√ Alat Reproduksi Pria

Diposting pada

√ 10 Organ Alat Reproduksi Pria & Fungsinya (Bahas Lengkap) – Organ reproduksi merupakan organ yang sangat penting bagi manusia. Mulai bekerja setelah pertumbuhan yang matang pada tubuh manusia. Dimulai dengan gejala puberitas. Pada masing-masing jenis kelamin mempunyai perbedaan sistem reproduksi, yaitu antara pria dan wanita. Struktur luar dari sistem reproduksi pria terdiri dari penis, skrotum (kantung zakar) dan testis (buah zakar). Struktur dalamnya terdiri dari vas deferens, uretra, kelenjar prostat dan vesikula seminalis.

Alat-Reproduksi-Pria

Organ dari sistem reproduksi laki-laki mempunyai fungsi sebagai berikut:

  • Untuk menghasilkan, menjaga, dan transportasi sperma (sel reproduksi laki-laki) dan cairan pelindung (semen)
  • Untuk mengantarkan semen yang mengandung sperma ke dalam alat genital wanita
  • Untuk memproduksi dan sekresi hormon seks pria

√ 10 Organ Alat Reproduksi Pria dan Fungsinya (Bahas Lengkap)

  1. Penis

Penis

Penis adalah organ pada pria untuk melakukan hubungan seksual dan memiliki tiga bagian:

  • akar, yang melekat pada dinding perut
  • Bagian badan atau batang
  • Glans, merupakan ujung penis yang berbentuk seperti kerucut

Glans, atau disebut juga dengan kepala penis, ditutupi dengan lapisan kulit longgar yang disebut kulup. (Kulit ini kadang-kandang dibuang dalam proses sunat.)
Ujung dari saluran uretra, saluran yang mengangkut semen dan urin, berada pada ujung glans. Pada penis juga terdapat sejumlah ujung syaraf yang sensitif.

Bagian badan penis berbentuk silinder dan terdiri dari tiga bilik. Bilik-bilik ini terdiri dari jaringan khusus seperti spons yang bernama jaringan erektil. Jaringan ini berisi ribuan ruang besar dan dapat diisi dengan darah ketika laki-laki tersebut terangsang secara seksual. Apabila penis terisi dengan darah, ia menjadi kaku dan tegak, yang memungkinkan untuk penetrasi selama hubungan seksual. Kulit penis longgar dan elastis yang memungkinkan perubahan ukuran penis saat ereksi.

Semen, yang mengandung sperma, dikeluarkan (ejakulasi) melalui ujung penis ketika laki-laki tersebut mencapai klimaks seksual (orgasme). Ketika penis ereksi, aliran urin diblokir dari saluran uretra sehingga hanya semen yang keluar pada saat orgasme/ejakulasi.

  1. Skrotum

Skrotum

Skrotum adalah kulit berbentuk kantong-kantong longgar yang menggantung di belakang penis dan berisi buah zakar (atau disebut juga testis), serta banyak syaraf dan pembuluh darah. Skrotum berfungsi untuk melindungi dan pengatur suhu testis. Untuk perkembangan sperma secara normal, testis harus berada pada suhu sedikit lebih rendah dari suhu tubuh. Dengan otot khusus pada dinding skrotum yang dapat berkontraksi dan relaksasi. Saat berkontraksi, skrotum dapat mendekatkan testis ke tubuh sehingga menjadi hangat dan sebaliknya saat berelaksasi testis akan menjauh dari tubuh untuk menurunkan suhunya.

  1. Buah Zakar ( Testis )

Testis

Testis adalah organ berbentuk oval dan berukuran sebesar buah zaitun yang terletak pada skrotum. Kebanyakan pria memiliki dua testis. Testis bertanggung jawab dalam pembuatan hormon testosteron, hormon seks pria yang utama, dan untuk menghasilkan sperma. Dalam testis terdapat gulungan saluran yang disebut dengan tubulus seminiferus. Tubulus ini memproduksi sel-sel sperma melalui proses spermatogenesis.

