Pengertian Dan Faktor Perubahan Sosial Menurut Para Ahli

Diposting pada

Pengertian Perubahan Sosial, Faktor, Bentuk, Dampak dan Menurut Para Ahli Adalah proses di mana terjadi perubahan struktur dan fungsi suatu sistem sosial.

pengertian-perubahan-sosial


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Dan Sifat Pengendalian Sosial Terlengkap


Pengertian Perubahan Sosial

Perubahan sosial adalah proses di mana terjadi perubahan struktur dan fungsi suatu sistem sosial. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat masuknya ide-ide pembaruan yang diadopsi oleh para anggota sistem sosial yang bersangkutan. Proses perubahan sosial biasa tediri dari tiga tahap:

  1. Invensi, yakni proses di mana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan
  2. Difusi, yakni proses di mana ide-ide baru itu dikomunikasikan ke dalam sistem sosial.
  3. Konsekuensi, yakni perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengadopsian atau penolakan inovasi. Perubahan terjadi jika penggunaan atau penolakan ide baru itu mempunyai akibat.

Dalam menghadapi perubahan sosial budaya tentu masalah utama yang perlu diselesaikan ialah pembatasan pengertian atau definisi perubahan sosial (dan  Wilbert E. Maore, Order and Change, Essay in Comparative Sosiology, New York, John Wiley & Sons, 1967 : 3. perubahan kebudayaan) itu sendiri. Ahli-ahli sosiologi dan antropologi telah banyak membicarakannya.

Menurut Max Weber dalam Berger (2004), bahwa, tindakan sosial atau aksi sosial (social action) tidak bisa dipisahkan dari proses berpikir rasional dan tujuan yang akan dicapai oleh pelaku. Tindakan sosial dapat dipisahkan menjadi empat macam tindakan menurut motifnya: (1) tindakan untuk mencapai satu tujuan tertentu, (2) tindakan berdasar atas adanya satu nilai tertentu, (3) tindakan emosional, serta (4) tindakan yang didasarkan pada adat kebiasaan (tradisi).

Anonim dalam Media Intelektual (2008) mengungkapkan bahwa, aksi sosial adalah aksi yang langsung menyangkut kepentingan sosial dan langsung datangnya dari masyarakat atau suatu organisasi, seperti aksi menuntut kenaikan upah atau gaji, menuntut perbaikan gizi dan kesehatan, dan lain-lain. Aksi sosial adalah aksi yang ringan syarat-syarat yang diperlukannya dibandingkan dengan aksi politik, maka aksi sosial lebih mudah digerakkan daripada aksi politik. Aksi sosial sangat penting bagi permulaan dan persiapan aksi politik. Dari aksi sosial, massa/demonstran bisa dibawa dan ditingkatkan ke aksi politik. Aksi sosial adalah alat untuk mendidik dan melatih keberanian rakyat. Keberanian itu dapat digunakan untuk: mengembangkan kekuatan aksi, menguji barisan aksi, mengukur kekuatan aksi dan kekuatan lawan serta untuk meningkatkan menjadi aksi politik. Selanjutnya Netting, Ketther dan McMurtry (2004) berpendapat bahwa, aksi sosial merupakan bagian dari pekerjaan sosial yang memiliki komitmen untuk menjadi agen atau sumber bagi mereka yang berjuang menghadapi beragam masalah untuk memerlukan berbagai kebutuhan hidup.

Perubahan sosial dalam masyarakat bukan merupakan sebuah hasil atau produk tetapi merupakan sebuah proses. Perubahan sosial merupakan sebuah keputusan bersama yang diambil oleh anggota masyarakat. Konsep dinamika kelompok menjadi sebuah bahasan yang menarik untuk memahami perubahan sosial. Kurt Lewin dikenal sebagai bapak manajemen perubahan, karena ia dianggap sebagai orang pertama dalam ilmu sosial yang secara khusus melakukan studi tentang perubahan secara ilmiah. Konsepnya dikenal dengan model force-field yang diklasifikasi sebagai model power-based karena menekankan kekuatan-kekuatan penekanan. Menurutnya, perubahan terjadi karena munculnya tekanan-tekanan terhadap kelompok, individu, atau organisasi. Ia berkesimpulan bahwa kekuatan tekanan (driving forces) akan berhadapan dengan penolakan (resistences) untuk berubah. Perubahan dapat terjadi dengan memperkuat driving forces dan melemahkan resistences to change.

Langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengelola perubahan, yaitu: (1) Unfreezing, merupakan suatu proses penyadaran tentang perlunya, atau adanya kebutuhan untuk berubah, (2) Changing, merupakan langkah tindakan, baik memperkuat driving forces maupun memperlemah resistences, dan (3) Refreesing, membawa kembali kelompok kepada keseimbangan yang baru (a new dynamic equilibrium). Pada dasarnya perilaku manusia lebih banyak dapat dipahami dengan melihat struktur tempat perilaku tersebut terjadi daripada melihat kepribadian individu yang melakukannya. Sifat struktural seperti sentralisasi, formalisasi dan stratifikasi jauh lebih erat hubungannya dengan perubahan dibandingkan kombinasi kepribadian tertentu di dalam organisasi.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Dan Faktor Hubungan Sosial


Menurut Para Ahli

  • Max Weber
    mengemukakan (dalam buku Sociological Writings) bahwa perubahan sosial budaya ialah perubahan situasi didalam masyarakat sebagai akibat dari adanya ketidaksesuaian pada unsur-unsur
  • W. Kornblum
    mengemukakan (dalam buku Sociology in Changing World) bahwa perubahan sosial budaya ialah perubahan suatu budaya masyarakat yang secara bertahap dalam jangka waktu lama
  • Kingsley Davis
    mengemukakan (dalam buku Human Society) perubahan sosial ialah sebagai perubahan perubahan yang terjadi didalam struktur dan fungsi masyarakat .


  • Bruce J. Cohen
    menyatakan (dalam buku Sosiologi: suatu pengantar: terjemaahan) bahwa perubahan sosial ialah perubahan struktur sosial didalam organisasi sosial sehingga syarat dalam perubahan itu ialah sistem sosial, perubahan hidup dalam nilai sosial dan juga budaya masyarakat .


  • Roucek dan Warren (dalam buku Sociology)
    mengartikan bahwa perubahan sosial ialah sebagai perubahan dalam proses sosial maupun dalam struktur masyarakat .


  • Selo Sumardjan
    mengartikan (dalam buku Perubahan Sosial di Yogyakarta) perubahan sosial ialah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat .


  • Max Iver
    mengemukakan (dalam buku A Text Book of Sociology) bahwa perubahan sosial ialah perubahan dalam hubungan sosial maupun sebagai perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial .
    Gillin menyatakan bahwa perubahan sosial ialah variasi cara-cara hidup yang telah diterima baik itu yang disebabkan oleh perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi, atau pun disebabkan karena adanya difusi maupun penemuan baru dalam masyarakat .


  • Lippit (1958)
    mencoba mengembangkan teori yang disampaikan oleh Lewin dan menjabarkannya dalam tahap-tahap yang harus dilalui dalam perubahan berencana. Terdapat lima tahap perubahan yang disampaikan olehnya, tiga tahap merupakan ide dasar dari Lewin. Walaupun menyampaikan lima tahapan Tahap-tahap perubahan adalah sebagai berikut: (1) tahap inisiasi keinginan untuk berubah, (2) penyusunan perubahan pola relasi yang ada, (3) melaksanakan perubahan, (4) perumusan dan stabilisasi perubahan, dan (5) pencapaian kondisi akhir yang dicita-citakan.


