Pengertian Keterampilan Berbicara – Bentuk, Landasan, Sarana, Jenis, Faktor, Contoh, Para Ahli

Diposting pada

Pengertian Keterampilan Berbicara – Bentuk, Landasan, Sarana, Jenis, Faktor, Contoh, Para Ahli : Retorika atau keterampilan berbicara merupakan suatu seni berbicara yang dipunya seseorang. Seni bericara tersebut dipunya seseorang dengan alami atau juga dengan memakai latihan secara khusus.


Pengertian Keterampilan Berbicara

Pengertian Keterampilan Berbicara

Dipandang dari segi bahasa, menyimak dan berbicara dikategorikan sebagai keterampilan berbahasa lisan. Dari segi komunikasi, menyimak dan berbicara diklasifikasikan sebagai komunikasi lisan. Melalui berbicara orang menyampaikan informasi melalui ujaran kepada orang lain. Melalui menyimak orang menerima informasi dari orang lain.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Etnis Menurut Para Ahli Dan Contohnya


Kegiatan berbicara selalu diikuti kegiatan menyimak atau kegiatan menyimak pasti ada di dalam kegiatan berbicara. Dua-duanya fungsional bagi komunikasi lisan, dua-duanya tak terpisahkan. Ibarat mata uang, sisi muka ditempati kegiatan berbicara sedang sisi belakang ditempati kegiatan menyimak.


Sebagaimana mata uang tidak akan laku bila kedua sisinya tidak terisi, maka komunikasi lisan pun tak akan berjalan bila kedua kegiatan tidak berlangsung saling melengkapi. Pembicara yang baik selalu berusaha agar penyimaknya mudah menangkap isi pembicaraannya Keterampilan berbicara juga menunjang keterampilan menulis dan membaca.


Bukankah berbicara pada hakikatnya sama dengan menulis, paling tidak dalam segi ekspresi atau produksi informasi? Hasil berbicara bila direkam dan disalin kembali sudah merupakan tulisan.dan ini sudah merupakan wujud keterampilan menulis. Penggunaan bahasa dalam berbicara banyak kesamaannya dengan penggunaan bahasa dalam teks bacaan. Apalagi organisasi pembicaraan kurang lebih sama dengan pengorganisasian isi bahan bacaan Retorika atau keterampilan berbicara merupakan suatu seni berbicara yang dipunya seseorang.


Seni bericara tersebut dipunya seseorang dengan alami atau juga dengan memakai latihan secara khusus. Keterampilan berbicara tersebut adalah seni tentang berbicara yang merupakan sarana komunikasi dengan bahasa lisan yakni proses dalam meyampaikan pikiran, gagasan, ide dengan maksud tujuan melaporkan, meyakinkan atau menghibur orang lain.


Dalam proses penyampaian gagasan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :

  • pembicara
  • lambang (bahasa lisan)
  • lawan bicara (penyimak)
  • maksud, pesan, ide atau gagasan

Pengertian Keterampilan Berbicara Menurut Para Ahli

Berikut Ini Merupakan Pengertian Keterampilan Berbicara.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 21 Pengertian Norma Menurut Para Ahli Terlengkap


  • Guntur Tarigan (1981:15)

mengatakan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan.


  • Henry Guntur Tarigan , Anton M. Moeliono dkk.(1988:114)

mengemukakan bahwa berbicara adalah berkata, bercakap, berbahasa, melahirkan pendapat dengan perkataan.


  • Djago Tarigan (1998:34)

mengutarakan bahwa berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Dari tiga pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan dengan menggunakan bahasa lisan.


  • tidak ( Mulgrave dalam Henry Guntur Tarigan, 1981:15).

Berbicara bukan hanya sekadar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata. Berbicara adalah suatu alat untuk mengomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.


Berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung apakah sang pembicara memahami atau tidak baik bahan pembicaraannya maupun para penyimaknya; apakah dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia mengkomunikasikan gagasan-gagasannya; dan apakah dia waspada serta antusias atau tidak.


Bentuk Keterampilan Berbicara

Berikut Ini Merupakan Bentuk Keterampilan berbicara.


  • Monologikas

Monologika merupakan suatu ilmu tentang seni berbicara dengan monolog, dimana hanya ada seorang yang berbicara. Bentuk dari monologika yang sangat penting adalah proses dalam menyampaikan ide atau gagasan kepada orang lain di depan umum, sebagai contoh berpidato.


  • Dialogika

Dialogika merupakan suatu ilmu tentang seni berbicara denganc cara dialog, dimana duo orang atau lebih, mengambil atau bebicara dalam suatu proses pembicaraan. Bentuk dialogika yang sangat penting ialah diskusi, berunding, tanya jawab, debat dan percakapan.


