Pengertian Fertilisasi (Pembuahan) dan Jenisnya

Diposting pada

Pengertian-Fertilisasi-(Pembuahan)

Pengertian Fertilisasi (Pembuahan)

Pembuahan atau juga fertilisasi(singami).  Pembuahan tersebut terjadi pada ovum didalam pengertian pembuahan itu senderi , pembuahan adalah suatu peristiwa bersatunya inti sel sperma dengan ovum. Peristiwa tersebut juga berlangsung ke dalam kandung lembaga didalam bakal biji. Pembuahan tersebut dapat juga diartikan ialah sebagai bersatunya sperma serta juga ovum.


Fertilisasi adalah proses peleburan spermatozoon dan sel telur yang meliputi inti (genom) dan sitoplasma.Fertilisasi juga mempunyai pengertian suatu proses penyatuan atau fusi dari dua sel gamet yang berbeda, yaitu sel gamet jantan dan betina, yang akan membentuk zygot yang mengandung satu sel. Secara embriologi, fertilisasi merupakan pemasukan faktor-faktor hereditas pejantan ke ovum, dan melibatkan penggabungan sitoplasma dan bahan nucleus (Toelihere, 1985).


Fertilisasi diawali dengan proses pembentukan gamet yang disebut dengan gametogenesis, yaitu proses pembentukan spermatozoa (spermatogenesis) pada jantan danpembentukan ovum (oogenesis) pada betina.Setelah proses fertilisasi berlangsung, dilanjutkan dengan proses embryogenesis yang meliputi pembelahan zigot, blastulasi, gastrulasi, dan neurolasi, dan proses akhir adalah organogenesis yaitu proses pembentukan organ-organ tubuh (Puja et al., 2010).


Fertilisasi adalah proses penyatuan gamet pria dan wanita yang terjadi di daerah ampula tuba uterania (Sadler,2015 : 32) Fertilisasi adalah proses penyatuan ovum (sel telur) dengan spermatozoa, dimana proses ini merupakan tahap awal pembentukan embrio (puja dalam susari,2016 : 1)


Proses pembuahan adalah suatu proses yang rumit, yakni ialah sebagai berikut Serbuk sari pada tumbuhan biji yang tertutup menempel di kepala putik tumbuh yang membentuk suatu pembuluh serbuk sari (tabung serbuk sari). putik tersebut, membentuk saluran yang menuju ke bakal buah yang mengandung suatu bakal biji. Didalam pembuluh serbuk sari tersebut terdapat 2(dua) inti generatif serta juga 1 inti vegetatif yang berasal dari adanya pembelahan inti serbuk sari.


2(Dua) inti generatif tersebut disebut juga inti sperma pertama serta juga inti sperma kedua. Inti sperma pertama serta juga kedua tersebut bergerak menuju ke bakal biji. Didalam kandung lembaga tersebut terdapat inti sel telur serta juga inti kandung lembaga sekunder atau juga biasa dikatakan ialah dengan inti polar. Inti sperma yang pertama masuk dengan melalui liang bakal biji (mikropil) tersebut menuju ke inti sel telur. Inti sperma pertama tersebut akan melebur dengan inti sel telur, Hal tersebut dikatakan ialah sebagai pembuahan pertama. Hasil peleburan pada inti sperma pertama  dengan sel telur ialah zigot.


Zigot tersebut akan tumbuh dan menjadi lembaga atau embrio atau juga sebagai calon tumbuhan baru. Inti sperma kedua terus akan tetap masuk menuju ke sebelah dalam, kemudian inti sperma kedua tersebut melebur dengan inti kandung lembaga sekunder. Hal tersebut juga disebut dengan pembuahan kedua. Hasil peleburan inti sperma kedua dengan inti kandung lembaga sekunder tersebut akan dapat membentuk putih lembaga didalam (endosperma). Endosperma adalah suatu cadangan makanan untuk si calon tumbuhan baru. Jadi, pada tumbuhan biji tertutup terjadi suatu pembuahan dua kali sehingga disebut dengan pembuahan ganda.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sperma : Pengertian, Struktur, Dan Proses pembentukannya Beserta Kelainannya Lengkap


Syarat Fertilisasi (Pembuahan)

