Pengertian Kapitalisme Terlengkap

Diposting pada

Pengertian Kapitalisme, ideologi, ciri, tujuan, keuntungan, kerugian dan Contoh : revolusi yang bersifat fundamental dalam perkembangan masyarakat modern dan sebuah paham ekonomi yang bertujuan untuk mendapatkan sebesar-besarnya keuntungan dan modal (kapital).

pengertian-kapitalisme


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Revolusi Industri : Pengertian, Latar Belakang Dan Dampaknya Secara Lengkap


Pengertian Kapitalisme

Sejarah Kapitalisme

Istilah kapitalisme pertama kali dipekenalkan oleh Louis Blanck (1811­1882). Kapitalisme merupakan satu revolusi yang bersifat fundamental dalam perkembangan masyarakat modern. Bersamaan dengan itu, kapitalisme kemudian berkembang menjadi sistem ekonomi yang paling menonjol di dunia. Bersama dengan imperialisme, kapitalisme mampu membentuk ekonomi dunia (Abdul Syukur [ed], 2005: 90).


Dalam perkembangannya, kapitalisme mampu menjelma menjadi satu pola pikir global yang dianut oleh sebagian besar negara yang ada di dunia. Sistem ekonomi dari banyak negara yang dikategorikan sebagai negara maju, sebagian menggunakan kapitalisme. Pendapat bahwa kapitalisme menjadi satu ideologi yang telah benar-benar mengglobal didukung dengan adanya tesis yang diungkapkan oleh Francis Fukuyama (1992) dalam bukunya yang berjudul The End of History and The Last Man yang menyatakan bahwa akhir dari perjalanan sejarah adalah ketika telah berakhirnya persaingan antar ideologi dunia dengan kemenangan akhir pada demokrasi liberal yang didukung oleh kapitalisme global. Walaupun anggapan ini masih kontroversial, paling tidak Fukuyama telah memberikan satu pendapat yang bersifat ramalan tentang begitu kuatnya pengaruh kapitalisme dalam sendi- sendi kehidupan masyarakat. Dari pemikiran di atas, tulisan singkat ini mencoba mengulas tentang kapitalisme ditinjau dari sejarah, perkembangan, serta pengaruhnya terhadap masyarakat.


Definisi Kapitalisme

Kapitalisme secara etimologis berasal dari Bahasa Latin, caput, yang artinya kepala, kehidupan, dan kesejahteraan. Makna modal dalam capital kemudian diinterpretasikan sebagai titik kesejahteraan. Dengan makna kesejahteraan, definisi kapital mulai dikembangkan dengan arti akumulasi keuntungan yang diperoleh setiap transaksi ekonomi. Sehingga, interpretasi awal dari kapitalisme adalah proses pengusahaan kesejahteraan untuk bisa memenuhi kebutuhan. Dalam definisi ini kapitalisme memiliki definisi yang konstruktif-humanis karena setiap orang pasti memiliki keinginan dasar untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam hidup sehari-hari.


Kapitalisme dapat dipahami sebagai suatu ideologi yang mengagungkan kapital milik perorangan atau milik sekelompok kecil masyarakat sebagai alat penggerak kesejahteraan manusia. Kepemilikan kapital perorangan atau kepemilikan capital oleh sekelompok kecil masyarakat adalah dewa di atas segala dewa, artinya semua yang ada di dunia ini harus dijadikan kapital perorangan atau kelompok kecil orang untuk memperoleh keuntungan melalui sistem kerja upahan, di mana kaum perkerja (buruh) sebagai produsen ditindas, diperas dan dihisap oleh kaum kapitalis (Arif Purnomo, 2007: 28).

Kapitalisme merupakan sebuah paham ekonomi yang bertujuan untuk mendapatkan sebesar-besarnya keuntungan dan modal (kapital). Kapitalisme dapat pula diartikan sebagai susunan ekonomi yang berpusat pada keuntungan perseorangan. Pada paham kapitalisme uang atau modal memegang peran penting dalam pelaksanaan politik atau kebijakan kapitalisme.


Kapitalisme tidak memiliki suatu definisi universal yang bisa diterima secara luas. Secara umum, definisi kapitalisme merujuk pada satu atau beberapa hal berikut (1) sebuah sistem yang mulai terinstitusi di Eropa pada masa abad XVI hingga abad XIX yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa, di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal seperti tanah dan tenaga manusia, pada sebuah pasar bebas di mana harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran, demi menghasilkan keuntungan di mana statusnya dilindungi oleh negara melalui hak pemilikan serta tunduk kepada hukum negara atau kepada pihak yang sudah terikat kontrak yang telah disusun secara jelas kewajibannya baik eksplisit maupun implisit serta tidak semata-mata tergantung pada kewajiban dan perlindungan yang diberikan oleh kepenguasaan feodal; (2) Teori yang saling bersaing yang berkembang pada abad XIX dalam konteks Revolusi Industri, dan abad XX dalam konteks Perang Dingin, yang berkeinginan untuk membenarkan kepemilikan modal, untuk menjelaskan pengoperasian pasar semacam itu, dan untuk membimbing penggunaan atau penghapusan peraturan pemerintah mengenai hak milik dan pasaran; (3) Suatu keyakinan mengenai keuntungan dari menjalankan hal-hal semacam itu (Sutarjo Adisusilo, 1994).


