Bullying – Pengertian, Alasan, Dampak, Pencegahan, Penanganan, Pengelompokkan

Diposting pada

Bullying – Pengertian, Alasan, Dampak, Pencegahan, Penanganan, Pengelompokkan : Bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut.

bullying

Pengertian Bullying

Bullying merupakan sebuah aktivitas yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan tujuan memojokkan seseorang/kelompok lain yang tidak termasuk kelompok tersebut, dengan nada merendahkan dan mengolok-ngolok, bahkan sampai kekerasan fisik.

Bullying biasanya terjadi bukan akibat dari rasa marah ataupun sebuah konflik yang tak terselesaikan. Namun bullying lebih merujuk pada rasa superioritas sehingga pihak yang melakukan bully merasa bahwa dirinya paling kuat dan memiliki hak untuk menghina, merendahkan, melecehkan ataupun bertindak semena-mena terhadap korban yang memiliki posisi lemah.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian, Ciri, Bentuk, Dan Penyebab Kenakalan Remaja Beserta Contohnya Secara Lengkap


Definisi Bullying

Terdapat banyak definisi mengenai bullying, terutama yang terjadi dalam konteks lain (tempat kerja, masyarakat, komunitas virtual). Namun di sini penulis akan membatasi konteksnya dalam school bullying atau bullying di sekolah. Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) mendefinisikan school bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut.


Pengelompokkan Perilaku Bullying

Berikut pengelompokkan perilaku bullying yang dibagi ke dalam 5 kategori:

  • Kontak fisik langsung

Termasuk tindakan memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain


  • Kontak verbal langsung

Termasuk tindakan mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip.


  • Perilaku non-verbal langsung

Termasuk tindakan melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal.


  • Perilaku non-verbal tidak langsung

Termasuk tindakan mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng.


  • Pelecehan seksual

Kadang tindakan pelecehan dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal.


Alasan Pelaku Melakukan Bullying

Seperti yang telah terjadi pada kasus-kasus bullying sebelumnya, tindakan bullying adalah sebuah siklus, dalam artian pelaku saat ini kemungkinan besar adalah korban dari pelaku bullying sebelumnya. Ketika menjadi korban, mereka membentuk skema kognitif yang salah bahwa bullying bisa ’dibenarkan’ meskipun mereka merasakan dampak negatifnya sebagai korban.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian, Ciri, Bentuk, Dan Jenis Penyimpangan Sosial Beserta Contohnya Lengkap


Mengapa seorang korban bisa kemudian menerima, bahkan menyetujui perspektif pelaku yang pernah merugikannya? Salah satu alasannya dapat diurai dari hasil survei: sebagian besar korban enggan menceritakan pengalaman mereka kepada pihak-pihak yang mempunyai kekuatan untuk mengubah cara berpikir mereka dan menghentikan siklus ini, yaitu pihak sekolah dan orangtua.


Korban biasanya merahasiakan bullying yang mereka derita karena takut pelaku akan semakin mengintensifkan bullying mereka. Akibatnya, korban bisa semakin menyerap ’falsafah’ bullying yang didapat dari seniornya. Alasan lainnya, korban  bullying juga merasa marah dan kesal dengan kejadian yang menimpa mereka. Ada juga perasaan marah, malu dan kecewa pada diri sendiri karena “membiarkan” kejadian tersebut mereka alami.


Namun mereka tak kuasa “menyelesesaikan” hal tersebut, termasuk tidak berani untuk melaporkan pelaku pada orang dewasa karena takut dicap penakut, tukang ngadu, atau bahkan disalahkan. Dengan penekanan bahwa bully dilakukan oleh anak usia sekolah, perlu dicatat bahwa salah satu karakteristik anak usia sekolah adalah adanya egosentrisme (segala sesuatu terpusat pada dirinya) yang masih dominan. Sehingga ketika suatu kejadian menimpa dirinya, anak masih menganggap bahwa semua itu adalah karena dirinya.


bullying

Dalam skema kognitif korban yang diteliti oleh Riauskina dkk., korban mempunyai persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena:

  • Tradisi
  • Balas dendam karena dia dulu diperlakukan sama (menurut korban laki-laki)
  • Ingin menunjukkan kekuasaan
  • Marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan
  • Mendapatkan kepuasan (menurut korban perempuan)
  • Iri hati (menurut korban perempuan)