Fertilisasi merupakan proses peleburan dua macam gamet sehingga terbentuk suatu individu baru dengan sifat genetik yang berasal dari kedua orang tuanya (Sudarwati, 1990:23). Syarat fertilisasi yaitu adanya ovum yang matang dan siap dibuahi oleh sperma. Proses fertilisasi dapat dibagi menjadi empat aktivitas utama :


  1. Hubungan (kontak) serta pengenalan sperma dan sel telur
  2. Pengaturan pemasukan sperma ke dalam sel telur
  3. Peleburan bahan genetik dari sperma dan sel telur
  4. Aktivasi metabolik telur untuk memulai perkembangan

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Otot Jantung – Sejarah, Anatomi, Bagian, Lapisan, Macam, Karakteristik, Kerja, Sifat, Penyakit, Memelihara


Macam-macam Fertilisasi (Pembuahan)

Fertilisasi sendiri dapat dibagi menjadi 2 macam yaitu :

  • Fertilisasi eksternal (khas pada hewan-hewan akuatik): gamet-gametnya dikeluarkan dari dalam tubuhnya sebelum fertilisasi.
  • Fertilisasi internal (khas untuk adaptasi dengan kehidupan di darat): spermadimasukkan ke dalam daerah reproduksi betina yang kemudian disusul dengan fertilisasi. Setelah pembuahan, telur itu membentuk membran fertilisasi untuk merintangi pemasukan sperma lebih lanjut. Kadang-kadang sperma itu diperlukan hanya untuk mengaktivasi telur.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pembelahan Sel – Pengertian, Jenis, Mitosis, Meiosis, Gametogenesi, Perbedaan, Fungsi, Tujuan


Fungsi utama Fertilisasi (Pembuahan)

  • Fungsi reproduksi

Dalam  hal ini ,fertilisasi memungkinkan terjadinya pemindahan unsur- unsur genetik dari orangtua atau induknya. Jika pada gametogenesis terjadi reduksi (pengurangan) unsur genetik dari diploid menjadi haploid, maka pada fertilisasi dimungkinkan pemulihan kembali unsur genetiknya, 1n dari gamet jantan dan 1n dari gamet betina sehingga diperoleh individu normal 2n.


  • Fungsi perkembangan

Pada fungsi ini,fertilisasi menyebabkan gertakan atau rangsangan pada sel telur untuk menyelesaikan proses meiosisnya dan membentuk pronukleus betina yang akan melebur (syngami) dengan pronukleus jantan membentuk zigot dan seterusnya berkembang menjadi embrio dan fetus.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Struktur Kromosom : Fungsi, Jenis, Susunan dan Jumlah


Jenis Fertilisasi (Pembuahan)

Pembuahan tersebut terbagi atas 2(dua) yakni pembuahan diluar tubuh (fertilisasi eksternal) serta juga pembuahan didalam tubuh (fertilisasi internal)

  • Fertilisasi eksternal (Pembuahan diluar tubuh) adalah suatu proses pembuahan ovum oleh sel sperma yang pembuahannya tersebut terjadi di luar tubuh suatu organisme tersebut. Contohnya katak serta ikan.
  • Fertilisasi internal (Pembuahan didalam tubuh) adalah suatu proses pembuahan ovum oleh sel sperma yang pembuahannya tersebut terjadi di dalam tubuh suatu organisme tersebut.

pembuahan tersebutberfungsi untuk dapat menghindarkan gangguan dari luar serta jugapembuahan internal ini tersimpan di dalam rahim.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pertumbuhan Mikroorganisme Beserta Penjelasannya


Proses Fertilisasi (Pembuahan)

Fertilisasi diawali dengan proses pembentukan gamet yang disebut dengan gametogenesis, yaitu proses pembentukan spermatozoa(spermatogenesis)  pada jantan dan pembentukan ovum (oogenesis) pada betina.  Spermatogenensis berlangsung di dalam testis pada bagian tubulus seminiferus, sedangkan oogenesis di dalam ovarium.


