Pengertian Geomorfologi dan Menurut Ahli Geografi

Diposting pada

Pengertian Geomorfologi, Konsep, Jenis, Proses dan Menurut Para Ahli : adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk permukaan bumi dan perubahan-perubahan yang terjadi pada bumi itu sendiri. Geomorfologi biasanya diterjemahkan sebagai ilmu bentang alam

pengertian-geomorfologi


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Litosfer (Lapisan Kulit Bumi)


Pengertian Geomorfologi

Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk permukaan bumi dan perubahan-perubahan yang terjadi pada bumi itu sendiri. Geomorfologi biasanya diterjemahkan sebagai ilmu bentang alam. Mula-mula orang memakai kata fisiografi untuk ilmu yang mempelajari tetang ilmu bumi ini, hal ini dibuktikan pada orang-orang di Eropa menyebut fisiografi sebagai ilmu yang mempelajari rangkuman tentang iklim, meteorologi, oceanografi, dan geografi. Akan tetapi orang, terutama di Amerika, tidak begitu sependapat untuk memakai kata ini dalam bidang ilmu yang hanya mempelajari ilmu bumi saja dan lebih erat hubungannya dengan geologi. Mereka lebih cenderung untuk memakai kata geomorfologi.


Ditinjau dari asal bahasa, geomorfologi terdiri dari tiga kata, yaitu geos, morphos, dan logos. Geos berarti bumi, morphos berarti bentuk, dan logos berarti ilmu. Sehingga geomorfologi dimengerti sebagai ilmu yang mempelajari bentuk permukaan bumi.

Geomorfologi adalah bidang ilmu yang mempelajari bentuk permukaan bumi (morfologi (morphology) / bentuklahan (landform) / bentang-alam). Selanjutnya dalam bendel pelajaran ini dipergunakan istilah bentang-alam. Dalam mempelajarinya, mencakup deskripsi, wilayah sebaran/distribusi, dan genesis (cara kejadiannya).


Bentang-alam merupakan fenomena kebumian. Pembentuk bentang-alam adalah batuan yang telah mengalami peristiwa tertentu, dan hasil interaksi antara peristiwa yang bersumber dari dalam bumi, dan yang bersumber dari luar bumi. Prinsip dari geologi adalah pokok ilmu yang mempelajari batuan dalam pengertian luas dan proses yang bekerja pada batuan tersebut. Dengan demikian geomorfologi berguna sebagai penunjang dan ditunjang oleh geologi. Bloom (1978) menilai, bahwa geomorfologi harus ditinjau dari penyusunnya yaitu faktor mineralogi, litologi, proses perubah asal luar (eksogen), dan faktor endogen misalnya gaya tektonik maupun volkanik. Verstappen (1983) mengartikan geomorfologi sebagai ilmu yang mempelajari bentang-alam, tercakup di dalamnya mengenai proses pembentukan, genesa, dan kaitannya dengan lingkungan. Sebagai salah satu ilmu kebumian, geomorfologi dapat disebut bagian dari lingkungan fisik (physical environment). Dikarenakan kehidupan di bola bumi ini tidak dapat menghindarkan diri dari bentang-alam, maka ada relevansi aplikasi geomorfologi (applied geomorphology) dalam kehidupan


Metodologi

Proses geomorfologi dapat diketahui dan dipahami dengan plihan dari beberapa metode, yaitu tidak langsung, langsung, dan gabungan/kombinasi dari kedua-duanya.

Metode tidak langsung berarti pengetahuan dan pemahaman terhadap proses geomorfologi di suatu lokasi melalui media tertentu. Sebagai media dapat memanfaatkan peta tematik (proses geomorfologi) kalau sudah ada publikasinya. Selain itu dapat menginterpretasi dan menganalisis dari seri multi waktu (multi temporal) terhadap peta topografi, peta RBI (Rupabumi Digital Indonesia), potret udara, atau citra pengindraan jarak jauh lainnya.

Metodologi


Metode paling klasik yaitu secara langsung pada lokasi dimana: 1) proses tersebut sedang berlangsung, atau 2) identifikasi terhadap jejak proses geomorfologi (‘fosil’ proses). Proses oleh alam lebih sering tanpa disertai tanda- tanda awal (early warning), rentang waktu kejadian relatif singkat, dan kadang- kadang intensitasnya kuat. Dikarenakan kondisi seperti itu, maka cara nomor 1) bukan menjadi pilihan utama, dan lebih sering dilakukan cara ke 2).