    Konsep pokok yang disampaikan oleh Lippit diturunkan dari Lewin tentang perubahan sosial dalam mekanisme interaksional. Perubahan terjadi karena munculnya tekanan-tekanan terhadap kelompok, individu, atau organisasi. Ia berkesimpulan bahwa kekuatan tekanan (driving forces) akan berhadapan dengan penolakan (resistences) untuk berubah. Perubahan dapat terjadi dengan memperkuat driving forces dan melemahkan resistences to change. Peran agen perubahan menjadi sangat penting dalam memberikan kekuatan driving force.


  • Atkinson (1987) dan Brooten (1978),
    menyatakan definisi perubahan merupakan kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau seseorang berbeda dengan keadaan sebelumnya dan merupakan proses yang menyebabkan perubahan pola perilaku individu atau institusi. Ada empat tingkat perubahan yang perlu diketahui yaitu pengetahuan, sikap, perilaku, individual, dan perilaku kelompok. Setelah suatu masalah dianalisa, tentang kekuatannya, maka pemahaman tentang tingkat-tingkat perubahan dan siklus perubahan akan dapat berguna.


  • Etzioni (1973)
    mengungkapkan bahwa, perkembangan masyarakat seringkali dianalogikan seperti halnya proses evolusi. suatu proses perubahan yang berlangsung sangat lambat. Pemikiran ini sangat dipengaruhi oleh hasil-hasil penemuan ilmu biologi, yang memang telah berkembang dengan pesatnya. Peletak dasar pemikiran perubahan sosial sebagai suatu bentuk “evolusi” antara lain Herbert Spencer dan August Comte. Keduanya memiliki pandangan tentang perubahan yang terjadi pada suatu masyarakat dalam bentuk perkembangan yang linear menuju ke arah yang positif. Perubahan sosial menurut pandangan mereka berjalan lambat namun menuju suatu bentuk “kesempurnaan” masyarakat.


  • Menurut Spencer,
    suatu organisme akan bertambah sempurna apabila bertambah kompleks dan terjadi diferensiasi antar organ-organnya. Kesempurnaan organisme dicirikan oleh kompleksitas, differensiasi dan integrasi. Perkembangan masyarakat pada dasarnya berarti pertambahan diferensiasi dan integrasi, pembagian kerja dan perubahan dari keadaan homogen menjadi heterogen. Spencer berusaha meyakinkan bahwa masyarakat tanpa diferensiasi pada tahap pra industri secara intern justru tidak stabil yang disebabkan oleh pertentangan di antara mereka sendiri.


    Pada masyarakat industri yang telah terdiferensiasi dengan mantap akan terjadi suatu stabilitas menuju kehidupan yang damai. Masyarakat industri ditandai dengan meningkatnya perlindungan atas hak individu, berkurangnya kekuasaan pemerintah, berakhirnya peperangan antar negara, terhapusnya batas-batas negara dan terwujudnya masyarakat global. Seperti halnya Spencer, pemikiran Comte sangat dipengaruhi oleh pemikiran ilmu alam. Pemikiran Comte yang dikenal dengan aliran positivisme, memandang bahwa masyarakat harus menjalani berbagai tahap evolusi yang pada masing-masing tahap tersebut dihubungkan dengan pola pemikiran tertentu. Selanjutnya Comte menjelaskan bahwa setiap kemunculan tahap baru akan diawali dengan pertentangan antara pemikiran tradisional dan pemikiran yang berdifat progresif. Sebagaimana Spencer yang menggunakan analogi perkembangan mahkluk hidup, Comte menyatakan bahwa dengan adanya pembagian kerja, masyarakat akan menjadi semakin kompleks, terdeferiansi dan terspesialisasi.


    Membahas tentang perubahan sosial, Comte membaginya dalam dua konsep yaitu social statics (bangunan struktural) dan social dynamics (dinamika struktural). Bangunan struktural merupakan struktur yang berlaku pada suatu masa tertentu. Bahasan utamanya mengenai struktur sosial yang ada di masyarakat yang melandasi dan menunjang kestabilan masyarakat. Sedangkan dinamika struktural merupakan hal-hal yang berubah dari satu waktu ke waktu yang lain. Perubahan pada bangunan struktural maupun dinamika struktural merupakan bagian yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.