  • Prinsip Umum Dalam Berbicara

Pada kegiatan berbicara tentu ada hal yang mendasari di dalamnya, ada beberapa prinsip pokok, antara pembentukan paling sedikit yaitu dua orang, memakai bahasa yang dipahami bersama, menerima atau mengakui daerah referensi umum, adalah proses tukar pikiran antarpartisipan, penyampaian gagasan dengan tujuan melaporkan, meyakinkan dan menghibur seseorang.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian, Ciri Dan Macam-Macam Norma Beserta Contohnya Terlengkap


Landasan Keterampilan Berbicara

Berikut Ini Merupakan Landasan Keterampilan Berbicara.


  • Situasi

Kegiatan berbicara bisa terjadi dalam situasi, suasana, kondisi serta lingkungan tertentu. Situasi yang dimaksud ialah berbicara formal (resmi) atau informal (tidak resmi).


  • Tujuan

Tujuan dari meyampaikan suatu ide atau gagasan dalam keterampilan berbicara ialah untuk mendapatkan tanggapan atau respon dari lawan bicara. Tujuan dari penyampian ide adalam menghibur, melaporkan dan meyakinkan seseorang.


  • Metode Penyampaian

Ada empat metode atau cara penyampain yang bisa dilakukan seseorang saat waktu berbicara, yakni penyampaian berdasarkan naskah atau skrip penyampaian dengan berdasarkan catatan kecil, penyampaian gagasan dengan berdasarkan hafalan memoriter, penyampaian gagasan secara mendadak serta merta impromtu.


  • Penyimak

Pembicara yang baik pasti akan besifat komunikatif terhadap lawan bicara. Dalam penyampaian ide atau gagasan pembicara perlu memperhatikan siapa penyimak dari pembicara tersebut, agar materi yang sudah disampaikan bisa diterima dengan berimbang.


Sarana Dalam Berbicara

Ada dua sarana yang bisa dipakai dalam keterampilan berbicara untuk efektivitas komunikasi retoris, yakni :

  1. Mendengar merupakan sikap yang sangat penting dalam proses diskusi dan dialog. Pada setiap peserta dalam diskusi selalu berganti peranan antara berbicara dan mendengar.
  2. Cara atau taitik Retoris dalam uraian ini akan dijelaskan dengan sejumlah taktik yang bisa membantu dalam mencapai sasaran dan tujuan dengan efektif dalam proses komunikasi retoris.

  • Taktik Afirmasi (Taktik “Ya”)

Dalam taktik ini, pertanyaan dirumuskan dengan sedemikian tupa agar lawan bicara hanya bisa menjawab: ‘Ya’, serta perlahan-lahan akan menuntunnya pada kesimpilan akhir yang mengejutkan atau jelas, yang harus diterima tanpa ada syarat.


  • Taktik Ofensif (Taktik Antisipasi)

Sementara lawan bicara sedang menyampaikan pendapat, kita sudah melakukan antisipasi kelemahan, setelah itu kita langsung menjatuhkan pendapatnya dengan mengemukakan argumentasi kontra.


  • Taktik Negasi (Taktik “tidak”)

Taktik ini menyangkal pendapat lawan bicara secara langsung, karena menuntut penjelasan yang tuntas.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Nilai Dan Norma Sosial Menurut Definisi Para Ahli


Jenis-Jenis Berbicara

Dalam interaksi berbicara sehari-hari, sering kita memperhatikan; ada diskusi, ada percakapan, ada pidato menjelaskan, ada pidato menghibur, ada ceramah, ada bertelepon, dan sebagainya. Mungkin Anda bertanya dalam hati, mengapa ada berbagai jenis kegiatan berbicara seperti itu. Jawabannya ada lima landasan yang digunakan dalam mengklasifikasi berbicara, yakni:


  1. Tujuan,
  2. Situasi,
  3. Metode penyampaian,
  4. Jumlah pendengar, dan
  5. Peristiwa khusus.

Berdasarkan hal itu, maka berbicara dapat dilihat dari tiga aspek, yakni (a) fungsional, (b) memperhatikan jumlah pembicaranya, serta (c) konsep dasar berbicara.


Speaking skills

Faktor-Faktor Keberhasilan Berbicara

Dalam berbicara ada faktor yang perlu diperhatikan, yaitu: pembicara dan pendengar. Kedua faktor tersebut akan menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan berbicara. Di bawah ini kedua faktor tersebut akan dibahas satu persatu.


