Pengertian Herbisida – Klasifikasi, Jenis, Keracunan, Patofisiologi, Penanggulangan dan Penanganan

Diposting pada

Pengertian Herbisida – Klasifikasi, Jenis, Keracunan, Patofisiologi, Penanggulangan dan Penanganan : Herbisida merupakan senyawa kimia yang membunuh tanaman atau menghambat pertumbuhan normal mereka. Herbisida dalam formulasi dan aplikasi tertentu dapat digambarkan sebagai herbisida selektif atau nonselektif.


Herbicide

Pengertian Herbisida

Herbisida merupakan senyawa kimia yang digunakan untuk mengendalikan, mematikan, atau menghambat pertumbuhan gulma tanpa mengganggu tanaman pokok (Sukman, 2002; Tjitrosoedirdjo et al, 1984). Sedangkan menurut Riadi (2011) herbisida  merupakan suatu  bahan atau senyawa kimia  yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan tumbuhan.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Dampak kerusakan Dan Pencemaran Tanah Beserta Penjelasannya


Herbisida ini dapat mempengaruhi satu atau lebih proses-proses (seperti pada  proses pembelahan sel, perkembangan jaringan, pembentukan klorofil, fotosintesis, respirasi, metabolisme nitrogen, aktivitas enzim dan sebagainya) yang sangat diperlukan tumbuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Di samping itu herbisida bersifat racun terhadap gulma atau tumbuhan penganggu juga terhadap tanaman. Herbisida yang diaplikasikan dengan dosis tinggi akan mematikan seluruh bagian dari jenis tumbuhan. Pada dosis yang  lebih rendah, herbisida akan membunuh tumbuhan dan tidak merusak tumbuhan yang lainnya (Riadi, 2011).


Definisi Herbisida

Herbisida kontak akan membunuh hanya pada bagian dari tanaman yang mereka sentuh, herbisida sistemik diserap oleh dedaunan atau akar dan mengalami translokasi ke bagian lain dari tanaman. Herbisida preemergence (pra-tumbuh), dicampur ke dalam tanah, akan membunuh benih dan bibit kecil yang berkecambah. Herbisida Postemergence baik menghambat fotosintesis atau menghambat pertumbuhan.


Herbisida secara kimia awalnya ialah senyawa anorganik. Herbisida seperti abu, garam dan sejenis burung telah digunakan dalam pertanian sejak zaman kuno. Pada tahun 1900 larutan dari asam sulfat, besi sulfat, tembaga nitrat dan amonium dan garam kalium yang dikenal juga bertindak sebagai herbisida selektif, segera setelah itu larutan natrium arsenit menjadi herbisida standar dan mereka digunakan dalam jumlah besar sampai sekitar tahun 1960. Herbisida anorganik lainnya termasuk amonium sulfamat, karbon bisulfida, natrium klorat, larutan asam sulfat dan formulasi yang mengandung borat.


Pada Herbisida organik mulai diproduksi dengan sungguh-sungguh dengan senyawa dinitrophenol pada tahun 1932. Sebuah terobosan terjadi di tahun 1940-an dengan 2,4-D (asam 2,4-diklorofenoksiasetat), suatu senyawa yang mirip dengan hormon tumbuhan, yang merupakan herbisida sistemik yang sangat selektif ketika digunakan dalam jumlah yang sangat kecil. 1,4-D dengan cepat diadopsi untuk mengendalikan gulma berdaun lebar pada jagung, sorgun, biji-bijian kecil dan padang rumput-rumput serta pada rumput dan rumput hias yang lainnya.


Asam alifatik fenoksi dan turunannya ialah kelompok besar lainnya dari herbisida organik, yang berhasil karena selektivitas dan kemudahan translokasi mereka. Kelompok-kelompok lain herbisida organik termasuk arsen organik dan urea, asam nitrogen heterosiklik, turunan fenol, triazine dan sulfonilurea.


Pada tahun 1960 dan 197-an, kombinasi 2,4-D dan 2,4,5-T secara luas digunakan di Vietnam sebagai defoliant dengan nama Agent Orange. Karena memiliki dampak kesehatan yang mungkin dari penggunaan Agen Oranye, kemungkinan bahaya ekologi dan kesehatan yang disebabkan herbisida telah mengakibatkan evaluasi ulang dari banyak senyawa. Panggunaan dioxin yang mengandung 2,4,5-T dilarang di Amerika Serikat pada tahun 1984. Pada tahun 1975, Meksiko atas desakan pemerintah Amerika Serikat, mulai penyemprotan lahan ganja dengan parakuat yang keduanya dieliminasi tanaman dan menimbulkan kekhawatiran efek samping toksik pada pengguna ganja.


Glifosat, senyawa yang pertama kali diidentifikasi sebagai herbisida pada tahun 1970 dan dijual mulai tahun 1970-an dibawah nama dagang Roundup telah banyak digunakan sebagai obat pembunuh rumput-rumputan dalam spektrum yang luas karena toksisitas dan kecenderungan untuk menurunkan relatif cepat di lingkungan yang relatif rendah.


