Pengertian Stimulasi, Tujuan, Manfaat dan Menurut Para Ahli

Diposting pada

Pengertian-Stimulasi-Tujuan-Manfaat-dan-Menurut-Para-Ahli

Pengertian Stimulasi

Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Dan untuk tercapainya tumbuh kembang yang optimal tergantung pada potensi biologik seseorang yang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor genetik, lingkungan bio-fisiko-psiko sosial dan perilaku. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda-beda yang memberika ciri tersendiri pada setiap anak.


Stimulasi adalah adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya sejak di dalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan). Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan bayi dan anak-anak.

Stimulasi merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang kurang kasih sayang dan kurang stimulasi akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya serta kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain. Stimulasi yang diberikan pada anak selama tiga tahun pertama (golden age) akan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan otaknya dan menjadi dasar  pembentuk kehidupan yang akan datang.

Semakin dini stimulasi yang diberikan, maka perkembangan anak akan semakin baik. Semakin banyak stimulasi yang diberikan maka pengetahuan anak akan menjadi luas sehingga perkembangan anak semakin optimal. Disebutkan juga bahwa jaringan otak anak yang banyak mendapat stimulasi akan berkembang mencapai 80% pada usia 3 tahun. Sebaliknya, jika anak tidak pernah diberi stimulasi maka jaringan otak akan mengecil sehingga fungsi otak akan menurun. Hal inilah yang menyebabkan perkembangan anak menjadi terhambat


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Batang Otak – Pengertian, Fungsi, Letak, Bagian, Pyramid, Formasi Retikulasi


Stimulasi Menurut Para Ahli

  • Menurut (dr. Kusnandi Rusmi,Sp.A(k) MM, 2010), Stimulasi adalah upaya orang tua atau keluarga untuk mengajak anak bermain dalam suasana penuh gembira dan kasih sayang. Aktifitas bermain dan suasana cinta ini pentig guna merangsang seluruh sistem indera, melatih kemampuan motorikhalus dan kasar, kemampuan berkomunkasi serta perasaan pikiran si anak. Seperti di jelaskan pakar dan konsultan tumbuh kembang anak . rangsangan atau Stimulasi sejak dini adalah salah satu faktor eksternal yang sangat penting dalam menentukan kecerdasan anak. Selain stimulasi ada faktor eksternal lain yang ikut mempengaruhi kecerdasan seorang anak yakni kualitas asupan gizi, pola pengasuhan yang tepat dan kasih sayang terhadap anak.

  • Menurut (Dinkes,2009), Orang tua harus selalu memberikan rangsang / stimulasi kepada anak dalam semua aspek perkembangan baik motorik kasar maupun halus, bahasa dan personal sosial. Stimulasi ini harus di berikan secara rutin dan berkesinambungan dengan kasih sayang, metode bermain dan lain-lain. Sehingga perkembangan anak akan berjalan optimal. Kurangnya stimulasi dari orang tua dapat mengakibatkan keterlambatan perkembangan anak, karena itu para orang tua atau pengasuh harus diberi  penjelasan cara-cara melakukan stimulasi kepada anak-anak.


  • Menurut Siswono, 2004 stimulasi adalah suatu upaya merangsan anak untuk memperkenalkan suatu pengetahuan ataupun ketermpilan baru ternyata sangat penting dalam upaya peningkatan kecerdasan anak. Stimulasi dapat dilakukan pada anak sejak calon bayi masih berwujud janin, sebab janin bukan merupakan makhluk yang pasif. Di dalam kandungan janin sudah dapat bernafas, menendang , menggeliat, bergerak, menelan menghisap jempol, dan lainnya.


  • Menurut Suherman, 2000 Stimulasi juga dilakukan orang tua (keluarga) setiap ada kesempatan atau sehari-hari. Stimulasi disesuaikan dengan umur dan prinsip stimulasi.

  • Menurut Dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi, dokter spesialisanak konsultan tumbuh kembang, stimulasi dini adalahrangsangan bermain yang dilakukan sejak bayi baru lahir.Stimulasi dipercaya dapat memengaruhi pertumbuhan,yang penting untuk kecepatan proses pembelajaran dan memori.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Perbedaan Otak Besar dan Otak Kecil Terlengkap


Tujuan dan Tahap Stimulasi

Tujuan Stimulasi Pada Anak

Tujuan tindakan memberikan stimulasi pada anak adalah untuk membantu anak mencapai tingkat perkembangan yang optimal atau sesuai dengan yang diharapkan. Tindakan ini meliputi berbagai aktifitas untuk merangsang perkembangan anak, seperti latihan gerak, berbicara, berfikir, kemandidian dan sosialisasi. Stimulasi dilakukan orangtua dan keluarga setiap ada kesempatan atau sehari hari, secara berkala dan terus – menerus. Stimulasi disesuaikan dengan umur dan prinsip stimulasi ( Suherman, 2000 ).