  • Fase Persiapan

Proses pertama dari fertilisasi adalah adanya minat seksual pada manusia yang sangata kompleks yang melibatkan berbagai faktor psikologis. Ada 2 jenis respon seksual secara psikologis yang terjadi pada manusia (campbell: 2008: 174) , yaitu : vangokongesti dan myotonia . Vangokongesti adalah pengisian jaringan dengan darah sedangkan myotonia adalah peningkatan tegangan otot. Kedua respond inilah yang menyebabkan vagina dan penis siap untuk hubungan seksual


Pada pria vangokongesti ini menyebabkan perubahan bentuk dari penisyang disebabkan terisinya pembuluh darah pada penis yang pada akhirnya menyebabkan kontraksi yang disebut dengan ereksi. Ereksi atur oleh saraf simpatis dan para simpatis. Saraf parasimpatis merangsang pembuluh darah untuk melebar sehingga volume darah yang masuk ke penis meningkat. Sedangkan saraf simpatis merangsang untuk penyempitan pembuluh darah, sehingga darah yang masuk ke penis menurun


Pada perempuan respon seksual ini dapat berupa vangokongesti dan juga myotonia. Respon vangokongesti pada perempuan menyebabkan ereksi pada klitoris dan menyebabkan labia mayor dan minor menjadi mengembang sehingga penis bisa masuk. Respon myotonia pada perempuan dapat berupa ereksi pada puting susu

  • Fase Persiapan Sperma dan Fase Persiapan Ovum

  1. Persiapan Sperma
    Sperma pada laki-laki dibentuk di tubulus seminiferous yang terdapat pada bagian testis yang dibungkus oleh skrotum, selanjutnya sperma dari tubulus seminiferous ini sperma disalurkan ke saluran saluran yang menggulung yang disebut epididimis (campbell,2008 : 172). Pada manusia, sperma memerlukan waktu +- 3 minggu untuk melewati saluran epipidimis yang panjangnya hamper 6 meter ini. Selama perjalanan melewati epididimis ini sperma mengalami pematangan dan menjadi motil.


    Setelah dari Epididimis sperma akan disalurkan ke saluran yang bernama vas deferens. Sebelum sperma disalurkan ke uretra, 3 kelenjar akan menjalankan tugasnya, yaitu vesikula seminalis, kelenjar prostat dan juga kelenjar-kelenjar bulbouretra.3 kelenjar tersebut membantu dalam pembentukan cairan semen.
    Vesikula seminalis menyumbangkan sekitar 60% dari cairan semen. Cairan dari vesikula seminalis ini bersifat kental, agak kekuningan dan bersifat basa. Cairan yang dihasilkan vesikula seminalis ini mengandung mukus,gula fruktosa, enzim penggumpal, dan prostaglandin.


    Kelenjar prostat menyekresikan cairannya langsung ke uretra , cairan yang dihasilkan bersifat encer dan mirip susu. Mengandung enzim antikoagulan dan sitrat (salah satu nutrient sperma).
    Kelenjar bulbouretra menghasilkan mucus jernih yang berfungsi untuk menetralkan asam urin yang tersisa pada uretra.


  2. Fase Persiapan Ovum
    Ovum yang dihasilkan dari tahap oogenis dari ovarium akan dikeluarkan menuju oviduk. Ovum yang dikeluarkan oleh ovarium akan ditangkap oleh fimbria bagian dari tuba fallopi. Selanjutnya ovum yang telah dibawa akan disalurkan oleh cilia pada tuba fallopi untuk disalurkan ke bagian ampula isthmus untuk siap dibuahi oleh sperma


  • Masuknya sperma ke dalam vagina betina (Ejakulasi)

Sebelum terjadi proses fertilisasi, akan terjadi ejakulasi terlebih dahulu yaitu keadaan di mana ditandai dengan keluarnya cairan semen yang mengandung sperma dari suatu penis dan keadaan ini lazim disertai dengan keadaan tubuh yang disebut sebagai orgasme.

Ejakulasi mungkin di anggap tabu untuk diperbincangkan, akan tetapi ejakulasi tersebut sangat baik bagi kesehatan. Berikut beberapa manfaat ejakulasi bagi kesehatan pria, diantaranya :


  1. Dapat mencegah kanker prostat
    Sebuah studi yang dikembangkan lembaga penelitian khusus prostat di Harvard menyatakan bahwa semakin jarang pria ejakulasi, maka semakin besar risiko terkena kanker prostat. Sebab selama ejakulasi, kelenjar prostat akan mengeluarkan racun dan sel karsionegik penyebab kanker prostat.


