Pengertian Karbon Dioksida

Diposting pada

Pengertian Karbon Dioksida, Manfaat, Sifat, Peranan & Dampak : adalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon.

Karbon Dioksida


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan :√ Karbon Monoksida: Pengertian, Struktur, Reaksi, Serta Peran Dalam Fisiologi Dan Makanan


Pengertian Karbon Dioksida

Karbon dioksida (rumus kimia: CO2) atau zat asam arang adalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon. Ia berbentuk gas pada keadaan temperatur dan tekanan standar dan hadir di atmosfer bumi. Rata-rata konsentrasi karbon dioksida di atmosfer bumi kira-kira 387 ppm berdasarkan volume [1] walaupun jumlah ini bisa bervariasi tergantung pada lokasi dan waktu. Karbon dioksida adalah gas rumah kaca yang penting karena ia menyerap gelombang inframerah dengan kuat.


Karbon dioksida dihasilkan oleh semua hewan, tumbuh-tumbuhan, fungi, dan mikroorganisme pada proses respirasi dan digunakan oleh tumbuhan pada proses fotosintesis. Oleh karena itu, karbon dioksida merupakan komponen penting dalam siklus karbon. Karbon dioksida juga dihasilkan dari hasil samping pembakaran bahan bakar fosil. Karbon dioksida anorganik dikeluarkan dari gunung berapi dan proses geotermal lainnya seperti pada mata air panas.


  • Karbondioksida menurut ilmu kimia dan fisika

Karbondioksida  adalah gas yang terdiri dari satu atom karbon dan dua atom oksigen. Struktur karbondioksida (CO2 ) dapat digambarkan sebagai berikut :

Struktur karbondioksida


Molekul karbondioksida terdiri dari dua ikatan rangkap dan mempunya bentuk linear. Ia tidak mempunyai dipolar elektrik. Apabila teroksida sepenuhnya, ia tidak aktif dan tidak mudah terbakar. karbondioksida dapat dibuat dari pembakaran bahan organic apabila cukup oksigen. Kabondioksida juga dihasilkan oleh mikroorganisme hasil dari proses peragian dan respirasi. Karbondioksida dan oksigen dapat digunakan untuk menghasilkan karbohidrat. Tumbuhan membebaskan O2 ke atmosfer dan akhirnya digunakan untuk pernafasan oleh organisme heterotrofik.

Karbondioksida  merupakan gas tak berwarna, apabila dihirup pada dosis yang tinggi (aktivitas berbahaya disebabkan resiko sesak nafas), menghasikan rasa asam dalam mulut dan rasa menyengat di hidung dan tenggorokan. Kesan ini disebabkan oleh gas yang larut dalam selaput mucus dan air liur, membentuk larutan cair asam karbonik. Kepadatannya pada suhu 250C adalah 1,98 kg/m3, sekitar 1,5 kali kepadatan udara.

Karbondioksida cair hanya terbentuk pada tekanan melebihi 5,1 atm; pada tekanan biasa ia bertukar antara bentuk gas dan padat secara langsung  melalui proses yang dikenal sebagai sublimasi.

Air akan  meresap karbondioksida sama banyak dengan isinya. Sekitar 1 % dari karbondioksida terlarut bertukar menjadi asam karbonik. Asam karbonik selanjutnya berpisah sebagiannya untuk membentuk bikarbonat dan ion karbonat.

  • Menurut ilmu biologi

Karbondioksida adalah hasil penimbunan dalam organisme yang mendapat tenaga dari penguraian gula atau lemak dengan oksigen sebagai bagian dari metabolisme mereka, dalam proses yang dikenal sebagai pernapasan selular. Ini termasuk semua tumbuhan, hewan, kebanyakan fungi dan sebagian bakteri. Dalam hewan tingkat tnggi, karbondioksida diangkut melalui darah (di mana kebanyakan dalam hewan berada dalam larutan) dari sel tubuh ke paru-paru di mana ia disngkirkan.

Kandungan karbondioksida dalam udara segar adalah kurang dari 1 % atau sekitar  350 ppm, dalam udara dihembus keluar sekitar 4,5 %. Apabila dihirup dalam konsentrasi tinggi sekitar 5 %, akan beracun bagi manusia dan hewan.