  1. Epididimis

Epididimis

Epididimis merupakan saluran panjang dan bergulung dan melekat pada bagian belakang testis. Epididimis berfungsi dalam pengangkutan dan penyimpanan sel sperma yang diproduksi oleh testis. Kemudian, epididimis juga bertugas untuk maturasi atau pendewasaan sel sperma, karena sel sperma yang belum dewasa tidak dapat melakukan fertilisasi. Saat terjadi rangsangan seksual, terjadi kontraksi pada epididimis yang membawa sel sperma ke vas deferens.

  1. Vas Deferens

Vas Deferens

Vas Deferens adalah saluran berotot yang menghubungkan antara epididimis dengan vesikula seminalis yang terletak di belakang kandung kemih. Vas deferens mengangkut sperma matang ke uretra untuk persiapan ejakulasi.

  1. Saluran Ejakulasi

Saluran-Ejakulasi

Dibentuk dari gabungan antara vas deferens dan vesikula seminalis. Saluran ini berakhir di uretra.

  1. Uretra

Uretra

Uretra adalah saluran yang membawa urin deri kandung kemih ke luar tubuh. Pada laki-laki, ia mempunyai fungsi tambahan untuk mengeluarkan (ejakulasi) semen ketika pria mencapai orgasme. Ketika penis ereksi, aliran urin diblokir dari saluran uretra sehingga hanya semen yang keluar pada saat orgasme/ejakulasi.

  1. Vesikula Seminalis

Vesikula-Seminalis

Vesikula Seminalis adalah kantong yang menempel pada kandung kemih. Vesikula Seminalis menghasilkan cairan kaya gula (fruktosa) yang berfungsi untuk memberi makan sperma dan membantu dalam mobilitas sperma (kemampuan untuk bergerak). Cairan dari vesikula seminalis memberikan kontribusi terbanyak dalam menambah volume semen pada pria.

  1. Kelenjar Prostat

Kelenjar-Prostat

Kelenjar prostat adalah kelenjar berbentuk seperti kacang walnut yang erletak dibawah kandung kemih dan dekat dengan rektum. Kelenjar prostat memberikan kontribusi cairan tambahan untuk ejakulasi. Cairan prostat juga membantu memelihara sperma.

  1. Kelenjar Cowperi

Kelenjar-Cowperi

Kelenjar bulbouretral, atau kelenjar cowper adalah kelenjar berbentuk seperti kacang Pea dan terletak tepat di bawah kelenjar prostat. Kelenjar ini menghasilkan cairan yang licin dan bening dan bermuara pada uretra. Cairan ini berfungsi untuk melumasi uretra dan menetralisir keasaman yang terjadi akibat sisa-sisa urin dalam saluran uretra.


  • Bagaimana fungsi sistem reproduksi laki-laki?

Sistem reproduksi laki-laki secara keseluruhan bergantung pada hormon, yang merangsang atau mengatur aktivitas sel-sel atau organ. Hormon-hormon utama yang terlibat dalam fungsi sistem reproduksi laki-laki adalah follicle-stimulating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH) dan testosteron.

FSH dan LH diproduksi oleh kelenjar pituitari yang terletak di dasar otak. FSH diperlukan untuk memproduksi sperma (spermatogenesis), dan LH merangsang produksi testosteron, yang diperlukan untuk melanjutkan proses spermatogenesis. Testosteron juga penting dalam pengembangan karakteristik pria, termasuk massa dan kekuatan otot, distribusi lemak, massa tulang dan dorongan / hasrat seks.


  • Apakah seorang pria dapat mengalami “Menopause” ?

Menopause adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan akhir dari fungsi normal menstruasi wanita. Seorang wanita menopause ditandai dengan perubahan dalam produksi hormon. Tetapi testis tidak seperti ovarium yang bisa kehilangan kemampuan untuk membuat hormonnya. Seorang pria yang sehat masih dapat memproduksi spermanya pada usia 80 tahun atau lebih.

Di sisi lain, perubahan secara perlahan-lahan pada fungsi testis dapat terjadi pada usia 45 sampai 50 tahun, dan perubahan drastis terjadi ketika memasuki usia 70 tahun. Kebanyakan pria, produksi hormonnya bisa tetap normal meskipun menginjak usia tua. Sedangkan sisanya mengalami penurunan akibat penyakit seperti diabetes.

Selain itu penurunan fungsi testis yang menyebabkan gejala kelelahan, depresi, atau impotensi masih belum jelas kaitannya.


