105 Nama Tarian Daerah Tradisional Di Indonesia

Diposting pada

Negara Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia serta memiliki sekitar 13.466 pulau. Indonesia ada pada kawasan Asia Tenggara serta diantara 2 benua, yakni benua Asia dan Australia. Selain itu juga Indonesia berada diantara 2 benua, negara ini dilintasi oleh garis khatulistiwa. Di tahun 2000 Indonesia mempunyai jumlah populasi sebanyak 237 juta jiwa, sebagai besar dari penduduk menanut agama Islam atau muslim. Indonesia juga memiliki negara dengan penduduk Muslim terbesar yang ada di dunia.

Nama-Tarian-Daerah-Tradisional-Di-Indonesia

Indonesia merupakan negara yang mempunyai beragam kekayaan budaya, dan salah satunya yaitu tarian. Banyak tarian daerah yang tersebar disemua provinsi di Indonesia. Masing-masing dari daerah mempunyai ciri khas tariannya.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Seni Rupa Murni Gambar Dan 10 Contohnya [Lengkap]


Lihat Daftar Inti Pelajaran :

105 Nama Nama Tarian Daerah Beserta Gambar dan Asalnya

Berikut ini adalah jenis-jenis tarian yang ada di seluruh daerah Indonesia.

  • 1. Tari Seudati (Aceh )

Tarian-Daerah-Aceh

Tarian Seudati merupakan tarian yang berasal dari Daerah Istimewa Aceh, tarian ini pada awalnya adalah tarian yang ada di negara-negara Arab dengan latar belakang Islam. Tarian ini sangat populer dan dicintai oleh orang-orang di daerah asalnya. Kombinasi tarian yang memiliki gerakan dinamis dan dipadukan dengan keseimbangan dengan atmosfer yang kental dengan nuansa religius.

  • 2. Tari Saman (Aceh )

Tarian-Daerah-Aceh-Saman

Tarian saman merupakan contoh tarian milik Negara Indonesia yang telah menarik perhatian masyarakat dunia. Tarian ini juga kental dengan puisi-puisi religius, tarian-tarian yang memiliki koreografi dalam posisi duduk bersamaan dengan gerakan tangan semua penari yang selaras membuat tarian ini memiliki visualisasi yang nyaman untuk dilihat. Tarian ini juga diiringi dengan puisi yang diisi dengan pesan-pesan agama seperti ajaran kebajikan, dan tarian lainnya, makna tarian saman juga sangat baik untuk masyarakat.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Seni Teater : Pengertian, Sejarah, Contoh, Gambar, Ciri, Jenis, Fungsi, Unsur

  • 3. Tari Legong (Bali)

Tarian-Daerah-Bali

Tarian logong merupakan seni tari yang berasal dari daerah Bali, tarian ini adalah tarian yang memiliki latar belakang kisah kisah cinta raja dali lasem, taria ini dipentaskan secara dinamis sehingga dapat memikat hati para penonton.

  • 4. Tari Kecak (Bali)

Tarian-Daerah-Bali-Kecak

Tarian kecak adalah tarian yang sangat terkenal dari Pulau Dewata Bali, tarian ini bercerita tentang tokoh-tokoh pewayangan bala tentara monyet dan Hanoman yang berasal dari kitab Ramayana, di mana pertunjukan diadakan saat matahari terbenam sehingga memiliki perasaan yang sangat eksotis ditambah dengan alam. . keindahan pulau Bali. Tari kecak adalah salah satu budaya Indonesia yang mendunia.

  • 5. Tari Pendet (Bali)

Tarian-Daerah-Bali-Pendet

Tarian pendet, tarian tradisional dari Bali, pada awalnya merupakan pemujaan di pura, tempat pemujaan bagi umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan sambutan dari turunnya para dewa ke dunia. Lambat laun, seiring waktu, seniman Bali mengubah Pendet menjadi “salam selamat datang”, meskipun mereka masih mengandung unsur-unsur suci agama. Pencipta / koreografer bentuk tarian modern ini adalah I Wayan Rindi. Tarian pendet pernah menjadi kekayaan budaya Indonesia yang diklaim oleh negara tetangga yaitu Malaysia.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Seni Lukis : Pengertian, Teknik, Unsur, Aliran Serta 20 Contohnya


  • 6. Tari Adun (Bengkulu)

Tarian-Daerah-Bengkulu

Tarian Andun adalah salah satu tarian tradisional dari daerah Bengkulu. Tarian Andun biasanya dilakukan selama pernikahan, pertempuran, atau acara tradisional lainnya. Tarian ini biasanya dilakukan di pesta pernikahan, yaitu saat menyambut pengantin wanita. Namun, pada masa muda tarian ini masih sangat umum karena pada acara pernikahan pertunjukan musik biasanya lebih diinginkan daripada mempertahankan kebiasaan mereka sendiri. Itulah sebabnya tarian tradisional yang satu ini punah di kalangan anak muda.


Tarian ini diiringi oleh alat musik tradisional, yaitu kolintang dan redap. Tidak sembarang orang bisa menari tarian ini, ada kriteria tertentu yang digunakan. Misalnya, dalam acara-acara tradisional, ketika menari berpasangan, penari yang dipilih harus lajang dan perempuan atau belum menikah dan tidak terkait dengan darah atau kerabat. Jika ada orang yang menyembunyikan status kekerabatannya, akan ada hukum adat yang berbicara.


  • 7. Tari Bidadari Teminang Anak (Bengkulu)

Tarian-Daerah-Bengkulu-Bidadari

Tarian Bidadari Teminang Anak adalah salah satu tarian tradisional klasik yang berasal dari Rejang Lebong, Bengkulu. Tarian ini sering dipertunjukkan di berbagai kegiatan / acara di Bengkulu, misalnya saat menyambut tamu agung, tamu negara, upacara pernikahan dan acara lainnya.


Tarian Bidadari Teminang Anak dari Bengkulu menggambarkan seorang malaikat yang turun dari surga ke bumi untuk mengangkat seorang anak. Memiliki makna, antara lain, berkah yang datang dari surga pada manusia di bumi.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Seni Patung” Pengertian & ( Jenis – Fungsi – Bentuk – Teknik )


  • 8. Tari Topeng Betawi (DKI Jakarta)

Tarian-Daerah-Jakarta

Tari Topeng Betawi marupakan tarian tradisional masyarakat Betawi di Jakarta yang menggunakan topeng sebagai ciri khasnya. Tarian ini merupakan kombinasi antara tarian, musik dan nyanyian. Seperti pertunjukan teater atau opera, penari menari dengan suara musik dan nyanyian. Tarian Topeng Betawi lebih bersifat teatrikal dan komunikatif melalui gerakan.


Tari Topeng Betawi pada awalnya dilakukan oleh seniman. Mereka biasanya diundang sebagai penghibur dalam acara-acara seperti pernikahan, sunat, dan lainnya. Menurut kepercayaan orang Betawi, tarian ini dapat menjauhkan diri dari bencana. Namun seiring dengan perkembangan zaman, kepercayaan mulai memudar dan menjadikan tarian ini hanya hiburan di acara tersebut. Tetapi meskipun kepercayaannya mulai menghilang, tarian ini diadakan untuk memeriahkan pesta atau acara tradisional.


  • 9. Tari Yopong (DKI Jakarta)

Tarian-Daerah-Jakarta-Yopong

Tarian Yapong adalah bentuk tarian dari Jakarta yang diciptakan untuk pertunjukan. Tarian ini bukan jenis tarian sosial seperti kebanyakan tarian daerah, seperti tarian Jaipong dari Jawa Barat. Namun dalam perkembangannya, tarian ini sering digunakan sebagai tarian sosial untuk mengisi suatu acara sesuai permintaan karena tarian tersebut penuh dengan variasi di dalamnya.


Tarian ini adalah tarian yang senang dengan gerakan dinamis dan eksotis. Dalam gerakan tarian Yapong, suasana gembira diungkapkan karena menyambut kedatangan Pangeran Jayakarta. Adegan itu disebut Yapong dan tidak mengandung makna apa pun. Istilah ini muncul dari sebuah lagu yang mengatakan ya, ya, ya, ya, dinyanyikan oleh penyanyi yang menyertainya dan suara musik yang terdengar pong, pong, pong, sehingga “ya-pong” lahir, yang semakin berkembang menjadi Yapong.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 7 Pengertian Seni Musik Menurut Para Ahli Terlengkap


  • 10. Tari Sekapur Sirih (Jambi)

Tarian-Daerah-Jambi

Tari Sekapur Sirih adalah tarian selamat datang untuk tamu besar di Jambi, Kepulauan Riau, dan Provinsi Riau. Tarian ini juga terkenal di Malaysia sebagai tarian wajib untuk tamu besar. Keagungan dalam gerakan lembut dan halus berpadu dengan iringan musik dan puisi yang ditujukan untuk para tamu.


Menyambut dengan wajah putih jernih menunjukkan keramahan untuk para tamu terhormat. Tarian ini menggambarkan perasaan hati yang putih dalam menyambut tamu. Umumnya ditarikan oleh 9 penari wanita, dan 3 penari pria, 1 orang bertugas membawa payung dan 2 penjaga.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Drama Menurut Para Ahli, Bentuk, Unsur, Ciri Dan Contohnya


  • 11. Tarian Selampit Delapan (Jambi)

Tarian-Daerah-Jambi-Selampit-Delapan

Tarian Selampit Delapan adalah tarian tradisional yang berasal dari Provinsi Jambi. Tarian ini pertama kali diperkenalkan oleh M. Ceylon, seorang koregrafer senior yang lahir di Padang Sidempuan (1940) yang bertanggung jawab atas Dinas Kebudayaan Provinsi Jambi pada tahun 1970-an. Tinggal di Kota Jambi.

