Materi Tajuk Rencana

Diposting pada

tajuk-rencana

Pengertian Tajuk Rencana

Tajuk rencana adalah artikel pokok dalam surat kabar yang merupakan pandangan redaksi terhadap peristiwa yang sedang menjadi pembicaraan pada saat surat kabar itu diterbitkan. Dalam tajuk rencana biasanya diungkapkan adanya informasi atau masalah aktual, penegasan pentingnya masalah, opini redaksi tentang masalah tersebut, kritik dan saran atas permasalahan, dan harapan redaksi akan peran serta pembaca (id.wikipedia.org).

  • Sudiana ( 1984:1), Advertorial adalah bentukan dari iklan dan tajuk rencana. Pengertian iklan sendiri, menurut Dendi Sudiana, merupakan bagian dari reklame yang berasal dari bahasa Prancis, RE-clamere yang berarti meneriakan berulang-ulang.
  • Wells (1992), Periklanan adalah komuinikasi non-personal yang dibayar oleh pihak sponsor yang menggunakan media massa untuk membujuk dan mempengaruhi audience.
  • Kleppner, Iklan berasal dari bahasa latin, ad-vere yang berarti mengoperkan pikiran dan gagasan kepada pihak lain.
  • Arens (1992:15), Advertorial adalah suatu bentukan separuh iklan separuh tajuk rencana, bertujuan untuk memunculkan opini public dari pada menjual hasil produk.
  • Kotler dan Amstrong (1994:106), Periklanan adalah setiap bentuk penyajian dan promosi bukan pribadi mengenai gagasan, barang, atau jasa yang dibayar oleh sebuah sponsor tertentu.
  • Dunn and Barban (1996:7), Periklanan adalah komunikasi non personal melalui beragam media yang dibayar oleh perusahaan-perusahaan bisnis, organisasi-organisasi non profit dan individu-individu, yang dalam beberapa cara memperkenalkan dalam pesan periklanan dan berharap untuk memberitahu atau membujuk anggota-anggota dari penerima pesan tertentu.
  • Rhenald Kasali (1995:11), Masyarakat periklanan Indonesia memberikan definisi iklan sebagai: Segala bentuk pesan tentang suatu produk yang disampaikan lewat media, ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat.
  • Russel & Lane (1990), Suatu pesan yang dibayar oleh sponsor dan disampaikan melalui beberapa medium komunikasi massa.
  • Gilson & Berkman (1980), Iklan merupakan media komunikasi persuasif yang dirancang untuk menghasilkan respon dan membantu tercapainya objektifitas atau tujuan Just another WordPress.com site

Pernyataan fakta dan opini ini biasanya diutarakan secara singkat, logis, menarik ditinjau dari segi penulisan dengan tujuan untuk mempengaruhi pendapat/ menerjemahkan berita yang menonjol agar pembaca menjadi menyimak seberapa penting berita tersebut. Fungsi tajuk rencana biasanya menjelaskan berita, artinya, dan akibatnya pada masyarakat. Tajuk rencana juga mengisi latar belakang dari kaitan berita tersebut dengan kenyataan sosial dan faktor yang mempengaruhi dengan lebih menyeluruh. Dalam tajuk rencana terkadang juga ada ramalan atau analisis kondisi yang berfungsi untuk mempersiapkan masyarakat akan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, serta meneruskan penilaian moral mengenai berita tersebut.

Tajuk rencana tidaklah dapat disebut berita. Tajuk rencana mirip dengan opini yang ditulis oleh para penulis lepas. Bedanya, tajuk rencana ditulis oleh para redaktur yang mewakili suara lembaga pers tentang permasalahan yang sedang aktual dan banyak diberitakan di media massa, termasuk di media yang bersangkutan sementara opini biasanya ditulis oleh penulis lepas atau kontributor. Definisi tajuk rencana kemudian menjadi rancu ketika ada media massa yang menggunakan istilah berita utama untuk tajuk rencana.

 

Ciri-Ciri Tajuk Rencana

  1. Berisi opini redaksi tentang peristiwa yang sedang hangat dibicarakan.
  2. Berisi ulasan tentang suatu masalah yang dimuat.
  3. Biasanya berskala nasional, berita internasional dapat menjadi tajuk rencana, apabila berita tersebut memberi dampak kepada nasional.
  4. Tertuang pikiran subyektif redaksi.