Kapitalisme walaupun tidak memiliki definisi yang universal, dalam perkembangan selanjutnya, terutama dalam era revolusi industri yang muncul pada abad XIX dan perang dunia II pada abad XX, diartikan sebagai paham yang mau melihat serta memahami proses pengambilan dan pengumpulan modal balik, yang diperoleh dari setiap transaksi komoditas ekonomi. Pada saat itulah kapitalisme tidak hanya sebagai ideologi teoretis, tetapi juga sebagai paham yang mempengaruhi perilaku ekonomi manusia.

Ruth Mc Vey (1998) mendefinisikan konsep kapitalisme sebagai sebuah sistem yang menggunakan alat-alat produksi berada di tangan sektor swasta untuk menciptakan laba dan sebagian besar dari laba itu ditanamkan kembali guna memperbesar kemampuan menghasilkan laba. Quesnay dan Adam Smith dalam Donny Gahral Adian (2005: 69-70) menyatakan bahwa kapitalisme adalah paham yang membebaskan manusia untuk berekonomi secara bebas dan mengejar laba bebas dari tekanan agama maupun negara. Sementara itu, Karl Marx mendefinisikan kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang berprinsipkan hak milik pribadi dan kompetisi bebas (Donny Gahral Adian, 2005:6).


Dari berbagai pengertian yang telah dikemukakan oleh para ahli, kapitalisme memiliki beberapa ciri, yakni (1) sebagian besar sarana produksi dan distribusi dimiliki oleh individu (individual ownership), (2) barang dan jasa diperdagangkan di pasar bebas (free market) yang bersifat kompetitif, (3) modal kapitalis (baik uang maupun kekayan lain) diinvestasikan ke dalam berbagai usaha untuk menghasilkan laba (Ebenstein dan Fogelman, 1987).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Revolusi Perancis” Sejarah & ( Latar Belakang – Dampak )


Kapitalisme Indonesia

Kapitalisme di Indonesia adalah cangkokan dari Eropa yang dalam beberapa hal tak sama dengan kapitalisme yang tumbuh dan dibesarkan dalam negerinya sendiri, yakni Eropa dan Amerika Utara. Oleh sebab itu, kapitalisme tersebut masih muda. Karena kapitalisme di Indonesia masih muda, produksi dan pemusatannya belumlah mencapai tingkat yang semestinya. Kira-kira seperempat abad belakangan baru dimulai industrialisasi di Indonesia. Baru pada waktu itulah dipergunakan mesin yang modern dalam perusahaan-perusahaan gula, karet, teh, minyak, arang dan timah.

Industri Indonesia, terutama industri pertanian, masih tetap terbatas di Jawa dan di beberapa tempat di Sumatera. Tanah yang luas, yang biasanya sangat subur dan mengandung barang-barang logam yang tak ternilai harganya, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan pulau-pulau yang lain masih menunggu-nunggu tangan manusia. Meskipun Pulau Jawa dalam hal perkebunan dan alat-alat angkutan sudah mencapai tingkatan yang tinggi, tetapi umumnya pulau luar Jawa, kecuali Sumatera, masih rimba raya.


Industri modern yang sebenarnya tidak akan diadakan di Pulau Jawa. Ia akan tetap tinggal menjadi tempat industri pertanian. Sebab logam-logam seperti besi, arang, minyak tanah, emas dan lainnya, tidak atau hanya sedikit sekali didapat di sana. Sumateralah yang menjadi tempat industri modern yang sebenarnya. Hal ini sekarang sebagian kecil telah terbukti. Arang, minyak tanah, emas dan timah hasil Sumatera (kelak juga besi) besar artinya, baik di kalangan nasional maupun internasional.

Kapitalisme di Indonesia tidak dilahirkan oleh cara-cara produksi pribumi yang menurut kemauan alam. Ia adalah produk asing yang dipergunakan untuk kepentingan asing yang dengan kekerasan mendesak sistem produksi pribumi.


Di Indonesia sebagai akibat kemajuan ekonomi yang tidak teratur sebagaimana mestinya, tidak seperti di atas keadaannya. Kota-kota kita tak dapat dianggap sebagai konsentrasi dari teknik, industri, dan penduduk. Ia tak menghasilkan barang-barang baik untuk desa maupun untuk perdagangan luar negeri, dari kapitalis-kapitalis pribumi. Mesin-mesin pertanian, keperluan rumah tangga, bahan-bahan untuk pakaian dan lain-lain tidak dibuat di Indonesia, tetapi didatangkan dari luar negeri oleh badan-badan perdagangan imperialistis. Desa-desa kita tak menghasilkan barang kebutuhan untuk kota-kota, karena untuk mereka sendiri pun tak mencukupi. Beras misalnya, makanan rakyat yang terutama mesti didatangkan dari luar.


Desa-desa kita mengeluarkan gula, karet, teh, dan lain-lain barang perdagangan yang mengayakan saudagar asing, tetapi memiskinkan dan memelaratkan kaum tarsi; kota-kota kita bukanlah menjadi pusat ekonomi bangsa Indonesia, tetapi terus-terusan menjadi sumber ekonomi yang mengalirkan keuntungan untuk luar negeri.