Lebih banyak kegiatan di bidang budaya membuatnya berhasil menangkap pesan-pesan kearifan masyarakat yang kemudian diolah menjadi sebuah karya seni yang disebut Tari Selampit Delapan dan dimainkan oleh delapan penari. Dalam perkembangannya, tarian itu kemudian ditentukan menjadi salah satu tarian khas Provinsi Jambi.


  • 12. Tari Topeng Kuncaran (Jawa Barat)

Tarian-Daerah-Jawa-Barat

Tari Topeng Kuncaran merupakan salah satu tarian yang menceritakan balas dendam seorang raja karena cintanya ditolak. Tarian topeng ini juga merupakan salah satu jenis tarian topeng yang berbeda dari tarian topeng dari daerah Jakarta.


  • 13. Tari Merak (Jawa Barat)

Tarian-Daerah-Jawa-Barat-Merak

Tarian merak adalah salah satu dari berbagai tarian kreatif baru yang mengekspresikan kehidupan binatang, yaitu burung merak. Prosedur dan gerakan diambil dari kehidupan burung merak yang diambil di atas panggung oleh Seniman Sunda Raden Tjetje Somantri.

Merak adalah binatang seukuran ayam, bulunya halus dan kepalanya memiliki mahkota. Kehidupan seekor merak yang selalu mengembangkan bulu ekor untuk menarik seekor merak betina menginspirasi R. Tjetje Somantri untuk membuat tarian Merak ini.


  • 14. Tari Serimpi (Jawa Tengah)

Tarian-Daerah-Jawa-Tengah

Srimpi merupakan presentasi tarian Jawa klasik dari tradisi istana Kesultanan Mataram dan terus dipertahankan dan dikembangkan hingga sekarang oleh empat istana pewaris di Jawa Tengah (Surakarta) dan Yogyakarta.

Penyajian tarian panggung ditandai oleh empat penari yang melakukan gerakan anggun yang menggambarkan kerendahan hati, kehalusan, dan kelembutan yang ditunjukkan dari gerakan lambat dan anggun diiringi oleh musik gamelan. Srimpi dianggap memiliki posisi sosial yang mirip dengan tarian Pakarena dari Makassar, yang dapat dilihat dari kelembutan gerakan penari dan sebagai tarian istana.


  • 15. Tari Bambangan Cakil (Jawa Tengah)

Tarian-Daerah-Jawa-Tengah-Cakil

Tari Bambangan Cakil adalah tarian klasik di Jawa, terutama di Jawa Tengah. Tarian ini sebenarnya diadopsi dari salah satu adegan dalam pertunjukan Wayang Kulit, adegan Perang Bunga. Tarian ini menceritakan tentang perang antara ksatria dan raksasa.

Ksatria merupakan karakter yang halus dan lembut, sementara raksasa menggambarkan karakter yang kasar dan kasar. Dalam pertunjukan wayang kulit, adegan perang bunga ini biasanya terjadi di tengah atau di Pathet Sanga. Perang antara para ksatria (Bambangan) melawan raksasa sangat atraktif, dalam adegan ini juga bisa dijadikan tempat penilaian bagi seorang dalang dalam menggerakkan wayang.


  • 16. Tari Remo (Jawa Timur)

Tarian-Daerah-Jawa-Timur

Tarian remo merupakan tarian untuk menyambut tamu di Jember, yang ditampilkan oleh satu atau lebih. Tarian ini berasal dari Provinsi Jawa Timur.

Tarian remo berasal dari Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tarian ini berasal dari kecamatan Diwek. Di desa Ceweng, tarian ini diciptakan oleh orang-orang yang bekerja sebagai penari jalanan saat itu, memang ada banyak profesi di Jombang, sekarang tarian ini akhirnya menjadi tarian yang digunakan sebagai pengantar tarian ludruk. Namun, pada awal tarian itu sering menari secara terpisah sebagai ucapan selamat datang untuk tamu daerah, menari dalam upacara kenegaraan, serta di festival seni daerah.


  • 17. Tari Reog (Ponorogo, Jawa Timur)

Tarian-Daerah-Jawa-Timur-Reog

Reog merupakan salah satu seni budaya yang berasal dari barat laut Jawa Timur dan Ponorogo yang dianggap sebagai kota asli Reog. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh tokoh-tokoh warok dan gemblak, dua tokoh yang berpartisipasi dalam pertunjukan reog. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal mistis dan mistisisme yang kuat.

Reog modern biasanya dilakukan dalam beberapa acara seperti pernikahan, sunat dan hari libur nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari serangkaian 2 sampai 3 tarian pembuka. Tarian pertama biasanya dilakukan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan wajah merah dipoles. Penari ini menggambarkan sosok singa pemberani. Selanjutnya adalah tarian yang dilakukan oleh 6-8 gadis menunggang kuda.


  • 18. Tari Monong (Kalimantan Barat)

Tari Monong

Tari Monong merupakan tarian tradisional suku Dayak di Kalimantan barat. Tari Monong juga sering di sebut sebagai tari manang. Tarian ini merupakan tarian penyembuhan atau tarian penolak penyakit yang di lakukan saat warganya terkena penyakit.

Tarian Monong awalnya merupakan tarian penyembuhan yang di lakukan oleh para dukun suku Dayak dengan membacakan mantra sambil menari. Dalam tarian ini juga di ikuti oleh anggota keluarga dari yang sakit dan di pimpin oleh seorang dukun. Tarian Monong merupakan ritual yang di lakukan untuk memohon penyembuhan kepada Tuhan agar warga yang sakit di berikan kesembuhan. Namun seiring dengan perkembangan jaman, tarian ini tidak hanya di gunakan sebagai tarian penyembuhan saja, namun juga sebagai sarana hiburan sebagai pelestarian kesenian tradisional suku Dayak.


  • 19. Tari Zapin Tembung (Kalimantan Barat)

Tari Zapin Tembung

Zapin berasal dari bahasa Arab, yaitu “Zafn” yang berarti gerakan kaki cepat setelah pukulan. Diperkirakan berasal dari Yaman, Zapin adalah harta keluarga tari Melayu yang memiliki pengaruh Arab. Tarian tradisional ini mendidik dan menghibur dan digunakan sebagai media dakwah Islam melalui puisi lagu-lagu zapin yang dinyanyikan.

Musik yang menyertainya terdiri dari dua instrumen utama, yaitu instrumen string dan tiga instrumen perkusi gendang kecil yang disebut marwa. Sebelum tahun 1960, zapin hanya ditarikan oleh penari pria tetapi sekarang digunakan untuk tarian oleh penari wanita dan bahkan penari campuran dengan pria dan wanita.


  • 20. Tari Baksa Kumbang (Kalimantan Selatan)

Tari Baksa Kumbang

Tari Baksa Kembang merupakan tarian klasik yang pernah muncul dan berkembang di istana Banjar. di istana di Banjar, tarian Paksaan Bunga dipentaskan oleh Puti-Putri Istana. Seiring waktu, tarian mulai menyebar ke seluruh pelosok Banjar Keraton dan ada Galuh dari Istana Banjar.

Tarian ini ditampilkan dengan tujuan untuk menghibur keluarga kerajaan dan menghadirkan kedatangan tamu-tamu hebat dari negara-negara tetangga. Pada saat ini fungsi tariannya tidak jauh berbeda, yaitu untuk menyambut tamu pra-nasional atau mengunjungi penduduk. pesta keluarga, seperti pernikahan, sunat dan sebagainya.


  • 21. Tari Radap Rahayu (Kalimantan Selatan)

Tari Radap Rahayu

Tari Radap Rahayu merupakan seni klasik dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tarian ini adalah salah satu tarian untuk menyambut tamu sebagai tanda penghormatan. Nama Tari Radap Rahayu diambil dari kata radap atau beradap – adap yang artinya bersama atau berkelompok. Sedangkan rahayu berarti kebahagiaan atau kemakmuran.

Tarian ini awalnya adalah salah satu tarian ritual untuk komunitas Banjarmasin. Tarian ini adalah tarian penolak untuk meminta keselamatan dari semua bahaya. Tarian Radap Rahayu pada awalnya hanya ditampilkan dalam acara-acara tradisional seperti pernikahan, kehamilan, kelahiran dan juga acara kematian. Namun seiring dengan perkembangan tarian ini tidak hanya untuk acara ritual, tetapi juga sebagai hiburan komunitas.


  • 22. Tari Tambun dan Bungai (Kalimantan Tengah)

Tari Tambun dan Bungai

Tari Tambun dan Bungai adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tarian ini menceritakan kisah kepahlawanan Tambun dan Bungai dalam mengusir musuh yang akan mengambil panen dari rakyat.

Tambun dan Bungai adalah saudara laki-laki dari saudara laki-laki ayah mereka. Keduanya memiliki karakter dan sifat yang sama. Mereka juga memiliki orang-orang yang cerdas, ramah, lembut, suka menolong, sedikit menerima memberi, bijaksana, ringan tangan, dan juga tidak menyerah untuk membela kebenaran.


  • 23. Tarian Balean Dadas (Kalimantan Tengah)

Tarian Balean Dadas

Tarian Balean Dadas merupakan tarian tradisional yang berasal dari komunitas Dayak dengan budaya suku Dayak yang fenomenal, Kalimantan Tengah. Apa yang biasanya ditunjukkan adalah meminta kesembuhan dari Sang Pencipta (surga Ranying Hatala) bagi mereka yang menderita kesakitan.

Tarian ini dimainkan oleh dukun perempuan. Tarian ini adalah tarian pelengkap selama ritual penyembuhan, tetapi saat ini dilestarikan sebagai budaya Indonesia. Banyak anak muda mempelajari tarian ini untuk mempertahankan keberadaan budaya karena ada banyak cabang tarian yang indah.


