Pengertian Moral Menurut Para Ahli

Diposting pada

Moral merupakan istilah manusia mengacu pada langkah-langkah manusia atau lainnya yang memiliki nilai positif. Manusia yang tidak memiliki apa yang disebut moral yang amoral dan tidak bermoral berarti ia tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya.

moral-adalah

Pengertian Moral

Jadi moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Apa hal yang berkaitan dengan proses sosialisasi moral yang eksplisit dari individu tanpa orang yang bermoral tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral saat ini memiliki nilai implisit karena banyak orang yang memiliki sikap moral atau tidak bermoral dari sudut pandang yang sempit.


Sifat moral yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus memiliki moral yang jika ia ingin dihormati oleh orang lain. Moral adalah untuk nilai-absolutan dalam masyarakat secara keseluruhan. Ukuran penilaian budaya moral yang setempat. Moral adalah suatu tindakan / perilaku / ucapan seseorang dalam interaksinya dengan manusia.


Jika orang tersebut melakukannya sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat dan masyarakat dapat diterima dan menyenangkan, maka orang tersebut dianggap memiliki moral yang baik, dan sebaliknya. Moral merupakan produk budaya dan agama. Setiap budaya memiliki standar moral yang bervariasi sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah terbangun lama.

Baca Juga : Pengertian Moral dan Etika, Persamaan serta Perbedaan


Pengertian Moral Menurut Para Ahli

Berikut adalah pengertian moral menurut para ahli, sebagai berikut:


  • Menurut Sonny Keraf

Moral adalahsegala sesuatu yang dapat digunakan sebagai dasar guna menilai perbuatan seseorang yang dirasakan baik atau buruk di dalam sebuah masyarakat.


  • Menurut Maria J. Wantah

MOral ialah sesuatu yang bersangkutan dengan keterampilan dalam menentukkan benar atau salah serta baik atau buruknya sebuah perilaku pada diri seseorang.


  • Menurut Russel Swanburg

Moral merupakan semua pengakuan dari pemikiran yang bersangkutan dengan keantusiasan seseorang dalam bekerja dimana urusan tersebut dapat memicu perilaku seseorang tersebut.


  • Menurut Elizabeth B. Hurlock

Moral yaitu suatu kebiasaan, tata cara, dan adat dari suatu ketentuan perilaku yang sudah menjadi kebiasaan untuk anggota suatu kebiasaan dalam masyarkat.


  • Menurut Maria Assumpta

Moral yakni sejumlah aturan aturan (rule) tentang sikap (attitude) dan perilaku insan (human behavior) sebagai manusia.


  • Menurut Hurlock

Moral merupakan suatu tata cara, kebiasaan, dan adat. Perilaku moral dikendalikan konsep konsep moral atau ketentuan perilaku yang sudah menjadi kebiasaan untuk anggota sebuah budaya.


  • Menurut Merriam – Webster

Moral ini tentang atau sehubungan erat dengan apa yang benar dan salah dalam perilaku manusia, dirasakan benar dan baik oleh banyak sekali orang cocok dengan standar perilaku yang tepat pada kumpulan atau masyarakat tersebut.


  • Menurut Kamus Psikologi

Moral yakni sesuatu urusan yang mengacu untuk akhlak yang cocok dengan ketentuan sosial, atau mencantol hukum atau adat kelaziman yang menata tingkah laku.


  • Menurut Wikipedia

Moral adalahsalah satu pesan yang di ucapkan atau latihan yang dapat di petik dari cerita atau peristiwa.


  • Menurut Immanuel Kant

Moral yaitu sesuatu urusan kenyakinan serta sikap batin dan tidak saja hal sebatas penyesuaian dengan sejumlah aturan dari luar, entah tersebut aturan berupa hukum negara, hukum agama atau hukum adat-istiadat.


