Pengertian Bahasa Indonesia – Kaidah, Baku, Ciri, Fungsi, Pemakaian, Paragraf, Syarat, Jenis, Para Ahli

Diposting pada

Pengertian Bahasa Indonesia – Kaidah, Baku, Ciri, Fungsi, Pemakaian, Paragraf, Syarat, Jenis, Para Ahli : Bahasa Indonesia merupakan bahasa Melayu yang dijadikan sebagai bahasa yang resmi bagi Republik Indonesia serta bahasa untuk persatuan bangsa Indonesia.


bahasa indonesia

Pengertian Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan bahasa Melayu yang dijadikan sebagai bahasa yang resmi bagi Republik Indonesia serta bahasa untuk persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunanya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada hari sesudahnya, persamaan dengan itu, mulai pula berlaku konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia bersetatus sebagai bahasa kerja.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Komunikasi Verbal Dan Nonverbal (Contoh, Ciri, Faktor Juga Fungsinya)


Dilihat dari liguistiknya, bahasa Indonesia merupakan salah satu dari berbagai ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai ialah bahasa Melayu Riau (kepulauan Riau sekarang) sejak abad ke-19. Dalam perkembagannya banyak sekali perubahan akibat penggunaan “Bahasa Indonesia” jika nama bahasa Melayu tetap dipakai.


Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari berbagai bahasa Melayu yang dipakai di Riau ataupun Semenanjung Malaya. Sampai sekarang, Bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik dari pencipaan ataupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.


Walaupun dipahami serta dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahsa Indonesia bukanlah bahasa ibu untuk kebanyakan penuturnya. Hampir semua warga Indonesia memakai salah satu dari 748 bahsa yang ada di negara Republik Indonesia sebagai bahasa ibu.


Penutur Bahasa Indonesia sering kali memakai versi sehari-hari (kolakial) serta mencampuradukan dengan dialek melayu yang lainnya atau juga memakai bahasa ibunya. Walau demikian, Bahasa Indonesia dipakai sangat luas diperguruan-perguruan, sastra, media massa, surat-menyurat resmi, perangkat lunak, serta bermacam forum publik lainnya, sehingga bisa dikatakan bahasa Bahasa Indonesia dipakai semua warga Indonesia.


Pengertian Bahasa Indonesia Menurut Para Ahli

Fonologi serta tata bahasa Bahasa Indonesia dianggap relatif mudah. Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar bisa dipelajari hanya dalam waktu beberapa minggu.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian, Fungsi, Dan Jenis-Jenis Pranata Sosial Beserta Cirinya Lengkap


  • Penyempurnaan Ejaan

Ejaan-ejaan untuk bahasa Melayu/Indonesia mengalami beberapa tahapan sebagai berikut:


  • Ejaan van Ophuijsen

Ejaan ini adalah ejaan bahasa Melayu dengan memakai huruf latin. Charles Van Ophuijsen yang dibantu oleh Moehammad Taib Soetan Ibrahim dan Nawawi Soetan Ma’moer menyusun ejaan baru ini pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudia dikenal dengan nama ejaan van ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Dengan ciri-ciri sebagai berikut:


    1. Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa.
    2. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb.
    3. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb.
    4. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dsb.

  • Ejaan Republik

Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini juga dikenal dengan nama ejaan Soewandi. Ciri-ciri ejaan ini yaitu:


    1. Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru, itu, umur, dsb.
    2. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb.
    3. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
    4. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.

  • Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)

Konsep ejaan ini juga dikenak pada akhir tahun 1959. Sebab perkembangan politik selama tahun-tahun selanjutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini.


Perubahan Bahasa Indonesia
Perubahan Bahasa Indonesia
  • Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ 25+ Contoh Surat Pengunduran Diri (Resign) Yang Baik Dan Benar


Definisi Bahasa Indonesia

Kaidah Dasar Bahasa Indonesia

Untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar kita terlebih dahulu harus mengetahui kaidah dasar dalam bahasa Indonesia, yaitu :


  • Kata yang penting dituliskan atau disebutkan lebih dahulu

    Setelah itu baru keterangannya. Atau kata yang diterangkan didepan kata yang menerangkan. Dengan istilah lain bahasa indinesia mengikuti hokum DM (Diterangkan Menerangkan) Tetapi seperti umumnya kaidah bahas itu tidak mutlak sifatnya, dalam hal inipun susunan Diterangkan Menerangkan tersebut juga mempunyai kekecualiaan dalam penggunaan kata depan, kata bilangan, kata keterangan, kata bantu ( mau, pasti, hendak) dan kata majemuk.