Hemoglobin molekul utama dalam sel darah merah, dapat mengikat oksigen dan karbondioksida. Jika konsentrasi CO2 terlalu tinggi, semua hemoglobin dipenuhi karbondioksida dan tidak mengangkut oksigen (walaupun terdapat banyak oksigen di udara). Akibatnya orang yang berada di ruangan tertutup akan mengalami sesak nafas akibat pengumpulan karbondioksida, walaupun kekurangan oksigen menimbulkan masalah. Karbondioksida baik dalam bentuk gas atau padat, perlu dikendalikan dalam kawasan yang mempunyai pengudaraan yang baik.

CO2 yang dibawa darah boleh didapati dalam berbagai bentuk. 8 % dari CO2 terdapat dalam plasma sebagai gas. 20 % dari CO2  terikat oleh hemoglobin. CO2  yang terikat pada hemoglobin tidak bersaing dengan ikatan oksigen karena ia terikat oleh asam amino bukannya molekul heme. Sisa 72 % dari padanya dibawa sebagai HCO3- bikarbonat yang merupakan ion penting dalam pengawalan pH organisme. Kadar bikarbonat dikawal apabila ia meningkat, kita bernafas semakin cepat untuk menyingkirkan karbondioksida yang berlebihan. Kadar karbondioksida/bikarbonat dalam darah memberi efek pada ketebalan kapiler darah. apabila ia tinggi, kapiler mengembang dan lebih banyak darah masuk dan membawa bikarbonat berlebih ke paru-paru.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan :Pengertian Asam, Basa, Dan Garam


  • Karbondioksida Dalam Kajian Anorganik

Karbondioksida terdapat di atmosfer (300 ppm), dalam gas-gas vulkanik dan dalam larutan super jenuh dari mata air tertentu.


Gas CO2 dapat dihasilkan karena :

  1. Pembakaran karbon sempurna

C + O2 CO2

  1. Sisa pernapasan makhluk hidup
  2. Letusan gunung berapi
  3. Pembakaran senyawa karbonat atau karena pengaruh asam

Sedangkan cara memproduksinya:

Hasil fermentasi

C6H12O6  2C2H3OH + 2CO2

Pembakaran batu kapur

CaCO3  CaO + CO2

Di laboratorium dapat dibuat dengan :

H2CO3  CO2 + H2O                       k = 600

CaCO3 + 2HCl → CaCl2 + H2O + CO2


Tidak semua CO2  yang larut dan tidak  terdisosiasi berada sebagai H2CO3. bagian terbesar dari CO2 yang larut hanyalah terhidrasi secara longgar laju pada saat CO2 masuk dalam kesetimbangan dengan H2CO3 dan hasil disosiasinya ketika melewati air adalah lambat. Ini menyebabkan dapat dibedakan antara H2CO3 dan CO2 (aq)  yang terhidrasi longgar.


Sifat kimia dan fisika

Karbon dioksida adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau. Ketika dihirup pada konsentrasi yang lebih tinggi dari konsentrasi karbon dioksida di atmosfer, ia akan terasa asam di mulut dan di hidung dan tenggorokan. Efek ini disebabkan oleh pelarutan gas di membran mukosa dan saliva, membentuk larutan asam karbonat lemah. Sensasi ini juga dapat dirasakan ketika seseorang bersendawa setelah minum air berkarbonasi (misalnya Coca Cola). Konsentrasi yang lebih besar dari 5.000 ppm tidak baik untuk kesehatan, sedangkan konsentrasi lebih besar dari 50.000 ppm dapat membahayakan kehidupan hewan.


Manfaat Karbon Dioksida

Berperan dalam proses fotosintesis pada tumbuhan. Dalam berfotosintesis tumbuhan menggunakan karbon dioksida dan air untuk menghasilkan gula dan oksigen yang diperlukan sebagai makanannya.  Persamaan reaksinya adalah


12H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) +6O2 + 6H2O


Glukosa  dapat digunakan untuk membentuk senyawa organic lain seperti selulosa dan dapat pula digunakan sebagai bahan bakar. Pada respirasi glukosa dan senyawa lain akan bereaksi dengan oksigen untuk menghasilkan karbondioksida , air dan energi kimia.


Tumbuhan menangkap cahaya menggunakan pigmen yang disebut klorofil. Pigmen inilah yang memberi warna hijau pada tumbuhan. Klorofil mengandung organel  yang disebut kloroplas yang menyerap cahaya yang akan digunakan dalam fotosintesis. Meskipun seluruh bagian tubuh tumbuhan yang berwarna hijau mengandung kloroplas, namun sebagian besar energi dihasilkan di daun.