Adapun korban juga mempersepsikan dirinya sendiri menjadi korban bullying karena

  • Penampilan menyolok
  • Tidak berperilaku dengan sesuai
  • Perilaku dianggap tidak sopan
  • Tradisi

Faktor lain yang menyebabkan seorang anak menjadi pelaku bullying  adalah keluarga. Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah.  Orangtua yang kerap menghukum anaknya secara berlebihan atau situasi rumah yang penuh stres, agresi dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orangtua mereka dan kemudian menirunya terhadap teman-temannya.


Jika tidak ada konsekuensi yang tegas dari lingkungan terhadap perilaku coba-cobanya itu, ia akan belajar bahwa ”mereka yang memiliki kekuatan diperbolehkan untuk berperilaku agresif, dan berperilaku agresif dapat meningkatkan status dan kekuasaan seseorang.” Dari sini, anak tidak hanya mengembangkan perilaku bullying, melainkan juga sikap dan kepercayaan yang lebih dalam lagi.


Selain keluarga, ada beberapa karakteristik lain yang terkait dengan perilaku bullying. Patut dicatat bahwa kita tidak dapat serta-merta ’menghakimi’ anak sebagai pelaku hanya karena ia memiliki beberapa karakteristik tertentu. Di bawah ini adalah karakteristik yang pada umumnya ditemui pada pelaku bullying, sehingga anak yang belum melakukan bullying, namun memiliki beberapa karakteristik berikut, dapat segera dikenali dan diberi pengertian yang benar sebelum ia melakukannya.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan :Pengertian, Macam Dan Faktor Penyebab Konflik Sosial Beserta Dampaknya Terlengkap


  • Cenderung hiperaktif, disruptive, impulsif, dan overactive
  • Memiliki temperamen yang sulit dan masalah pada atensi/konsentrasi
  • Pada umumnya juga agresif terhadap guru, orangtua, saudara, dan orang lain
  • Gampang terprovokasi oleh situasi yang mengundang agresi
  • Memiliki sikap bahwa agresi adalah sesuatu yang positif
  • Pada anak laki-laki, cenderung memiliki fisik yang lebih kuat daripada teman sebayanya
  • Pada anak perempuan, cenderung memiliki fisik yang lebih lemah daripada teman sebayanya
  • Berteman dengan anak-anak yang juga memiliki kecenderungan agresif
  • Kurang memiliki empati terhadap korbannya dan tidak menunjukkan penyesalan atas perbuatannya
  • Biasanya adalah anak yang paling insecure, tidak disukai oleh teman-temannya, dan paling buruk prestasinya di sekolah hingga sering terancam drop out.
  • Cenderung sulit menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan dalam hidup

Dari pelbagai karakteristik yang dimiliki pelaku di atas, dapat dilihat bagaimana para pelaku tersebut sebenarnya juga adalah korban dari fenomena bullying. ’Pelaku’ yang sebenarnya bisa dikatakan adalah mereka yang menutup mata terhadap fenomena ini atau menganggapnya normal dan membiarkannya terus-menerus terjadi. Mereka seringkali adalah orang-orang terdekat pelaku dan korban, yaitu teman sebaya, orangtua, dan guru.


Dampak Bullying

Dampak-dampak bullying dapat mengancam setiap pihak yang terlibat, baik anak-anak yang di bully, anak-anak yang mem-bully, anak-anak yang menyaksikan bullying, bahkan sekolah dengan isu bullying secara keseluruhan. Bullying dapat membawa pengaruh buruk terhadap kesehatan fisik maupun mental anak. Pada kasus yang berat, bullying dapat menjadi pemicu tindakan yang fatal, seperti bunuh diri.


Dampak Negatif

Anak-anak yang menjadi korban bullying lebih berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Adapun masalah yang lebih mungkin diderita anak-anak yang menjadi korban bullying antara lain:


  • Munculnya berbagai masalah mental seperti depresi, kegelisahan dan masalah tidur, masalah ini mungkin akan terbawa hingga dewasa.
  • Keluhan kesehatan fisik, seperti sakit kepala, sakit perut dan ketegangan otot.
  • Rasa tidak aman saat berada di lingkungan sekolah.
  • Penurunan semangat belajar dan prestasi akademis.
  • Dalam kasus yang cukup langka, anak-anak korban bullying mungkin akan menunjukkan sifat kekerasan.

