Sejarah Suku Mentawai

Diposting pada

Dalam hal ini suku mentawai merupakan penghuni asli kepulauan Mentawai, sehagaimana suku Nias dan suku Enggano mereka ialah pendukung budaya Proto-Melayu yang menetap di kepulauan Nusantara sebelah barat. Daerah hunian warga Mentawai, selain di Mentawai juga di Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan. Suku ini dikenal sebagai peramu dan ketika pertama kali dipelajari belum mengenal bercocok tanam. Tradisi yang khas ialah penggunaan tato disekujur tubuh, yang terkait dengan peran dan status sosial penggunaanya.

Sejarah-Suku-Mentawai

Sejarah Suku Mentawai

Mentawai ialah negara kepulauan yang ditemukan dilepas pantai barat Sumatera “Indonesia” yang terdiri dari sekitar 70 pulau. Empat pulau utama ialah Utara dan Pagai Selatan, Sipora dan Siberut; dengan Siberut-mencakup 4.480 kilometer persegi dan dengan jumlah penduduk sekitar 29.918 yang 90% ialah penduduk asli asal Mentawai yang lain 10% dianggap terdiri dari Minangkabau, Jawa dan Batak “Bastide 2008”.

Para nenek moyang orang Mentawai adat diyakini telah bermigrasi pertama ke wilayah tersebut di suatu tempat antara 2000-500 SM “Reeves, 2000” sedangkan penjajah pertama dinyatakan dalam dokumentasi awal oleh John Crisp yang mendarat di pulau-pulau pada tahun 1792, telah tiba pada pertengahan 1700 di perjalanan orang Inggris yang membuat upaya gagal dan untuk mendirikan sebuah pemukiman pertanian lada disebuah pulau selatan Pagai Selatan “Crisp, 1799”. Selama bertahun-tahun sebelum perdagangan ini ada antara masyarakat adat dan daratan Sumatera Cina dan Melayau “Francis, 1839”.

Baca Juga : Sejarah Suku Baduy


Asal Usul Suku Mentawai

Kepulauan ini terdiri dari 70 kepulauan kecil dengan pulau utama yaitu Sipora, Siberut, Pagai unsur utara dan Pagai selatan.

Penduduk yang menempati pulau ini terdiri dari sejumlah suku, sementara suku Mentawai asli mayoritas mendiami wilayah Siberut.

Nenek moyang suku pribumi Mentawai diandalkan sudah menempati kepulauan tersebut semenjak 2000 sampai 500 tahun sebelum masehi, sampai-sampai masyarakat Mentawai yakin bahwa mereka terdapat sebelum penjajah tiba.

Namun saat Belanda mulai menguasai dan menjajah Indonesia, terjadilah hejolak antara asli dan penjajah terutama dalam urusan klaim kepulauan Mentawai.

Belanda terus mengemukakan klaim atas kepulauan Mentawai sebagai unsur dari Hindia Timur.

Namun negosiasi yang dilaksanakan oleh tetua adat suku leluhur Mentawai membuahkan hasil yang meenyenangkan yaitu dibebaskannya masyarakat Mentawai guna hidup dengan teknik dan adat istiadat mereka tanpa terdapat campur tangan dari Belanda.

Kuatnya adat-istiadat masyarakat Mentawai juga diperlihatkan saat mulai hadirnya semua misionaris yang memiliki tidak sedikit tujuan mulai dari berniaga hingga menyebarkan doktrin agama.

Namun masyarakat Mentawai selalu menampik kedatangan misionaris yang dirasakan akan memprovokasi adat Mentawai yang telah ada.

Kemudian ketika penjajah Jepang tiba, mulainya semua dukun atau kerei dipaksa guna kerja.

Jepang memberikan tidak sedikit tekanan untuk masyarakat adat Mentawai sampai ancaman penganiayaan dan pembunuhan.

Setelah Indonesia dapat mengambil kemerdekaannya, pemmerintah mulai menciptakan aturan baru untuk masing-masing suku tergolong Mentawai.

Adanya aturan yang diciptakan pemerintah bertujuan unttuk mempersatukan seluruh suku di Indonesia atas nama bangsa Indonesia.

Sehingga masyarakat adat Mentawai pun harus mengerjakan adaptasi kebiasaan guna menjangkau tujuan dan pandangan hidup hidup bangsa Indonesia swngan berpegang pada Pancasila.

Adanya tidak sedikit faktor mulai dari aturan pemerintah dan sejarah di masa lampau, membuat kebiasaan Mentawai merasakan pergeseran bahkan ada sejumlah wilayah yang telah tidak menjalankan adat istiadat yang ada.

Akan tetapi, disebabkan adat istiadat suku pribumi Mentawai pun sangat kuat, masih terdapat kebudayaan yang tetap dijaga di tengah-tengah modernisasi yang terjadi ketika ini.

Wilayah Siberut yang menjadi distrik terluas dari kepulauan Mentawai masih dihuni oleh suku pribumi Mentawai yang menjaga kebudayaan peninggalan dari nenek moyang mereka.


