Campuran

Campuran : Pengertian, Ciri, Dan Macam Serta Contohnya Dalam Ilmu Kimia

by

in

 Tahukah anda apa yang dimaksud dengan campuran dalam ilmu kimia ??? Jika anda belum mengetahuinya anda tepat sekali mengunjungi gurupendidikan.com. karena disini akan mengulas tentang pengertian campuran, ciri campuran, macam-macam campuran beserta contohnya dalam ilmu kimia secara lengkap. Untuk itu marilah simak ulasan yang ada dibawah berikut ini.


Campuran

Pengertian Campuran

  • Campuran adalah materi yang terdiri atas dua macam zat atau lebih dan masih memiliki sifat-sifat zat asalnya. Campuran dapat tersusun atas beberapa unsur ataupun senyawa. Komponen-komponen penyusun suatu campuran tersebut dapat dipisahkan berdasarkan sifat fisika zat penyusunnya. Terdapat dua macam campuran, yaitu campuran homogen dan campuran heterogen.

  • Campuran heterogen adalah campuran yang tidak serbasama, membentuk dua fasa atau lebih, dan terdapat batas yang jelas di antara fasa-fasa tersebut. Contoh dari campuran ini adalah alkohol dan air membentuk campuran homogen, campuran kapur dengan pasir, campuran serbuk besi dengan karbon, dan masih banyak contoh lainnya.

  • Campuran homogen adalah campuran yang serbasama di seluruh bagiannya dan membentuk satu fasa. Contoh dari campuran ini adalah udara. Udara tersusun atas beberapa senyawa contohnya H2, CO2, N, O2 dan lain sebagainya. Sehingga diperlukan cara khusus untuk membedakan antar komponennya. Contoh campuran heterogen lainnya adalah campuran gula atau garam dapur dengan air, air teh yang sudah disaring, Campuran homogen biasa disebut larutan. Larutan adalah campuran homogen antara zat terlarut (solute) dan zat pelarut (solvent).

Larutan dapat berwujud padat, cair, dan gas.

  1. Larutan berwujud padat. Larutan berwujud padat biasa ditemukan pada paduan logam. contohnya, kuningan yang merupakan paduan seng dan tembaga.
  2. Larutan berwujud cair. Contohnya, larutan gula dalam pelarut air.
  3. Larutan dalam wujud gas. Contohnya, udara yang terdiri atas bermacam-macam gas, diantaranya adalah nitrogen, oksigen, dan karbon dioksida.

Macam-Macam Campuran

1. Campuran Homogen

Campuran homogen tersusun oleh dua bagian atau bisa lebih senyawa yang seluruh bagiannya mempunyai sifat dan susunan lama. Larutan teridiri atas yang pertama pelarut (solvent) dan yang kedua zat terlarut (solute). Pada suatu campuran homogen seluruh bagiannya serbasama sehingga komponen-komponen penyusunnya tidak dapat dibedakan.


Contoh Campuran Homogen :

  • Larutan garam (Campuran garam dengan air)
  • Larutan gula (campuran gula dengan air)
  • Air aki (larutan asam sulfat)
  • Cuka dapur
  • Udara
  • Alkohol 70%

2. Campuran Heterogen

Campuran Heterogen adalah suatu campuran serbaneka, dimana materi penyusunnya tidak berinteraksi, sehingga kita bisa mengamati dengan jelas dari materi penyusun campuran tersebut. Campuran heterogen tidak memerlukan kompisis yang tetap seperti halnya senyawa, bila kita mencampurkan dua materi atau lebih maka akan terjadi suatu campuran.


Campuran heterogen memiliki ciri-ciri, yaitu

1) ukuran partikel yang bercampur lebih besar dari molekul;

2) pencampuran partikelnya tidak merata;

3) larutan akan mengendap (partikel zat pelarut dan terlarutnya berpisah) jika didiamkan;

4) keruh dan tidak tembus cahaya.


Contoh Campuran Heterogen

Antara campuran minyak dan air, kita dapat melihat yang mana bagian minyak dan yang mana bagian air dengan indera matakita.
Perhatikan pula susu yang sering kita konsumsi, terdiri dari atas berbagai macam zat seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin C dan E, dan mineral.


Perbedaan campuran homogen dan heterogen:

  • Campuran heterogen merupakan campuran yang komponen-komponennya masih dapat terlihat terpisah secara kasat mata.
  • Campuran homogen merupakan campuran serba sama, komponen-komponennya sudah tidak dapat dipisahkan secara kasat mata. Campuran homogen disebut juga dengan larutan.

  • KELARUTAN, SUSPENSI DAN KOLOID

 Di dalam campuran heterogen dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu :

a. KELARUTAN

            Kelarutan adalah kuantitas maksimal suatu zat kimia terlarut (solut) untuk dapat larut pada pelarut tertentu membentuk larutan homogen. Kelarutan suatu zat dasarnya sangat bergantung pada sifat fisika dan kimia solut dan pelarut pada suhu, tekanan dan pH larutan.


Secara luas kelarutan suatu zat pada pelarut tertentu merupakan suatu pengukuran konsentrasi kejenuhan dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit solut pada pelarut sampai solut tersebut mengendap (tidak dapat larut lagi).

Faktor yang paling berpengaruh terhadap kelarutan adalah suhu dan tekanan.


  • Suhu

Kelarutan suatu solut pada pelarut tertentu sangat bergantung pada suhu. Pada sebagian besar padatan yang dapat larut dalam air, kelarutan akan semakin meningkat jika suhu dinaikkan melebihi 100º C. Solut ionik yang terlarut pada air bersuhu tinggi (mendekati suhu kritis) cenderung berkurang karena perubahan sifat dan struktur molekul air. Selain itu, tetapan dielektrik menyebabkan pelarut kurang polar.


Kelarutan senyawa organik selalu meningkat dengan naiknya suhu. Inilah yang mendasari teknik pemurnian dengan rekristalisasi yang memanfaatkan perbedaan kelarutan solut pada suhu rendah dan tinggi.


  • Tekanan

Pada fase terembun, tekanan sangat berpengaruh terhadap kelarutan; namun biasanya lemah dan diabaikan pada praktiknya. Diasumsikan sebagai larutan ideal, ketergantungan kelarutan pada tekanan diberikan diungkapkan dengan rumus:


b. SUSPENSI (CAMPURAN)

Suspensi atau disebut juga suspensi kasar merupakan campuran heterogen antara fase terdispersi dalam medium pendispersi. Secara umum, terdispersi  adalah padatan, sedangkan medium pendispersinya adalah air. Dalam sistem suspensi dapat dibedakan antara zat terdispersi dan medium pendispersi.


Fase terdispersi dalam bentuk padatan dengan ukuran besar akan terlihat tersebar dalam medium air. Karena ukuran zat terdispersi besar, fase air tidak mampu lagi menahannya. Oleh karena itu, zat terdispersi akan mengendap. Ukuran zat


Koloid adalah tersebarnya partikel-partikel kecil dengan ukuran 10-7 sampai 10-5 cm. Jika partikel yang lebih besar dari 10-5 cm maka disebut dengan campuran dan jika ukuran partikel lebih kecil dari  10-7 cm maka disebut dengan larutan. `

Perbandingan campuran

Aspek Larutan Koloid Suspensi
Ukuran Partikel < 10-7 cm 10-7 < s.d <10-5 cm 10-5 cm <
Jumlah Fasa 1 2 2
Distribusi Partikel Homogen Heterogen Heterogen
Penyaringan Tidak dapat disaring Tidak dapat disaring kecuali dengan penyaring ultra Dapat disaring
Kestabilan Stabil, tidak memisah Stabil,tidak memisah Tidak stabil, memisah
JContoh Larutan gula, larutan garam, udara bersih Tepung kanji dalamair, mayonase, debu di udara Campuran pasir dan air, sel darah merah dan plasma putih dalam plasma darah.

Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Ukuran partikel koloid berkisar antara 1-100 nm. Ukuran yang dimaksud dapat berupa diameter, panjang, lebar, maupun tebal dari suatu partikel.


Contoh lain dari sistem koloid adalah adalah tinta, yang terdiri dari serbuk-serbuk warna (padat) dengan cairan (air). Selain tinta, masih terdapat banyak sistem koloid yang lain, seperti mayones, hairspray, jelly, dll.


Koloid terdiri atas fase terdispersi dan medium pendispersi. Medium pendispersi adalah medium (materi) dimana partikel-partikel koloid terdistribusi. Sol gas (aerosol padat) merupakan koloid dimana zat padat terdistribusikan dalam medium gas. Zat padat inilah yang selanjutnya disebut fase terdispersi.


Fase terdispersi maupun medium pendispersi dapat berupa padat, cair atau gas. Berdasarkan fase terdispersinya, koloid dapat diklasifikasikan menjadi solemulsi dan buih. Selanjutnya sol, emulsi dan buih dikelompokkan lagi berdasarkan medium pendispersinya.


Baik pendekatan fase terdispersi maupun medium pendispersinya dahulu tidak cukup bermasalah, hanya lebih memudahkan dalam mengelompokkan sifat-sifat tiap kelompok. Tabel 2.1 akan memudahkan dalam mengklasifikasikan koloid.


Klasifikasi dan Contoh Koloid

MEDIUM PENDISPERSI
Padat Cair Gas
FASE

TERDISPERSI

Padat Sol Padat

Contoh: paduan logam, gelas berwarna, intan hitam

Sol Cair

Contoh: cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat

Sol Gas (Aerosol padat)

Contoh:

debu di udara, asap pembakaran

Cair Emulsi Padat (Gel)

Contoh: jelly, keju,mentega, nasi

Emulsi Cair

Contoh:susu, mayones,krim tangan

Emulsi Gas (Aerosol Cair)

Contoh:awan, kabut, semprotan (seperti hairspray, obat nyamuk semprot)

Gas Buih Padat

Contoh: batu apung,marsmallow, karet busa, stereoform

Buih Cair (buih)

Contoh:putih telurdikocok,busa sabun

Catatan:

Tidak ada sistem koloid dengan fase terdispersi dan medium pendispersi gas, karena dianggap sebagai larutan (campuran homogen).


  • KOLOID SOL

Sol merupakan jenis koloid dimana fase terdispersinya merupakan zat padat dan medium pendispersinya bisa berupa padat, cair atau gas sehingga menghasilkan tiga (3) macam koloid sol, yaitu sol padat, sol cair dan sol gas. Contoh dari koloid sol yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari adalah cat, tanah liat, dll. Dalam bagian ini yang akan banyak dibahas adalah koloid sol cair.


  • Sol Padat

Sol padat merupakan sol di dalam medium pendispersi padat. Contohnya adalah paduan logam, gelas berwarna, dan intan hitam.

  • Sol Cair

Sol cair merupakan sol di dalam medium pendispersi cair. Contohnya adalah cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat, dll.

  • Sol Gas (Aerosol Padat)

Sol gas merupakan sol di dalam medium pendispersi padat. Contohnya adalah debu di udara, asap pembakaran, dll.


  • GAYA INTERMOEKUL

      Gaya yang terjadi antar 2 molekul yang akan mempengaruhi sifat-sifat fisika dari suatu zat.

Jenis-jenis gaya intermolekul :

  • Ion-dipole forces
  • Dipole-dipole forces
  • London dispersion forces
  • Hydrogen bonding

  • Ion-dipole forces => terjadi antara ion dan muatan parsial di salah satu sisi molekul polar, contoh: HC
  • Dipole-dipole forces => terjadi antara molekul polar yang netral
  • London dispersion forces => terjadi antara molekul nonpolar yang berdekatan dan akan saling menginduksi membentuk dipol sementara, contoh: CCl4
  • Hydrogen bonding => terbentuk ketika atom H dari suatu molekul berinteraksi dengan atom yang sangat elektronegatif (N, O, F) dari molekul lain, contoh: HF

KLASIFIKASI PENGELOMPOKAN PEMISAHAN CAMPURAN

Klasifikasi pemisahan dapat dibedakan atas dasar :

  1. Sifat fisik dan sifat kimia

            Misalnya cara pemisahan dengan ekstraksi, dasarnya adalah perbedaan kelarutan diantara dua fasa sedangkan untuk destilasi berdasarkan perbedaan volatilitas. Kromatografi kertas dasarnya adsorpsi atau partisi pada suatu lembaran kertas dan lain-lain.


No. Cara Pemisahan Dasarnya
1 Pengendapan Perbedaan kelarutan
2 Destilasi Perbedaan volatilisasi (uap)
3 Sublimasi Perbedaan tekanan uap
4 Ekstraksi Perbedaan kelarutan antara dua fasa
5 Kristalisasi Sifat kelarutan, biasanya pada penurunan suhu
6 Pemurnian zona Kristalisasi (kenaikan suhu)
7 Flotasi Perbedaan kerapatan antara zat dan cairan
8 Ultrafiltrasi Perbandingan ukuran zat dengan pori-pori filter
9 Dialisis Osmosis, aliran suatu sistem melewati membran
10 Elektrodeposisi Elektrolisis pada elektroda inert
11 Kromatografi kolom adsorpsi Distribusi solut di antara fasa padat & cair pada kolom
12 Kromatografi kolom partisi Distribusi solut di antara dua cairan dalam kolom
13 KLT Adsorpsi/partisi pada lembar lapisan tipis terbuka
14 Kromatografi kertas Adsorpsi atau partisi pada lembaran kertas
15 KCKT / HPLC Kromatografi kolom cair di bawah tekanan tinggi
16 Kromatografi Penukar Ion Pertukaran ion
17 Penapisan molekuler Ukuran solut
18 Permeasi gel Ukuran solut
19 Kromatografi gas Distribusi solut gas dalam fasa diam cair/padat, fasa gerak gas
20 Elektroforesis zona Pemisahan pada lembaran dg adanya medan listrik

  • Tipe Proses

Tipe proses ini yang mendasarinya adalah sifat mekanis, fisik atau kimia. Contohnya :

  • Proses Mekanis
  1. Pengayakan dan eksklusi (ukuran) : Dialisis, kromatografi eksklusi, pembentukan senyawa eksklusi
  2. Sentrifugasi (densitas)

  • Proses Fisik
  1. Partisi : KGC, KGP, KCC, Elektroforesis zona, Fraksionasi busa
  2. Perubahan keadaan : Destilasi, sublimasi, kristalisasi, pemurnian zona

  • Proses Kimia
  1. Perubahan Keadaan : Pengendapan, elektrodeposisi
  2. Penopengan (masking : pemisahan semu)
  3. Pertukaran ion

  • Tipe Fasa

            Fasa yang dilibatkan dalam pemisahan selalu  2 yaitu fasa I dan fasa II atau fasa awal dan fasa akhir. Fasa awal dan akhir dapat berupa gas atau uap,cairan atau padatan.


No. Fasa I Fasa II
Gas/Uap Cairan Padatan
1 Gas Difusi Termal KGC KGP
2 Cair Destilasi KCC

ECC

Dialisis

Ultrafiltrasi

Pengendapan

Elektrodeposisi

Kristalisasi

Elektroforesis zona

3 Padat Sublimasi Pemurnian

Zona


JENIS-JENIS METODE PEMISAHAN CAMPURAN

Dalam kehidupan sehari-hari terdapat berbagai macam campuran yang digunakan baik dalam bentuk campuran secara umum maupun dalam wujud senyawa yang telah dipisahkan dari campurannya. Berikut beberapa metode pemisahan campuran:


  • Destilasi

            Destilasi merupakan teknik pemisahan yang didasari atas perbedaan perbedaan titik didik atau titik cair dari masing-masing zat penyusun dari campuran homogen. Dalam proses destilasi terdapat dua tahap proses yaitu tahap penguapan dan dilanjutkan dengan tahap pengembangan kembali uap menjadi cair atau padatan. Atas dasar ini maka perangkat peralatan destilasi menggunakan alat pemanas dan alat pendingin .


Proses destilasi diawali dengan pemanasan, sehingga zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap. Uap tersebut bergerak menuju kondenser yaitu pendingin, proses pendinginan terjadi karena kita mengalirkan air kedalam dinding (bagian luar condenser), sehingga uap yang dihasilkan akan kembali cair. Proses ini berjalan terus menerus dan akhirnya kita dapat memisahkan seluruh senyawa-senyawa yang ada dalam campuran homogen tersebut.


            Contoh dibawah ini merupakan teknik pemisahan dengan cara destilasi yang dipergunakan oleh industri. Pada skala industri, alcohol dihasilkan melalui proses fermentasi dari sisa nira (tebu) myang tidak dapat diproses menjadi gula pasir. Hasil fermentasi adalah alcohol dan tentunya masih bercampur secara homogen dengan air.


Atas dasar perbedaan titik didih air (100 oC) dan titik didih alcohol (70oC), sehingga yang akan menguap terlebih dahulu adalah alcohol. Dengan menjaga destilasi maka hanya komponen alcohol saja yang akan menguap. Uap tersebut akan melalui pendingin dan akan kembali cair, proses destilasi alcohol merupakan destilasi yang sederhana.


            Proses pemisahan yang lebih komplek terjadi pada minyak bumi. Dalam minyak bumi banyak terdapat campuran. Atas dasar perbedaan titik didihnya, maka dapat dipisahkan kelompok-kelompok produk dari minyak bumi. Proses pemanasan dilakukan pada suhu cukp tinggi, berdasarkan perbedaan titik didih dan system pendingin maka kita dapat pisahkan beberapa kelompok minyak bumi.


Proses ini dikenal dengan destilasi fraksi, dimana terjadi pemisahan-fraksi-fraksi dari bahan bakar lihat Gambar 15.7. proses pemisahan minyak bumi.


  • Refluks

            Refluks, salah satu metode dalam ilmu kimia untuk men-sintesis suatu senyawa, baik organik maupun anorganik. Umumnya digunakan untuk mensistesis senyawa-senyawa yang mudah menguapa atau volatile. Pada kondisi ini jika dilakukan pemanasan biasa maka pelarut akan menguap sebelum reaksi berjalan sampai selesai.


            Prinsip dari metode refluks adalah pelarut volatil yang digunakan akan menguap pada suhu tinggi, namun akan didinginkan dengan kondensor sehingga pelarut yang tadinya dalam bentuk uap akan mengembun pada kondensor dan turun lagi ke dalam wadah reaksi sehingga pelarut akan tetap ada selama reaksi berlangsung.


Sedangkan aliran gas N2 diberikan agar tidak ada uap air atau gas oksigen yang masuk terutama pada senyawa organologam untuk sintesis senyawa anorganik karena sifatnya reaktif.


            Kondensor yang digunakan adalah pendingin bola, bukan pendingin Liebig, tujuannya untuk menghalangi uap pelarut tetap ada. bayangkan apabila menggunakan Liebig, bisa-bisa senyawa yang akan disintesis tidak ada hasilnya, karena kesemuanya sudah menguap.  Prosedur dari sintesis dengan metode refluks adalah semua reaktan atau bahannya dimasukkan dalam labu bundar leher tiga.


            Kemudian dimasukkan batang magnet stirer setelah kondensor pendingin air terpasang, campuran diaduk dan direfluks selama waktu tertentu sesuai dengan reaksinya. Pengaturan suhu dilakukan pada penangas air, minyak atau pasir sesuai dengan kebutuhan reaksi. Gas N2 dimasukkan pada salah satu leher dari labu bundar.


  • Ekstraksi

            Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya pelarut organik.

Proses ekstraksi dapat berlangsung pada:

  1. Ekstraksi parfum, untuk mendapatkan komponen dari bahan yang wangi.
  2. Ekstraksi cair-cair atau dikenal juga dengan nama ekstraksi solven. Ekstraksi jenis ini merupakan proses yang umum digunakan dalam skala laboratorium maupun skala industri.
  3. Leaching, adalah proses pemisahan kimia yang bertujuan untuk memisahkan suatu senyawa kimiadari matriks padatan ke dalam cairan.


Penyiapan bahan yang akan diekstrak dan pelarut Selektivitas Pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukan komponen-komponen lain dari bahan ekstraksi. Dalam praktik, terutama pada ekstraksi bahan-bahan alami, sering juga bahan lain (misalnya lemak, resin) ikut dibebaskan bersama-sama dengan ekstrak yang diinginkan. Dalam hal itu larutan ekstrak tercemar yang diperoleh harus dibersihkan, yaitu misalnya diekstraksi lagi dengan menggunakan pelarut kedua.


            Kelarutan Pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang besar (kebutuhan pelarut lebih sedikit). Kemampuan tidak saling bercampur Pada ekstraksi cair-cair, pelarut tidak boleh (atau hanya secara terbatas) larut dalam bahan ekstraksi. Kerapatan Terutama pada ekstraksi cair-cair, sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut dan bahan ekstraksi.


Hal ini dimaksudkan agar kedua fase dapat dengan mudah dipisahkan kembali setelah pencampuran (pemisahan dengan gaya berat). Bila beda kerapatannya kecil, seringkali pemisahan harus dilakukan dengan menggunakan gaya sentrifugal (misalnya dalam ekstraktor sentrifugal).


            Reaktivitas Pada umumnya pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada komponenkornponen bahan ekstarksi. Sebaliknya, dalam hal-hal tertentu diperlukan adanya reaksi kimia (misalnya pembentukan garam) untuk mendapatkan selektivitas yang tinggi. Seringkali Ekstraksi juga disertai dengan reaksi kimia. Dalam hal ini bahan yang akan dipisahkan mutlak harus berada dalam bentuk larutan.


            Titik didih Karena ekstrak dan pelarut biasanya harus dipisahkan dengan cara penguapan, destilasi atau rektifikasi, maka titik didit kedua bahan itu tidak boleh terlalu dekat, dan keduanya tidak membentuk ascotrop.Ditinjau dari segi ekonomi, akan menguntungkan jika pada proses ekstraksi titik didih pelarut tidak terlalu tinggi (seperti juga halnya dengan panas penguapan yang rendah).


  • Kristalisasi

            Pemisahan dengan teknik kristalisasi didasari atas pelepasan pelarut dari zat terlarutnya dalam sebuah campuran homogeen atau larutan, sehingga terbentuk kristal dari zat terlarutnya. Proses ini adalah salah satu teknik pemisahan padat-cair yang sangat penting dalam industri, karena dapat menghasilkan kemurnian produk hingga 100%.


            Kristal dapat terbentuk karena suatu larutan dalam keadaan atau kondisi lewat jenuh (supersaturated). Kondisi tersebut terjadinya karena pelarut sudah tidak mampu melarutkan zat terlarutnya, atau jumlah zat terlarut sudah melebihi kapasitas pelarut.


Sehingga kita dapat memaksa agar kristal dapat terbentuk dengan cara mengurangi jumlah pelarutnya, sehingga kondisi lewat jenuh dapat dicapai. Proses pengurangan pelarut dapat dilakukan dengan empat cara yaitu, penguapan, pendinginan, penambahan senyawa lain dan reaksi kimia.


            Pemisahan dengan pembentukan kristal melalui proses penguapan merupakan cara yang sederhana dan mudah kita jumpai, seperti pada proses pembuatan garam.


            Air laut dialirkan kedalam tambak dan selanjutnya ditutup. Air laut yang ada dalam tambak terkena sinar matahari dan mengalami proses penguapan, semakin lama jumlah berkurang, dan mengering bersamaan dengan itu pula kristal garam terbentuk. Biasanya petani garam mengirim hasilnya ke pabrik untuk pengolahan lebih lanjut.


            Pabrik gula juga melakukan proses kristalisasi, tebu digiling dan dihasilkan nira, nira tersebut selanjutnya dimasukkan kedalam alatvacuum evaporator, Dalam alat ini dilakukan pemanasan sehingga kandungan air di dalam nira menguap, dan uap tersebut dikeluarkan dengan melalui pompa, sehingga nira kehilangan air berubah menjadi Kristal gula.


Ketiga teknik yang lain pendinginan, penambahan senyawa lain dan reaksi kimia pada prinsipnya adalah sama yaitu mengurangi kadar pelarut didalam campuran homogen.


  • Filtrasi

Filtrasi atau penyaringan merupakan metode pemisahan untuk memisahkan zat padat dari cairannya dengan menggunakan alat berpori (penyaring). Dasar pemisahan metode ini adalah perbedaan ukuran partikel antara pelarut dan zat terlarutnya. Penyaring akan menahan zat padat yang mempunyai ukuran partikel lebih besar dari pori saringan dan meneruskan pelarut.


            Proses filtrasi yang dilakukan adalah bahan harus dibuat dalam bentuk larutan atau berwujud cair kemudian disaring. Hasil penyaringan disebut filtrat sedangkan sisa yang tertinggal dipenyaring isebut residu. (ampas).


Metode ini dimanfaatkan untuk membersihkan air dari sampah pada pengolahan air, menjernihkan preparat kimia di laboratorium, menghilangkan pirogen (pengotor) pada air suntik injeksi dan obat-obat injeksi, dan membersihkan sirup dari kotoran yang ada pada gula. Penyaringan di laboratorium dapat menggunakan kertas saring dan penyaring buchner. Penyaring buchner adalah penyaring yang terbuat dari bahan kaca yang kuat dilengkapi dengan alat penghisap.


  1. Sublimasi
    Sublimasi merupakan metode pemisahan campuran dengan menguapkan zat padat tanpa melalui fasa cair terlebih dahulu sehingga kotoran yang tidak menyublim akan tertinggal. bahan-bahan yang menggunakan metode ini adalah bahan yang mudah menyublim, seperti kamfer dan iod.


  2. Kromatografi
    Kromatografi adalah cara pemisahan berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan pelarut pada suatu lapisan zat tertentu. Dasar pemisahan metode ini adalah kelarutan dalam pelarut tertentu, daya absorbsi oleh bahan penyerap, dan volatilitas (daya penguapan). Contoh proses kromatografi sederhana adalah kromatografi kertas untuk memisahkan tinta.


  3. Adsorbsi
    Adsorbsi merupakan metode pemisahan untuk membersihkan suatu bahan dari pengotornya dengan cara penarikan bahan pengadsorbsi secara kuat sehingga menempel pada permukaan bahan pengadsorbsi. Penggunaan metode ini dipakai untuk memurnikan air dari kotoran renik atau mikroorganisme, memutihkan gula yang berwarna coklat karena terdapat kotoran.


  4. Sentrifugasi

Suspensi yang partikel-partikelnya sangat halus tidak bisa dipisahkan dengan cara filtrasi. Partikel-partikelnya dapat melewati saringan atau bahkan menutupi lubang pori-pori saringan sehingga cairan tidak dapat lewat. Cara untuk memisahkan suspensi adalah dengan membiarkannya hingga mengendap.


Setelah beberapa saat, partikelpartikelnya mengendap sehingga cairannya dapat dituang. Akan tetapi banyak partikel suspense yang terlalu kecil untuk disaring tetapi juga tidak dapat mengendap. Hal ini karena partikel-partikel padatan tersebut dipengaruhi oleh gerakan molekul cairan yang sangat cepat.


            Suspensi yang sulit dipisahkan ini dapat dipisahkan dengan sentrifugasi. Tabung sebagai wadah suspensi dikunci pada gagang atau rotor untuk mengitari sebuah alat atau mesin pemutar. Batang vertikal di tengahnya diputar dengan motor listrik. Batang itu berputar dengan sangat cepat.


Tabung akan mengayun dengan cepat tetapi mulut tabung tetap menghadap ke tengah. Sentrifugasi yang terkecil dapat memutar dengan kecepatan 2.000 putaran/menit (rpm). Sentrifugasi dapat digunakan untuk memisahkan susu menjadi susu krim dan susu skim. Sentrifugasi juga dapat digunakan untuk memisahkan komponen-komponen darah.


Itulah ulasan tentang Campuran : Pengertian, Ciri, Dan Macam Beserta Contohnya Dalam Ilmu Kimia Lengkap Semoga apa yang diulas diatas bermanfaat bagi pembaca. Sekian dan Terima kasih.

Baca juga refrensi artikel terkait lainnya disini :