Revolusi Amerika

Diposting pada

Sejarah Revolusi Amerika, Latar Belakang, Tujuan, Dampak, Faktor dan Penyebab : merupakan perang kemerdekaan Amerika Serikat kepada Kerajaan Britania Raya

Revolusi Amerika


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : VOC : Sejarah, Hak Istimewa, Kebijakan, Tujuan, Dan Latar Belakang VOC


Sejarah Revolusi Amerika

Revolusi Amerika bermula dengan adanya kemerdekaan Amerika akan imperium Inggris. Hal yang paling menonjol adalah sikap tidak puas kaum kolonis terhadap kebijaksanaan Ingeris antara lain ditunjukkannoleh James Otis yang berbicara mengatasnamakan pedagang Boston tahun 1761. Othis menentang kesewenang-wenangan dan otoritas Perlemen Inggeris mengenai beberapa aspek kehidupan kaum kolonis termasuk di bidang perdagangan.


Demikian juga pada tahun 1763, Patrick Henry menentang hak-hak Privi Council mengenai masalah hukum di Virginia. Walaupun kedua tokoh tersebut tidak mewakili aspirasi orang-orang Amerika secara keseluruhaa, sikap yang mereka tunjukkan merupakan bentuk perlawanan kaum kolonis terhadap sistem imperium Inggeris. Demikian juga tidak semua orang Amerika menentang sikap Inggris. Banyak di antara mereka terutama yang berpandangan aristokrat mendukung kebijaksanan Inggris.


Puncak dari latar beakang revolusi Amerika adalah peristiwa Pembantaian Boston tahun 1770 yang memakan lima orang korban sipil. Peristiwa tersebut menggambarkan betapa pemerintah kolonial Inggeris telah memaksakan kehendaknya terhadap rakyat Amerika., Dicabutnya Townshend Act pada tahun 1770 dapat meredakan ketegangan. Namun demikian, kehadiran pasukan Inggris di daerah koloni yang mengawasi kegiatan perdagangan dan mencegah terjadinya penyelundupan menimbulkan rasa tidak senang kaum kolonis.


Kapal patroli Inggeris Gaspee, yang melakukan pengawasan di sekitar Rhode Island dibakar oleh kaum patriot dan membuat takut pejabat Inggeris yang harta miliknya ikut hancur. Para juri koloni menolak bekerjasama dengan para pejabat kerajaan dalam mengakhiri perdagangan ilegal. Ketika Gubernur Massachussetts, Thomas Hatchinson menyatakan tahun 1772 bahwa para hakim akan.dibayar dari uang kerajaan, timbul protes dari berbagai kalangan.


Salah seorang di antaranya adalah tokoh Boston, Samuel Adams, menentangnya dengan cara membentuk panitia korespondensi untuk mengkordinasi berita dan serta keluhan kelompok masyarakat yang berkaitan dengan tindakan pemerintah kerjaaan Inggris.


Sikap pemerintah kerajaan Inggeris masih tetap keras. Inggris mengeluarkan Undang-undang Teh yang memberikan hak monopoli kepada East India Company untuk melakukan eksport ke suluruh daerah koloni. Tindakan ini dibuat oleh kaum kolonis dengan cara memboikot seluruh produksi teh Inggris yang dikirim ke daerah koloni dan menganjurkan para agen untuk tidak mendual tehnya ke pasar Amerika serta mengirim kembali teh yang diterimanya ke Inggris atau ditimbun di gudang.


Banyak agen-agen dagang Inggeris, yang mendapat dukungan gubernur, yang menolak tuntutan kaum kolonis. Mereka memaksakan diri untuk menurunkan muatan kapal the Inggeris di Pelabuhan Boston. Kaum kolonis yang mendapat dukungan dari Samuel Adam menjawab sikap keras para agen itu dengan cara kekerasan. Pada tanggal 16 Desember 1773 kaum kolonis yang menyamar sebagai Indian Mohawk menaiki tiga kapal Inggris yang akan berlabuh di Pelabuhan Boston dan segera  menceburkan muatan teh ke laut. Peristiwa yang dalam bahasa kaum kolonis sebagai “Boston Tea Party” tersebut sangat menjengkelkan Inggeris.


Pada tahun 1774, diselenggarakan Kongres Kontinental yang dihadiri oleh delegasi-delegasi dari semua daerah koloni, kecuali Georgia. Kongres yang diselenggarakan di kota Philadeplhia dimaksudkan untuk merundingkan keadaan daerah koloni yang semakin memburuk. Akhirnya semua delegasi sepakat untuk mengeluarkan “Deklarasi Hak dan Keluhan” (Declaration of Right and Grievances) berupa pernyataan akan tetap setia kepada Raja dan tetap menentang hak Parlemen Inggris untuk mengenakan pajak terhadap darah koloni Amerika.


Ditengah-tengah ketegangan antara Inggris dan kaum kolonis, Kongres Kontinental Kedua diselenggarakan tanggai 10 Mei 1775 Walaupun delegasi kongres kedua itu lebih banyak dihadiri kelompok radikal dibandingkan dengan delegasi pada kongres yang pertama, tidak dicapai kesepakatan mengenai pernyataan kemerdekaan kecuali menyepakati perlunya angkat.


senjata melawan Inggeris seperti diusulkan oleh John Dickinson dan Jefferson Kongres yang dipimpin oleh John Hancock dan dihadiri juga oleh Benjamin Franklin tersebut menyepakati perlunya dikirim pasukan ke Massachusetts untuk membantu kaum kolonis di sana dan menugaskan George Washington sebagai pemimpin pasukan Kontinental untuk memimpin pasukan ke Boston untuk melindungi kota yang sedang dikepung pasukan Inggris.


Pada tanggal 7 Juni Richard henry Lee dari Virginia mengajukan resolusi yang menyatakan persetujuan atas kemerdekaan dari Inggris. Kongres ini menghendaki adanya dukungan dan konsensus yanbg lebih luas, membentuk sebuah komite yang dipimpin oleh Thomas Jefferson untuk menyiapkan langkah-langkah rasional menuju pernyatan kmerdekaan. Kongres juga menyepakati usulan Richard Henry Lee tanggal 2 Juli 1776 dan mengesahkan pembacaan Deklarasi Kemerdekaan dua hari kemudian.


Deklarasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Thomas Jefferson tersebut berisi dua bagian. Pada pembukaannya, Jefferson menyatakan bahwa pada dasarnya pemberontakan atau gerakan merupakan hak alamiah umat manusia untuk mendirikan pemerinthan baru yang didasarkan atas keinginan warganya. Bagoian kedua yang lebih panjang berisi tuduhan terhadap Raja Inggris yang mngabaikan hak-hak khusus kaum kolonis, dan memprotes ikut campurnya pemerintahan raja dalam pemerintahan kolonial di Amerika.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan :70 Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli


Revolusi Amerika

Peperangan Amerika

Perang kemerdekaan AS yang berlangsung selama enam tahun membuktikan bahwa kekuatan baru yang ditunjang oleh semangat kemerdekaan telah menang terhadap kekuatan lama Imperium Inggeris.- Kemenangan militer awal dalam pertempuran di Lexington, Charleston, Concord dan Bunker Hill telah memperkuat optimisme orang-orang Amerika.


Pada awal meletusnya perang, Inggris berusaha memaksakan kemenangan militeraya. Ditunjang dengan angakatan bersenjata yang besar, kekuatan ekonomi serta angkatan laut terkuat di dunia, Inggris ternyata memiliki banyak kelemahan. Pasukannya dan perlengkapan perang dalam jumlah besar hams diangkut dari jarak sekitar 3000 mil dan tidak mengenal medan tempur Amerika.


Sebaliknya pasukan Amerika dapat sembunyi dan melakukan serangan dimanapun di daerahnya. Lebih lanjut, di Inggeris tidak teradapat kesepakatan di antara warganya mengenai pengiriman pasukan ke Amerika terlebih-lebih pengiriman tersebut telah menimbulkan permusuhan dari Spanyol dan Perancis. Konflik strategi juga terlihat anatara Jenderal William Howe, sebagai komandan militer dan Admiral Richard Howe sebagai komisaris perdamaian.


Walaupun mengalami kekalahan di beberapa tempat, Washington mencoba mengkonsolidari pasukannya pada musim gugur tahun 1776 dan mundur melalui New Jersey. Ketika pasukan Howe memasuki musim dingin, pasukan Washington memukul pangkalan Inggeris di Trenton pada Natal 1776. Setelah kemenangan kecil di Princeton, pasukan Washington istirahat pada musim dingin. Pertempuran awal tersebut merupakan rahasia awal kemenangan Wahington. Pasukan Inggeris berusaha memperoleh wilayah strategis seluas-luasnya seperti New York, sedangkan Washington berusaha memperoleh kemenangan pasukan.


Seperti halnya pada perang gerilya moderen, pasukan revolusioner Amerika mengorbankan wilayah sambil tetap memelihara konsolidari pasukan, dan sepanjang pasukan tetap terpelihara, Inggeris tidak bisa mengklaim kemenangan. Sikap tegtuh George Wahington telah memberi waktundan pelung kepada pasukan Amerika unruk memperkuat din. Kemenangan di New Jersey telah meningkatkan moral pasukan negeri baru tersebut.


Pada musim gugur Inggris memulai serangan baru ke pusat-pusat perlawanan pasukan Amerika. Serangan dilakukan melalui tiga pusat penyerangan. Dari utara, Jenderal John Burgoyne melakukan serangan dari Kanada ke Albany. Pasukan lain dipimpin oleh Barry St Leger bergerak dari Danau Ontario ke Albany. Sedangkan pasukan Howe bergerak dari New York menuju Sungai Hudson lalu menuju selatan dan mengalahkan pasukan Washington di Brandywine (September 1777), dan selanjutnya menduduki Philadephia, markas Kongres Kontinental Amerika.


Dalam waktu yang sama Burgoyne bergerak ke arah selatan dari Kanada dan merebut Fort Ticonderoga. Setelah itu, pasukan Inggeris mulai dihadapkan pada kesulitan. Dukungan kaum Loyalis tidak bisa dibuktikan, sedangkan para patriot lokal mulai berpartisipansi dalam merintangi pasukan Inggeris dengan cara menebangi pohon dan menempatkannya di jalan raya yang dilewati pasukan Inggeris. Ketika laju pasukan Burgoyne berhenti, pasukan kecil Amerika yang dipimpin oleh Bennedick Arnold, mengalahkan pasukan St Leger di Oriskany, dan memaksa pasukan Inggris menarik diri dari Fort Oswego di Danau Ontario.


Burgoyne yangterhenti di hutan New York dan dikepung oleh para patriot Amerika, mencoba menghancurkan kekuatan kaum kolonis di Saratoga. Ternyata Burgoyne tidak mampu memaksakan kekuatannya dan akhirnya menyerah pada pasukan Amerika pada bulan Oktober 1777.


Pembentukan aliansi internasional tidak menjamin sepenuhnya kemenangan Amerika terhadap Inggris. Namun demikian, bantuan internasional tetap memiliki peran besar terhadap tumbuhnya semangat juang pasukan kontinental Amerika., Sejak tahun; 1780, pasukan Inggeris mulai mengalami kekalahan di berbagai medan tempur Amerika. Dalam pertempuran di Lembah Ohio mereka kalah. Demikian juga usahanya untuk menyerang daerah Selatan tidak berhasil. Walaupun Karolina, Charleston dan Virginia sempat dikuasai, pada pertempuran berikutnya pasukan Inggeris tidak bisa mengalahkan pasukan gabungan Amerika dan Perancis.


Gabungan pasukan Washington dan Rochambeau yang berjumlah 15.000 berhasil mengalahkan pasukan Lord Cornwallis di Yorktown, pantai Virginia. Akhirnya pada tanggal 19 Oktober 1781, pasukan Cornwallis menyerah dan Parlemen Inggeris segera memutuskan untuk menghentikan perang. Setelah mengalami kekalahan perang, Inggeris sepakat untuk berunding pada bulan Maret 1782. Perundingan damai yang diselenggarakan di Paris dihadiri oleh delegaasi dari AS, Inggeris, Perancis, Spanyol dan negara-negara yang berkepentingan dengan daerah koloni di Amerika.


