pengertian-agroforestri

Pengertian Agroforestri dan Menurut Ahli Biologi

Pengertian Agroforestri, Komponen, Manfaat & Menurut Para Ahli adalah sistem penggunaan lahan (usahatani ) yang mengkombinasikan pepohonan dengan tanaman pertanian untuk meningkatkan keuntungan, baik secara ekonomis maupun lingkungan

pengertian-agroforestri


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Penduduk” Dampak & Permasalahan Terhadap Pembangunan


Definisi Agroforestry

Agroforestri adalah sistem penggunaan lahan (usahatani ) yang mengkombinasikan pepohonan dengan tanaman pertanian untuk meningkatkan keuntungan, baik secara ekonomis maupun lingkungan. Pada sistem ini, terciptalah keanekaragaman tanaman dalam suatu luasan lahan sehingga akan mengurangirisiko kegagalan dan melindungi tanah dari eros i ser ta mengurangi kebutuhan pupuk atau zat hara dari luar kebun karena adanya daur-ulang sisa tanaman.


Menurut Para Ahli

  • Menurut Hudges (2000) Agroforestry sebagai bentuk menumbuhkan dengan sengaja dan mengelola pohon secara bersama-sama dengan tanaman pertanian dan atau makanan ternak dalam sistem yang bertujuan menjadi berkelanjutan secara ekologi, social dan ekonomi. Secara sederhana adalah menanam pohon dalam system pertanian.

  • Menurut Reijntjes (1999) Menyatakan Agroforestry sebagai pemanfaatan tanaman kayu tahunan secara seksama (pepohonan, belukar, palem, bambu) padasuatu unit pengelolaan lahan yang sama sebagai tanaman yang layak tanam, pada ngrumput dan atau hewan, baik dengan pengaturan ruang secara campuran atau ditempat dan saat yang sama maupun secara berurutan dari waktu kewaktu.

  • K.F.S. King dan M.T. Chandler (1979) Sistem pengelolaan lahan berkelanjutan dan mampu meningkatkan produksi lahan secara keseluruhan, merupakan kombinasi produksi tanaman pertanian (termasuk tanaman tahunan) dengan tanaman hutan dan/atau hewan (ternak), baik secara bersama atau bergiliran, dilaksanakan pada satu bidang lahan dengan menerapkan teknik pengelolaan praktis yang sesuai dengan budaya masyarakat setempat.

  • Lundgren dan Raintree (1982) Agroforestri adalah istilah kolektif untuk sistem-sistem dan teknologi-teknologi penggunaan lahan, yang secara terencana dilaksanakan pada satu unit lahan dengan mengkombinasikan tumbuhan berkayu (pohon, perdu, palem, bambu dll.) dengan tanaman pertanian dan/atau hewan (ternak) dan/atau ikan, yang dilakukan pada waktu yang bersamaan atau bergiliran sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar berbagai komponen yang ada.
  • Nair PKR (1993) Agroforestri adalah system penggunaan lahan terpadu, yang memiliki aspek social dan ekologi, dilaksanakan melalui pengkombinasian pepohonan dengan tanaman pertanian dan/atau ternak (hewan), baik secara bersama-sama atau bergiliran, sehingga dari satu unit lahan tercapai hasil total nabati atau hewan yang optimal dalam arti berkesinambungan

  • Menurut Huxley (1999) agroforestry adalah:
  1. Sistem penggunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu (pepohonan, perdu, bambu, rotan dan lainnya) dengan tanaman tidak berkayu atau dapat pula dengan rerumputan (pasture), kadang-kadang ada komponen ternak atau hewan lainnya (lebah, ikan) sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antara taman berkayu dengan komponen lainnya.
  2. Sistem pengunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu dengan tanaman tidak berkayu (kadang-kadang dengan hewan) yang tumbuh bersamaan atau bergiliran pada suatu lahan, untuk memperoleh berbagai produk dan jasa (services) sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar komponen tanaman.
  3. Sistem pengeloloaan sumberdaya alam yang dinamis secara ekologi dengan penanaman pepohonan di lahan pertanian atau padang penggembalaan untuk memperoleh berbagai produk secara berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan keuntungan sosial, ekonomi dan lingkungan bagi semua pengguna lahan.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Negosiasi Bisnis – Karakteristik, Teknik, Proses, Strategi, Kesalahan