Dimulai pada tahun 1990-an, penggunaan strain tanaman yang tahan terhadap efek herbisida yang juga memberikan kontribusi untuk digunakan secara luas. Namun penggunaan tersebut menyebabkan perkembangan yang disebut gulma super yang telah mengembangkan resistensi terhadap glifosat.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Respirasi Sel Pada Tumbuhan Dalam Biologi


Klasifikasi Herbisida

Untuk dapat memakai herbisida dengan baik, kita perlu mengetahui herbisida tersebut dengan baik pula. Sehingga dilakukan pengolongan herbisida dengan tujuan untuk mempermudah pengenalan jenis herbisida yang banyak jenisnya. Dengan adanya penggolongan tersebut akan lebih mudah mendalami dan mengenal sifat masing-masing herbisida. Menurut Sukmana 83-90 (2002) secara umum klasifikasi herbisida ada 4, yaitu :


Berdasarkan Waktu Aplikasi

Waktu aplikasi herbisida biasanya ditentukan oleh stadia pertumbuhan dari tanaman maupun gulma. Berdasarkan hal tersebut, maka waktu aplikasi herbisida terdiri dari :


  1. Pre plant, maksudnya herbisida diaplikasikan pada saat tanaman belum ditanam, tetapi tanah sudah diolah.
  2. Pre emergence, maksudnya herbisida diaplikasikan sebelum benih tanaman atau biji gulma berkecambah. Pada perlakuan ini benih dari tanaman sudah ditanam, sedangkan gulma belum tumbuh.
  3. Post emergence, maksudnya herbisida diaplikasikan pada saat gulma dan tanaman sudah lewat stadia perkecambahan. Aplikasi herbisida bisa dilakukan pada saat tanaman masih muda maupun sudah tua.

Berdasarkan Cara Aplikasi

Cara aplikasi herbisida ada 2 yaitu :


Aplikasi melalui daun

Aplikasi melalui daun ada dua, yaitu :

  1. Bersifat kontak : berarti herbisida ini hanya mematikan bagian hijau tumbuhan yang terkena semprotan. Herbisida ini cocok untuk mengendalikan gulma setahun, karena bila terkena akan menyebabkan mati secara keseluruhan. Contohnya : herbisida paraquat (Gromoxone) kerjanya menghambat proses photosistem 1 pada fotosintesis.

    1. Herbisida kontak selektif : herbisida ini hanya membunuh satu beberapa spesies gulma.
    2. Herbisida kontak non selektif : herbisida ini dapat membunuh semua jenis tumbuhan yang terkena, terutama bagian yang berwarna hijau.

  2. Bersifat sistemik : berarti herbisida yang diberikan pada tumbuhan (gulma) setelah diserap oleh jaringan daun kemudian ditranslokasikan keseluruh bagian tumbuhan tersebut misalnya : titk tumbuh, akar, rimpang, dan lain-lain, sehingga tumbuhan/gulma tersebut akan mengalami kematian total. Contoh : Glyphosate (Roundup) cara kerjanya menghambat sintesa protein dan metabolisme asam amino.

Aplikasi melalui tanah

Aplikasi melalui tanah Umumnya herbisida yang diberikan melalui tanah adalah herbisida bersifat sistemik. Herbisida ini disemprotkan ke tanah, kemudian diserap oleh akar dan ditranslokasikan bersama aliran transpirasi dam pai ke “side of action” pada jaringan daun dan menghambat proses pada photosystem II pada fotosintesis. Contohnya : herbisida diuron, golongan Triazine, Uracil, Urea, dan Ioxynil.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan :  Jangka Sorong : Cara Menghitung, Membaca, Menggunakan, Contoh Soal, Fungsi, Jenis dan Gambarnya


Berdasarkan Bentuk Molekul

Berdasarkan bentuk molekulnya, herbisida dibagi menjadi dua, yaitu :

  • Herbisida anorganik merupakan suatu herbisida yang tersusun secara anorganik (Riadi, 2011). Contohnya :

    1. Ammonium sulfanat, akan memperpanjang masa dormansi sampai cadangan karbohidrat dan gula menjadi habis dan meyebabkan kematian.
    2. Ammonium sulfat, menyebabkan peningkatan nilai PH pada cairan tubuh tumbuhan yang terkena ammonium, yang menyebabkan tumbuhan cepat mati. Ammonium juga beracun pada protoplasma.sel.
    3. Ammonium tiosianat, menyebabkan racun pada sel tumbuhan, menghambat enzim katalase dan mengkaogulasikan protein.
    4. Kalsium sianamida dapat mengkoagulasikan protein sel.
    5. Tembaga sulfat, nitrat, dan fero sulfat, tembaga sulfat dapat melemahkan kerja dan menyebabkan protein mengendap.
  • Herbisida organik merupakan suatu herbisida yang tersusun secara organik (Riadi, 2011). Contohnya :

    1. Amida. Amida digunakan untuk mengendalikan kecambah gulma semusim, khusunya dari golongan rumputan. Herbisida ini lebih aktif bila diaplikasikan pada permukaan tanah sebagai herbisida pratumbuh. Mekanisme kerja utama herbisida yang tergolong dalam kelas amida adalah mempengaruhi sintesa asam nukleat dan protein. Butaklor, pretilaklor, alaklor, dan propanil termasuk dalam kelas amida ini.