Di dalam daun terdapat lapisan sel yang disebut mesofil yang mengandung setengah juta kloroplas setiap millimeter perseginya. Caranya akan melewati lapisan epidermis tanpa warna dan transparan, menuju mesofil tempat terjadinya sebagian besar proses fotosintesis. Permukaan daun biasanya dilapisi oleh katikula dari lilin yang bersifat anti air untuk mencegah terjadinya penyerapan sinar matahari ataupun penguapan air yang berlebihan.


Karbondioksida cair dan padat (es kering) merupakan bahan pendingin penting, terutama dalam industri makanan, di mana ia digunakan saat pengangkutan dan penyimpanan es krim dan makanan beku yang lain.


Karbondioksida digunakan untuk membuat minuman ringan berkarbonat dan air soda. Secara tradisi, karbonat dalam bir dan wine berkilau dihasilkan dari fermentasi alami, tetapi sebagian pembuat menambah karbonat  ke dalam minuman ini secara buatan.


Pengembang yang digunakan untuk memasak menghasilkan karbondioksida menyebabkan adonan naik. Pengembang roti menghasilkan karbon dioksida melalui penapaian adonan, sementara pengembang kimia seperti baking powder dan baking soda membebaskan karbondioksida apabila dipanaskan atau tercampur dalam asam. Karbondioksida sering digunakan sebagai gas tekanan yang murah dan tidak mudah terbakar.


Karbondioksida dapat digunakan untuk memadamkan api, dan sebagian alat pemadam kebakaran (fire extinguisher), terutama dibuat bagi api listrik, mengandung cairan karbondioksida bawah tekanan. Kegunaan dalam industri mobil juga biasa walaupun terdapat banyak bukti bahwa kimpalan menggunakan karbondioksida adalah rapuh berbanding yang dilakukan dalam atmosfer-inert, dan kimpalan semakin lama semakin  merosot akibat pembentukan asam karbonik. Ia digunakan sebagai gas pengimpalan karena ia lebih murah berbanding gas lain seperti argon atau helium.


Cairan karbondioksida adalah pelarut yang baik bagi kebanyakan zat organic. Ia mulai mendapat perhatian dalam pharmaceutical dan industri pemprosesan kimia yang lain sebagai pilihan kurang beracun berbanding pelarut tradisi lain seperti organokhloride.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan :6 Perbedaan Senyawa Polar Dengan Non Polar


  • Karbondioksida Kaitannya Dengan Lingkungan Dan Penanggulangan

Gas CO2 merupakan salah satu partikel pencemar udara jika CO2 berada di udara melebihi batas normal yang menurunkan kualitas udara sampai pada batas yang mengganggu kehidupan.

Gas CO2 berasal dari pembakaran minyak, gas buang kendaraan, gunung meletus dan hasil pembakaran yang tidak sempurna dari mesin mobil dan mesin knalpot.


Akibat dari gas CO2 yang  melebihi batas dapat menyebabkan :

  1. Gangguan pernapasan
  2. Meningkatnya suhu bumi karena efek rumah kaca

Polutan yang berupa gas CO2 akan mengembang di udara dan mempunyai sifat seperti kaca. Sinar matahari yang jatuh ke bumi tidak akan dipantulkan oleh CO2 yang mengembang tetapi diteruskan. Sebagai akibatnya suhu bumi makin meningkat.


Hal tersebut merupakan dampak jangka pendek, sedangkan dampak jangka panjangnya dapat mencairkan es di kutub sehingga permukaan air laut di seluruh permukaan bumi meningkat. Peningkatan air laut akan mampu menenggelamkan pulau.


Adapaun cara-cara untuk penanggulangan gas CO2 ini  adalah :

  1. Memperbanyak penanaman tumbuhan pelindung (reboisasi)
  2. Melengkapi cerobong asap pabrik dengan alat penyaring udara serta menambah tinggi cerobong
  3. Menggunakan bahan bakar murni untuk mengurangi sisa pembakaran gas CO2 yang berlebihan
  4. Mengolah sampah organic menjadi pupuk secara biologis.