  2. Dapat mencegah penyakit vasocongestion
    Pria yang jarang ejakulasi biasanya akan mengalami rasa sakit di skrotumnya untuk sementara waktu. Rasa sakit ini dikenal dengan istilah populer bola biru (blue balls) atau dalam istilah medisnya dinamakan vasocongestion. Dengan ejakulasi, seorang pria dapat terhindar dari penyakit tersebut. Sebab, ejakulasi akan mengeluarkan cairan yang apabila menumpuk di skrotum dapat menyebabkan vasocongestion.


  3. Meningkatkan kualitas sperma
    Ejakulasi ternyata memiliki manfaat untuk meningkatkan kualitas sperma. Bagi pasangan suami istri yang sedang program memiliki anak, 3 sampai 4 kali ejakulasi lewat hubungan seksual dalam seminggu akan membuat air mani suami jadi lebih berkualitas dan ereksi tahan lama.


  4. Menghindar dari stres
    Saat sedang ejakulasi, zat dalam otak yang dapat menyalurkan rasa bahagia ikut terdistribusi dengan baik di dalam tubuh. Sehingga pria sedang stres akan sangat terbantu jika dia bisa ejakulasi dengan lancar. Selain itu, aliran darah dan kekakuan otot pria pun juga akan berkurang. Sehingga tingkat stres akan berkurang karena ejakulasi.


  5. Baik untuk kesehatan kulit
    Tahukah anda bahwa spermidine, yaitu suatu senyawa yang ada di dalam air mani dapat memperlambat proses penuaan dini ? Spermidine juga mampu melindung sel dari kerusakan dan dapat meningkatkan kualitas sel darah.


  6. Meningkatkan kualitas tidur
    Ejakulasi biasanya disertai dengan orgasme. Saat orgasme, tubuh mengeluarkan hormon dopamin, hormon aksitosin dan hormon endorfin. Ketika hormon ini telah bekerja, akan membuat tubuh menjadi rileks dan dapat meningkatkan kualitas tidur.


Pada proses fertilisasi ini, sperma disalurkan ke tubuh betina melalui media yang dimasukkan atau kontak langsung dengan kelamin betina. Spermatozoa harus mempunyai kemampuan untuk mencapai tempat terjadinya fertilisasi di bagian ampula dari Tuba fallopi. Beberapa faktor fisiologis yang berpengaruh terhadap kecepatan perjalanan spermatozoa adalah volume ejakulat, tempat deposisi, dan anatomi saluran reproduksi betina.


Pertama, spermatozoa akan memasuki vagina,dimana akan terjadi seleksi dengan adanya perbedaan pH antara spermatozoa (pH=7) dan vagina (pH=4). Setelah melewati vagina, spermatozoa yang telah terseleksi akan memasuki serviks. Dalam serviks, hanya spermatozoa yang normal yang dapat lewat, hal ini dikarenakan spermatozoa yang normal dapat bergerak melewati cincin-cincin anulir pada serviks. Sampai akhirnya menuju uterus, dimana mengalami kapasitasi yakni proses pendewasaan spermatozoa oleh cairan endometrium sehingga spermatozoa dapat menembus lapisan-lapisan sel telur. Tempat utama terjadinya proses kapasitasi adalah pada ampula isthmus junction. Transport sel telur untuk menuju ampula isthmus junction dimulai pada saat menjelang ovulasi, pada saat itu estrogen dominan dan bersama oksitosin akan menyebabkan terjadinya derakan peristaltik yang aktif. Setelah terjadi ovulasi, sel telur akan ditangkap oleh fimbrae yang terdapat pada infundibulum dengan adanya gerak peristaltik tersebut, sel telur akan terdorong masuk hingga ampulla hingga mencapai ampula isthmus junction  (Mujahid dalam susari 2016 : 4).


  • Proses Penetrasi Sel Sperma kedalam Sel Ovum

Tempat terjadinya penyatuan ovum dengan spermatozoa adalah di dalam ampula dari tuba fallopii. Pada pertemuan ini, ovum masih terbungkus oleh sel-sel granulose yang berasal dari folikel dan selubung ovum (Puja dalam susari., 2016 : 3).


Proses penetrasi ovum yang terdiri dari tiga tahap (sadler : 2015 :34) , yaitu :

  1. Fase penetrasi Korona radiata
  2. Fase penetrasi Zona pelusida
  3. Penyatuan membrane sel oosit dan sperma

Proses Penetrasi Sel Sperma kedalam Sel Ovum

  • Penetrasi korona radiata
    Korona radiata merupakan bagian terluar dari ovum, untuk mempenetrasinya, tentu sperma berlomba-lomba dengan ratusan juta sperma lainnya (sekitar 200-300 juta sperma) karena hanya satu sperma yang dapat menembus korona radiate. Diperkirakan, sperma lainnya membantu spermatozoa yang membuahi untuk menembus sawar pelindung gamet wanita lainnya. Hanya sperma yang telah terkapasitasi lah yang dapat menembus korona radiate.