  • 24. Tarian Gong (Kalimantan Tengah)

Tarian Gong

Tarian Gong atau bisa disebut Tarian Kancet Ledo merupakan tarian Dayak Kalimantan Timur, tepatnya dari suku Dayak Kenyah. Tarian ini ditarikan oleh seorang gadis dengan gong yang digunakan sebagai iringan musik. Tarian ini biasanya dipertunjukkan pada upacara penyambutan tamu agung atau upacara penyambutan untuk kelahiran bayi.

Gerakan dalam Tari Gong mengekspresikan kelembutan seorang wanita. Tarian ini mengekspresikan keindahan, kecerdasan, dan gerakan tarian yang lembut. Sesuai namanya tarian, tarian Gong ditarikan kepada Gong, diiringi oleh alat musik Sampe.


  • 25. Tari Perang (Kalimantan Tengah)

Tari Perang

Tarian perang merupakan tarian yang dilakukan oleh seseorang, dua orang, atau sekelompok orang dengan maksud menggambarkan semangat dan cara bertarung menggunakan tangan kosong atau senjata tradisional.

Tarian perang biasanya tidak dipersembahkan setiap saat, tetapi pada waktu-waktu tertentu seperti menyambut tamu-tamu penting, upacara ini memperingati perjuangan para leluhur, atau sebelum dan sesudah Suku Perang itu sendiri.


  • 26. Tari Jangget (Lampung)

Tari Jangget

Tarian Cangget adalah salah satu tarian tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Lampung dengan budaya pepadun. Pada tahun 1942 sebelum kedatangan Jepang ke Indonesia, Tari Cangget dilakukan untuk acara-acara gawi tradisional, seperti saat panen, upacara untuk membangun rumah atau untuk membawa orang-orang yang pergi ke haji. Namun sekarang Tari Cangget sering digunakan untuk mengiringi upacara pernikahan di mana ada juga pemberian gelar adat atau rumah kos.

Upacara mengendarai Pepadun memiliki makna dan filosofi yang mulia. Di mana seseorang yang telah diberi gelar diharapkan mampu dan mampu menjalankan kewajibannya dan menjadi panutan di lingkungannya.


  • 27. Tari Malinting (Lampung)

Tari Malinting

Tarian melinting merupakan tarian tradisional yang berasal dari daerah Lampung. Tarian ini adalah tarian klasik yang diwarisi dari Kerajaan Melinting di Lampung Timur. Tarian melinting digolongkan sebagai tarian tertua yang pernah ada, karena diperkirakan tarian ini sudah ada sejak masuknya Islam di Indonesia, terutama di wilayah Lampung itu sendiri.

Tarian ini biasanya dibawakan oleh penari pria dan penari wanita. Dan itu sering ditampilkan dalam berbagai acara baik acara tradisional maupun acara budaya yang diadakan di sana.


  • 28. Tari Lenso (Maluku)

Tari Lenso

Tarian Lenso merupakan salah satu tarian anak muda dari daerah Maluku dan Minahasa di Sulawesi Utara. Tarian ini biasanya ditampilkan sibuk ketika ada pesta. Pesta Pernikahan yang Baik, Panen Cengkeh, Tahun Baru dan kegiatan lainnya. Beberapa sumber mengatakan bahwa tarian lenso berasal dari tanah Maluku. Sementara sumber lain menyebut tarian ini berasal dari Minahasa.

Tarian ini juga merupakan tempat untuk menemukan jodoh bagi mereka yang masih lajang, di mana ketika lenso atau syal diterima adalah tanda cinta diterima. Lenso berarti Saputangan. Istilah Lenso hanya digunakan oleh orang-orang di Sulawesi Utara dan daerah lain di Indonesia Timur.


  • 29. Tari Cikalele (Maluku)

Tari Cikalele

Cakalele merupakan salah satu tarian perang tradisional Maluku yang pakai untuk menyambut tamu atau selama perayaan tradisional. Biasanya, tarian ini dibawakan oleh 30 pria dan wanita. Tarian ini dibawakan berpasangan dengan iringan musik gendang, seruling, bia (sejenis musik angin).

Penari pria biasanya memakai parang dan salawaku (perisai) sementara penari wanita menggunakan lenso (saputangan). Penari pria memakai kostum yang didominasi warna merah dan kuning, dan memakai tutup kepala aluminium yang disisipkan dengan bulu putih. Kostum celana merah untuk penari pria melambangkan kepahlawanan, keberanian, dan patriotisme Maluku.


  • 30. Tari lalayon (Maluku Utara)

Tari lalayon

Tarian lalayon adalah jenis tarian sosial Maluku Utara yang berisi pesan-pesan romantis dan tentu saja cinta. Karena alasan ini, tarian ini juga ditampilkan berpasangan dengan gerakan yang indah. Lagu yang menyertainya adalah lagu Melayu yang merupakan elemen penting untuk menciptakan suasana romantis sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat dilihat.

Tarian Maluku Utara ini dimulai dengan penari yang menembus ke tengah halaman dan mata para penari akan saling memandang seperti sepasang cinta. Penari pria kemudian akan menunjukkan gerakan seperti menggoda penari wanita dan penari wanita akan tersenyum sebagai tanda menerima godaan.


  • 31. Tari Salai Jin (Maluku Utara)

Tari Salai Jin

Tari Salai Jin merupakan tarian tradisional Maluku Utara yang berasal dari Ternate. Tarian ini digunakan oleh orang Ternate untuk berkomunikasi dengan jin gaib. Komunikasi bertujuan untuk meminta bantuan dari jin sehingga masalah yang dialami manusia dapat diselesaikan seperti penyakit yang diderita oleh satu anggota keluarga.


  • 32. Tari Gumatere (Maluku Utara)

Tari Gumatere

Tarian Gumatere merupakan salah satu tarian tradisional Morotai sebagai panduan ketika menghadapi masalah atau fenomena alam yang sedang terjadi. Tarian Maluku Utara ini umumnya dipertunjukkan oleh hingga 30 penari pria dan wanita. Untuk penari pria, mereka akan menggunakan pedang dan tombak sebagai properti dan untuk wanita mereka akan menggunakan lenso. Tarian ini terlihat lebih unik karena akan ada penari yang menggunakan kain hitam, imitasi dan lilin untuk melakukan ritual meminta instruksi.


  • 33. Tari Mpaa Lenggogo (Nusa Tenggara Barat (NTB))

Tari Mpaa Lenggogo (Nusa Tenggara Barat

Tari Mpaa Lenggogo adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Bima, NTB. Tarian ini dibagi menjadi dua jenis tarian, yaitu Tari Lenggo Melayu dan Tari Lenggo Mbojo. Tarian Lenggo Melayu ini adalah jenis tarian Lenggo yang dimainkan oleh penari pria, sedangkan tarian Lenggo Mbojo dimainkan oleh penari wanita. Tarian Lenggogo pada awalnya adalah tarian klasik yang muncul dan berkembang di lingkungan istana Kerajaan Bima, dan hanya ditampilkan pada acara-acara tertentu.


  • 34. Tari Batunganga ( Nusa Tenggara Barat, NTB)

Tari Batunganga

Tarian Nganga Batu Berasal Dari Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Tidak banyak referensi yang berbicara tentang tarian batu nganga, sehingga sangat sulit bagi penulis untuk menemukan bagian dari tarian ini. Tetapi dari hasil pencarian penulis hanya menemukan beberapa referensi untuk makalah ini, seperti di bawah ini.

Tarian Batu Nganga adalah tarian yang memiliki latar belakang tentang cerita rakyat. Dikatakan bahwa kisah itu menceritakan tentang cinta orang-orang terhadap putri raja yang memasuki batu dan permohonan mereka agar sang putri bisa keluar dari batu.


  • 35. Tari Perang (Nusa Tenggar Timur, NTT)

Tari Perang NTB

Tari Perang adalah permainan dansa perang antara sepasang penari pria yang bertarung dengan cambuk dan perisai di Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Penari bersenjatakan cambuk bertindak sebagai penyerang dan lainnya bertahan memakai perisai. Tarian ini dimainkan selama woja hang dan ritual tahun baru (penti), upacara pembukaan tanah atau upacara tradisional besar lainnya, dan diadakan untuk menyambut tamu penting.


  • 36. Tari Gareng Lameng (Nusa Tenggara Timur, NTT)

Tari Gareng Lameng

Tarian Gareng Lameng ini biasanya dilakukan pada upacara penyunatan. Dimana dalam upacara ini tarian sering dimasukkan di dalamnya untuk menambah acara sehingga menjadi lebih meriah dan berlangsung sangat baik sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat umum di NTT sendiri. Tarian ini sendiri dalam bentuk ucapan selamat dan memohon berkah dari Tuhan bahwa mereka yang disunat harus selalu sehat secara fisik dan mental dan juga sukses dalam hidup mereka. Tentu saja orang tua ingin melihat anak-anak mereka mendapatkan kelahiran batin dan kesehatan serta kesuksesan dalam kehidupan mereka sendiri.


  • 37. Tari Suanggi (Papua)

Tari Suanggi

Tari Suanggi merupakan salah satu tarian yang berasal dari Papua Barat. Tarian ini menceritakan tentang seorang istri yang meninggal karena istrinya menjadi korban angi-angi (jejadian). Dari sekian banyak karya budaya di nusantara, masih ada beberapa referensi atau catatan yang merincinya, termasuk keberadaan tarian Suanggi.

Jika kita lihat dari uraiannya, tarian suanggi adalah bentuk ekspresi masyarakat Papua Barat tentang kekentalan nuansa magis di daerah tersebut. Beberapa tarian di Papua cenderung terkesan dimulai dengan gerakan ritual dan upacara keagamaan. Seperti tarian suanggi. Tarian semacam ini biasanya dimulai dari ritual, seperti tarian perang, tarian dukun untuk menyembuhkan atau menangkal penyakit. Karl Jaspers menyebut pengalaman yang dapat menjadikan krisis eksistensi ini sebagai situasi batas, dan di antara yang paling penting adalah pengalaman menghadapi kematian.