  • Kornblum (1988),
    berusaha memberikan suatu pengertian tentang perubahan sosial. Ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun immaterial. Penekannya adalah pada pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial. Perubahan sosial diartikan sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.


    Definisi lain dari perubahan sosial adalah segala perubahan yang terjadi dalam lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya. Tekanan pada definisi tersebut adalah pada lembaga masyarakat sebagai himpunan kelompok manusia dimana perubahan mempengaruhi struktur masyarakat lainnya (Soekanto, 1990). Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat seperti misalnya perubahan dalam unsur geografis, biologis, ekonomis dan kebudayaan.


  • Moore (2000), perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto, 1990). Aksi sosial dapat berpengaruh terhadap perubahan sosial masyarakat, karena perubahan sosial merupakan bentuk intervensi sosial yang memberi pengaruh kepada klien atau sistem klien yang tidak terlepas dari upaya melakukan perubahan berencana. Pemberian pengaruh sebagai bentuk intervensi berupaya menciptakan suatu kondisi atau perkembangan yang ditujukan kepada seorang klien atau sistem agar termotivasi untuk bersedia berpartisipasi dalam usaha perubahan sosial.

    Akhirnya dikutip definisi Selo Soemardjan yang akan dijadikan pegangan dalam pembicaraan selanjutnya. “Perubahan –perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Penantar, (Jakarta : Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1974), hal. 217 mempengaruhi sistem sosialnya, termasuka didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola per-kelakukan diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat”.


    Definisi ini menekankan perubahan lembaga sosial, yang selanjutnya mempengaruhi segi-segi lain struktur masyarakat. Lembaga social ialah unsur yang mengatur pergaulan hidup untuk mencapai tata tertib melalui norma.Definisi lain dari perubahan sosial adalah segala perubahan yang terjadi dalam lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya. Tekanan pada definisi tersebut adalah pada lembaga masyarakat sebagai himpunan kelompok manusia dimana perubahan mempengaruhi struktur masyarakat lainnya


  • (Soekanto, 1990). Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat seperti misalnya perubahan dalam unsur geografis, biologis, ekonomis dan kebudayaan.

  • Sorokin (1957), berpendapat bahwa segenap usaha untuk mengemukakan suatu kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam perubahan sosial tidak akan berhasil baik. Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto, 1990).

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 10 Pengertian Pranata Sosial dan Sosial


Pola Perubahan Sosial

Perubahan Sosial mengacu pada statika masyarakat yang dapat terus berubah-ubah melalui mobilitas social. Institusi social dapat berubah karena adanya perubahan pada institusi lain dan karena terjadinya gerakan sosial.  Pola Perubahan Sosial dalam sosiologi klasik yang dijelaskan oleh Etzioni Halevy-Etzioni (1973: 3-8)  dibagi menjadi 3, yakni:

  1. Pola Linear merupakan pandangan bahwa suatu perubahan social akan terjadi sesuai dengan pola yang sudah pasti, sama dan tidak terelakkan. Comte mengemukakan contoh kepastian karyanya dalam “hukum tiga tahap”, yakni yang pertama hukum “teologis dan militer”, yang artinya masyarakat memiliki naluri untuk menundukkan masyarakat lainya. Sistemnya mengunggulkan imajinasi dibandingkan penelitian empiric. Lalu yang kedua disebut dengan “metafisik dan yuridis”, yaitu cabang dari pola yang menjembatani antara masyarakat teologis dan industry. Masih terpaku pada imajinasi, namun mampu merubah diri menjadi dasar-dasar penelitian dengan lambat laun. Yang terakhir disebut dengan istilah “ilmu pengetahuan dan industry” karena pada tahap ini industry telah menggeser dan mendominasi masyarakat. Imajinasi pun telah digesr oleh pengamatan-pengamatan teoritik positif.