Ruang Lingkup Agroforestri

Pada dasarnya agroforestri terdiri dari tiga komponen pokok yaitu kehutanan, pertanian dan peternakan, dimana masing-masing komponen sebenarnya dapat berdiri sendiri-sendiri sebagai satu bentuk system penggunaan lahan (Gambar 1). Hanya saja sistem-sistem tersebut umumnya ditujukan pada produksi satu komoditi khas atau kelompok produk yang serupa.  Penggabungan tiga komponen tersebut menghasilkan beberapa kemungkinan bentuk kombinasi sebagai berikut:

  • a) Agrisilvikultur : Kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan (pepohonan, perdu, palem, bambu, dll.) dengan komponen pertanian
  • b) Agropastura : Kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan komponen peternakan
  • c) Silvopastura : Kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan peternakan
  • d) Agosilvopastura : Kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan kehutanan dan peternakan/hewan.

Dari keempat kombinasi tersebut, yang termasuk dalam agroforestri adalah Agrisilvikutur, Silvopastura dan Agrosilvopastura. Sementara agropastura tidak dimasukkan sebagai agroforestri, karena komponen kehutanan atau pepohonan tidak dijumpai dalam kombinasi.

Di samping ketiga kombinasi tersebut, Nair (1987) menambah sistem-sistem lainnya yang dapat dikategorikan sebagai agroforestri. Beberapa contoh yang menggambarkan system lebih spesifik yaitu:

  1. Silvofishery : Kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan perikanan.
  2. Apiculture : Budidaya lebah atau serangga yang dilakukan dalam kegiatan atau komponen kehutanan.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Limbah Organik” Definisi & ( Jenis – Prinsip Pengolahan )


Manfaat Agroforestri

Beberapa keunggulan agroforestri dibandingkan dengan sistem penggunaan lahan lainnya menurut Hairiah et al. (2003) yaitu :

  1. Produktivitas (Productivity): Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa produk total sistem campuran dalam agroforestri jauh lebih tinggi dibandingkan pada 7monokultur. Hal tersebut disebabkan bukan saja keluaran (output) dari satu bidang lahan yang beragam, akan tetapi juga dapat merata sepanjang tahun. Adanya tanaman campuran memberikan keuntungan, karena kegagalan satu komponen/jenis tanaman akan dapat ditutup oleh keberhasilan komponen/jenis tanaman lainnya.

  2. Diversitas (Diversity): Adanya pengkombinasian dua komponen atau lebih daripada sistem agroforestri menghasilkan diversitas yang tinggi, baik menyangkut produk maupun jasa. Dengan demikian dari segi ekonomi dapat mengurangi risiko kerugian akibat fluktuasi harga pasar. Sedangkan dari segi ekologi dapat menghindarkan kegagalan fatal pemanen sebagaimana dapat terjadi pada budidaya tunggal (monokultur).

  3. Kemandirian (Self-regulation): Diversifikasi yang tinggi dalam agroforestri diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, dan petani kecil dan sekaligus melepaskannya dari ketergantungan terhadap produkproduk luar. Kemandirian sistem untuk berfungsi akan lebih baik dalam arti tidak memerlukan banyak input dari luar (antara lain: pupuk dan pestisida), dengan diversitas yang lebih tinggi daripada sistem monokultur.

  4. Stabilitas (Stability): Praktek agroforestri yang memiliki diversitas dan produktivitas yang optimal mampu memberikan hasil yang seimbang sepanjang pengusahaan lahan, sehingga dapat menjamin stabilitas (dan kesinambungan) pendapatan petani. Ketika tanah langka atau ketika tanah memiliki kesuburan rendah atau sensitif terhadap erosi, teknik wanatani (agroforestri) menawarkan manfaat yang cukup besar untuk jangka panjang pertanian yang keberlanjutan. Pohon dan semak memiliki peran ekologi dan ekonomi penting dalam sistem pertanian.