Apabila fasilitas terpenuhi lengkap, maka metode kombinasi menjadi pilihan utama. Hal ini didasarkan pada argumen, dari hasil cara tidak langsung sudah diperoleh gambaran awal spasial proses geomorfologi yang dimaksud. Kemudian tindak lanjut yang dilakukan adalah cara langsung identifikasi di lapangan untuk mengumpulkan data baik secara kualitatif maupun kuantitatif proses tersebut.


Sering karena terbatasnya dana, sebagian pengkajian    bentang-alam menggunakan peta topografi sebagai dasar penelaahan. Dengan mempelajari pola kontur, dapat diketahui jenis-jenis bentang-alam.  Kelemahan menggunakan peta tersebut, karena cukup tua (edisi jaman penjajah Belanda); sering dijumpai keadaan di lapangan yang sekarang tidak sesuai dengan yang tertera di peta.

Sedangkan kalau dana yang tersedia secukupnya, dengan potret udara / citra penginderaan jauh, orang akan lebih senang dan merasa mantap dalam mengkaji bentang-alam. Berdasarkan teknologi tersebut dapat diketahui keadaan sebenarnya pada saat ini.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Akibat Rotasi Bumi : Pengertian, Gambar, Proses, Dan Gerakan


Menurut Para Ahli

Thornbury Sutikno

Ada beberapa terapan geomorfologi menurut Thornbury dalam Sutikno yaitu:

  1. Terapan geomorfologi dalam hidrologi, yang membahas hidrologi di daerah karst dan air tanah daerah glasial. Masalah hidrologi di daerah karst dapat diketahui dengan baik apabila geomorfologinya diketahui secara mendalam. Air tanah di daerah glasial tergatung pada tipe endapannya, dan tipe endapan ini dapat lebih mudah didekati dengan geomorfologi.
  2. Terapan geomorfologi dalam geologi ekonomi, yaitu membahas pendekatan geomorfologi untuk menentukan tubuh bijih, jebakan residu, mineral epigenetik, dan endapan bijih.
  3. Terapan geomorfologi dalam keteknikan, aspek keteknikan yang dibahas meliputi jalan raya, penentuan pasir, dan kerakal, pemilihan situs bendungan dan geologi militer. Terapan geomorfologi dalam keteknikan ini semua aspek geomorfologi dipertimbangkan
  4. Terapan geomorfologi dalam ekplorasi minyak, banyak unsur-unsur minyak di AS yang ditentukan dengan pendekatan geomorfologi terutama bentuklahan termasuk topografi, untuk mengenal struktur geologi dalam penentuan terdapatnya kandungan minyak.
  5. Terapan geomorfologi dalam bidang lain, yaitu menyangkut pemetaan tanah, kajian pantai, dan erosi.

William Morris Davis

Siklus geografis (Geography cycle), diuraikan oleh William Morris Davis adalah teori evolusi modern pertama dari Landscape (e.g. Davis 1889, 1899, 1909), yang diasumsikan sebagai pengangkatan (uplift) yang berlangsung cepat. Proses geomorfik, tanpa komplikasi lebih lanjut dari gerakan tektonik, secara bertahap memakai data lapangan topografi. Geography cycle di desain untuk memperhitungkan pengembangan bentangan alam yang memiliki temperatur batuan yang  terangkat kebawah maupun keatas hingga seragam yang dihasilkan oleh alam untuk menahan terjadinya erosi. Telah memperluas kesemua bentangan alam yang tergabung dalam daratan, daratan es, perigracial landscape, pembentukan alam yang dihasilkan pantai (regresi dan transgresi) dan pembentukan bentangan Karst. William Morris Davis dalam penemuannya “geography cycle” urutan waktu bentang alam yang berlangsung melalui tahapan muda (youth), matang (maturity), dan tahapan tua (old age) sehingga dapat di klasifikasikan umurnya.

Walther Penck

Sebuah variasi pada skema Davis ditawarkan oleh Walther Penck. Menurut model Davisian, pengangkatan (uplift) dan penurunan (planation) berlangsung secara bergantian. Tapi, dalam banyak bentuk lahan (Landscape), uplift dan penggundulan terjadi pada saat yang sama. Proses tektonik dan penggundulan mengarah ke model yang berbeda dari jaman revolusi landscape, di mana evolusi lereng individu dapat menentukan evolusi seluruh bentuk lahan (Penck 1924, 1953).