  • Menurut James J. Spillane SJ

MOral seseorang diperoleh dari tingkah laku manusia saat mengambil keputusan yang terdapat hubungannya dengan moral dimana dengan kata lain lebih mengarah pada pemakaian akal pada insan melalui sesuatu yang mempunyai sifat objektif dalam mendefinisikan salah atau benarnya serta bisa menilai tingkah laku seseorang pada orang lain.


  • Menurut Wijaya

Moral yakni sebuah doktrin baik dan buruk tentang tindakan atau kelakuan (akhlak).


  • Menurut Al-Ghazali

Moral atau akhlak merupakan suatu perangai, watak, atau tabiat yang menetap powerful dalam jiwa insan dan adalahsumber timbulnya perbuatan tertentu secara gampang dan ringan.


  • Menurut Imam Sukardi

MOral adalahsuatu karakter yang dicirikan sebagai sesuatu yang baik dalam masyarakat melewati nilai-nilai yang diterapkan bersama.


  • Menurut KBBI

Moral ialah

  1. Ajaran mengenai baik buruk yang diterima umum tentang perbuatan, sikap dan keharusan serta akhlak, budi pekerti dan susila.
  2. Suatu situasi mental yang menciptakan orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, isi hati atau suasana perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan.
  3. Segala doktrin kesusilaan yang bisa ditarik dari sebuah cerita.

  • Menurut Gunarsa

MOral adalahseperangkat dari nilai-nilai sekian banyak perilaku yang mesti dipatuhi.


  • Menurut Wiwit Wahyuning

MOral yaitu saat seseorang berkata tentang nilai moral pada lazimnya akan tersiar sebagai sikap dan tindakan setiap inividu terhadap kehidupan orang lain.


  • Menurut Shaffer

Moral merupakan sebuah kaidah norma yang dapat menata perilaku suatu pribadi dalam menjalankan hubungan dan kerjasama di lingkungan masyarakat menurut aturan yang berlaku.


  • Menurut Russel Swanburg

Moral yaitu sesuatu pengakuan dari pemikiran yang bersangkutan dengan keantusiasan seseorang dalam bekerja dimana urusan tersebut dapat memicu perilaku seseorang tersebut.


  • Menurut A. Mustafa

Moral sebagai penentuan dasar perilaku mana yang baik dan yang buruk melewati pengamatan pada perbuatan insan sejauh akal benak mereka.


  • Menurut Dewey

Moral ini sebagai sekian banyak masalah moral yang sehubungan dengan nilai-nilai moral.


  • Menurut Baron dkk

Moral yang berhubungan dengan pelarangan dan mendiskusikan perbuatan yang benar atau salah.


  • Menurut W. Poespoprojo

Moral merupakan sesuatu dengan kualitas yang dalam perbuatan insan yang mengindikasikan bahwa perbuatan tersebut benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas merangkum tentang baik-buruknya tindakan manusia.


  • Menurut Magnis-Susino

Moral tidak jarang kali mengacu pada baik orang kurang mampu sebagai manusia, sampai-sampai aspek moral kehidupan insan dalam hal kebajikan sebagai manusia.


  • Menurut Zainuddin Saifullah Nainggolan

Moral ialah salah satu tendensi rohani untuk mengerjakan seperangkat standar dan norma yang menata perilaku seseorang dan masyarakat.


  • Menurut Dian Ibung

Moral yaitu segala nilai (value) yang berlaku dalam sebuah lingkungan sosial dan menata tingkah laku seseorang.


  • Menurut W. J. S. Poerdarminta

Moral adalahsegala sesuatu mengenai doktrin moral dari tindakan baik dan buruk dan perilaku.


  • Menurut Chaplin

Moral yakni segala akhlak yang cocok dengan ketentuan sosial, atau mencantol hukum atau adat kelaziman yang menata tingkah laku.


  • Menurut Wantah

Moral adalah sesuatu yang berkaitan atau ada hubungannya dengan kemampuan menentukan benar salah dan baik buruknya tingkah laku.