Peranan Biologi

Karbon dioksida merupakan produk akhir dari organisme yang mendapatkan energi dari penguraian gula, lemak, dan asam amino dengan oksigen sebagai bagian dari metabolisme dalam proses yang dikenal sebagai respirasi sel. Ini mencakup semua tumbuhan, hewan, jamur banyak dan beberapa bakteri. Pada hewan yang lebih tinggi, karbon dioksida dalam darah dari jaringan tubuh ke paru-paru untuk dikeluarkan. Pada tumbuhan, karbon dioksida diserap dari atmosfer selama fotosintesis.


  • Peranan pada fotosintesis

Tanaman menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer oleh fotosintesis, disebut juga sebagai asimilasi karbon, yang menggunakan energi cahaya untuk memproduksi materi organik dengan mengkombinasi karbon dioksida dan air.


Oksigen bebas dilepaskan sebagai gas dari dekomposisi molekul air, sedangkan hidrogen dipisahkan menjadi proton dan elektron, dan digunakan untuk menghasilkan energi kimia via fotofosforilasi. Energi yang dibutuhkan untuk fiksasi karbon dioksida pada siklus Calvin untuk membentuk gula. Gula ini kemudian digunakan untuk pertumbuhan tanaman melalui respirasi.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Senyawa Polifenol pada Tanaman


  • Toksisitas

Karbon dioksida konten di udara segar bervariasi antara 0,03% (300ppm) dan 0,06% (600 ppm), tergantung pada lokasi.

Menurut Otoritas Keselamatan Maritim Australia, “Terlalu lama untuk konsentrasi karbon dioksida dapat menyebabkan asidosis dan efek samping moderat pada metabolisme kalsium fosfor yang menyebabkan peningkatan endapan kalsium pada jaringan lunak. Karbon dioksida adalah racun bagi hati dan menyebabkan penurunan kekuatan kontraktil.


Pada konsentrasi tiga persen berdasarkan volume di udara, itu agak narkotika dan menyebabkan tekanan darah meningkat dan denyut nadi, dan menyebabkan penurunan daya dengar. Pada konsentrasi sekitar lima persen berdasarkan volume, ia menyebabkan stimulasi pusat pernapasan, pusing, kebingungan, dan kesulitan bernapas disertai dengan sakit kepala dan sesak napas. Pada konsentrasi delapan persen, ia menyebabkan sakit kepala, berkeringat, penglihatan kabur, tremor, dan kehilangan kesadaran setelah paparan selama lima sampai sepuluh menit. “


Sejarah pemahaman manusia

Pada abad ke-17, seorang kimiawan Fleming, Jan Baptist van Helmont, menemukan bahwa arang yang dibakar pada bejana tertutup akan menghasilkan abu yang massanya lebih kecil dari massa arang semula. Dia berkesimpulan bahwa sebagian arang tersebut telah ditransmutasikan menjadi zat yang tak terlihat, ia menamakan zat tersebut sebagai “gas” atau spiritus sylvestre (Bahasa Indonesia: arwah liar).

Sifat-sifat karbon dioksida dipelajari lebih lanjut pada tahun 1750 oleh fisikawan Skotlandia Joseph Black. Dia menemukan bahwa batu kapur (kalsium karbonat) dapat dibakar atau diberikan asam dan menghasilkan gas yang dia namakan sebagai “fixed air”. Dia juga menemukan bahwa gas ini lebih berat daripada udara dan ketika digelembungkan dalam larutan kapur (kalsium hidroksida) akan mengendapkan kalsium karbonat. Dia menggunakan fenomena ini untuk mengilustrasikan bahwa karbon dioksida dihasilkan dari pernapasan hewan dan fermentasi mikrob. Pada tahun 1772, seorang kimiawan Inggris Joseph Priestley mempublikasikan sebuah jurnal yang berjudul Impregnating Water with Fixed Air. Dalam jurnal tersebut, dia menjelaskan proses penetesan asam sulfat (atau minyak vitriol seperti yang Priestley sebut) ke kapur untuk menghasilkan karbon dioksida dan memaksa gas itu untuk larut dengan menggoncangkan semangkuk air yang berkontak dengan gas.[5]

Karbon dioksida pertama kali dicairkan (pada tekanan tinggi) pada tahun 1823 oleh Humphry Davy dan Michael Faraday.[6] Deskripsi pertama mengenai karbon dioksida padat dilaporkan oleh Charles Thilorier ketika pada tahun 1834 dia membuka kontainer karbon dioksida cair yang diberikan tekanan dan menemukan pendinginan tersebut menghasilkan penguapan yang menghasilkan “salju” CO2 padat.[7]

