Konsep Pendapatan Nasional

Diposting pada

Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai konsep pendapatan nasional yang dimana dalam hal ini meliputi definisi serta catatan sejarah, untuk lebih memahami simak ulasan dibawah ini.

Konsep-Pendapatan-Nasional

Pengertian Pendapatan Nasional

Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan masyarakat suatu negara dalam periode waktu tertentu, atau jumlah seluruh pendapatan yang diterima oleh masyarakat dalam suatu negara dalam satu tahun.


Pengertian Pendapatan Nasional menurut Para Ahli

  1. Menurut Sadono Sukirno dalam bukunya “Teori Pengantar Makroekonomi” Pendapatan nasional menggambarkan tingkat produksi negara yang dicapai dalam suatu tahun tertentu dan perubahannya dari tahun ke tahun (Azani, 2017).
  2. Menurut Soediyono Reksopryitno dalam bukunya “Pengantar Ekonomi Makro” Pendapatan nasional adalah jumlah barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh perekonomian suatu negara (Azani, 2017).
  3. Menurut N. Gregory Mankiw Pendapatan nasional adalah total pendapatan yang diperoleh penduduk suatu negara dalam produksi barang dan jasa. Pendapatan nasional tidak menghitung pajak usaha tidak lansung (seperti pajak penjualan) dan tidak menghitung subsidi usaha(Azani, 2017).
  4. Menurut Karl E & Ray C (2007:29) Pendapatan nasional adalah pendapatan total yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh warga suatu negara.

Konsep Pendapatan Nasional

Berikut ini beberapa dari kosep pendapatan nasional yang paling sering digunakan yaitu:


1. Produk Domestik Bruto “PDB”

Produk Domestik Bruto “Gross Domestic Product” merupakan jumlah nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara “domestik” selama 1 tahun.

Dalam perhitungan PDB/GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari PDB/GDP dianggap bersifat bruto/kotor.


2. Produk Nasional Bruto “PNB”

Produk Nasional Bruto “Gross National Product” meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara “nasional” selama 1 tahun, termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut.


3. Pendapatan Nasional Neto “PNN”

Pendapatan Nasional Neto “Net National Income” ialah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balasa jasa yang diterima oleh masyarakt sebagai pemiliki faktor produksi. Besarnya PNN/NNI dapat diperoleh dari NNP dikurang pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak langsung ialah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak penjualan, pajak hadiah, dan lain-lain.


4. Pendapatan Perseorangan “PP”

Pendapatan perseorangan “Personal Income” ialah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun. Pendapatan perseorangan juga menghitung pembayaran transfer “transfer payment”. Transfer payment ialah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun ini, melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional tahun lalu. Contoh: pembayaran dana pensiunan, tunjangan sosial bagi para pengangguran, bekas penjuang, bunga utang pemerintah dan sebagainya.

Untuk mendapatkan jumlah pendapatan perseorang, PNN/NNI harus dikurangi dengan pajak laba perusahaan “pajak yang dibayar setiap badan usaha kepada pemerintah”, laba yang tidak dibagi “sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan”, dan iuran pensiun “iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja”.


5. Pendapatan Yang Siap Dibelanjakan

Pendapatan yang siap dibelanjakan “Disposable Income” ialah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. DI ini diperoleh dari PI dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung “direct tax” ialah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contoh: pajak pendapatan.


6. Disposable Income (DI)

Disposable Income (DI) atau Pendapatan Disposable (PD) adalah pendapatan yang diterima masyarakat yang sudah siap dibelanjakan penerimanya. pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi.


Perhitungan Pendapatan Nasional

Ada tiga cara perhitungan pendapatan nasional, yaitu metode output(output approach), metode pendapatan(income approach), dan metode pengeluaran(expenditure approach). Masing-masing metode (pendekatan) melihat pendapatan nasional dari sudut pandang yang berbeda, tetapi hasilnya saling melengkapi.


  1. Metode Output (output approach) atau metode produksi

Pendekatan produksi adalah menjumlahkan nilai seluruh produk yang dihasilkan suatu negara dari bidangindustri, agraris, ekstraktif, jasa dan niaga selama satu periode tertentu. Nilai produk yang dihitung dengan pendekatan ini adalah nilai jasa dan barang jadi (bukan bahan mentah atau barang setengah jadi).


