In Group Dan Out Group Beserta Penjelasannya

Diposting pada

In Group Dan Out Group

Pengertian In group dan Out group

Dalam hal ini sikap-sikap in group pada umumnya di dasarkan pada faktor simpati dan selalu memiliki perasaan dekat dengan anggota-anggota kelompok. Adapun sika-sikap out group yang ditanda dengan antagonisme antipati.

Yang dalam anggota in group ditandai dengan kerjasama, persahabatan, keteraturan dan peradamain. Dan sedangkan dalam out group ditandai dengan sikap ketidakpedulian, kebencian, permusuhan dan sikap saling membenci. Kelompok sosial terbentuk atas dasar perasaan individu terhadap kelompk itu. Dalam hal ini menurut W.G. Sumner kelompok sosial dibedakan menjadi dua yaitu: In group Dan Out group.


In group

Ingroup (kelompok dalam) merupakan kelompok sosial di mana di antara anggota-anggotanya saling simpati dan mempunyai perasaan dekat satu dengan lainnya. Kelompok sosial merupakan tempat di mana individu mengidentifikasikan dirinya sebagai kami atau kamu, kita atau mereka. “In-Group adalah kelompok sosial dimana seorang individu mengidentifikasikan dirinya sebagai “kita” atau “kami”.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Kelompok Sosial – Faktor, Pembentukan, Ciri, Klasifikasi, Contoh, Para Ahli


Out group

Outgroup (kelompok luar) ialah kelompok yang berada di luar suatu kelompok yang ditandai oleh adanya antagonisme, prasangka atau antipati. Misalnya orang-orang kulit hitam di lingkungan orang-orang kulit putih. Sedangkan Out-Group adalah kelompok sosial di luar in group, atau di luar kita, di luar kami. Kelompok di luar itu adalah mereka.


Out Group merupakan kelompok sosial yang berada di luar in group. Sikapnya selalu ditandai dengan suatu kelainan dan sering ditandai antagonism “antipati”. Perasaan in group dan out group merupakan dasar suatu sikap yang dinamakan dengan etnosentrisme. Yang anggota-anggota suatu kelompok sosial tertentu, sedikit banyaknya akan mempunyai kecenderungan yang menganggap bawah segala sesuatu yang termasuk dalam kebiasaan-kebiasaan kelompoknya sendiri merupakan suatu yang terbaik apabila dibandingkan dengan kebiasaan-kebiasaan kelompok lainnya.


Dalam hal ini kecenderungan tersebut disebut dengan etnosentrisme yaitu sikap untuk menilai unsur-unsur kebudayaan lain dengan mempergunakan ukuran-ukuran kebudayaan sendiri. Sikap etnosentris tersebut sering disamakan dengan sikap mempercayai sesuatu, yang sehingga kadang-kadang sukar sekali bagi yang bersangkutan untuk mengubahnya walaupun dia menyadari bahwa sikapnya salah. Sikap entnosentrsi disosialisasikan atau diajarkan kepada anggota kelompok sosial, sadar maupun tidak sadar, serentak dengan nilai-nilai kebudayaan yang lain. Di dalam proses tersebut sering kali digunakan stereotip yakni gambaran atau anggapan-anggapan yang bersifat mengejek terhadap suatu objek tertentu. Yang keadaan demikian sering kali dijumpai dalam sikap suatu kelompk etnis terhadap kelompok etnis lainnya. Yang masalnya golongan orang-orang berkulit putih terhdap orang-orang negro di Amerika Serikat.


Yang sikap demikian memiliki aneka macam dasar yang saling berhubungan bahkan kadang-kadang berlawanan satu dengan lainnya. Misalnya seseorang yang tergolong ke dalam suatu kelompok etnis tertentu, sikapnya mungkin berbeda dengan sikap kelompoknya sendiri karena memeluk agama lain atau berbeda daerah kelahirannya. In group dan out group dapat dijumpai disemua masyarakat, meskipun kepentingan-kepentingan tidak selalu sama. Dalam masyarakat-masyarakat yang bersahaja mungkin jumlahnya tidak begitu banyak bila dibandingkan dengan masyarakat-masyarakat yang sudah kompleks, walaupun dalam masyarakat-masyarakat yang sederhana tersebut perbedaan-perbedaannya tidak begitu tampak dengan jelas.


Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa setiap kelompk sosial merupakan in group bagi anggotanya, konsep tersebut dapat diterapkan terhadap kelompok-kelompok sosial yang relatif kecil sampai yang terbesar, selama para anggotanya mengadakan identifikasi dengan kelompoknya.

Contohnya : kami adalah mahasiswa Marketing Komunikasi, sedangkan mereka adalah mahasiswa teknik komputer, kami adalah mahasiswa Universitas Indonesia, mereka adalah mahasiswa Atma Jaya.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Dinamika Kelompok – Pengertian, Fungsi, Jenis, Ciri, Keunggulan, Kekurangan, Kegiatan


Ciri dan Klasifikasi In Group dan Out Group

Ciri-ciri In Group dan Out Group

Anggota-Anggota suatu kelompok sosial tertentu sedikit banyak akan mempunyai kecenderungan untuk menganggap bahwa segala sesuatu yang termasuk  dalam kebiasaan-kebiasaan dengan kelompoknya sendiri sebagai sesuatu yang terbaik apabila dibandingkan dengan kebiasaan-kebiasaan kelompok-kelompok lainnya. Kecenderungan ini biasa disebut dengan etnosentrisme.

Etnosentrisme adalah suatu sikap untuk menilai unsur-unsur kebudayaan lain dengan mempergunakan ukuran-ukuran kebudayaan sendiri. Etnosentrisme disosialisasikan atau diajarkan kepada setiap anggota kelompok sosial, sadar maupun tidak sadar, serentak dengan nilai-nilai kebudayaan lain.


Klasifikasi In Group dan Out Group

Pengklasifikasian kelompok menjadi in-group dan out-group dapat ditemui dalam peristiwa tawuran pelajar. Terkait hal tersebut terdapat 2 macam interaksi sosial, yaitu:

  • Interaksi dengan sesama anggota in-group   yang bersifat kerja sama, simpati, kedekatan.
  • interaksi antara anggota kelompok in-group   dan out-group yang diwarnai oleh   pertentangan atau antipati.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Keanekaragaman Dan Perubahan Sosial Budaya


Perbedaan in group dan out group

  1. Berdasarkan derajat interaksinya terdapat dua tipe kelompok sosial, yaitu “in-group dan out-group”
  2. In-group (kelompok dalam) yaitu kelompok sosial yang individu-individunya mengidentifikasi dirinya dengan kelompoknya.
  3. Out-group (kelompok luar) yaitu merupakan kelompok yang di luar in-group
  4. Berdasarkan derajat interaksinya terdapat dua tipe kelompok sosial, yaitu “in-group dan out-group”
  5. In-group (kelompok dalam) yaitu kelompok sosial yang individu-individunya mengidentifikasi dirinya dengan kelompoknya.
  6. Out-group (kelompok luar) yaitu merupakan kelompok yang di luar in-group
  7. Tipe kelompok in-group akan dijumpai dalam kehidupan yang penuh dengan kerjasama, persahabatan, keteraturan dan kedamaian.
  8. Tipe kelompok out-group yang muncul adalah rasa kebencian, permusuhan, sampai menyulut peperangan

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Kemajemukan Berdasarkan Ras Beserta Penjelasannya


Pembentukan Kelompok dan Organisasi Sosial

Pada dasarnya, pembentukan kelompok dan organisasi sosial dapat diawali dengan adanya persepsi, perasaan atau motivasi, dan tujuan yang sama dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam proses selanjutnya didasarkan adanya hal-hal berikut:

