Penjelasan Ciri-Ciri Clostridium Tetani Dalam Biologi

Diposting pada

Pengertian Clostridium Tetani, Ciri, Sturktur, Sifat dan Klasifikasi adalah bakteri patogen anaerobik yang terutama ditemukan di dalam tanah dan saluran usus hewan. bakteri bersel tunggal dan tidak mengandung organel membran-terikat, seperti inti. Bakteri ini adalah Gram-positif, yang berarti tidak memiliki sebuah membran lipopolisakarida luar dan hanya memiliki tebal peptidoglikan dinding sel.

clostridium-tetani


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Clostridium Botulinum – Ciri, Klasifikasi, Karakteristik, Pathogenesis, Toksin, Tes Diagnostic, Faktor, Pencegahan Dan Pengendalian


Pengertian Clostridium Tetani

Clostridium tetani adalah bakteri patogen anaerobik yang terutama ditemukan di dalam tanah dan saluran usus hewan. Seperti karakteristik dari semua bakteri, C. tetani adalah bakteri bersel tunggal dan tidak mengandung organel membran-terikat, seperti inti. Bakteri ini adalah Gram-positif, yang berarti tidak memiliki sebuah membran lipopolisakarida luar dan hanya memiliki tebal peptidoglikan dinding sel. Namun, kadang-kadang mendirikan bakteri vegetatif noda Gram-negatif, menunjukkan pengembangan membran lipopolisakarida tipis.


Bakteri ini bersifat berbentuk batang dan flagellated dalam keadaan vegetatif, dan paha berbentuk dalam bentuk spora nya. Saat ini ada sebelas strain diidentifikasi C. tetani, dan semua jenis sebelas dikenal untuk menghasilkan neurotoxin identik dikenal sebagai tetanospasmin. Ini racun ampuh adalah penyebab kondisi saraf pusat yang dikenal sebagai tetanus, yang umumnya fatal jika tidak diobati.

Clostridium tetani (tetanus atau kejang mulut) adalah besar, Gram-positif, membentuk spora, motil, obligat, bakteri berbentuk batang yang memproduksi spora yang ditemukan berlimpah dalam tanah dan kotoran dari hewan dan manusia. Ini adalah organisme anaerobik, berkembang pada jaringan luka terluka atau mati. Meskipun luka sering terkontaminasi dengan tanah dan bakteri hadir, penyakit tidak selalu berkembang dalam sebagian besar kasus. Kondisi luka harus berisi lingkungan yang tepat untuk spora berkecambah, bakteri untuk berkembang biak, dan racun yang dihasilkan.


Tetanus masih sering tanaman di antara pengguna obat terlarang. Tanpa pengobatan, penyakit ini selalu fatal. Untuk menunjukkan seberapa cepat toksin perjalanan setelah memasuki aliran darah, seorang ilmuwan Jepang, Shibasaburo Kitasato, disuntikkan bakteri ke ujung ekor tikus dan kemudian cincang it off satu jam kemudian, tapi sudah terlambat untuk menghentikan aksinya.


Tanda dan gejala penyakit biasanya terjadi empat sampai sepuluh hari setelah cedera, tetapi dapat tertunda beberapa bulan. Sebagai spora berkembang biak di luka-luka, mereka menghasilkan eksotoksin (tetanospasmin), yang merupakan penyebab sebenarnya dari penyakit. Oleh karena itu, penyakit ini tidak dapat dianggap menular. Toksin tersebut berjalan melalui darah dan saraf ke sumsum otak dan tulang belakang, mengganggu dengan pesan-pesan dikirim ke otot. Otot-otot kemudian pergi ke kejang karena mereka tidak menerima pesan normal mereka. Seperti otot-otot wajah mulai menjelekkan, karakteristik “seringai” penyebabnya (risus sardonicus) dan pengunci rahang tanda-tanda tanda terlebih dahulu. Ini adalah kesulitan dalam membuka mulut yang akan petunjuk di tenaga medis untuk dengan apa yang mereka hadapi. Sebagai penyakit berlangsung, kejang pada otot-otot lain terjadi. Mereka bisa singkat, tapi sering sering cukup untuk menyebabkan rasa sakit yang hebat dan kelelahan. Dalam beberapa kasus, kejang begitu kuat, mereka menyebabkan tulang untuk istirahat. komplikasi pernafasan yang umum, dan tingkat kematian tinggi, terutama pada anak-anak dan orang tua. Pada kasus fatal, pemulihan memakan waktu beberapa minggu.