Adapun prinsip dari stimulasi adalah sebagai berikut :

  1. Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang.
  2. Selalu tujukkan sikap dan perilaku yang baik, karena anak akan meniru tingkah laku orang-orang yang terdekat dengan anak.
  3. Berikan stimulasi sesuai dengan kelompok umur anak.
  4. Lakukan stimulasi dengan cara mengajak anak bermain, bernyanyi, bervariasi menyenangkan, tanpa paksaan dan tidak ada hukuman.
  5. Lakukan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak, terhadap 4 (empat) aspek kemampuan dasar anak.
  6. Gunakan alat bantu atau permainan yang sederhana, aman dan ada disekitar anak.
  7. Berikan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan.
  8. Berikan selalu pujian bila perlu hadiah atas keberhasilannya.

Tahapan Stimulasi Sesuai Usia

1. Tahapan Usia 0 – 3 bulan    

Berikan si kecil stimulasi yang mengutamakan rasa nyaman aman, dan menyenangkan. Anda bisa menstimulasinya dengan cara memeluk, menggendong, menatap mata bayi, berbicara atau mengajaknya tersenyum. Mainan yang digantung dengan warna-warna menarik dan mengeluarkan bunyi-bunyian juga merupakan stimulasi yang menyenangkan bagi si kecil. Menjelang akhir usia 3 bulan, cobalah melatihnya tengkurap, telentang atau menggulingkannya ke kanan dan kiri. Rangsang si kecil untuk meraih dan memegang mainan, jika tangannya sudah cukup kuat.


Agar keterampilan motorik bayi tumbuh dan berkembang secara optimal, Anda perlu memahami tahap-tahap perkembangannya dan memberikan stimulasi (rangsangan) yang tepat sesuai dengan tahapan usia bayi. Hal ini penting karena jika terjadi keterlambatan atau gangguan pada kemampuan motoriknya bisa segera terdeteksi dan dikoreksi.


Pada umumnya perkembangan motorik dibedakan menjadi dua yaitu motorik kasar dan motorik halus :

  • Motorik kasar adalah bagian dari aktivitas motorik yang mencakup keterampilan otot-otot besar, misalnya merangkak, tengkurap, mengangkat leher dan duduk.
  • Motorik halus adalah bagian dari aktivitas motorik yang melibatkan gerak otot-otot kecil, seperti mengambil benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk, menggambar dan menulis.

Pada saat bayi baru lahir,saat itu refleks tubuh bayilah yang bekerja sempurna. Gerakan refleks adalah gerakan-gerakan yg terjadi secara otomatis, tanpa bayi sadari. Seiring dengan waktu, gerak refleks ini akan tergantikan dengan gerak motor kasar. Beberapa gerak refleks yang dimiliki bayi adalah :


  1. Refleks menghisap (sucking reflex)
    Bayi akan melakukan gerakan menghisap ketika Anda menyentuhkan puting susu ke ujung mulut bayi.


  2. Refleks menggenggam (palmar grasp reflex)
    Bayi Anda akan otomatis menggenggam jari Anda ketika Anda menyodorkan jari telunjuk kepadanya.


  3. Refleks leher (tonic neck reflex)
    Akan terjadi peningkatan kekuatan otot (tonus) pada lengan dan tungkai sisi ketika bayi Anda menoleh ke salah satu sisi.


  4. Refleks mencari (rooting reflex)
    Ketika pipi bayi Anda disentuh maka otomatis mulutnya akan terbuka dan memalingkan wajahnya ke arah sentuhan.


  5. Refleks Moro (Moro reflex)
    Refleks ini berbeda dengan refleks lainnya yang termasuk dalam ketegori gerakan motor. Menurut para ahli, refleks moro ini termasuk reaksi emosional yg timbul dari kemauan atau kesadaran bayi dan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu yg singkat. Refleks moro ini timbul ketika bayi dikejutkan secara tiba-tiba atau mendengar suara yang keras.


Bayi melakukan gerakan refleks dengan melengkungkan punggungnya dan mendongakkan kepalanya ke arah belakang. Bersamaan dengan gerakan tersebut, kaki dan tangan bayi digerakkan ke depan. Reaksi yang berlangsung sesaat ini pada umumnya diiringi dengan tangisan yang keras.


2. Tahapan Usia 3 – 6 bulan  

Rangsang si kecil untuk tengkurap, telentang, bolak- balik, serta duduk. Anda bisa menambahkan stimulasi dengan mengajaknya bermain “cilukba”. Pada rentang usia 3-6 bulan kebanyakan bayi sudah mulai menunjukkan polah tingkah yang mengundang gemas yang melihatnya, karena pada renatng usia tersebut kondisi fisik sang buah hati sudah mendukung untuk melakukan beragam aktifitas, seperti:


  1. Berbalik dari telungkup ke telentang
  2. Mengangkat kepala setinggi 900
  3. Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil
  4. Menggenggam pensil
  5. Meraih benda yang ada di dalam jangkauannya
  6. Memegang tangannya sendiri
  7. Berusaha memperluas pandangan
  8. Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
  9. Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik
  10. Tersenyum ketika melihat mainan / gambar yang menarik saat bermain sendiri.