  • Bisakah “Menopause” pada pria disembuhkan?

Jika kadar hormon testosteron dalam darah rendah, terapi dengan injeksi hormon dapat meringankan gejala seperti kehilangan gairah seks, depresi, dan kelelahan. Namun, hal tersebut dapat memperparah kanker prostat dan aterosklerosis (pengerasan pada arteri).

Sebelum memulai terapi penambahan hormon, seorang peria harus menjalani pemeriksaan fisik lengkap dan uji laboratorium terlebih dahulu. Tetapi manfaat dari terapi ini untuk pria muda masih meninggalkan tanda tanya.

  • Spermatogenesis

Spermatogenesis terjadi di dalam di dalam testis, tepatnya pada tubulus seminiferus. Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal dengan melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang mana bertujuan untuk membentu sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis.

Dinding tubulus seminiferus tersusun dari jaringan ikat dan jaringan epitelium germinal (jaringan epitelium benih) yang berfungsi pada saat spermatogenesis. Pintalan-pintalan tubulus seminiferus terdapat di dalam ruang-ruang testis (lobulus testis). Satu testis umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis. Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel benih) yang disebut spermatogonia (spermatogonium = tunggal).


Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel tubulus seminiferus. Spermatogonia terus-menerus membelah untuk memperbanyak diri, sebagian dari spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma.

Pada tahap pertama spermatogenesis, spermatogonia yang bersifat diploid (2n atau mengandung 23 kromosom berpasangan), berkumpul di tepi membran epitel germinal yang disebut spermatogonia tipe A. Spermatogenia tipe A membelah secara mitosis menjadi spermatogonia tipe B.


Kemudian, setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya menjadi spermatosit primer yang masih bersifat diploid. Setelah melewati beberapa minggu, setiap spermatosit primer membelah secara meiosis membentuk dua buah spermatosit sekunder yang bersifat haploid. Spermatosit sekunder kemudian membelah lagi secara meiosis membentuk empat buah spermatid.

Spermatid merupakan calon sperma yang belum memiliki ekor dan bersifat haploid (n atau mengandung 23 kromosom yang tidak berpasangan). Setiap spermatid akan berdiferensiasi menjadi spermatozoa (sperma). Proses perubahan spermatid menjadi sperma disebut spermiasi.


Ketika spermatid dibentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel. Namun, setelah spermatid mulai memanjang menjadi sperma, akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor.
Kepala sperma terdiri dari sel berinti tebal dengan hanya sedikit sitoplasma. Pada bagian membran permukaan di ujung kepala sperma terdapat selubung tebal yang disebut akrosom. Akrosom mengandung enzim hialuronidase dan proteinase yang berfungsi untuk menembus lapisan pelindung ovum.


Pada ekor sperma terdapat badan sperma yang terletak di bagian tengah sperma. Badan sperma banyak mengandung mitokondria yang berfungsi sebagai penghasil energi untuk pergerakan sperma.

Semua tahap spermatogenesis terjadi karena adanya pengaruh sel-sel sertoli yang memiliki fungsi khusus untuk menyediakan makanan dan mengatur proses spermatogenesis.


  • Hormon Pada Pria

Proses spermatogenesis distimulasi oleh sejumlah hormon, yaitu testoteron, LH (Luteinizing Hormone), FSH (Follicle Stimulating Hormone), estrogen dan hormon pertumbuhan.

  1. Testoteron

Testoteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus. Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk membentuk sperma, terutama pembelahan meiosis untuk membentuk spermatosit sekunder.

 

  1. LH (Luteinizing Hormone)

LH disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. LH berfungsi menstimulasi sel-sel Leydig untuk mensekresi testoteron

  1. FSH (Follicle Stimulating Hormone)

FSH juga disekresi oleh sel-sel kelenjar hipofisis anterior dan berfungsi menstimulasi sel-sel sertoli. Tanpa stimulasi ini, pengubahan spermatid menjadi sperma (spermiasi) tidak akan terjadi.

  1. Estrogen

Estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Sel-sel sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat testoteron dan estrogen serta membawa keduanya ke dalam cairan pada tubulus seminiferus. Kedua hormon ini tersedia untuk pematangan sperma.

  1. Hormon Pertumbuhan

Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur fungsi metabolisme testis. Hormon pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan awal pada spermatogenesis.