Sementara dalam sektor Industri berskala besar, yang terjadi ialah pabrik luar negeri dengan pekerja pribumi dan upah yang rendah. Sementara kualitas produksi baik, dengan biaya operasional yang sangat murah, membuat tenaga kerja di Indonesia


Kapitalisme Indonesia timbul dengan teratur pula antara lapisan-lapisan sosial Indonesia dan mempunyai perhubungan yang teratur. Saudagar Indonesia yang dulu kecil sekarang sudah menjadi bankir atau mengepalai perusahaan yang besar-besar. Penempa besi, tukang gula, saudagar batik yang dulu kecil menjadi pemimpin industri logam, gula atau tenun. Umumnya, kapitalisme sebagai ideologi di Indonesia tidak diterima secara resmi. Namun dalam praktek perekonomiannya, secara tidak langsung menuju ke arah kapitalisme. Dengan terjadinya isu swastanisasi di sektor kerja dan kegiatan ekonomi swasta bahkan BUMN.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Revolusi Rusia – Latar Belakang, Sebab, Jalannya, Dampak, Pemerintahan


Kemunculan dan Perkembangan Kapitalisme

Kemunculan kapitalisme dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yakni faktor budaya dan faktor struktural (Wasino, 2007: 3-4). Teori tentang budaya sebagai faktor yang mendorong munculnya kapitalisme ini dikemukakan oleh Max Weber dalam bukunya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. Weber menyatakan bahwa kapitalisme yang ada di Eropa dan di Amerika bersumber pada nilai-nilai Protestan. Lebih jauh lagi ke belakang hal ini disebabkan adanya gerakan individualisme, sehingga menimbulkan adanya reformasi (Ebenstein dan Folegeman, 1987:148). Berkaitan dengan nilai-nilai Protestan sebagai pendorong munculnya kapitalisme, Weber menjelaskan bahwa dalam ajaran Protestanisme tidak dianjurkan bagi orang-orang beriman untuk melupakan duniawi dan mengasingkan diri dalam biara atau berkonsentrasi pada kegiatan meditasi atau berdoa serta aktivitas untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian seperti yang banyak dilakukan oleh ajaran Katolik, tetapi dalam hidup di dunia ini harus dilakukan dengan kerja keras dan ketekunan. Faktor pendorong dari ajaran Protestan ini terhadap perkembangan kapitalisme didukung dengan adanya ajaran dari Luther yang mengubah arti dari pekerjaan dari yang bersifat keagamaan menjadi keduniawian, dan ajaran dari Calvin tentang “suratan nasib ganda”.


Faktor lain selain faktor budaya yang mendorong terjadinya kapitalime adalah faktor struktural. Konsep ini didukung oleh pemikiran dari Karl Marx yang menyatakan bahwa faktor struktural adalah terjadinya suatu perubahan cara produksi dari masyarakat feodal ke masyarakat kapitalis. Perubahan ini seperti diungkapkan Tom Bottom ore dalam Theories of Capitalism, berlangsung dalam waktu yang cukup panjang yang diawali dengan (1) meningkatnya ketersingan produsen kecil dari produksinya, (2) tumbuhnya kota-kota, (3) tansformasi petani menjadi buruh, (4) munculnya proletariat perkotaan, (5) perluasan melalui laut yang berakibat perluasan kapital secara cepat (Arif Purnomo, 2007:35).


Dalam perubahan struktural cara produksi masyarakat itu yang terpenting bagi tumbuhnya kapital menurut Anthony Giddens seperti dikutip Purnomo (2007) adalah faktor akumulasi. Akumulasi ini merupakan suatu produksi kapitalis yang dibangun sebagai konsekuensi akibat kemajuan teknologi, kompetisi diantara pada kapitalis secara individual, di mana peristiwa ini mendrong untuk menabung dan berinvestasi.


Berkembangnya kapitalisme tidak lepas dari adanya pandangan dari tokoh-tokoh adam Smith, Keynes, Rostow, dan sebagainya. Adam Smith yang dikenal sebagai bapak ideologi kapitalisme mengemukakan teori The Wealth of Nations yaitu kemakmuran bangsa-bangsa akan tercapainya melalui ekonomi persaingan bebas, artinya ekonomi tanpa campur tangan negara. Menurut Adam Smith, kapialisme merupakan paham yang membebaskan manusia untuk berekonomi secara bebas dan mengejar laba bebas dari tekanan agama dan negara. Prinsip yang menancap kuat pada waktu itu adalah laissez faire, yaitu sebuah prinsip yang melarang otoritas eksternal untuk turut campur dalam masalah ekonomi. Smith berkeyakinan bahwa apabila manusia dibebaskan untuk mengejar profit, maka akan ada kompetisi, dan melalui kompetisi inilah stabilitas masyarakat akan terjaga (seolah-olah ada tangan yang tak kelihatan yang mengatur masyarakat di luar pengatahuan pelaku- pelaku ekonomi) (Donny Gahral Adian, 2005:70).


Ideologi kapitalisme kemudian diperbaharui dan dikembangkan oleh Keynes dengan teorinya “campur tangan negara dalam ekonomi” khususnya dalam menciptakan kesempatan kerja menetapkan tingkat suku bunga, tabungan, dan investasi. W.W Rostow kemudian mengemukakan teorinya The Five Stage Scheme, Harrod-Domar dengan teori tentang tabungan dan investasi, Mc Celland dengan teori The Need for Achievment, Reagan dan

Tacher dengan teori Neo-Liberalism atau globalisasi pasar bebas atau teori kedaulatan pasar bebas (Arif Purnomo, 2007:28).

Pada perkembangan selanjutnya, kapitalisme terutama kapitalisme industrial, menutur Dillard dibagi menjadi beberapa fase, yakni periode kapitalisme awal (1500-1750), kapitalisme klasik (1750-1914), serta kapitalisme lanjut. Namum demikian, sebelum adanya kapitalisme industrial ada pula yang disebut dengan kapitalisme purba.