Agroforestri berguna dalam cara berikut menurut The Organic Organization:

  1. Tanah
    a. Melindungi tanah dari erosi.
    b. Meningkatkan nutrisi dalam tanah yang miskin.
    c. Memperbaiki struktur tanah sehingga memegang lebih banyak air.
  2. Pasokan energi
    a. Menyediakan kayu bakar lebih murah dan lebih mudah diakses.
    b. Memproduksi kualitas yang lebih baik kayu bakar tergantung pada spesies ditanam.
  3. Tempat tinggal dan struktur
    a. Menyediakan bahan bangunan murah.
    b. Melindungi hewan, tanaman dan manusia dari angin dan matahari.
    c. Menyediakan pagar untuk melindungi tanaman dari hewan ternak dan hewan liar.
  4. Tanaman sumber daya / keanekaragaman hayati
    a. Memperbaiki kondisi lingkungan lokal alami tanaman tumbuh.
    b. Mempertahankan dan meningkatkan jumlah spesies tanaman.
  5. Kas dan pendapatan
    a. Menyediakan lapangan kerja tambahan atau off-musim.
    b. Mengaktifkan penjualan produk-produk pohon.
    c. Menyediakan investasi seperti kebun, produk-produk pohon, agrobisnis dan pasokan bahan jangka panjang untuk produksi kerajinan

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Paragraf Silogisme” Pengertian & ( Bentuk – Rumus – Jenis – Contoh )


Biomassa dan Tumbuhan Bawah

Biomassa

Biomassa berasal dari kata bio yang artinya hidup dan massa berarti berat. Sehingga kata biomassa dapat diartikan sebagai bobot bahan hidup. Brown (1997) mendefinisikan biomassa sebagai jumlah total bahan organik hidup di atas permukaan tanah pada pohon yang dinyatakan dalam berat kering tanur ton per unit area. Komponen biomassa hutan yang ditaksir adalah biomassa di atas tanah dan biomassa di bawah tanah. Komponen biomassa di atas tanah sering diukur karena merupakan bagian terbesar dari berat jumlah total biomassa. Tumbuhan banyak menyimpan karbon pada bagian atas permukaan tanah dan hanya bagian kecil tersimpan di akar dan biaya untuk penghitungan biomassa akar cukup besar (Brown 1999).


Pendugaan biomassa di atas permukaan tanah sangat penting untuk mengkaji cadangan karbon, pengaruh terjadinya deforestasi dan penyerapan karbon secara global (Ketterings et al. 2001). Besarnya cadangan biomassa hutan digunakan untuk memperkirakan kandungan karbon pada vegetasi hutan, karena sekitar 50 % dari biomassa adalah karbon. Biomassa hutan juga dapat digunakan untuk penaksiran perubahan dalam struktur hutan (Brown 1997). Menurut Brown (1999), kandungan karbon utama di hutan yaitu biomassa bahan hidup, biomassa bahan mati, tanah dan produk kayu.


Tumbuhan Bawah

Tumbuhan Bawah adalah tumbuhan berupa herba dan semak serta tanaman rendah yang menutupi bagian bawah suatu kawasan hutan (Ewusia, 1990). Tumbuhan bawah berfungsi sebagai penutup tanah yang menjaga kelembaban sehingga proses dekomposisi yang cepat dapat menyediakan unsur hara untuk tanaman pokok. Di sini, siklus hara dapat berlangsung sempurna, guguran yang jatuh sebagai serasah akan dikembalikan lagi ke pohon dalam bentuk unsure hara yang seperti diketahui akan diuraiakan oleh bakteri (Ewusia, 1990).

Tumbuhan bawah adalah komunitas tanaman yang menyusun stratifikasi  bawah dekat permukaan tanah. Tumbuhan ini umumnya berupa rumput, herba, semak  atau perdu rendah. Jenis-jenis vegetasi ini ada yang bersifat annual, biannual, atau  perenial dengan bentuk hidup soliter, berumpun, tegak menjalar atau memanjat. Secara taksonomi vegetasi bawah umumnya anggota dari suku-suku Poceae, Cyperaceae, araceae, asteraceae, paku-pakuan dan lain-lain. Vegetasi ini banyak terdapat di tempat-tempat terbuka, tepi jalan, tebing sungai, lantai hutan, lahan pertanian dan perkebunan (Aththorick, 2005).