 

Unsur Tajuk Rencana

  • Menyatakan suatu pendapat
  • Logis dan sistematis
  • Singkat, padat dan jelas
  • Menarik untuk dibaca

 

Bagian-Bagian Tajuk Recana

Pada id.wikipedia.org/wiki/Tajuk_rencana terdapat uraian tentang aspek yang menjadi fokus tajuk rencana. Uraian ini lebih tepat jika disebut sebagai bagian-bagian tajuk rencana. Bagian-bagian tersebut adalah sebagai berikut:

  • judul,
  • latar belakang masalah,
  • tokoh,
  • masalah,
  • peristiwa yang disampaikan,
  • opini penulis,
  • saran dan solusi permasalahan,
  • kesimpulan,
  • sumber berita, dan
  • anggota redaksi.

 

Fungsi Tajuk Rencana

Tajuk rencana dalam surat kabar atau majalah mempunyai fungsi sebagai kritik atas ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat, dan memberikan wawasan kepada masyarakat atas permasalahan yang sedang hangat terjadi.

Jenis-Jenis Tajuk Rencana

Tajuk rencana dapat dikelompokkan menjadi delapan jenis, yaitu sebagai berikut.

  • Tajuk rencana yang memberikan informasi semata.
  • Tajuk rencana yang bersifat menjelaskan.
  • Tajuk rencana yang bersifat memberikan argumentasi.
  • Tajuk rencana yang menjuruskan timbulnya aksi.
  • Tajuk rencana yang bersifat jihad.
  • Tajuk rencana yang bersifat membujuk.
  • Tajuk rencana yang bersifat memuji.
  • Tajuk rencana yang bersifat menghibur.

 

Isi dari Tajuk Rencana

Tajuk rencana berisi permasalahan yang sedang hangat dalam masyarakat dan opini redaksi atas permasalahan tersebut, yang meliputi topik berita, tujuan redaksi, pandangan atau visi dan harapan-harapan redaksi akan peran serta pembaca.

Masalah yang disoroti dalam tajuk rencana dapat dinyatakan secara eksplisit atau implisit. Masalah yang disoroti dapat berupa kebijakan pemerintah, perkembangan situasi sosial dan politik, peristiwa tertentu dalam masyarakat, atau tokoh berpengaruh. Dalam menyoroti sebuah masalah, redaksi mungkin menyetujui, menolak, memberikan alternatif, atau memberikan bahan renungan bagi pembaca.

Teknik Menulis Tajuk Rencana

Karena merupakan suara lembaga maka tajuk rencana tidak ditulis dengan mencantumkan nama penulisnya, seperti halnya menulis berita atau features. Idealnya tajuk rencana adalah pekerjaan, dan hasil dari pemikiran kolektif dari segenap awak media. Jadi proses sebelum penulisan tajuk rencana, terlebih dahulu diadakan rapat redaksi yang dihadiri oleh pemimpin redaksi, redaktur pelaksana serta segenap jajaran redaktur yang berkompeten, untuk menentukan sikap bersama terhadap suatu permasalahan krusial yang sedang berkembang di masyarakat atau dalam kebijakan pemerintahan.

Maka setelah tercapai pokok- pokok pikiran, dituangkanlah dalam sikap yang kemudian dirangkum oleh awak redaksi yang telah ditunjuk dalam rapat. Dalam Koran harian bisanya tajuk rencana ditulis secara bergantian, namun semangat isinya tetap mecerminkan suara bersama setiap jajaran redakturnya. Dalam proses ini reporter amat jarang dilibatkan, karena dinilai dari segi pengalaman serta tanggung jawabnya yang terbatas.

Karakter dan kepribadian pers terdapat sekaligus tercermin dalam tajuk rencana. Tajuk rencana juga mencerminkan dari golongan pers mana media tersebut berasal. Tajuk rencana pers papan atas (middle-high media) atau pers yang berkualitas misalnya memiliki ciri di antaranya :

  1. Hati-hati
  2. Normatif
  3. Cenderung konservatif
  4. Sedapat mungkin menghindari pendekatan kritis yang tajam
  5. Pertimbangan aspek politis lebih besar dari aspek sosiologis

Namun tajuk rencana dari golongan pers papan tengah ke bawah (middle-low media) berlaku sebaliknya. Ciri tajuk rencana pers papan tengah adalah :