Tiga bentuk lereng utama berevolusi dengan kombinasi yang berbeda dari kecepatan uplift (pengangkatan) dan penggundulan. Pertama, convex slope profiles (profil lereng cembung), akibat pengembangan wax-ing (aufsteigende Entwicklung), terbentuk ketika tingkat uplift melebihi tingkat penggundulan. Kedua, straight slopes, rakibat stasioner (steady-state) pengembangan (gleichförmige Entwicklung), terbentuk ketika uplift dan penggundulan mempunyai tingkat yang sesuai satu sama lain. Dan ketiga, concave slope (lereng cekung), akibat memudarnya pembangunan (absteigende Entwicklung), bentuk ketika tingkat uplift kurang dari tingkat penggundulan. Kemudian ketiga bagiam ini telah menunjukkan bahwa bentuk lembah-side tidak tergantung pada interaksi sederhana tingkat erosi dan tingkat uplift, tetapi pada bahan lereng dan sifat proses lereng-mengikis.

Walther Penck

Gambar 1.2 William Morris Davis ‘siklus geografis’ ideal dimana lanskap yang berkembang melalui ‘hidup-tahapan’ untuk menghasilkan peneplain a. (a) Tahapan Muda: beberapa ‘konsekuen’ sungai, V-berbentuk lembah lintas-bagian, pembentukan formasi dataran banjir (foodplains) , area besar dengan drainase buruk medan antara sungai dengan danau dan rawa-rawa, air terjun dan jeram umum di mana aliran lintas lebih sedikit, beberapa menyerupai pada permukaan aslinya. (b) Matang/dewasa: terintegrasi dengan baik sistem drainase, beberapa aliran mengeksploitasi baris batu lemah, aliran utama telah mencapai grade, air terjun, jeram, danau, dan rawa-rawa yang sebagian besar dihilangkan, floodplains umum di dasar lembah dan bantalan sungai berkelok-kelok , lembah tidak lebih lebar dari lebar sabuk berliku-liku, relief (perbedaan ketinggian antara titik tertinggi dan terendah) berada pada maksimum, lereng bukit dan sisi lembah mendominasi bentuk lahan. (c) Tahapan tua: batang sungai lembah sangat luas dan landai, floodplains luas dan membawa sungai dengan luas berkelok-kelok, lembah jauh lebih luas daripada lebar sabuk berliku-liku, wilayah antara sungai berkurang tinggi dan aliran membagi tidak begitu tajam seperti pada tahap kematangan, danau, rawa, dan rawa-rawa berada di dataran banjir (foodplains), membuang-buang massa mendominasi proses fluvial, penyesuaian aliran rock jenis sekarang samar-samar, area yang luas terletak di atau dekat tingkat dasar erosi. Sumber: Diadaptasi dari Holmes (1965, 473)


Eduard Bruckner dan Albrecht Penck

Lainnya Ahli Geomorfologi sejarah awal menggunakan geologi- sedimen Cally muda untuk menafsirkan peristiwa Pleistosen.

Eduard Bruckner dan Albrecht Penck

Gambar 1.3 Slope resesi, yang menghasilkan pediplain (p. 381) dan penurunan kemiringan, yang menghasilkan peneplain. Sumber: Diadaptasi dari Gossman (1970)

Eduard Bruckner dan Albrecht Penck ini (Ayah Walther) meneliti pada efek glasial di Pegunungan Alpen Bavaria dan forelands mereka memberikan wawasan pertama ke efek zaman es Pleistosen bantuan (Penck dan Bruckner 1901-9). Urutan sungai-teras klasik mereka memberi nama  untuk tahap glasial utama – Donau, Gunz, Mindel, Riss, dan Wurm – dan menjadi bapak geomorfologi Kuarter.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Akibat Revolusi Bumi


Konsep Geomorfologi

Proses Geomorfologi adalah semua peristiwa baik secara alami maupun non alami yang berperanan dalam merubah bentang-alam yang sudah lebih dahulu terbentuk atau menghasilkan bentang-alam baru. Terkandung dalam pengertian di atas, tidak ada ketentuan mengenai waktu, baik kapan saat dan rentang waktu berlangsungnya peristiwa tersebut. Apabila mengacu kepada konsep dasar keseragaman (uniformitarianism concept) proses, maka proses geomorfologi dimulai sejak bumi ini padat (waktu geologi), sampai dengan sekarang, yang berbeda adalah kekuatan (intensitas) nya. Bertitik tolak dari sifat dinamik bumi, ditambah adanya kondisi pada satu waktu yang sama terjadi peristiwa lebih satu macam, maka dalam memahami fenomena bentang-alam sepantasnya dengan pendekatan hipotesis kerja penggandaan (multiple working hypothesis). Implementasi dari pola kerja tersebut bermakna bahwa suatu bentang-alam tekbentuk oleh lebih dari satu penyebab, namun tidak tertutup kemungkinan dominansi proses tertentu.


