Hikayat – Pengertian, Tujuan, Unsur, Jenis, Ciri, Contoh

Diposting pada

Hikayat – Pengertian, Tujuan, Unsur, Jenis, Ciri, Contoh : Hikayat merupakan karya sastra klasik yang mengisahkan lengkap tentang kekuatan, kesaktian serta mukjizat.


Hikayat

Pengertian Hikayat

Hikayat merupakan karya sastra klasik yang mengisahkan lengkap tentang kekuatan, kesaktian serta mukjizat. Hikayat ini mempunyai unsur-unsur seperti alur, tema, penokohan, sudut pandang, semua itu merupakan unsur-unsur hikayat.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : PPKI : Pengertian, Sejarah, Tugas, Dan Anggota Beserta Sidang Lengkap


Kesastraan Indonesia sungguh kaya akan berbagai hasil karya yang dapat dibanggakan hingga saat ini. Satu diantaranya adalah hikayat. Hikayat mungkin dikenal sebagai karya sastra lama yang saat ini sudah jarang dijumpai.


Hikayat termasuk bentuk prosa lama yang dulu banyak ditemukan dalam bahasa Melayu yang berisi cerita, sekilas dongeng, atau kisah tentang ketakjuban, keajaiban, maupun kehebatan seseorang atau tokoh utamanya. Jadi, secara singkat hikayat dapat dikatakan sebagai karya sastra serupa dongeng yang disajikan dalam bahasa Melayu dengan bercerita tentang keajaiban kisah.


Tujuan Hikayat

Tujuan untuk mengetahui unsur-unsur hikayat ialah bertujuan untuk mengetahui bahwa kita telah mengerti tentang hikayat tersebut yang kita telah baca dikarenakan kita telah dapat mengisi dari unsur-unsur hikayat tersebut dan unsur-unsur hikayat


dapat pula dijadikan sebagai pemebelajaran untuk lebih mudah mengerti tentang hikayat tersebut dengan menentukan unsur-unsur hikayat tersebut seperti yang ada dibawah ini. Untuk dapat mengerti dan memahami apa itu alur, tema dan penokohan, simak ulasan berikut ini.


Unsur-unsur Hikayat

Beberapa Unsur-unsur dalam Hikayat yaitu sebagai berikut :


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah BPUPKI


Alur ( Plot )

Alur merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat. Secara umum jalan ceritanya terdiri atas bagian-bagian berikut :


  • Pengenalan situasi cerita ( exposition ).
  • Pengungkapan peristiwa ( complication ).
  • Menuju pada adanya konflik ( rising action ).
  • Puncak konflik ( turning point ).
  • Dan Penyelesaian ( ending ).

Tema

Tema ini merupakan Inti atau ide dasar dari sebuah cerita. Dan ide dasar itulah cerita dibangun oleh pengarangnya dengan memanfaatkan unsur-unsur intrinsic seperti plot, penokohan dan latar. Tema merupakan pangkal tolak pengarang dalam menceritakan dunia rekaan yang diciptakannya.


Penokohan

Untuk penokohan itu sendiri ialah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Untuk menggambarkan karakter seorang tokoh tersebut, pengarang dapat menggunakan teknik sebagai berikut :


  • Teknik Analitik

    Karakter tokoh diceritakan secara langsung oleh pengarang.


  • Teknik Dramatik

    Karakter tokoh dikemukakan melalui yaitu :
    1. Penggambaran fisik dan perilaku tokoh.
    2. Penggambaran lingkungan kehidupan tokoh.
    3. Penggambaran tata kebahasaan tokoh.
    4. Pengungkapan jalan pikiran tokoh.
    5. Penggambaran oleh tokoh lain.


Sudut Pandang ( Point Of View )

Yang merupakan posisi pengarang dalam membawakan cerita, posisi pengarang ini terdiri atas dua macam yaitu :


  • Berperan langsung sebagai orang pertama atau sebagai tokoh yang terlihat dalam cerita yang bersangkutan.
  • Hanya sebagai orang ketiga yang berperan sebagai pengamat.

Latar ( Setting )

Yang merupakan keadaan tempat, waktu dan suasana berlangsungnya suatu cerita, latar tersebut bisa bersifat factual atau imajiner.