Tumbuhan bawah terdiri dari tumbuhan selain permudaan pohon, misal  rumput, herba, dan semak belukar (Kusmana, 1995), serta paku-pakuan (Ewusie,  1990). Selanjutnya Philips (1959), menyatakan bahwa tumbuhan yang termasuk  tumbuhan penutup tanah terdiri dari herba yang tingginya sampai 0,5 meter sampai 1 meter. Komposisi dari keanekaragaman jenis tumbuhan bawah sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti cahaya, kelembaban, pH tanah, tutupan tajuk dari pohon di sekitarnya, dan tingkat kompetisi dari masing-masing jenis. Pada komunitas hutan hujan, penetrasi cahaya matahari yang sampai pada lantai hutan umumnya sedikit sekali.


Hal ini disebabkan terhalang oleh lapisan-lapisan tajuk pohon yang ada pada hutan tersebut, sehingga tumbuhan bawah yang tumbuh dekat permukaan tanah kurang mendapat cahaya, sedangkan cahaya matahari bagi tumbuhan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses perkembangan, pertumbuhan dan reproduksi (Gusmaylina, 1983). Menurut Barnes, et al., (1997), keanekaragaman tumbuhan bawah memperlihatkan tingkatan keanekaragaman yang tinggi berdasarkan komposisinya. Perbedaan bentang lahan, tanah, faktor iklim serta perbandingan keanekaragaman spesies vegetasi bawah, memperlihatkan banyak perbedaan, baik dalam kekayaan jenisnya maupun pertumbuhannya.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Kingdom Plantae : Pengertian, Ciri, Klasifikasi, Dan Jenis Beserta Contohnya Secara Lengkap


Sosial Ekonomi Dan Budaya Agroforestri

Keberadaan pohon dalam agroforestri mempunyai dua peranan utama. Pertama, pohon dapat mempertahankan produksi tanaman pangan dan memberikan pengaruh positif pada lingkungan fisik, terutama dengan memperlambat kehilangan hara dan energi, dan menahan daya perusak air dan angin. Kedua, hasil dari pohon berperan penting dalam ekonomi rumah tangga petani. Pohon dapat menghasilkan 1) produk yang digunakan langsung seperti pangan, bahan bakar, bahan bangunan; 2) input untuk pertanian seperti pakan ternak, mulsa; serta 3) produk atau kegiatan yang mampu menyediakan lapangan kerja atau penghasilan kepada anggota rumah tangga. Dengan demikian, pertimbangan sosial ekonomi dari suatu sistem agroforestri merupakan faktor penting dalam proses pengadopsian sistem tersebut oleh pengguna lahan maupun pengembangan sistem tersebut baik oleh peneliti, penyuluh, pemerintah, maupun oleh petani sendiri.


Terdapat empat aspek dasar yang mempengaruhi keputusan petani untuk menerapkan atau tidak menerapkan agroforestri, yaitu:

  • Kelayakan (feasibility)
  • Keuntungan (profitability)
  • Dapat tidaknya diterima (acceptibility)
  • Kesinambungan (sustainability)

Kelayakan

Faktor kelayakan mencakup aspek apakah petani mampu mengelola agroforestri dengan sumber daya dan teknologi yang mereka punyai, apakah mereka mampu untuk mempertahankan dan bahkan mengembangkan sumber daya dan teknologi tersebut.


Keuntungan (Profitability)

Apakah penerapan agroforestri lebih menguntungkan dibandingkan sistem penggunaan lahan yang lain? Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu diingat bahwa sistem produksi agroforestri memiliki suatu kekhasan, di antaranya:

  • Menghasilkan lebih dari satu macam produk
  • Pada lahan yang sama ditanam paling sedikit satu jenis tanaman semusim dan satu jenis tanaman tahunan/pohon
  • Produk-produk yang dihasilkan dapat bersifat terukur (tangible) dan tak terukur (intangible)
  • Terdapat kesenjangan waktu (time lag) antara waktu penanaman dan pemanenan produk tanaman tahunan/pohon yang cukup lama . Analisis ekonomi terhadap suatu sistem agroforestri harus memperhatikan ciri-ciri sistem agroforestri tersebut di atas.