10 Konsep dasar geomorfologi yang berada dalam buku Principles of Geomorphology adalah:

  1. Proses-proses fisik dan hukumnya yang terjadi saat ini berlangsung selama waktu geologi,
  2. Struktur geologi merupakan faktor pengontrol yang dominan dalam evolusi bentuk lahan,
  3. Tingkat perkembangan relief permukaan bumi tergantung pada proses-proses geomorfologi yang berlangsung,
  4. Proses-proses geomorfik terekam pada land forms yang menunjukan karakteristik proses yang berlangsung,
  5. Keragaman erosional agents tercermin pada produk dan urutan land forms yang terbentuk,
  6. Evolusi geomorfologi bersifat kompleks,
  7. Obyek alam di permukaan bumi umumnya berumur lebih muda dari Pleistosen,
  8. Interpretasi yang sempurna mengenai landscapes melibatkan beragam faktor geologi dan perubahan iklim selama Pleistosen,
  9. Apresiasi iklim global diperlukan dalam memahami proses-proses geomorfik yang beragam, dan
  10. Geomorfologi, umumnya mempelajari land forms / landscapes yang terjadi saat ini dan sejarah pembentukannya.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Proses Terbentuknya Benua Dimuka Bumi Beserta Penjelasannya Secara Lengkap


Proses Geomorfologi.

Proses geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk alam proses untuk pengembangan bentuk lahan. Para ahli geomorfologi mencoba untuk memahami kenapa sebuah bentang alam terlihat seperti itu, untuk memahami sejarah dan dinamika bentang alam, dan memprediksikan perubahan di masa depan dengan menggunakan kombinasi pengamatan lapangan, percobaan dan modeling. Di era modern, geomorphologist proses pertama yang dimulai oleh Leonardo da Vinci dan Grove Karl Gilbert. Dalam risalahnya pada Henry Pegunungan Utah, Amerika Serikat, Gilbert membahas mekanisme proses fluvial (Gilbert 1877), dan kemudian ia menyelidiki pengangkutan puing-puing dengan menjalankan air (Gilbert 1914). Hingga sekitar tahun 1950, ketika subjek tumbuh pesat, kontributor penting untuk mempertimbangkan proses geomorfologi termasuk Ralph Alger Bagnold, yang menganggap fisika ditiup pasir dan gurun pasir, dan Filip Hjulstrø yang menyelidiki proses fluvial.


Banyak para ahli berbeda dalam menaksirkan tentang pengertian proses geomorfologi, mereka beranggapan bahwa yang dimaksud dengan proses disini adalah proses yang berasal dari dalam dan luar bumi (proses endogenik dan proses eksogenik), ada pula yang beranggapan proses disini adalah energi yang berasal dari luar bumi (gaya eksogen) saja. Adapun pengertian proses disini adalah energi yang bekerja di permukaan bumi yang berasal dari luar bumi (gaya eksogen) dan bukan yang berasal dari dalam bumi (gaya endogen).

Proses Ahli Geomorfologi telah melakukanpelajaran merekasetidaknya tigajasa besar. Pertama, mereka telah membangun database tingkat proses di berbagai belahan dunia. Kedua, mereka telah membangun kembali semakin didefinisikan model untuk memprediksi jangka pendek (dan dalam beberapa kasus jangka panjang) perubahan bentang alam. Ketiga, mereka telah menghasilkan beberapa ide yang sangat kuat tentang stabilitas dan ketidakstabilan dalam sistemgeomorfik.


Proses geomorfologi adalah perubahan-perubahan baik secara fisik maupun kimiawi yang dialami permukaan bumi. Penyebab proses tersebut yaitu benda-benda alam yang kita kenal dengan nama geomorphic agent, berupa air dan angin. Keduanya merupakan ad penyebab yang dibantu dengan adanya gaya berat, dan keseluruhannya bekerja bersama-sama dalam melakukan perubahan terhadap permukaan muka bumi. Tenaga-tenaga perusak ini dapat kita golongkan dalam tenaga asal luar (eksogen), yaitu yang datang dari luar atau dari permukaan bumi, sebagai lawan dari tenaga asal dalam (endogen) yang berasal dari dalam bumi. Tenaga asal luar pada umumnya bekerja sebagai perusak, sedangkan tenaga asal dalam sebagai pembentuk. Kedua tenaga inipun bekerja bersama-sama dalam mengubah bentuk permukaan muka bumi ini.

