Suku Lematang – Sejarah, Kehidupan, Bahasa, Sosial, Agama, Kebutuhan, Kepercayaan

Diposting pada

Suku Lematang – Sejarah, Kehidupan, Bahasa, Sosial, Agama, Kebutuhan, Kepercayaan : Lematang adalah satu suku yang sebagian besar populasinya tinggal di sepanjang pinggir Sungai Lematang dan daerah sekitarnya, terbentang dari Kabupaten Lahat sampai ke Kabupaten Muara Enim.


Suku Lematang

Lematang adalah satu suku yang sebagian besar populasinya tinggal di sepanjang pinggir Sungai Lematang dan daerah sekitarnya, terbentang dari Kabupaten Lahat sampai ke Kabupaten Muara Enim. Di Kabupaten Lahat, mereka tinggal di wilayah Pulau Pinang, Lahat, dan Merapi. Di Kabupaten Muara Enim, mereka tinggal di wilayah Muara Enim, Gunung Megang, dan Tebat Agung. Tempat orang-orang Lematang tinggal terletak sekitar 25-100 meter di atas permukaan laut. Dialek Lematang mirip dengan dialek Enim.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Suku Talaud” Sejarah & ( Bahasa – Mata Pencaharian – Kekerabatan – Kepercayaan )


Seringnya dua suku itu berbaur mungkin menyebabkan kemiripan ini, atau mungkin kedua suku itu memiliki nenek moyang yang sama dan dialek mereka berbeda karena pemisahan secara geografis. Orang Enim tinggal di sepanjang Sungai Enim, yang mengalir ke Sungai Lematang. Di Kota Muara Enim, tempat Sungai Enim dan Sungai Lematang bertemu, sangatlah sulit membedakan orang Lematang dengan orang Enim.


Di situ, kedua suku sebagian besar telah menjadi sama. Seseorang yang tinggal di Muara Enim bisa dianggap baik sebagai orang Enim maupun Lematang. Dialek Lematang merupakan bagian dari bahasa Musi yang meliputi Pegagan, Musi, Rawas, Palembang, Penesak, dan Belide.


Profil Suku Lematang

Populasi: 305.000
Bahasa Utama: Musi
Agama Terbanyak: Islam (99.70%)
Kristen: 0.30%
Kemajuan: %
Ukuran Kemajuan: %


Sejarah Suku Lematang

Lematang merupakan kelompok masyarakat asli di Sumatera Selatan yang berdiam di sepanjang alirasan Sungai Lematang. Wilayah kediaman mereka dimulai dari kota Lahat yang termasuk Kabupaten Lahat hingga ke daerah Lematang llir Ogan Tengah yang termasuk dalam Kabupaten Muara Enim.


Secara umum orang Lematang dan beberapa suku bangsa lain yang berdiam di daerah ini, sering disebut orang Lahat “Jeme Lahat”, tetapi setiap kelompok mengenal nama-nama sendiri yang biasanya disesuaikan dengan nama daerah tempat tinggal mereka, misalnya orang Kikim, orang Lintang dan sebagainya.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Suku Tamiang” Sejarah & ( Mata Pencaharian – Kekerabatan – Bahasa – Agama – Kepercayaan )


Kehidupan Suku Lematang

Tidak seperti bahasa Sunda dan Jawa, bahasa Lematang tidak memiliki tingkat cara berbicara yang berbeda dengan serangkaian kosakata yang mengindikasikan tingkat jarak sosial. Akan tetapi, terdapat perbedaan cara berbicara dialek Lematang yang menunjukkan keakraban dan kesopanan. Orang-orang yang lebih tua biasanya menggunakan cara bicara yang lebih sopan saat saling bercakap-cakap.


Anak-anak juga menggunakan cara bicara yang sopan ketika berbicara kepada orang-orang yang lebih tua. Namun, orang-orang yang lebih tua menggunakan cara bicara yang lebih akrab ketika berbicara kepada anak-anak. Orang-orang yang lebih muda berbicara dengan cara bicara yang akrab dengan sesama orang muda. Jadi, sikap berbicara seseorang, entah akrab atau sopan, menjadi ukuran tingkat penghormatan dari orang yang berbicara kepada orang yang diajak berbicara.


Hubungan antara suku Lematang dan orang dari luar biasanya cukup ramah. Akan tetapi, suku Lematang menganggap sifat arogan menjadi sebuah penghalang sosial yang besar. Suku Lematang memiliki ungkapan: “Jangan menikah dengan orang sombong”. Kesombongan diukur terutama dengan kualitas dari hubungan seseorang.


Mereka juga suka menenangkan orang-orang luar yang datang ke daerah mereka dengan mengatakan bahwa ini adalah daerah yang aman. Ini menunjukkan bahwa suku Lematang terbuka untuk berhubungan dengan siapa saja, tetapi menghargai kesopanan dan rasa hormat. Usaha pohon karet adalah mata pencaharian utama orang-orang Lematang.


Bagi orang-orang Lematang yang tinggal di dekat sungai, menanam padi di lahan yang berair adalah cara lain untuk mencari nafkah. Salah satu ciri yang menarik dari suku Lematang adalah bahwa mereka biasanya lebih rajin dalam bekerja ketika mereka tinggal di luar daerah mereka sendiri, misalnya, di daerah Lembak.