  • Gangguan Reproduksi Pada Pria

  1. Hipogonadisme

Hipogonadisme adalah penurunan fungsi testis yang disebabkan oleh gangguan interaksi hormon, seperti hormon androgen dan testoteron. Gangguan ini menyebabkan infertilitas, impotensi dan tidak adanya tanda- tanda kepriaan. Penanganan dapat dilakukan dengan terapi hormon.

Disfungsi erektil yang disebut impotens, adalah ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk menyelesaikan koitus. Pasien dapat melaporkan penurunan frekuensi ereksi, ketidakmampuan untuk mencapai ereksi yang keras atau detumescence ( menghilangkan ereksi ) yang cepat.


  1. Kriptorkidisme

Kriptorkidisme adalah kegagalan dari satu atau kedua testis untuk turun dari rongga abdomen ke dalam skrotum pada waktu bayi. Hal tersebut dapat ditangani dengan pemberian hormon human chorionic gonadotropin untuk merangsang terstoteron. Jika belum turun juga, dilakukan pembedahan.


  1. Masalah – masalah Ejakulasi

Ejakulasi premature terjadi ketika pria tidak dapat secara sadar mengontrol reflex ejakulasi dan sekali terangsang, pria akan langsung mencapai orgasme atau segera setelah masuk ke liang vagina ( intromisi ). Kondisi ini merupakan disfungsi umum pada pria.

Ejakulasi Lambat ( Retarded Ejaculation ). Ejakulasi lambat adalah penghambatan imvolunter reflek ejakulasi . berbagai respon mencakup ejakulasi okasional melalui hubungan seksual atau stimulasi mandiri atau ketidakmampuan komplit untuk ejakulasi di bawah segala situasi.


  1. Gangguan Akibat Kekurangan Testosteron.

Tidak ada atau berkurangnya testosteron dalam perkembangan embrio/janin dengan kromosom XY mengakibatkan terbentuknya genitalia eksternal perempuan atau genitalia eksternal ganda. Pada perkembangan janin tahap akhir, testis turun dari abdomen ke skrotum atas pengaruh testosteron. Jika kadar testosteron tidak memadai, maka testis tidak akan turun. Keadaan ini, kriptorkidisme, berkaitan dengan adanya kemungkinan terjadin penyakit di kemudian hari.


Abnormalitas kadar testosteron pada masa pra pubertas dan pubertas mengakibatkan terlambatnya penutupan epifisis ddan proporsi kerangka eunukoid dengan rentang lengan lebih panjang 2 inci atau lebih tinggi dari tinggi badan, dan jarak dari tumit sampai tulang pubis dua inci atau lebih panjang dari jarak tulang pubis sampai ke puncak kepala.

Selain itu, perubahan-perubahan lain akibat pengaruh testosteron seperti suara yang dalam; pertumbuhan rambut pubis dan aksila; pertumbuhan jenggot; testis, penis, dan ukuran prostat; dan perkembangan bentuk tubuh laki-laki tidak akan terjadi. Hipogonadisme sebelum pubertas mengakibatkan eunukoidisme.


Pada laki-laki dewasa, testosteron berfungsi mempertahankan karakteristik seksual laki-laki, akan tetapi hilangnya testosteoron biasanya secara klinis tidak jelas. Namun demikian, testosteron dalam jumlah yang tidak memadai pada masa dewasa akan mengakibatkan fungsi seksual yang buruk (yaitu, impotensi dan hilangnya libido); dan kualitas serta kuantitas sperma yang buruk (yaitu, infertilitas).


  • Penyakit Sistem Reproduksi Pria

  1. Sifilis

Sifilis adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh bakteri. Tanda-tanda sifilis, antara lain terjadinya luka pada alat kelamin, rektum, lidah, dan bibir; pembengkakan getah bening pada bagian paha; bercak-bercak di seluruh tubuh; tulang dan sendi terasa nyeri ruam pada tubuh, khususnya tangan dan telapak kaki.

Tanda-tanda penyakit ini dapat hilang, namun bakteri penyebab penyakit tetap masih di dalam tubuh, setelah beberapa tahun dapat menyerang otak sehingga bisa mengakibatkan kebutaan dan gila. Penyakit ini dapat disembuhkan jika dilakukan pengobatan dengan penggunaan antibiotik secara cepat.