    2. Bipiridilium. Herbisida yang termasuk dalam  golongan  ini umumnya herbisida pasca tumbuh, tidak aktif apabila diaplikasikan lewat tanah dan tidak selektif. Paraquat dan diquat adalah contoh herbisida yang termasuk dalam kelas ini. Tumbuhan yang terkena herbisida akan menampakkan efek bakar dalam waktu relatif singkat dan diikuti dengan peluruhan daun. Cahaya, oksigen, dan klorofil adalah prasarana utama yang diperlukan untuk menunjukkan efek racun tersebut.

      Contoh  diquat dan paraquat :    Gramoxone mengandung bahan aktif paraquat sebanyak 20%. Senyawa  paraquat dikenal sebagai racun kontak umum. Menurut formulatornya semua tumbuhan hijau dapat dibunuhnya. Kenyataannnya lumut yang tumbuh di batu tahan terhadapnya. Padahal lumut itu tumbuhan rendah, ada yang bersel satu saja. Mungkin fotosintesisnya tidak menghasilkan elektron.


      Paraquat sendiri tidak habis terpakai. Oleh karena itu paraquat dapat dapat dikatakan sebagai katalisator organik. Tidak mengherankan kita, bila 1 liter produk paraquat di  dalam 500 liter air dapat menghanguskan rumput seluas satu lapang sepak bola. Elektron (e) diperoleh dari hasil samping fotosintesis. Proses fotosintesis mutlak bergantung pada sinar/cahaya. Jadi, tenaga untuk membuat herbisida H2O2  secara tidak langsung  berasal dari matahari.


    3. Dinitroanilin. Butralin dan pendimentalin termasuk dalam golongan herbisidadinitroanilin. Herbisida tersebut akan aktif bila diaplikasikan ke tanah sebelum gulmatumbuh atau berkecambah. Pola kerja herbisida dinitroalin adalah sebagai racun mitotikyang menghambat perkembangan akar dan tajuk gulma yang baru berkecambah.

Berdasarkan Cara Kerja

Berdasarkan cara kerjanya, menurut  Tjitrosoedirdjo et al, (1984) klasifikasi herbisida dibagi menjadi dua, yaitu :

  • Kontak dan ditranslokasikan : herbisida kontak dikenal juga sebagai caustis herbisides, karena adanya efek bakar yang terlihat, terutama pada konsentrasi yang tinggi seperti asam sulfat, besi sulfat, dan tembaga sulfat. Reaksi sel ini tidak spesifik, biasanya memperlihatkan denaturasi dan pengendapan protein. Dengan larutnya membran sel maka seluruh konfigurasi sel dirusak karena membran dari kloroplas juga rusak dan sel itu akan mati. Paraquat dikenal juga sebagai herbisida kontak, molekul herbisida ini mengahasilkan radikal hidrogen peroksida yang memecahkan membran sel dan merusak seluruh konfigurasi sel seperti umumnya herbisida kontak

  • Herbisida menurut mekanisme kerja, Beberapa proses metabolisme tanaman yang diengaruhi oleh herbisida antara lain :
    1. Herbisida yang menghambat fotosintesis
    2. Penghambatan perkecambahan
    3. Penghambatan pertumbuhan
    4. Penghambatan respirasi/oksidasi

Jenis-Jenis Herbisida

Jenis-Jenis Herbisida

Berikut Ini Merupakan Jenis-Jenis Herbisida.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Tabel Periodik Unsur Kimia : Pengertian, Makalah, Sistem Dan Gambar


  1. Argold

  • Bahan aktif               : Sinmetilin 100g/l  + 2,4 D-IBE 400 g/l
  • Jenis formulasi          : Cairan
  • Translokasi                : Sistemik
  • Selektivitas               : Selektifitas
  • Waktu aplikasi          : Pra tumbuh
  • Tanaman sasaran       : Padi
  • Gulma sasaran & dosis : daun lebar, teki-tekian, rumput .
  • Volume semprot       : 100-200 l/ha
  • Mekanisme kerja :

    1. Herbisida ini akan menembus kutikula dan dinding sel yang terdiri dari selulosa dan pektin maupun lapisan lilin
    2. Gejala yang ditimbulkan gulma setelah diberi herbisida ini hanya mematikan bagian hijau tumbuhan yang terkena semprotan(Djojosumarto, 2008).