  • Penetrasi Zona Pelucida.
    Zona pelucida adalah selubung glikoprotein yang memudahkan spermatozoa mengadakan pengikatan dan reaksi akrosom. Dapat dikatakan, zona pelucida meruapakan lapisan kedua setelah korona radiata. Reaksi akrosom ini diperantarai oleh ligan ZP3, yaitu suatu protein zona pelucida yang berfungsi sebagai reseptor sperma.


    Pelepasan enzim akrosom (akrosin) akan memudahkan sperma menembus zona pelusida. Permeabilitas sperma ini akan berubah ketika spermatozoa berkontak dengan permukaan oosit. Kontak ini akan memacu oosit mensekresikan enzim lisosim yang akan mengubah sifat zona pelucida untuk mencegah penetrasi sperma dan menginaktifkan tempat-tempat reseptro spesifik untuk sperma lain di permukaan ini. Dapat dikatakan, saat satu sperma telah menembus zona pelucida, ovum akan mengondisikan agar tak ada sperma lain yang masuk.


  • Fusi membrane sel sperma dan oosit
    Setelah melekat, membrane plasma sperma dan sel telur menyatu dan melakukan reaksi-reaksi atau aktifitas lain yang akhirnya dapat menghasilkan zigot


  • Kendala yang dihadapi oleh sperma ketika menuju ovum

Masuknya sperma ke dalam tubuh betina tidak langsung menuju ovum, melainkan melewati beberapa kendala atau rintangan terlebih dahulu diantaranya :

1. Asam vagina mematikan sperma

Berdasarkan tipe kromosom kelaminnya, terdapat dua jenis sperma yang diproduksi testis pria, yaitu sperma tipe X (22A+X) dan tipe Y (22A+Y). Masing-masing memiliki karakteristik berbeda, salah satunya diketahui bahwa sperma tipe X lebih tahan terhadap keasaman vagina dibanding sperma tipe Y. Sehingga tak heran banyak sperma Y yang kemudian mati (meski cairan sperma sudah dilengkapi senyawa yang bersifat basa). Kondisi semacam ini kemudian disiasati melalu aktivitas foreplay (pemanasan) sebelum bercinta. Agar kondisi vagina menjadi lebih basah lalu basa, hingga sperma Y bisa ikut bertahan.


2. Mati kelelahan

Banyak faktor yang menyebabkan sperma mati sebelum bertemu ovum, bahkan jauh sebelum masuk ke rahim apalagi saluran telur. Meski kelenjar-kelenjar di tubuh wanita sudah turut membantu pergerakan sperma melalui produksi lendir (di vagina atau mulut rahim), tetap saja banyak sperma yang mati. Salah satu penyebabnya adalah kelelahan.


Sumber tenaga bagi pergerakan sperma sendiri berasal dari bagian leher/tengah yang banyak mengandung mitokondria (organel pembentuk energi/ATP). Sama halnya dengan manusia, kondisi fisik sperma tentu saja berbeda satu sama lain. Ada yang dianugerahi fisik kuat ada juga yang lemah. Nah, bagi sperma yang dianugerahi fisik lemah (terkait kemampuannya memproduksi energi), sangat memungkinkan mereka sudah mati kelelahan meski masih di awal perjalanannya. Kondisi sperma yang mati karena kelelahan ini terus berlangsung hingga tahap-tahap akhir menuju ovum.


3. Antibodi wanita memakan sperma

Bertolak belakang dengan kegembiraan sperma yang berhasil melewati mulut rahim, tubuh wanita justru menganggap kehadiran mereka sebagai ancaman. Ya, sperma yang masuk ke rahim, dideteksi sebagai benda asing yang secara otomatis akan ditanggapi tubuh wanita dengan pengeluaran antibodi (senyawa pertahanan). Antibodi ini selanjutnya akan “memakan” sperma-sperma dan tak heran ribuan sperma akan mati di tahap ini.