  1. Gonore (kencing nanah)

Gonore (kencing nanah) disebabkan oleh bakteri. Gejala dari gonore, antara lain keluarnya cairan seperti nanah dari saluran kelamin; rasa panas dan sering kencing. Bakteri penyebab penyakit ini dapat menyebar ke seluruh tubuh sehingga menyebabkan rasa nyeri pada persendian dan dapat mengakibatkan kemandulan.

Penyakit ini dapat disembuhkan jika dilakukan pengobatan dengan penggunaan antibiotik secara cepat.

  1. Herpes Genetalis

Herpes genetalis disebabkan oleh virus. Virus penyebab penyakit herpes genetalis adalah Herpes simpleks. Gejala penyakit herpes genetalis, antara lain timbulnya rasa gatal atau sakit pada daerah kelamin dan adanya luka yang terbuka atau lepuhan berair.


  • Kelainan Sistem Reproduksi Pria

Alat kelamin laki-laki dan perempuan terbentuk dari jaringan yang sama dalam embrio. Ketika bertindak berdasarkan testosteron tingkat tinggi sebelum lahir (sama pada janin laki-laki normal), kelamin menjadi penis, skrotum, dan penile urethra. Rendah atau tidak adanya tingkat testosteron membuat terbentuknya klitoris, labia majora, dan separate vaginal dan saluran urethral.

Testosteron tingkat intermediate menyebabkan kelamin rancu ; kelamin laki-laki memiliki penis dan testikel kecil yang menetap di perut sebagai gantinya masuk kedalam skrotum (undescended testicle, juga dikenal sebagai cryptorchidism), dan kelamin wanita memiliki klitoris yang membesar dan menyatu dengan labia. Penampakan kelamin pada kedua kelamin sangat mirip.


Pseudohermaphroditism pada laki-laki (better termed undervirilized 46,XY intersex), terjadi pada kelamin laki-laki yang memiliki kelamin luar yang terlihat sebagai wanita tetapi memiliki undescended testikel. Pseudohermaphroditism kemungkinan disebabkan oleh kekurangan sebelum lahir pada hormon kelamin laki-laki (androgen), sebuah kemampuan jaringan tubuh untuk bereaksi terhadap androgen, mengarah kepada hormon kelamin wanita (estrogen), atau ketidakmampuan kromosom.


Setelah terbentuk, testis memproduksi lebih banyak androgen tubuh laki-laki. Tidak ada atau tidak terbentuknya testis disebabkan kekurangan androgen.

Kekurangan androgen selama masa kanak-kanak menyebabkan pembentukan kelamin yang tidak sempurna. Anak laki-laki yang terkena mendapatkan suara yang melengking dan otot pembentukan yang lemah untuk seusianya. Penis, testis, dan skrotum tidak terbentuk. Rambut di kelamin dan rambut di ketiak adalah tipis, dan lengan serta kaki panjangnya tidak normal.


Kekurangan androgen bisa diobati dengan testosteron. Testosteron tersebut biasanya diberikan dengan suntikan atau melalui lapisan kulit. Suntikan dan aplikasi kulit menyebabkan beberapa efek samping dibandingkan menggunakan testosteron yang diminum. Testosteron merangsang pertumbuhan, perkembangan kelamin, dan kesuburan.


  • Mitos Seputar Sperma

Flu dapat mempengaruhi kesuburan.  Benar bahwa penyakit yang menyebabkan demam mempengaruhi produksi dan kualitas sperma tetapi tidak mempengaruhi fertilitas dalam 2 sampai 3 bulan.

Bersepeda merusak sistem reproduksi.  Tidak sedramatis itu, tetapi bila dikaitkan dengan suhu skrotum, bersepeda lebih dari 30 menit akan meningkatkan suhu skrotum dan mempengaruhi produksi sperma lebih lagi penggunaan celana bersepeda yang ketat.

Gaya hidup sehat, hindari hal-hal yang mempengaruhi fertilitas tentunya akan meningkatkan probabilitas keberhasilan upaya mendapatkan anak.  Konsultasikan ke dokter untuk analisa sperma.  Demikian pula untuk kesehatan reproduksi calon ibu.