Hasil perjanjian-Paris ditandatangani secara formal tanggal 3 September 1783. Raja George III dari Inggeris mengakui kemerdekaan AS, mengakui perbatasan AS yang terbentang dari utara (Great lakes), barat (Sungai Mississippi) dan Selatan hingga 31 derajat LU. Selain itu disepakati juga bahwa orang-orang Amerika diijinkan untuk menangkap ikan di perairan Kanada, kedua negara berhak melayari Sungai Mississippi; dan Kongres AS harus mengembalikan hak milik kaum royalis yang dirampas pada masa perang.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan :Makalah Kerajaan Malaka : Sejarah Dan Peninggalan Serta Pendirinya


Pembentukan Konferendansi

Dengan adanya Deklarasi kemerdekaan 1776 dan perang kemerdekaan sampai tahun 1783, bangsa Amerika rnulai mengubah struktur sosial politiknya. Pada bulan Mei 1776 Kongres Amerika merekomentasi berdirinya negara bagian dan menggantikan pemerintahan provinsi yang didasarkan atas prinsip-prinsip pemerintahan republik. Setiap negara bagian segera membuat undang-undang dasar (konstitusi) yang disahkan oleh Kongres provinsi dan persetujuan rakyat.


Parlemen negara-negara bagian terdiri dari dua kamar (majelis) – kecuali di Pensilvania yang memiliki multim-majelis – yang terdiri dari majelis rendah yang mewakili rakyat dan majelis tinggi yang terdiri dari snator negara bagian meliputi golongan aristokrat. Dalam prakteknya semua golongan, terutama golongan kaya, dapat saja duduk dalam majelis tinggi. Konstitusi negara bagian menjamin melindungi kebebasan sipil warganya terutama dari kemungkinan meluasnya pengaruh kekuatan legislatif.


 Artikel mengenai Konfederasi tahun 1777 telah mengabaikan kemungkian dibentuknya pemerintahan union, dan setiap negara bagian di bawah konfederasi tetap memiliki kedaulatannya. Karena merasa khawatir dengan terbentuknya pemerintahan nasional yang kuat yang dikendalikan jauh dan negara-negara bagian, setiap negara bagian menyerahkan kekuasaannya kepada Kongres sambil tetap mempertahankan kepentingan lokal negara bagian.


Menurut artikel tersebut, Kongres memiliki kewenangan dalam 1) menyatakan peirang dan damai, 2) merundingkan perjanjian dan aliansi, 3) mengatur urusan Indian, 4) membentuk sistem mata uang, ukuran dan timbangan, dan 5) menjalan sistem pengiriman pos. Negara bagian tetap memiliki hak atas pengenaan pajak terhadap warganya, mengatur perdagangan. Kongres tidak dapat mengenakan aturan terhadap warga negara bagian. Dalam sistem konfederasi, pemerintahan pusat dipegang oleh Kongres yang anggota-anggotanya berasal utusan dari setiap negara bagian yang memiliki satu hak suara.


Untuk menyelenggarakan pemerintahan, Kongres membentuk beberapa kementrian dan menunjuk Robert Morris serbagai pimpinan pejabat keuangan. Kemampuan Mods dalam menanganni masalah keuangan teramasuk memperlancar arus pinjaman dari luar dapat mencegah masalah keuangan negara baru tersebut.


Konvensi Philadelpia 1787

Konvensi Philadelphia diawali dengan Pertemuan Alexandria antara Virginia dan Maryland mengenai masalah pelayaran di Sungai Patomak tahun 1785. Pertemuan tersebut merekomendasikan perlunya diadakan pertemuan lebih luas mengenai masalah perdagangan di seluruh Amerika Serikat. Pada tahun 1786 diselenggarakan Konferensi Annapolis dn menyepakati usulan Alexander Hamilton untuk mengadakan Konvensi Philadephia yang dihadiri oleh semua negara bagian.


Pada bulan Mei JConvensi Philadelhia dibuka dan dihadiri oleh utusan-utusan dari seluruh negara bagian kecuali Rhode Island. Persidangan Konvensi, yang sebagian besar delegasinya berasal dari kalangan muda dan beraspirasi terbentuknya pemerintahan nasional tersebut, dipimpin oleh George Wahington. Secara prinsip mereka menyapakati dibentuknya pemerintahan pusat dengan memberikan kekuasaan yang berimbang antara pemerintah pusat dan pemerintah negara bagian sarnbil tetap memprioritaskan kepentingan warganya.


Konstisusi Amerika Serikat

Konstitusi Amerika Serikat yang dihasilkan dari Konvensi tersebut menjamin dua majelis pembuat undang-undang (legislature), yaitu eksekutif dan lembaga pengadilan yang mandiri. Konstitusi juga menjamin Kongres untuk mengesahkan pajak, mengatur perdagangan luar negeri dan antarnegara bagian, mencetak dan meminjam uang, membangun angjtatan bersenjata, menyatakan perang, membangun sistem pos, dan mengeluarkan udang-undang yang diperlukan untuk pendelegasian kewenangan.


Sedangkan untuk melindungi para wakil rakyat (representative) senator dipilih berdasarkan undang-undang negara bagian dan akan menjabat sdama enam tahun. Konstitusi juga menjamin persetujuan Senate mengenai penunjukan seorang eksekutuf serta perjanjian luar negeri. Secara teoritis, Senate bukan hanya mewakili negara bagian melainkan juga menggambarkan kukuhnya kelompok aristokrat.


Presiden AS dipilih secara tidak langsung oleh badan pemilih presiden (electoral college) sehingga membebaskan dia dari ketergantungan pada Kongres atau pada rakyatnya. Konstitusi juga memberikan kewenangan kepada seorang presiden untuk menuntut undang-undang mengenai masalah tanah, membuat perjanjian luar negeri, berperan sebagai panglima angkatan bersenjata, menunjuk hakim dan pejabat-pejabat lainnya serta berhak mengeluarkan veto terhadap keputusan Kongres.