Kapitalisme purba adalah tahapan awal pembentukan kapitalisme yang ditemukan dalam bibit-bibit pemikiran masyarakat feodal yang berkembang di Babilonia, Mesir, Yunani, dan Kekaisaran Roma. Para ahli ilmu sosial menamai tahapan kapitalisme ini dengan sebutan commercial capitalism. Kapitalisme komersial berkembang dan membutuhkan sistem ekonomi untuk menjamin fairness perdagangan ekonomi yang dilakukan oleh para pedagang, tuan tanah, kaum rohaniwan.


Max Weber mengatakan bahwa akar kapitalisme berawal dari sistem Codex Luris Romae sebagai aturan main ekonomi yang kurang lebih universal dipakai oleh kaum pedagang eropa, Asia Barat, serta Asia Timur Jauh dan Afrika Utara. Aturan main ekonomi ini sebetulnya dimanfaatkan untuk memapankan system pertanian feodal. Sehingga, dari aturan ini muncul istilah borjuis yang mengelompokkan sistem feodalisme yang disempurnakan dengan sistem hukum ekonomi itu. Kaum borjuis merupakan sebutan bagi golongan tuan tanah, bangsawan, dan kaum rohaniawan yang mendiami biara yang luas dan besar. Perkembangan selanjutnya merupakan perkembangan kapitalisme yang disebut dengan tata cara dan “kode etik” yang dipakai kaum merkantilisme, yaitu kaum pedagang yang berkumpul di pelabuhan Genoa, Venice dan Pisa. Hal ini menyebabkan perkembangan kompetisi dalam sistem pasar, keuangan, tata cara barter serta perdagangan yang dianut oleh para merkantilis abad pertengahan. Dari akar penyebutan inilah, wacana tentang keuntungandan profit menjadi bagian integral dalam kapitalisme sampai abad pertengahan.

Setelah kapitalisme purba, muncullah kapitalisme industri. Kapitalisme industri muncul ketika berkembang pandangan merkantilis dan perkembangan pasar berikut sistem keuangan yang telah mengubah cara ekonomi feodal yang semata-mata bisa dimonopoli oleh para tuan tanah, bangsawan dan kaum rohaniawan. Ekonomi mulai bergerak menjadi bagian dari perjuangan kelas menengah dan mulai menampakan pengaruh pentingnya. Ditambah lagi rasionalisasi filosofis abad modern yang dimulai dengan era renaissance dan humanisme mulai menjalari bidang ekonomi.


Tokoh-tokoh yang memberikan pengaruh kapitalisme yaitu Thomas Hobbes dengan pandangan egoisme etisnya yang pada intinya meletakan sisi ajaran bahwa setiap orang secara alamiah pasti akan mencari pemenuhan kebutuhan dirinya. John Locke, dia menekankan sisi liberalisme etis, dimana salah satu adagiumnya berbunyi bahwa manusia harus dihargai hak kepemilikan personalnya. Adam Smith dan David Ricardo yang menjatuhkan pandangan kedua tokoh diatas dengan filsafat laissez faire (ungkapan penyifat) dalam prinsip pasar dan ekonomi. Pandangan ini menekankan bahwa sistem pasar bebas diberlakukan sistem kebebasan kepentingan ekonomi tanpa campur tangan pemerintah.

Akselerasi kapitalisme semakin terpicu dengan timbulnya revolusi industri. Industrialisasi di Inggris dan Prancis yang mendorong adalah industri raksasa, dimana mekanisme modernnya akan memicu kolonialisme dan imperialisme ekonomi, sehingga tidak mengherankan terjadi Exploitation I’homme par I’homme. Situasi penindasan yang timbul mengakibatkan munculnya reaksi alamiah dari orang-orang yang memiliki keperdulian kolektif yang mengalami trade-off dalam era industri, salah satunya adalah Karl Marx, menurutnya sistem yang tidak beres dalam kapitalisme cenderung menafikan individu dalam konteks sosial.


Pada periode awal kapitalisme industri (1500-1750), kapitalisme ini bertumpu pada industri tekstil yang ada di Inggris pada abad XVI-XVIII. Perkembangan industri di Inggris pada abad XVI-XVIII disebabkan terdapat adanya surplus sosial yang didayagunakan secara poduktif yang menjadikan kapitalisme mampu mengungguli semua sistem ekonomi sebelumnya. Adanya surplus tersebut digunakan untuk berbagai usaha seperti perkapalan pergudangan, bahan-bahan mentah, barang-barang jadi, dan berbagai bentuk

kekayaan lainnya. Dengan demikian, surplus sosial ini telah berubah menjadi perluasan kapasistas produksi (Arif Purnomo, 2007:37).


Pada fase kedua (1750-1914) terjadi pergeseran pembangunan kapitalis dari perdagangan ke industri. Pada masa ini akumulasi modal terjadi secara terus-menerus selama tiga abad. Perkembangan yang pesat dalam bidang teknologi telah mempermudah proses ekonomi. Mesin-mesin produksi massal digunakan dalam berbagai industri yang menyebabkan terjadinya percepatan prouksi barang, sehingga mempercepat tumbuhnya kapitalisme. Pada masa ini, perdagangan bebas menjadi fakor utama dalam kegiatan ekonomi yang belum penah terjadi sebelumnya.