Teori Perkembangan Moral

  1. Piaget mengembangngkan teori perkembangan moral remaja dengan melakukan pengamatan dan wawancara secara ekstensif melalui anak – anak bermain kelereng berusia 4 hingga 12 tahun untuk mempelajari mengenai bagaimana mereka menggunakan dan memikirkan aturan dalam permainan. Ia menyimpulkan bahwa anak – anak berpikir melalui dua cara yang berbeda mengenai moralitas, tergantung pada kematangan perkembangannya yaitu :
  2. Moralitas Heteronom (heteronomous morality) adalah tahap pertama dari perkembangan moral dalam teori piaget yang berlangsung antara usia 4 hingga 7 tahun. Keadilan dan aturan – aturan dipandang sebagai sifat –sifat mengenai dunia yang tidak dapat diubah, dihilangkan dari kontrol manusia. Seorang pemikir heteronom menentukan benar atau tidaknya perilaku dengan mempertimbangkan konsekuensi dari perilaku tersebut, bukan intensi dari aktor. Dalam heteronom juga dipercayai immanent justice, gagasan bahwa apabila sebuah aturan dilanggar, maka hukuman akan segera diterima.
  3. Moralitas Otonom (autonomous morality)adalah tahap kedua dari perkembangan moral dalam teori piaget, yang diperlihatkan oleh anak – anak yang lebih besar (sekitar 10 tahun keatas). Anak menyadari aturan – aturan dan hukum – hukum yang diciptakan oleh orang dan bahwa dalam memutuskan suatu tindakan, seseorang seharusnya mempertimbangkan intensi aktor maupun konsekuensinya. Anak – anak yang berusia 7 hingga 20 tahun yang berada dalam masa transisi diantara dua tahap inimemperlihatkan sejumlah ciri dari kedua tahp ini.
  4. Martin Hoffman (1980) mengembangkan teori disekuilibrium kognitif (cognitive disequilibrium theory), yang menyatakan bahwa remaja merupakan suatu periode penting dalam perkembangan moral , khusunya ketika individu beralih dari lingkungan yang relatif homogen ke lingkungan yang lebih heterogen disekolah menengah atas dan kampus.
  5. Teori Kohlberg salah satu pandangan yang provokatif mengenai perkembangan moral adalah pandangan moral yang diciptakan oleh Lawrence Kohlberg (1958, 1976, 1986), yang berpendapat bahwa perkembangan moral terutama didasarkan pada penalaran moral, yang kemudian berkembang dalam serangkaian tahap – tahap dan tiga tingkatan. konsep penting dalam perkembangan moral menurut kohler ialah interbalisasi (internalization),yaitu perubahan perkembangan dari perilaku yang awalnya dikontrol secara eksternal menjadi perilaku yang dikontrol oleh standar-standar dan prinsip-prinsip sosial.

Baca Juga : Masalah Sosial – Pengertian, Teori, Karakteristik, Pengendalian, Penyebab, Jenis, Para Ahli


Berikut adalah 3 tingkatan perkembangan moral menurut Kohlberg :

1) Tingkat 1, Penalaran prakonvensional (Preconventional reasoning).

Ditingkat ini, individu belum memperlihatkan adanya internalisasi dari nilai-nilai moral-penalaran moral dikontrol oleh hadiah dan hukuman eksternal. Pada tingkat ini terbagi menjadi 2 tahap,yaitu :

  1. Tahap 1, Moralitas Heternom (Heternom morality. Ditahap ini pemikiran moral sering kali dikaitkan dengan hukuman.
  2. Tahap 2, Individualisme, tujuan instrumental,dan pertukaran (individualism,instrumental purpose,and exchange). Ditahap ini individu berusaha memuaskan kepentingannya sendiri namun mereka juga membiarkan orang lain bertindak serupa.

2) Tingkat 2, penalaran Konvensional (conventional reasoning).

Ditingkat ini internelasisai yang dilakukan bersifat menengah.individu mengikuti sandar-standar tertentu (internal),namun standar-standar itu ditetapkan oleh orang lain(eksternal).