Dalam pembuatan konstitusi terdapat banyak kelompok-kelompok yang terbuat dan kelompok federalis adalah kelompok yang terkuat.Kelompok Federalis akhirnya mampu menentukan kepemimpinan dalam pemerintah pusat yang baru George Washington dari Virginia, sebagi pemimpin Konvensi Konstitusional Philadelphia dengan suara bulat terpilih sebagai presiden pertama tahun 1789.


John Adams dari Massachusetts, mantan dubes di negara-negara Eropa dipilih sebagai wakil presiden. Sedangkan anggota kongres sebagian besar berasal dari kaum federalis. Untuk sementara pemerintahan baru mampu menciptakan stabilitas politik yang didukung oleh mayoritas federalis. Namun demikian,  kurang dari satu dekade, perselisihan mengenai kebijaksanaan politik pada pemerintahan federalis tersebut menyebabkan terpecahnya kubu federalis ke dalam dua aliran yaitu, satu kubu yang masih menamakan din Federalis dan kubu lainnya bergabung dengan kelompok Republik. Persaingan kedua kubu tersebut menjadi dasar bagi terbentuknya partai-partai politik di Amerika Serikat.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan :Sejarah Kerajaan Makassar


Dampak Revolusi Amerika

Agama

Para menteri yang menganut Protestan, sebagai agama mayoritas, menekankan pentingnya persaingan di antara penganut berbagai agama sebab hal itu akan memperkuat terbentuknya masyarakat Kristiani di Amerika Sedangkan agama Protestan berusaha membentuk Gereja Unitarian atau gereja bersatu untuk semua aliran Protestan. Namun demikian, di kalangan Protestan sendiri timbul revitalisasi Protestan yang dipelopori oleh gereja Baptist dan Methodist yang menekankan pada Ajaran Injil Lama, Old Testamen atau Perjanjian Lama. Penganut ini mengkritik orang-orang Protestan yang semakin sekular dan terlalu menekankan kehidupan agama pada aspek rasional dan ilmu pengetahuan ciptaan manusia.


Kehidupan Keluarga

Keluarga Amerika sangat menekankan pentingnya pendidikan Kristen kepada anak-anak mereka dengan tujuan untuk menghindari disintegrasi moral dalam keluarga Amerika Namun demikian, setelah AS memasuki industrianisasi pada abad ke-19 lembaga keluarga menjadi tidak begitu penting sebagai satu kesatuan ekonomi. Adanya penggunaan anak-anak dan wanita sebagai tenaga kerja telah menurunkan ikatan keluarga. Akibatnya orang tua lebih menekankan pentingnya kemandirian kepada anak-anaknya agar si anak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa tergantung bagi penghasilan orang tua.


Sebagai konsekuensi dari perubahan sikap tersebut setiap keluarga di AS cenderung semakin mengecil. Sedangkan pembantu rumah tangga tidak lagi menjadi anggota keluarga sebab mereka hanya berperan sebagai tenaga kerja mandiri karena pengaruh dari konsep egaliter dan equality. Adanya disintegrasi dalam keluarga menyebabkan posisi wanita tidak lagi sebagdi ibu rumah tangga melainkan memiliki posisi yang sama dengan suami dan boleh bekerja di luar rumah. Mereka juga berusaha mengejar karier seperti  menentang batasan-batasan tradisional secara gender terhadap mereka.


Kemanusiaan

Berkembangnya humanitarian, aliran yang menjujung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan demokratisasi, berpengaruh terhadap timbulnya gerakan anti-perbudakan atau abolisionist. Pada awalnya gerakan ini hanya didukung oleh kelompok Protestan yang tergabung dalam American Colonization Society (1817) dan berusaha mengirimkan orang-orang kulit hitam kembali ke Afrika. Kelompok ini akhirnya mendapat dukungan dari golongan Gereka Avctngefis (Pencil) yang memandang perbudakan sebagai Iembaga yang merusak tatanan masyarakat Amerika. Kelompok ini berhasil mengirimkan sekitar 12.000 budak ke Republik Liberia, Afrika, tahun 1822.


Program pengiriman budak tersebut tidak berjalan lancar yang disebabkan oleh timbulnya kecaman dari negara-negara bagian di Selatan yang menerapkan sistem tersebut. Pemimpin abolisionis baru, William Lloyd Garrison, yang menerbitkan koran anti-perbudakan, The Garrison (1831) berusaha meneruskan program pengiriman tersebut ke Afrika sambil terus mengecam system rasialis tersebut yang masih tetap dipertahankan di negara-negara bagian Selatan. Usaha tersebut tidak banyak membawa hasil sampai meletusnya perang sipil tahun 1861-1867.


Dampak Revolusi bagi dunia

Dewasa ini, revolusi Amerika Serikat memberikan dampak yang sangat berpengaruh terhadap dunia. Seperti yang kita ketahui, Amerika adalah negara adikuasa setelah mereka melakukan perang dingin dengan Rusia dan memenangi perang tersebut. Hal yang paling terlihat adalah perekenomian dunia yang berpusat dan diunggui oleh Amerika. Terlihat dari terjadinya krisi ekonomi yang melandan Amerika pada tahun 2010 yang akhirnya menyebabkan krisis dunia.


Dalam sosial-politik Amerika juga turut berperan penting terutama dalam perang yang terjadi pada Israel dan Palestina. Hal ini pun mendukung terjadinya aksi terorisme yang terjadi di gedbung WTC pada tanggal 11 September 2003. Selain hal tersevut, revolusi Amerika juga berpengaruh terhadap semnagat juang meraih kemerdekaan terutama di negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.


Faktor Revolusi Amerika

Revolusi Amerika serikat merupakan bentuk sebuah pemberontakan (perlawanan) rakyat koloni Amerika terhadap pemerintah kolonial Inggris di Amerika. Rakyat koloni di Amerika menyuarakan kebebasan secara mendasar dan fundamental dalam segala aspek kehidupan dari kekuasaan kerajaan Inggris. Gel ora api revolusi Amerika ini lahir melalui proses yang panjang, pada awalnya rakyat koloni tunduk pada peraturan yang dibuat oleh kerajaan Inggris.