Fase ketiga ditandai dengan adanya momentum perang Dunia I sebagai titik balik perkembangan sistem kapitalisme. Fase ini ditandai dengan adanya pergeseran hegemoi kapitalisme dari Eropa ke Amerika Serikat dan bangkitnya perlawanan bangsa-bagsa Asia dan Afrika terhadap kolonialisme Eropa. Dilard menyebut fase ini sebagai kapitalisme monoplis, dimana pada masa ini muncul perusahaan-perusahaan raksasa yang menguasai sendi-sendi perekonomian (Ebenstein dan Folegeman, 1987).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Revolusi Amerika


Kapitalisme dan Dampakya

Kapitalisme berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, terutama masyarakat desa. Karl Marx mengemukkan bahwa dalam sistem kapitalisme, petani pedesaan akan menglami pucak kematian. Petani yang semula memproduksi barang dengan alat prduksinya sendiri, secara perlahan berubah menjadi kapitalis kecil di satu pihak dan berubah menjadi buruh upahan di pihak lain. Dalam perjalanan kapitalisme ini, mayoritas petani akan berubah menjadi proletariat. Konsepsi Marx ini kemudian diperjelas oleh Lenin yang menyebutnya sebagai proses diferensiasi petani. Diferensiasi ini muncul karena makin berkembangnya kelas menengah pedesaan di satu pihak dan kelas proletariat pedesaan di lain pihak. Kelas proletariat ini tidak memiliki tanah dan hanya bekerja sebagai buruh upahan. Oleh karena masih ada kegiatan produksi dalam bentuk produksi rumah tangga, maka kelas yang terakhir ini dikatakan oleh Bernste sebagai proletariat semu (disgudied proletariat) (Harris dalam Arif Purnomo, 2007:36).


Namun demikian pendapat Marx dan Lenin tidak selamanya diakui oleh para ahli, seperti Kautzky yang tidak sependapat dengan konsepsi Marx ataupun Lenin. Menurut Kautzky, kapitalisme pedesaan memang dapat meingkatkan prduksi pertanian, tetapi tidak harus menggusur petani kecil. Dalam kasus Eropa barat, industri pertanian tidak dengan sendirinya menghancurkan pertanian rakyat. Kedua jenis produksi itu justru saling menunjang (Harris dalam Arif Purnomo, 2007:36). Sementara itu, Theodore Shanin mendukung pernyataan Lenin bahwa kapitalisme telah menyebabkan diferensiasi dan ketidakadilan sosial ekonomi di pedesaan. Proses ini terjadi dalam pengertian mobilitas rumah tangga petani dalam periode tertetu. Ciri khas dari berbagai mobilitas petani adalah mobilitas siklus dan mobilitas ke segala arah yang memiliki tingkatan an tidak dalam bentuk polarisasi.

Ernesto Laclau, menyatakan bahwa berasarkan penelitiannya di Amerika Latin, kapitalisme justru masih melanggengkan cara produksi kapitalis. Antara dua cara prduksi ini saling terkait yang ia namakan “subordinasi”, yakni cara produksi prakapitalis menjadi subordinasi cara produksi kapitalis. Masyarakat petani tidak mengalami kehancuran akibat perkembangan kapitalisme kolonial, tetapi terintegrasi dalam hubunga subordinasi. Masyarakat petani menjadi sumber tenaga kerja murah untuk perkebunan dan sekaligus menghasilkan komoditas untuk pasar kolonial (Hashim dalam Arif Purnomo, 2007:37).


Dikaitkan dengan kolonialisme, kapitalisme secara tidak langsung telah menyebabkan terjadinya kolonialisme dan imperialisme di Indonesia. Hal ini disebabkan Indonesia memiliki kekayaan, baik alam ataupun tenaga manusia yang menjadi komoditas perdagangan dan kebutuhan bagi bangsa barat. Indonesia kaya akan barang tambang, sehingga Indonesia dijadikan sasaran dalam pencarian barang baku serta pemasaran barang-barang industri.

Berkaitan dengan masalah kapitalisme dan kolonialisme, pada dasarnya keberadaan kolonialisme tidak dapat dilepaskan dari kapitalisme. Ibaratnya, kolonialisme adalah anak dari kapitalisme. Adanya kapitailsme menyebabkan adanya upaya dari bangsa Eropa mengambil kekayaan daerah tersebut sebagai upaya untuk mendapatkan keuntungan dan kekayaan. Salah satu upaya mendapatkan kekayaan dari daerah baru tersebut adalah dengan menguasainya.


Dalam perkembangannya, kapitalisme telah berkembang sedemikian rupa sehingga menjelma sebagai pemicu munculnya beragam aktivitas ekonomi baru dan menjadi pertanada perkembangan kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Adanya kapitalisme telah memunculkan satu budaya baru di kalangan masyarakat, yakni budaya konsumerisme. Dalam perkembangannya, perilaku konsumtif berkembang menjadi sebuah sistem pemikiran yang disebut dengan konsumerisme. Konsumerisme adalah penyamaan kebahagiaan personal dengan membeli harta benda (material possession) dan konsumsi. Dalam konsumerisme, tak ada kebahagiaan kecuali dengan memiliki kerajaan materi. Karena kekayaan materi adalah perhatian sentral dalam akidah konsumerisme. Perilaku konsumtif dengan demikian bersifat belebih-lebihan, digunakan untuk kepentingan belaka, membeli barang-barang yang tidak dianggap perlu untuk kepuasan sesaat.


Menurut para pengikut mazhab Franfkurt, konsumerisme yang dikembangkan oleh ekonomi kapitalisme dan perangkat-perangkat ideologisasi lainnya, telah memastikan bahwa kelas pekerja telah seluruhnya terintegrasi ke dalam sistem. Mereka menjadi member of capitalist society yang telah aman secara finansial, dapat membeli apapun yang mereka inginkan, dan tidak lagi memiliki lagi alasan untuk menggulingkan sistem kapitalisme dan menggantikannya dengan masyarakat tanpa kelas (Donny Gahral Adian, 2005:56).