  1. Lebih berani
  2. Atraktif
  3. Progresif
  4. Tidak canggung untuk memilih pendekatan kritis yang bersifat tajam dan “tembak langsung”
  5. Lebih memilih pendekatan sosiologis daripada pendekatan politis

Perbedaan yang cukup tajam ini karena perusahaan pers papan atas biasanya memiliki kepentingan yang jauh lebih kompleks daripada pers papan tengah ke bawah. Kepentingan yang sifatnya jauh lebih kompleks itulah yang mendorong pers papan atas untuk lebih akomodatif dan konservatif, baik itu dalam kebijakan pemberitaan, serta pernyataan pendapat dan sikap resmi dalam tajuk rencana yang dibuatnya. Itulah konsekuensi logis pers modern sebagai industri padat modal sekaligus padat karya. Kecenderungan perbedaan yang dimiliki oleh pers baik papan atas maupun papan bawah ini juga berlaku universal hampir di semua negara, yang memiliki latar belakang ideology serta kepentingan yang berbeda-beda.

 

Fungsi dan tugas Tim Editorial

  • Menyelenggarakan rapat khusus tim editorial setiap hari
  • Mencari dan menyeleksi ide serta menetapkan tajuk rencana untuk edisi penerbitan besok
  • Mendiskusikan dan memberikan pembobotan terhadap topik liputan terpilih
  • Menetapkan kesimpulan tentang pendapat dan sikap yang harus disampaikankepada masyarakat luas
  • Menunjuk penulis tajuk rencana yang diambil dari tim editorial untuk topik yang sudah didiskusikan
  • Menuangkannya dalam opini tajuk rencana secara ringkas, jelas, lugas
  • Melakukan revisi atau menundanya apabila perkembangan situasi atau pertimbangan pemimpin redaksi, naskah tajuk rencana tersebut tidak memungkinkan untuk diturunkan pada edisi penerbitan hari ini.
  • melakukan evaluasi dan proyeksi keesokan harinya setelah mengamati dan mempelajari dengan seksama berbagai peristiwa yang terjadi dalam 24 jam terakhir

 

Langkah – Langkah Menulis Tajuk Rencana

            Langkah – langkah menulis Editorial atau Tajuk Rencana :

  1. Memilih (selecting)

Pada langkah pertama, pilihlah isu-isu yang hendak diangkat. Perlu pertimbangan tersendiri untuk menentukan isu apa yang hendak diangkat. Perbedaan pertimbangan inilah yang membedakan pengangkatan isu setiap media berbeda-beda.

  1. Mengumpulkan (collecting)

Tahap berikutnya, kumpulkan pendukung yang akan memperkuat opini yang hendak disampaikan. Pendukung berupa fakta-fakta seputar topik yang diangkat ini akan memberi nilai objektivitas pada tulisan daripada sekadar opini belaka. Untuk memberikan nilai yang lebih kuat, kumpulkanlah pendapat-pendapat yang berotoritas agar opini yang hendak dikemukakan lebih berbobot.

  1. Mengaitkan (connecting)

Langkah ketiga ialah menghubungkan atau mengaitkan. Sebelum menyusun draf editorial, rembukkan dulu dengan anggota redaksi (ingatlah bahwa editorial itu mewakili sikap media terkait). Isi editorial yang disampaikan harus jelas dan menyampaikan detail-detail yang akurat, dilengkapi dengan contoh-contoh pendukung. Berikan argumen yang kuat pada awal dan akhir editorial. Dalam hal ini, argumen yang dipertentangkan, berikut kelemahan-kelemahannya dapat ditunjukkan. Jangan lupa, tawarkan solusi pada akhir editorial

  1. Memperbaiki (correcting).

Akhirnya, lakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap hasil tulisan tersebut. Editorial itu harus jelas dan bertenaga. Tapi jangan sampai menyerang pihak lain. Upayakan pula untuk tidak terlalu mengajari. Susunan paragraf sebaiknya ringkas dan lugas. Sekali lagi, berbagai contoh dan ilustrasi akan bermanfaat. Apalagi kutipan-kutipan yang berbobot, akan menguatkan opini kita. Yang lebih penting lagi, kemukakan semua dengan jujur dan akurat.