Pada mereka yang menunjukkan gejala klinis penyakit, antiracun adalah diberikan untuk mencegah pembentukan racun baru. Ini disebut tetanus immune globulin. Ini tidak akan membalikkan bersifat toksik dari toksin terikat pada jaringan saraf, tapi itu akan membunuh racun dalam darah. obat antispasmodic sering diberikan juga. Ada vaksin yang tersedia yang biasanya diberikan dalam conjuction dengan difteri dan batuk rejan (pertusis) sebagai vaksin DPT.


Suatu bentuk tetanus sering ditemui adalah salah satu melibatkan tali pusar bayi yang lahir di negara-negara terbelakang. Seringkali kabel dipotong dengan instrumen steril, batu tajam atau batu, dan daerah dikemas dengan kotoran, menurut adat suku. Lebih dari ½ juta bayi meninggal setiap tahun di Asia dan Afrika karena tali unbilical mereka telah diperlakukan dengan cara ini. Tetanus diakui oleh Hippocrates pada abad ke-5 SM dan kemungkinan besar di Mesir kuno juga karena kotoran adalah menyembuhkan disukai hari.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Struktur Sel Bakteri


Klasifikasi Clostridium Tetani

Etiologi

Adapun klasifikasi pada bakteri ini adalah :

  • Kingdom : Bacteria
  • Division : Firmicute
  • Class : Clostridia
  • Order : Clostridiales
  • Family : Clostridiaceae
  • Genus : Clostridium
  • Species : Clostridium tetani

Tetanus sudah dikenal oleh orang-orang yang dimasa lalu, yang dikenal karena hubungan antara luka-luka dan kekejangan-kekejangan otot fatal. Pada tahun 1884, Arthur Nicolaier mengisolasi toksin tetanus yang seperti strychnine dari tetanus yang hidup bebas, bakteri lahan anaerob. Etiologi dari penyakit itu lebih lanjut diterangkan pada tahun 1884 oleh Antonio Carle dan Giorgio Rattone, yang mempertunjukkan sifat mengantar tetanus untuk pertama kali. Mereka mengembangbiakan tetanus di dalam tubuh kelinci-kelinci dengan menyuntik syaraf mereka di pangkal paha dengan nanah dari suatu kasus tetanus manusia yang fatal di tahun yang sama tersebut. Pada tahun 1889, C.tetani terisolasi dari suatu korban manusia, oleh Kitasato Shibasaburo, yang kemudiannya menunjukkan bahwa organisme bisa menghasilkan penyakit ketika disuntik ke dalam tubuh binatang-binatang, dan bahwa toksin bisa dinetralkan oleh zat darah penyerang kuman yang spesifik. Pada tahun 1897, Edmond Nocard menunjukkan bahwa penolak toksin tetanus membangkitkan kekebalan pasif di dalam tubuh manusia, dan bisa digunakan untuk perlindungan dari penyakit dan perawatan. Vaksin lirtoksin tetanus dikembangkan oleh P.Descombey pada tahun 1924, dan secara luas digunakan untuk mencegah tetanus yang disebabkan oleh luka-luka pertempuran selama perang dunia ke-II.


Morfologi

Clostridium tetani adalah bakteri berbentuk batang lurus, langsing, berukuran panjang 2-5 mikron dan lebar 0,4-0,5 mikron. Bakteri ini membentuk eksotoksin yang disebut tetanospasmin. Kuman ini terdapat di tanah terutama tanah yang tercemar tinja manusia dan binatang. Clostridium tetani termasuk bakteri gram positif anaerobic berspora, mengeluarkan eksotoksin. Costridium tetani menghasilkan 2 eksotosin yaitu tetanospamin dan tetanolisin. Tetanospaminlah yang dapat menyebabkan penyakit tetanus.

Clostridium tetani tidak menghasilkan lipase maupun lesitinase, tidak memecah protein dan tidak memfermentasi sakarosa dan glukosa juga tidak menghasilkan gas H2S. Menghasilkan gelatinase, dan indol positif.