  2. Pola Siklus merupakan pandangan bahwa suatu perubahan social terjadi dalam suatu siklus yang sama, layaknya roda kehidupan. Suatu kalangan yang pernah berkuasa akan kembali berkuasa sesuai dengan siklusnya. Menurut Pareto, masyarakat dibagi menjadi 2 lapisan yakni elit dan nonelit. Elit pun masih dibagi menjadi 2 yakni elit berkuasa (aristokrat) dan tidak berkuasa. Sejarah mencatat Aristokrat hanya akan ada sementara waktu saja, kemudian luntur dan digantikan oleh masyarakat nonelit. Demikianlah siklus yang terjadi dalam pola aristokrasi.

  3. Pola Gabungan, contohnya teori konflik Marx suatu masyarakat yang akan mendominasi kelas lain menurutnya suatu siklus akan terjadi di sana, yang merupakan refleksi masyarakat komunisme. Digabungkan dengan pemikiran kapitalisme yang berkembang pesat akan memicu konflik merupakan pola linear yang pasti, tak terelakan dan sama.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sikap Anti Sosial – Pengertian, Ciri, Sebab, Cara ,Bentuk ,Media ,Pengaruh


Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial

Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan sosial yaitu sempitnya waktu masyarakat tani terhadap upacara adat yang biasa dilakukan dalam berusaha tani.  Telah terjadi perubahan mendasar pada berbagai kegiatan budidaya pertanian di Tana Toraja terutama yang menyangkut berbagai upacara adat. Berbagai bentuk upacara seperti mangkaro kalo’ (sebelum tanam), menamu (ketika padi sudah mulai berisi), mepase (ketika padi akan dipotong, manglika (menaikkan padi ke lumbung), dan buka allang (mengambil padi dari lumbung) sekarang sudah tidak dilakukan lagi. Hal ini terkait dengan semakin sempitnya waktu masyarakat tani dan perhatian terhadap upacara tersebut yang semakin menurun.


Beberapa kegiatan teknologi pertanian lainnya, baik pra panen dan pasca panen juga telah mengalami perubahan. Perubahan teknologi pertanian yang terjadi di Desa Lembang Turunan saat ini keadaannya tidak jauh berbeda dengan daerah pertanian dataran rendah lain. Tetapi diketahui bahwa perubahan tersebut lebih lambat dibanding dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan karena hasil pertanian padi bukan merupakan satu-satunya tumpuan bagi keluarga di Toraja, meskipun padi merupakan lambang kemakmuran bagi keluarga, yang ditandai dengan banyaknya lumbung yang dimiliki.

Penerapan teknologi pertanian akan meningkatkan produksi hasil yang selanjutnya akan meningkatkan pendapatan petani. Untuk petani yang berhasil, akan membeli menyewa atau membeli sawah di tempat lain yang pada akhirnya akan meningkatkan status sosialnya. Tetapi diketahui bahwa peningkatan status ini bersifat ‘semu’.


Untuk pertanyaan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya perubahan, hanya 4 responden yang menyatakan bahwa perubahan teknologi pertanian merupakan inisiatif petani sendiri (faktor internal). Jawaban atas pertanyaan yang lebih mendalam (depth interview), kira-kira apa yang mendorong munculnya inisiatif sendiri tersebut adalah: (1) tayangan televisi, (2) pengalaman melihat dari daerah lain yang lebih maju, dan (3) ada kebutuhan dari diri sendiri untuk meningkatkan diri dengan memperbarui teknologi yang ada.


Sementara itu 31 responden sisanya mengaku perubahan teknologi yang terjadi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti: kebijakan pemerintah dan penyuluhan. Pada wawancara yang lebih mendalam diketahui bahwa faktor eksternal tersebut ternyata selalu berubah sehingga sangat mempengaruhi produktivitas hasil pertanian yang dicapai. Bahkan pada era desentralisasi ini perhatian pemerintah dalam bidang pertanian dirasa menurun jika dibanding dengan era sentralisasi. Jika dahulu ada berbagai program seperti inmas, insus, supra insus dan sebagainya, sekarang tidak ada lagi. Untuk program penyuluhan, pada era sentralisasi dahulu ditangani langsung dari pusat. Sementara itu pada era desentralisasi saat ini, fungsi dan peran dan fungsi penyuluh tidak jelas. Di tingkat pusat, penyuluhan tidak lagi ditangani secara khusus tetapi merupakan bagian dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Sedangkan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, kebijakannya berbeda-beda, bahkan di Tana Toraja kedudukan penyuluh tidak jelas .