Bahasa Suku Mentawai

Adapun bahasa Mentawai ialah bahasa yang dipakai sebagai bahasa sehari-hari di daerah kepulauan Mentawai. Bahasa Mentawai merupakan alat komunikasi yang utama daerah kepulauan Mentawai. Bahasa ini terutama dipakai dalam lingkungan keluarga dengan para sahabat dan kenalan, dengan orang Mentawai yang baru dikenal.

Diantara orang yang belum saling mengenal, dalam upacara adat dan keagamaan, bahkan sampai-sampai situasi resmi atau dinas. Ini disebabkan karena daerah ini terpencil jika dibandingkan dengan daerah lain di Sumatera Barat, daerah ini masih jauh terbelakang dalam segala bidang.

Meskipun bahasa wilayah mereka melulu 1 yaitu bahasa Mentawai, namun dipecah dalam 3 dialek. Pengelompokkan logat ini menurut distrik penutur yaitu:

Baca Juga : “Suku Batak” Sejarah & ( Bahasa – Kesenian – Kepercayaan – Mata Pencaharian )


1. Siberut Selatan

Penutur suku Mentawai yang menggunakan logat ini berada di distrik desa Maileppet, Siberut Selatan.

Pengguna logat ini melulu melingkupi unsur kecamatan Siberut Selatan terutama desa Maileppet dan sekitarnya saja.

Wilayah ini tergolong dalam distrik yang lumayan sempit sampai-sampai tidak heran bila logat Siberut Selatan melulu mempunyai penutur yang sedikit.


2. Siberut Utara

Penutur logat Siberut unsur utara berada di distrik desa Monganpoula, Siberut Utara.

Lingkup penutur logat ini dapat dikatakan lumayan sedikit karena melulu melingkupi lokasi Monganpoula saja.

Desa itu wilayahnya juga lumayan sempit.


3. Sipora Pagai

Penutur logat Sipora pagai berada di distrik desa Sioban, Sipora dan desa Makalo, Pagai selatan.

Dialek ini menjadi bahasa yang paling tidak sedikit digunakan oleh orang Mentawai sebab wilayahnya yang lebih luas dari 2 logat lainnya.


Agama dan Kepercayaan Suku Mentawai

Mayoritas orang Mentawau memeluk agalam Katolik dan sebagian beragama Protestan, Islam atau Bahai. Walaupun demikian sebagai besar orang Mentawai tetap memegang teguh religinya yang asli ialah Arat Bulungan. Arat berarti “adat” dan bulungan berasal dari kata bulu “daun”.

Dalam religinya bukan hanya manusia yang mempunyai jiwa, tetapi juga hewan, tumbuh-tumbuhan, batu, air terjun sampai pelangi dan juga kerangka suatu benda. Selain dari jiwa ada berbagai macam ruh yang menempati seluruh alam semesta yakni di laut, udara dan hutan belantara.

Menurut keyakinan orang Mentawai jiwa manusia atau magere terletak di ubun-ubun kepala. Jiwa itu suku berpetualang di luar jasmani saat orangnya tidur yang merupakan mimpinya. Bila jiwa keluar dari tubuh bisa terjadi bahwa jiwa itu bertemu denga ruh jahat, akibatnya tubuh akan sakit dan bila jiwa dalam keadaan itu mencari perlindungan pada ruh nenek-moyang maka tubuh mungkin akan meninggal. Jiwa tak akan kembali lagi ke tubuh dan menjadi ketsat “ruh”.


Adat istiadat Suku Mentawai

Orang Mentawai memiliki puncak kebudayaan berisi 10 ajaran yaitu:

  • Orang Mentawai percaya kepada kekuasaan tunggal yang menciptakan langit dan bumi. Ini dikenal dengan Taikamanua, mereka telah mengenal Maha Esa.
  • Adil orang Mentawai kalau membagi sesuatu harus sama banyak, tidak berat sebelah.
  • Kebersamaan orang Mentawai lebih mengutamakan persatuan dan persaudaraan.
  • Tidak boleh berzina, perkawinan bagi merupakan hal yang sakral, kalau ada yang melanggar dihukum oleh adat, dahulu hukumannya ada yang dibunuh.
  • Tidak boleh masuk rumah kalau didalamnya hanya ada perempuan saja.
  • Kalau berjalan bersama-sama maka laki-laki harus didepan.
  • Orang Mentawai jujur dan lugu, kalau kita menjanjikan akan memberikan rokok Gudang Garam kepada penduduk, ternyata kita memberikan mereka hanya rokok Djisamsoe, rokok Djisamsoe tetap mereka terima tetapi rokok Gudang Garam tetap mereka tanyakan dan minta.
  • Berat sepikul ringan sejinjing, semua pekerjaan mereka lakukan bergotong royong.
  • Tidak mau mengambil hak orang lain.
  • Dan menghormati tamu.