Fisiologi

Kuman ini hanya dapat tumbuh dalam suasana yang anaerob (obligate anaerob) dengan temperature pertumbuhan 37ºC dan pH optimum 7,4. . Hal ini disebabkan kuman ini tidak mampu menggunakan oksigen sebagai akseptor hydrogen akhir dan tidak mempunyai sitokrom, serta sitokrom oksidase sehingga tidak dapat memecah hydrogen proksidase. Karena itu bila terdapat oksigen, H2O2 cenderung tertimbun sampai mencapai level toksik.  Yang dapat menyebabkan kuman ini akan mati


Untuk mendapatkan suasana anaerob dapat dilakukan dengan 2 cara :

  1. Lempeng agar atau tabung reaksi diletakkan dalam anaerobic jar (bejana anaerob), dimana udara dibuang dan diganti dengan nitrogen dan CO2 10% atau oksigen juga dapat dibuang dengan menggunakan gaspack.
  2. Kultur cair diletakkan dalam tabung panjang yang mengandung jaringan hewan segar (misalnya cincangan daging rebus) atau agar-agar 0,1% dari Tioglikolat. Dan ditambahkan paraffin diatasnya untuk menciptakan suasana anaerob.

Bakteri anaerob hanya dapat melangsungkan metabolismenya pada potensial reduksi oksidasi negative (E1)  yaitu dalam lingkungan yang sangat kuat mereduksi. Bentuk koloni pada Clostridium tetani, akan kita temukan  koloni yang tumbuh tipis yang meluas dalam jalinan filament yang halus pada agar darah. Pada agar darah juga akan membentuk daerah hemolisis. Pada media cooked meat broth dijumpai pertumbuhan kuman dalam jumlah kecil setelah 48 jam.1,6


Patogenesis

Clostridium tetani dalam bentuk spora masuk ke tubuh melalui luka yang terkontaminasi dengan debu, tanah, tinja binatang atau pupuk. Biasanya penyakit terjadi setelah luka tusuk yang dalam misalnya luka yang disebabkan tertusuk paku, pecahan kaca, kaleng, atau luka tembak, karena luka tersebut menimbulkan keadaan anaerob yang ideal. Selain itu luka laserasi yang kotor, luka bakar, dan patah tulang terbuka juga akan megakibatkan keadaan anaerob yang ideal untuk pertumbuhan C. Tetani ini. Walaupun demikian, luka-luka ringan seperti luka gores, lesi pada mata, telinga atau tonsil dan traktus digestivus serta gigitan serangga dapat pula merupakan porte d’entree dari C. Tetani.


Juga sering ditemukan telinga dengan otitis media perforata sebagai tempat masuk C. Tetani. Spora kuman tetanus yang ada di lingkungan dapat berubah menjadi bentuk vegetatif bila ada linkungan anaerob, dengan tekanan oksigen jaringan yang rendah. Dalam kondisi anaerobik yang dijumpai pada jaringan nekrotik dan terinfeksi, basil tetanus mensekresi 2 macam toksin: tetanospasmin dan tetanolisin. Gejala klinis timbul sebagai dampak eksotoksin pada sinaps ganglion spinal dan neuromuscular junction serta saraf otonom. Pada masa pertumbuhan eksotoksin diproduksi, yang diserap oleh liran darah sistemik dan serabut saraf perifer. Toksin dari tempat luka menyebar ke motor endplate dan setelah masuk lewat ganglioside dijalarkan secara intraaxonal kedalam sel saraf tepi, kemudian ke kornu anterior sumsum tulang belakang, akhirnya menyebar ke SSP. Hipotesis mengenai cara absorbsi dan bekerjanya toksin :


  • Toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui aksis silindrik dibawa ke kornu anterior susunan saraf pusat.
  • Toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk ke dalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk ke dalam susunan saraf pusat. Toksin tersebut bersifat seperti antigen, sangat mudah diikat oleh jaringan saraf dan bila dalam keadaan teikat, tidak dapat lagi dinetralkan oleh antitoksin spesifik. Namun toksin yang bebas dalam peredaran darah sangat mudah dinetralkan oleh antitoksin.

Eksotoksin dari Clostridium tetani dipisahkan menjadi 2 yaitu Tetanolisisn dan Tetanospasmin. Tetanolisin yang mampu secara local merusak jaringan yang masih hidup yang mengelilingi sumber infeksi dan mengoptimalkan kondisi yang memungkinkan multiplikasi bakteri. Tetanospasmin menghasilkan sindroma klinis tetanus. Toksin ini mungkin mencakup lebih dari 5% dari berat organisme. Toksin ini merupakan polipeptida rantai ganda dengan berat 150.000 Da yang semula bersifat inaktif. Rantai berat (100.000 Da) dan rantai ringan (50.000 Da) dihubungkan oleh suatu ikatan yang sensitive terhadap protease dan dipecah oleh protease jaringan yang menghasilkan jembatan disulfida yang menghubungkan dua rantai ini.