  • 38. Tari Selamat Datang (Papua)

Tari Selamat Datang

Tari Sambutan atau selamat datang merupakan tarian tradisional yang merupakan sejenis tarian penyambutan yang berasal dari wilayah Papua. Tarian ini biasanya dilakukan oleh penari pria dan wanita untuk menyambut tamu terhormat atau tamu penting yang berkunjung ke sana. Tari Selamat Datang adalah salah satu tarian tradisional paling terkenal di wilayah Papua. Terlepas dari gerakannya yang unik dan energik, tarian ini tentu kaya akan makna dan nilai di dalamnya.


  • 39. Tari Musyoh (Papua)

Tari Musyoh

Tarian Musyoh merupakan seni tari yang paling sakral, tarian ini adalah tarian ritual untuk mengusir roh-roh orang yang mati karena hal-hal tertentu, dan pada umumnya tarian ini menari ketika ada orang dari tanah Papua yang telah meninggal dalam kecelakaan. Orang Papua percaya bahwa jika seseorang meninggal dalam suatu kecelakaan, roh orang yang meninggal tidak akan tenang, maka ritual Tari Musyoh akan berlangsung, karena diyakini bahwa dengan memegang Tari Musyoh ini roh atau arwah bisa tenang.


  • 40. Tari Tandak (Riau)

Tari Tandak

Tari Tandak adalah tarian populer yang sangat populer atau disukai di wilayah Riau. Tarian ini merupakan kombinasi antara tarian dan sastra. Meskipun pada dasarnya tarian tandak adalah seni dan budaya Minang Kabau yang mengandung unsur seni bela diri.

Tari Tandak / danding umumnya dilakukan pada malam hari. Tarian ini dimulai dengan semua peserta tarian tandak membentuk lingkaran dan memegang bahu masing-masing.


  • 41. Tari Joged Lambak (Riau)

Tari Joged Lambak

Tarian Joged lambak adalah tarian yang berasal dari daerah Riau. Seperti kita ketahui bahwa tarian ini sendiri adalah tarian yang sangat terkenal di wilayah Riau sebagai tarian yang sering dipertunjukkan di acara-acara besar di daerah itu sendiri.

Tarian di wilayah Riau sendiri sebenarnya sudah ada sejak lama, tetapi pada zaman kuno tarian ini tidak sebagus dan selaras dengan gerakan-gerakan yang ada dalam tarian hari ini, jadi tentu saja ada banyak perubahan yang terjadi dari tarian yang ada di zaman kuno sampai sekarang. Tarian ini sendiri adalah tarian yang memiliki makna dan makna tersendiri di dalamnya, seperti kita ketahui bahwa tarian tersebut harus berbeda dalam hal makna dan tarian di daerah tersebut.


  • 42. Tari Kipas Pakarena (Sulawesi Selatan)

Tari Kipas Pakarena

Tari Kipas Pakarena merupakan tarian tradisional dari daerah Gowa, Sulawesi Selatan. Tarian ini dibawakan oleh penari wanita dalam pakaian tradisional dan tarian dengan gerakan khas mereka dan memainkan penggemar sebagai atribut tarian mereka. Tari Kipas Pakarena adalah salah satu tarian tradisional paling terkenal di Sulawesi Selatan, terutama di daerah Gowa. Tarian ini sering ditampilkan dalam berbagai acara yang bersifat adat atau hiburan, bahkan Tari Kipas Pakarena juga merupakan salah satu tempat wisata di Sulawesi Selatan, terutama di daerah Gowa.


  • 43. Tari Bosara (Sulawesi Selatan)

Tari Bosara

Tarian Bosara adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Sulawesi Selatan. Tarian ini adalah tarian yang berfungsi untuk menyambut tamu terhormat. Secara historis, tarian ini sering menari di setiap acara penting untuk menghibur raja dengan 2 kaset.

Selain itu juga, tarian ini juga sering dilakukan untuk menyambut tamu agung, pesta tradisional, dan juga pernikahan. Jadi tarian Bosara ini menggambarkan jika orang Bugis sering menghadirkan bosara ketika tamu hadir dan juga sebagai bentuk rasa terima kasih dan rasa hormat.


  • 44. Tari Lumense (Sulawesi Tengah)

Tari Lumense

Tari Lumense merupakan salah satu tarian yang berasal dari Tokotu’a, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Kata lumense sendiri berasal dari bahasa lokal, yaitu lume yang berarti terbang dan mense yang berarti tinggi. Jadi, lumense bisa diartikan terbang tinggi. Tarian lumense sendiri berasal dari kecamatan Kabaena.

Moronene merupakan penduduk asli daerah ini. Nenek moyang suku ini adalah orang Melayu kuno yang datang dari belakang Hindia pada zaman prasejarah. Secara geografis, kecamatan Kabaena adalah pulau terbesar setelah Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara. Secara historis, bekas kecamatan Kabaena berada di bawah pemerintahan kerajaan Buton sehingga hubungan kekerabatan antara Kabaena dan Buton sangat dekat. Ini juga mempengaruhi perkembangan budaya di wilayah Kabaena termasuk tarian Lumense.


  • 45. Tarian Peule Cinde (Sulawei Tengah)

Tarian Peule Cinde

Peule Dance Cinde memiliki sejarah sendiri. Sebenarnya, Tari Peule Cinde sama dengan tari yang lain, ada sesuatu yang lebih besar jika Tari Peule Cinde dapat berkembang di setiap zaman, karena penggunaannya yang khusus untuk menyambut tamu. Puncak pementasan Tari Peule Cinde yaitu dengan taburan bunga untuk para tamu.


  • 46. Tari Balumpa (Sulawesi Tenggara)

Tari Balumpa

Tarian Balumpa merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tarian ini termasuk tarian sosial yang dilakukan oleh penari wanita untuk menyambut tamu terhormat yang telah datang ke sana. Tarian Balumpa ini adalah salah satu tarian tradisional paling terkenal di Sulawesi Tenggara, khususnya daerah Wakatobi. Tarian ini sering ditampilkan dalam berbagai acara seperti menyambut tamu penting, pertunjukan kesenian, dan festival budaya.


  • 47. Tari Dinggu (Sulawesi Tenggara)

Tari Dinggu

Tarian Dinggu merupakan tarian tradisional yang berasal dari Sulawesi Tenggara. Tarian ini adalah tarian rakyat yang memberikan suasana dan aktivitas masyarakat selama musim panen, terutama musim panen padi. Tarian Dinggu biasanya dilakukan oleh penari pria dan wanita berpakaian sebagai petani di zaman kuno. Tarian ini sangat terkenal di komunitas Tolaki di Sulawesi Tenggara dan sering ditampilkan dalam berbagai acara seperti pesta panen, salam, liburan, festival budaya dan lain-lain.


  • 48. Tari Mengket (Sulawesi Utara)

Tari Mengket

Tarian Maengket merupakan tarian rakyat Minahasa yang ditampilkan sebagai bentuk rasa terima kasih atas hasil panen. Tarian Maengket biasanya dilakukan dengan jumlah pria dan wanita yang sangat besar. Tarian Maengket adalah tarian tradisional dari Sulawesi Utara yang terkenal sampai sekarang dan terus melestarikannya. Selain bentuk rasa terima kasih atas panen, Tari Maengket biasanya dilakukan untuk menyambut tamu, upacara tradisional dan seni pertunjukan.

Tarian Maengket telah ada sejak orang Minahasa mengenal pertanian. Di masa lalu, Tari Maengket dilakukan dalam bentuk rasa terima kasih kepada Tuhan untuk panen yang mereka terima. Di masa lalu, Tari Maengket menggunakan gerakan sederhana. Tapi sekarang Tari Maengket telah berkembang dalam hal tarian dan pertunjukan dan yang jelas tidak melupakan gerakan aslinya. Tidak hanya dilakukan selama musim panen, sekarang Tari Maengket juga menjadi pertunjukan seni pertunjukan dan menyambut para tamu.


  • 49. Tari Palo-Palo (Gorontalo)

Tari Palo-Palo

The Polo Dance – “Palo adalah tarian yang berasal dari Gorontalo, Sulawesi Utara. Tarian ini adalah tarian sosial yang biasanya dipertunjukkan oleh remaja Gorontalo. Dalam perkembangannya, tarian polo “palo” dibagi menjadi dua jenis, yaitu tarian palo – “palo tradisional dan palo -” tarian palo modern, di mana kedua jenis memiliki perbedaan yang berbeda.


  • 50. Tari Piring (Sumatra Barat)

Tari Piring

Tari piring atau tarian Piriang di Minangkabau merupakan tarian tradisional Minangkabau yang melibatkan atraksi hidangan. Para penari mengayunkan piring mereka untuk mengikuti gerakan cepat dan teratur tanpa terlepas dari tangan mereka. Gerakannya diambil dari tangga di Minangkabau atau silek seni bela diri.

Secara tradisional, tarian ini berasal dari Solok, Sumatera Barat dan pada umumnya merupakan simbol dari komunitas Minangkabau.


  • 51. Tari Payung (Sumatera Barat)

Tari Payung

Tari payung adalah tarian tradisional yang berasal dari daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Tari ini melambangkan cinta dan kisah kasih sayang di antara dua orang manusia.

Sejarah tari payung tidak dapat terlepas dari kebudayaan suku Minangkabau. Beberapa suku yang ada di daerah ini adalah suku koto, bodi, piliang, dan caniago. Dulunya tari payung ini merupakan sebuah ritual yang sering dilakukan di setiap acara adat suku-suku tersebut.