Kemudahan untuk diterima (Acceptibility)

Sistem agroforestri dapat dengan mudah diterima dan dikembangkan kalau manfaat sistem agroforestri itu lebih besar daripada kalau menerapkan sistem lain. Aspek ini mencakup atas perhitungan risiko, fleksibilitas terhadap peran gender, kesesuaian dengan budaya setempat, keselerasan dengan usaha yang lain, dsb.


Jaminan kesinambungan (sustainability)

Sistem penguasaan lahan dan hasil agroforestri (singkatnya sumber daya agroforestri) menggambarkan tentang sekumpulan hak-hak yang dipegang oleh seseorang atau kelompok orang-orang dalam suatu pola hubungan sosial terhadap suatu unit lahan dan hasil agroforestri dari lahan tersebut.

Berdasarkan sosial ekonomis, sistem agroforestry dibedakan atas : (1) tujuan komersial yaitu pengelolaannya dimaksudkan terutama untuk menghasilkan produk bernilai ekonomis tinggi melebihi sistem monokultur; (2) Subsistence yaitu sistem agroforestry yang dikelola tanpa mempertimbangkan input dan output, berbasis tenaga keluarga dan umumnya merupakan dampak dari sistem perladangan berpindah; dan (3) Intermediate yaitu sistem agroforestry yang memiliki sifat diantara komersil dan subsisten dengan tingkat pengelolaan dan pencapaian produksi yang medium dan tetap mempertimbangkan input meski pada tingkat yang tidak maksimal (Nair, 1989b; Chundawat dan Gautam, 1993).


Kelebihan Sistem Agroforestri Secara Sosial dan Ekonomi

Secara ekonomis, sistem agroforestry sangat menguntungkan terutama dalam hal (Nair, 1989c; Chundawat dan Gautam, 1993; Lal, 1995) : (a) peningkatan keluaran dalam arti lebih bervariasinya produk yang diperoleh yaitu berupa pangan, pakan, serat, kayu, bahan bakar, pupuk hijau dan atau pupuk kandang; (b) memperkecil kegagalan panen karena gagal atau menurunnya panen dari salah satu komponen masih dapat diitutupi oleh adanya hasil (panen) komponen lain; dan (c) meningkatnya pendapatan petani karena input yang diberikan akan menghasilkan output yang berkelanjutan.

Keuntungan secara sosial dari diterapkannya sistem agroforestry adalah (Chundawat dan Gautam, 1993; Lal, 1995) : (a) terpeliharanya standar kehidupan masyarakat pedesaan dengan berkelanjutan pekerjaan dan pendapatan; (b) terpeliharanya sumber pangan dan tingkat kesehatan masyarakat karena peningkatan kualitas dan keragaman produk pangan, gizi dan papan; dan (c) terjaminnya stabilitas komunitas petani dan pertanian lahan kering sehingga dapat mengurangi dampak negatif urbanisasi.


Kelemahan Sistem Agroforestri Secara Sosial Ekonomi

Kelemahan dari segi sosial ekonomis antara lain (Chundawat dan Gautam, 1993) : (a)terbatasnya tenaga kerja yang berminat dibidang pertanian, khususnya dalam membangun sistem agroforestry; (b) terjadinya persaingan antara tanaman pohon dengan tanaman pangan yang dapat menurunkan hasil tanaman pangan (sumber gizi keluarga) dibandingkan pada penanaman dengan sistem monokultur; (c) waktu yang cukup panjang untuk menunggu panen tanaman pohon dapat mengurangi produksi sistem agroforestry; (d) sistem agroforestry terutama yang berorientasi komersial diakui lebih komplek sehingga lebih sulit diterapkan, apalagi dengan pengetahuan petani yang terbatas dibandingkan pada sistem pertanian monokultur; dan (e) keengganan sebagian besar petani untuk menggantikan tanaman pertanian/pangan dengan tanaman pohon atau sebaliknya yang lebih bernilai ekonomis.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pedosfer : Pengertian, Ciri, Dan Faktor Terbentuknya Beserta Jenisnya Secara Lengkap


Komponen Sistem Agroforestri.