4. Salah jalan

Melalui siklus menstruasi wanita, bisa diambil kesimpulan bahwa tiap bulannya ovarium wanita (secara normal) akan melepas satu ovum. Ovum yang telah keluar (peristiwanya disebut Ovulasi) selanjutnya akan bergerak menuju saluran telur (tuba fallopi/oviduct). Saluran telur pada wanita terdiri dari bagian kiri dan kanan sesuai dengan keberadaan ovarium. Di sekitar satu per tiga bagian saluran telur tersebut (entah sebelah kiri atau kanan), ovum pun akan menunggu kedatangan sperma.


Sementara itu, dari satu kelompok sperma yang sudah berhasil melewati uterus/rahim, akan terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok akan menuju saluran telur sebelah kiri, sedangkan kelompok lain akan menuju saluran telur sebelah kanan. Dari sini bisa kita lihat bahwa meskipun dalam proses perjalanan sperma, ovum telah melepas senyawa kimia yang mampu menjadi sinyal deteksi keberadaannya, tetap saja ada banyak sperma yang harus gigit jari karena “salah jalan”. Menurut literatur, dari ratusan juta sperma yang dikeluarkan pria, hanya tersisa ribuan sperma yang bisa bertahan sekaligus tidak salah jalan menuju saluran telur di mana ada sel telur menunggu di sana.


5. Terperangkap silia pada saluran telur

Rintangan selanjutnya yang dihadapi sperma adalah keberadaan silia pada saluran telur. Pada saluran telur, silia terus bergerak menjuntai tak ubahnya sapuan-sapuan halus. Hal ini membuat pergerakan sperma pun menjadi terhambat. Tidak hanya itu, kehadiran silia juga membuat banyak sperma terjebak atau terperangkap. Tidak bisa bergerak lalu mati.


6. Lapisan pelindung ovum

Rintangan terhadap sperma juga datang dari sel telur itu sendiri. Di antaranya adalah adanya lapisan pelindung ovum yang tak ayal menyusahkan sperma untuk membuahinya, seperti:


  • Korona Radiata: merupakan lapisan ovum paling luar dan paling tebal. Bentuknya tampak seperti tonjolan-tonjolan menjuntai yang mampu menghalangi pergerakan sperma. Bahkan mampu membuat sperma tergencet. Alhasil, banyak sperma yang mati.
  • Zona Pellusida: lapisan pelidung ovum bagian tengah yang tebal.
  • Membran Vitellin: lapisan transparan di bagian dalam ovum.

Saat satu sperma sudah berhasil melewati ketiga lapisan pelindung ini, maka secara otomatis inti sel sperma akan mampu membuahi inti sel telur hingga terjadi fertilisasi. Saat satu sperma sudah masuk, maka ovum secara otomatis akan mengeluarkan semacam enzim yang mampu mencegah masuknya sperma-sperma lain.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Bioteknologi Beserta Penjelasannya


Perjalanan Spermatozoa Ketempat Fertilisasi

Perjalanan spermatozoa meliputi tiga tahapan sebagai berikut :

  • Dalam Tubuh Jantan

Spermatozoa yang telah dihasilkan di dalam tubulus seminiferus melalui proses spermatogenesis akan keluar dari tubulus seminiferus bercampur dengan plasma semen masuk ke vas efferent. Proses ini terjadi akibat adanya tekanan volume dari dalam tubulus. Dari vas efferent, spermatozoa selanjutnya masuk ke duktus epididimis. Dalam tahapan ini, spermatozoa juga mengalami proses maturasi atau pematangan.


Tahap selanjutnya spermatozoa yang sebelumnya pada duktus epididimis selanjutnya masuk ke vas deferent. Di daerah ini, spermatozoa akan menerima sekreta yang dihasilkan oleh glandula vesikula seminalis untuk selanjutnya bermuara di duktus ejakulatorius. Tahap perjalanan selanjutnya sebelum diejakulasikan dalam bentuk semen, spermatozoa juga akan menerima sekreta dari kelanjar prostate dan bulbouretralis.


  • Di Luar Tubuh Jantan

Peristiwa ini hanya ditemukan pada hewan-hewan tertentu, yaitu pada hewan yang mengalami pembuahan diluar tubuh seperti ikan, amfibia. Peristiwa ini diawali dengan dikeluarkannya spermatozoa oleh hewan jantan ke dalam medium berupa air dan secara serentak juga betina akan mengeluarkan ovum.