 

Kriteria Topik Tajuk Rencana

  1. Topik merujuk pada berita yang aktual atau kontroversial
  2. Topik sesuai dengan filosofi, visi, misi, dan kebijakan umum media penerbitan pers
  3. Topik sejalan dengan kualifikasi dan fokus wilayah sirkulasi media penerbitan
  4. Topik berpijak pada kaidah dan nilai standar jurnalistik seperti aktualitas, objektivitas, keluarbiasaan, dan prinsip peliputan berimbang.
  5. Topik tidak bertentangan dengan aspek ideologis, yuridis, sosiologis, dan etis yang terdapat dalam masyarakat atau bangsa.
  6. Topik senantiasa berorientasi pada nilai-nilai luhur kemanusiaan.

 

Contoh Tajuk Rencana

            Berikut contoh tajuk rencana (Djuroto, 2000) :

Tajuk Rencana

MENCOBA MEMAHAMI DAN MENANGGAPI GEJALA MAIN HAKIM SENDIRI

Kasus narkoba begitu merajalela sehingga orang terhenyak dan ketakutan. Korban kecanduan obat terlarang ini berlipat jumlahnya, disebut angka 2 juta untuk Jakarta saja. Peredarannya meluas ke daerah – daerah. Operasi oleh Polri berhasil menangkap sekaligus menunjukkan betapa nyata dan dramatisnya peredaran obat terlarang. Betapa pedihnya orang – orang yang menjadi korban apalagi kebanyakan korban itu anak – anak muda.

Adalah sehat dan masuk akal, masyarakat bangkit mengambil nasibnya sendiri. Di berbagai tempat seperti Jakarta, masyarakat bertindak sendiri menangkap, mengusir dan merusak tempat serta rumah – rumah yang dipakai jual beli dan memakai narkoba. Tindakan masyarakat menjadi hakim sendiri. Ketika misalnya sasaran main hakim sendiri itu semakin marak dan timbul ekses – ekses, kita berpikir ulang. Bangkit melawan narkoba dan kita dukung bagaimana dengan cara main hakim sendiri?

Sasaran main hakim sendiri disinyalir bagai bertambah luas dan sering. Sasarannya bermacam – macam seperti tempat maksiat, judi dan prostitusi. Juga di sini, kesadaran dan tanggung jawab masyarakat itu positif dan sehat. Masyarakat mengambil oper nasibnya di tangan sendiri, yakni nasib lingkungan hidup yang sehat, sejahtera dan bersusila.

Akan tetapi juga dalam hal ini kita mempertanyakan dan menguatkan diri, apakah benar main hakim sendiri? Kita menduga, kesadaran, kepekaan dan tanggung jawab masyarakat terhadap wabah sosial itu sudah pada tempatnya dan karena itu positif dan terpuji. Perihal tindakannya, yakni main hakim sendiri, kita cenderung untuk mengatakan jangan. Tindakan main hakim sendiri membawa konsekuensi dan implikasi yang juga meresahkan masyarakat serta merongrong kepastian dan wibawa hukum. Sekalipun sikap kita tidak membenarkan bahkan mengancam main hakim sendiri, hal itu tidak begitu saja. Sikap menolak dan mencemaskan main hakim sendiri disertai pencarian sebab dan latar belakang, mengapa masyarakat main hakim sendiri? Mengapa main hakim sendiri cenderung meluas dan sering.

Dari para pakar di berbagai bidang dan lingkungan kemasyarakatan, kita sudah mendengar sebab dan musababnya. Apa gunanya kita pertimbangkan benar pendapat para pakar itu. Kita uji dengan pengalaman dan pengamatan kita masing – masing. Keadaan buruk dibiarkan lama berlarut – larut. Keluhan dan protes masyarakat lingkungan dan masyarakat umum, tidak dihiraukan. Tidak terjadi dialog dan komunikasi, bagaimana sebaiknya memecahkan persoala itu. Persoalannya secara obyektif acap kali tidak sederhana. Ambilah sebagai contoh prostitusi. Prostitusi tidak baik. Prostitusi ada. Segala upaya ditempuh tapi pelacuran masih tetap ada. Kecuali secara terus menerus memberikan informasi, persuasi, dan penindakan, muncullah opsi: prostitusi dilokalisir atau dibiarkan liar. Perjudian menunjukkan dilema serupa dilokalisir atau dibiarkan liar.