Baca Juga : “Suku Tanimbar” Sejarah & ( Bahasa – Mata Pencaharian – Kekerabatan – Kepercayaan )


Kebudayaan Suku Mentawai

Jika kita mengenal seni tato tubuh di era sekarang, suku yang menempati pulau Mentawai ini telah lebih mengenal dulu mengenai seni tato. Di samping itu, apa saja keanehan lain yang dimiliki? Yuk simak !


1. Seni tato tubuh Mentawai

Tato atau seni lukis tubuh sudah tidak sedikit dikenal lagipula di zaman milenial seperti kini ini.

Tidak melulu tato permanen, Anda dapat membuat tato tubuh yang dapat dihapus kapan saja sampai-sampai tidak perlu fobia untuk menciptakan tato dengan sekian banyak gambar.

Sama halnya dengan suku Mentawai, tato menjadi hal mesti yang mesti dilaksanakan oleh kaum pria maupun perempuan.

Bagi masyarakat Mentawai, tato dirasakan sebagai busana terbaik sampai-sampai mereka tidak ragu untuk menciptakan tato di semua tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Kegiatan ini telah menjadi tradisi adat turun temurun dari semua leluhur. Tidak melulu sebagai tradisi, tato dipakai sebagai tingkatan kedudukan sosial dan menunjukkan kepribadian suku tersebut.

Budaya tato tubuh masih dilaksanakan oleh suku Mentawai sampai sekarang, tetapi tidak seluruh masyarakat melakukannya.

Hanya distrik pulau Siberut saja yang masih mengerjakan tradisi adat ini. Hal ini disebabkan adanya larangan dari pemerintah melewati surat keputusan presiden Soekarno tahun 1954.


2. Gigi runcing tanda keelokan paripurna

Jika pengertian cantik menurut keterangan dari sebagian orang ialah mempunyai kulit yang bersih, gigi rapi, rambut luris berkilau lain halnya dengan sisi cantik yang diperlihatkan suku Mentawai.

Masyarakat adat percaya bahwa wanita yang cantik paripurna ialah perempuan dengan gigi yang runcing.

Mengapa dapat demikian? Apakah meruncingkan gigi wajib untuk kaum wanita Mentawai?

Simbol keelokan suku ini diukur dari seberapa runcing gigi yang dipunyai oleh seorang wanita.

Biasanya saat memasuki umur remaja, semua perempuan Mentawai bakal mengkikir giginya hingga runcing.

Gigi runcing ini bermakna sebagai simbol penyelaras jiwa dan roh mahkluk sampai-sampai akan terhindar dari marabahaya.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan unik ini telah mulai ditinggalkan dampak budaya luar yang mulai masuk ke wilayah Mentawai.

Di samping itu, pertumbuhan teknologi dan pengetahuan yang semakin maju pun mempengaruhi pola pikir masyarakat Mentawai terutama lebih berhati-hati dalam mengawal kesehatan gigi.


3. Tradisi Pernikahan suku Mentawai

Bukan melulu tato dan gigi runcing saja yang menciptakan suku Mentawai memiliki kebiasaan unik, namun tradiai pernikahannya pun pun tergolong unik.

Masyarakat Mentawai masih menganut sistem perjodohan.

Kegiatan ini digelar dengan menyaksikan status sosial satu uma dengan uma lain.

Jika suami meninggal, maka pihak wanita akan pulang ke uma asalnya.

Pernikahan adat di masyarakat Mentawai akan diciptakan semeriah barangkali dengan susunan pesta yang cukup tidak sedikit dan rumit.

Ada sekian banyak ritual yang seringkali dilakuķan oleh pihak mempelai, family mempelai sampai sanak saudara teedekat.

Setiap tradisi yang ada mesti dijalankan supaya pernikahan dapat langgeng dan menyerahkan keberkahan untuk keluarga.

Baca Juga : “Suku Tehit” Sejarah & ( Adat Istiadat – Kepercayaan – Mata Pencaharian – Bahasa )


Rumah Adat Suku Mentawai

Rumah panjang uma dihuni oleh family besar mulai dari 5 keluarga sampai 10 keluarga. Dikarenakan lokasi tinggal adat ini termasuk lokasi tinggal yang besar, maka dipecah menjadi 3 unsur yang memiliki faedah masing-masing yakni:


1. Uma

Uma adalahbagian inti lokasi tinggal yang sangat besar.

Fungsi dari unsur ini ialah rumah utama yang dihuni oleh family dari pihak ayah.

Jika terdapat acara family atau pesta, pasti memakai bagian uma dari lokasi tinggal adat suku Mentawai ini.


2. Rusuk

Rusuk menjadi di antara bagian lokasi tinggal panjang uma yang difungsikan guna pondok atau penginapan khusu anak muda dan janda yang terusir.

Ukurannya lumayan sempit namun masih mencukupi dan layak.


3. Lalep

Bagian samping dari lokasi tinggal utama atau uma dinamakan dengan lalep. Bagian ini difungsikan guna pasangan yang belum sah menikah.

Tujuannya guna lebih mendekatkan dan mengenal satu sama beda sebelum mengarah ke ke pernikahan yang sakral.