Pembentukan

Perusakan

Pengangkutan

Tenaga asala dalam

Pembentukan struktur

Pembentukan gunung api

Tenaga asal luar

Gradasi

Pelapukan

Tenaga dari luar bumi

Adanya jatuhan dari meteor

Tenaga asal luar

Pengangkutan bahan

Erosi

Gelombang


Geomorfologi bukan hanya sekedar mempelajari bentuk lahan yang tampak saja, tetapi juga mentafsirkan bagaimana bentuk-bentuk tersebut bisa terjadi, proses apa yang mengakibatkan pembentukan dan perubahan muka bumi. Jadi meliputi bentuklahan (landform), proses-proses yang menyebabkan pembentukan dan perubahan yang dialami oleh setiap bentuklahan yang dijumpai di permukaan bumi termasuk yang terdapat di dasar laut/samudera serta mencari hubungan antara bentuk lahan dengan proses-proses dalam tatanan keruangan dan kaitannya dengan lingkungan. Dengan demikian bahwa dalam mempelajari geomorfologi terkait pada geologi, fisiografi, dan proses geomorfologi yang menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan dalam perubahan bentuk lahan. Konsep dasar Geomorfologi perlu dipahami secara baik untuk mempelajari Geomorfologi dalam membantu mengenal dan menganalisa kenampakan bentuk lahan di permukaan bumi, sehingga pada akhirnya dapat mengenal peristilahan baik secara deskriptif maupun secara empiris, terutama nanti dalam melakukan klasifikasi bentuk lahan. Geomorfologi mempunyai peran dan terapan dalam survei dan pemetaan, survei geologi, hidrologi, vegetasi, penggunaan lahan pedesaan, keteknikan, ekplorasi mineral, pengembangan dan perencanaan, analisis medan, banjir, serta bahaya alam disebabkan oleh gaya endogen.


Contoh daerah yang mengalami perubahan bentuk permukaan muka bumi:

Palung laut merupakan bentuk paritan memanjang dengan kedalaman mencapai lebih dari 6.500 meter. Umumnya palung laut ini merupakan batas antara kerak samudera India dengan tepian benua Eurasia sebagai bentuk penunjaman yang menghasilkan celah memanjang tegak lurus terhadap arah penunjaman

permukaan muka bumi

Beberapa patahan yang muncul di sekitar palung laut ini dapat reaktif kembali seperti yang diperlihatkan oleh hasil plot pusat-pusat gempa atau episentrum di sepanjang lepas pantai pulau Sumatera dan Jawa. Sesar mendatar Mentawai yang ditemukan pada Ekspedisi Mentawai Indonesia-Prancis tahun 1990-an terindikasi sebagai sesar mendatar yang berpasangan namun di berarapa bagian memperihatkan bentuk sesar naik. Hal ini merupakan salah satu sebab makin meningkatnya tekanan kompresif dan seismisitas yang menimbulkan kegempaan.


Di bagian barat pulau Sumatera, pergerakan lempeng samudera India mengalibatkan terangkatnya sedimen (seabed) di kerak samudera dan prisma-prisma akresi yang merupakan bagian terluar dari kontinen. Sesar-sesar normal yang terbentuk di daerah bagian dalam yang memisahkan prisma akresi dengan busur  kepulauan mengakibatkan peningkatan pasokan sedimen yang lebih besar. Demikian pula akibat terjadinya pengangkatan tersebut maka morfologi palung laut di kawasan ini memperlihatkan bentuk lereng yang terjal dan sempit dibandingkan dengan palung yang terbentuk di kawasan timur Indonesia.


Daerah lain terjadinya geomorfologi yaitu daerah semarang yang merupakan salah satu kota pantai yang di indonesia. Dikawasan pantainya terdapat berbagai fasilitas publik yang bernilai sangat tinggi, seperti pelabuhan dan terminal bus antar kota. disamping itu juga terdapat tempat kawasan perumahan yang bernilai sejarah seperti kawasan kota lama, perumahan mewah, kawasan wisata pantai, permukiman kumuh, perikanan, sawah, dsb. Kita dapat melihat kondisi geomorfologi dan kondisi kawasan yang dijumpai pada kota semarang


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Teori Pembentukan Bumi – Pengertian, Nebula, Planetisima, Tidal, Bintang Kembar, Big Bang


Mengukur proses geomorfik

Beberapa proses geomorfik memiliki catatan panjang surement-langkah. Tertua tahun-demi-tahun rekor adalah tingkat banjir fl dari Sungai Nil di Mesir yang lebih rendah. Pembacaan Tahunan di Kairo yang tersedia dari zaman Muhammad, dan beberapa catatan batu-tertulis tanggal dari dinasti pertama dari firaun, sekitar 3100 SM. Jumlah sedimen setiap tahunnya dilakukan menyusuri Sungai Mississippi telah diukur selama tahun 1840, dan tingkat penggundulan modern di beberapa sungai utama di dunia diperkirakan pada 1860-an.Upayapertamauntuk mengukur tingkat pelapukan dibuat pada akhir abad kesembilan belas.