  1. Metode Pendapatan (Income Approach)

Metode pendapatan adalah mejumlahkan pendapatan dari faktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa, yakni :

  • Pendapatan para pekerja : gaji dan upah
  • Pendapatan dari usaha perorangan
  • Pendapatan dari sewa
  • Bunga
  • Keuntungan perusahaan

  1. Metode Pengeluaran (Expenditure Approach)

Pendekatan pengeluaran adalah menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu. Perhitungan dengan pendekatan ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara, yaitu:


  • Konsumsi Rumah Tangga (Household Consumption)

Pengeluaran sektor rumah tangga dipakai untuk konsumsi akhir, baik barang dan jasa yang habis pakai dalam tempo setahun atau kurang (durable goods) maupun barang yang dapat dipakai lebih dari setahun atau barang tahan lama (non-durable goods).


  • Konsumsi Pemerintah (Government Consumption)

Konsumsi pemerintah adalah pengeluaran-pengeluaran pemerintah yang digunakan untuk membeli barang dan jasa akhir (government expenditure).


  • Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (Investment Expenditure)

Pemebentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) merupakan sektor dunia usaha. Pengeluaran ini dilakukan untuk memelihara dan memperbaiki kemampuan menciptakan atau meningkatkan nilai tambah. Termasuk dalam PMTDB adalah perubahan stok, baik berupa barang jadi maupun barang setengah jadi.


  • Ekspor Neto (Net Export)

Yang dimaksud dengan ekspor bersih adalah selisih antara nilai ekspor dengan impor. Ekspor neto yang positif menunjukkan bahwa ekspor lebih besar daripada impor.


Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pendapatan Nasional

Ada beragam faktor yang akan memengaruhi Pendapatan nasional dalam suatu negara, antara lain adalah:


  1. Kualitas Sumber Daya Manusia

Negara yang memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas tinggi tentu akan memiliki pendapatan nasional yang tinggi pula. Jepang dikenal sebagai negara yang memiliki kualitas SDM yang tinggi. Walaupun Jepangtidak memiliki banyak potensi sumber daya alam jika dibandingkan dengan Indonesia, tetapi karena kualitas SDM-nya tinggi maka Jepang mampu menghasilkan pendapatan nasional yang tinggi pula sehingga tergolong sebagai negara maju.

Ciri-ciri SDM yang memiliki kualitas tinggi adalah:

1) memiliki bekal ilmu pengetahuan yang tinggi;

2) memiliki etos kerja yang baik (rajin, disiplin, jujur, tepat waktu, dan lainlain);

3) memiliki tingkat keterampilan yang baik;

4) menguasai teknologi dan informasi (seperti teknologi komputer, internet, dan bioteknologi).

5) menyukai tantangan dan perubahan.

Jika dibandingkan dengan faktor-faktor lain yang bisa memengaruhi besar kecilnya pendapatan nasional, faktor kualitas SDM memiliki peranan yang paling besar dalam menentukan besar kecilnya pendapatan nasional. Karena, jika kualitas SDM baik maka dapat dipastikan pengelolaan dan pengendalian faktor-faktor lain untuk mencapai kemakmuran dapat terlaksana dengan baik.


  1. Potensi Sumber Daya Alam

Negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah jika dikelola dengan baik akan menghasilkan pendapatan nasional yang tinggi. Seperti halnya Indonesia, sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam tentu akan memiliki pendapatan nasional yang tinggi, seandainya potensi sumber daya alam dikelola dengan baik dan bertanggung jawab.


  1. Jumlah Modal yang Digunakan

Jika suatu negara memiliki modal yang cukup untuk mengolah sumber daya alam yang tersedia, tentu pendapatan nasional negara tersebut akan meningkat. Sebaliknya, jika suatu negara kekurangan modal maka pendapatan nasional negara tersebut tidak optimal. Pada umumnya, jika suatu negara kekurangan modal (baik modal barang seperti mesin, maupun modal uang) maka negara tersebut akan mengundang investor asing untuk menanamkan modalnya, biasanya dalam bentuk pendirian perusahaan-perusahaan. Akan tetapi, jika suatu negara memiliki banyak modal (terutama negaranegara maju) maka negara tersebut akan menanamkan sebagian modalnya ke negara lain yang diinginkannya.

Negara yang dijadikan tujuan penanaman modal oleh investor asing umumnya memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

1) mempunyai SDA (Sumber Daya Alam) yang memadai;

2) keamanan dalam negeri terjamin;

3) memiliki undang-undang ketenagakerjaan yang kondusif;

4) lebih disukai yang memiliki tenaga kerja dengan upah yang murah;

5) memiliki pemerintahan yang baik dan kuat (stabil);

6) penegakan hukum berjalan lancar; dan

7) birokrasi yang tidak bertele-tele dalam penanaman modal asing.