Kapitalisme lanjut memanifestasikan rasio instrumental sebagai instrumen penyeragaman dan pembendaan kesadaran manusia dengan menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu. Rasio instrumental telah berkembang menjadi satu logika baru “bagaimana menjual sebanyak- banyaknya dan menciptakan kebutuhan-kebutuhan semu” (Donny Gahral Adian, 2005:57). Lebih lanjut lagi Donny Gahral Adian (2005) menjelaskan bahwa kapitalisme lanjut melumpuhkan kesadaran kritis para pekerja dengan memenuhi semua kebutuhan fisiologis dan psikologis mereka, dari makanan sampai seks. Mereka tidak hanya menyediakan kebutuhan, melainkan juga menciptakan kebutuhan lewat iklan-iklan yang hipnotizing. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi boeka-boneka konsumtif yang proaktif mengonsumsi produk-produk secara tidak kritis.


Individu dalam masyarakat kapitalisme lanjut disampingkan dari kebutuhan sejatinya, yakni menjadi individu yang otonom, kreatif, independen, dan merajut sejarah mereka sendiri. Individu dalam masyarakat kapitalisme lanjut berpikir mereka bebas, namun mereka menipu diri mereka sendiri (Donny Gahral Adian, 2005).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 15 Pengertian Revolusi Menurut Para Ahli Teori Revolusi


Ideologi Kapitalisme

Kapitalisme ialah sebagai ideologi yang dapat diartikan sebagai sistem pemikiran dan juga keyakinan yang dipakai oleh kelas dominan untuk dapat menjelaskan pada diri mereka sendiri bahwa bagaimana sistem sosial mereka beroperasi dan juga apa prinsip-prinsip yang akan diajukannya, ideologi ini melihat pada pencarian laba (kapital) sebagai fokus utama kegiatannya.


Adam Smith, yang disebut sebagai bapak kapitalisme, pertama kali menguraikan konsep kapitalisme di dalam bukunya yang berjudul The Wealth of Nations, yang diterbitkan di tahun 1776. Smith yakin bahwa perekonomian akan paling baik ialah yang diatur oleh tangan persaingan (competition) yang tak terlihat, yaitu pertempuran di antara dunia usaha untuk mendapatkan suatu pengakuan konsumen.

Smith juga berpendapat bahwa persaingan di antara perusahaan akan dapat mengarah pada pengakuan konsumen terhadap produk dan juga harga yang terbaik, sebab produsen yang kurang efisien secara bertahap akan terlempar keluar dari pusat persaingan.


Teori Copernicus

Nicolaus Copernicus atau Nikolaus Kopernikus (bahasa Polandia Mikolaj
Kopernik; 19 Februari 1473 – 24 Mei 1543) adalah seorang astronom, matematikawan, dan ekonom berkebangsaan Polandia, yang mengembangkan teori heliosentrisme (berpusat di matahari) Tata Surya dalam bentuk yang terperinci, sehingga teori tersebut bermanfaat bagi sains. Ia juga seorang kanon gereja, gubernur dan administrator, jurist, astrolog, dan dokter. Teorinya tentang matahari sebagai pusat tata surya, yang menjungkirbalikkan teori geosentris tradisional (yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta) dianggap sebagai salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa, dan merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan sains modern (teori ini menobatkan revolusi ilmiah). Teorinya memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia lainnya.


Pendapat Copernicus langsung mendapatkan reaksi dari gereja, karena gereja memahami bahwa pusat tata surya adalah bumi (geosentris). Sampai akhirnya Copernicus dibawa kemeja Pengadilan gereja dan dijatuhkan hukuman Pengkutukan. Akan tetapi karena Copernicus mau menarik ucapan dan pendapatnya itu, sehingga gereja menerima pengampunan dosanya. Dan akhirnya dibiarkan tetap hidup. Walaupun demikian teori Heliosentris sudah menjadi bahan pembicaraan masyarakat Eropa.


Galileo Galilea

 Ilmuwan Galileo setelah melakukan riset, akhirnya berhasil menemukan teropong bintang. Dengan menggunakan teropong tersebut, Galileo berhasil mengamati pergerakan benda-benda luar langit dan sekaligus memperkuat teori Copernicus. Selain itu Galileo juga berpendapat bahwa bumi itu bulat, bukan datar seperti yang dipahami gereja pada waktu itu.

Pendapat Galileo langsung ditentang pihak gereja. Dan diarahkan tampil di hadapan Pejabat Suci di Roma di mana mahkamah menjatuhkan hukuman pengutukan dan memaksa Galileo bersumpah akan meninggalkan paham yang menyeleweng. Dan sebagai hukumannya Galileo dikurung di Siena dan akhirnya, pada Disember 1633, Galileo dipindahkan di Arcetri hingga meninggal dunia pada tahun 1642.


Adam Smith

adalah penganut aliran klasik terkenal.Ia lahir di kota Kirkcaldy Scotlandia. Belajar filsafat dan pernah menjadi guru besar logika di Universitas Glasgow.Tahun 1766 ia pergi ke Perancis dan bertemu dengan para penganut liberalisme. Tahun 1776 ia menerbitkan Penelitian Alam dan Sebab-sebab Kekayaan Manusia. Buku inilah yang dikatakan kritikus Edmund Burke sebagai karya tulis teragung yang pernah ditulis manusia.


David Hume

Penemu teori pragmatisme yang integratif. Ia mengatakan “Hak milik khusus adalah tradisi yang dianut masyarakat yang harus diikuti. Sebab disanalah manfaat mereka.”