  1. Maron 500 SC
  • Bahan aktif                         : Diuron 500 g/ l
  • Jenis formulasi        : Pekatan yang diemulsikan
  • Translokasi              : Sistemik
  • Selektivitas                         : Selektif
  • Waktu aplikasi        : Pra tumbuh dan Purna tumbuh
  • Tanaman sasaran     : Tebu
  • Gulma sasaran & dosis :

  • Borreria alata : 2-3 l/Ha
  • Mimosa indica : 2-3 l/ ha
  • Richardia brasiliensis : 2-3l/ ha
  • Digitaria citiaris : 2-3 l/ha.
  • Volume semprot : 200L/Ha
  • Mekanisme kerja :

    1. Mempengaruhi dan Menghambat aliran elektron  pada fotosistem II sehingga mengahambat rantai transpor elektron pada fotosintesis.
    2. Gejala yang ditimbulkan gulma setelah diberi herbisida yaitu daun menjadi  layu dan akhirnya mati (Wudianto, 2001).

  1. Starlon 665 EC
  • Bahan aktif                         : Triklopir Butoksi etil ester 665 g/l (setara dg triklopir 480 g/l)
  • Jenis formulasi                    : pekatan yang diemulsikan
  • Translokasi              : Sistemik
  • Selektivitas                         : Selektif
  • Waktu aplikasi                    : purna tumbuh
  • Tanaman sasaran     : Kelapa sawit
  • Gulma sasaran & dosis :

    1. Cromolaena odorata : 0,5-1 l/ha
    2.  –Clidemia hirta : 0,5-1 l/Ha
    3. Melastoma malabthrium  : 0,5-1 l/ha
    4. Mikania micrantha : 0,5-1 l/ha

  • Volume semprot     : 200-400L/Ha
  • Mekanisme kerja :
    1. Herbisida ditranslokasikan ke seluruh bagian atau jaringan gulma dari daun sampai ke akar maupun sebaliknya.
    2. Gejala yang ditimbulkan gulma setelah diberi herbisida yaitu mematikan titik tumbuh dari tunas sampai ke akar.

  1. Touchdown 480 AS
  • Bahan aktif                    : Sulfosat 480 AS
  • Jenis formulasi               : pekatan diemulsikan
  • Translokasi                     : Sistemik
  • Selektivitas                    : Non selektif
  • Waktu aplikasi              : Puna tumbuh
  • Tanaman sasaran            : Karet, kopi, teh
  • Gulma sasaran & dosis :

    1. Imperata cylindrical : 3-6 l/ha
    2. Borreria alata : 0,75-1,5 l/ha
    3. Axonopus compessus : 1-2 l/ha
    4. Panicum repens : 1-2 l/ha
    5. Paspalum conjugatum : 1-2 l/ha

  • Volume semprot            : 20-80 l/ha
  • Mekanisme kerja :

    1. Mempengaruhi  metabolisme  asam  nukleat  dan sintesis protein.
    2. Gejala yang ditimbulkan gulma setelah diberi herbisida yaitu  menguning dan mengering akhirnya mati (Utomo, dkk. 1992).

  1. Zaparis 240 AS
  • Bahan aktif         : Isopropilamina glifosat 240 g/l setara dengan asam glifosat 178 g/l
  • Jenis formulasi    : Larutan dalam air
  • Translokasi          : Sistemik
  • Selektivitas        : Non selektif
  • Waktu aplikasi   : Purna tumbuh
  • Tanaman sasaran : Karet dan Kelapa sawit.
  • Gulma sasaran & dosis :
  • Karet:

    1. Borreria alata : 4-6 l/ha
    2. Ageratum conyzoides  : 2-4 l/ha
    3. Ottochloa nodosa : 6 l/ha

  • Sawit:
    1. Mikania micrantha  : 4-6 l/ha
    2. Axonopus compessus  : 2-4 l/ha

  • Volume semprot            : 200-500L/Ha
  • Mekanisme kerja :
    1. Mempengaruhi atau  menghambat kerja enzim 5-enolpyruvylshikimate-3-phosphate synthase (EPSPS), enzim yang terlibat dalam sintesa tiga asam amino.
    2. Gejala yang ditimbulkan gulma setelah diberi herbisida yaitu  gulma layu dan akhirnya gulma mati  (Anwar, R. 2009).

  1. Starane 200 EC
  • Bahan aktif          : Fluroksipir 200 g/l
  • Jenis formulasi : Pekatan diemulsikan
  • Translokasi          : Sistemik
  • Selektivitas          : Non selektif
  • Waktu aplikasi : Purna tumbuh
  • Tanaman sasaran : Karet  dan Kelapa sawit
  • Gulma sasaran & dosis :

    1. -Borreria latifera  : 0,25-0,5 l/ha
    2. -Ageratum conyzoides : 0,25-0,5 l/ha
    3. Poeraria javanica 0,25-0,5 l/ha
    4. Melastoma malabatrichum : 1 l/ha

  • Volume semprot : 400-600 L/Ha
  • Mekanisme kerja :
    1. Mempengaruhi sintesislemak, metabolisme nitrogen dan produksi enzim.
    2. Gejala yang ditimbulkan gulma setelah diberi herbisida yaitu  pinasti,bengkok batang dan daun keriting (Djojosumarto, 2008).