Akan tetapi dengan adanya keterlibatan kerajaan Inggris berperang dengan Perancis telah mengakibatkan kas kerajaan menjadi terkuras. Untuk menutupi keuangan kerajaan ini, pemerintah colonial di Amerika mendapat mandate dari kerajaan untuk melaksanakan sebuah peraturan perundang-undangan yang baru.

Pada implementasinya undang-undang yang baru ini sangat memberatkan bagi rakyat koloni. Mereka tidak mau tunduk pada peraturan yang baru ini. Pada akhirnya meletuslah revolusi Amerika, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi:


Faktor Umum Terjadinya Revolusi Amerika

Adanya pengaruh ajaran tentang kebebasan dari Jhon Locke, yang meliputi:

  • Paham Individualis
  • Paham freedom
  • Paham private property
  • Paham popular choice
  • Paham limited government
  • Paham equality

  • Adanya Paham Kebebasan dalam Politik Koloni Inggris di Amerika tidak didirikan oleh pemerintah Inggris, tetapi diciptakan oleh pelarian-pelarian dari Inggris yang mendapat tekanan agama, sosial, ekonomi, dan politik. Kaum koloni menyatakan bahwa mereka adalah manusia merdeka yang membangun koloni di dunia baru. Paham kebebasan kaum koloni bertentangan dengan paham pemerintahan Inggris yang menganggap bahwa daerah koloni adalah jajahannya. Hal ini didasarkan pada Perjanjian Paris 1763.

  • Adanya Paham Kebebasan dalam Perdagangan Kaum koloni juga menganut paham

kebebasan dalam perdagangan. hal itu bertentangan dengan paham pemerintah Inggris yang merasa berkuasa atas koloni di Amerika. Oleh karena itu, pemerintah Inggris memerintahkan agar hasil bumi dari daerah koloni harus dijual kepada negara induk saja. Sebaliknya,   penduduk koloni  diwajibkan pemerintah Inggris


hanya membeli barang-barang hasil industri negara induk saja. Kaum koloni menentang peraturan yang bersifat monopoli dan menghendaki adanya kebebasan. dagang.


  • Adanya berbagai macam pajak diterapkan, berkaitan dengan adanya krisis keuangan

Inggris akibat Perang Laut Tujuh Tahun. Perang berakhir dengan kemenangan di pihak Inggris. Walaupun kemenangan ada di tanggan pihak Inggris tetapi timbul persoalan baru mengenai masalah keuangan Inggris dan bagaimana cara mengisi kekosongan uang kas Negara akibat peperangan selama tujuh tahun. Pemerintah Inggris kemudian memberlakukan berbagai macam yang  sanga memberatkan rakyat


koloni. Adapun Undang-Undang yang dikeluarkan pemerintah Inggris dari tahun 1764­1767, diantaranya adalah:

  1. Undang-Undang Mata Uang tahun 1761: pemerintah Inggris mencegah supaya surat- surat kredit yang dikeluarkan koloni tidak dijadikan alat pembayaran yang sah.

  2. Undang-undang Gula tahun 1764 yang melarang import minuman keras luar negeri, memasang bea masuk yang rendah atas sirup dari segala sumber, mengenakan bea masuk atas anggur, sutra dan sejumlah barang mewah lainnya.

  3. Undang-Undang Tempat Tinggal tahun 1765: mewajibkan rakyatnya di daerah koloni untuk menyediakan perumahan dan segala kepentingan pasukan kerajaan Inggrisyang bertempat didaerah koloni, misalnya di Boston.

  4. Undang-Undang Pendapatan tahun 1767: dibuat oleh Charlesn Twnsland ini, pemerintah Inggris mengenakan bea masuk terhadap kertas gelas, timah dan teh yang di ekspor dari Inggris ke koloni-koloni yang ada di Amerika. Adapun hasilnya akan dipergunakan untuk meningkatkan pendapatan dan membayar gaji gubernur koloni, hakim dan para petugas bea cukai dan pasukan tentara Inggris yang ada di Amerika.

    Sebaliknya, warga koloni dengan tokohnya Samuel Adams menentang kebijakan tersebut dengan semboyan no taxation without representation, artinya tidak ada pajak tanpa adanya perwakilan.


  5. Undang-undang Materai: peraturan ini menyatakan bahwa cukai materai akan dikenakan atas semua Koran, majalah, pamphlet, lisenis, sewa atau dokumen resmi lainnya. Pumgutan (yang dilakukan angen bea cukai Amerika) akan digunakan untuk memebela, melindungi, dan mengamankan koloni-koloni.

    Undang-undang material mampu memepengaruhi semua orang yang melakukan bisnis apapun. Yak pelek hokum ini menimbulkan sikap bermusuhan dari kelompok paling kuat dan fasih bicara didalam populasi Amerika: jurnali, pengacara, pendeta, pedagang dan kkaum bisnis diutara dan selata juga timur dan barat. Segera saja pedagang terkemuka menggalang perlawanan dan membentuk asosiasi nonimpor.[1]


  6. Samuel Adam: beliau merupakan pemimpin radikal paling efektif, yang berjuang untuk satu tujuan yaitu kemerdekaan. Beliau bertujuan untuk membebaskan rakyat dari ketakjuban mereka terhadap orang-orang yang lebih kuat secara politik dan social, membuat mereka sadar dan nilai penting mereka untuk mengambil tindakan nyata.

Faktor Khusus Terjadinya Revolusi Amerika

The Boston Tea Party

Tahun 1774 dikeluarkan Tea Act atau akta teh. Dengan aturan itu kas pemerintah Inggris semakin cepat terisi dan beban negara itu semakin ringan karena pajak dibebankan kepada koloni-koloni. Namun, hal itu dianggap sewenang-wenang dan melanggar hak kebebasan rakyat koloni di Amerika.