Max Weber

Max Weber mengatakan bahwa akar kapitalisme berawal dari sistem Codex Luris Romae sebagai aturan main ekonomi yang kurang lebih universal dipakai oleh kaum pedagang eropa, Asia Barat, serta Asia Timur Jauh dan Afrika Utara. Aturan main ekonomi ini sebetulnya dimanfaatkan untuk memapankan system pertanian feodal. Sehingga, dari aturan ini muncul istilah borjuis yang mengelompokkan sistem feodalisme yang disempurnakan dengan sistem hukum ekonomi itu. Kaum borjuis merupakan sebutan bagi golongan tuan tanah, bangsawan, dan kaum rohaniawan yang mendiami biara yang luas dan besar.


Perkembangan selanjutnya merupakan perkembangan kapitalisme yang disebut dengan tata cara dan “kode etik” yang dipakai kaum merkantilisme, yaitu kaum pedagang yang berkumpul di pelabuhan Genoa, Venice dan Pisa. Hal ini menyebabkan perkembangan kompetisi dalam sistem pasar, keuangan, tata cara barter serta perdagangan yang dianut oleh para merkantilis abad pertengahan. Dari akar penyebutan inilah, wacana tentang keuntungandan profit menjadi bagian integral dalam kapitalisme sampai abad pertengahan.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Revolusi Prancis Beserta Proses, Dampak Dan Penyebabnya


Ciri dan Tujuan Kapitalisme

Ciri-ciri ideologi kapitalisme

  1. Mencari keuntungan dengan berbagai cara dan sarana kecuali yg terang-terangan dilarang negara karena merusak masyarakat seperti heroin dan semacamnya.
  2. Mendewakan hak milik pribadi dengan membuka jalan selebar-lebarnya agar tiap orang mengerahkan kemampuan dan potensi yang ada untuk meningkatkan kekayaan dan memeliharanya serta tidak ada yg menjahatinya. Karena itu dibuatlah peraturan-peraturan yg cocok utk meningkatkan dan melancarkan usaha dan tidak ada campur tangan negara dalam kehidupan ekonomi kecuali dalam batas-batas yg yg sangat diperlukan oleh peraturan umum dalam rangka mengokohkan keamanan.
  3. Kompetisi sempurna.
  4. Kebebasan ekonomi bagi tiap individu di mana ia mempunyai hak untuk menekuni dan memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemauanya
  5. Ajaran liberalisme ortodoks sangat mewarnai pemikiran para The Founding Father Amerika seperti George Wythe, Patrick Henry, Benjamin Franklin, ataupun Thomas Jefferson

Ciri-Ciri Negara Kapitalis :

  • Pasar berfungsi memberikan “signal” kepda produsen dan konsumen dalam bentuk harga-harga.
  • Campur tangan pemerintah diusahakan sekecil mungkin. “The Invisible Hand” yang mengatur perekonomian menjadi efisien.
  • Motif yang menggerakkan perekonomian mencari laba
  • Manusia dipandang sebagai mahluk homo-economicus, yang selalu mengejar kepentingann (keuntungan) sendiri.
  • Pengakuan yang luas atas hak-hak pribadi
  • Paham individualisme didasarkan materialisme, warisan zaman Yunani Kuno (disebut hedonisme).
  • Pemilikan alat-alat produksi di tangan individu
  • Inidividu bebas memilih pekerjaan/ usaha yang dipandang baik bagi dirinya
  • Perekonomian diatur oleh mekanisme pasar

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Peristiwa 10 November 1945” Definisi & ( Kedatangan Sekutu – Terjadinya )


Keuntungan dan Kerugian

Keuntungan Kapitalis

  1. Menumbuhkan inisiatif dan kerasi masyarakat dalam kegiatan ekonomi, karena masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah dari pemerintah.
  2. Setiap individu bebas memiliki untuk sumber-sumber daya produksi, yang nantinya akan mendorong partisipasi masyarakat dalam perekonomian.
  3. Timbul persaingan semangat untuk maju dari masyarakat.
  4. Menghasilkan barang-barang bermutu tinggi, karena adanya persaingan semangat antar masyarakat.
  5. Efisiensi dan efektifitas tinggi, karena setiap tindakan ekonomi didasarkan motif mencari keuntungan.

Kerugian Kapitalis

  • Terjadinya persaingan bebas yang tidak sehat.
  • Masyarakat yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.
  • Banyak terjadinya monopoli masyarakat.
  • Banyak terjadinya gejolak dalam perekonomian karena kesalahan alokasi sumber daya oleh individu.
  • Pemerataan pendapatan sulit dilakukan, karena persaingan bebas tersebut.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Serangan Umum 1 Maret” Definisi & ( Tujuan – Kerugian – Arti Penting )


Contoh Sistem Ekonomi Kapitalis

Secara etimologi kapitalisme terdiri dari dua kata, yaitu capital dan isme. Kapital secara umum berarti modal, jadi kapitalisme adalah paham yang berdasarkan modal. Kapitalis dapat kita artikan sebagai suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal melakukan usaha untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Dalam paham ini, pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna mendapatkan keuntungan bersama, namun intervensi pemerintah adalah untuk kepentingan-kepentingan pribadi.


Kelahiran sistem ekonomi kapitalis ini tidak dapat dipisahkan dari seorang ahli ekonomi yaitu Adam Smith. Dengan sistem pasarnya memunculkan pengetahuan tingkah laku ekonomi yang belum pernah ditemukan sebelumnya dan kemudian menjadi bahan analisa bagi terbentuknya sebuah ilmu. Pandangan, pemikiran, beserta reori-teorinya tertuang dalam bukunya ‘An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations’ dan menjadi dasar terbentuknya sistem ekonomi kapitalis. Inti dari pemikiran Smith adalah bahwa proses distribusi dan produksi haruslah lepas dari campur tangan pemerintah dan adanya perdagangan bebas.