  • 52. Tari Tanggai (Sumatra Selatan)

Tari Tanggai

Tari Tanggai merupakan salah satu tarian yang disajikan untuk menyambut tamu yang telah memenuhi undangan. Tari Tanggai biasanya ditampilkan dalam upacara pernikahan tradisional di Palembang. Tari Tanggai menggambarkan keramahtamahan, dan rasa hormat dari orang-orang Palembang untuk kehadiran tamu dan dalam tarian menyiratkan makna sambutan dari orang yang memiliki acara untuk para tamu.


  • 53. Tari Bekhusek (Sumatra Selatan)

Tari Bekhusek

Tarian Putri Bekhusek berarti sang putri sedang bermain. Tarian ini sangat populer di Kabupaten Ogan Komering Ulu dan merupakan kemakmuran jangka panjang di wilayah Sumatera Selatan.

Setiap negara memiliki badan standardisasi dan biasanya memiliki lebih banyak keanekaragaman daripada standar sukarela dan umumnya mengembangkan standar. Standar-standar ini mungkin diperlukan jika diadopsi oleh pemerintah, kontrak bisnis, dll.

Proses standardisasi dapat melalui pengumuman resmi atau mungkin juga melibatkan konsensus resmi dari para ahli teknis.


  • 54. Tari Serampang Dua Belas (Sumatera Utara)

Tari Serampang Dua Belas

Tari serampang dua belas berasal dari Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Tarian tradisional ini juga terkenal di daerah budaya Melayu seperti Riau, Jambi, dan beberapa daerah lainnya.

Sekitar tahun 1940, tari serampang dua belas diciptakan oleh seorang seniman bernama Sauti. Awalnya tarian ini diperkenalkan kepada masyarakat dengan nama Tari Pulau Sari. Nama ini disesuaikan dengan lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari.


  • 55. Tari Tor-Tor (Sumatera Utara)

Tari Tor-Tor

Tor-tor Batak Toba adalah jenis tarian kuno dari Batak Toba yang berasal dari Sumatera Utara yang meliputi daerah Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir dan Samosir.

Tor-tor merupakan salah satu tarian seremonial yang disajikan dengan musik gondang. Secara fisik tortor adalah tarian, tetapi yang lebih bermakna daripada gerakan menunjukkan bahwa tortor adalah media komunikasi, di mana melalui gerakan-gerakan yang dihadirkan ada interaksi antara peserta upacara.


  • 56. Tari Bedaya (DIY Yogyakarta)

Tari Bedaya

Tarian Bedaya adalah tarian yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta itu sendiri, di mana seperti yang kita ketahui bahwa tarian memiliki sesuatu dan juga makna yang berbeda antara satu gerakan dan yang lain, sehingga dalam jenis tarian tertentu ada yang sangat terkenal di antara mereka saja, ada juga beberapa yang kurang dikenal untuk beberapa gerakan yang belum pernah terlihat atau terkesan sama sekali.

Dalam hal ini tarian adalah sesuatu yang bisa disebut seni, karena seperti kita ketahui bahwa tarian ini menunjukkan beberapa hal yang sangat identik dengan keindahan beberapa gerakan yang dibuat bersamaan dengan hal-hal lain juga.


  • 57. Tari Angguk – DIY Yogyakarta

Tari Angguk

Tari Angguk merupakan tarian tradisional yang berasal dari Yogyakarta dan menceritakan kisah Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono di Serat Ambiyo. Tarian ini dimainkan secara berkelompok oleh 15 penari wanita mengenakan seragam seperti tentara Belanda dan dihiasi dengan gombyok emas, sampang, sampur, topi pet warna hitam, dan kaus kaki merah atau kuning dan memakai kacamata hitam. Tarian ini umunya dimainkan selama 3 hingga 7 jam.


  • 58. Tari Margapati (Bali)

Tari Margapati

Kata Margapati diambil dari kata Marga yang berarti jalan, dan pati mempunyai arti kematian. Ketika disatukan itu berarti jalan menuju kematian.

Dibuat oleh Nyoman Kaler di tahun 1942, tarian ini menggambarkan perjalanan hidup wanita yang salah arah. Oleh karena itu, tarian ini menghadirkan banyak gerakan tarian laki-laki meskipun para penari biasanya perempuan. Jika dilihat, gerakan tarian ini seperti mengintai dan bersiap menerkam mangsanya.


  • 59. Tari Angsa (Jawa Tengah)

Tari Angsa

Tarian angsa adalah tarian yang berasal dari Jawa Tengah itu sendiri, dimana seperti yang kita ketahui bahwa tarian memiliki sesuatu dan juga makna yang berbeda antara satu gerakan dan yang lainnya, sehingga ada beberapa jenis tarian yang sangat terkenal di antara mereka sendiri, ada yang kurang baik dikenal karena beberapa gerakan yang belum pernah dilihat atau terkesan kaku.


  • 60. Tari Badui (Sleman, DIY Yogyakarta)

Tari Badui

Tarian Badui merupakan kesenian yang berasal dari daerah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tarian ini adalah jenis tarian rakyat yang menggambarkan adegan perang atau sekelompok prajurit yang sedang berlatih perang. Dalam presentasi tarian ini dilakukan dalam kelompok dan berpasangan.

Seni Badui yang masih hidup dan berkembang di Kabupaten Sleman sebagian besar berasal dari wilayah Kedu, sedangkan di wilayah Kedu sendiri juga merupakan seni rakyat yang pada awalnya dibawa oleh seseorang dari tanah Arab.


  • 61. Tari Baksa Kembang (Banjar, Kalimantan Selatan)

Tari Baksa kembang

Tari Baksa Kembang merupakan tarian klasik dari Kalimantan Selatan yang digunakan sebagai tarian untuk menyambut tamu. Tarian ini biasanya dimainkan oleh penari wanita sebagai penari tunggal atau dapat dikelompokkan selama jumlah penari benar-benar aneh.

Tari Baksa Kembang pada awalnya adalah tarian yang hanya ditampilkan di lingkungan kerajaan untuk menyambut tamu terhormat atau kerabat kerajaan. Namun seiring perkembangannya, tarian ini menjadi populer di masyarakat ketika kerajaan Banjar mulai membuka akses bagi publik untuk menyaksikan pertunjukan tari ini. Sehingga Tari Baksa Kembang menjadi populer di masyarakat dan menjadi salah satu budaya daerah di Kalimantan Selatan.


  • 62. Tari Tupping (Lampung)

Tari Tupping

Tarian Tupping adalah tarian Lampung yang biasanya hadir dalam pertunjukan drama. Tarian ini menggambarkan patriotisme pengasingan pasukan tempur dan penjaga rahasia Radin Inten, Radin Imba II dan Raden Inten II di daerah Kalianda, Lampung Selatan. Dalam tarian ini, tokoh-tokoh ksatria, ksatria kasar, ksatria magis, ksatria putri, komedian dan juga tokoh-tokoh yang bijak dan kuat biasanya akan ditampilkan pada resepsi tamu besar atau pernikahan.

Ada 12 Tupping di Lampung dan tidak lebih atau kurang. Tupping tupping diyakini memiliki kekuatan magis dan tidak semua orang bisa menggunakannya dan membutuhkan ritual khusus saat mengenakan topeng. Topeng Kuripan ini hanya dapat digunakan oleh keturunan 12 pengikut seperti yang ada di desa Tataan, Taman Baru dan Kuripan. Jika memang ada orang yang ingin menggunakan tupping, maka mereka harus terlebih dahulu meminta izin dari Dalom Marga Ratu.


  • 63. Tari Sembah (Lampung)

Tari Sembah

Tari penyembahan adalah nama tarian Lampung yang dipegang oleh masyarakat sambil menyambut atau memberi penghormatan kepada tamu undangan sehingga tarian ini dapat dikatakan termasuk dalam tarian penyambutan.

Menyembah tarian atau sirih menunjukkan sukacita yang biasanya juga hadir pada upacara dan resepsi keamanan maras taon. Untuk pakaian yang digunakan dalam tarian penyembahan adalah pakaian asli daerah seperti yang dikenakan oleh pengantin wanita asli suku Lampung dengan siger dan tangga.


  • 64. Tari Sigeh Pengunten (Lampung)

Tari Sigeh Pengunten

Tari Sigeh Pengunte adalah salah satu tarian baru dari Lampung yang merupakan pengembangan dari tarian penyembahan, yaitu tradisi asli Lampung. Dari peraturan daerah, tarian khas Lampung ini diresmikan sebagai tarian Lampung untuk menyambut tamu-tamu penting. Gerakan tarian ini mengambil unsur-unsur dari banyak tarian tradisional Lampung sehingga dapat memperkenalkan budaya Lampung melalui tarian.

Tarian tradisional Lampung juga disajikan sebagai bagian dari upacara penyambutan di acara resmi seperti proses pernikahan. Tarian ini menceritakan tentang kegembiraan kedatangan tamu undangan dan merupakan bentuk penghormatan bagi tamu undangan yang sudah hadir.


  • 65. Tari Banyumasan (Banyumas)

Tari Banyumasan

Seni tradisional Banyumas merupakan kekayaan benda dan bukan benda yang tumbuh dan berkembang di bekas Keresidenan Banyumas, termasuk Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, dan Kabupaten Banjarnegara. Sesuai dengan lokasi geografisnya, kesenian di wilayah tersebut dipengaruhi oleh pusat budaya istana Yogyakarta, Surakarta dan Sunda.

Namun seiring berjalannya waktu, pengaruh dari luar Banyumas hanya memperkaya khazanah, karena kesenian Banyumas memiliki karakter tersendiri, yaitu entitas budaya tersebut. Keunikan seni tradisi Banyumas bahkan menyebarkan pengaruh pada budaya di sekitarnya, antara lain ke tempat tinggal Kedu dan Pekalongan sebelumnya.