Spermatozoa yang dikeluarkan kemudian bergerak aktif untuk melakukan pembuahan. Untuk hewan-hewan lainnya yaitu reptilia, aves dan mamalia, peristiwa ini tidak terjadi karena proses pembuahannya terjadi di dalam tubuh betina.


  • Dalam Tubuh Betina

Spermatozoa yang dideposisikan pada vagina, serviks, ataupun uterus pada saat perkawinan harus mempunyai kemampuan untuk mencapai tempat terjadinya fertilisasi di ampula bagian caudal dari uterus. Beberapa peniliti menyatakan bahwa kemampuan spermatozoa untuk mencapai tempat fertilisasi adalah karena pergerakan spermatozoa itu sendiri, sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa itu akibat pengaruh saluran reproduksi betina. Beberapa factor fisiologi yang berpengaruh terhadap kecepatan perjalanan spermatozoa adalah volume ejakulat, tempat deposisi, dan anatomi saluran reproduksi betina. Lama waktu yang dibutuhkan spermatozoa agar sampai ke tempat fertilisasi berkisar antara 2-60 menit.


Dari sekian banyak spermatozoa yang diejakulasikan, hanya sedikit yang mampu mencapai ampula dan kebanyakan mati pada saluran reproduksi betina. Hal ini mungkin sebagai akibat adanya fagositosis oleh sel darah putih dan arah balik ke vagina. Spermatozoa yang dideposisikan pada vagina harus melewati serviks sebelum mencapai oviduk. Mekanisme pergerakan spermataozoa melewati serviks masih diperdebatkan. Ada yang menyatakan bahwa pergerakan yang cepat melewati serviks adalah akibat kontraksi vagina dan uterus selama kopulasi. Teori yang lain menjelaskan bahwa spermatozoa yang motil mampu malakukan penetrasi dan migrasi melewati mukus serviks. Perjalanan spermatozoa melintasi uterus sampai ke tautan uterus tuba sangat cepat dan hal ini disebabkan oleh adanya bantuan kontraksi otot uterus. Seperti pada  serviks, isthmus pada oviduk diperkirakan juga sebagai tempat penampungan spermatozoa untuk beberapa waktu sebelum bergerak ke ampula berlangsungnya fertilisasi. Pergerakan spermatozoa dari isthmus ke ampula berlangsung terutama akibat kontraksi otot.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Metabolisme Sel Beserta Penjelasannya


Enzim Berperan dalam Proses Fertilisasi

Untuk membantu proses atau berjalan fertilisasi, terdapat beberapa enzim yang berperan dalam proses fertilisasi, yaitu Spermatozoa akan mengeluarkan enzim yang terdiri dari :

  1. Hyaluronidase
    Hyaluronidase, enzim yang dihasilkan dalam testis. Untuk melarutkan asam hyaluronad yang meyelimuti sel-sel granulosa pada sekeliling ovum (corona radiata). Peranan hyaluronidase banyak juga yang meragukan, karena meski beberapa hewan tidak mengandung enzim ini, namun masih dapat membuahi ovum.

  2. Antifertilizin
    Antifertilizin, sebagai lawan dari fertilizin yang dihasilkan oleh ovum. Jika fertilizin bertindak sebagai antigen maka antifertilizin merupakan antibodinya. Oleh adanya interaksi antara kedua zat tersebut terjadi agglutinasi spermatozoa yang ada disekitar ovum, sehingga ada sebagian yang menumbuk ovum lalu mencoba untuk menerobos masuk.


    Sebagaimana halnya fertilizin, antifertilizin juga bersidfat speific. Sukar sekali terjadi proses agglutinasi jika perjumpaan gamet itu berbeda species. Berbeda spesies berarti berbeda pula susunan asam amino dan monosakarida pada molekulnya, dan dinding bonding-sitenya pun berbeda, keduanya tidak memiliki kecocokan dalam hal struktur. Antifertilizin terdiri dari molekul protein asam, dan dapat dilepaskan dari spermatozaa dengan berbagai cara, seperti pembekuan atau pemanasan. Zat ini juga dapat dibebaskan dari spermatozao setelah diagglutinasi dengan meneteskan fertilizin kedalam semen. Oleh adanya agglutinasi tersebut antifertilizin keluar, dan spermatozoanya tidak akan mampu lagi membuahi.