Ujung karboksil dari rantai berat terika pada membrane saraf dan ujung amino memungkinkan masuknya toksin ke dalam sel. Rantai ringan bekerja pada presinaptik untuk mencegah pelepasan neurotransmitter dari neuron yang dipengaruhi. Tetanopasmin yang dilepas akan menyebar pada jaringan di bawahnya dan terikat pada gangliosida GD1b dan GT1b pada membran ujung saraf lokal. Jika toksin yang dihasilkan banyak, ia dapat memasuki aliran darah yang kemudian berdifusi untuk terikat pada ujung-ujung saraf di seluruh tubuh. Toksin kemudian akan menyebar dan ditransportasikan dalam axon dan secara retroged ke dalam badan sel batang otak dan saraf spinal.


Toksin ini mempunyai efek dominan pada neuron inhibitori, di mana setelah toksin menyeberangi sinapsis untuk mencapai presinaptik, ia akan memblokade pelepasan neurotransmitter inhibitori yaiutu glisin dan asam aminobutirik (GABA). Interneron yang mneghambat neuron motorik alfa yang pertama kali dipengaruhi, sehingga neuron motorik ini kehilangan fungsi inhibisinya. Lalu (karena jalur yang lebih panjang) neuron simpatetik preganglionik pada ujung lateral dan pusat parasimpatik juga dipengaruhi. Neuron motorik juga dipengaruhi dengan cara yang sama, dan pelepasan asetilkolin ke dalam celah neurotransmitter dikurangi. Pengaruh ini mirip dengan aktivitas toksin botulinum yang mnegakibatkan paralisis flaksid.


Namun demikian, pada tetanus, efek disinhibitori neuron motorik lebih berpengaruh daripada berkurangnya fungsi pada ujung neuromuscular. Pusat medulla dan hipotalamus mungkin juga dipengaruhi. Tetanospasmin mempunyai efek konvulsan kortikal pada penelitian hewan. Apakah mekanisme ini berperan terhadap spasme intermitten dan serangan autonomik, masih belum jelas. Efek prejungsional dari ujung neuromuscular dapat berakibat kelemahan diantara dua spasme dan dapat berperan pada paralisis saraf cranial yang dijumpai pada tetanus sefalik, dan myopati yang tersedia setelah pemulihan. Pada spesies yang lain, tetanus menghasilkan gejala karakteristik berupa paralisis flaksid.


Aliran eferen yang tak terkendali dari saraf motorik pada korda dan batang otak akan menyebabkan kekakuan dan spasme muscular, yang dapat menyerupai konvulsi. Refleks inhibisi dari kelompok otot antagonis hilang, sedangkan otot-otot agonis dan antagonis berkontraksi secara simultan. Spasme otot sangatlah nyeri dan dapat berakibat fraktur atau rupture tendon. Otot rahang, wajah, dan kepala sering terlihat pertama kali karena jalur aksonalnya lebih pendek. Tubuh dan anggota tubuh mengikuti, sedangkan otot-otot perifer tangan kanan dan kaki relatif jarang terlibat. Aliran impuls otonomik yang tidak terkendali akan berakibat terganggunya control otonomik dengan aktifitas berlebih saraf simpatik dan kadar katekolamin plasma yang berlebihan. Terikatnya toksin pada neuron ireversibel. Pemulihan membutuhkan tumbuhnya ujung saraf yang baru yang menjelaskan mengapa tetanus berdurasi lama.


Pada tetanus lokal, hanya saraf-saraf yang menginervasi otot-otot yang bersangkutan yang terlibat. Tetanus generalisata terjadi apabila toksin yang dilepaskan di dalam luka memasuki aliran limfa dan darah dan menyebar luas mencapai ujung saraf terminal: sawar darah otak memblokade masuknya toksin secara langsung ke dalam sistem saraf pusat. Jika diasumsikan bahwa waktu transport intraneuronal sama pada semua saraf, serabut saraf yang pendek akan terpengaruh sebelum serabut saraf yang panjang: hal ini menjelaskan urusan keterlibatan serabut saraf di kepala, tubuh dan ekstremitas pada tetanus generalisata.


Manifestasi klinis terutama disebabkan oleh pengaruh eksotoksin terhadap susunan saraf tepid an pusat. Pengaruh tersebut berupa gangguan terhadap inhibisi resinaptik sehingga mencegah keluarnya neurotransmitter inhibisi yaitu GABA dan glisin, sehingga terjadi eksitasi terus-menerus dan spasme. Kekakuan dimulai dari tempat masuk kuman atau pada otot masseter (trimus),  pada saat toxin masuk ke sumsum tulang belakang terjadi kekauan yang makin berat, pada extremitas, otot-otot bergaris pada dada, perut dan mulai timbul kejang.