Sepanjang dalam masyarakat tidak terjadi perubahan,pilihan-pilhan alternatif bisa diberlakukan. Begitu terjadi perubahan timbul gugatan baru. Perubahan itu bisa disebabkan oleh marak dan liarnya prostitusi dan judi sehingga batas-batas yang membuat hal itu selama ditenggang, goyah, dan tidak berlaku. Perubahan dapat disebabkan oleh persepsi masyarakat yang berubah secara wajar maupun secara tidak wajar. Sebutlah rekayasa terhadap penyakit-penyakit sosial itu.

Kita pun tahu, persoalan yang mengandung unsur dilematis dan serta mendua semacam itu, peka terhadap berbagai kemungkinan rekayasa. Dimana aparat dan perangkat masyarakat, yakni aparat dan perangkat pemerintah terlibat? Jika aparat dan perangkat pemerintah entah oleh faktor-faktor apa saja, menjadi kurang peka, menjadi masa bodoh. Semakin parah, jika kemerosotan sikap aparat dan perangkat juga disebabkan oleh faktor uang, sebutlah kolusi.

Itulah sebabnya, upaya menjaga maraknya main hakim sendiri, dikaitkan langsung dengan penegakan dan peneguhan kembali integritas, kompetensi profesional dan disiplin aparat dan perangkat. Tetapi faktor itupun tidak bisa kita lepas begitu saja. Kita semua, masyarakat, pemerintah, dan aparatnya sedang berada dalam perubahan pan pancaroba. Amatlah komplek dan tali temali kondisi dan sosok perubahan dan pancaroba itu.

Terlalu lama kemerdekaan dan keleluasaan masyarakat dikekang dan ditekan. Perangkat dan aparat yang menjadi intrumen pengekang dan penekan terlalu lama cenderung merajalela, tidak bersih, menyalahgunakan wewenang dan kesempatan. Terjadilah bukan hanya pengekangan, tetapi juga rasa tidak adil. Ketika reformasi pro kemerdekaan dan kebebasan tiba,terbukalah semua klep-klep penutup selama ini, menurut karakter dan pembawaannya, ekonomi pasar dan demokrasi melepaskan semua kekuatan yang selama ini terhambat.

Pada masyarakat indonesia yang lama merasakan tekanan, kekangan dan hambatan itu, berlangsung proses akumulasi. Ketika bendungan jebol, meluaplah air, ibarat air bah. Perubahan menjadi kata  kunci, apapun artinya, arahannya dan ikut-ikutannya. Sekaligus kita dihadapkan pada arah dilematis yang dibawa oleh kenyataan bahwa kita masuk dalam jaringan global. Masing-masing kita anggota masyarakat dunia, sekaligus anggota masyarakat lokal. Semakin kental kita terseret menjadi anggota masyarakat global, semakin intensif perasaan dan sentimen kita sebagai anggota masyarakat lokal. Muncullah fenomena ketegangan.

Pada makjsyarakat majemuk seperti masyarakat bangsa kita, beban dan intensitas arah serba dilematis itu semakin rumit, jauh lebih rumit dari masyarakat yang homogen. Kenyataan itulah yang sedang kita alami bahkan dialami dalam tingkat intensitas yang tinggi, tegang, dan berkonflik.

Kita bisa lebih panjag membahasnya. Cukup kiranya dikemukakan, kecuali menyampaikan saran seperti penegakan dan peneguhan integritas serta kompetensi profesional aparat, disiplin dan komitmennya, perlu dipertimbangkan dimensi lain. Dimensi lain itu itu, akhirnya tiba pada kenyataan bahwa kita sedang menghadapi perubahandan pancaroba. Oleh karena itu, kita juga harus dapat menghadapi dan menangani perubahan pancaroba itu.

Kita juga disadarkan, perubahan dan pancaroba itu harus kita hadapi dalam peralihandari otokrasi ke demokrasi, dari serba tertutup ke serba terbuka, dari pengekangan ke kebebasan. Luar biasa rumitnya, luar biasa luas tantangan dan kesempatan yang ditawarkan. Mau tidak mau, kita harus senantiasa menghentakkan kesadaran kita dan secara kritis mencoba memahami permasalahan yang kita hadapi. Bangsa merdeka ialah bangsa yang sadar. Warga merdeka adalah juga warga yang sadar dan terus menerus berefleksi serta berlaku secara kritis (Kompas, Kamis 16 Desember 1999).

 

Contoh tajuk persuasif (Mondry, 2016).