Amanat

Amanat itu sendiri merupakan ajaran moral atau pesan didaktis yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya. Amanat biasanya tersimpan rapat dan disembunyikan pengarangnya dalam keseluruhan isi cerita. Oleh karena itu, untuk menemukannya, tidak cukup dengan membaca dua atau tiga paragraf, melainkan harus membacanya hingga tuntas.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Isi Trikora ( Tri Komando Rakyat ) : Tujuan, Latar Belakang, Sejarah Awal Hingga Akhir


Jenis – Jenis Hikayat

Hikayat dibedakan menjadi dua jenis kategori yaitu berdasarkan kategori isi dan kategori asalnya. Berdasarkan kategori isi hikayat terbagi menjadi :


  • Epos India
  • Cerita Asal Jawa
  • Cerita Rakyat
  • Sejarah dan Biografi
  • Cerita Islam
  • Cerita Bertingkat

Sedangkan menurut asalnya, hikayat terbagi menjadi empat klasifikasi, yaitu :

  • Pengaruh Jawa
  • Melayu Asli
  • Pengaruh Hindu
  • Pengaruh Persia

Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa hikayat dipengaruhi dari beberapa wilayah seperti Arab, Persia, Melayu, India, serta Jawa. Beberapa contoh hikayat yang sangat dikenal dan melegenda hingga saat ini seperti Seribu Satu Malam, Sri Rama, Panji Semirang, Hang Tuah, dan sebagainya.


Ciri – Ciri Hikayat

Jika dilihat dari struktur kebahasaan, penulisan hikayat memiliki ciri-ciri tertentu, antara lain sebagai berikut :


  1. Anonim, pengarangnya tidak diketahui
  2. Statis, tidak mengandung banyak perubahan, tetap
  3. Istana sentris, atau berlatar belakang cerita kerajaan
  4. Kolektif dan komunal, milik bersama
  5. Tradisional, biasanya mengandung tradisi serta budaya dari wilayah tertentu
  6. Memakai pengulangan bahasa
  7. Bersifat edukasi, mendidik benar
  8. Seringkali menceritakan kisah antara kebaikan yang menang melawan keburukan
  9. Khayalan

Saga

Contoh Hikayat

Hikayat Hang Tuah

Pada suatu ketika ada seorang pemuda yang bernama Hang Tuah, anak dari Hang Mahmud. Mereka tinggal di Sungai Duyung. Pada saat itu, semua orang di sungai Duyung mendengar kabar Teng Raja Bintan yang baik dan sopan kepada semua rakyatnya. Ketika Hang Mahmud mendengar kabar itu, Hang Mahmud berkata kepada istrinya yang bernama Dang Merdu, “Ayo kita pergi ke Bintan, negeri yang sungguh besar, apalagi kita ini adalah orang miskin. Lebih mudah kita mencari pekerjaan disana.”


Lalu pada malam harinya, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit. Cahayanya penuh diatas kepala Hang Tuah.Hang Mahmud pun terbangun dan mengangkat anaknya serta menciumnya. Seluruh tubuh Hang Tuah berbau seperti wewangian. Saing harinya, Mahmud menceritakan mimpinya pada sang istri dan anaknya.


Usai mendengar cerita suaminya, Dang Merdu langsung memandikan dan melulurkan anaknya. Kemudian ia memberikan anaknya kain, baju, serta ikat kepala serba putih. Lalu Dang Merdu member Hang Tuah makan nasi kunyit dan telur ayam. Sang ibu juga memanggil pemuka agama untuk mendoakan keselamatan Hang Tuah. Setelah selesai, dipeluknya Hang Tuah.


Hang Mahmud berkata kepada istrinya,” anak ini kita akan menjaganya baik-baik, jangan diberi main jauh-jauh.” Esok harinya, seperti biasa Hang Tuah membelah kayu untuk kebutuhan sehari-hari.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : VOC : Sejarah, Hak Istimewa, Kebijakan, Tujuan, Dan Latar Belakang VOC


Datanglah seorang pemberontak yang datang ke tengah pasar, banyak orang yang terluka bahkan mati karena ulah pemberontak. Pemilik took meninggalkan tokonya dan melarikan diri menuju kampung.