3. Tahapan Usia 6 – 9 bulan

 Di usia ini, Anda bisa mulai meningkatkan stimulasi, dengan cara melatih tangan anak bersalaman, duduk dan berdiri sambil berpegangan. Penting juga bagi Anda untuk mulai membiasakan diri membacakan dongeng untuk si kecil sebelum tidur. dalam memberikan stimulasi pada bayinya, ada 4 hal cara stimulasi bayi yang benar benar harus diperhatikan, yaitu :


  • Pertama adalah bicaralah selalu padanya,apa pun yang Anda lakukan ajaklah bayi Anda berbicara. Tataplah matanya dan bicaralah perlahan-lahan. Bayi  sedang mendengarkan suara maupun kata – kata yang Anda ungkapkan dan bayi pun belajar untuk meresponnya.


  • Kedua adalah biarkan bayi bermain di lantaitentunya lantai harus bersih dan aman, seringlah menaruh bayi dilantai untuk merangsangnya lebih leluasa bergerak dan bisa mengontrol gerakannya. Jangan sering menggendong atau menaruh bayi dikereta dorongnya. Meski aman baginya namun tidak membantunya mengembangkan otot – otot geraknya.


  • Ketiga adalah berikan aktivitas fisik, berrmainan permainan yang menggunakan fisik akan membantu perkembangan dan kerja otot – otot tubuhnya. Orang tua bisa membantu, misalnya, meletakan bayi dalam posisi terlentang kemudian menggerakan kedua kakinya seolah membuat gerakan mengayuh sepeda. Bisa juga dengan menegakkan bayi sambil kita pegang tubuhnya, lalu biarkan ia melakukan loncatan – loncatan dengan kedua kakinya atau bermain di lantai dengan merangkak dan mengejarnya.


  • Keempat adalah dengan memberikan pujian, setiap kali bayi menunjukan kemajuan pesat berilah pujian, ia pasti sering dan bersemangat untuk selalu mencoba serta mengulang kembali kemampuannya.

4. Tahapan Usia 9 – 12 bulan

Pada retang masa mur 9-12 bulan si kecil sudah menunjukkan beberapa aktifitas:

  1. Mengangkat badannya ke posisi berdiri
  2. Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan pada kursi
  3. Dapat berjalan dengan dituntun
  4. Mengulurkan lengan / badan untuk meraih mainan yang diinginkan
  5. Menggenggam erat pensil
  6. Memasukkan benda ke mulut
  7. Mengulang menirukan bunyi yang didengar
  8. Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti
  9. Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja
  10. Bereaksi terhadap suara yang perlahan atau bisikan
  11. Senang diajak bermain ”CILUK BA”
  12. Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal.

Dari hal-hal yang bisa dilakukan si kecil maka Mulailah mengajar si kecil memanggil mama-papa atau ibu-ayah, kakak atau adik. Anda juga sudah bisa melatih si kecil untuk berdiri, berjalan dengan berpegangan, meminum dari gelas, menggelindingkan bola, dan bermain memasukkan mainan ke wadah.


5. Tahapan Usia 12 – 18 bulan

si kecil bermain bersama menyusun kubus, menyusun potongan gambar sederhana, memasukkan dan mengeluarkan benda kecil dari wadahnya, atau bermain boneka. Ajari juga ia cara menggunakan peralatan makan dan memegang pensil lalu biarkan ia mencoret-coret kertas dengan pensil warna. Lanjutkan stimulasi dengan melatihnya berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur, memanjat tangga, menendang bola,melempar dan menangkap bola, melepas celana, mengerti dan melakukan perintah sederhana, menyebutkan nama, dan menunjukkan benda-benda.   


6. Tahapan  Usia 18 – 24 bulan 

Di usia ini mulailah merengasang si kecil dengan memintanya menyebutkan, dan menunjukkan bagian tubuh seperti mata, hidung, telinga, dan mulut.  Minta pula ia menyebutkan nama-nama binatang, gambar atau benda-benda di sekitar rumah. Cobalah membiasakan mengajak si kecil berbicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum, mandi, main, dan sebagainya). Latih ia  ia menggambar garis, mencuci tangan, memakai celana, baju, melempar bola, dan melompat.,selain itu bisa melatih keseimbangan berdiri dengan satu kaki bergantian,melatih anak menggambar bulatan dan segitiga, Melatih anak mau menceritakan apa yang dilihatnya, Melatih anak tentang kebersihan diri (buang air kecil/besar pada tempatnya), melatih anak bernyanyi.