Penggabungan pada komponen-komponen yang termasuk dalam agroforestri dikenal dengan nama ialah sebagai berikut :

  • Silvopastura ialah  Kombinasi diantara komponen ataupun kegiatan kehutanan dengan peternakan.
  • Agrosilvopastur ialah Kombinasi diantarakomponen ataupun kegiatan pertanian dengan kehutanan dan juga peternakan(hewan)
  • Agrisilvikultur ialah Kombinasi diantara komponen ataupun kegiatan kehutanan (pohon, perdu, palem, bambu, dan lain-lain.) dengan komponen pertanian.
  • Silvofeshry ialah  Kombinasi antara komponen kehutanan dan juga komponen perikanan. Sistem ini ialah pemanfaatan hutan mangrove yang dikombinasikan dengan tambak ikan.

Strip rumput

Strip rumput merupakan bentuk peralihan dari sistem pertanian tanaman semusim menjadi sistem agroforestri. Strip rumput adalah barisan rumput dengan lebar 0,5-1 m dan jarak antar strip 4-10 m yang ditanam sejajar garis ketinggian (kontur). Pada tanah yang berteras, rumput ditanam di pinggir (bibir) teras. Jenis rumput yang cocok adalah rumput yang mempunyai sistem perakaran rapat dan dapat dijadikan hijauan pakan ternak, misalnya rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput BD (Brachiaria decumbens), rumput BH (Brachiaria humidicola), rumput pahit (Paspallum notatum) dan lain- lain. Adakalanya rumput akar wangi (Vetiveria zizanioides) digunakan juga sebagai tanaman strip rumput. Akar wangi tidak disukai ternak, tetapi menghasilkan minyak atsiri yang merupakan bahan baku pembuatan kosmetik.Keuntungan strip rumput:Mengurangi kecepatan aliran permukaandan erosiMemperkuat bibir terasMenyediakan hijauan pakan ternakMembantu mempercepat proses pembentukan teras secara alami.


Pertanaman lorong

Sistem ini merupakan sistem pertanian di mana tanaman semusim ditanam pada lorong di antara barisan tanaman pagar yang ditata menurut garis kontur. Jenis tanaman yang cocok untuk tanaman pagar adalah tanaman kacang-kacangan (leguminosa) seperti, gamal (Flemingia congesta Gliricidia sepium), lamtoro (Leucaena leucocephala), dan Calliandra callothirsus. Jarak antar baris tanaman pagar berkisar antara 4 sampai 10 m. Semakin curam lereng, jarak antar barisan tanaman pagar dibuat semakin dekat.


Keuntungan tanaman pagar:

  • Menyumbangkan bahan organik dan hara terutama nitrogen untuk tanaman lorong.
  • Mengurangi laju aliran permukaan dan erosi.

Kelemahan sistem tanaman pagar dan sistem strip rumput:

  • Tanaman pagar atau strip rumput mengambil tempat 5-15% dari total luas
    lahan.
  • Sering terjadi persaingan dengan tanaman lorong.
  • Kadang-kadang terjadi pengaruh alelopati (cairan atau gas yang dikeluarkan tanaman pagar yang mengganggu pertumbuhan tanaman lorong).
  • Kebutuhan tenaga kerja cukup tinggi untuk penanaman dan pemeliharaan tanaman
    pagar.

Pagar hidup

Pagar hidup adalah barisan tanaman perdu atau pohon yang ditanam pada batas kebun. Bila kebun berada pada lahan yang berlereng curam, maka pagar hidup akan membentuk jejaring yang bermanfaat bagi konservasi tanah. Pangkasannya dapat digunakan sebagai sumber bahan organik atau sebagai
hijauan pakan ternak.