Orang-orang Lematang yang tinggal di luar daerah mereka, ada yang berjualan daun singkong, buah, dan melakukan pekerjaan kecil untuk menghasilkan pendapatan yang sedikit. Mata pencaharian ini di luar dari apa yang biasanya dilakukan orang-orang Lematang di daerah mereka sendiri.


Bahasa Suku Lematang

Orang Lematang menggunakan bahasa Lematang yang termasuk rumpun bahasa Melayu. Jumlah orang Lematang kini tidak dapat diketahui secara pasti, karena di daerah ini mereka hidup berdampingan dengan suku bangsa lain. Sebagai gambaran pada tahun 1988 penduduk Kabupaten Lahat berjumlah 611.523 jiwa.


Tingkat pembauran antar suku bangsa di daerah ini cukup tinggi, karena kota Lahat merupakan daerah lintas antar Provinsi di Sumatera Selatan. Di kabupaten Muara Enim, orang Lematang terutama bermukim di Kecamatan Muara Enim dan Kecamatan Gunung Magang. Pada tahun 1985 penduduk Kabupaten Muara Enim berjumlah 488.384 jiwa, penduduk Kecamatan Muara Enim berjumlah 39.966 jiwa dan penduduk kecamatan Gunung Magang berjumlah 44.944 jiwa.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Suku Tanimbar” Sejarah & ( Bahasa – Mata Pencaharian – Kekerabatan – Kepercayaan )


Desa-desa orang Lematang umumnya didirikan di sekitar sungai yang banyak terdapat di daerah ini. Pada masa lalu sungai biasanya dijadikan jalur transportasi antara desa yang satu dan lainnya. Sebuah desa dipimpin oleh seorang rie “kepala desa” yang dipilih langsung oleh warga desa.


Selain mengawasai kehidupan warga desanya, seorang rie juga berfungsi sebagai kepala adat yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan upacara-upacara dalam desa. Golongan lain yang terlibat dalam pelaksanaan upacara ialah para pemuka adat “jurat tue”, sebelum upacara dilaksanakan, para warga dan rie selalu memohon ijin kepada jurat tue dengan tujuan agar upacara berjalan lancar.


Sosial Budaya Suku Lematang

Sosial Budaya Pada umumnya orang Lematang bekerja di bidang pertanian dan perkebunan. Hasil utamanya antara lain : kopi, karet, kelapa sawit, dan tanaman keras lainnya. Mereka memiliki lahan pertanian yang luas sehingga tidak kesulitan mencari lapangan pekerjaan. Tetapi di satu sisi hal itu menyebabkan kecenderungan tidak biasa bekerja keras. Dari hasil pertanian dan perkebunan serta hasil sungai (koral) menjadikan mereka berkecukupan.


Mata Pencaharian Suku Lematang

Bertanam padai di sawah merupakan mata pencaharian yang sudah dikenal oleh masyarakat Lematang sejak beberapa generasi sebelumnya. Dalam mengerjakan tanah persawahan “badahe setue” dikenal kegiatan gotong royong di antara sesama warga desa. Sebelum menanam padi, para pemilik tanah persawahan biasanya mengadakan upacara sedekah rame. Upacara ini merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan orang Lematang, karena pelaksanaannya melibatkan hampir seluruh warga masyarakat.


Sebelum upacara dilaksanakan terlebih dahulu diadakan pertemuan dengan jurat tue untuk meminta ijin. Upacara dipimpin oleh rie dan dilaksanakan oleh para pemilik sawah, pemuka masyarakat dan warga desa lainnya. Tujuan pelaksanaan upacara ini ialah meminta perlindungan dari Tuhan agar seluruh pekerjaan di sawah berjalan lancar dan hasil yang diperoleh memuaskan.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Suku Tamiang” Sejarah & ( Mata Pencaharian – Kekerabatan – Bahasa – Agama – Kepercayaan )


Sebagai masyarakat yang tinggal disekitar hutan masih menjalankan perladangan berpindah-pindah. Perladangan di daerah ini menghasilkan kopi, kayu manis, cengkeh dan sebagainya. Selain menanam padi, mereka juga menanam jagung, ubi jalar, kacang-kacangan, buah-buahan dan sayur-sayuran. Pekerjaan lainnya ialah beternak dan menangkap ikan di sungai. Di beberapa daerah, terutama di sekitar Sungai Lematang, penduduk juga bekerja di penambangan pasir dan batu koral.


Agama Dan Kepercayaan Suku Lematang

Orang Lematang ialah pemeluk agama Islam, walaupun demikian sisa kepercayaan asli yang bersifat animisme masih terlihat dalam kehidupan masyarakat. Selain masih mengadakan berbagai upacara, mereka juga mempercayai adanya makhluk-makhluk gaib, misalnya roh nenek moyang pembuka areal persawahan dan sebagainya. Tetapi dalam pelaksanaan upacaranya biasanya doa-doa yang dibacakan tercampur dengan doa-doa agama Islam.


Kebutuhan Suku Lematang

Kebutuhan orang Lematang saat ini adalah pembinaan sumber daya manusia baik dalam bidang pendidikan maupun dalam pembinaan mental agar bisa menghadapi kemajuan jaman yang penuh dengan persaingan yang ketat. Di bidang pendidikan, banyak anak Lematang yang kurang pendidikan sehingga sistem anak asuh perlu diprogram.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Suku Bentong” Sejarah & ( Bahasa – Mata Pencaharian – Kekerabatan – Agama – Kepercayaan )