7. Tahapan  Usia 2 – 3 tahun

Saatnya Anda mengajari si kecil untuk mengenal warna, menghitung benda, menggunakan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit), menggambar garis, lingkaran dan manusia. Ajari pula cara memakai baju, menyikat gigi, buang air kecil dan besar di toilet. Stimulasi juga bisa diberikan dengan mengajaknya latihan berdiri satu kaki, menyebutkan nama teman, bermain kartu, boneka, dan masak-masakan, Melatih anak menyusun balok.


8. Tahapan  Usia 3 tahun ke atas

Stimulasi yang bisa Anda berikan pada si kecil lebih mengarah pada pengembangan kemampuan kognitif, psikomotorik, dan bahasa serta untuk kesiapan sekolahnya.

Ajari ia melakukan motorik kasar seperti berlari, senam sehat, lalu latih juga motorik halusnya seperti  memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana, buang air kecil dan besar di toilet, berbagi dengan teman, serta kemandirian. Tidak hanya di rumah, stimulasi juga bisa dilakukan di kelompok bermain dan taman kanak-kanak.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 4 Fungsi Otak Manusia Secara Umum Menurut Para Ahli


Macam dan Jenis Stimulasi

Komunikasi

 Jalinlah komunikasi dengan sang buah hati sesering mungkin, bisa menceritakan apa saja untuk mendukung pengetahuan bahasa dan mengembangkan pikirannya, tentunya bercerita tentang hal-hal ringan saja, ajaklah anak untuk berbicara. Salah satu contoh berkomunikasih adalah:

  1. Ceritakan kesibukan Kita.
    Ceritakan dengan lantang apa saja yang sedang di kerjakan dan lemparkan pertanyaan-pertanyaan untuk batita. “Teruslah bicara, walaupun nampak konyol karena batita tak bisa menjawab,” usul Pam Quinn, terapis wicara di RS Rehabilitasi Schwab, Chicago.

  2. Jadi ‘role model’.
    Bila batita Anda mengatakan “cucu” untuk susu, gunakan pengucapan yang benar ketika Anda merespon, “Ini susumu.” Kembangkan penguasaan bahasanya dengan menambahkan kata-kata baru, misalnya “Susumu warnanya putih, enak sekali.” Strategi ini tak hanya akan menambah jumlah kosa katanya tapi juga mengajarkan cara kombinasi kata. Namun hindari mengoreksi ucapannya. “Menunjukkan kesalahan anak bisa membuatnya tak nyaman. Bahkan anak seusia itupun dapat mulai merasa bahwa apapun yang dilakukannya selalu salah di mata ibu,” kata Pam lagi.


  3. Berlagak “bodoh”.
    Beri batita kesempatan untuk meminta dan mengungkapkan kebutuhannya sebelum Anda memberikan padanya. Contohnya, saat bermain, ia menggulirkan bola dan Anda tahu ia ingin Anda mengembalikan bola itu padanya, pura-pura saja Anda tidak mengerti, berikan ekspresi wajah bingung dan bertanya, “Ibu harus apa?” Jeda seperti ini akan menyemangatinya untuk berkomunikasi.


  4. Tetap nyata.
    Hindari untuk mengucapkan kata berlebihan atau berbicara dalam bahasa slang atau bahasa pergaulan yang tak dimengerti balita usia 1-2 tahun. Orangtua wajib berbicara dalam kalimat-kalimat reguler dan dalam bahasa yang benar, yang akan membantu anak mengerti cara memadukan kata menjadi kalimat yang bermakna.


  5. Mengenalkan anggota tubuh
    Ajaklah bayi berkomunikasi dengan mengenalkan anggota tubuh. Misalnya menunjuk kepala, pundak, hidung, kaki, mata dan sebagainya. Memperlihatkan cerita bergambar, atau kumpulan gambar buah, hewan dan benda sehari-hari. Latih gerak motorik tangan dengan membuat garis, berlatih mencuci tangan sendiri, latihan melempar bola.


  6. Menggunakan Bahasa Isyarat
    Membangun rasa percaya dan meningkatkan interaksi. Secara psikologis bayi akan merasa lebih dekat dengan orang yang berkomunikasi. Dengan mengerti apa yang dikomunikasikan bayi, orangtua menjadi lebih mengetahui kebutuhan yang diinginkan bayi saat itu.

Mendorong berkomunikasi lebih awal. Sebenarnya bayi usia muda, dengan kemampuan pergerakan koordinasi mulut yang belum sempurna, mempunyai keterbatasan dalam berbahasa. Meskipun terdapat beberapa parameter kemampuan bahasa yang dapat dinilai dengan bunyi-bunyian yang keluar dari mulut atau mimic muka dan posisi tubuh bayi. Dengan keterbatasanya tersebut tampaknya bahasa isyarat dapat digunakan untuk alternatif dalam berkomunikasi.