  1. Tahap 3, Ekspektasi interpersonal timbal-balik, relasi dan konformitas interpersonal (Mutual interpersonal expectations, relationships,and interpersonal conformity). Pada tahap, individu menilai kepercayaan,kepeduliaan dan loyalitas terhadap orang lain sebagai dasar dari penilaian moral. Pada tahap ini,anak-anak dan remaja sering kali mengadopsi standar moral dari orang tua,mencari apa yang boleh orang tua akan dianggap sebagai “anak baik”.
  2. Tahap 4, Moralitas sistem sosial (Social System morality). Dalam tahap ini penilaian moral didasarkan pada pemahaman mengenai keteraturan sosial,hukum,keadilan dan tugas.

3) Tingkat 3, penalaran pascakonvensional (Postconvensional reasoning)

Pada tingkat moralitas sepenuhnya diinternalisasi da tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Individu mengenali kembali alternatif pelajaran-pelajaran moral, mengeksplorasi pilihan-pilihannya, dan kemudian menentukan aturan-aturan moral personalnya.

  1. Tahap 5, Kontrak sosial atau kegunaan dan hak-hak individuall (social contract or utility and individual rights). Pada tahap ini, individu bernalar bahwa beebagai nilai,hak dan prinsip perlu melandasi atau melampaui hukum.seseorang mengevaluasi validitas dari hukum yang ada, dan sistem sosial dapat dinilai menurut sejauh mana sistem sosial tersebut menjamin dan melindungi hak-hak dan nilai-nilai individu.
  2. Tahap 6, Prinsip etika Universal (Universal ethical principles). Dalam tahap ini seseorang mengembangkan sebuah standar moral berdasarkan hak-hak universal manusia. Ketika dihadapkan pada sebuah konflik antara hukum dan suara hati, seseorang bernalar bahwa suara hati sebaiknya diikuti,meskipun kepuasannya mungkin memiliki resiko.

Pertumbuhan Moral

Dalam kehidupannya manusia dituntut harus memiliki moral, agar dapat dihormati oleh sesamanya manusia. Namun, dalam perkembangan di era globalisasi ini tidak sedikit manusia yang kehilangan moralnya dengan berbagai alasan dan tujuan yang ada. Dengan demikian hal-hal tersebut mengganggu pertumbuhan moral dalam kehidupan manusia di zaman sekarang. Pendidikan yang didapatkan baik secara langsung maupun tidak secara langsung dalam kehidupan sehari-hari sangat berpengaruh dalam pertumbuhan moral yang ada. Dalam perkembangannya, moral dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yang jelas dalam kehidupan manusia antara lain ;


  1. Keluarga

Keluarga

Dalam perkembangan moral, keluarga menjadi salah satu faktor internal (dari dalam) yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan pembinaan moral seseorang. Mengapa demikian ? dalam pertumbuhan moral seseorang, keluarga merupakan tempat pertama bagi setiap manusia untuk dapat berinteraksi. Adanya interaksi membuat seseorang dapat belajar bagaimana mengembangan dan menumbuhkan moral, serta belajar untuk menunjukan moral yang baik dalam kehidupannya sehari-hari.

Baca Juga : Pengertian Keluarga


Dengan demikian tanpa disadari pertumbuhan moral seseorang sangat tergantung pada pendidikan atau pengajaran dalam keluarga, baik dirumah bahkan dimanapun dia berada. Sebab itu, baiklah sebuah keluarga menjadi wacana bagi setiap manusia dalam mempelajari dan mengembangkan moralnya. Bacalah kutipan ayat ini “jangalah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu ( 1 petrus 5 : 3 ). Dengan membaca ayat diatas sudah cukup jelas bahwa keluarga menjadi tempat perkembangan moral yang diajari melalui kehadiran orang tua.