  • 66. Tari Belian (Kalimantan Timur)

Tari Belian

Belian sentiu merupakan upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Dayak Benuaq di Tanjung Isuy, Jempang, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Upacara-upacara ini terkait dengan kepercayaan dan sistem keagamaan yang diadopsi oleh masyarakat setempat dan menangani permintaan bantuan untuk roh-roh roh di sekitar mereka serta roh leluhur dan penguasa atas (lahtala) dan otoritas yang lebih rendah (uwokng).


  • 67. Tari Beksan Lawung Ageng (DIY Yogyakarta)

Tari Beksan Lawung Ageng

Tarian Beksan Lawung Ageng merupakan pertunjukan tari yang berasal dari Kraton Yogyakarta. Tarian ini dibawakan oleh 16 (enam belas) penari, yang semuanya adalah lelaki yang terdiri dari 2 orang tua, 4 orang dari kepala desa, 4 orang dari barisan, 4 pemain, dan 2 salaotho.

Sri Sultan Hamengku Buwono I atau Pangeran Mangukubumi pada tahun 1755-1792 menari salah satu tarian beksan ini. Beksan terinspirasi oleh saat ketika ada kegiatan tentara sebagai pelayan di kantor raja yang selalu mengadakan pelatihan watangan.


  • 68. Tari Bengberokan (Cirebon dan Indramayu)

Tari Bengberokan

Bengberokan atau Berokan adalah pertunjukan penolak seperti tarian barongsai dari Tiongkok. Menurut sejarah yang diwarisi dari generasi ke generasi di antara seniman, Bengengokan adalah warisan Pangeran Korowelang atau Pangeran Mina, penguasa laut Jawa di wilayah Cirebon dan Indramayu.

Namun ada juga ucapan yang juga diwarisi oleh seniman secara berurutan, bahwa berokan adalah ciptaan Pangeran Cakrabuana Mbah Kuwu, ketika menyebarkan penyebaran Islam ke wilayah Galuh, seperti yang dipraktikkan oleh para wali, menggunakan acara tersebut sebagai media untuk tujuan agama, yang bertujuan menerima lingkungan budaya. pada saat itu.


  • 69. Tari Bines (Aceh)

Tari Bines

Tarian Bines adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari distrik Gayo Lues. Tarian ini muncul dan berkembang di Aceh Tengah tetapi kemudian dibawa ke Aceh Timur. Menurut sejarah tarian itu diperkenalkan oleh seorang sarjana bernama Syech Saman untuk berkhotbah. Tarian ini ditarikan oleh para wanita yang duduk berjejer sambil menyanyikan puisi yang berisi khotbah atau informasi tentang perkembangan. Para penari bergerak perlahan dan bertahap untuk menjadi cepat dan akhirnya berhenti sekaligus.


  • 70. Tari Caci (Flores, Nusa Tenggara Timur)

Tari Caci

Tarian Caci merupakan salah satu tarian perang dan permainan rakyat antara sepasang penari pria yang bertarung dengan cambuk dan perisai di Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Penari bersenjatakan cambuk bertindak sebagai penyerang dan lainnya bertahan menggunakan perisai. Tarian ini dimainkan selama musim panen ucapan syukur (hang woja)] dan ritual tahun baru (penti), upacara pembukaan lahan atau upacara tradisional utama lainnya, dan diadakan untuk menyambut tamu penting.


  • 71. Tari Campak (Bangka Belitung)

Tari Campak

Tari Campak adalah salah saatu tarian dari daerah Bangka-Belitung yang mendeskripsikan kegembiraan para lajang dan perempuan di Kepulauan Bangka Belitung. Tarian ini biasanya dilakukan setelah panen padi atau setelah kembali dari ume (kebun).

Tarian ini juga digunakan sebagai hiburan dalam berbagai kegiatan seperti menyambut tamu atau di pesta pernikahan di Bangka Belitung. Tarian ini berkembang selama pendudukan Portugis di Bangka Belitung. Ini dapat dilihat dari beberapa varietas dalam tarian Campak, termasuk akordeon dan pakaian untuk penari wanita yang sangat bergaya Eropa.


  • 72. Tari Cangget (Lampung)

Tari Cangget

Tarian Cangget adalah ssalah satu tarian yang berkembang di Lampung, Lampung, yang merupakan provinsi paling selatan di Pulau Sumatra. Dikatakan bahwa, sebelum kedatangan Jepang ke Indonesia atau tahun 1942, Tari Canget selalu ditampilkan di setiap acara yang berkaitan dengan gawi tradisional, seperti upacara membangun rumah, memanen, dan digunakan untuk membawa orang yang ingin berziarah. .

Ketika tarian dilakukan, orang-orang akan berkumpul untuk menonton pertunjukan, baik tua, muda, pria dan wanita, yang bertujuan untuk menghadiri upacara, juga untuk saling mengenal. Cangget Tarai biasanya ditarikan oleh pria dan wanita muda.


  • 73. Tari Cikeruhan (Sumedang, Jawa Barat)

Tari Cikeruhan

Cikeruhan adalah tarian tradisional dari daerah Tjikeroeh, Cikeruh, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Tarian mengambil gerakan dari hewan dan perilaku manusia.

Cikeruhan adalah seni tari sosial yang sudah sangat tua. Awalnya lahir dari tradisi menanam padi sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Dewi Sri Pohaci di abad ke-18. Pada saat itu, orang-orang berjalan kaki mengangkat beras ke lumbung sambil menari dan menyuarakan peralatan pertempuran mereka. Selama tarian, seorang pejabat Belanda yang bekerja di perkebunan menghentikan kegiatan mereka. Bukan karena dia tidak menyukainya, tetapi sebaliknya dia meminta izin untuk bergabung dalam tarian.


  • 74. Tari Cokek – (DKI Jakarta)

Tari Cokek

Tarian Cokek merupakan tarian klasik orang Betawi di Jakarta. Tarian ini adalah tarian sosial dari komunitas Betawi untuk memeriahkan pesta tradisional mereka. Tarian Cokek adalah kombinasi dari tarian tradisional Cina, Sunda, Betawi dan pencak silat. Gerakan dalam Tari Cokek adalah gerakan yang harmonis dan fleksibel, yang dengan gerakan tangan anggun dan pinggul yang bergoyang mengikuti irama. Selain itu, sesekali sang penari juga memainkan lengan bajunya sehingga sang penari terlihat anggun dan menawan.


  • 75. Tari Cendrawasih (Bali)

Tari Cendrawasih

Tari Cendrawasih merupakan tarian Bali yang dibawakan oleh dua penari wanita dan menggambarkan ritual pernikahan burung cendrawasih.

Sebuah tarian yang dikenal sebagai cendrawasih berasal dari I Gede Manik dan pertama kali ditampilkan di Kecamatan Sawan di Kabupaten Buleleng pada 1920-an, daerah itu adalah tempat asal sejumlah tarian, termasuk Trunajaya, Wirangjaya, dan Palawakya. Namun, versi ini memiliki perbedaan yang signifikan dari tarian yang sekarang biasa ditampilkan.


  • 76. Tarian Datun Julud (Dayak Kenyah)

Tarian Datun Julud

Tarian Datun Julud adalah tarian yang populer di kalangan orang Kayan / Kenyah yang mendiami interior Bulungan, Kutai, Berau, dan Pasir, yang merupakan daerah yang berdekatan antara Sarawak dan Kalimantan Timur. Asal usul tarian Datun Julud diciptakan oleh raja suku Dayak Kenyah di Apo Kayan bernama Nyik Selong sebagai tanda sukacita dan terima kasih kepada Maha Dewa atas kelahiran cucunya.

Namun menurut sumber lain, tarian ini diciptakan dengan rasa terima kasih atas kesembuhan istrinya dari penyakit yang sudah tua. Setelah acara ini, tarian Datun Julud terus diminati di masyarakat sekitar dan terus berkembang ke daerah lain di Sarawak.


  • 77. Tari Didong (Aceh)

Tari Didong

Seni Didong adalah jenis seni tradisional Gayo yang masih bertahan hingga era modern, memiliki minat sosial yang tinggi dari setiap lapisan masyarakat. Seni Didong adalah perpaduan antara tarian dan bunyi dengan unsur-unsur sastra dalam bentuk puisi sebagai unsur utama, berkembang dan dilestarikan oleh masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah Provinsi Aceh.


  • 78. Tari Melinting (Lampung)

Tari Melinting

Tarian Melinting merupakan salah satu tarian dari Lampung, lebih tepatnya daerah Melinting, Kabupaten Labuhan Meringgai, Lampung Timur. Tarian ini juga dianggap sebagai seni klasik karena sudah ada sejak Islam memasuki nusantara.

Kata melinting berarti “membawa” yang muncul bersamaan dengan masuknya ajaran Islam. untuk alasan ini, jika disimpulkan, tarian ini memiliki makna melaksanakan misi Islam dan diyakini dibuat oleh Ratu Melinting, ratu yang memimpin daerah yang disebut Melinting.


  • 79. Tari Ebeg (Banyumas, Jawa Timur)

Tari Ebeg

Ebeg adalah tarian di daerah Banyumas yang menggunakan boneka kuda yang terbuat dari anyaman bambu dan kepalanya diberi serat sebagai rambut. Tarian Ebeg di daerah Banyumas menggambarkan para prajurit menunggang kuda. Gerakan tarian yang menggambarkan keterampilan yang ditunjukkan oleh pemain Ebeg.

Diperkirakan bahwa seni Ebeg ini telah ada sejak zaman kuno tepatnya ketika manusia mulai menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Salah satu bukti yang memperkuat Ebeg dalam garis seni lama adalah bentuk trans atau wuru. Bentuk ini merupakan ciri khas seni yang lahir di zaman animisme dan dinamisme.