Bilamana toksin mencapai korteks cerebri, penderita akan mulai mengalami kejang umum yang spontan. Tetanospasmin pada sisem saraf otonom juga berpengaruh, sehingga terjadi gangguan pernafasan, metabolism, hemodinamika, hormonal, saluran cerna, saluran kemih, dan neuromuscular. Spasme larynx, hipertensi, gangguan irama jantung, hiperpirexi, hyperhidrosis merupakan penyulit akibat gangguan saraf otonom, yang dulu jarang dilaporkan karena penderita sudah meninggal sebelum gejala timbul. Dengan penggunaan diazepam dosis tinggi dan pernafasan mekanik, kejang dapat diatasi namun gangguan saraf otonom harus dikenali dan dikelola dengan teliti.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Jenis, Habitat, Pengertian Bakteri Beserta Bakteri Penyebab Penyakit


Struktur Antigen dan Transmisi

Struktur antigen

Antigen flagella (H), somatic (O) dan antigen spora  dapat dijumpai pada Clostridium tetani. Antigen spora berbeda dari antigen H  dan antigen O pada sel somatic. Organisme ini dapat dibagi menjadi 10 tipe berdasarkan antigen flagellarnya. Clostridium tetani mempunyai kelompok agglutinasi somatic tunggal untuk semua strain yaitu dengan menggunakan fluorescein-labeled antisera. Dan menghasilkan neurotoksin dari tipe antigenic yang sama, yaitu tetanospasmin serta dinetralisasi dengan antitoxin tunggal.


Transmisi

Spora dari Clostridium tetani ini banyak tersebar luas di tanah dan dijumpai pula pada tinja manusia dan hewan. Jalan masuk spora ke tubuh biasanya melalui luka misalnya luka akibat tertusuk jarum pada kaki, penggunaan jarum suntik yang tidak steril pada penderita ketergantungan obat, perawatan luka yang kurang baik. Tapi spora yang masuk tidak bersifat invasive dia hanya yang terlokalisir di daerah luka saja.. Jaringan yang rusak dan gangguan aliran darah pada luka serta lingkungan yang anaerob merupakan tempat yang disukai oleh spora Cl. tetani ini untukmembentuk kolonisasi.2,7

Tetanus bisa menyerang semua golongan umur. Di negara berkembang, tetanus pada anak masih menjadi masalah besar. Biasanya disebabkan ketidaksterilan alat pada pemotongan umbilicus bayi pada saat lahir atau sirkumsisi yang tidak steril. Tercatat kematian neonatus akibat tetanus di Bangladesh berkisar antara 112 – 330 kasus.9 Dari Program nasional surveillance Tetanus di Amerika Serikat, diketahui rata-rata usia pasien tetanus dewasa berkisar antara 50 – 57 tahun. 7


Toksin

Sel vegetatif  dari Cl. tetani menghasilkan toksin tetanospasmin  (BM 150.000) yang tersusun oleh protease bacterial dalam dua peptide (BM 50.000 dan 100.000) dihubungkan oleh ikatan disulfida. Mulanya toksin berikatan dengan reseptor prasinaps pada motor neuron. Kemudian bergerak ke hulu melalui sistem  transport aksonal retrograd menuju cell bodies neuron-neuron tesebut  hingga medulla spinalis dan batang otak. Toksin berdifusi ke terminal dari sel inhibitor, termasuk interneuron glisinergik dan neuron yang mensekresi asam aminobutirat dari batang otak. Toksin menurunkan sinaptobrevin, yaitu suatu protein yang berperan dalam mengikat vesikel neurotransmitter pada membrane prasinaps. Pengeluaran glisin inhibitor dan asam aminobutirat gama diblok dan motor neuron tidak dihambat. hiperrefleksia , spasme otot dan paralysis spastic terjadi. Toksin dalam jumlah yang sangat kecil bisa mematikan manusia.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Ciri-Ciri Borrelia Burgdorferi Dalam Biologi


Ciri Clostridium Tetani

Dalam pembuatan tetanospasmin, sutau toksin biologis merupakan fitur karaktersitik bakteri ini. Yang penampilan aneh ini disebabkan sporulasi yang terjadi di dalam sel. Clostridium tetani sensitif terhadap panas. Clostridium tetani ialah anaerob obligat dan harus bergantung pada fermentasi.