Dalam perekonomian kapitalis setiap warga dapat mengatur nasibnya sendiri sesuai dengan kemampuannya. Semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh laba sebesar-besarnya. Semua orang bebas malakukan kompetisi untuk memenangkan persaingan bebas dengan berbagai cara.

Dalam paham kapitalisme, mekanisme pasar atau transaksi dianggap sebagai mekanisme paling tepat untuk pemenuhan kehendak setiap individu. Jika setiap individu memiliki pola pikir individualistik, maka akan terciptalah suatu mekanisme yang transaksional, seseorang akan mau memberikan sesuatu miliknya  jika mendapat imbalan yang sesuai dengan keinginannya. Dalam ekonomi kapitalis, tidak boleh ada campur tangan pemerintah, free competition, dan laba adalah pendorong utama.


Ciri-ciri sistem ekonomi Kapitalis :

  • Pengakuan yang luas atas hak-hak pribadi
  • Perekonomian diatur oleh mekanisme pasar
  • Manusia dipandang sebagai mahluk homo-economicus, yang selalu mengejar kepentingann (keuntungan) sendiri
  • Setiap orang bebas memiliki barang, termasuk barang modal.
  • Setiap orang bebas menggunakan barang dan jasa yang dimilikinya.
  • Aktivitas ekonomi ditujukan untuk memperoleh laba
  • Semua aktivitas ekonomi dilaksanakan oleh masyarakat (swasta)
  • Pemerintah tidak melakukan intervensi dalam pasar.
  • Persaingan dilakukan secara bebas.
  • Peranan modal sangat vital.
  • Pengakuan terhadap kepemilikan individu terhadap sumber ekonomi
  • Kompetisi antar individu dalam memenuhi kebutuhan hidup dan persaingan antar badan usaha untuk mengejar keuntungan
  • Tidak ada batasan bagi individu dalam menerima imbalan atas prestasi kerjanya
  • Campur tangan pemerintah sangat minim
  • Mekanisme pasar akan menyelesaikan persoalan ekonomi

Kelebihan sistem ekonomi Kapitalis :

  • Menumbuhkan inisiatif dan kreasi masyarakat dalam mengatur kegiatan ekonomi.
  • Setiap individu bebas memiliki sumber-sumber produksi.
  • Munculnya persaingan untuk maju.
  • Barang yang dihasilkan bermutu tinggi, karena barang yang tidak bermutu tidak akan laku di pasar.
  • Efisiensi dan efektivitas tinggi karena setiap tindakan ekonomi didasarkan atas motif mencari laba.

Kelemahan sistem ekonomi Kapitalis :

  • Sulitnya melakukan pemerataan pendapatan.
  • Cenderung terjadi eksploitasi kaum buruh oleh para pemilik modal.
  • Munculnya monopoli yang dapat merugikan masyarakat.
  • Sering terjadi gejolak dalam perekonomian karena kesalahan alokasi sumber daya oleh individu.

Contoh negara yang menganut sistem perekonomian kapitalis : Inggris, Amerika Serikat, Kanada

Amerika Serikat

Salah satu budaya politik Amerika adalah sistem perekonomian kapital. Kapitalisme adalah metode alternative untuk mendistribusikan keuntungan dan kerugian ekonomi. Kapitalisme mengharuskan pemerintah untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi seminimal mungkin. Bebas berusaha dan kepercayaan diri adalah prinsip-prinsip dasar dari kapitalisme. Firma atau perusahaan diperbolehkan untuk beroperasi di pasar bebas dan terbuka, dan individu-individu diharapkan mampu berusaha dengan inisiatif mereka sendiri untuk membangun keamanan stabilitas ekonomi mereka. Perusahaan menentukan apa yang akan mereka produksi dan harga untuk barang dan jasa mereka sementara pembeli menentukan apa yang akan mereka beli dengan harga berapa.


Amerika serikat tidak secara murni menganut sistem kapitalisme, karena pemerintah mengambil peran dalam mengatur dan mendorong perekonomian. Istilah ekonomi campuran ini digunakan dalam menentukan bentuk analisir berbeda dari sistem ekonomi kombinasi antara elemen sosialis dan kapitalis. Amerika Serikat mengadopsi lebih banyak elemen kapitalis daripada elemen sosialis. Karena tradisi individualism yang kuat, orang Amerika cenderung membatasi tujuan dari tindakan pemerintah dalam bidang ekonomi.


Daftar Pustaka
Abdul Syukur (ed). 2005. Ensiklopedi Umum Untuk Pelajar. Jilid 5. Jakarta: Ichtiar baru Van Hoeve.
Arif Purnomo. 2007. Sejarah Ideologi. Semarang: Jurusan Sejarah FIS Universitas Negeri Semarang.
Donny Gahral Adian. 2005. Percik Pemikiran Kontemporer; Sebuah Pengantar Komprehensif. Jakarta: Jalasutra.
Ebenstein, William dan Fogelman, Edwin. 1987. Isme-Isme Dewasa Ini. Terjemahan Alex Jemadu. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Mc Vey, Ruth (ed). 1998. Kaum Kapitalis Asia Tenggara. Jakarta: Yayasan Obor
Sutarjo Adisusilo. 1994. Kapita Selekta Sejarah Eropa abadXVIII-XIX (Revolusi, Nasionalisme, Demokrasi, Komunisme). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.