Gemparlah negeri Bintan tersebut dan terjadi kekacauan dimana-mana. Ada seseorang yang sedang melarikan diri berkata kepada Hang Tuah. “Hai Hang Tuah, hendak matikah kau tidak masuk ke kampung?” Maka kata Hang Tuah sambil membelah kayu, “Negeri ini memiliki prajurit yang akan membunuh, ia pun akan mati olehnya.”saat ia sedang berbicara ibunya melihat bahwa pemberontak itu menuju Hang Tuah sambil menghunuskan kerisnya.


Ibunya berteriak dari atas toko,”Hai anakku cepat lari ke atas toko”. Hang Tuah tidak mendengarkan kata ibunya. Ia pun langsung berdiri dan memegang kapak menunggu amarah pemberontak itu. Pemberontak yang datang ke hadapan Hang Tuah lalu menikamnya bertubi-tubi.


Maka Hang Tuah pun melompat dan mengelak dari tikaman orang itu. Hang Tuah mengayunkan kapaknya ke kepala pemberontak, terbelah kepala pemberontak itu hingga mati. Maka seseorang yang menyaksikan peristiwa itu berteriak, “Dia akan menjadi perwira besar di tanah Melayu ini.”


Terdengarlah berita hebat itu ke telinga kawannya, Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekui. Mereka langsung berlari mendapatkan Hang Tuah. Hang Jebat dan Hang Kesturi bertanya kepadanya,”Apakah benar engkau membunuh pemberontak dengan kapak?” Hang Tuah pun tersenyum dan menjawab, “Pemberontak itu tidak pantas dibunuh dengan keris, melainkan dengan kapak untuk kayu.”


Kemudian karena kejadian itu, baginda raja sangat mensyukuri adanya sang Hang Tuah. Jika ia tidak datang ke istana, pasti ia akan dipanggil oleh Sang Raja. Maka Tumenggung pun berdiskusi dengan pegawai lain yang iri hati pada Hang Tuah. Datanglah mereka pada sang Raja setelah diskusi usai.


Maka saat Baginda Raja tengah duduk di tahtanya bersama para bawahannya. Tumenggung beserta beberapa kawannya yang lain datang sambil berlutut. Mereka menyembah sang Raja,”Hormat Tuanku, saya mohon ampun dan berkat, ada banyak berita yang sampai ke telinga saya tentang adanya pengkhianatan. Kabar itu sudah lama hamba dengar”.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pembacaan Teks Proklamasi 17 Agustus 1945


“Hai kalian, apa yang sebenarnya kalian bicarakan?”Tanya sang Raja.

“Hormat Paduka, pegawai saya sebenarnya sungguh tidak berani untuk menghadap, namun Tuhan berkehendak.” Jawab Tumenggung.


“Hai Tumenggung, katakana saja, kita akan membalasnya,” sahut Baginda.

Tumenggung pun menjawab,”Hormat Tuanku, mohon ampun, untuk kemari saja hamba sudah takut, namun hamba akan menceritakannya”.


Usai Baginda mendengar cerita yang keluar dari Tumenggung, maka Baginda bertanya,”Siapakah orang itu, Hang Tuah?”.
“Siapa lagi yang berani melakukannya selain Hang Tuah?, jawab Tumenggung sambil bercerita bahwa kala itupegawainya melihat Hang Tuah tengah bersama seorang gadis di istana yang mereka merencanakan sesuatu untuk kerajaan. Perempuan itu bernama Dang Setia.


Hamba takut ia akan melakukan sesuatu pada perempuan itu, maka hamba datang dengan dikawal untuk mengawasi. Setelah Baginda mendengar hal itu, murkalah ia, sampai mukanya merah padam. Lalu ia bertitah kepada para pegawai yang berhati jahat itu,”Pergilah, singkirkan ia.”


Maka Hang Tuah tidak lagi pernah terdengar di dalam negeri itu, namun Hang Tuah tidak pernah mati, karena selain perwira besar, ia adalah wali Allah. Kabarnya saat ini Hang Tuah berada di puncak dulu sungai Perak. Disana dirinya duduk menjadi raja dari segala Batak dan orang hutan. Sekarang pun raja ingin bertemu dengan seseorang, lalu ditanyakan orang itu dan dia berkata,” Tidakkah tuan ingin mempunyai istri?”


“Saya tidak ingin mempunyai istri lagi, jawabnya.

TAMAT


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia : Sejarah, Isi & Makna Dan Kapan Waktu Pembacaan Teks Proklamasi