Maka muncul reaksi terhadap pemerintah Inggris di daerah koloni. Para kolonis mendengungkan semboyan “No Tax Without Representation” (tidak ada pajak tanpa perwakilan). Tuntuan kaum kolonis tidak didengar oleh pemerintah Inggris yang bersifat kolot. Hal itu jelas menggores hati nurani kebebasan individu yang selama ini dipegang oleh rakyat koloni. Kelompok yang paling keras menentang adalah “Sons of Liberty” (Putra-Putra Kebebasan) yang dipimpin oleh Samuel Adams.


Hal lain yang menjadi ketegangan pemerintah Inggris dengan kaum koloni di Amerika adalah adanya aturan pemerintah Inggris yang mengharuskan rakyat kolonis membeli teh dari pemerintah Inggris dengan harga tinggi. Aturan itu menurut kaum kolonis, bertentangan dengan kebebasan ekonomi yang mereka anut. Reaksi keras dipimpin Samuel Adams terhadap aturan pemerintah Inggris tersebut terjadi di pelabuhan Boston, kaum kolonis menyamar sebagai pekerja Indian untuk membongakar peti-peti yang berisi teh. Akan tetapi para pekerja itu membuang teh kelaut bagaikan sebuah pesta. Peristiwa itu dikenal sebagai “The Boston Tea Party” atau peristiwa Boston 1773.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan :Sejarah Kerajaan Kanjuruhan


Lahirnya Amerika

Peristiwa “The Boston Tea Party” atau peristiwa Boston 1773 ini telah menyebabkan Jenderal Gage mengirimkan pasukannya untuk menumpas para perusuh. Tersiar kabar adanya penimbunan bubuk mesiu dan perlengkapan persenjataan oleh penduduk koloni Massachussetts telah membuat cemas Jenderal Gage. Jenderal Gage kemudian memerintahkan kepada Mayor John Pitcairn beserta pasukan garnisunya untuk melakukan penyitaan terhadap perlengkapan militer tersebut.


Setelah semalaman berjalan kaki, pasukan inggris mencapai desa Lexington pada tanggal 19 April 1775, dan melihat 70 orang Minutemen disebut demikian karena mereka dipercaya siap tempur dalam hitungan menit yang berparas cemberut dibalik kabut pagi. Kelompok Minutemen ini semula hanya bertujuan melakukan protes tanpa suara, tapi Mayor John Pitcairn.


Pemimpin pasukan inggris, berteriak “Bubar, kalian pemberontak- pemberontak Laknat! Anjing kamu semua, larilah!” pemimpin kelompok Minutemen, kapten John Paker menegaskan kepada pasukannya untuk tidak menembak kecuali mereka ditembak lebih dulu. Orang-orang Amerika tersebut mundur ketika tiba-tiba ada seseorang yang memulai tembakan, yang membuat pasukan inggris menembaki Minutemen. Selanjutnya pasukan inggris menyerbu dengan banyonet, mengakibatkan 8 orang tewas dan 10 luka-luka. Peristiwa tersebut disebut oleh Ralph Waldo Emerson denga kata-kata “tembekan yang terdengar ke seluruh dunia”.


Kemudian pasukan Inggris terus mendesak hingga ke Concord. Pihak Amerika berhasil membawa sebagian besar amunisi, namun pasukan Inggris menghancurkan apa saja yang tersisa. Sementara itu pasukan Amerika di pinggiran kota dimobilisasi bergerak kea rah Concord dan banyak menyebakan kerugia pada pihak Inggris, yang sedang mulai perjalanan panjang pulang ke Boston.


Sepanjang perjalanan pulang itu, dari balik tembok batuan , gundukan tanah dan rumah, anggota misili dari “seluruh desa dan pertanian Middlesex” menjadikan jaket merah menyala yang dipakai tentara inggris sebagai sasaran mereka. Ketika pasukan yang kelelehan ini tiba di Boston, jumlah yang tewas dan luka di pihak Inggris mencapai lebih dari 250. Pihak Amerika 93 orang.


Kerika tanda bahaya dari Lexington dan Concord bergema, kongres continental kedua dilaksanakan di Philadelphia, Pennsylvania pada tanggal 10 mei 1774. Pada tanggal 15 mei kongres memutuskan untuk berperang dengan pihak inggris, mengubah milisi colonial menjadi tentara continental dan menunjuk Kolonel George Washington dari Virginia sebagai pemimpin pasukan tertinggi Amerika. Sementara itu, Amerika kehilangan banyak korban jiwa di Bunker Hill, tepat diluar kota Boston. Kongres juga memerintahkan ekspedisi Amerika untuk bergerak kea rah utara, menuju kanada pada musim gugur. Walaupun pada akhirnya terpaksa mundur ke New Work.


Terlepas merebaknya konflik senjata, pemikiran pemisahan sepenuhnya dari Inggris masih belum bisa diterima bagi sebagian anggota Kongres Kontinental. Pada bulan Juli John Dickinson menulis resolusi yang isinya memohon kepada raja untuk mencegah tindaka- tindakan permusuhan lebih lanjut hingga mencapai kesepakatan bersama tetapi hal tersebut tidak ditanggapi oleh Raja Geogre II, pada tanggal 23 agustus lalu mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut koloni-koloni berada dalam situasi pemberontakan.


Inggris mengharapkan koloni-koloni selatan tetap hal ini dikarenakan ketergantunga mereka pada perbudakan. Ini membuat banyak orang di koloni-koloni selatan khawatir bahwa pemberontakan terhadap negeri induk memicu pemberontakan para budak. Kenyataannya pada bulan November 1775 Lord Dunmore menawarkan kebebasan bagi semua budak yang bersedia bertempur untuk inggris. Namun hal tersebut justru mengakibatkan kaum loyalis di Virginia beralih menjadi pendukung kaum pemberontak.


  • Common Sense dan Kemerdekaan

Dibulan januari 1776, Thomas Paine seorang pemikir politik dan menulis menerbitkan pamphlet yang bertajuk Coman Sense (akal sehat) dan hal ini membuat para koloni membulatkan tekad untuk melakukan pemisahan diri. Tetapi masih ada tugas yang harus mereka selesaikan, yaitu memperoleh kesepakatan dari semua koloni untuk mencetuskan deklarasi secara resmi.


Setahun setelah pertemuan pertama Kongres Kontinental Keda pada tanggal 10 Mei 1776, disepakatilah sebuah resolusi yang meminta pemisahan diri. Seseorang yang bernama Richad Henry Lee yang berasal dari Virginia, mencetuskan sebuah resolusi yaitu “Bahwa Serikat Koloni adalah negara-negara bagian yang


bebas dan independen, karena secara hak mengharuskan demikian…”. Setelah pencetusan resolusi, terbentuklah sebuah komite yang terdiri dari lima orang yang dipimpin oleh Thomas Jefferson dari Virginia, dia juga ditunjuk untuk menyiapkan secepatnya sebuah deklerasi secara resmi.


Deklarasi kemerdekaan yang merupakan sebagian dari karya Jefferson dan yang diserukan pada tanggal 4 Juli 1776, deklarasi ini bukan saja hanya mengumumkan kelahiran sebuah negara baru tetapi juga merencanakan sebuah filosofi kebebasan manusia yang kemudian meyebar ke seluruh dunia. Deklarasi ini diambil dari filosofi politik Prancis dan Pencerahan Inggris, dan ada satu hal yang sangat mempengaruhinya adalah karangan Jhon Locke: Second Trea-tise of Government (Uraian Kedua tentang Pemerintahan). Locke mengambil hak-hak tradisional orang Inggris dan menjadikannya hak-hak asasi seluruh umat manusia. Alinea Deklarasi Kemerdekaan yang sangat dikenal dari teori kontrak social Locke tentang pemerintahan:


Kami berpegang teguh pada kebenaran-kebenaran ini, bahwa semua manusia diciptakan sederajat, bahwa mereka dianugerahi pencipta-NYA Hak-Hak Asasi yang melekat diantaranya adalah Kehidupan, Kemerdekaan dan hak untuk mencapai Kebahagiaan. Untuk melindungi hak-hak ini, Pemerintah, dibentuk di antara orang- orang, kekuasaan mereka berasal dari yang diperintah, sehingga kapan saja sebuah Bentuk Pemerintahan menjadi bersifat merusak terhadap tujuan-tujuan ini menjadi Hak Rakyat untuk menggantinya atau menghapuskannya, dan membentuk Pemerintahan baru,yang berlandaskan prinsip-prinsip tertentu dan yang mengatur kekuasaannya dalam bentuk tertentu, sehingga bagi orang-orang hal ini dinilai paling bisa menjamin Keselamatan dan Kebahagiaan mereka.


Dalam Deklarasi tersebut, Jefferson menghubungkan prinsip-prinsip Locke secara langsung dengan situasi-situasi yang ada di koloni-koloni. Berjuang demi kemerdekaan Amerika sama seperti berjuang un tuk mendapatkan suatu pemerintah yang berdsarkan kesepakatan bersama sebagai ganti sebuah pemerintahan yang dipimpin seorang raja yang telah “dengan satu dan lain cara menjadikan kita subjek kekuasaan hokum asing di luar konstitusi kita, dan yang tidak diakui oleh hukum kita”. Pemerintah yang dibangun berdasarkan kesepakatan bersama yang dapat melindungi hak-hak asasi untuk hidup, merdeka, dan mengejar kebahagiaan. Maka, berjuang demi kemerdekaan Amerika adalah berjuang atas nama hak-hak dasar seseorang.


  • Persekutuan Prancis-Amerika

Di Prancis, berkobar antusiasme terhadap perjuangan Amerika: dunia intelektual Prancis sendiri sedang dalam perlawanan revolusi menentang feodalisme dan hak-hak khusus. Namun, Kerajaan Prancis memberikan dukungannya kepada koloni-koloni lebih demi kepentingan goepolitik daripada alasan ideologi.


Pemerintah Prancis memang ingin membalas Inggris sejak kekalahan mereka pada tahun 1763. Untuk mendapat dukungan bagi perjuangan Amerika, Benjamin Franklin dikirim ke Paris pada tahun 1776. Kejenakaan, kecerdasan, dan keintelekannya segera membuat kehadiran mereka di ibu kota Prancis, dan memainkan peran penting dalam memperoleh dukungan Prancis.


Prancis mulai menyediakan bantuan untuk koloni-koloni pada bulan Mei 1776, dengan mengirimkan 14 kapal penuh dengan pasukan perang ke Amerika. Sesungguhnya, sebagian besar bubuk mesiu yang digunakan oleh Angkatan, Perang Amerika berasal dari Prancis. Setelah kekalahan Inggris di Saratoga, Prancis melihat suatu kesempatan untuk benar-benar memperlemah musuh bebuyutannya dan menyeimbangkan kembali kekuatan mereka yang telah berubah karena Perang Tujuh Tahun (Perang Prancis dan Suku Indian).


Pada tanggal 6 Februari 1778, Amerika dan Prancis menandatangani Traktat Persahabatan dan Perdagangan, yang mana Prancis mengakui Amerika memenangkan kemerdekaanya, tidak aka nada juga perdamaian dengan Inggris tanpa persetujuan dari pihak yang lain, dan bahwa masing-masing menjamin pemilikan yang lain di Amerika. Inilah satu-satunya Traktat pertahanan dua Negara yang ditandatangani oleh Amerika Serikat, atau pendahuluanya sampai dengan Tahun 1949.


Persekutuan Prancis-Amerika dengan segara meluaskan konflik. Pada bulan Juni 1778 kapal-kapal perang Inggris menembaki kapal dagang Prancis, dan dua Negara ini pun mulai berperang lagi di tahun 1779, Spanyol yang berharap untuk memperoleh kembali wilayahnya yang direbut oleh Inggris dalam Perang Tujuh Tahun, ikut masuk dalam konflik dengan berpihak pada Prancis, tetapi bukan sebagai sekutu Amerika. Di tahun 1780, Inggris mengumumkan perang kepada Belanda, yang melanjutkan


hubungan dagang dengan Amerika. Gabungan kekuatan-kekuatan Eropa, dengan Prancis sebagai pemimpin, adalah suatu ancaman yang jauh lebih besar bagi Inggris disbanding dengan Koloni-Koloni Amerika itu sendiri.


  • Penyusunan Konstitusi Amerika

Setelah perjanjian Versailles ditandatangani, rakyat koloni Amerika mulai merasakan hidup di negara merdeka. Pada awal kehidupannya itu, kembali terjadi perbedaan. Setelah perang usai, terjadi perebutan bagian kekuasaan sebesar-besarnya. Ada 9 negara bagian yang menuntut kekuasaan sebesar-besarnya atau adanya pemerintahan negara bagian yang sering disebut kelompok republikan. Kelompok ini dipimpin oleh Thomas Jefferson. Sementara yang menginginkan adanya pemerintahan pusat, 4 negara bagian dan sering disebut kelompok federalis. Kelompok ini dipimpin oleh Alexander Hamilton.


Pertentangan yang ada menyadarkan mereka tentang lemahnya aturan yang ada, yaitu Articles of Confederation. Undang-Undang tersebut belum mengatur cara-cara mengatur negara. Karena itu dilakukan perbaikan-perbaikan lewat sebuah pertemuan bernama Federal Convention. Pertemuan ini bertujuan untuk menyusun konstitusi negara Amerika Serikat. Dalam pertemuan ini bertujuan menyusun konstitusi negara Amerika Serikat.


Dalam pertemuan ini kedua kelompok yang bertikai menyatakan sepakat. Akhirnya, tahun 1788 sidahkan Constitution of United States of America. Perancang isi konstitusi adalah James Madison. Konstitusi berisi 12 amandemen. Sepuluh amandemen berisi tentang pernyataan hak-hak pribadi (warga negara) dan negara bagian. Kesepuluh Amandemen itu disebut Bill of Right.


Hal penting lainnya dalam konstistusi itu adalah adanya pernyataan pemerintahan yang demokratis. Ini diperlihatkan dengan adanya wakil-wakil negara bagian dalam pemerintahan pusat. Kongres tersiri dari dua lembaga Senate (Dewan Legislatif) dan House of Representative (Dewan Yudikatif). Anggota Senate sebanyak 2 orang dan anggota House of Representative tergantung jumlah penduduk setiap negara bagian. Pemerintah pusat dipimpin oleh seorang presiden. Pada saat itu, semua wakil dengara


bagian sepakat memilih George Washington sebagai presiden. Pahlawan perang kemerdekaan Amerika Serikat itu disumpah menjadi presiden tanggal 30 April 1789 di New York.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Kerajaan Sunda atau Pasundan


Konflik Timbulnya Revolusi Amerika

Konflik ini akhinya memuncak dalam sebuah revolusi. Adapun sebab-sebab timbulnya Revolusi Amerika adalah sebagai berikut:


a. Adanya Paham Kebebasan dalam Politik

Koloni Inggris di Amerika tidak didirikan oleh pemerintah Inggris, tetapi diciptakan oleh pelarian-pelarian dari Inggris yang mendapat tekanan agama, sosial, ekonomi, dan politik. Kaum koloni menyatakan bahwa mereka adalah manusia merdeka yang membangun koloni di dunia baru. Paham kebebasan kaum koloni bertentangan dengan paham pemerintahan Inggris yang menganggap bahwa daerah koloni adalah jajahannya. Hal ini didasarkan pada Perjanjian Paris 1763.


b. Adanya Paham Kebebasan dalam Perdagangan

Kaum koloni juga menganut paham kebebasan dalam perdagangan. hal itu bertentangan dengan paham pemerintah Inggris yang merasa berkuasa atas koloni di Amerika. Oleh karena itu, pemerintah Inggris memerintahkan agar hasil bumi dari daerah koloni harus dijual kepada negara induk saja. Sebaliknya, penduduk koloni diwajibkan pemerintah Inggris hanya membeli barang-barang hasil industri negara induk saja. Kaum koloni menentang peraturan yang bersifat monopoli dan menghendaki adanya kebebasan dagang.


c. Adanya Berbagai Macam Pajak

Berbagai macam pajak diterapkan, berkaitan dengan adanya krisis keuangan Inggris akibat Perang Laut Tujuh Tahun. Perang berakhir dengan kemenangan di pihak Inggris. Dengan kemenangan tersebut, menimbulkan beban baru bagi pemerintah Inggris terutama masalah keuangan. Pemerintah Inggris kemudian memberlakukan berbagai macam pajak (pajak teh, pajak gula, pajak metera,i dan lain-lain) yang sangat memberatkan warga koloni. Sebaliknya, warga koloni dengan tokohnya Samuel Adams menentang kebijakan tersebut dengan semboyan no taxation without representation, artinya tidak ada pajak tanpa adanya perwakilan.


d. Peristiwa The Boston Tea Party

Sebab khusus meletusnya Revolusi Amerika ialah adanya peristiwa yang dikenal dengan nama The Boston Tea Party pada tahun 1773. Pada saat itu, pemerintah Inggris memasukkan teh ke Pelabuhan Boston, Amerika. Pada malam harinya, muatan teh itu dibuang ke laut oleh orang-orang Amerika yang menyamar sebagai orang Indian suku Mohawk. Hal inilah yang menimbulkan kemarahan pemerintah Inggris (Raja George III) sehingga menuntut pertanggungjawaban. Namun penduduk koloni tidak ada yang mau bertanggung jawab sehingga menimbulkan pertempuran yang menandai terjadinya Revolusi Amerika.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan :Sejarah Suku Bali


Penyebab Revolusi Amerika Serikat

Revolusi Amerika membukakan mata dunia bahwa dengan kekuatan persatuan dan penghargaan atas hak-hak asasi manusia, kemerdekaan dapat diperoleh. Namun, bukan berarti kemerdekaan dapat diperoleh secara cuma-cuma. Kemerdekaan harus diraih dengan usaha sendiri dan pantang menyerah. Hikmah demikian pula yang menggerakkan rakyat Indonesia untuk mulai memperjuangkan kemerdekaannya. Dengan kesadaran akan hak asasi dan persatuan kepentingan, kemerdekaan Indonesia akhirnya dapat diperoleh.