Dampak Positif

Di samping dampak negatifnya, bullying juga dapat mendorong munculnya berbagai perkembangan positif bagi anak-anak yang menjadi korban bullying. Anak-anak korban bullying cenderung akan:


  • Lebih kuat dan tegar dalam menghadapi suatu masalah.
  • Termotivasi untuk menunjukkan potensi mereka agar tidak lagi direndahkan.
  • Terdorong untuk berintrospeksi diri.

bullying

Cara Pencegahan dan Penanganan Tindakan Bullying

Berikut Ini Merupakan Cara Pencegahan dan Penanganan Tindakan Bullying:


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Cermin Cembung” Pengertian & ( Sifat – Manfaat )


  • Pencegahan dan penanganan pada korban bullying

Pencegahan :

Pencegahan agar tidak menjadi korban bullying dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti berikut :


  1. Jangan membawa barang-barang mahal atau uang yang berlebihan. Merampas, merusak, atau menyandera barang-barang korban adalah tindakan-tindakan yang biasanya dilakukan pelaku bullying. Karena itu, sebisa mungkin jangan beri mereka kesempatan dengan membawa barang-barang mahal atau uang yang berlebihan ke sekolah. Jika terpaksa, sembunyikan di tempat yang aman, titipkan ke guru atau teman yang dipercaya, atau setidaknya hindarkan meletakkan barang atau uang tersebut di tempat terbuka yang bisa menarik perhatian pelaku bullying.

  2. Jangan sendirian. Pelaku bullying melihat anak yang penyendiri sebagai mangsa yang potensial. Karena itu, jangan sendirian di dalam kelas, di lorong sekolah, atau di tempat-tempat sepi lainnya. Kalau memungkinkan, beradalah di tempat di mana guru atau orang dewasa lainnya dapat melihat anda. Akan lebih baik lagi jika anda bersama-sama dengan teman, atau mencoba berteman dengan anak-anak penyendiri lainnya yang kemungkinan juga telah menjadi korban. Anda mungkin tidak berdaya menghadapi pelaku bullying sendirian, namun anda akan lebih aman bersama-sama dengan yang lain.

  3. Jangan cari gara-gara dengan pelaku bullying. Jika anda tahu ada anak-anak tertentu yang tidak menyukai anda, atau sudah dikenal luas sebagai pelaku bullying, sebisa mungkin hindari berada di dekat mereka atau di area yang sama dengan mereka. Ini termasuk area di luar sekolah, seperti jalan yang biasa anda lewati ketika pergi atau pulang sekolah atau di dalam kendaraan jemputan. Kalau terpaksa, pastikan di situ ada orang dewasa (orangtua, guru, pegawai) yang bisa melerai perilaku bullying atau teman-teman anda.

  4. Bagaimana jika suatu saat anda tetap terperangkap dalam situasi bullying? Kuncinya adalah tampil percaya diri. Jangan perlihatkan diri anda seperti orang yang lemah atau ketakutan, seperti berdiri dengan postur yang tidak tegap, menunduk ketika diajak bicara atau menjawab dengan gugup. Tetaplah tenang, utarakan keberatan anda dengan tegas, lalu tinggalkan mereka.

    Jangan biarkan emosi anda terpancing dan membalas perbuatan mereka kecuali anda merasa punya cukup kemampuan untuk itu; jika tidak (misalnya karena pelaku membawa senjata atau jumlah pelaku jauh lebih banyak), anda hanya akan membuat situasi bertambah buruk. Lakukan perlawanan hanya sebagai alternatif terakhir untuk mempertahankan diri jika tidak memungkinkan untuk pergi dari situ.


  5. Terakhir, bullying hanya akan berhenti untuk seterusnya jika anda berani melapor pada orangtua, guru, atau orang dewasa lainnya yang anda percayai. Anda sama sekali bukan pengecut; butuh jauh lebih banyak keberanian untuk bertindak dan mencoba mengubah kondisi yang salah semampu anda daripada hanya berdiam diri dan berharap semua penderitaan yang anda rasakan akan berlalu dengan sendirinya.