Dalam hal ini dan sesuai dengan kutipan ayat tadi Tuhan berkehendak untuk setiap orang tua dapat menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari baik perilakunya bahkan cara hidupnya. Tuhan menginkan agar setiap orang tua dapat mengajari anak-anaknya yang sudah dipercayai hadir dalam kehidupan mereka dengan penuh rasa tanggung jawab. Bukan, berhak dalam melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai, seperti melakukan kekerasan, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu sudah cukup jelas bahwa pertumbuhan moral seseorang sangat berpengaruh dari keluarganya. Karena dari keluargalah seorang Manusia bertumbuh.


  1. Lingkungan

Lingkungan

Selain keluarga, pertumbuhan moralitas seseorang sangat di pengaruhi oleh lingkungan sekitar. Lingkungan sangat berpengaruh penting dalam membangun moral seseorang, karena dalam lingkunganlah manusia berkembang dan bertumbuh serta berinteraksi dengan manusia lainnya. Oleh dan sebab itu baiknya setiap pribadi manusia kiranya pintar dalam menempatkan diri disebuah lingkungan. Baca kutipan ayat ini ”siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang (amsal 13 : 20 ),dengan demikian sudah ditekankan dalam alkitab bahwa pergaulan cukup berpengaruh dalam membentuk pribadi seseorang termasuk moralitasnya.


Dengan memilih dan menempatakan diri kita pada hal-hal yang positif maka pertumbuhan moral kita ke arah yang positif akan sangat terbuka. Begitupun sebaliknya, jika kita salah dalam hal ini maka pertumbuhan moral yang ada akan mengarah ke arah yang negative dan cenderung merusak moralitas kita. Sekalipun dalam keluarga pertumbuhan moral kita sudah dibina dengan baik namun, dalam bergaul kita salah menempatkan posisi kita, maka hal itu akan sangat mempengaruhi moral atau sifat positif kita dan cenderung melakukan hal yang kurang baik. Ayat ini akan cukup jelas menerangkan kepada kita bahwa “jangalah kamu sesat: pergaulan yang buruk merusakan kebiasaan yang baik ( 1 kor 15 : 3 ).


Ayat tadi mengajarkan bahwa pergaulan yang buruk akan merusak setiap sisi kebaikan yang ada dalam diri kita, hanya karena salah dalam memilih orang untuk berinteraksi dalam lingkungan sehari-hari. Jadi, baiknya setiap manusia dapat memilih dan menempatakan diri pada posisi yang tepat dalam sebuah lingkungan. Oleh karenanya, lingkungan sangat berperan penting dalam pertumbuhan moral seseorang karena dari lingkungan juga manusia berinteraksi dan memenuhi hasratnya sebagai mahkluk social yang membutuhkan manusia lainya.


  1. Teknologi

Teknologi

Selain keluarga dan lingkungan, kurang pas rasanya kalau tidak berbicara tentang teknologi yang ada sekarang ini. Pada era globalisasi ini, banyak tercipta teknologi yang sering digunakan dalam kehidupan manusia. Teknologi ini digunakan untuk mempermudah setiap pekerjaan manusia, dan keperluannya. Akan tetapi, terkadang manusia salah dalam mempergunakan fasilitas yang sudah ada ini untuk hal-hal yang negatif. Oleh dan karena itu terkadang teknologi menjadi jalur bagi orang-orang yang  amoral (tidak memiliki moral) untuk melakukan berbagai hal jahat dengan banyak tujuan maupun alasan.

Baca Juga : √ Kenakalan Remaja : Pengertian, Ciri, Contoh, Penyebab Dan Solusinya


Dengan adanya orang-orang amoral ini dapat mempengaruhi orang lain yang ada di sekitarnya untuk melakukan hal-hal atau tindakan yang tidak terpuji. Dengan demikian teknologi menjadi salah satu sarana yang dapat mempengaruhi pertumbuhan moral seseorang. Sehingga, kiranya setiap manusia yang ada dan hidup di jaman moderen ini dapat mempertimbangkan setiap tawaran teknologi yang ada ini dengan penuh kesadaran akan hal-hal yang akan dihadapi nantinya dan harus menggunakannya dengan penuh rasa tanggung jawab. Banyak contoh yang kasus yang dapat kita ambil dari hal ini, seperti penggunaan jaringan internet dan social yang salah sehingga mengakibatkan timbulnya kejahatan-kejahatan yang ada.