  1. Persepsi: Pembagian kelompok didasarkan pada tingkat kemampuan intelegensi yang dilihat dari pencapaian akademis. Misalnya terdapat satu atau lebih punya kemampuan intelektual, atau yang lain memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik. Dengan demikian diharapkan anggota yang memiliki kelebihan tertentu bisa menginduksi anggota lainnya.
  2. Motivasi: Pembagian kekuatan yang berimbang akan memotivasi anggota kelompok untuk berkompetisi secara sehat dalam mencapai tujuan kelompok. Perbedaan kemampuan yang ada pada setiap kelompok juga akan memicu kompetisi internal secara sehat. Dengan demikian dapat memicu anggota lain melalui transfer ilmu pengetahuan agar bisa memotivasi diri unuk maju.
  3. Tujuan: Terbentuknya kelompok karena memiliki tujuan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas kelompok atau individu.
  4. Organisasi: Pengorganisasian dilakukan untuk mempermudah koordinasi dan proses kegiatan kelompok. Dengan demikian masalah kelompok dapat diselesaikan secara lebih efesien dan efektif.
  5. Independensi: Kebebasan merupakan hal penting dalam dinamika kelompok. Kebebasan disini merupakan kebebasan setiap anggota untuk menyampaikan ide, pendapat, serta ekspresi selama kegiatan. Namun demikian kebebasan tetap berada dalam tata aturan yang disepakati kelompok.
  6. Interaksi: Interaksi merupakan syarat utama dalam dinamika kelompok, karena dengan interaksi akan ada proses transfer ilmu dapat berjalan secara horizontal yang didasarkan atas kebutuhan akan informasi tentang pengetahuan tersebut.

Pembentukan kelompok diawali dengan adanya persepsi atau perasaan yang sama dalam memnuhi kebutuhan. Setelah itu akan timbul motivasi untuk memnuhinya, sehingga itu akan timbul motivasi untuk memenuhinya, sehingga ditentukanlah tujuan yang sama dan akhirnya interaksi yang terjai akan membentuk sebuah kelompok

Pembentukan kelompok dilakukan dengan menentukan kedudukan masing – masing anggota (siap menjadi ketua atau anggota). Interaksi yang terjadi suatu saat akan memunculkan konflik. Perpecahan yang terjadi biasanya bersifat sementara karena kesadaran arti pentingnya kelompok tersebut, sehingga anggota kelompok berusaha menyesuaikan diri demi kepentingan kelompok. Akhirnya setelah terjadi penyesuaian, perubahan dalam kelompok mudah terjadi.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Definisi Hubungan Struktur Sosial Dengan Mobilitas Sosial


Dinamika Kelompok dan Organisasi Sosial

a. Dinamika kelompok:

Dinamika kelompok dengan pendekatan sosiologis dapat diamati dari unsur-unsur pokok sistem sosial sebagai alat analisis dinamika kelompok yaitu :

  1. Tujuan : segala sesuatu yang ingin dicapai oleh kelompok
  2. Keyakinan : aspek pengetahuan/kognitif yang dianggap benar
  3. Norma : perilaku standar yang dapat diterima
  4. Sanksi : sistem penghargaan dan hukuman terhadap perilaku anggota kelompok
  5. Peranan kedudukan : hirarki hak dan kewajiban
  6. Kewenangan ambil keputusan dan mengontrol orang lain
  7. Jenjang sosial
  8. Fasilitas yang menyangkut alat untuk mencapai tujuan kelompok

b. dinamika organisasi sosial

Pencermatan dinamika organisasi dapat dilihat dari :

  • Sistem organisasi : tujuan, struktur, lingkungan fisik, lingkungan sosial budaya
  • Struktur organisasi : kewenangan, komunikasi, tugas;
  • Proses organisasi : hubungan antar peranan, pengendalian, koordinasi, sosialisasi, dan supervisi.