Sebagai anaerob obligat, tidak dapat mentolerir adanya oksigen Clostridium tetani dikenal untuk menyebabkan tetanus, spora bakteri imi memasuki tubuh melalui luka terbuka dan berkecambah sekali di dalam. Clostridium tetani bergerak dengan menggunakan flagela berputar. Organisasi flagella ini ialah peritrichous yang berarti bahwa ada flagela acak berbagai macam sekitar sel.

Clostridium tetani ditemukan di banyak lingkungan yang berbeda tapi pling sering di tanah, debu atau sedimen. Mereka juga ditemukan di saluran usus manusia dan hewan dimana mereka menjadi patogen. Seiring dengan tatanospasmin, Clostridium tetani menghasilkan eksotoksin yang disebut dengan tatanolysin. Bakteri ini terdapat pada bagian luar tubuh manusia dan tersebar luas di tanah.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Virus Pemakan Bakteri ( Bakteriofag ) Beserta Penjelasannya

Sifat Bakteri dan Penyakit Yang ditimbulkan

Sifat Bakteri

Bakteri ini bersifat berbentuk batang dan flagellated dalam keadaan vegetatif, dan paha berbentuk dalam bentuk spora nya. Saat ini ada sebelas strain diidentifikasi C. tetani, dan semua jenis sebelas dikenal untuk menghasilkan neurotoxin identik dikenal sebagai tetanospasmin. Ini racun ampuh adalah penyebab kondisi saraf pusat yang dikenal sebagai tetanus, yang umumnya fatal jika tidak diobati.

Sifat-Sifat Bakteri

  • Mengeluarkan exotoxin yg bsf neurotoxin.
  • Anaerob, spora lbh besar dari selnya,terminal.
  • Dlm btk spora hdp bertahun2.
  • Dapat ditemukan di tanah dan kotoran herbivor, terutama kuda.

Penyakit yang ditimbulkannya

  1. Menimbulkan Tetanus.
  2. Masa inkubasi 3- 21 hari.
  3. Merupakan komplikasi pada luka tusuk, patah tulang terbuka, luka bakar, pembedahan,penyuntikan, gigitan
  4. binatang, aborsi, melahirkan,atau lika pemotongan umbilicus.
  5. Luka tusuk yg dlm lbh mmgknkan terjadi tetanus dibanding luka permukaan/lecet

Penyuntikan tdk steril (narkoba),berisiko tinggi tetanus.

  • Penderita tetanus, kdg lupa kalau pernah terluka,atau lukanya sdh sembuh.
  • Gejala tetanus disebabkan oleh toxin tetanus yg bersft neurotoxin,dimulai dgn adanya rasa kaku /kram pd otot sekitar luka.
  • Hiperefleksi pd tendon extremitas yg dekat dgn luka, kaku pada leher,rahang dan muka, yg terasa sakit, dan terjadi juga gangguan menelan,kejang otot slrh tubuh,berupa kontraksi tonis yg sangat kuat,berlgsg bbrp detik-menit, berulang2, bersama dgn gangguan otot pernapasan, & jantung,mengakibatkan kematian.

Bahan Pemeriksaan Laboratorium :

  1. Diambil dari luka dan jaringan.
  2. Pd tetanus, diagnosa didasarkan pd gejala klinik dan anamnesis adanya luka.
  3. Pengobatan dgn antitetanus toxin dan antibiotika segera dilakukan tanpa menunggu hasil pemeriksaan lab.
  4. Specimen diperiksa ,stlh pewarnaan Gram, kmdn di kultur.

Pencegahan :

  • Perawatan luka yg baik,terutama luka tusuk yg dalam dan terkontaminasi tanah.
  • Pemberian antitoxin serum pd penderita yg diduga terkontaminasi Clostridium tetani.
  • Imunisasi aktip, baik bersama diphteri dan pertusis(DPT),atau tersendiri (TT).
  • Vacsin TT pd ibu hamil/ akan hamil, u/ mencegah tetanus neonatorum.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Ciri-Ciri Bakteri Mycoplasma Dalam Biologi


Gejala Akibat Clostridium Tatani

Bakteri ini bersifat an-aerob clostridium tetani yang mana sporanya ini dapat hidup selama bertahun-tahun di dalam tanah dan kotoran hewan. Jika bakteri tetanus masuk ke dalam tubuh manusia, bisa terjadi infeksi baik pada luka yang dalam maupun luka yang dangkal, setelah proses persalinan bisa terjadi infeksi pada rahim ibu dan pusar bayi yang baru lahir (tatanus neonatorum) yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala infeksi ialah racun yang dihasilkan oleh bakteri, bukan bakterinya.


