Sejarah Suku Tomini

Diposting pada

Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai suku tomini yang dimana dalam hal ini meliputi bahasa, mata pencaharian, kekerabatan, agama dan kepercayaan, nah agar lebih memahami dan dimengerti simak ulasannya dibawah ini.

Suku-Tomini

Sejarah Suku Tomini

Suku Tomini, adalah suatu kelompok masyarakat yang mendiami daerah sekitar teluk Tomini yang berada di pantai timur Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah.

Suku Tomini memiliki bahasa yang agak berbeda dengan bahasa Poso (Bare’e) dan bahasa Ledo. Suku Tomini sendiri memiliki 2 sub-suku, yaitu suku Tialo dan suku Lauje. Istilah Tomini sendiri lebih merujuk kepada kelompok masyarakat yang berada di sekitar teluk Tomini. Sedangkan di teluk Tomini dihuni oleh beberapa kelompok masyarakat, seperti suku Lauje, Tialo, Bajau, Togian dan lain-lain. Tapi yang mengklaim diri sebagai penduduk asli daerah Teluk Tomini adalah suku Lauje dan suku Tialo, sehingga kedua suku inilah yang lebih sering disebut sebagai orang Tomini.

Baca Juga : Sejarah Suku Togutil

Pada masyarakat suku Tomini ini ada suatu cerita tentang asal mula kejadian hidup ini ialah di suatu tempat di atas Pegunungan Palasa bernama Lembo Dayoan. Menurut cerita karena pertemuan langit dan bumi dan karena banyaknya kelompok etnis yang mendiami daerah Sulawesi Tengah, maka terjadi pulalah percampuran budaya dan bahasa di antara etnis tersebut. Kelompok yang tinggal di pantai bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur dengan suku Bugis dari Sulawesi Selatan dan suku Gorontalo. Sedangkan di bagian timur pulau Sulawesi, juga terjadi percampuran dengan suku Gorontalo dan suku Minahasa. Hal ini terlihat dari dialek daerah Luwuk dan sebaran suku Gorontalo di kecamatan Bualemo. Dari percampuran-percampuran inilah maka terjadi banyaknya ragam etnis di Sulawesi Tengah.

Pada zaman dahulu, wilayah Tomini pernah memiliki kesultanan. Setiap suku dikepalai oleh seorang pemimpin secara turun temurun beserta dengan para pembantunya. Pada waktu itu ada 4 golongan masyarakat Tomini, yaitu kelompok raja, kaum bangsawan, rakyat dan budak.

Permukiman suku Tomini berbentuk rumah panggung. Suku Tomini yang tinggal di daerah pesisir membangun rumah di sepanjang garis pantai teluk Tomini. Sedangkan yang lebih ke pedalaman dan dataran yang lebih tinggi membangun rumah di atas bukit dan lereng-lereng bukit.

Sistem adat perkawinan suku Tomini adalah, seorang perantara merundingkan maskawin untuk mempelai perempuan yang tergantung dari status sosial perempuan tersebut. Pernikahan antar sepupu bisa diterima; dan poligami diizinkan walau tidak banyak dilakukan. Setelah menikah, pasangan pengantin biasanya tinggal dengan keluarga besar mereka, sampai anak pertama lahir.

Orang Tomini adalah mayoritas penganut agama Islam Sunni. Suatu aliran agama Islam yang berpegang pada tradisi ortodoks yang kuat dan fanatik, tetapi dalam dalam praktik keseharian mereka adalah orang-orang yang terbuka dan ramah, serta bisa menerima kehadiran siapa saja dengan terbuka.

Masyarakat suku Tomini sebagian hidup dengan menanam cengkih dan kopra. Beberapa di antara mereka mencari nafkah sebagai pedagang dan juga ikut dalam kegiatan penebangan kayu di hutan-hutan sekitar permukiman mereka. Beberapa yang lain melakukan kegiatan sebagai nelayan atau mengumpulkan hasil laut seperti rumput laut. Sedangkan bagi orang Tomini yang tinggal di daerah pegunungan pada umumnya hidup sebagai petani, mereka menanam padi di sawah atau ladang, dan juga membuka lahan kebun untuk tanaman jagung. Di luar kegiatan perladangan mereka juga memanfaatkan hasil hutan seperti mengumpulkan rotan.


Bahasa Suku Tomini

Suku Tomini memiliki bahasa yang agak berbeda dengan bahasa Poso “Bare’e” dan bahasa Ledo. Suku Tomini sendiri memiliki 2 sub-suku yakni Suku Tialo dan Suku Lauje. Istilah Tomini sendiri lebih merujuk kepada kelompok masyarakat yang berada disekitar teluk Tomini.

Sedangkan di teluk Tomini dihuni oleh beberapa kelompok masyarakat seperti suku Lauje, Tialo, Bajau, Togian, dan lain-lain. Tapi yang mengklaim diri sebagai penduduk asli daerah Teluk Tomini ialah suku Lauje dan Suku Tialo, sehingga kedua suku inilah yang lebih sering disebut sebagai orang Tomini.

Baca Juga : Sejarah Suku Wana


Mata Pencaharian Suku Tomini

Makanan pokok mereka pada awalnya ialah sagu, kemudian mereka mulai pertanian di ladang dengan menanam padi dan jagung. Sistem irigasi mulai dikenal tahun 1900-an. Tanaman komoditi yang dikembangkan, kopra, cengkeng dan kopi. Meramu hasil hutan dan berburu masih dilakukan sebagian kelompok sebagai mata pencaharian.


Kekerabatan Suku Tomini

Sistem hubungan kekerabatannya bilateral dan memakai prinsip garis hubungan keturunan yang ambilineal. Pada zaman dulu mungkin terjadi pelapisan sosial yang agak tajam karena pengaruh sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan kecil, sekarang pelapisan sosial lama itu boleh dikatakan sudah hilang.


Adat Perkawinan

Sistem adat perkawinan suku Tomini ialah seorang perantara merundingkan mas kawin untuk mempelai perempuan yang tergantung dari status sosial perempuan tersebut. Pernikahan antar sepupu bisa diterima dan poligami diizinkan walau tidak banyak dilakukan. Setelah menikah pasangan pengantin biasanya tinggal dengan keluarga besar mereka sampai anak pertama lahir.

Baca Juga : Sejarah Suku Tolaki


Tempat Tinggal (Rumah)

Pemukiman suku Tomini berbentuk rumah panggung, Suku Tomini yang tinggal di daerah pesisir membangun rumah di sepanjang garis pantai teluk Tomini. Sedangkan yang lebih ke pedalaman dan dataran yang lebih tinggi membangun rumah diatas bukit dan lereng-lereng bukit.


Agama Dan Kepercayaan Suku Tomini

Masyarakat Tomini telah memeluk agama Islam tetapi upacara-upacara tertentu yang berdasarkan kepercayaan asli mereka masih sering dilakukan oleh sebagian besar masyarakatnya.

Baca Juga : Sejarah Suku Tobelo