Jenis tanaman yang dipakai untuk pagar sebaiknya yang mudah ditanam dan mudah didapatkan bibitnya, misalnya gamal dengan stek, turi, lamtoro dan kaliandra dengan biji. Untuk tanaman pagar jenis leguminose perdu (lamtoro, gamal), ditanam dengan jarak antar batang ± 20 cm. Jarak yang rapat ini untuk menjaga agar tanaman pagar tidak tumbuh terlalu tinggi.


Keuntungan pagar hidup:

  • Melindungi kebun dari ternak Pangkasannya dapat dijadikan hijauan pakan ternak
  • Menjadi sumber bahan organik dan hara tanah
  • Menyediakan kayu bakar
  • Mengurangi kecepatan angin (wind break)

Sistem multistrata

Sistem multistrata adalah sistem pertanian dengan tajuk bertingkat, terdiri dari tanaman tajuk tinggi (seperti mangga, kemiri), sedang (seperti lamtoro, gamal, kopi) dan rendah (tanaman semusim, rumput) yang ditanam di dalam satu kebun (lihat gambar di halaman depan). Antara satu tanaman dengan yang lainnya diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling bersaing.

Tanaman tertentu seperti kopi, coklat memerlukan sedikit naungan, tetapi kalau terlalu banyak naungan pertumbuhan dan produksinya akan terganggu.


Keuntungan sistem multistrata:

  • Mengurangi intensitas cahaya matahari, misalnya untuk kopi dan coklat yang butuh naungan.
  • Karena banyak jenis tanaman, diharapkan panen dapat berlangsung secara bergantian sepanjang tahun dan ini dapat menghindari musim paceklik.
  • Tanah selalu tertutup tanaman sehingga aman dari erosi

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Abrasi Adalah


Konsep agroforestri

Konsep agroforestri ialah  rintisan dari tim Canadian International Development Centre, yang bertugas untuk dapat mengindentifikasi prioritas-prioritas pembangunan pada bidang kehutanan di negara-negara berkembang dalam tahun 1970-an. Oleh tim ini dilaporkan bahwa hutan-hutan di negara tersebut belum cukup dimanfaatkan. Pemanfaatan di bidang kehutanan sebagian besar hanya ditujukan kepada dua aspek produksi kayu, ialah :

  • eksploitasi secara selektif di hutan alam
  • tanaman hutan secara terbatas.

Agroforestri diharapkan dapat bermanfaat selain untuk dapat mencegah  perluasan tanah yang terdegradasi, melestarikan sumber daya hutan, meningkatkan mutu pada pertanian dan juga menyempurnakan intensifikasi serta diversifikasi silvikultur. Tetapi sistem Agroforestri telah dipraktekan oleh petani di berbagai tempat di Seluruh Indonesia selama berabad-abad dengan nama serta istilah yang berbeda-beda.


Sesuai dengan definisi agroforestri diatas maka sistem ini cukup bervariasi dan juga cukup luas sehingga dapat diklasifikasi berdasarkan kriteria-kriteria sebagai berikut :

  1. Secara Struktual, ialah yang menyangkut komposisi komponen, seperti sistem-sistem agrisilvikultur, silvopastur serta agrisilvopastur.
  2. Secara Fungsional, ialah yang menyangkut fungsi atau peranan utama dalam  suatu sistem, terutama  pada komponen kayu-kayuan.
  3. Secara Sosial Ekonomis, ialah yang menyangkut pada tingkat masukan dalam suatu pengelolaan (masukan rendah, masukan tinggi, intensitas dan juga skala pengelolaan, tujuan usaha, subsisten, komersial, intermedier).
  4. Secara Ekologis, ialah yang menyangkut pada suatu kondisi lingkungan dan juga kesesuaian ekologis dari sistem Agrisilvikultur, Silvopastur, Agrosilvopastur, Silvofishery, pohon serbaguna, dan lain-lain.

Pada dasarnya agroforestri mempunyai komponen-komponen pokok yaitu sebagai berikut :

  1. kehutanan,
  2. pertanian,
  3. peternakan
  4. perikanan.