Gejala-gejala ini biasanya muncul dalam waktu 5 hingga 10 hari setelah terinfeksi tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah terinfeksi. Gejala yang paling sering ditemukan ialah kekauan rahang. Yang lainnya berupa gelisah, gangguan menelan, sakit kepala, demam, nyeri tenggorokan, menggigil, kejang otot dan kaku kuduk, lengan serta tungkai. Hanya 2 cm saja, rasanya sakit.


Kejang otot rahang yang dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut ini bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha. Penderita bisa mengalami kesulitan dalam membuka rahangnya (trismus). kejang pada otot-otot wajah menyebabkan ekspresi penderita seperti menyeringai dengan kedua alis yang terangkat.


Kekakuan atau kejang otot-otot perut, leher dan punggung bisa menyebabkan kepala dan tumit penderita tertarik ke belakang sedangkan badannya melengkung ke depan. Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah bisa menyebabkan sembelit dan tertahannya air kemih. Hal yang demikian ini juga menyebabkan gangguan pernapasan sehingga terjadi kekurangan oksigen. Kondisi seperti inilah yang biasanya tak dapat lagi diberikan pertolongan, karena kematian siap merenggut jika terjadi serangan pada syaraf ini.


Untuk penyembuhan umumnya terjadi selama 4 hingga 6 minggu, tetanus dapat dicegah dengan pemberian imunisasi sebagai bagian dari imunisasi DPT. Setelah lewat masa kanak-kanak imunisasi dapat terus dilanjutkan walaupun telah dewasa. Hal ini dianjurkan setiap interval 5 hingga 10 tahun: 25,30, 35 dan seterusnya. Untuk wanita hamil sebaiknya diimunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya.

Gejala-gejala Klinik

  1. Kejang tetanic, trismus, dysphagia, risus sardonicus (sardonic smile).
  2. Adanya luka yang mendahuluinya.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 15 Ciri-Ciri Archaebacteria Dan Eubacteria Lengkap


Pengobatan Clostridium Tatani

Masa inkubasi penyakit tetanus ini berkisar antara 5 hari  – 15 minggu, rata-rata 8-12 hari. Timbulnya gejala klinis biasanya mendadak, didahului oleh ketegangan otot terutama otot rahang (lock jaw) dan leher. Kemudian timbul kesukaran membuka mulut (trismus) karena spasme dari otot maseter. Diikuti dengan kejang pada kuduk, dinding perut dan sepanjang tulang belakang (opistotonus). Bila serangan kejang tonik sedang berlangsung, tampak risus sardonicus, akibat spasme otot muka. Serangan dapat dicetuskan oleh rangsang suara, cahaya maupun sentuhan, akan tetapi dapat juga timbul spontan. Karena kontraksi sangat kuat dapat terjadi asfiksia dan sianosis, retensi urin bahkan dapat terjadi fraktur columna vertebralis (pada anak).

Ciri khas dari penderita tetanus ini, walau telah terjadi kejang tonik diseluruh otot-otot bergaris, pasien masih dalam kesadaran penuh dan merasa sangat nyeri.  Kematian biasanya terjadi akibat gangguan mekanisme pernafasan. Angka kematian tetanus secara umum masih sangat tinggi.


Diagnosis

Diagnosis biasanya berdasarkan gejala klinis dan anamnesis adanya luka, misal : riwayat luka, berapa lama lukanya, keadaan luka, meskipun hanya 50 % pasien tetanus menderita luka yang menyebabkannya meminta pertolongan medis. Diagnosa banding utama adalah keracunan sriknin. Biakan anaerob dari jaringan luka yang terkontaminasi dapat menunjukkan adanya C. tetani, tetapi biasanya pemberian antitoksin tidak perlu menunggu hasil biakan ini. Jadi pada  setiap kasus kecelakaan tanpa gejala klinis sudah langsung diberikan pencegahan dengan suntikan ATS. 2,9

Bukti isolasi Cl.tetani harus didasarkan pada pembentukan  toksin dan uji netralisasi toksin dengan antitoksin yang spesifik.


Komplikasi

Penyumbatan jalan nafas merupakan komplikasi utama pada penyakit tetanus ini. Retensi urun dan konstipasi juga dapat terjadi akibat spasme otot sphincter. Pada kasus berat terjadi gagal nafas dan payah jantung yang mengancam kelangsungan hidup. 