  • 80. Tari Emprak (Jawa Tengah)

Tari Emprak

Tarian Emprak merupakan jenis perkembangan seni rakyat di Emprak, dalam bentuk seni peran yang memunculkan pesan moral, diiringi dengan musik yang biasanya dalam bentuk salawatan. Tarian ini berasal dari Jepara, Jawa Tengah

Emprak tradisional dimainkan oleh 9-15 orang, semuanya laki-laki. Iringannya adalah alat musik rebana yang besar, kecil dan kentongan, pakaian sementara, dan makeup dalam bentuk baju bayi, sarung dan topi. Dan selama acara malam di lantai dengan tikar lesehan.


  • 81. Tari Ende Lio (NTT)

Tari Ende Lio

Tarian Ende Lio merupakan tarian daerah yang mengekspresikan perasaan melalui urutan gerakan dalam irama musik dan lagu. Dilihat dari gerakan dan bentuknya, tarian Ende Lio dapat dibagi menjadi beberapa jenis termasuk:

Toja:
Sekelompok penari menari tarian yang telah diatur dalam bentuk variasi dan irama musik / lagu untuk pertunjukan resmi
Wanda:
Penari dengan gaya mereka sendiri, menari mengikuti irama musik / lagu dalam kelompok atau individu.
Wedho:
Menari gaya bebas dengan mengandalkan gerak kaki seolah-olah melompat .- Woge: Tarian bergerak dengan mengandalkan kelincahan kaki dengan penuh energi dan dinamis, dilengkapi dengan alat mbaku dan atau atau perisai dan pedang / parang.
Gawi:
Tarian bergerak dengan menyentakkan kaki ke tanah.

Untuk istilah Toja dan Wanda sebenarnya arti yang sama adalah menari, hanya cara dan fungsi yang berbeda dan kata wanda untuk suku Lio berarti Toja.


  • 82. Tari Gambuh (Bali)

Tari Gambuh

Gambuh merupakan salah satu tarian dramatari Bali yang dianggap memiliki kualitas tertinggi dan juga drama Bali klasik yang paling kaya dalam gerakan tarian, sehingga dianggap sebagai sumber dari semua jenis tarian Bali klasik.

Diperkirakan Gambuh muncul sekitar abad ke-15 dengan drama yang berasal dari kisah Panji. Gambuh dalam bentuk teater total karena mengandung unsur seni suara, drama dan tari, seni visual, seni sastra, dan lain-lain. Gambuh dilakukan dalam upacara Dewa Yad seperti ritual, upacara Manusa Yad seperti pernikahan keluarga bangsawan, upacara Pitra Yad (ngaben) dan sebagainya.


  • 83. Tari Gambyong (Jawa)

 Tari Gambyong

Tarian Gambyong adalah tarian Jawa klasik yang mengambil dasar dari gerakan tarian rakyat dari seni tayub. Pada umumnya tarian gambyong dilakukan bersama oleh beberapa penari. Elemen estetika dari tarian yang dipertunjukkan bersama terletak pada garis dan gerakan yang semuanya besar. Tangan, kaki, dan kepala terlihat lebih indah dan ekspresif karena mereka menari bersama.

Tarian ini lebih indah ketika penari dapat menyelaraskan gerakan dengan irama drum. Sebab, kendhang sering juga disebut otot dan penuntun gendhing. Secara umum, Tari Gambyong terdiri dari tiga bagian, yaitu: awal, isi, dan akhir atau dalam kasus tari gaya Surakarta Surakarta disebut forward beksan, beksan, dan beksan mundur.


  • 84. Tari Gambyong Pareanom (Surakarta)

Tari Gambyong Pareanom

Informasi tentang keberadaan tari yang rapi oleh Sri Gambyong akhirnya sampai di telinga Sunan Paku Buwono IV, yang merupakan raja Surakarta pada waktu itu. Keraton Mangkunegara Surakarta kemudian mengundang Sri Gambyong untuk melakukan tarian. Sejak itu, tarian Gambyong yang dimainkan oleh Sri Gambyong semakin dikenal. Banyak orang mempelajarinya sampai akhirnya tarian dimahkotai sebagai tarian khas istana.


  • 85. Tari Gandrung (Banyuwangi, Jawa Tengah)

Tari Gandrung

Gandrung Banyuwangi merupakan tarian yang berasal dari Banyuwangi.

Gandrung adalah seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik yang khas, osing gamelan. Tarian dilakukan dalam bentuk pasangan antara wanita (penari gandrung) dan pria (pemaju) yang dikenal sebagai “paju”.

Bentuk seni yang didominasi oleh tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi, yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas daerah tersebut, sehingga tidak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan cinta. . Bahkan, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung-patung penari gandrung dapat ditemukan di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.


  • 86. Tari Gawi (Nusa Tenggara Timur (NTT))

Tari Gawi

Gawi merupakan tarian yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, di mana tariannya sangat populer dan sangat populer di kalangan masyarakat Nusa Tenggara Timur. Tarian Gawi sendiri pertama kali berasal dari daerah Tenda, yang oleh suku Ende-Lio, yang terletak di kaki danau kelimutu. Tarian Gawi berasal dari dua suku kata, yaitu GA dan WI di mana GA berarti enggan, enggan, takut, hormat sedangkan WI berarti menarik, mengundang (untuk bersatu) sehingga dapat disimpulkan GAWI adalah tarian yang dilakukan oleh beberapa orang untuk mengumpulkan persatuan dan persatuan di antara orang lain saling menghormati.


  • 87. Tari Gending Sriwijaya (Palembang)

Tari Gending Sriwijaya

Gending Sriwijaya merupakan lagu dan tarian tradisional masyarakat Kota Palembang, Sumatera Selatan. Melodi lagu Gending Sriwijaya diperdengarkan untuk mengiringi Tari Gending Sriwijaya. Baik lagu maupun tarian ini menggambarkan keluhuran budaya, kejayaan, dan keagungan kemaharajaan Sriwijaya yang pernah berjaya mempersatukan wilayah Barat Nusantara.

Lirik lagu ini juga menggambarkan kerinduan seseorang akan zaman di mana pada saat itu Sriwijaya pernah menjadi pusat studi agama Buddha di dunia.


  • 88. Tari Giring-giring (Kalimantan Tengah)

Tari Giring-giring

Tari Giring Giring merupakan salah satu tarian Dayak tradisional Kalimantan Tengah yang menggunakan tongkat sebagai atribut dalam tarian. Tarian ini adalah tarian yang mengekspresikan kegembiraan dan kesenangan masyarakat dengan menari dan bermain dengan tongkat sebagai media tarian.

Tarian ini awalnya ialah tarian yang berasal dari suku Dayak Ma’anyan yang kemudian berkembang dan populer di Kalimantan Tengah, terutama di Kabupaten Barito. Nama Giring Giring diambil dari nama tongkat yang dimainkan oleh para penari, yaitu tongkat Giring Giring atau yang biasa disebut Gangerang oleh masyarakat Kalimantan Tengah.


  • 89. Tari Gitek Balen (DKI Jakarta)

Tari Gitek Balen

Tarian Gitek Balen merupakan salah satu tarian tradisional dari Jakarta, khususnya orang Betawi. Tarian ini adalah ciptaan baru yang terinspirasi oleh pola pukulan dalam gamelan ajeng Betawi, sebuah tarian yang menunjukkan keindahan gadis-gadis sekarang usia mereka didirikan oleh Abdurachem.

Istilah dari nama Gitek Balen ialah, “Gitek” yanga berarti goyang dan “balen” yang merupakan pola pukulan pada gamelan ajeng Betawi.


  • 90. Tari Golek Menak (Yogyakarta)

Tari Golek Menak

Tarian Menak Golek adalah jenis tarian klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Penciptaan tari Golek Menak berawal dari gagasan sultan setelah menonton pertunjukan Wayang Golek Menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Itu juga disebut Beksa Golek Menak, atau Beksan Menak. Berisi makna tarian wayang Golek Menak.

Karena dia mencintai budaya Wayang Orang, Sultan berencana untuk membuat pertunjukan, yang merupakan tarian boneka. Untuk menerapkan gagasan ini, Sultan pada tahun 1941 memanggil seorang ahli tari yang dipimpin oleh K. Purbaningrat, dibantu oleh K.R.T. Brongtodiningrat, Pangeran Suryobrongto, K.R. Madukusumo, K. Wiradipraja, K. T.Mertodipuro, RW Hendramardawa, RB Kuswaraga, dan RW Larassumbaga.


  • 91. Tari Gong (Kalimantan Timur)

Tari Gong

Tarian Gong atau bisa disebut Tarian Kancet Ledo merupakan tarian Dayak Kalimantan Timur, lebih tepatnya dari suku Dayak Kenyah. Tarian ini ditarikan oleh seorang gadis dengan gong yang dipakai sebagai iringan musik. Tarian ini biasanya dipertunjukkan pada upacara penyambutan tamu agung atau upacara penyambutan untuk kelahiran bayi.

Gerakan dalam Tari Gong mengekspresikan kelembutan seorang wanita. Tarian ini mengekspresikan keindahan, kecerdasan, dan gerakan tarian yang lembut. Sesuai namanya tarian, tarian Gong ditarikan kepada Gong, diiringi oleh alat musik Sampe.


  • 92. Tari Guel (Aceh)

Tari Guel

Tari Guel merupakan kekayaan budaya Gayo di Aceh. Guel berarti menelepon. Terutama di dataran tinggi Gayo, tarian ini memiliki kisah panjang dan unik. Peneliti tari dan koreografer mengatakan tarian ini bukan hanya tarian. Ini adalah kombinasi antara seni sastra, seni musik dan tarian itu sendiri.