Tapi revolusi kuantitatif dalam geomorfologi, dimulai padatahun 1940-an, yang sebagian besar bertanggung jawab untuk mengukur tingkat proses dalam lingkungan yang berbeda. Sejaksekitar tahun 1950, upaya untuk mengukur proses geomorfik di lapangan telah tumbuh cepat. Contoh awal adalah karya Anders Rapp (1960), yang mencoba untuk mengukur semua proses yang aktif dalam lingkungan subarctic dan menilai mereka komparatifti vesignifikansi. Studinya memungkinkan dia untuk menyimpulkan bahwa agen yang paling kuatdari penghapusan dari Sungai Karkevagge menjalankan air bantalan materi dalam solusi.


Peningkatan jumlah hillslopesdan drainase cekungan memiliki telah terinstrumentasi, yang adalah alat ukur diinstal untukmerekam berbagai proses geomorfik. Instrument yang digunakan di lereng bukit dan geomorfologi umumnya dijelaskan dalam beberapa buku (misalnya Goudie 1994). Menariknya, beberapa tangkapan diinstrumentasi didirikan pada tahun 1960 baru-baru ini mendapat perhatian tak terduga dari para ilmuwan mempelajari pemanasan global, karena catatan abadi decade di daerah iklim sensitif – lintang tinggi dan ketinggia – sangat berharga. Namun, setelah setengah abad pengukuran di lapangan intensif, beberapa daerah termasuk Eropa dan Amerika Utara, masih memiliki lebih baik cakupan dari daerah lain. Dan program-program pengukuran bidang idealnya harus berkelanjutan dan bekerja pada sebagian resolusi halus, karena nilai ukur pada tempat tertentu bervariasi melalui waktu dan mungkin tidak mewakili dari tempat-tempat terdekat.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Awal Mula Terbentuknya Laut Di Bumi Menurut Peneliti Kelautan


Jenis Klasifikasi Geomorfologi

Berdasarkan asal sumber tenaga penyebab proses geomorfologi, Selby (1985) membagi proses yang berasal dari dalam (endogenic process), dan dari luar (exogenic process), bumi (Gambar 2.1). Thornbury (1969), menambahkan pada proses asal luar bumi dengan proses yang berasal dari aktivitas organisme (termasuk manusia), dan proses ekstraterestrial. Pembahasan secara rinci untuk masing-masing proses seperti di bawah ini.

Proses Geomorfologi

Proses Geomorfologi 2


Proses Endogenik (endogenic process)

Inti dalam bumi yang mempunyai temperatur tidak kurang dari 8.000 0C secara hipotetik diyakini sebagai sumber dari proses asal dalam bumi ini. Bloom (1978) menyebutkan proses ini sebagai proses membangun (constructional process). Disebutkan seperti itu, dikarenakan hasil dari proses tersebut adalah bentang-alam baru yang sebelumnya tidak ada.


  1. Tektonik
    Pada skala dunia/global, pancaran panas dari inti bumi menimbulkan aliran panas geotermal (geothermal heat flow), dan konveksi pada lapisan mantel bumi / convection in the mantle (Selby, 1985). Arah gerakan aliran panas geotermal vertikal dari inti bumi menuju kerak bumi, menimbulkan amblesan tektonik (tectonic subsidence) dan pengangkatan tektonik (tectonic uplift), dan seismik. Gerak konveksi, aliran energi panasnya berputar, menimbulkan gerak-gerak lempeng (plate movement). Ditinjau dari pandangan skala lokal maupun regional, disebabkan oleh proses tektonik akan terjadi epirogenesa, dihasilkan pembentukan bentang- alam struktural jenis pegunungan blok (blocked faulted mountain). Gerak lempeng menimbulkan orogenesa, menghasilkan bentang-alam struktural jenis pegunungan lipatan (folded mountain). Kompleksitas proses tektonik sebagai penyebab seringnya temuan pembentukan bentang-alam struktural cenderung kompleks.


  2. Volkanisme
    Volkanisme / Kegunungapian dalam pandangan global terbentuk oleh salah satu dari dua cara, yaitu akibat pemekaran lantai samudra (sea floor spreading) dari kerak samudra (oceanic crust), atau akibat tumbukan dua lempeng (subduction) dari lempeng samudra dengan lempeng benua (continental crust). Wilayah gunungapi/volkan hasil pemekaran yang sangat terkenal adalah Kepulauan Hawai. Sebaran gunungapi aktif di sekeliling Samudra Pasifik mencapai >60 % dari total di dunia.

Proses Eksogenik (exogenic process)

Sumber utama proses asal luar bumi berasal dari radiasi matahari (solar radiation). Radiasi matahari dipantulkan kembali oleh atmosfer ke ruang angkasa sebanyak 31 %, diserap oleh atmosfer 20 %, dan diserap oleh permukaan bumi 49 % (Slaymaker, and Spencer, 1998). Pancaran radiasi matahari pada permukaan bumi menghasilkan enerji yang berputar dan atraksi vertikal (Gambar 2.1b, Selby, 1985). Dari kedua-duanya berkembang berbagai proses eksogenik. Proses ini tidak akan pernah membentuk bentang- alam baru tanpa merusak yang sudah ada sebelumnya, dengan alasan itu Bloom (1978) menamakannya sebagai proses yang merusak (destructional process)


  • Degradasi
    Proses eksogenik apabila terjadi normal, diawali dengan degradasi di suatu tempat, dan diakhiri dengan agradasi di tempat lain. Degradasi pada morfologi dicirikan oleh penurunan elevasi akibat pelapukan, erosi, gerakan tanah, atau transportasi bahan hasil pelapukan & erosi maupun gerakan tanah. Hasil akhir dari transportasi adalah agradasi di tempat lain.

  • Pelapukan
    Pelapukan batuan diindikasikan oleh perubahan pada batuan asal. Empat faktor berpengaruh dalam proses pelapukan, yaitu 1) sifat batuan, 2) iklim, 3) topografi, dan 4) vegetasi. Secara ringkas dicontohkan, sama- sama batuan sedimen, dengan komposisi dominan mineral kuarsa lebih sukar lapuk dibandingkan dengan batulanau. Batuan yang sama akan lebih cepat mengalami pelapukan di daerah beriklim hujan tropik dibandingkan dengan di daerah sub-tropik. Bentang-alam berelief memberi peluang pelapukan lebih intensif dibandingkan dengan bentang-alam kurang berelief. Kelebatan vegetasi mempercepat proses pelapukan. Perubahan tersebut dapat bersifat mekanik-fisik yang dikenal sebagai pelapukan fisik / disintegrasi, dan perubahan kimia atau disebut pelapukan kimia / dekomposisi. Notohadiprawiro (2000) menambahkan satu jenis pelapukan lagi yaitu pelapukan biologi. Pelapukan terjadi pada bagian/zone litosfer yang tersingkap, kemudian mengalami interaksi dengan proses eksogenik yang kemudian berlangsung, dan zone ini disebut sebagai zone pelapukan (zone of weathering).


    Pelapukan fisik ditentukan oleh lima faktor, yaitu: 1) ekspansi akibat kehilangan beban, 2) pertumbuhan kristal, 3) ekspansi akibat panas, 4) aktivitas organik, dan 5) penyumbatan koloid (Reiche, 1950, dalam Thornbury, 1969). Selain lima faktor tersebut, pelapukan ini disebabkan oleh: perbedaan perilaku termal antarmineral, pembekuan air pada celah batuan, pelarutan garam diikuti rekristalisasi, hidrasi mineral, perubahan kandungan air, penembusan akar tumbuhan (Notohadiprawiro, 2000). Pelapukan jenis ini lebih banyak berkembang di daerah beriklim relatif kering. Salah satu ciri utama hasil pelapukan ini adalah pengurangan ukuran dari batuan asal, oleh karena itu disebut disintegrasi. Hasil pelapukan fisik yang dominan disebabkan oleh ekspansi akibat kehilangan beban, termasuk sering dijumpai di lapangan yaitu pembentukan eksfoliasi/pengelupasan pada batuan beku.


    Pelapukan kimia secara umum lebih potensial berlangsung dibanding pelapukan fisik, apalagi pada suatu daerah seperti di Indonesia yang beriklim tropik-basah. Secara sederhana, identifikasi di lapangan bahwa suatu batuan telah mengalami pelapukan kimia apabila warna batuan telah berubah dari warna batuan asal. Sebagian besar pelapukan kimia menghasilkan: penambahan volume, densitas mineral berkurang
    (menjadi lebih kecil), perluasan bidang kontak pelapukan akibat pengecilan ukuran, mineral yang bersifat mobil lebih banyak, dan mineral stabil juga lebih banyak (Thornbury, 1969). Jenis-jenis pelapukan kimia adalah: 1) hidrasi / hydration, 2) hidrolisis / hydrolysis / pemecahan oleh air, 3) oksidasi/oxidation, 4) karbonatasi / carbonation. Temuan paling banyak di sekitar kita adalah batuan menjadi berwarna coklat – coklat kemerahan akibat pelapukan kimia jenis oksidasi.