Kesulitan berkomunikasi dengan anak akan menimbulkan perasaan yang cemas dan frustasi baik pada anak dan orangtua. Seringkali orangtua tidak mengetahui keinginan anak, sebaliknya anak sulit mengungkapkan keinginannya. Apalagi ungkapan yang membingungkan tersebut disertai tangisan yang hebat. Dengan bahasa isyarat kesenjangan komunikasi dapat diminimalkan, pada akhirnya membuat perasaan orangtua lebih nyaman bila keinginan anak dapat dipahami.


Permainan

Menurut para ahli, idealnya Mama memiliki cara-cara kreatif untuk terus menstimulasi anak. Adakalanya Anda juga kehabisan ide. Kabar baiknya, Alvin N. Eden, MD., penulis buku Positive Parenting: Raising Healthy Children from Birth to Three Years, memberikan beberapa rekomendasi alat apa saja yang perlu Anda miliki untuk bisa menstimulasi si 2-3 tahun dengan optimal. Ini dia beberapa di antaranya:


  • Sepeda roda tiga. Ajarkan anak untuk mengayuh pedalnya, juga mengarahkan setangnya. Tentu dampingi ia selalu saat mencoba.
  • Gerobak sorong roda satu (wheelbarrow). Anak bisa membawa mainan untuk dibawa ke ruang lain (atau untuk dibereskan). Jangan lupa memastikan gerobaknya bersih.
  • Perlengkapan memanjat, bisa berupa tangga, pagar, tali pengaman, dll. Tentu saja Anda harus mengawasi ketika anak bermain panjat-panjatan, bukan lalu melarangnya sama sekali.
  • Perkakas dan meja kerja. Ketika anak berusaha memalu paku mainan atau memasang sekrup, sebetulnya dia sedang mengasah keterampilan motorik halusnya.

Alat Permainan Edukatif

Alat Permainan  Edukatif adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya. Berikut contoh permainan pada stimulasi anak:


  1. Main senyum, cium, dan suara (0-3 bulan)
    Pada periode yang sangat awal ini, rangsang penglihat, peraba, pencium, dan pendengar penting untuk perkembangan otak atau kognisi bayi. Stimulasi seperti mendaratkan ciuman ke kening, pipi, mata, atau bagian tubuh yang lain, mengelus-elus, memberikan senyuman terindah, mengajak bicara, dan mendengarkan musik, membantu si buah hati belajar sense of sensations, sensasi. Hasilnya, bayi mampu memberikan senyum balasan di umur 6 atau 8 minggu. Otak bayi diajak belajar menginterpretasikan berbagai hal seperti ekspresi wajah atau suara dan membantu mengembangkan ukuran otaknya dua kali lipat. Bayi akan mengurangi perhatian pada rangsang yang berulang dan akan menambah perhatiannya saat rangsang itu berubah.


  2. Main gerak dan tebak (Usia 3-6 bulan).
    Di usia 4 bulan, bayi mulaimengenal dan menjalani rutinitas seperti bangun, tidur, atau makan. Anda dapat mengenalkan rutinitas lain yang membantu perkembangan otaknya seperti mengikuti aktivitas bermain sambil gym atau aktivitas motorik.  Kegiatan ini membantu bayi belajar sebab-akibat, misalnya ia dapat menggapai mainan yang terjuntai di atasnya bila ia duduk dan merentangkan tangannya ke atas. Selain itu, bermain belajar mengenal anggota tubuh dari cermin juga seru. Anda menunjuk lalu mengucapkan bagian tubuh apa secara jelas dan perlahan. Misalnya “Ini apa? (sambil menyentuh matanya) Ini mata.” Meski ia masih dalam tahap bergumam atau bubble, perlahan ia belajar mengucap satu akhiran kata, misalnya “ta” dari “ma-ta”. Bayi pun bisa memperlajari anggota tubuh dan belajar bicara.


  3. Main “Petak Umpet”(Usia 6-9 bulan)
    Pencapaian kekonstanan atau objek permanen sebuah benda bisa diraih pada periode usia ini. Maksud dari konstan yaitu pemahaman bahwa benda sebenarnya tetap ada walaupun tidak terlihat. Umumnya, bayi akan berusaha terus mencari, menemukan benda yang disembunyikan. Berhubung dia sedang belajar merangkak, tentu bayi akan mencari dengan cara merangkak. Biarkan ia merangkak sesukanya. Aktivitas ini dapat menstimulasi koordinasi otak kiri dan kanannya. Bermain Cilukba, menutup benda dengan sapu tangan, atau sembunyi di bawah selimut bisa menjadi permainan sederhana yang menstimulasi otak bayi untuk pemahaman objek permanen.


  4. Bermain kreatif
    Dalam periode usia ini terjadi peningkatan mobilitas dan pengenalan lingkungan sekitar. Ia semakin aktif dan cenderung mencoba memberikan stimulus pada orang lain. Misalnya ia mulai menarik perhatian Anda dengan menarik-narik pakaian Anda, menggapai dan mengambil barang-barang di sekitarnya, atau meniru suara Anda. Ia paham situasi yang ia rasakan. Kalau ia merasa sedang tidak mendapat perhatian Anda, langsung ia mencari perhatian! Idenya sangat fantastis.
    Memanfaatkan situasi ini, Anda bisa mengajaknya bermain yang menstimulasi kreativitasnya serta mengenalkan perintah-perintah sederhana. Misalnya meminta dia menyusun balok kemudian meruntuhkannya, menaruh barang di tempatnya, atau bermain tepuk-tepuk tangan sambil bernyanyi. Kira-kira bangunan seperti apa yang dibuatnya atau bagaimana ritme tepukannya?


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh

Stimulasi Otak

Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan Otak Anak

Stimulasi sangat membantu dalam menstimulasi otak untuk menghasilkan hormon-hormon yang diperlukan dalam perkembangannya. Stimulasi dapat diberikan dalam berbagai bentuk yang sederhana dan mudah untuk dilakukan. Stimulasi tersebut dapat berupa kehangatan dan cinta tulus yang diberikan orang tua. Selain itu, orang tua dapat memberikan pengalaman langsung dengan menggunakan panca inderanya (penglihatan, pendengaran, perasa, peraba, dan penciuman). Interaksi anak dan orang tua melalui sentuhan, pelukan, senyuman, nyanyian, dan mendengarkan dengan penuh perhatian juga merupakan bentuk stimulasi secara dini.


Ketika anak yang belum dapat berbicara mengoceh, ocehan itu perlu mendapatkan tanggapan sebagai bentuk stimulasi kemampuan bicara anak. Sejak dini orang tua semestinya mengajak bercakap-cakap dengan suara lembut dan memberikan rasa aman kepada anak.

Ketika dilahirkan, otak anak sudah mempunyai sel syaraf yang bermilyaran jumlahnya, namun jumlah itu banyak yang hilang seteah dilahirkan. Ketika otak mendapatkan suatu stimulus yang baru, maka otak akan mempelajari sesuatu yang baru. Stimulus tersebut akan menyebabkan sel syaraf membentuk sebuah koneksi baru untuk menyimpan informasi. Sel-sel yang terpakai untuk menyimpan informasi akan mengembang, sedangkan yang jarang atau tidak terpakai akan musnah. Di sinilah pentingnya suatu stimulasi yang rutin diberikan. Stimulasi yang terus-menerus diberikan secara rutin akan memperkuat hubungan antarsyaraf yang telah terbentuk sehingga secara otomatis fungsi otak akan menjadi semakin baik.


Stimulasi yang diberikan sejak dini juga akan mempengaruhi perkembangan otak anak. Stimulasi dini yang dimulai sejak usia kehamilan 6 bulan sampai anak usia 2-3 tahun akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam ukuran serta fungsi kimiawi otak. Berikut ini beberapa tips dari Dr. Soedjatmiko, SpA (K), MSi tentang stimulasi dini pada balita:


  1. Dalam memberikan stimulasi dini metode yang dapat dipakai meliputi dengar, lihat, dan tiru/coba
  2. Bagian yang distimulasi adalah otak kanan-kiri, sensorik, motorik, kognitif, komunikasi- bahasa, sosio-emosional, kemandirian, dan kreativitas
  3. Cara melakukan stimulasi adalah dengan memberikan rangsangan berupa suara, musik, gerakan, perabaan, bicara, menyanyi, membaca, mencocokkan, membandingkan, mengelompokkan, memecahkan masalah, mencoret, menggambar, merangkai, dll.
  4. Waktu melakukan stimulasi adalah setiap kali orang tua berinteraksi dengan anak (menyusui, menidurkan, memandikan, ganti baju, bermain, nonton TV, dsb).

Prinsip-prinsip dasar dalam menstimulasi anak

Dalam melakukan stimulasi tumbuh kembang anak, ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan para pendidik, pengasuh dan orang tua, yaitu:


  1. Stimulasi dilakukan dengan cara-cara yang benar sesuai petunjuk tenaga kesehatan yang menangani bidang tumbuh kembang anak.
  2. Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang terhadap anak.
  3. Selalu menunjukkan perilaku yang baik karena anak cenderung meniru tingkah laku orang-orang terdekat dengannya.
  4. Berikan stimulasi sesuai kelompok umur anak.
  5. Dunia anak dunia bermain, oleh karena itu lakukanlah stimulasi dengan cara mengajak anak bermain, bernyanyi dan variasi lain yang menyenangkan, tanpa paksaan dan hukuman.
  6. Lakukan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak.
  7. Menggunakan alat bantu/alat permainan yang sederhana, aman dan ada disekitar kita.
  8. Anak laki-laki dan perempuan diberikan kesempatan yang sama.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Hubungan Sistem Otot Dan Saraf