  1.    Galex 250/250 EC
  • Bahan aktif           : Metolaktor 250 g/l,  Metobromuron 250 g/l
  • Jenis formulasi      : Pekatan diemulsikan
  • Translokasi            : Sistemik
  • Selektivitas            : Non selektif
  • Waktu aplikasi     : Pra tumbuh
  • Tanaman sasaran : akedelai, kapas, Tanaman kacangan penutup karet
  • Gulma sasaran & dosis :

    1. -Ageratum conyzoides : 3-6 ml/l
    2. -Mimosa incise 3-6 ml/l
    3. -Echinocloa colonum 3-6 ml/l
    4. -Synedrella nudiflora 6-9 ml/l

  • Volume semprot   : 400-500 L/Ha
  • Mekanisme kerja :
    1. Mempengaruhi dan  menghambat kerja enzim,rantai cabang asamamino valine,leucine tidakdihasilkan.
    2. Gejala yang ditimbulkan gulma setelah diberi herbisida yaitu  gulma  dapat berhenti tumbuh dan akhirnya mati (Wudianto, 2001).

  1. Boral 480 SC
  • Bahan aktif                      : Sulfentrazon 480 g/l
  • Jenis formulasi                 : Suspensi
  • Translokasi                       : Sistemik
  • Selektivitas                       : Non selektif
  • Waktu aplikasi                 : Pra tumbuh
  • Tanaman sasaran              : Padi, tebu dan  teh
  • Gulma sasaran & dosis :
  • Padi:

    1. Marsilea crenata : 100 ml/ha
    2. Ludwigia hyssopifolia : 100 ml/ha
    3. Cyperus iria : 100 ml/ha

  • Tebu:
    1. Croton hirtus : 0,5- 1 l/ha
    2. Cleme rutidospermae : 0,5- 1 l/ha

  • Teh:
    1. Ageratum conyzoides : 1 l/ha
    2. Setaria plicata : 1 l/ha

  • Volume semprot :
  • Mekanisme kerja :

    1. Setelah diserap oleh  pada jaringan daun kemudian ditranslokasikan keseluruh bagian tumbuhan misalnya titik tumbuh, akar rimpang .
    2. Gejala yang ditimbulkan gulma setelah diberi herbisida yaitu  mengalami kematian total (Djojosumarto, 2008).

  1. Fenomin 865 SL
  • Bahan aktif             :2,4-D Dimetil Amina 865 g/l setara dengan asam 2,4-D 720 g/l
  • Jenis formulasi: Pekatan larut dalam air
  • Translokasi : Sistemik
  • Selektivitas : Selektif
  • Waktu aplikasi: purna tumbuh
  • Tanaman sasaran : Padi
  • Gulma sasaran & dosis :

    1. Monochoria vaginalis 1,5 l/ha
    2. Scirpus junocoides 1,5 l/ha
    3. Volume semprot : 500 l/ha

  • Mekanisme kerja :
    1. Mempengaruhi bagian jaringan gulma, mulai dari daun sampai keperakaran atau sebaliknya.
    1. Gejala gulma setelah diberi herbisida membutuhkan waktu 1-2 hari untuk membunuh gulma karena tidak langsung mematikan jaringan tanaman yang terkena, namun bekerja dengan cara menganggu proses fisiologi jaringan tersebut lalu dialirkan ke dalam jaringan tanaman gulma dan mematikan jaringan sasarannya seperti daun, titik tumbuh, tunas sampai ke perakarannya (Wudianto,2001).

  1. Pro Quat 276 SL
  • Bahan aktif          :Parakuat  Diklorida 276 g/l setara dengan  ion paraquat 200 g/l
  • Jenis formulasi: larutan dalam air
  • Translokasi           : Kontak
  • Selektivitas           : selektif
  • Waktu aplikasi : purna tumbuh
  • Tanaman sasaran : Kelapa sawit
  • Gulma sasaran & dosis :

    1. Ageratum conyzoides 2-2,5 l/ha
    2. Ischiema timorerse 2-2,5 l/ha

  • Volume semprot : 400-500 l/ha
  • Mekanisme kerja :
    1. Mempengaruhi proses fotosintesis pada gulma dengan  menghambat fotosistem I.
    2. Gejala yang ditimbulkan gulma setelah diberi herbisida yaitu  daunnya menguning dan kering karna fotosintesis terhambat (Utomo, dkk. 1992).

      Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Campuran : Pengertian, Ciri, Dan Macam Serta Contohnya Dalam Ilmu Kimia


fungsi Herbisida

Kasus Keracunan Herbisida

Keracunan herbisida adalah kejadian yang sering terjadi. Keracunan dapat terjadi secara sengaja terhisap (inhalasi), menelan, atau melalui kulit. Catatan keracunan yang ditemukan pada kuda biasanya dikarenakan menelan herbisida secara sengaja dan manajemen terapeutik. Di bawah ini disebutkan beberapa kasus keracunan herbisida pada manusia maupun hewan.