Margono Slamet yang lebih berorientasi pada adanya suatu kekuatan dari dalam dan dari luar yang mendorong seseorang untuk berubah yang disebut dengan motivational forces, Soerjono Soekanto menyatakan bahwa faktor-faktor yang mendorong perubahan-perubahan dalam masyarakat antara lain sebagai berikut.

Faktor Pendorong Perubahan Sosial

  • Sistem Pendidikan yang Maju
    Dengan adanya sistem pendidikan yang maju, membuat seseorang memiliki wacana ilmu pengetahuan yang baru, yang dapat mengubah pola pikir seseorang untuk selalu menciptakan hal yang baru, tentunya yang dapat memajukan suatu kehidupan sosial dalam masyarakat.


  • Sikap Menghargai Hasil Karya Seseorang dan Keinginan untuk Maju
    Menghargai hasil karya orang lain merupakan suatu sikap yang patut dikembangkan dalam kehidupan sosial di masyarakat. Dengan sikap tersebut, setidaknya ada semacam penghargaan terhadap etos kerja seseorang untuk kemudian memacu jiwa seseorang untuk berpikiran maju dan menuju ke arah perkembangan.


  • Toleransi terhadap Perbuatan-Perbuatan yang Menyimpang
    Tidak setiap penyimpangan itu negatif. Penyimpangan juga ada yang memang diharapkan terjadi, karena adanya sistem yang memang harus dibenahi. Sebab jika tidak disimpangkan, justru upaya untuk mempertahankan sistem yang sudah rusak tersebut akan lebih berbahaya.


  • Sistem Pelapisan Sosial yang Terbuka
    Sistem pelapisan sosial yang terbuka akan lebih mempermudah terjadinya mobilitas sosial yang memungkinkan anggota masyarakat untuk pindah dari satu lapisan ke lapisan lainnya. Dengan melakukan usaha-usaha tertentu, anggota masyarakat dapat pindah dari lapisan rendah ke lapisan yang lebih tinggi, sehingga akan terjadi perubahan dalam status atau kedudukan. Dengan demikian kita ketahui bahwa dengan adanya mobilitas sosial, maka akan lebih mempercepat terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat.


  • Penduduk yang Heterogen
    Heterogenitas dalam kependudukan akan menimbulkan keragaman dalam hal pemikiran dan juga kematangan dalam pengetahuan. Jika hal itu dianggap sebagai sebuah hal yang positif, perbedaan tersebut justru akan mendorong ke arah kemajuan. Namun sebaliknya, jika dilihat dari sisi negatif, hal itu dapat membawa ke arah keruntuhan dan perpecahan.


  • Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Kehidupan Tertentu
    Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas terhadap apa yang telah dimilikinya. Rasa tidak puas tersebut mendorong manusia untuk melakukan perubahan-perubahan pada bidangbidang kehidupan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Misalnya ketidakpuasan manusia terhadap mesin ketik karena tidak bisa digunakan untuk menyimpan data-data, mendorongnya melakukan perubahan, yaitu dengan menciptakan komputer.


  • Orientasi ke Masa Depan
    Setiap manusia dan masyarakat pasti menginginkan suatu kemajuan dalam hidupnya. Oleh karena itu diperlukan adanya sikap yang berorientasi ke masa depan. Pandangan yang jauh ke depan merupakan suatu sikap yang memang diharapkan dapat mendorong perubahan sosial. Hal ini terutama harus dimiliki oleh generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa yang dapat dilakukan dengan belajar giat agar dapat mencapai prestasi yang bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat, serta bangsa dan negara.