Pengobatan

Hasil pengobatan tetanus tidak memuaskan. Karena itu pencegahan sangat penting. Pencegahan tetanus tergantung pada :

  1. Imunisasi  aktif dengan toksoid.
  2. Perawatan yang baik pada luka yang terkontaminasi dengan tanah.
  3. Pemakaian antitoksin sebagai pencegahan.
  4. Pemberian penicillin.

Jadi bila dijumpai penderita yang menunjukkan gejala klinis tetanus yang harus dilakukan adalah : 10

  1. Memberikan bantuan ventilasi dengan pemberian oksigen.
  2. Memberikan obat pelemas otot atau sedative,  missal pemberian diazepam 0,5 – 1,0 mg / kgbb/ 4 jam, secara intavena.
  3. Memberikan antitoksin dosis tinggi  ( 3.000- 10.000 unit immunoglobulin tetanus) secara intravena untuk menetralkan toksin yang belum terikat dengan jaringan saraf. Namun kemanjuran antitoksin ini untuk pengobatan masih diragukan, kecuali pada tetanus neonatorum, dimana pengobatan ini dapat menyelamatkan nyawanya.
  4. Pemberian Prokain Penicillin 1, 2 juta unit perhari dapat menghambat pertumbuhan Clostridium tetani dan menghentikan toksin lebih lanjut. Antibiotik ini juga dapat mengendalikan infeksi piogenik yang menyertainya.
  5. Perawatan luka yang baik untuk menghilangkan jaringan nekrotik.
  6. Isolasi untuk menghindari dari rangsang luar.

Bila individu yang sebelumnya telah diimunisasi lalu menderita luka yang membahayakan, suatu dosis toksoid tambahan sebaiknya disuntikkan untuk merangsang pembentukan antitoksin. 2


Prognosis

Prognosa jelek  bila masa inkubasinya semakin pendek, cepat timbul kejang dan pengobatan yang terlambat Tingkat kematian mencapai 40%, tapi dapat diturunkan dengan adanya alat bantu pernafasan.11


Pengendalian

Imunisasi aktif secara massal dengan toksoid tetanus harus diwajibkan. Tiga suntikan merupakan imunisasi dasar, diikuti degan dosis ulangan kira-kira satu tahun kemudian. Suntikan booster toksoid diberikan waktu masuk sekolah. Setelah itu diberikan booster dengan jarak 10 tahun untuk mempertahankan kadar serum antitoksin lebih dari 0,01 unit per milliliter. Pada anak kecil. Toksoid tetanus sering digabung dengan toksoid difteri dan pertusis


DAFTAR PUSTAKA
1. Joklik, Willet, Amos ; Zinsser Microbiology, Seventeenth Edition, Appleton-Century-Crofts, 1980, pp.847-851.
2. Jawetz, Melnick & Adelberg’s, Medical Microbiology, McGraw-Hill Companies Inc, Twenty Second Edition, 2001, pp.
3. Kenneth Todar; University of Winconsin-Madison Departement of Bacteriology, 2005, Available from URL ; http: //gsbs.utmb.edu/microbook/cho18.htm.
4. Kenneth Todar; University of Winconsin-Madison Departement of Bacteriology, 2005, Available from URL ; http: //textbook of bacteriology.net/clostridia.html.
5. Levinson & Jawetz, Medical Microbiology & Immunology, McGraw-Hill Companies, Seventh Edition, pp. 109 – 110.
6. Tony Hart, Paul Shears; Atlas Berwarna Mikrobiologi Kedokteran, Copyright Times-Mirros International Publishers Limitted, 1996, hal. 170 – 174.
7. Eugene W.Nester, Denise G. Anderson, C. Evans Roberts,Jr, Nancy N. Pearsall, Martha T. Nester, Microbiology a Human Perspective, Fourth Edition, Mc Graw Hill, 2004, pp. 698-701.
8. Staf pengajar FK UI, Mikrobiologi Kedokteran, Binarupa Aksara, 1993, hal. 126 – 127.
9. Lawrence M.Terney,Jr.MD, Stephen J.McPhee,MD, Maxine A.Papadakis,MD; Current Medical Diagnosis & Treatment 2001, 40th edition, McGraw-Hill Companies, 2001, pp.1357-1358.
10. Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 1, Edisi ketiga, Balai Penerbit FK UI, 1996, hal. 474 – 476.
11. Bongard, Sue, Current Critical Care Diagnosis & Treatment, Second Edition, McGraw-Hill Companies, 2002, pp. 432 – 434.