Selain internet, televisi yang juga adalah salah satu sarana komunikasi secara tidak langsung ini marak disalah gunakan di massa-massa kini. Oleh dan sebab itu kita sebagai mahkluk yang  moralitasnya diancam harus mampu memilih-milih dan mempergunakan teknologi dengan semestinya, sesuai dengan kegunaan sesungguhnya dengan penuh rasa bertanggung jawab. Dengan berbagai cara iblis akan melakukan caranya untuk menjatuhkan manusia dalam dosa, bahkan melalui teknologi yang sering dianggap sebagai gaya hidup. Ada tertulis ”banyak orang yang akan mengikuti cara hidup mereka dan dikuasai hawa nafsu, dank arena mereke jalan kebenaran akan dihujat (2 petrus 2 :2 ).


Tujuan Moral

Berikut adalah tujuan moral, sebagai berikut:

  • Untuk memastikan terwujudnya harkat dan martabat individu seseorang dan kemanusiaan.
  • Untuk memotivasi manusia supaya bersikap dan beraksi dengan penuh kebajikan dan kebaikan yang didasari atas kesadaran keharusan yang dilandasi moral.
  • Untuk mengawal keharmonisan hubungan sosial antar manusia, sebab moral menjadi landasan rasa percaya terhadap sesama.
  • Membuat insan lebih bahagia secara rohani dan jasmani sebab menunaikan faedah moral sampai-sampai tidak terdapat rasa menyesal, konflik batin, dan perasaan berdosa atau kecewa.
  • Moral dapat menyerahkan wawasan masa depan untuk manusia, baik sanksi sosial maupun konsekuensi dalam kehidupan sehingga insan akan sarat pertimbangan sebelum bertindak.
  • Moral dalam diri manusia pun dapat menyerahkan landasan kesabaran dalam bertahan dalam setiap desakan naluri dan keingingan atau nafsu yang menakut-nakuti harkat dan martabat pribadi.

Jenis-Jenis Moral

Berikut adalah jenis-jenis moral, sebagai berikut:


1. Moral Ketuhanan

Moral Ketuhanan ialah semua urusan yang bersangkutan dengan keagamaan/ religius menurut doktrin agama tertentu dan pengaruhnya terhadap diri seseorang.

Wujud moral ketuhanan, contohnya melaksanakan doktrin agama yang dianut dengan sebaik-baiknya. Contoh; menghargai sesama manusia, menghargai agama lain, dan hidup rukun dengan yang bertolak belakang agama.


2. Moral Ideologi dan Filsafat

Moral ideologi dan filsafat ialah semua urusan yang bersangkutan dengan motivasi kebangsaan, loyalitas untuk cita-cita bangsa dan negara.

Baca Juga : Fungsi Ideologi – Pengertian, Unsur, Ciri, Pancasila, Macam, Contoh

Wujud moral ideologi dan filsafat, contohnya menjunjung tinggi dasar negara Indonesia yakni Pancasila. Contoh; menampik ideologi asing yang hendak mengganti dasar negara Indonesia.


3. Moral Etika dan Kesusilaan

Moral Etika dan Kesusilaan ialah semua urusan yang sehubungan dengan etika dan kesusilaan yang dijunjung oleh sebuah masyarakat, bangsa, dan negara secara kebiasaan dan tradisi.

Wujud moral etika dan kesusilaan, contohnya menghargai orang beda yang bertolak belakang pendapat, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Contoh; menyampaikan salam untuk orang lain saat bertemu atau berpapasan.