Faktor yang Membahayakan Sperma

  • Hati-hati bahaya racun. Termasuk di dalamnya perlengkapan rumah tangga yang tidak food grade, pestisida, lingkungan yang terkontaminasi logam berat dsb.
  • Jauhi rokok. Sperma pria perokok  bergerak lebih lambat daripada pria bukan perokok.
  • Batasi alcohol karena dapat menurunkan kualitas dan kuantitas sperma.
  • Jauhi narkoba karena dapat menurunkan densitas dan motilitas sperma, di samping meningkatkan sperma abnormal.
  • Hindari sauna atau mandi berendam di bak panas. Berendam 30 menit lebih di air bersuhu 40 C atau lebih dapat menurunkan jumlah sperma.
  • Jaga daerah pribadi anda tetap sejuk. Peningkatan suhu di wilayah skrotum dapat mengganggu produksi sperma.
  • Hindari pelumas selama hubungan pasutri.
  • Penting! Bagi pria yang dalam perawatan seperti diabetes, darah tinggi, asam urat, kemoterapi, konsultasikan dengan dokter mengenai perawatan tersebut dengan masalah fertilitas).

  • Proses Pematangan Sperma

Setelah sperma terbentuk di tubulus seminiferus, sperma membutuhkan waktu beberapa hari untuk melewati saluran tersebut yang panjangnya 6 meter di tiap lobusnya. Sperma yang bergerak dari tubulus seminiferus dan di bagian awal epididimis ini tidak motil dan tidak dapat membuahi ovum, tapi setelah 18-24 jam berada di epididimis, sperma memiliki kemampuan motilitas, walaupun masih ada beberapa inhibitor protein yang dalam cairan epididimis ini masih mencegah motilitas sampai sperma tersebut dikeluarkan dalam proses ejakulasi (ada juga yang di simpan di vas deferens dalam keadaan ini sperma dapat dipertahankan hingga 1 bulan dalam keadaan inaktif oleh berbagai inhibitor dari sekresi duktus-duktus).


  • Regulasi Hormon Kontrol pada Pria

Pada masa pubertas, sel-sel neurosecretory di hypothalamus aka meningkatkan sekresinya terhadap Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH). Dimana GnRH kemudian akan menstimulasi gonadotrop pada anterior pituitary untuk meningkatkan sekresinya terhadap dua gonadotropin : FSH dan LH.

LH menstimulasi sel-sel leydig yang berlokasi di tubulus seminiferus untuk mensekresi hormone testosterone. Di beberapa sel target, enzim 5 alpha-reductase akan mengubah testosterone menjadi androgen lain yang disebut dihidroxytestosteron (DHT).


FSH juga bekerja secara tidak langsung untuk menstimulasi spermatogenesis. FSH dan testosterone bekerja secara sinergis pada sel-sel sertoli untuk menstimulasi sekresi androgen binding protein (ABP). ABP berikatan dengan testosterone dan menjaga agar konsentrasinya tetap tinggi.

Kemudian testosterone menstimulasi tahapan terakhir spermatogenesis di tubulus seminiferus. Sekalinya tingkatan spermatogenesis yang dibutuhkan untuk fungsi reproduksi telah mencapai levelnya, sel-sel sertoli akan mengeluarkan inhibin. Dimana inhibin adalah hormone yang berfungsi untuk menghambat sekresi FSH oleh anterior pituitary.

Dan selanjutnya melalui negative feedback, testosterone menghambat sekresi LH oleh gonadotroph pada anterior pituitary dan menghambat sekresi GnRH oleh sel-sel neurosecretory hypothalamus.


Baca Juga :

DAFTAR PUSTAKA
  1. Prestasi Guru Biologi SMA YPVDP, Sistem Reproduksi pada Pria., http://prestasiherfen.blogspot.com/2011/06/sistem-reproduksi-pada-pria.html
  2. Guru Ngeblog, Sistem Reproduksi pada Manusia,
http://gurungeblog.wordpress.com/2008/10/31/sistem-reproduksi-pada-manusia-pria/
  1. Dahlan Forum, Kelainan dan Penyakit pada Sistem Reproduksi.,
http://dahlanforum.wordpress.com/2009/08/25/kelainan-dan-penyakit-pada-sistem-reproduksi/