  • Tidak mengenal perubahan bentuk kata benda sebagai akibat penjamakan.

    untuk menyatakan jamak atau banyak, bahasa Indonesia menggunakan kata bilangan tertentu maupun tidak. Disamping itu dalam bahasa Indonesia dikenal pula kata – kata yang mengandung arti jamak misalnya :rombongan, ikatan, gabungan, perserikatan dll. Oleh sebab itu apabila sudah ada salah satu kata penunjuk jamak tersebut, kata benda dibelakannya tidak boleh diulang.


BenarSalah
Banyak temanBanyak teman teman

 

Tidak sedikit barang 

Tidak sedikit barang barang

 

HadirinPara hadirin

Dalam hal itu sering juga ditemukan susunan seperti : para alumni, kaum politisi, dan para medisi dan sebagainya, karena kata – kata : alumni, politisi dan medisi sudah menunjukkan makna jamak dari alumnus,politikus dan medikus, maka menurut aturan bahasa Indonesia yang benar, seharusnya cukup dikatakan para alumnus atau alumni,para politikus atau politisi dan para medikus atau medisi saja.


Mudah ditebak bahwa susunan seperti diatas dipengaruhi oleh adat susunanbahasa Indo – German. Pada bahasa – bahasa tersebut, perubahan kata benda dibelakang kata – kata penunjuk jamak memang merupakan keharusan, karena memang seperti itulah ketentuan yang berlaku.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Ilmu Komunikasi: Teori, Pengertian, Macam Dan Jenisnya


  • Tidak mengenal tingkatan dalam pemakaian.

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang demokratis, ia tidak mengenal tingkatan dalam pemakaian. Tidak mengenal perubahan bentuk kata kerja sehubungan dengan orang yang melakukan pekerjaan tersebut. Berbeda halnya dengan adat bahasa – bahasa daerah.


Dalam bahasa jawa misalnya, tingkatan bahasa itu ada . hal tersebut harus dipahami benar – benar oleh sipemakai bahasa itu apabila menginginkan bahasabya dikatakan baik dan sopan. Pemakai bahasa Indonesia yang baik selalu menggunkan kata yang dianggap sopan tersebut untuk lawan berbicaranya yang lebih tua atau lebih tinggi derajatnya.


Sebagai akibat pengaruh bahasa ibu tersebut, banyak pemakai bahasa Indonesia dari suku jawa menyelipkan kata – kata terhormat dari bahasa jawa bila mereka berbicara dengan lawan bicara yang dianggapnya lebih tua atau lebih tinggi derajatnya misalkan : Atas kerawuhan bapak – bapak saya menghaturkan terima kasih seharusnya Atas kedatangan bapak – bapak ,saya ucapkan terimakasih.


Pengertian Bahasa Indonesia Baku

Bahasa baku adalah bahasa yang menjadi bahasa pokok yang menjadi bahasa standar dan acuan yang digunakan sehari-hari dalam masyarakat. Bahasa baku mencakup pemakaian sehari-hari pada bahasa percakapan lisan maupun bahasa tulisan.


Ciri – Ciri Ragam Bahasa Baku

Ciri-ciri ragam bahasa baku adalah sebagai berikut.


  1. Penggunaan kaidah tata bahasa normatif. Misalnya dengan penerapan pola kalimat yang baku: acara itu sedang kami ikuti dan bukan acara itu kami sedang ikuti.
  2. Penggunaan kata-kata baku. Misalnya cantik sekali dan bukan cantik banget; uang dan bukan duit; serta tidak mudah dan bukan nggak gampang.
  3. Penggunaan ejaan resmi dalam ragam tulis. Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang disempurnakan (EYD). Bahasa baku harus mengikuti aturan ini.

  4. Penggunaan lafal baku dalam ragam lisan. Meskipun hingga saat ini belum ada lafal baku yang sudah ditetapkan, secara umum dapat dikatakan bahwa lafal baku adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau bahasa daerah. Misalnya: /atap/ dan bukan /atep/; /habis/ dan bukan /abis/; serta /kalaw/ dan bukan /kalo/.
  5. Penggunaan kalimat secara efektif. Di luar pendapat umum yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu bertele-tele, bahasa baku sebenarnya mengharuskan komunikasi efektif: pesan pembicara atau penulis harus diterima oleh pendengar atau pembaca persis sesuai maksud aslinya.

Fungsi Bahasa Indonesia Baku

Penggunaan bahasa baku lazim dipakai dalam situasi dan konsidi sebagai berikut di bawah ini :


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Humas ( Hubungan Masyarakat )” Pengertian & ( Tugas – Tujuan – Prinsip – Fungsi – Manfaat )


  1. Komunikasi Resmi (Tertulis) Contoh : Surat-menyurat resmi, pengumuman resmi, undang-undang, peraturan, dan lain-lain.
  2. Pembicaraan Formal Di Depan Umum (Lisan)

Contoh : Pidato, ceramah, khotbah, mengajar sekolah, mengajar kuliah, dan lain sebagainya.


  1. Wacana Teknis (Tertulis)

Contoh : Karangan ilmiah, skripsi, tesis, buku pelajaran, laporan resmi, dan lain-lain


  1. Pembicaraan Formal (Lisan)

Contoh : Murid kepada guru, bawahan kepada atasan, layanan pelanggan kepada pelanggan, menteri kepada presiden, dsb. Tidak hanya terbatas kepada orang yang dihormati saja karena presiden umumnya berbicara pada rakyat jelata dengan bahasa formal.


Pemakaian Huruf EYD

Berikut Adalah Pemakaian Huruf EYD.


  • Huruf abjad. Ada 26 yang masing-masing memiliki jenis huruf besar dan kecil.
  • Huruf vokal. Ada 5: a, e, i, o, dan u. Tanda aksen é dapat digunakan pada huruf e jika ejaan kata menimbulkan keraguan.
  • Huruf konsonan. Ada 21: b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

    1. Huruf c, q, v, w, x, dan y tidak punya contoh di akhir kata.
    2. Huruf x tidak punya contoh di tengah kata.
    3. Huruf q dan x digunakan khusus untuk nama dan keperluan ilmu.
    4. Ada 3: ai, au, dan oi.
    5. Gabungan konsonan. Ada 4: kh, ng, ny, dan sy.
    6. Pemenggalan kata

    7. Huruf kapital
      1. Huruf pertama pada awal kalimat
      2. Huruf pertama petikan langsung
      3. Huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan
      4. Huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang (tidak berlaku jika tidak diikuti nama orang)
      5. Huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau pengganti nama orang, nama instansi, atau nama tempat (tidak berlaku jika tidak diikuti nama orang, instansi, atau tempat)

      6. Huruf pertama unsur-unsur nama orang (tidak berlaku untuk nama orang yang digunakan sebagai nama sejenis atau satuan ukuran)
      7. Huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa (tidak berlaku untuk nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan)
      8. Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah (tidak berlaku untuk peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama)
      9. Huruf pertama nama geografi (tidak berlaku untuk istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri dan nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis)
      10. Huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti “dan” yang tidak terletak pada posisi awal, termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna

      11. Huruf pertama kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti “dan” yang tidak terletak pada posisi awal, termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna
      12. Huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Gelar akademik: Kepmendikbud 036/U/1993.
      13. Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan (tidak berlaku jika tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan)
      14. Huruf pertama kata ganti Anda

    8. Huruf miring
      1. Nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan
      2. Huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata yang ditegasan atau dikhususkan
      3. Kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Wartawan” Pengertian & ( Tujuan – Jenis – Tugas )


Pengertian Paragraf

Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru. Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi. Demikian pula dengan paragraf berikutnya mengikuti penyajian seperti paragraf pertama.


Syarat Sebuah Paragraph

Di setiap paragraf harus memuat dua bagian penting, yakni :


  1. Kalimat Pokok

Biasanya diletakkan pada awal paragraf, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir paragraf. Kalimat pokok adalah kalimat yang inti dari ide atau gagasan dari sebuah paragraf. Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas.


  1. Kalimat Penjelas

Kalimat penjelas adalah kalimat yang memberikan penjelasan tambahan atau detail rincian dari kalimat pokok suatu paragraf.


  • Bagian-Bagian Suatu Paragraf yang Baik

    1. Terdapat ide atau gagasan yang menarik dan diperlukan untuk merangkai keseluruhan tulisan.
    2. Kalimat yang satu dengan yang lain saling berkaitan dan berhubungan dengan wajar.

Jenis Paragraf Dilihat Berdasarkan Tentang Pikiran Utama

  1. deduktif: inti paragraf di awal paragraf.
  2. induktif: inti paragraf di kalimat terakhir.
  3. campuran: inti paragraf di kalimat pertama dan terakhir.
  4. ineratif: inti paragraf di tengah¬tengah paragraf.

    Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Komunikasi Non Verbal” Pengertian & ( Jenis-Jenis )