Produksi dalam skala industri

Karbon dioksida secara garis besar dihasilkan dari enam proses:[8]

  1. Sebagai hasil samping dari pengilangan ammonia dan hidrogen, di mana metana dikonversikan menjadi CO2.
  2. Dari pembakaran kayu dan bahan bakar fosil;
  3. Sebagai hasil samping dari fermentasi gula pada proses peragian bir, wiski, dan minuman beralkohol lainnya;
  4. Dari proses penguraian termal batu kapur, CaCO3;
  5. Sebagai produk samping dari pembuatan natrium fosfat;
  6. Secara langsung di ambil dari mata air yang karbon dioksidanya dihasilkan dari pengasaman air pada batu kapur atau dolomit.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan :Senyawa : Pengertian, Ciri, Sifat, Dan Macam Beserta Contohnya Secara Lengkap


Dampak dan Bahaya Karbon Dioksida

Salah satu masalah terbesar yang kita hadapi sekarang adalah pemanasan global.Dampaknya pada hewan dan pertanian memang mengkuatirkan, terlebih lagi pada populasi manusia sangat menakutkan. Fakta-fakta tentang pemanasan global sering diperdebatkan dalam politik dan media, tetapi, sayangnya, meskipun banyak pihak tidak sepakat tentang penyebab global warming, akan tetapi pemanasan global adalah fakta, terjadi secara global, dan terukur. Berikut ini ada 10 penyebab dan dampak yang timbul akibat pemanasan global.


Dampak Karbon Dioksida

  • Emisi karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil pembangkit listrik.

Penggunaan listrik yang semakin meningkat yang dipasok dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara batubara yang melepaskan sejumlah besar karbon dioksida ke atmosfer.40% emisi CO2 dihasilkan oleh produksi listrik AS, dan 93 persen diantaranya berasal dari emisi pembakaran batubara pada industri utilitas. Setiap hari,  pasar semakin banyak dibanjiri gadget penggunaannya membutuhkan daya listrik, padahal tidak didukung oleh energi alternatif. Dengan demikian kita akan semakintergantung pada pembakaran batu bara untuk memasok kebutuhan listrik di seluruh dunia.


  • Emisi karbon dioksida dari pembakaran bensin pada kendaraan.

Kendaraan yang kita pakai adalah sumber penghasil emisi sekitar 33%  yang berdampak terhadap pemanasan global. Dengan pertambahan jumlah penduduk yang tumbuh pada tingkat yang mengkhawatirkan, tentu saja akan meningkatkan permintaan akan kendaraan yang lebih banyak lagi, yang berarti penggunaan bahan bakar fosil untuk transportasi dan pabrik yang semakin besar. Konsumsi terhadap bahan bakar fosil jauh melampaui penemuan terhadap cara untuk mengurangi dampak emisi. Sudah saatnya kita meninggalkan budaya konsumtif.


  • Emisi metana dari peternakan dan dasar laut Kutub Utara.

Metana merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat setelah CO2. Bila bahan organik diurai oleh bakteri pada kondisi kekurangan oksigen (dekomposisi anaerobik) maka metana akan dihasilkan.


Proses ini juga terjadi pada usus hewan herbivora, dan dengan meningkatnya jumlah produksi ternak terkonsentrasi, tingkat metana yang dilepaskan ke atmosfer akan meningkat. Sumber metana lainnya adalah metana klatrat, suatu senyawa yang mengandung sejumlah besar metana yang terperangkap dalam struktur bongkahan es. Apabila metana keluar dari dasar laut Kutub Utara, maka tingkat pemanasan global akan meningkat secara signifikan.


  • Deforestasi, terutama hutan tropis untuk kayu, pulp, dan lahan pertanian.

Penggunaan hutan untuk bahan bakar (baik kayu dan arang) merupakan salah satu penyebab deforestasi. Di seluruh dunia pemakaian produk kayu dan kertas semakin meningkat, kebutuhan akan lahan ternak semakin meningkat untuk pemasok daging dan susu, dan penggunaan lahan hutan tropis untuk komoditas seperti perkebunan kelapa sawit menjadi penyebab utama terhadap deforestasi dunia. Penebangan hutan akan mengakibatkan pelepasan karbon dalam jumlah besar ke atmosfir.