Contoh Kejadian antara group

Contoh kejadian antara group

  • Contoh Kasus Outgroup

Sekolah Dasar Mardi Waluya Cipanas adalah salah satu sekolah swasta Katolik di Cipanas yang didirikan dengan tujuan awal sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan Santo Yusuf (selanjutnya disebut anak panti). Namun sejak tahun 1990, Panti Asuhan Santo Yusuf mengalami perluasan dengan menerima anak-anak dari kota besar yang “dititipkan” oleh orang tua mereka yang selanjutnya akan disebut sebagai anak asrama. Selain itu, sekolah juga menerima anak-anak yang berasal dari Cipanas dan sekitarnya yang tinggal di luar panti asuhan. Anak-anak ini kemudian akan disebut sebagai anak luar dan menjadi kelompok mayoritas karena jumlahnya yang paling banyak dibandingdengananak-anakpantidananak-anakasrama.


Karena bersekolah di sekolah yang sama, maka siswa-siswa tersebut pun berinteraksi satu dengan yang lain. Mereka berinteraksi dengan membawa ciri khas yang dimiliki oleh masing-masing individu, sehingga terbentuklah kelompok-kelompok kecil berdasarkan persamaan dan perbedaan yang mereka miliki sebagai dampak dari interaksi tersebut. Kelompok-kelompok yang terbentuk adalah kelompok anak luar, anak asrama dan anak panti yang dapat dibedakan berdasarkan latar belakang dan ciri-ciri umum yang dimiliki oleh setiap kelompok.

Hubungan antar kelompok yang terjalin antar ketiga kelompok tersebut tidak jarang menimbulkan masalah yang dapat mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar. Masalah-masalah tersebut diduga berasal dari anak asrama yang dengan jumlahnya yang sedikit berhasil mempengaruhi kelompok lain.


 Karena fenomena ini paling jelas terlihat pada siswi kelas 5, maka yang menjadi subjek penelitian adalah para siswi kelas 5 yang dianggap dapat mewakili kelompoknya. Jumlah subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 3 orang dari masing-masing kelompok. Jadi total subjek adalah 9 orang. Pengambilan data dilakukan dengan metode kualitatif, yaitu dengan wawancara. Wawancara dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara yang disusun sesuai teori yang digunakan, yaitu Social Identity Theory dan alat perekam untuk membantu meningkatkan keakuratan dalam proses analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memang terjadi hubungan antar kelompok pada siswi kelas 5 SD Mardi Waluya Cipanas, terutama antara kelompok anak asrama dengan anak panti. Hubungan antar kelompok semakin jelas dengan adanya Outgroup Bias, asimilasi, kreatifitas dan potensi munculnya konflik


Outgroup bias terlihat dari penilaian negatif yang diberikan oleh keenam subjek dari kelompok anak panti dan anak luar terhadap anak asrama, dan penilaian negatif yang diberikan oleh ketiga subjek dari kelompok anak asrama kepada anak luar. Hal itulah yang kemudian menimbulkan konflik, baik antara anak asrama dengan anak luar, juga antara anak asrama dengan anak panti. Dalam memilih teman bermain, kelompok anak luar lebih fleksibel. Sebagai kelompok mayoritas dari segi jumlah, individual differences yang mereka miliki lebih menonjol dibanding degan identitas kelompok mereka. Sedangkan anak asrama memiliki batasan yang tegas, sehingga asimilasi yang dilakukan oleh anggota kelompok lain, tidak semua dapat berhasil.


  • Saran

Dalam hidup bermasyarakat, kita sebaiknya menghindari yang namanya outgroup karena akan menyebabkan ketidakharmonisan sosial.Walaupun kita menjadi anggota banyak kelompok, kita terikat secara emosional hanya pada beberapa kelompok saja. Hubungan kita dengan keluarga kita, kawan-kawan kita, dan tetangga yang dekat (di kampung/desa bukan di real estate), terasa lebih akrab, lebih personal, lebih menyentuh hati kita.