  1. Keracunan paraquat menyebabkan kematian setidaknya tujuh anjing di Portland, epidemi ini adalah bukti bahwa jenis keracunan ini masih menjadi masalah pada hewan praktek saat ini di Amerika Utara. Paraquat adalah senyawa beracun dipyridilium (salah satu dari beberapa herbisida non selektif) yang masih tersedia di Amerika Serikat karena bertindak cepat, dapat digunakan secara efektif dalam lingkungan yang basah dan memiliki keterbatasan potensi pencemaran lingkungan dan tingkat resistensi gulma rendah, sehingga banyak digunakan dalam sistem berbagai tanaman produksi. Namun, paraquat sangat beracun pada hewan domestik jika tertelan.

Sebagian besar kasus keracunan paraquat pada orang dan hewan terjadi karena menelan formulasi yang terkonsentrasi;. Pada anjing, hanya sekitar 25% sampai 28% per oral dari paraquat yang diserap sisanya diekskresikan dalam tinja. Dalam percobaan pada hewan pengerat, parakuat terdeteksi dalam tinja sampai tujuh hari setelah terpapar. LD50 oral dari paraquat pada kucing adalah 35 sampai 50 mg / kg. LD50 oral pada anjing tidak diketahui, tetapi lebih tinggi daripada kucing, dan LD intravena 50 pada anjing adalah 7,48 mg / kg.


  1. Keracunan akibat konsumsi butaklor (herbisida) ditemui pada lima kuda. Perubahan signifikan diamati pada dua kuda setelah pengobatan awal dengan dekstrosa salin 5%, anti-bloat, pheneramine maleat dan tonik hati. Sedangkan tiga kuda lainnya merespon setelah terapi kedua. Gejala hipersalivasi dan timpani menghilang dan hewan kembali normal (sembuh) pada hari ke-3 pengobatan.

Gejala klinis yang terlihat yaitu inkoordinasi, hipersalivasi, timpani, dan anoreksia yang dilaporkan pada lima kuda berusia antara 4-6 tahun. Namun suhu tubuh, denyut jantung dan laju pernafasan berada dalam kisaran normal. Anamnese dari kejadian ini menerangkan bahwa kuda-kuda tersebut memperlihatkan gejala-gejala klinis tersebut setelah meminum air di sawah yang terpapar dengan herbisida.


Pengobatan yang dilakukan adalah pemberian Dextrose saline (2L) yang diberikan secara intravena untuk setiap kuda, diikuti dengan pemberian maleat phenaramine dan persiapan tonik injeksi hati (10 ml masing-masing) secara intramuskular. Selain itu, 200 ml anti-bloat (silika dalam dimethicone) juga diberikan secara oral. Dextrose saline (2L) diberikan secara intravena untuk setiap kuda, diikuti dengan pemberian maleat phenaramine dan persiapan tonik injeksi hati (masing-masing 10 ml) secara IM.


Selain itu, 200 ml anti-bloat (silika dalam dimethicone) juga diberikan secara oral. Pengobatan diulang setelah empat jam dengan 1L 5% saline secara IV dengan infus dextrose, 100 ml anti-bloat per oral dan 1 gm ampicillin-cloxacillin secara intramuskular. Ampicillin-cloxacillin 1gm Ampisilin diberikan 2x/hari, phenaramine maleat & tonik hati (masing-masing 10 ml) 1x/hari, dilanjutkan selama tiga hari.


  1. Kejadian pada manusia menyebabkan dermatitis exfoliative, jaundice, peningkatan enzim hati, dan eosinofilia. Gejala ini timbul satu hari setelah kulit terpapar toksin butachlor (Nasser et al., 2007).
  2. Kejadian pada manusia juga dilaporkan oleh Ying-Chun et al pada tahun 2008. Gejala yang ditimbulkan setelah terpapar herbisida secara oral yaitu muntah, depresi sistem saraf pusat, gangguan saraf dan kardiovaskular parah dan bahkan kematian.

Patofisiologi Keracunan

Masuknya bahan-bahan herbisida dan jenis pestisida lain ke dalam tubuh dapat melalui beberapa cara, yaitu melalui mulut (dengan cara diminum/terminum), melalui hidung (dengan cara dihirup/terhirup, misalnya pada petani yang sedang menyemprot tanamannya dengan cara yang tidak benar), dan melalui kulit (dengan cara masuk lewat pori-pori), serta melalui rambut dan mata (Purnawati 2008).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Wartegg Test dan Tips Lulus Cara Mengerjakan Tes Psikotes Wartegg


Herbisida dapat menimbulkan efek pada hama khususnya tanaman pengganggu, namun herbisida dapat mempengaruhi mekanisme yang penting bagi bentuk kehidupan yang lebih tinggi seperti manusia dan hewan.  Dalam dosis kecil, herbisida tidak berbahaya bagi manusia dan hewan karena ukurannya yang jauh lebih besar dari hama tanaman pengganggu, namun apabila dosis kecil tersebut terakumulasi dalam jumlah tertentu akan membahayakan manusia dan hewan.