  1. Tingkat Teknologi yang Digunakan

Dengan teknologi sederhana, jumlah barang dan jasa yang dihasilkan relatif lebih sedikit. Akan tetapi dengan teknologi modern, jumlah barang dan jasa yang dihasilkan tentu lebih banyak. Dengan demikian, penggunaan teknologi yang lebih modern akan meningkatkan perolehan pendapatan nasional.


  1. Stabilitas Keamanan

Stabilitas keamanan yang buruk akan sangat berpengaruh terhadap pencapaian pendapatan nasional suatu negara. Misalnya, jika sering terjadi kerusuhan, demonstrasi disertai kekerasan, peledakan bom, terorisme, perang antar suku, dan gerakan separatis, akan mengakibatkan berkurangnya pencapaian pendapatan nasional. Sebaliknya, jika stabilitas keamanan baik tentu akan mendorong kegiatan perekonomian sehingga jumlah pendapatan nasional akan meningkat.


  1. Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah sangat berpengaruh terhadap pencapaian pendapatan nasional. Jika suatu negara memiliki pemerintahan yang bersih, berwibawa, dan berkualitas maka pemerintah negara tersebut pasti akan membuat kebijakan-kebijakan yang tepat, baik kebijakan di bidang politik maupun ekonomi. Kebijakan-kebijakan yang tepat dan disertai pelaksanaan yang bertanggung jawab tentu akan berpengaruh pada naiknya pendapatan nasional.


  1. Keadaan Geografis dan Geologis

Suatu negara dengan letak geografis dan geologis tertentu, berisiko mengalami bencana alam yang berulang setiap tahunnya. Bencana alam seperti gempa bumi, topan, dan banjir, yang terjadi berulang-ulang akan merusak sarana dan prasarana yang ada. Kerusakan tersebut tentu berdampak pada berkurangnya pencapaian pendapatan nasional. Sebaliknya, negara yang tidak pernah (jarang) tertimpa bencana alam, tidak akan mengalami kerusakan-kerusakan yang berakibat pada berkurangnya pendapatan nasional.


  1. Konsumsi, Tabungan dan Investasi

Konsumsi merupakan pengeluaran atas barang dan jasa oleh rumah tangga untuk tujuan konsumsi. Investasi adalah persediaan yang dikuasai oleh unit yang menghasilkan untuk digunakan dalam proses lebih lanjut, dijual, atau diberikan pada pihak lain, atau digunakan dengan cara lain.

Berdasarkan pendekatan pengeluaran khusus, untuk perekonomian tertutup sederhana, yaitu perekonomian yang belum melibatkan hubungan dengan luar negeri (ekspor dan impor) dan belum melibatkan kegiatan pemerintah, pendapatan nasional hanya terdiri dari konsumsi (C) dan tabungan (S).


Manfaat Mengetahui Pendapatan nasional

Dalam menentukan pendapatan nasional suatu negara, Penghitungannya relatif sulit dikatakan tepat atau akurat, karena sangat dipengaruhi oleh data statistik yang dikumpulkan setiap tahunnya. Walaupun tidak bisa tepat dalam penghitungannya, namun tetap sebagai salah satu tolok ukur untuk menunjukkan keberhasilan ekonomi suatu negara. Adapun manfaat mempelajari pendapatan nasional antara lain sebagai berikut.

  • Untuk mengetahui struktur perekonomian suatu negara, apakah agraris, industri, atau yang lainnya.
  • Untuk mengetahui kemajuan ekonomi atau perkembangan perekonomian dari tahun ke tahun, apakah mengalami kemajuan, kemunduran, atau tetap.
  • Untuk mengetahui tingkat kemakmuran masyarakat setelah dibandingkan dengan jumlah penduduk, yaitu tentang pendapatan perkapitanya.
  • Untuk membandingkan perekonomian antarnegara di dunia.
  • Sebagai pedoman bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan yang berkaitan dengan perencanaan pembangunan ekonomi nasional.
  • Untuk mengetahui penggunaan pendapatan masyarakat.
  • Sebagai pedoman untuk melaksanakan pembangunan.

Penghitungan pendapatan nasional (PN) yang dilakukan oleh suatu negara dapat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Dan dengan mengamati tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat menilai perkembangan negara tersebut dalam mengendalikan kegiatan ekonominya, baik dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dengan demikian tolok ukur yang paling baik untuk menunjukkan kemakmuran suatu negara adalah dengan menentukan Pendapatan Nasional Bruto (PNB) riil.


Daftar Pustaka

  • Ahman Eeng, Membina Kompetensi Ekonomi Kelas X SMA/MA, Bandung : Grafindo   Media Pratama, 2007
  • Rahardja Pratama, Manurung Mandala, Pengantar Ilmu Ekonomi (mikroekonomi&makroekonomi) Edisi Ketiga, Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2008

Baca Juga :