  3. Akrosin
    Akrosin, merupakan semacam protease yang dapat memecah protein mirip dengan tripsin yang dihasilkan oleh pancreas, untuk mencernakan protein dalam usus. Zat ini keluar dari akrosom spermatozoa , ketika terjadir reaksi akrosom zat ini dapat menghancurkan zona pellucida. Dan tidak seluruh daerah zona ini akan dihancurkan, hanya disuatu tempat kecil yang cukup sebagai jalan masuk spermatozoa kedalam ovum.


  4. Zat penelur
    Zat penelur,bekerja untuk merangsang betina agar mengeluarkan telur, sebagai zat penyeimbang zat yang dikeluarkan oleh betina, ini terdapat pada hewan yang melakukan pembuahan eksternal. Selain zat yang dsebutkan diatas, spermatozoa juga meiliki flagellum yang dapat membantunya dalam bergerak mendekati ovum, dan memungkinnya aktif berenang dalam lendir semen hingga menerobos zona pellucida dari ovum.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Embriogenesis Fasikuler, Gambus, Pembuluh Dan Pada Tumbuhan


Kelainan dalam Fertilisasi (Pembuahan)

Setiap ovulasi tidak selalu diikuti oleh fertilisasi dan tidak semua fertilisasi meghasilkan individu normal. Kegagalan fertilisasi din1ana proses fertilisasi tidak beriangsung dapat terjadi pada kasus-kasus intertilitas baik dari induk bet ina maupun pejantan atau asinkronisasi antara estrus (ovulasi) dengan proses kopulasi (inseminasi). Pada kasus kelainan fertilisasi dimana fertilisasi berlangsung akan tetapi zigot atau individu yang terbentuk mengalami kelainan dapat terjadi akibat proses fertilisasi yang normal dari sel gamet yang memiliki kelainan (seperti kejadian nondisjunction) atau proses fertilisasi itu sendiri berlangsung tidak normal.

Contoh kelainan fertilisasi yang mungkin terjadi adalah :

  • Zigot Haploid

Zigot haploid adalah suatu perkembangan yang tidak sempurna dimana hanya salah satu dari sel gamet yang berperan dalam perkembangan berikutnya. Perkembangan lebih lanjut dari embrio haploid akan terhenti karena kegagaian in1plantasi.


  1. Androgenesis
    Keadaan dimana terjadi fertilisasi, tetapi hanya pronukleus jantan yang berperan pada proses perkembangan selanjutnya tanpa diikuti oleh perkembangan pronukleus betina. Oleh karena itu, embrio yang dihasilkan hanya memiliki unsur genetik tetua jantan (embrio jantan haploid).


  2. Ginogenesis
    Kejadian fertilisasi dimana embrio yang terbentuk hanya dari pronukleus betinatanpa diikuti oleh perkembangan pronukleus jantan. Embrio yang dihasilkan dari keadaan tersebut hanya memiliki unsur genetik dari induk bet ina (embrio betina haploid).


  • Zigot Poliploidi

Poliploid adalah keadaan dimana jumlah kromosom embrio hasil fertiiisasi berjumlah 3n (Triploid), 4n (Tetraploid) atau lebih. Hal ini dapat terjadi sebagai akibat kejadian:

  1. Kejadian Polispermia, dimana satu sel telur dibuahi oleh dua atau lebih spermatozoa,
  2. Kejadian kariokinesis (proses pembelahan inti sel) tanpa disertai sitokinesis, (proses pemisahan sitoplasma) sehingga sel telur memiliki inti lebih dari satu.

  • Embrio Partenogenesis

Perkembangan embrio yang terbemuk tanpa peran sedikitpun dari sperrnstozoa, dimana oosit dapat berkembang karena aktivasi selain daripada spermatozoa.

Seperti pada embrio ginogenetik, embrio partenogenetik hanya mempunyai unsur genetik dari betina (bisa haploid alau diploid). Dalam perkembangan teknologi kultur in vitro, kejadian embrio partenogenetik dapat diupayakan melalui aktivasi oosit dengan menggunakan bahan kimia (etanol), aliran lislrik ataupun proses maturasi diperpanjang (over IIIaturation). Untuk memperoleh embrio parthenogenesis yang diploid maka proses pelepasan benda kutub II dihambat schingga sel telur yang teraktivasi telap akan memiliki kromosom 2n.