  • Sikap Mudah Menerima Hal-Hal Baru
    Hal-hal yang baru seperti ilmu pengetahuan, penemuanpenemuan baru akan membawa pola pikir seseorang untuk selalu baru juga. Setiap orang yang memiliki sikap seperti itu akan mudah sekali terdorong untuk melakukan perubahan.

Faktor Penghambat Perubahan Sosial

Ada beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan di dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut :

  1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain menyebabkan suatu masyarakat tidak mengetahui perkembangan yang dapat memperkaya kebudayaan masyarakat tersebut.
  2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat di sebabkan oleh kehidupan masyarakat tertutup.
  3. Sikap masyarakat yang masih mengagungkan tradisi masa lampau dan cenderung konservatif.
  4. Adanya kepentingan yang sudah tertanam kuat ( vested interest ). Orang selalu mengidentifikasi diri dengan usaha dan jasa-jasanya.
  5. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan. Masyarakat khawatir ada unsur-unsur luar yang dapat menggoyahkan integrasi dan menimbulkan perubahan pada aspek-aspek tertentu di dalam masyarakat.
  6. Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap yang tertutup, terutama yang datang dari barat. Pengalaman menimbulkan sikap penuh curiga dan khawatir terhadap datangnya unsur-unsur baru
  7. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis. Setiap usaha perubahan pada unsure-unsur budaya rohaniah, biasanya diartikan dengan usaha yang berlawanan dengan ideology masyarakat yang sudah menjadi dasar kehidupan masyarakat tersebut.
  8. Kebiasaan tertentu dalam masyarakat yang cenderung sukar diubah.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Geografi Sosial dan Menurut Para Ahli


Bentuk Perubahan Sosial

Bentuk perubahan sosial yang terjadi pada penerapan teknologi pertanian di Tana Toraja merupakan bentuk perubahan sosial tidak dikehendaki (unintended change). Perubahan yang tidak direncanakan biasanya berupa perubahan yang tidak dikehendaki dan terjadi di luar jangkauan masyarakat. Karena terjadi di luar perkiraan dan jangkauan, perubahan ini sering membawa masalah-masalah yang memicu kekacauan atau kendala-kendala dalam masyarakat. Oleh karenanya, perubahan yang tidak dikehendaki sangat sulit ditebak kapan akan terjadi.


Salah satu penyebab terjadi kendala dalam bentuk perubahan seperti ini adalah tidak terlibatnya agen atau pihak yang akan melaksanakan perubahan dimasyarakat.  Masyarakat di Tana Toraja hanya mengetahui, dan mendapatkan teknologi, tanpa terlibat dalam perencanaan kegunaan teknologi tersebut disebar dimasyarakat.


Inisiatif petani yang rendah dilihat dari hanya 4 responden yang mengatakan bahwa penggunaan teknologi tersebut dorongan internal.  Peran lembaga masyarakat sangat penting dalam suatu bentuk perubahan sosial, dimana lembaga masyarakat yang merupakan kepercayaan masyarakat akan meninjau seberapa penting dan seberapa besar dampak suatu perubahan tersebut didalam sosial ekonomi masyarakat itu sendiri.


Perubahan Evolusi dan Perubahan Revolusi

Berdasarkan cepat lambatnya, perubahan sosial dibedakan menjadi dua bentuk umum yaitu perubahan yang berlangsung cepat dan perubahan yang berlangsung lambat. Kedua bentuk perubahan tersebut dalam sosiologi dikenal dengan revolusi dan evolusi.

  • Perubahan evolusi
    Perubahan evolusi adalah perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam proses lambat, dalam waktu yang cukup lama dan tanpa ada kehendak tertentu dari masyarakat yang bersangkutan. Perubahan-perubahan ini berlangsung mengikuti kondisi perkembangan masyarakat, yaitu sejalan dengan usaha-usaha masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dengan kata lain, perubahan sosial terjadi karena dorongan dari usaha-usaha masyarakat guna menyesuaikan diri terhadap kebutuhan-kebutuhan hidupnya dengan perkembangan masyarakat pada waktu tertentu. Contoh, perubahan sosial dari masyarakat berburu menuju ke masyarakat meramu.