4. Moral Disiplin dan Hukum

Moral Disiplin dan Hukum ialah segala urusan yang bersangkutan dengan kode etika profesional dan hukum yang berlaku di masyarakat dan negara.

Baca Juga : Norma Hukum Dan Sosial

Wujud moral disiplin dan hukum, misalnya mengerjakan suatu kegiatan sesuai dengan aturan yang berlaku. Contoh; selalu memakai perlengkapan yang diwajibkan dan mematuhi rambu-rambu kemudian lintas saat berkendara di jalan raya.


Contoh Moral Dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari moral manusia akan di tempa dan diuji setiap saat dimanapun berada. Moral banyak terdapat dalam kehidupan manusia sehari-hari dan selalu dituntut untuk menggunakan moral untuk bertindak atau melakukan sesuatu. Dengan menggunakan moralnya, seseorang akan dihormati dan akan timbul rasa saling menghormati satu sama lain. Oleh dan sebab itu, moral akan sering kita jumpai dalam kehidupan kita baik kita sebagai pelakunya atau sebaliknya. Dengan demikian moral dapat kita bagi dalam 2 jenis.


  1. Moral Dalam Adat Istiadat

Moral-Dalam-Adat-Istiadat

Dalam adatistiadat, sering kita jumpai keberadaan moral. Manusia akan dituntut moralnya dan dinilai moralnya oleh manusia lain dengan adatistiadat atau kebiasan yang sudah ditanamkan dalam kehidupan bersosial. Banyak contoh yang sering dijumpai bahwa dalam hari lepas hari dan dalam lingkungannya, manusia sering menggunakan moral dalam mejalankan adatistiadatnya. Manusia akan akan dituntut jika memasuki sebuah lingkungan atau tempat dengan adat istiadatnya.

Baca Juga : Pengertian Adat Istiadat Dan Contohnya


Seseorang harus mampu beradaptasi dengan lingkungan dengan segala tata aturan yang sudah berlaku didalamnya. Sebagai contoh kecil jika kita memasuki sebuah gedung kantor kita wajib untuk melaporkan diri kepada security, agar kita dapat dilayani dengan sopan. Dan masih banyak contoh lainya yang sering kita jumpai setiap saat. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa moral yang ada didalam diri seseorang akan selalu dituntut keberadaannya setiap saat, dimanapun kita berada.


  1. Moral dan Hukum

Moral-dan-Hukum

Sebagaimana terdapat hubungan erat antara moral dan agama, demikian juga antara moral dan hukum. Kita mulai saja dengan memandang hubungan ini dari segi hukum. Hukum membutuhkan moral. Dalam kekaisaran Roma sudah terdapat pepatah Quid leges sine moribus?” Apa artinya undang-undang jika tidak disertai dengan moralitas?”Hukum tidak berarti banyak, kalau tidak dijiwai oleh moralitas.


Tanpa moralitas, hukum akan kosong. Kualitas hukum sebagian besar ditentukan oleh mutu moralnya. Karena itu hukum selalu diatur dengan norma moral. Di sisi lain, moral juga membutuhkan hukum. Moral akan mengawang-awang saja, kalau tidak diungkapkan dan dilembagakan dalam masyarakat. Dengan demikian hukum bisa meningkatkan dampak sosial dan moralitas.


Etika dan moral sama artinya, tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.


Daftar Pustaka:

  • Dariyo,Agoes.2004. Psikologi Perkembangan Remaja. Bogor : Ghalia Indonesia.
  • Hurlock,Elizabeth B.2003.Psikologi Perkembangan Edisi kelima.jakarta:Erlangga
  • Santrock,John W. 2007. Remaja Edisi 11 Jilid 1. Jakarta :Erlangga.
  • Abineno Dr.J.L.Ch. (1996), Sekitar Etika dan Soal-Soal Etis”, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
  • Sirait, Drs. Jerry. R.H. dkk (1993), ”Diktat mata kuliah pendidikan Etika (Kristen)”, Departemen Mata Kuliah Dasar Umum Universitas Kristen Indonesia.