Kontak dengan herbisida akan mengakibatkan efek bakar yang langsung dan dapat terlihat pada penggunaan kadar tinggi karena kandungan asam sulfat 70 %, besi sulfat 30 %, tembaga sulfat 40 %, dan paraquat.  Keracunan herbisida menyebabkan rusaknya lapisan selaput lendir saluran pencernaan, dehidsrasi, rasa terbakar di saluran pencernaan, terganggunya sistem pernafasan yang akhirnya menyebabkan korban kejang, muntah, koma akibat kekurangan oksigen hingga kematian mendadak jika tidak segera mendapatkan pertolongan (Zulfendi 2007).


Lama reaksi racun ditentukan dari kondisi fisik korban.  Korban dengan kondisi fisik lemah, kurang gizi, perut kosong atau menderita tukak lambung akan cepat mengalami muntah – muntah dan mulut berbuih.  Jika terindikasi keracunan, secepatnya korban diberikan antidota seperti norit, putih telur atau susu.  Tujuan pemberian antidota agar dinding usus tidak rusak dan racun tidak diserap oleh darah.  Namun cara yang paling penting adalah agar korban muntah sehingga jumlah herbisida yang masuk berkurang (Zulfendi 2007).


Herbisida inorganik adalah herbisida asal anorganik, yang biasanya digunakan dalam skala besar dan secara bertahap akan digantikan oleh herbisida organik. Herbisida ini dapat digunakan dalam dosis rendah dan bertindak lebih selektif.  Jenis herbisida inorganik adalah klorat, sodium klorat, dan NaClO3 (paling banyak digunakan).  Sodium klorat dan NaClO3 berupa substansi putih, higroskopis, mudah larut dalam air, dan sangat mudah terbakar bila dicampur dengan zat organik kering dan merupakan oksidan yang kuat sehingga menyebabkan residu pada tanah yang tergantung dari dosis, tanah, dan curah hujan yang turun (Michal 1981).


Kasus intoksikasi sodium klorat pada hewan sangat rendah namun kadang-kadang dapat terjadi.  Dosis letal minimum untuk sapi adalah 1g/ kg BB, domba 1,5-2,5 mg/kg BB, dan untuk unggas 5 g/kg BB.  Sedangkan klorat menyebabkan hemolisis yang diikuti dengan perubahan susunan methemoglobin dalam tubuh.


Darah gagal mensuplai oksigen pada jaringan sehingga menyebabkan hipoksia Symptom yang timbul tergantung dari derajat methemoglobinemia dan dapat terjadi cyanosis, dyspnoea, kelemahan, diarrhoea, hemoglobinuria, dan hematuria.  Pada kejadian yang akut menyebabkan kematian tanpa symptom yang jelas.  Pada pemeriksaan post-mortem ditemukan karakteristik yang gelap, darah berwarna kecoklatan dan organ serta jaringan tampak pucat (Michal 1981).


Pottasium sianat dan KCNO juga dapat digunakan sebagai herbisida anorganik.  Pottasium sianat dan KCNO memiliki nilai toksik yang rendah pada LD50 diatas 800 mg/g.  Kalsium cyanamide, CaCN2, nitro-lime dapat digunakan sebagai pupuk dengan kerja sebagai herbisida, bentuk sediaannya adalah bubuk berwarna putih yang dapat mengiritasi kulit dan membran mucous, menyebabkan rasa mual, vomiting, dan diarrhoea.  Sodium tetraborat Na2B4 memiliki toksisitas rendah  dengan LD50 per oral di atas 5000 mg/kg (Michal 1981).


Herbisida turunan phenoxy fatty acid merupakan golongan yang sangat penting dan sering digunakan sebagai herbisida. Selain itu dapat pula digunakan sebagai regulant pertumbuhan yang merangsang pertumbuhan tanaman dalam dosis kecil dan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman jika digunakan dalam dosis besar.  Beberapa bertindak selektif, terutama pada gulma dikotil, dan bersifat sistemik.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 7 Pengertian Hukum Internasional Menurut Para Ahli


Penanggulangan dan Penanganan

Penanggulangan dan Penanganan

Penanggulangan keracunan herbisida dapat dilakukan dengan beberapa langkah, sama halnya dalam penanggulangan keracunan secara umum. Herbisida biasanya menyebabkan keracunan melalui pakan dan air yang termakan oleh hewan dan manusia. Senyawa herbisida yang tertelan, bisa dicegah kelanjutan absorpsi lebih lanjut dengan mengeluarkannya, yaitu dengan cara menimbulkan muntah, membilas lambung, dan memberikan pencahar. Menimbulkan muntah pada hewan yang mengalami keracunan herbisida dapat dilakukan dengan mengorek dinding faring belakang dengan spatel atau  memberikan emetikum, misalnya apomorfin (Gunawan 2007).