  • Perubahan revolusi
    Perubahan revolusi merupakan perubahan yang berlangsung secara cepat dan tidak ada kehendak atau perencanaan sebelumnya. Secara sosiologis perubahan revolusi diartikan sebagai perubahan-perubahan sosial mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga- lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat. Dalam revolusi, perubahan dapat terjadi dengan direncanakan atau tidak direncanakan, dimana sering kali diawali dengan ketegangan atau konflik dalam tubuh masyarakat yang bersangkutan. Revolusi tidak dapat terjadi di setiap situasi dan kondisi masyarakat.

Perubahan dikehendaki

Perubahan dikehendaki (direncanakan) dan tidak dikehendaki (tidak direncanakan)

  1. Perubahan yang dikehendaki (direncanakan)
    Perubahan sosial dapat berlangsung karena dikehendaki atau direncanakan (intended change), dan dapat pula tidak dikehendaki atau tanpa suatu perencanaan (unintended change).
    Perubahan yang dikehendaki (direncanakan) adalah perubahan-perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki suatu perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan. Oleh karena itu, suatu perubahan yang direncanakan selalu di bawah pengendalian dan pengawasan agent of change.


  2. Perubahan yang tidak dikehedaki (tidak direncanakan)
    Perubahan yang tidak direncanakan biasanya berupa perubahan yang tidak dikehendaki dan terjadi di luar jangkauan masyarakat. Karena terjadi di luar perkiraan dan jangkauan, perubahan ini sering membawa masalah-masalah yang memicu kekacauan atau kendala-kendala dalam masyarakat. Oleh karenanya, perubahan yang tidak dikehendaki sangat sulit ditebak kapan akan terjadi.

Perubahan berpengaruh besar dan kecil

  • Perubahan berpengaruh besar
    Suatu perubahan dikatakan berpengaruh besar jika perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan pada struktur kemasyarakatan, hubungan kerja, sistem mata pencaharian, dan stratifikasi masyarakat. Sebagaimana tampak pada perubahan masyarakat agraris menjadi industrialisasi, pada perubahan ini memberi pengaruh secara besar-besaran terhadap jumlah kepadatan penduduk di wilayah industri dan mengakibatkan adanya perubahan mata pencaharian.


  • Perubahan berpengaruh kecil
    Perubahan-perubahan berpengaruh kecil merupakan perubahan- perubahan yang terjadi pada struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sosial Asosiatif : Pengertian, Bentuk, dan Macam


Dampak Perubahan Sosial

Dampak yang terjadi dari perubahan sosial di Tana Toraja ini berupa dampak positif dan dampak negatif.

  1. Dampak Positif
    Dampak positif yang terjadi akibat perubahan teknologi pertanian yaitu tingkat hidup masyarakat yang lebih baik, serta keinginan masyarakat untuk memperbaiki kehidupannya juga tinggi. Hal ini terlihat dari bentuk penerimaan masyarakat yang baik terhadap perubahan teknologi pertanian didaerah tersebut.
    Penerapan teknologi pertanian akan meningkatkan produksi hasil yang selanjutnya akan meningkatkan pendapatan petani. Untuk petani yang berhasil, akan membeli menyewa atau membeli sawah di tempat lain yang pada akhirnya akan meningkatkan status sosialnya meskipun peningkatan status ini masih bersifat semu.
  2. Dampak Negatif
    Telah terjadi perubahan mendasar pada berbagai kegiatan budidaya pertanian di Tana Toraja yang menyangkut dengan upacara adat yang tidak dilakukan lagi. Hal ini terkait dengan semakin sempitnya waktu masyarakat tani dan perhatian terhadap upacara tersebut yang semakin menurun.