    Pelapukan biologi, di alam dua jenis pelapukan tersebut di atas secara mutlak tidak terlepas dari peranan jasad (mikro organik) dalam percepatan proses pelapukan. Organisme yang tumbuh di atas permukaan batuan, seperti lumut, ganggang, bakteri, dan lain sebagainya, hasil interaksinya dengan batuan sebagai awal terjadi pelapukan. Akar dalam batuan akan berperanan memecahkan batuan itu. Terhadap mineral penyusun batuan zat organik akan melarutkan senyawa tertentu antara lain fosfat, Ca & Mg karbonat, dan lain-lain.
    Perlu dimengerti, bahwa degradasi jenis pelapukan tidak selalu harus diikuti dengan erosi, dan sebaliknya erosi tidak harus selalu didahului dengan pelapukan. Hal seperti itu dapat dicontohkan pada daerah gunungapi aktif seperti Merapi di utara Yogyakarta; batuan hasil erupsi tanggal 14 Juni 2006 belum terlapuk, tetapi telah dierosi menghasilkan aliran lahar dingin, kemudian diendapkan sebagai endapan lahar yang terdiri dari pasir dan batu (sirtu).


  • Erosi & transportasi
    Ketika batuan mengalami pelapukan, secara hakiki bahan tersebut berpeluang terjadi erosi. Peluang tersebut akan bertambah besar, apabila hadir pemicunya, antara lain penambahan kecuraman lereng bentang-alam, dan atau penambahan kandungan air dalam batuan. Kedua penambahan tadi akan mengurangi angka sudut geser dalam batuan. Ketika erosi berlangsung, yaitu pemisahan batuan dari ‘induk’nya (massa asal) segera diikuti oleh proses transportasi ke tempat lain yang secara elevasi lebih rendah posisinya. Sebagai agen erosi & transportasi secara alam dilakukan oleh aliran air, gelombang & arus laut, angin, gletser, dan organisme. Selain itu, meskipun relatif tidak begitu intensif, aktifitas manusia merupakan agen juga.


    Pada permukaan daratan di bumi, aliran air sangat dominan dibandingkan dengan agen erosi & transportasi yang lain. Aliran air mengambil porsi >70 % dari seluruh agen, bayangkan keberadaannya mulai dari elevasi ribuan meter di ujung gletser sampai dengan lereng benua (continental slope) di bawah laut. Agen gelombang & arus laut ditemui hanya di wilayah pantai dan pesisir. Agen angin bekerja aktif di wilayah bekas salju yang telah mencair, daerah aliran sungai (DAS) yang besar, pantai dan pesisir yang berhadapan dengan samudra luas, dan daratan di ‘lintang tengah’ beriklim kering. Agen gletser efektif berperanan di wilayah dengan elevasi lebih dari 4.000 m dpal., atau di wilayah ‘lintang tinggi’ sampai dengan kutub.


  • Gerakan tanah
    Gerakan tanah mempunyai kesamaan dengan proses erosi & transportasi yaitu adanya proses pelepasan dan pemindahan batuan dari ‘induk’nya. Pembeda antara dua proses tersebut yaitu pada gerakan tanah memerlukan waktu relatif singkat, dan cakupan luasan daerah yang mengalami relatif sempit. Proses gerakan tanah terjadi oleh kondisi penyebab yang bersifat pasiv, dan pengaktifan (Sharpe, 1938, dalam Thornbury, 1969). Penyebab pasiv yang dimaksud adalah: a) sifat litologi, b) stratigrafi, c) struktur geologi, d) bentang-alam, e) iklim, dan f) organik. Tercakup dalam penyebab pengaktifan meliputi: pemindahan baik alami maupun oleh manusia, penajaman sudut lereng oleh aliran air, dan pembebanan berlebihan baik oleh air hujan maupun yang lain.


  • Aktifitas Organisme
    Seperti telah dituliskan dalam pembahasan pelapukan biologi, tumbuh- tumbuhan turut andil dalam proses geomorfologi, utamanya berperanan dalam proses pelapukan fisik maupun kimia.Hewan juga dapat sebagai agen proses geomorfologi, seperti halnya tumbuh-tumbuhan. Aktifitas dua agen tersebut mencakup luasan yang sempit, sehingga tidak segera tampak oleh pandangan mata dalam waktu yang singkat.
    Manusia di antara aktivitasnya tidak tertutup kemungkinan sebagai agen proses geomorfologi. Dengan mengandalkan ukuran jasad dan karunia akal pikiran, dampak degradasi bentang-alam lebih luas dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh hewan atau tumbuh-tumbuhan. Walaupun demikian dalam pandangan geomorfologi dampak tersebut kurang signifikan.