Alam Ini Titipan Anak Cucu

Masalah iklim global kini dipermasalahkan, sehingga mereka semua bertemu di Bali untuk membicarakannya. Tidak mudah memang mencari jalan keluar, karena pada awalnya saya juga bersitegang tentang siapa yang bersalah dan siapa yang bertanggungjawab terhadap pemanasan global.

Negara maju menuduh negara berkembang mengeksploitasi hutan mereka secara berlebihan, sehingga membuat karbon tidak dapat diuarai menjadi tidak berbahaya bagi lingkungan. Luas areal hutan di negara – negara tropis yang umumnya negara berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Latin terus menyusut secara mengkhawatirkan.

Sebaliknya, negara berkembang yang umumnya pemilik hutan – paru-paru dunia – justru menuduh negara majulah yang membangun industri besar-besaran, sehingga menimbulkan emisi berlebihan di udara dan negara maju pula yang secara diam – diam bersedia membeli hasil hutan (kayu) ilegal atau illegal logging yang dicuri dari hutan negara berkembang.

Perdebatan itu bila tidak diakhiri dengan kesadaran, tidak akan pernah selesai, semua akan merasa benar, karena persoalanya tetap saja menjadi lingkaran setan (satanic sircle) yang tidak berujung. Persoalannya kini bukan siapa salah dan siapa benar, tetapi jauh lebih penting bagaimana mengatasi atau minimal mengurangi pemanasan global itu beserta dampaknya.

Akibat persoalan itu, berbagai dampak sudah mulai terasa di seluruh dunia. Es di daerah kutub semakin mencair, menyebabkan areal hidup bagi beruang kutub, singa dan anjing laut, penguin dan berbagai hewan lain semakin berkurang. Permukaan laut di seluruh bumi ini sudah naik.

Tidak hanya itu, cuaca juga berubah, bahkan lebih sulit diprediksi. Musim hujan dan panas di negara tropis tidak lagi tepat seperti dulu, tetapi mengalam pergeseran, hal serupa juga terjadi di negara dengan empat musim. Cuaca ternyata makin tidak bersahabat dengan banyaknya badai dan topan di berbagai belahan dunia, ombak laut juga lebih tinggi, mengganggu pelayaran dan menghambat nelayan mencari rezeki di luasnya samudera.

Hanya negara yang bersalah, sedang penduduk atau masyarakat tidak! Pemikiran seperti keliru besar. Karena negara tidak dapat melakukan atau berbuat apa – apa tanpa manusia – manusia di negara itu yang sesungguhnya bernama rakyat, penduduk atau masyarakat. Berbagai kebijakan negara, pada dasarnya keputusan manusai, sedang negara dalam konteks fisik hanyalah sesuatu benda mati yang menjadi konkret dalam batasan yang disebut kedaulatan.

Dasar pikir tersebut menegaskan kembali perigatan agama, sesungguhnya manusialah yang telah berbuat kerusakan di darat dan di laut, bukan negara. Karena mereka tidak pernah lagi, atau tidak sempat lagi berpikir bila bumi ini dipinjamkan yang maha kuasa untuk ditempati manusia. Bukan suatu tempat yang dapat diperlakukan semaunya, sesuai kehendak manusia.

Dalam kehidupan yang berpola antargenerasi ini, manusia yang hidup saat harus berpikir bila regenerasi pasti terjadi, karena semua yang hidup pasti mati, dan akan muncul generasi berikutnya. Sedangkan tempat tinggal generasi berikutnya itu tetap satu, di bumi ini. Meskipun ilmu pengetahuan terus mencari alternatof, tetapi yang terbaik dan sudah ada hanya bumi ini.

Karena itu, manusia saat ini harus menjaga bumi ini harus tetap dapat sitinggali generasi berikutnya secara layak. Hal itu hanya dapat terwujud bila manusia sekarang ini sadar, dengan melakukan berbagai kegiatan yang menjaga kelestariaan alam dan lingkungannya, dimulai dari dirinya sendiri dengan kegiatan yang sederhana, bukan menuding orang lain atau negara. Karena sesungguhnya alam ini bukan warisan nenek moyang, tetapi titipan anak cucu.

 

Setiap suatu kegiatan pasti ada manfaatnya dan kegiatan yang positif akan memdapat balasan yang positif, untuk  itu dalam hal menulis tajuk rencan harus memperhatikan situasi masyarakatnya, agar tajuk rencana itu tidak bersifat propokatif. Dan selamat mencoba membuat tajuk rencana.

Baca Juga: