Pengertian Pantun

Diposting pada

Pengertian Pantun, Ciri, Jenis, Unsur, Makna, Contoh dan Menurut Para Ahli : ialah karya fiksi yang dibangun melalui berbagai unsur keindahan penyusunan kosakata

Pantun


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Pantun Jenis Beserta Ciri-Cirinya


Pengertian Pantun

Pantun adalah senandung atau puisi rakyat yang dinyanyikan.Dalam kesusastraan, pantun pertama kali muncul dalam Sejarah Melayu dan hikayat-hikayat popular yang sezaman.Kata pantun sendiri mempunyai asal-usul yang cukup panjang dengan persamaan dari bahasa Jawa yaitu kata parik yang berarti pari, artinya paribasa atau peribahasa dalam bahasa Melayu.Arti ini juga berdekatan dengan umpama dan seloka yang berasal dari India.


Pantun merupakan sastra lisan yang dibukukan pertama kali oleh Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau, seorang sastrawan yang hidup sezaman dengan Raja Ali Haji.Antologi pantun yang pertama itu berjudul Perhimpunan Pantun-pantun melayu. Genre pantun merupakan genre yang paling bertahan lama. Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara.Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa minangkabau yang berarti “petuntun”.


Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa sunda dikenal sebagai PAPARIKAN dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca: uppasa). Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a).


Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis. Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: SAMPIRAN dan ISI. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak.Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.


Abdul Rani (2006:23) mengatakan bahwa ciri-ciri pantun sebagai berikut:

  • Terdiri atas empat baris.
  • Tiap baris terdiri atas 9 sampai 10 suku kata
  • Dua baris pertama disebut sampiran dan dua baris berikutnya berisi maksud si pemantun. Bagian ini disebut isi pantun.

Pantun mementingkan rima akhir dan rumus rima itu disebut dengan abjad /ab-ab/. Maksudnya, bunyi akhir baris pertama sama dengan bunyi akhir baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat.


Pada mulanya pantun merupakan senandung atau puisi rakyat yang dinyanyikan (Fang, 1993: 195). Pantun pertama kali muncul dalam Sejarah Melayu dan hikayat-hikayat popular yang sezaman dan  disisipkan dalam syair-syair seperti Syair Ken Tambuhan. Pantun dianggap sebagai bentuk karma dari kata Jawa Parik yang berartipari, artinya paribahasa atau peribahasa dalam bahasa Melayu. Arti ini juga berdekatan dengan umpama atau seloka yang berasal dari India. Dr. R. Brandstetter mengatakan bahwa kata pantun berasal dari akar kata tun,


yang terdapat dalam berbagai bahasa Nusantara, misalnya dalam bahasa Pampanga, tuntun yang berarti teratur, dalam bahasa Tagalog ada tonton yang berarti bercakap menurut aturan tertentu; dalam bahasa Jawa kuno, tuntun yang berarti benang atau atuntun yang berarti teratur dan matuntun yang berarti memimpin; dalam bahasa Toba pula ada kata pantun yang berarti kesopanan, kehormatan.


Zaman dahulu pantun menduduki tempat yang penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Melayu.Pantun banyak digunakan dalam permainan kanak-kanak, dalam percintaan, upacara peminangan dan pernikahan, nyanyian, dan upacara adat.Secara umum setiap tahap kehidupan masyarakat Melayu dihiasi oleh pantun.


Pantun ialah karya fiksi yang dibangun melalui berbagai unsure keindahan penyusunan kosakata, unsure-unsur tersebut sengaja dipadukan pengarang dan dibuat mirip dengan dunia yang nyata lengkap dengan peristiwa-peristiwa di dalamnya, yang sehingga Nampak seperti sungguh ada dan terjadi.


