmatif. Sehingga kedua term mayor (P) dan term minor (S) menunjukan kesesuaian dengan term antara (M). maka dalam kesimpulan harus sesuai dengan kesesuaian kedua term dengan term ketiga.

Contoh :

  • Premis Mayor : Hewan (M) adalah makhluk yang memiliki insting (P)
  • Premis Minor : Anjing (S) adalah hewan (M)
  • Kesimpulan : Jadi, anjing (S) adalah makhluk yang mempunyai insting (P)

Jika premis-premisnya afirmatif dan kesimpulannya negatif, maka silogisme dinyatakan salah. Misalnya kesimpulannya dirubah menjadi Anjing bukan makhluk yang mempnyai insting. Maka kesimpulannya menjadi salah dan tidak logis.


Aturan II: Kedua premis tidak boleh Negatif
Jika kedua premis negatif, artinya term mayor (P) dan term minor (S) tidak cocok dengan term antara (M), sehingga mengakibatkan tidak berfungsinya term antara. Sehingga term antara tidak mampu menghibungkan antara term minor S dan term mayor P. Dan jika kesimpulan terpaksa dilakukan, maka kesimpulan dianggap tidak sah.

Contoh :

  1. Premis Mayor : Nuril (M) tidak merasa bahagia (P)
  2. Premis Minor : Saiful (S) bukan Nuril (M)

Kesimpulan : Saiful (S) tidak merasa bahagia (P)
Padahal dalam kenyataan Saiful (S) mungkin mengalami bahagia dan susah, namun bukan karena Saiful adalah bukan Nuril. Sehingga silogisme diatas dianggap tidak valid.


Aturan III: Jika salah satu premisnya partikular, maka kesimpulannya harus partikular; dan jika salah satu premisnya adalah negatif, maka kesimpulannya adalah afirmatif
Artinya jika salah satu premisnya adalah negatif dan partikular, maka kesimpulannya harus negatif dan partikular. Jadi kesimpulan harus sesuai dengan premis minornya.

Contoh :

  • Premis Mayor : Semua orang Jawa (M) adalah warga negara Indonesia (P)
  • Premis Minor : Beberapa orang itu (S) adalah Orang Jawa (M)
  • Kesimpulan : Beberapa orang itu (S) adalah warga negara Indonesia (P)

Contoh lain :

  1. Premis Mayor : Orang Bali (M) bukan orang Irian (P)
  2. Premis Minor : Nyoman (S) adalah orang Bali (M)
  3. Kesimpulan : Nyoman (S) bukan orang Irian (P)

Aturan IIII: kedua premis tidak boleh partikular; salah satu premis harus universal.
Jika kedua permis sama-sama partikular, ada tiga kemungkinan yaitu: a) keduanya afirmatif, b) keduanya negatif dan c) yang satu afirmatif dan yang satu negatif.

  • Contoh a:
    Beberapa mahasiswa (M) rajin belajar (S)
    Ada mahasiswa (M) mencontek di dalam ujian (P)
    Jadi, ada orang yang rajin belajar (S) mencontek dalam ujian (P)
  • Contoh b:
    Tim bola voli kita (P) tidak berhasil menjadi juara (M)
    Tim sepak bola kita (S) juga tidak berhasil menjadi juara (M)
    Jadi, tim sepak bola (S) bukan tim bola voli (P)
  • Contoh c:
    Ada temanku (M) yang tidak pernah hadir kuliah (P)
    Beberapa anggota tim SAR (S) adalah teman-temanku (M)
    Jadi, beberapa anggota tim SAR (S) tidak pernah hadi kuliah (P)
    Dari cotoh diatas dapat difahami bahwa jika kedua permis adalah afirmatif partikular, maka semua term yang ada adalah partikular. Jika kedua term adalah negatif pertikular, maka tidak dapat ditarik kesimpulan. Dan jika salah satu dari ke kedua term partikular tersebut negatif, dan salah satu yang lain afirmatif, maka akan terjadi pelanggaran pada term P di kesimpulan.
  • Kesimpulan

Silogisme adalah suatu cara untuk melahirkan deduksi. Silogisme mengajarkan pada kita merumuskan, menggolong – golongkan pikiran sehingga kita dapat melihat hubungannya dengan mudah, Dengan demikian kita belajar berfikir tertib, jelas, tajam. Ini diperlukan karena mengajarkan kita untuk dapat melihat akibat dari suatu pendirian atau penyataan yang telah kita lontarkan. Banyak orang merumuskan pendirian atau membuat pernyataan yang apabila ditelaah lebih lanjut, sebenarnya pendirian atau pernyataannya tadi kurang tepat atau kurang benar.

Mungkin saja hal itu karena tidak mau menghargai kebenaran dari suatu tradisi atau tidak dapat menilai kegunaan yang besar dari sesuatu yang berasal dari masa lampau. Akan tetapi kita generasi penerus, proses pemikiran kita menurut kenyataannya mengikuti pola silogisme jauh lebih sering dari pada yang kita duga dan dari proses tersebut pemikiran kita lebih terbuka tertib dan jelas.

 


 

Daftar Pustaka

  • H. Burhanuddin Salam, Logika Formal; FilsafatBerfikir, PT BinaAksara : Jakarta, 1988
  • H. Mundiri, Logika, PT. Raja GrafindoPersada: Jakarta, 2012
  • Jujun, suria sumantri filsafat ilmu sebuah pengantar popular, pustaka sinar harapan, Jakarta, 2003
  • Khalima. Logika Teori dan Aplikasi. Gaung Persada Press, Jakarta:2011.
  • R.G. Soekadijo, Logika Dasar, tradisional, simbolik dan induktif. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 1983
  • Sumaryono, Dasar-Dasar Logika, Kanisius: Yogyakarta, 1999
  • Sunardji dahri tiam, Langkah – langkah berpikir logis, cet 2, CV Bumi Jaya nyalaran: Pamekasan 2001
  • W.Poespoprodjo. Logika Ilmu Menalar,Pustaka Grafika, Bandung: 1999