  • Peningkatan penggunaan pupuk kimia pada lahan pertanian.

Pada pertengahan abad ke-20, penggunaan pupuk kimia (yang sebelumnya penggunaan pupuk kandang) telah meningkat secara dramatis. Tingginya tingkat penggunaan pupuk yang kaya nitrogen memiliki efek pada penyimpanan panas dari lahan pertanian (oksida nitrogen memiliki kapasitas 300 kali lebih panas- per unit volume dari karbon dioksida) dan kelebihan limpasan pupuk menciptakan ‘zona-mati ‘di laut. Selain efek ini, tingkat nitrat yang tinggi dalam air tanah karena pemupukan yang berlebihan berdampak terhadap kesehatan manusia yang cukup memprihatinkan.


  • Kenaikan permukaan air laut di seluruh dunia.

Para ilmuwan memprediksi kenaikan permukaan air laut di seluruh dunia karena mencairnya dua lapisan es raksasa di Antartika dan Greenland, terutama di pantai timur AS. Namun, banyak negara di seluruh dunia akan mengalami dampak naiknya permukaan air laut, yang bisa memaksa jutaan orang untuk mencari pemukiman baru. Maladewa adalah salah satu negara yang perlu mencari rumah baru akibat naiknya permukaan laut


  • Korban akibat topan badai yang semakin meningkat.

Tingkat keparahan badai seperti angin topan dan badai semakin meningkat, dan penelitian yang dipublikasikan dalam Nature mengatakan:


“Para ilmuwan menunjukkan bukti yang kuat bahwa pemanasan global secara signifikan akan meningkatkan intensitas badai yang paling ekstrim di seluruh dunia. Kecepatan angin maksimum dari siklon tropis terkuat meningkat secara signifikan sejak tahun 1981.Hal tersebut diperkirakan didorong oleh suhu air laut yang semakin meningkat, tidak mungkin mengalami penurunan dalam waktu dekat. “


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Dampak Polusi Udara Bagi Lingkungan Serta Penjelasannya


  • Gagal panen besar-besaran.

Menurut penelitian terbaru, sekitar 3 miliar orang di seluruh dunia harus memilih untuk pindah ke wilayah  beriklim sedang karena kemungkinan adanya ancaman kelaparan akibat perubahan iklim dalam 100 tahun.


“Perubahan iklim ini diramalkan memiliki dampak yang paling parah pada pasokan air. “Kekurangan air di masa depan kemungkinan akan mengancam produksi pangan, mengurangi sanitasi, menghambat pembangunan ekonomi dan kerusakan ekosistem. Hal ini menyebabkan perubahan suasana lebih ekstrim antara banjir dan kekeringan.” Menurut Guardian,…pemanasan global menyebabkan 300.000 kematian per tahun.


  • Kepunahan sejumlah besar spesies.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Nature, peningkatan suhu dapat menyebabkan kepunahan lebih dari satu juta spesies. Dan karena kita tidak bisa hidup sendirian tanpa ragam populasi spesies di Bumi, ini akan membawa dampak buruk bagi manusia.


“Perubahan iklim sekarang ini setidaknya sama besarnya dengan ancaman terhadap jumlah spesies yang masih hidup di Bumi akibat  penghancuran dan perubahan habitat.” Demikian pendapat Chris Thomas, konservasi biologi dari University of Leeds.


  • Hilangnya terumbu karang.

Sebuah laporan tentang terumbu karang dari WWF mengatakan bahwa dalam skenario terburuk, populasi karang akan runtuh pada tahun 2100 karena suhu dan keasaman laut meningkat. ‘Pemutihan’ karang akibat kenaikan suhu laut yang terus-menerus sangat berbahaya bagi ekosistem laut, dan banyak spesies lainnya di lautan bergantung pada terumbu karang untuk kelangsungan hidup mereka.


“Meskipun luasnya lautan 71 persen dari permukaan bumi dengan kedalaman rata-rata hampir 4 km  – ada indikasi bahwa hal  ini mendekati titik kritis. Bagi terumbu karang, pemanasan dan pengasaman air mengancam hilangnya ekosistem global.Jadi diperlukan upaya yang besar untuk menyelamatkan terumbu karang dari kepunahan.