Stimulasi untuk mengembangkan kecerdasan

a) Verbal Linguistic

  • Sering diajak bercakap – cakap
  • Baca cerita berulang – ulang
  • Rangsang menceritakan kembali
  •  Jangan dipotong cerita anak
  • Menyanyikan lagu
  • Membahas isi syair lagu

b) Logic Mathematical

  • Mengelompokkan benda –benda, mainan
  • Menyusun,merangkai, menghitung mainan
  • Bermain angka, halma,congkak
  • Bermain sempoa,kartu,catur
  • Bermain tebak2an,puzzle
  • Bermain monopoli, komputer
  • Mengerjakan tugas-tugas matematika

c) Visual spatial

  • Mengamati foto, gambar
  • Merangkai, membongkar lego
  • Mengunting, melipat, mengambar
  •  Bermain rumah –rumahan,puzzle, halma
  • Bermain komputer

d) Keterampilan gerak tubuh

  • Mengamati foto, gambar
  • Merangkai, membongkar lego
  • Mengunting, melipat, mengambar
  • Bermain rumah –rumahan,puzzle, halma
  • Bermain komputer

e) Kecerdasan musikal

  • Mendengarkan musik, lagu yang bervariasi
  • Menyanyikan lagu
  • Mengikuti irama dan nada
  • Memainkanalat musik

f) Kecerdasan emosi inter-personal

  • Bermain dengan anak yang lebih muda & tua
  • Saling berbagi kue,makanan,mainan
  • Mengalah, meminjamkan mainan
  • Bekerjasama membuat sesuatu
  • Permainan yang mengendalikan diri
  • Mengenal berbagai suku, budaya, Agama

g) Kecerdasan emosi intra-personal

  • Menceritakan perasaan
  • Menceritakan keinginan, cita-cita
  • Menceritakan pengalaman
  • Berkhayal, mengarang cerita

h) Kecerdasan naturalis

  • Menanam biji hingga tumbuh
  • Memelihara tanaman, hewan
  • Berkebun
  • Wisata ke hutan, gunung,sungai, pantai
  • Mengamati langit,awan bulan,bintang
  • Membahas kejadian –kejadian alam; hujan,angin,gempa, tsunami,siang-malam

i) Kemandirian dan kreativitas

  • Sikap orang tua demokratik
  • Mendorong keberanian untuk mengekspresikan diri
  • Mendorong kemandiria untuk melakukan sesuatu & menghargai usaha yang telah dicapainya ASAL tidak membahayakan diri sendiri /orang lain
  • Memberikan pujian untuk prestasi sekecil apapun
  • Jangan menolak rasa keinginan tahu anak
  • Merangsang mengamati,benda disekeliling kita
  • Biarkan dia berkhayal,merenung dg cara masing2
  • Jangan mendikte,mencela,mengecam,dll

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Fungsi Sistem Saraf Otonom Beserta Penjelasannya


Stimulasi Sesuai Usia Anak

1) Umur 0-3 bulan

  • Ciptakan rasa nyaman, aman, senang
  • Teluk, cium, gusel, ayun
  • Senyum, tatap mata, ajak bicara,
  • Tirukan ocehan dan mimik bayi
  • Berbagai bunyi, suara, musik
  • Gantung benda berwarna, berbunyi
  • Meraih, meraba, pegang mainan, angkat kepala
  • Gulingkan kanan-kiri, tengkurap-telentang

2) Umur 3-6 bulan

  • Peluk, cium, pandang mata, senyum, bicara,
  • Mencari sumber suara,
  • Bermain cilukba, melihat wajah di cermin
  • Memeluk, mengayun
  • Melihat, meraih, menendang mainan
  • Mengamati benda kecil, benda bergerak
  • Mengambil benda kecil
  • Memegang dgn 2 tangan, makan sendiri
  • Berguling-guling, duduk

3) Umur 6-9 bulan

  • Peluk, senyum, bicara, panggil namanya,
  • Bersalaman, tepuk tangan, melambai ke orang lain
  • Panggil : mama, papa
  • Cilukba, melihat cermin
  • Tunjuk dan sebutkan nama gambar
  • Bacakan dongeng
  • Pegang mainan dengan 2 tangan
  • Masukan benda kecil ke dalam wadah
  • Sembunyikan dan cari mainan
  • Mainan yang mengapung di air
  • Mencoret-coret, memukul-mukul
  • Duduk, merangkak, berdiri berpegangan

4) Umur 9-12 bulan

  • Peluk, senyum, bicara, panggil, ditanya
  • Cilukba, melambai pada orang lain
  • Tunjuk dan sebutkan nama gambar
  • Bicara pada boneka, menyanyi,
  • Masukkan benda ke wadah
  • Mainan yang mengapung di air
  • menyusun balok, menggambar
  • main alat dapur, minum dari gelas,
  • makan bersama
  • gelindingkan bola, berdiri, membungkuk,
  • berjalan berpegangan, naik tangga