Peran orang tua dalam pencegahan seorang anak agar tidak menjadi korban bullying sangat besar.  Berikut adalah tips bagi orang tua agar anak tidak menjadi korban bullying:


  1. Bekali anak dengan kemampuan untuk membela dirinya sendiri, terutama ketika tidak ada orang dewasa/guru/orang tua yang berada di dekatnya. Ini berguna untuk pertahanan diri anak dalam segala situasi mengancam atau berbahaya, tidak saja dalam kasus bullying. Pertahanan diri ini dapat berbentuk fisik dan psikis.

    1. Pertahanan diri Fisik : bela diri, berenang, kemampuan motorik yang baik (bersepeda, berlari), kesehatan yang prima.
    2. Pertahanan diri Psikis : rasa percaya diri, berani, berakal sehat, kemampuan analisa sederhana, kemampuan melihat situasi (sederhana), kemampuan menyelesaikan masalah.

  2. Bekali anak dengan kemampuan menghadapi beragam situasi tidak menyenangkan yang mungkin ia alami dalam kehidupannya. Untuk itu, selain kemampuan mempertahankan diri secara psikis seperti yang dijelaskan di atas. Maka yang diperlukan adalah kemampuan anak untuk bertoleransi terhadap beragam kejadian. Sesekali membiarkan (namun tetap mendampingi) anak merasakan kekecewaan, akan melatih toleransi dirinya.

  3. Walau anak sudah diajarkan untuk mempertahankan diri dan dibekali kemampuan agar tidak menjadi korban tindak kekerasan, tetap beritahukan anak kemana ia dapat melaporkan atau meminta pertolongan atas tindakan kekerasan yang ia alami (bukan saja bullying). Terutama tindakan yang tidak dapat ia tangani atau tindakan yang terus berlangsung walau sudah diupayakan untuk tidak terulang.

  4. Upayakan anak mempunyai kemampuan sosialisasi yang baik dengan sebaya atau dengan orang yang lebih tua. Dengan banyak berteman, diharapkan anak tidak terpilih menjadi korban bullying karena :
  5. Kemungkinan ia sendiri berteman dengan pelaku, tanpa sadar bahwa temannya pelaku bullying pada teman lainnya.

  6. Kemungkinan pelaku enggan memilih anak sebagai korban karena si anak memiliki banyak teman yang mungkin sekali akan membela si anak.
  7. Sosialisasi yang baik dengan orang yang lebih tua, guru atau pengasuh atau lainnya, akan memudahkan anak ketika ia mengadukan tindakan kekerasan yang ia alami.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Cermin Cekung” Pengertian & ( Sifat – Manfaat – Kegunaan )


Penanganan :

  1. Usahakan mendapat kejelasan mengenai apa yang terjadi pada korban bullying. Tekankan bahwa kejadian tersebut bukan kesalahannya.
  2. Bantu korban mengatasi ketidaknyamanan yang ia rasakan, jelaskan apa yang terjadi dan mengapa hal itu terjadi. Jangan pernah menyalahkan korban atas tindakan bullying yang ia alami.
  3. Minta bantuan pihak ketiga (guru atau ahli profesional) untuk membantu mengembalikan korban ke kondisi normal, jika dirasakan perlu dan untuk menangani pelaku.

  4. Bagi orang-orang yang dekat dengan korban (seperti orang tua), hendaknya amati perilaku dan emosi korban, bahkan ketika kejadian bully yang ia alami sudah lama berlalu (ingat bahwa biasanya korban menyimpan dendam dan potensial menjadi pelaku di kemudian waktu). Mereka harus bekerja samalah dengan pihak sekolah (guru) untuk membantu dan mengamati bila ada perubahan emosi atau fisik anak mereka. Waspada terhadap perbedaan ekspresi agresi yang berbeda yang ditunjukkan anak di rumah dan di sekolah (ada atau tidak ada orang tua/guru/pengasuh).

  5. Bagi orang tua, bina kedekatan dengan teman-teman anak. Cermati cerita mereka tentang anak. Waspadai perubahan atau perilaku yang tidak biasa.