Keracunan herbisida dari golongan karbamat (misalnya karbamat profem) dapat diberikan atropin sulfat hingga terjadi atropinisasi penuh. Keracunan DDT, BHC, aldrin, tiodan, klordan, dan toksifen diberi terapi simtomatik, dengan membilas lambung dan meninggalkan larutan MgSO4 (Gunawan 2007).


Pengobatan spesifik pada keracunan DDT dan golongan chlorhidrokarbon lainnya sebagai antikonvulsi diberikan injeksi luminal. Antidota spesifik untuk DDT tidak ada, tetapi sering digunakan sedatif seperti fenobarbital dan ditambahkan ion kalsium dan glukosa sebagai terapi suportif. Pada keracunan oleh organofosfat diatasi dengan antidot atropin dan dibantu dengan diazepam terutama bila terjadi kejang (Gunawan 2007; Purnawati 2008).


Herbisida di lingkungan biasanya dilepaskan dari tanah dengan degradasi residu yang ada.  Sifat kimiawi dari herbisida penting untuk menentukan jalur dan laju degradasi.  Walaupun demikian, hasil transformasi juga dapat menimbulkan keaktifan biologis yang tinggi.  Banyak hasil transformasi yang tahan lama dalam tanah dan media air serta memiliki pengaruh ekologis yang sama seperti senyawa aslinya.  Jalur degradasi herbisida ada tiga jenis yaitu fotokimiawi, transformasi kimiawi, dan degradasi mikrobiologis (Connel 1983).


Fotokimiawi dilakukan pada kondisi tanah dengan intensitas sinar matahari cukup tinggi dan dalam pelarut bukan air.  Beberapa herbisida memperlihatkan dekomposisi.  Fotosensitiser alamiah seperti zat-zat humat juga berperan dalam degradasi.  Pemutusan fotokimiawi dirumitkan oleh proses tanah dan adanya mikrobiologi yang menyaingi (Khan 1980).


Transformasi kimiawi adalah proses penting pelapasan herbisida dari tanah.  Reaksi diperantarai oleh air yang bertindak sebagai media reaksi, suatu reaktan atau keduanya.  Reaksi yang terjadi adalah hidrolisis, oksidasi, reduksi dan isomerisasi.  Degradasi mikrobiologis ditanah mencakup reaksi kimiawi, pengkayaan mikrobial, dan ketabolisme.  Transformasi kimiawi dan mikrobiologis sulit dibedakan dalam tanah.  Jalur degradasi rumit utama mencakup reaksi dehidrohalogenasi dan isomerisasi.  Hasil akhir transformasi herbisida adalah karbon dioksida, air, garam mineral, metabolit alami tanah, dan zat-zat humat.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 101 Pengertian Hukum Adat Menurut Para Ahli Dunia


Hasil degradasi herbisida di lingkungan secara umum adalah DDE (Dichloro-diphenyl-dichloroethylene atau 1,1-dichloro-2,2- bis(p-chlorophenyl) ethylene) dan DDD (Dichloro-diphenyl-dichloroethane atau 1,1-dichloro-2,2-bis(p-chlorophenyl) ethane) yang diturunkan dari dehidrokloronisasi biologis dan deklorinasi reduktif DDT (dichloro-diphenyl-trichloroethane atau 1,1,1-trichloro-2,2-bis-(p-chlorophenyl) ethane) yang stabil dan aktif secara biologis.


Fotooksidasi dan epoksidasi mikrobial siklodiena menjadi hasil yang beracun.  Pada kondisi tanah dengan pH 3-4 dan adanya kelebihan nitrit akan lebih menyukai reaksi N-nitrosasi dan menghasilkan nitrosamine.  N-nitroso, seperti N-nitrosoglifosat dapat tahan didalam tanah.


Perubahan bentuk dan interkonversi lingkungan dan metabolik dari amina aromatis primer dan senyawa yang berkaitan terjadi lebih cepat daripada reaksi mineralisasi.  Akibat yang tampak adalah bentuk laten dari amina aromatis di lingkungan.  Salah satu susunan hasil kondensasi dari amino aromatis adalah azobenzena terklorinasi.  Contohnya 3,3’,4,4’-tetrakloroazobenzena yang mirip steriknya dengan 2,3,7,8-tetraklorodibenzodioksin (TCDD).


Herbisida memperlihatkan spektrum persistensi yang luas, mulai dari beberapa hari atau minggu untuk karbamat dan asam alifatik, sampai lebih dari satu tahun untuk s-triazina dan pilokram tertentu.  Herbisida pada mulanya mengalami hidrolisis ester relatif, tidak terlalu bertahan lama dibanding herbisida yang mengalami reaksi dealkilasi awal.  Persistensi cenderung semakin kuat dengan berkembangnya kerumitan molekul dasar.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Gulma Dan Penyakit Pada Tumbuhan Beserta Contohnya