Dalam perkembangannya, tarian guel mulai tenggelam, namun Guel menjadi tarian tradisional, terutama dalam upacara tradisional tertentu. Guel sepenuhnya menghormati bentuk alami, lingkungan yang kemudian berkumpul sedemikian rupa melalui gerakan simbolik dan ritme ritmis.


  • 93. Tari Jaipong (Jawa Barat)

Tari Jaipong

Jaipongan merupakan jenis tarian sosial tradisional Sunda, Karawang, Jawa Barat, yang sangat populer di Indonesia.

Jaipongan lahir melalui proses kreatif tangan dingin H Suanda sekitar tahun 1976 di Karawang, jaipongan adalah karya yang menggabungkan beberapa elemen seni tradisional Karawang seperti pencak silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu dan lain-lain. Jaipongan di Karawang tumbuh pesat pada tahun 1976, ditandai dengan munculnya rekaman jaipongan SUANDA GROUP dengan instrumen sederhana yang terdiri dari drum, ketuk, kecrek, goong, rebab dan sinden atau tukang kawih.


  • 94. Tari Sintren (Jawa Barat)

Tari Sintren

Sintren adalah salah satu tarian tradisional Jawa, khususnya di Cirebon. Seni ini terkenal di pantai utara Jawa Barat dan Jawa Tengah, termasuk di Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Pemalang, Tegal, Banyumas, Kuningan, dan Pekalongan. Seni Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis / magis yang berasal dari kisah cinta Sulasih dengan Sulandono.


  • 95. Tari Ganau (Bengkulu)

Tari Ganau

Tarian Ganau merupakan salah satu tarian tradisional Bengkulu yang dilakukan oleh sekelompok penari pria dan wanita yang diiringi musik tradisional Bengkulu seperti mandolin, rebab dan kendang. Sedangkan untuk irama lagu menggunakan irama khas Melayu.

Tarian akan dimulai dengan tempo lambat dan kemudian diakhiri dengan gerakan cepat dan menyentak. Gerakan tangan dalam tarian ini dan juga lompatan dan formasi yang harmonis disertai dengan musik adalah keunggulan dari tarian Bengkulu ini.


  • 96. Tari Beruji Doll (Bengkulu)

Tari Beruji Doll

Tari beruji doll adalah salah satu tarian tradisional Bengkulu yang umumnya dilakukan oleh 5 hingga 8 wanita di mana para penari akan mengenakan pakaian tradisional Bengkulu yang dimodifikasi di beberapa bagian. Pakaian penari juga akan dilengkapi dengan songket warna cerah di bagian bawah. Sesuai dengan tujuan tarian ini, tarian yang diuji boneka tidak hanya ditampilkan dalam upacara Tabot tetapi juga dapat ditampilkan sebagai tamu sambutan dan acara budaya lainnya.


  • 97. Tari Putri Bekhusek (Palembang)

Tari Putri Bekhusek

Tarian Putri Bekhusek merupakan tarian paling populer dan terkenal dari Sumatera Selatan di daerah OKU atau Ogan Komering Ulu.

Sesuai namanya, Bukhsek berarti bermain, tarian ini berarti tarian perempuan dimainkan yang melambangkan kemakmuran daerah setempat dan Sumatera Selatan pada umumnya.


  • 98. Tari Tenun Songket (Sumatera Selatan)

Tari Tenun Songket

Sesuai namanya, Tari Tenun Songket berasal dari tradisi tenun di Palembang, Sumatra Selatan, yang telah ada sejak zaman kerajaan Sriwijaya.

Inilah yang menginspirasi Tari Tenun Songket yang menggambarkan perempuan di daerah Sumatera Selatan yang sedang menenun songket. Gerakan tangan yang mendominasi tarian ini menunjukkan wanita yang suka menenun songket.


  • 99. Tari Rodat Cempako (Daerah Sumatera Selatan)

Tari Rodat Cempako

Tari Rodat Cempako merupakan tarian dari Sumatera Selatan yang sangat Islami (Timur Tengah). Mengapa?

Karena tarian ini dilakukan dalam posisi duduk menggunakan puisi Arab yang berasal dari Kita Al-Berzanji disertai oleh rebana. Sesuai dengan bahasa yang digunakan, selain digunakan untuk menemani mempelai wanita, tarian ini juga digunakan dalam acara-acara seni Islam seperti Ulang Tahun Nabi dan sebagainya.


  • 100. Tari Alang Babega (Minangkabau)

Tari Alang Babega

Tarian Alang Babega adalah salah satu dari berbagai budaya di Indonesia dalam bentuk tarian tradisional yang berasal dari daerah Sumatera Barat. Tarian ini menggambarkan masalah sederhana, di mana gerakannya meniru terbangnya seekor elang ketika di udara membengkak untuk mencapai mangsa.

Meskipun tarian ini menggambarkan hal-hal yang cukup sederhana, tarian Babeang Alga adalah salah satu properti budaya yang menarik di Sumatera Barat.


  • 101. Tari Petake Gerinjing (Sumatera Selatan)

Tari Petake Gerinjing

Tarian Petake Gerinjing menceritakan kisah sebuah rakyat yang dikutuk karena tidak mematuhi norma dan adat yang ada. Bencana ini dijelaskan dengan datangnya banjir bandang yang menyapu peradaban.

Tarian ini menggabungkan tradisional dan kontemporer. Kedatangan bencana banjir bandang sebagai hukuman. kemudian dilambangkan dengan hamparan kain yang terus terguncang seperti gelombang air. Komunitas di dalamnya panik dan berusaha melarikan diri.


  • 102. Tari Ngantat Dendan (Sumatera Selatan)

Ngantat Dendan menggambarkan iring-iringan pada pihak pengantin pria dalam pernikahan tradisional di Kota Lubuk Linggau, Provinsi Sumatera Selatan. Karakteristik utama dari Tari Dendan Ngantat adalah penggunaan properti dalam bentuk toples besar dan tebal yang diikatkan pada syal dan diletakkan di kepala.

Dalam budaya Lubuk Linggau, Jaras dalam pernikahan tradisional digunakan sebagai tempat untuk menyimpan barang-barang yang telah diminta oleh pengantin wanita sebagai mahar dari perkawinan. Jaras dalam kelompok mempelai pria biasanya akan dibawa oleh wanita, baik ibu maupun anak perempuan. Ini terjadi karena ketika budaya diimplementasikan ke dalam bentuk tarian.


  • 103. Tarian Gegerit (Sumatera Selatan)

Tarian Gegerit bercerita tentang perjuangan perempuan dalam menghadapi penjajahan. Dalam gerakan tari Gegerit yang lebih cenderung patah dan kaku, itu tercermin dalam gerakan setengah jongkok sambil terus memainkan sayap di bahu.

Jumlah orang yang melakukan aksi Tari Gerigit biasanya ditarikan oleh 4 (empat) orang dan semuanya diperankan oleh wanita. Tarian Gegerit tradisional ini adalah tarian yang selalu menari selama beberapa generasi oleh orang-orang Lahat. Namun kini keberadaannya nyaris punah. Semoga pihak berwenang bisa mengambil kebijakan agar tarian ini tidak punah.


  • 104. Tari Sebimbing Sekundang ( Sumatera Selatan)

Tari Sebimbing Sekundang

Tari Sebimbing Sekundang merupakan salah satu tarian yang berasal dari budaya masyarakat di Kabupaten Ogan Komering Ulu. Tarian ini umumnya akan ditampilkan dalam menyambut tamu terhormat yang mengunjungi daerah ini. Dalam pertunjukan tari, Sebundang dapat dilakukan baik di gedung maupun di tempat terbuka dan dilakukan oleh 9 penari. Di mana seorang wanita akan membawa tepuk tangan. 2 penari akan membawa rempah-rempah. 1 orang akan membawa payung besar dan 2 orang akan menjadi pengawal.

Tepak atau Pengasan sendiri merupakan sarana utama tarian tradisional ini dan berisi daun sirih yang telah diracik menggunakan getah gambir sehingga siap untuk disajikan kepada tamu kehormatan sebagai bentuk penerimaan dan juga pengakuan dari masyarakat Ogan Kometing , Kabupaten Ulu.


  • 105. Tari Kancet Ledo atau Tari Gong (Kalimantan Timur)

Tari Kancet Ledo

Nama lain untuk Tari Kancet Ledo adalah Tari Gong yang disebut komunitas Kalimantan Timur. Tarian Kancet Ledo adalah salah satu ekspresi dari tarian yang mengekspresikan kelembutan seorang wanita dengan menari di Gong dengan gerakan lembut dan seimbang.

Dance of Kancet Ledo Dance mengungkapkan keindahan, kecerdasan dan gerakan tarian yang lembut. Sesuai namanya, tarian Gong ditarikan kepada Gong, diiringi oleh alat musik Sapeq (alat musik yang dipetik seperti harpa).

Penari Gong mengenakan pakaian dalam manik-manik dan pakaian taah, yang merupakan pakaian khas wanita yang terdiri dari kain beludru yang dihiasi manik-manik, yang dikenakan dengan membungkus pinggang, setiap ujung tali dibungkus dan berhenti di pusar. Selain itu, peralatan lain yang digunakan oleh Lavung, yaitu topi yang terbuat dari rotan dan ada pola sesuai gaya pakaian dan taah dan kalung yang terbuat dari manik-manik berwarna dan gigi berwarna harimau atau taring dan bulu rangkong yang dikenakan di tangan keduanya. penari.


Demikian Penjelasan Tentang Nama Nama Tarian Daerah Tradisional Indonesia Beserta Gambar Dan Asalnya Semoga Bermanfaat Bagi Semua Pembaca GuruPendidikan.Co.Id

Sponsor Iklan Text >>> https://merekbagus.co.id/