  • Pencegahan dan penanganan pada pelaku bullying

Pencegahan :

Peran orang tua dalam pencegahan seorang anak agar tidak menjadi pelaku bullying sangat besar.  Berikut adalah tips agar anak tidak menjadi pelaku bullying:


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian, Bagian Dan Jenis Teleskop beserta Fungsinya Lengkap


  1. Anak dapat menjadi pelaku bullying antara lain bila ia mengalami rasa rendah diri. Karena itu, upayakan untuk mendidik anak dalam suasana penuh kasih sayang yang mendidik anak untuk memiliki kebanggaan pada dirinya sendiri. Kasih sayang yang nyata juga membuat anak merasa aman dan cenderung lebih mau bekerja sama dengan orang tua/guru. Namun hati-hati jangan sampai memanjakan anak yang berdampak kerugian di pihak anak.

  2. Waspada jika anak menunjukkan agresifitas yang berlebihan, terutama pada mereka yang lebih lemah (adiknya, pengasuh, teman bermain yang lebih kecil atau pendek badannya) atau bahkan binatang, tanaman dan mainannya.

  3. Jika anak anda pernah menjadi korban bully, untuk mencegah ia menjadi pelaku bullying di kemudian hari, mintalah bantuan ahlinya agar masalah terselesaikan dengan baik dan tidak ada dendam di kemudian hari. Amati perilaku dan kondisi emosi anak dari waktu ke waktu, bahkan ketika kejadian bully yang ia alami sudah lama berlalu.
  4. Usahakan selalu bersikap terbuka dan rajin berdiskusi dengan anak tentang berbagai hal. Selalu siap memberi komentar positif dan hindari menghakimi anak. Namun jangan sampai “mencelakakan” anak dengan memanjakan anak berlebihan.

Penanganan :

  1. Segera ajak pelaku bicara mengenai apa yang ia lakukan. Jelaskan bahwa tindakannya merugikan diri dan orang lain. Upayakan bantuan dari tenaga ahlinya agar masalah tertangani dengan baik dan selesai dengan tuntas.

  2. Cari penyebab pelaku melakukan hal tersebut. Penyebab menjadi penentu penanganan. Anak yang menjadi pelaku karena rasa rendah diri tentu akan ditangani secara berbeda dengan pelaku yang disebabkan oleh dendam karena pernah menjadi korban. Demikian juga bila pelaku disebabkan oleh agresifitasnya yang berbeda.
  3. Posisikan diri untuk menolong pelaku dan bukan menghakimi pelaku.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Perilaku Menyimpang : Pengertian, Ciri, Dan Jenis Beserta Contohnya Secara Lengkap


DAFTAR PUSTAKA
Amrih, Dian Pitoyo. 2008. “STOP BULLYING!”. http://www pitoyo.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=331. diakses pada 11 November 2012 pukul 13.32 WIB
Catshade. 2007. ““Bullying” dalam Dunia Pendidikan (bagian 2a): Mengenal Korban Lebih Jauh”.  http://popsy.wordpress.com/2007/07/20/%E2%80%9Cbullying%E2%80%9D-dalam-dunia-pendidikan-bagian-2a-mengenal-korban-lebih-jauh/. diakses pada 11 November 2012 pukul 13.37 WIB
Catshade. 2007. “Bullying” dalam Dunia Pendidikan (bagian 2b): Pelaku Juga Adalah “Korban.http://popsy.wordpress.com/2007/07/28/%E2%80%9Cbullying%E2%80%9D-dalam-dunia-pendidikan-bagian-2b-pelaku-juga-adalah %E2%80%9
Ckorban%E2%80%9D/. diakses pada 11 November 2012 pukul 13.48 WIB
Ohandi, Max Andre. 2012. “Bullying di Sekolah”. http://edukasi.kompasiana com/2012/08/02/bullying-di-sekolah/. diakses pada 11 November 2012 pukul 14.03 WIB
Riauskina, I. I., Djuwita, R., dan Soesetio, S. R. 2005. ”Gencet-gencetan” di mata siswa/siswi kelas 1 SMA: Naskah kognitif tentang arti, skenario, dan dampak ”gencet-gencetan”. Jurnal Psikologi Sosial, 12 (01), 1 – 13