  • Pembicara

Pembicara adalah salah satu faktor yang menimbulkan terjadinya kegiatan berbicara. Dan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pembicara untuk melakukan kegiatannya, yaitu: (a) pokok pembicaraan (b) metode, (c) bahasa, (d) tujuan, (e) sarana, dan (f) interaksi.


  • Bahasa

Bagi pembicara, bahasa merupakan suatu alat untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Oleh karena itu, pembicara mutlak harus menguasai faktor kebahasaan. Di samping itu, pembicara juga harus menguasai faktor nonkebahasaan.


  • Faktor Nonkebahasaan

Faktor-faktor nonkebahasaan mencakup (a) sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku , (b) pandangan yang diarahkan pada lawan bicara, (c) kesediaan menghargai pendapat orang lain, (d) kesediaan mengoreksi diri sendiri, (e) keberanian mengungkapkan dan mempertahankan pendapat, (6) gerak-gerik dan mimik yang tepat, (7) kenyaringan suara, (8) kelancaran, (9) penalaran dan relevansi, dan (10) penguasaan topik.


Berbicara di Depan Umum

Untuk memulai berbicara didepan forum umum, ada 4 faktor yang harus dimiliki oleh seorang pembicara , yaitu :


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Norma Hukum Dan Sosial Beserta Berbedaannya


  1. Percaya Diri

Salah satu faktor utama yang wajib pertama kali dimiliki oleh pembicara. Jika seorang pembicara tidak percaya diri maka akan sulit baginya untuk menyampaikan ide dan gagasan yang ada didalam pikirannya. Hal ini disebabkan hatinya sudah diliputi rasa malu atau takut sehingga bingung harus menyampaikan apa dan tidak tahu dari manakah untuk memulai presentasinya. Rasa percaya diri ini dapat dilatih perlahan dengan mulai berlatih berbicara dihadapan forum-forum kecil dengan tema pembicaraan ringan dan santai.


  1. Kejelasan Suara

Gunakan suara yang dapat didengar jelas oleh audien (pendengar). Volume suara cukup sedang-sedang saja dan jangan menggunakan istilah-istilah yang sulit dimengerti oleh audien karena tingkat pengetahuan dari masing-masing audien tidak sama. Penggunaan istilah-istilah umum mungkin akan sangat membantu para audien memahami apa yang kita sampaikan.


  1. Ekspresi/Gerak Mimik

Seorang pembicara juga merupakan seorang aktor dihadapan audiennya. Penggunaan ekspresi yang tepat sesuai tema pembicaraan kita akan dapat membuat audien menjadi lebih semangat untuk mengikuti setiap detil pembicaraan kita dan terhindar dari kantuk akibat kebosanan melihat cara berbicara kita.


Sebagai contoh, misalnya kita berbicara mengenai kepahlawan para pejuang tempo dulu didalam acara HUT RI maka tentu saja ekspresi semangat berkobar-kobar harus kita tunjukkan didepan umum tanpa mengurangi penyampaian makna pembicaraan.


  1. Kelancaran Komunikasi

Agar audien dapat menangkap maksud penyampaian pembicara maka cara menyampaikan haruslah lancar dan terunut dengan baik. Berbicara dengan tersendat-sendat atau terputus-putus karena adanya gangguan faktor lain (misalnya : Handphone berdering terus) dapat mengurangi antusias audien sehingga menimbulkan kejengkelan yang dapat merugikan pembicara itu sendiri.


Faktor pengganggu sewaktu berbicara didepan umum

Ada beberapa hal yang harus dihindari oleh pembicara agar tidak merusak suasana kegiatan berbicaranya, yaitu :

  1. Tidak menguasai topik pembicaraan atau topik terlalu sulit bagi pembicara untuk menyampaikan. Hal ini dapat menyebabkan pembicara menjadi bahan tertawaan audien karena terkesan bodoh.

  2. Rendah diri sewaktu berbicara. Hal ini biasanya disebabkan oleh timbulnya rasa takut, ragu-ragu, pesimis, serta malu pada diri pembicara sehingga mengganggu penyampaian topik dan terkadang bisa membuat pembicara lupa akan materi yang hendak disampaikan.

  3. Adanya gangguan dari pihak eksternal seperti lokasi terletak didekat kegaduhan, rusaknya alat komunikasi dan tempat yang kurang nyaman (misalnya : ruangan tidak ber-AC sehingga membuat pembicara dan audien menjadi cepat gerah).

  4. Kondisi tidak sehat sehingga menyebabkan tidak adanya konsentrasi dalam penyampaian materi serta kadang dapat juga menganggu alat artikulasi (misalnya : suara menjadi serak).

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Perusahaan Di Indonesia Berdasarkan Bentuk Hukumnya