Unsur inilah yang akan menyebabkan karya sastra hadir, unsure intrinsic sebuah pantun ialah unsur yang secara langsung membangun sebuah cerita. Keterpaduan berbagai unsur intrinsik ini akan menjadikan sebuah pantun yang sangat bagus. Kemudian untuk dapat menghasilkan pantun yang bagus juga sangat diperlukan pengolahan bahasa. Bahasa merupakan sarana atau media untuk menyampaikan gagasan atau pikiran pengarang yang akan dituangkan sebuah karya yaitu salah satunya pantun tersebut.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Puisi – Ciri, Unsur, Jenis, Puisi Baru dan Lama, Contohnya


Unsur, Peranan dan Struktur Pantun

Unsur dalam Pantun

Sebagaimana yang dijelaskan dalam perenggan terdahulu, unsur alam ialah segala-gala yang boleh (berupaya) dilihat, didengar, dan dirasai (dengan deria sentuh dan perasaan) oleh insan dan makhluk yang lain.  Maksud  boleh pula ialah, manusia boleh membuat sesuatu berdasarkan kuderat dan kerelevanan pancaindera yang dimiliki oleh manusia.  Mereka yang cacat, mungkin tidak boleh mendengar, melihat, dan merasai seperti mereka yang normal.  Namun, kita jangan lupa, bahawa mereka yang cacat [penglihatan] mungkin lebih tajam daya imiginasi mereka berbanding dengan kita yang normal.


Hal inilah yang dikatakan bahawa mata hati mereka (yang cacat penglihatan) lebih tajam derianya (perasaan) daripada manusia yang normal.  Mereka dapat bermonolog dan bermeditasi  dengan daya imiginasi yang lebih ampuh jika dibandingkan dengan mereka yang normal penglihatannya.   Begitu juga yang cacat pendengaran, mungkin daya agakan mereka lebih tajam, iaitu seumpama lintah di dalam air yang tajam pendengaran lalu hanya dengan melalui riak dan getaran air, si lintah akan datang kepada objek yang menyebabkan kocakan atau riakan air itu.  Demikian juga rasa sentuhan, deria sentuh dan rasa (perasaan).  Yang cacat pendengaran dan penglihatan mungkin  lebih tajam daya rasa dan perasaan berbanding dengan insan yang normal.


Selaku manusia yang normal, kita amat bertuah kerana dengan kenormalan itu kita dapat mencetuskan idea bagi menghasilkan puisi yang baik.  Oleh itu, penggunaan unsur alam akan dilihat lebih membawa makna yang lebih dari sekadar maknanya yang harfiah.  Unsur ini perlu ditafsir bagi menghayati makna yang sebenar.  Tuntutan untuk melaksanakan tafsiran bagi menemukan makna ini memberi implikasi bahawa kesusasteraan memiliki sifat zahir dan batin atau yang tersurat dan yang tersirat  (Hashim Awang, 2002).


Muhamad Haji Salleh (1999), memberi pandangan bahawa manusia Melayu membaca dan mentafsir kejadian alam untuk memahami sesuatu yang telah berlaku atau sesuatu yang akan berlaku (ramalan).  Alam sering dilihat seperti mengetahui perasaan manusia dan menyebelahinya dalam menyediakan tanda, memberi peringatan atau pun merayakan sesuatu peristiwa dan keadaan.  Alam membayangkan kebenaran.  Maka bayangan ini selalu dicari oleh pemikir dan pengarang untuk dipindahkan ke dalam karya mereka.  Misalnya, unggas atau ayam akan berbunyi menandakan sesuatu (seperti manusia dan bukan manusia) akan datang dan terbit waktu fajar  pada waktu subuh.


Mengikut Za’ba (1934)  perlambangan atau teknik yang sengaja menyamarkan citra dan makna adalah salah satu teknik utama sastera Melayu yang bukan sahaja digunakan dalam pantun tetapi juga dalam naratif yang lain.  Menurut pendapat Pendeta ini, hal ini demikian kerana dalam pemikiran sastera, sekurang-kurangnya pantun, hikayat dan beberapa bentuk yang berkaitan, sesuatu yang lebih  misterius.  Oleh itu, segala-galanya akan lebih mencabar akal fikiran khalayaknya.


Peranan Pantun

Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.


Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berpikir dan bermain-main dengan kata. Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.


Struktur pantun

Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.


Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi kadang-kadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sebagai contoh dalam pantun di bawah ini:

Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh

Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-6 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 14 Pengertian Puisi Menurut Para Ahli Terlengkap


Pengertian Pantun Menurut Para Ahli

Ada beberapa pengertian pantun menurut para ahli yang antara lain yaitu:

Menurut Herman J Waluyo “2005:32”

Pantun merupakan puisi melayu asli yang sudah mengakar lama di budaya masyarakat.


Menurut Kaswan Dan Rita “2008:77”

Pantun merupakan jenis puisi melayu lama yang satu baitnya terdiri atas empat larik dan bersajak a-b-a-b, larik pertama dan kedua berupa sampiran, sedangkan larik ketiga dan keempat berupa isi sampiran tidak berisi maksud hanya diambil rima persajaknya, jadi hendak membuat pantun, sebaiknya membuat dulu isinya kemudian menyusul sampirannya.


Menurut Edi Dan Farika “2008:89”

Pantun merupakan bentuk puisi lama yang dikenal luas dalam berbagai bahasa di nusantara, dalam bahasa Jawa pantun dikenal sebagai parikan, sedangkan dalam bahasa sunda pantun dikenal sebagai paparikan.


Menurut Alisyahbana “2004:1”

Pantun merupakan puisi lama yang sangat dikenal oleh orang dulu atau sangat dikenal pada masyarakat lama. Pantun memiliki ciri-ciri seperti tiap bait terdiri dari empat baris dan setiap baris terdiri atas 4-6 kata atau 8-12 suku kata. Dimana baris pertama dan kedua disebut dengan sampiran dan baris ketiga dan keempat disebut dengan isi.


Menurut Hidayat “2010:1”

Pantun merupakan salah satu jenis puisi melayu lama yang secara luas dikenal di tanah air kita.


Menurut Sunarti “2005:11”

Pantun sebagai salah satu bentuk puisi lama, memiliki keindahan tersendiri dari segi bahasa, yang salah satu keindahan bahasa dalam pantun ditandai oleh rima a-b-a-b.


Menurut R.O. Winsted

Pantun tidaklah sebatas gubahan suatu kalimat yang mempunyai rima serta irama, namun ialah sebuah rangkaian kata yang indah untuk melukiskan suatu kehangatan cinta, kasih saying serta rindu, dendam, penuturnya.


Menurut Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “2008:1016”

Pantun ialah suatu bentuk puisi Indonesia “melayu”, tiap bait “kuplet” terdiri dari sebuah empat baris yang bersanjak “a-b-a-b”, pada tiap larik biasanya terdiri atas sebuah empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk suatu tumpuan “sampiran” saja sedangkan pada beris ketiga dan keempat ialah isi; pribahasa sindiran.


Menurut Dr. R. Brandstetter

Menurut Dr. R. Brandstetter menyatakan bahwa pantun berasal dari akar kata tun, yang terdapat dalam berbagai bahasa di Nusantara, misalnya dalam sebuah bahasa Pampanga, tuntun bermakna teratur, didalam bahasa Tagalog, tonton bermakna bercakap sesuai dengan aturan tertentu, dalam bahasa Jawa Kuno, tuntun yang artinya benang dan atuntun yang berarti teratur serta metuntun yang artinya memimpin. Dalam bahasa Toba pantun yang artinya kesopanan atau kehormatan dalam bahasa Melayu pantun yang artinya quatrain yaitu sajak berbaris empat dengan rima a-b-a-b, sedangkan dalam bahasa sunda, pantun yang artinya cerita panjang yang bersanjak dan diiringi dengan musik.


Menurut Surana “2010:31”

Menurut Surana “2010:31” menyatakan bahwa pantun ialah sebuah bentuk puisi lama yang terdiri atas empat larik, yang berima silang “a-b-a-b”, larik pertama dan kedua disebut dengan sampiran atau bagian objektis, yang biasanya berupa sebuah lukisan alam atau hal apa saja yang dapat diambil sebagai suatu kiasan, larik ketiga dan keempat dinamakan isi atau bagian dari subjektif.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Teks Ulasan, Contoh, Ciri, Tujuan, Struktur Dan Kaidahnya


Jenis Pantun

Menurut Effendi (1983:29), pantun dapat dibagi menurut jenis dan isinya yaitu:

1. pantun anak-anak,

berdasarkan isinya dapat dibedakan menjadi:
a. pantun bersukacita
b. pantun berdukacita
c. pantun jenaka atau pantun teka-teki

2. pantun orang muda,

berdasarkan isinya dapat dibedakan menjadi:
a. pantun dagang atau pantun nasib
b. pantun perkenalan
c. pantun berkasih-kasihan
d. pantun perceraian

3. pantun orang tua,

berdasarkan isinya data dibedakan menjadi:
a. pantun nasihat
b. pantun adat
c. pantun agama


Klasifikasi dan Ciri Pantun

Ada beberapa jenis-jenis pantun yang diantaranya yaitu:

Berdasarkan Siklus Kehidupan Atau Usia

  • Pantun anak-anak yaitu salah satu jenis pantun yang berhubungan dengan suatu kehidupan masa anak-anak. Pada pantun anak-anak dapat bermakna sebuah suka cita ataupun duka cita.
  • Pantun Orang Muda yaitu salah satu jenis pantun yang masih berhubungan dengan sebuah kehidupan masa muda. Pantun orang muda memiliki makna tentang sebuah perkenalan, asmara, perasaan dan sebagainya.
  • Pantun Orang Tua yaitu salah satu jenis pantun yang berhubungan dengan sebuah keadaan pada masa tua, yang biasanya pantun ini akan membahas mengenai sebuah kebudayaan, agama, nasihat dan sebagainya.

Berdasarkan Isinya

  • Pantun Jenaka yaitu jenis pantun ini yang berisikan tentang suatu hal yang lucu serta menarik.
  • Pantun Nasihat yaitu salah satu jenis pantun yang berisikan mengenai suatu nasihat, pantun ini memiliki tujuan untuk mendidik dengan memberikan berbagai sebuah nasihat mengenai moral, budi perkerti dan sebagainya.
  • Pantun Teki-Teki yaitu salah satu jenis pantun yang berisikan tentang sebuah teka-teki dan bisanya pendengar diberi kesempatan untuk menjawab dari sebuah teka-teki pantun tersebut.
  • Pantun Kiasan yaitu jenis pantun ini yang berisikan mengenai sebuah kiasan yang biasanya memiliki tujuan untuk menyampaikan suatu hal yang secara tersirat.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 105 Nama Tarian Daerah Tradisional Di Indonesia Beserta Gambar Dan Asalnya


Contoh Pantun dan Penjelasannya

Berikut merupakan makna dan nilai- nilai luhur yang terkandung dalam pantun nusantara.Penggalian makna pantun dibagi berdasarkan jenis pantun.

  1. Pantun anak-anak, berdasarkan isinya dapat dibedakan menjadi:

  • Pantun bersukacita: Pantun yang mengungkapkan perasaan suka cita orang tersebut. Dilontarkan dalam situasi yang suka cita.Dituturkan agar orang yang mendengarnya ikut merasakan suka cita.

Burung merpati burung dara
Terbang menuju angkasa luas
Hati siapa takkan gembira
Karena aku telah naik kelas

Pantun tersebut menggambarkan kegembiraan hati anak-anak yang berhasil naik kelas.Penyampaian pantun itu tentunya dalam suasana yang suka cita.Apabila pantun tersebut dilayangkan, tentu saja membuat yang mendengar merasa turut bersuka cita.


  • Pantun berdukacita: Pantun yang mengungkapkan kesedihan seseorang. Pantun ini juga dilontarkan oleh seseorang untuk menghapus suasana duka cita yang ada.

Memetik manggis di kota Kedu
Membeli tebu uangnya hilang
Menangis adik tersedu-sedu
Mencari ibu belum juga pulang

Pantun tersebut mewakilkan perasaan anak yang ditinggal oleh orang tuanya.Pantun tersebut dilayangkan dalam situasi yang sedih. Biasanya, anak yang ditinggal orang tuanya tentu akan merasa sedih, dan mungkin mereka bisa mengungkapkannya dalam bentuk pantun.


  • Pantun jenaka atau pantun teka-teki: Pantun jenaka atau pantun teka teki merupakan pantun yang bertujuan untuk menghibur orang yang mendengar, terkadang dijadikan sebagai media untuk saling menyindir dalam suasana yang penuh keakraban, sehingga tidak menimbulkan rasa tersinggung, dan dengan pantun jenaka diharapkan suasana akan menjadi semakin riang.

Pohon mangis di tepi rawa
Tempat nenek tidur beradu
Sedang menangis nenek tertawa
Melihat kakek bermain gundu

Masyarakat terdahulu menggunakan pantun sebagai media pelipur lara atau menia hiburan. Dapat dilihat dari pantu tersebut, tujuannya juga untuk menambah keakraban penutur dengan pendengarnya.


  1. Pantun orang muda, berdasarkan isinya dapat dibedakan menjadi:

  • Pantun dagang atau pantun nasib: Pantun dagang atau pantun nasib merupakan rangkaian kata-kata yang merefleksikan nasib atau keadaan seseorang. Pantun ini biasanya dinyanyikan/dibacakan oleh orang-orang yang berada di perantauan jika mereka ingat akan kampung halamannya atau nasibnya yang tak seberuntung temannya.

Tudung saji hanyut terapung
hanyut terapung di air sungai
Niat hati hendak pulang kampung
apa daya tangan tak sampai

Pantun diatas menggambarkan bagaimana orang yang merantau, berada jauh dari kampung halamannya, sangat merindukan kampungnya.Disini tergambar bahwa masyarakat daerah merantau untuk mencari uang ataupun belajar, jauh dari keluarga, namun mereka tak lupa dengan tempat asal mereka.Mereka bertahan di tempat rantau demi mencapai tujuan.


  • Pantun perkenalan: Pantun yang berisi ungkapan untuk mengenal seseorang dan ucapannya berupa pantun.

Dari mana hendak kemana 
Manggis dipetik dengan pisau 
Kalau boleh kami bertanya 
Gadis cantik siapa namamu

Pantun tersebut menggambarkan bagaimana keinginan seseorang untuk berkenalan dengan orang yang ditemuinya. Dalam hal ini, kearifan local yang dapat ditemui yakni masyarakat sangat gemar membuka tali pertemanan, suka mengenal satu sama lain. Apabila ia bertemu dengan seseorang yang menarik perhatiannya, ia akan menanyakan hal awam untuk menjalin tali pertemanan, agar mereka menjadi lebih akrab.


  • Pantun berkasih-kasihan: Pantun yang berisi ungkapan yang ditujukan pada orang yang dicintainya.

Jalan lurus menuju Tuban 
Terus pergi mengangkat peti
Badan kurus bukan tak makan 
Kurus memikir si jantung hati

Pantun tersebut dituturkan oleh seseorang kepada pasangannya.Pantun berkasih-kasihan berisikan hal yang ingin diungkapkan kepada pasangan, atau pun sebagai sarana untuk merayu pasangannya.Pantun tersebut menggambarkan rasa cinta seseorang terhadap pasangannya dan membuat ungkapan yang berlebihan bahwa badannya kurus karena memikirkan kekasihnya. Hal tersebut tentunya akan membuat sang kekasih merasa tersentuh dan kenambah keharmonisan hubungan.


  • Pantun perceraian: Pantun yang berisi ucapan perpisahan atau perceraian. Pantun ini dilontarkan ketika kedua pasangan sedang memiliki masalah dan mungkin berniat untuk berpisahataupun diputuskan hubungannya.

Jaga tugu di tengah jalan 
Menjala ikan mendapat kerang 
Tega nian aku kau tinggalkan 
Hidup di dunia hanya seorang

Pantun perceraian tersebut menggambarkan kegundahan seseorang karena ditinggal oleh pasangannya.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 101 Pengertian Dan Definisi Hak Cipta Menurut Para Ahli


  1. Pantun orang tua, berdasarkan isinya data dibedakan menjadi:

  • Pantun nasihat:  Rangkaian kata-kata yang mempunyai makna mengarahkan atau menegur seseorang untuk menjadi lebih baik.Pantun nasehat dari jaman ke jaman mengalami perkembangan, pada awal mulanya pantun hanyalah karya lisan yang spontan terucap dari orang yang kreatif.

Bau paku sedin telabah
Buaq randu masak odaq
Pacu-pacu pada sekolah
Jari sangu sak uwah toak

Memetik paku dekat selokan
Buah kapuk matang muda
Rajin-rajinlah bersekolah
Jadi bekal ketika tua


  • Pantun adat:  pantun yang menggunakan gaya bahasa bernuansa kedaerahan dan kental akan unsur adat kebudayaan tanah air. jenis pantun ini bertutur lebih kepada kearifan lokal dimana pantun adat tersebut beredar,masing masing daerah di Nusantara ini pasti memiliki pantun adat yang berbeda beda.

Menanam kelapa di pulau Bukum
Tinggi sedepa sudah berbuah
Adat bermula dengan hukum
Hukum bersandar di Kitabullah


Pantun tersebut jelas menggambarkan adat istiadat melayu dimana hukumnya berujung atau bermula dari kitabullah atau alquran.Kearifan local yang terkandung yakni tentang aturan adat yang bertumpu pada alquran. Sebagian besar orang Indonesia memeluk agama islam. Aturan adat yang ada tentunya merujuk pada ajaran islam.


  • Pantun agama: pantun yang didalamnya mengandung kata-kata nasehat atau petuah yang memiliki makna mendalam sebagai sebuah pedoman dalam menjalani hidup, yang biasanya berisi kata kata yang bisa mendorong kita untuk berbuat yang tidak melanggar aturan agama baik untuk kepentingan diri maupun bagi orang lain.

Aqu lalo beli tembage
Te ngadu ngelim parang
Lamun mele tame surge
Girang-girang ngaji sembahyang

Saya pergi beli tembaga
Saya pakai untuk merekatkan parang
Apabila ingin masuk surge
Sering-sering mengaji dan sembahyag

Dari baris pertama dan kedua memiliki keterhubungan yang saling berkaitan. Keterhubungan antara baris pertama dengan baris kedua sangat erat, karena pada baris pertama menjelaskan mengenai apa yang digunakan, sedangkan baris kedua menjelaskan mengenai sebab. Sehingga sampiran pada lelakaq ini merupakan keterhubungan sebab-akibat antara baris pertama dan baris kedua.


Selanjutnya pada isi lelakaq kalimat pada baris ketiga berbunyi “lamun mele tame surge”. Apabila dilihat secara kata perkata, maka kata ”lamun” berarti kalau, kata “mele” berarti ingin, dan kata “surge” berarti surga. Dari kata tersebut maka arti seluruhnya pada kalimat di baris ketiga ini adalah “ kalau ingin masuk surga”. Kata-kata tersebut dapat dilihat dari artinya akan memiliki makna yang sangat luas dan mendalam. Dari hal tersebut maka akan lebih mudah untuk menggali makna sebenarnya dari kalimat lelakaq pada baris ketiga ini.


Dan kalimat pada baris keempat pada lelakaq tersebut berbunyi “girang-girang ngaji sembahyang”. Apabila diartikan secara kata-perkata, maka kata “girang-girang” berarti sering-sering, kata “ngaji” berarti membaca Al-Quran, dan kata“sembahyang” dapat berarti sholat. Maka apabila diartikan secara sepenuhnya maka dapat diartikan “ sering-sering membaca Al-Quran dan sholat. Kalimat tersebut sesuai dengan apa yang dipaparkan oleh kalimat pada baris ketiga tersebut. Sehingga dari hal tersebut maka secara arti kata maka kalimat pada baris ketiga dan keempat sesuai dan saling berhubungan.

Kearifan lokal yang terkandung dalam Lelakaq ini jelas sekali mengenai ajaran agama. Pesan yang terkandung yaitu apabila kita ingin masuk surga, sering-seringlah kita mengaji (Membaca Alquran) serta Sembahyang (Shalat lima waktu dan shalat sunnah). Dari lalekaq tersebut jelas sekali terlihat bahwa masyarakat sasak sebagian besar merupakan pemeluk agama yang kuat.Mereka menanamkan nilai-nilai agama dalam banyak pantun mereka. Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir.Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar.Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.

Daftar Pustaka
Ghawa, John. 2006. Kebijakan dalam 1001 Pantun. Cetakan 2. Jakarta: Kompas Media Nusantara
Abdul Rani, Supratman. 2006. Intisari Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
Effendy, M. Ruslan. 1983. Selayang Pandang Kesusastraan Indonesia. Surabaya: PT. Bina Ilmu.
Surana. 2001. Pengantar Sastra Indonesia. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Suroto. 1989. Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Tim Redaksi. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: Gramedia dan Departemen Pendidikan Nasional.
WWW.WIKIPEDIA.ORG