5) Umur 12-15 bulan

  • Peluk, senyum, bicara, panggil, ditanya
  • Cilukba, melambai pada orang lain
  • Tunjuk dan sebutkan nama gambar
  • Masukkan benda ke dalam wadah
  • Menggambar, menyusun kubus, puzzle sederhana
  • main boneka, sendok, piring, gelas
  • berjalan tanpa berpegangan,
  • berjalan sambil tarik mainan, mundur, jinjit
  • panjat tangga, lempar-tangkap -tendang bola
  • lepas celana, makan sendiri
  • meniru perkerjaan di rumah tangga

6) Umur 15-18 bulan

  • Berjalan mundur, jinjit, naik tangga
  • Balok, puzzle, menggambar
  • Bermain air, meniup, menendang bola
  • Bercerita tentang gambar di buku
  • Menyebutkan nama benda, menyanyi
  • Main telpon-telponan, menyatakan keinginan
  • Bermain dgn teman sebaya, petak umpet
  • Merapikan mainan, membuka baju
  • Makan bersama
  • Merangkai manik besar

7) Umur 18-24 bulan

  • Bicara, bertanya, bercerita, bernyanyi,
  • Tanya jawab, main telpon-telponan
  • Perintah sederhana, membantu pekerjaan
  • Nonton TV sambil dijelaskan
  • Melepas baju, rapikan mainan
  • Makan bersama dengan sendok garpu
  • Balok, puzzle, menggambar, membentuk lilin
  • Buat rumah-rumahan, petak umpet
  • Berjalan, berlari, melompat
  • Berdiri satu kaki, naik turun tangga
  • melempar, menangkap, menendang bola

8) Umur 24-36 bulan

  • Sebutkan nama benda, sifat, guna benda
  • Bacakan cerita, tanya jawab,
  • Anak diminta bercerita pengalaman
  • Menonton TV didampingi, menyanyi
  • Cuci tangan, cebok, berpakaian, rapikan mainan
  • Makan dengan sendok garpu
  • Puzzle, balok, menggambar, menempel
  • Mengelompokkan benda sejenis
  • Mencocokan gambar dan benda
  • Menghitung
  • Melempar, menangkap,
  • Berlari, melompat, memanjat, merayap

9) Umur 36-48 bulan

  • Sebutkan nama benda, sifat, guna benda
  • Bacakan cerita, tanya jawab, bercerita
  • Menonton TV didampingi, menyanyi
  • Cuci tangan, cebok, berpakaian, rapikan mainan
  • Makan dengan sendok garpu, masak-masakan
  • Menggunting, menempel, menjahit
  • Puzzle, balok, menggambar, mewarna, menulis
  • Mengelompokkan benda sejenis
  • Mencocokan gambar dan benda
  • Menghitung, mengenal angka, huruf
  • Melempar, menangkap, berlari, melompat
  • Memanjat, merayap, main sepeda roda 3
  • Main lalu lintas, ular naga dengan teman

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Perbedaan Neuron Dan Neuroglia – Struktur, Macam, Bagian, Fungsi, Oligodendrosit, Sel Saraf

Respon Atau Tanggapan

Respon ialah output atau hasil dari stimulus, yang ketika stimulus dihasilkan organisme biologis akan menyesuaikan untuk bereaksi untuk membatalkan efek dari perubahan yang disebabkan stimulus. Ketika, ketiak seseorang yang tergelitik, tangan otomatis turun untuk menutup ketiak.


Menggelitik ialah stimulus dan tangan merespon dengan menutup ketiak. Ketiak pengemudi mobil melihat penghalang, kendaraan tersebut akan dipindahkan jauh dari itu. Respon terutama dari dua jenis yang dikenal sebagao perilaku belajar dan respon naluri. Di atas menyatakan contoh menggelitik dalam hal ini menggambarkan respon insting. Dengan kata lain respon insting ialah reaksi alami dari suatu organisme terhadapa stimulus tertentu.


Perilaku dipelajari harus diajarkan oleh orang lain atau otodidak, ketika konsekuensi telah dipelajari atau berpengalaman dalam kesempatan sebelumnya untuk stimulus tertentu, tindakan respon akan berlangsung. Pengemudi mobil telah belakar konsekuensi dari kecelakaan mobil dan mobil di dorong jauh dari penghalang untuk menghindari bahaya melalui perilaku yang dipelajari.


Perbedaan Antara Stimulus Dan Respon

  • Stimulus ialah acara pertama yang berlangsung dan respon ialah hasilnya.
  • Stimulus bisa jauh lebih besar, tapi respon tidak pernah bisa melampaui kemampuan tertinggi dari suatu organisme.
  • Stimulus tidak dapat selalu terkontrol terutama rangsangan eksternal, sedangkan respon dapat dikendalikan.
  • Stimulus menentukan respon, tapi tidak pernaj terjadi sebaliknya.