Iklim : Pengertian, 6 Unsur, 5 Jenis, dan Dampak Perubahan Iklim Lengkap

Diposting pada

Iklim Adalah : Pengertian, 6 Unsur, 5 Jenis, dan Dampak Perubahan Iklim Lengkap –  Untuk kesempatan kali ini akan membahas tentang pengertian dan unsur iklim menurut para ahli klimatologi secara lengkap. Oleh karena itu marilah simak ulasan yang ada dibawah berikut ini.

pengertian iklim menurut para ahli

Iklim Adalah

Menurut Word Climate Conference menyatakan bahwa iklim adalah  suatu Sintesis kejadian suatu cuaca selama jangka waktu yang lama atau panjang, yang secara statistik cukup untuk digunakan sebagai menunjukkan suatu nilai statistik yang berbeda dengan sebuah keadaan disetiap saatnya.

Pengertian Iklim Menurut Para Ahli

1. World Climate Conference, 1979

Menurut Word Climate Conference menyatakan bahwa iklim adalah  suatu Sintesis kejadian suatu cuaca selama jangka waktu yang lama atau panjang, yang secara statistik cukup untuk digunakan sebagai menunjukkan suatu nilai statistik yang berbeda dengan sebuah keadaan disetiap saatnya.


2. Glenn T. Trewartha, 1980

Menurut Glenn mengungkapkan bahwa iklim adalah suatu Konsep abstrak yang menyatakan suatu kebiasaan cuaca dan juga sebuah unsur-unsur atmosfer pada sebuah daerah selama jangka waktu yang lama.


3. Gibbs, 1978

Menurut Gibbs mengungkapkan bahwa iklim merupakan suatu peluang statistik dalam berbagai keadaan atmosfer, antara lain yaitu suhu, tekanan, angin kelembaban, yang terjadi pada suatu daerah selama dalam jangka waktu yang panjang.


Unsur Iklim

  • 1. Penyinaran Matahari
  • 2. Suhu Udara
  • 3. Kelembaban Udara (humidity)
  • 4. Awan
  • 5.Curah Hujan
  • 6. Tekanan udara

Penjelasannya

1. Penyinaran Matahari

Matahari yaitu sebuah pengatur iklim di bumi yang sangat penting dan menjadi sumber energi yang paling utama di bumi. Energi matahari ini dipancarkan ke semua arah dalam bentuk sebuah gelombang elektromagnetik. Penyinaran Matahari ke Bumi ini dipengaruhi oleh sebuah kondisi awan dan perbedaan sudut datangnya sinar matahari.


2. Suhu Udara

Suhu udara yaitu sebuah keadaan panas atau dinginnya udara yang memiliki sifat menyebar dan berbeda-beda pada sebuah daerah tertentu. Persebarannya yang secara horizontal menunjukkan suhu udara tertinggi terdapat di sebuah daerah tropis garis ekuator (garis khayal ini yang


membagi bumi menjadi sebuah bagian utara dan selatan) dan semakin ke arah kutub suhu udaranya akan semakin dingin. Sedangkan pada persebaran secara vertikal menunjukkan, semakin tinggi tempatnya, maka suhu udara akan semakin dingin. Alat untuk mengukur suatu suhu yaitu dengan termometer.


3. Kelembaban Udara (humidity)

Dalam sebuah udara terdapat air karena terjadinya penguapan. Makin tinggi suhu udara, maka makin akan banyak uap air yang dikandungnya. Hal ini yang menyebabkan makin lembablah udara tersebut. Jadi, Humidity yaitu banyaknya uap air yang dikandung oleh udara. Alat pengukurnya yaitu dengan higrometer.


4. Awan

Adalah kumpulan titik air atau kristal es yang terjadi karena adanya kondensasi uap air yang terdapat pada atmosfer, awan terjadi karena udara yang mengandung uap air naik sehingga suhunya turun sampai di bawah titik embun, awan ini dapat berupa benda padat atau gas.


Secara garis besar awan mempunyai tiga bentuk, yaitu :

  • Awan sirus (cirrus) atau awan bulu adalah awan yang tipis seperti serat atau seperti bulu. Sangat tinggi dan biasanya terdiri dari kristal-kristal air.

  • Awan stratus atau awan berlapis adalah awan yang rata, hampir tidak mempunyai bentuk tertentu. Biasanya berwarna kelabu dan menutup langit pada daerah yang luas.

  • Awan kumulus atau awan bergumpal adalah awan tebal dengan gerakan vertikal. Di bagian atas berbentuk setengah bulatan (dome) atau seperti kubis dan di bagian bawahnya rata.

5.Curah Hujan

Curah hujan yaitu suatu jumlah hujan yang jatuh di sebuah daerah pada kurun waktu tertentu. Untuk mengetahui besarnya curah hujan digunakan sebuah alat pengukur curah hujan yaitu dengan penakar hujan (Rain Gauge).


Terjadinya perubahan iklim dikarenakan ada nya sebuah unsur unsur yaitu penyinaran Matahari, kelembaban udara, suhu udara, per awanan, dan curah hujan.


6. Tekanan udara

Adalah udara yang mempunyai massa sehingga dapat menekan permukaan bumi. Alat untuk mengukur tekanan udara disebut barometer. Barometer ditemukan oleh Torricelli pada tahun 1644, hasil penemuan alat pengukur tekanan udara yang lain adalah barometer anaroid.


barometer ini mudah dibawa ke lain tempat dan dapat juga digunakan untuk mengukur tinggi tempat di atas permukaan air laut. Garis-garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai tekanan udara yang sama disebut Isobar.


Klasifikasi Iklim

  1. Iklim Matahari
  2. Iklim Tipe A (Iklim Hujan Tropis)
  3. Iklim Tipe B (Iklim Kering)
  4. Iklim Tipe C (Iklim Sedang Hangat)
  5. Iklim Tipe D (Iklim Salju Dingin)
  6. Iklim Tipe E (Iklim Kutub)

Penjelasannya

Iklim suatu wilayah ditentukan lima faktor utama, yaitu garis lintang, angin utama, massa daratan atau benua, arus samudra, serta topografi. Berdasarkan faktor-faktor itu, para ahli iklim mengklasifikasikan iklim di Bumi menjadi beberapa tipe, antara lain sebagai berikut.


  1. Iklim Matahari

Klasifikasi iklim Matahari didasarkan pada faktor garis lintang. Perbedaan garis-garis lintang di permukaan Bumi berpengaruh terhadap jumlah energi sinar matahari yang ditemuinya. Keadaan ini menyebabkan suhu udara di wilayah lintang rendah (khatulistiwa) lebih panas dibanding wilayah lintang tinggi (kutub).


  1. Iklim Menurut Koppen

Pada tahun 1900, Wladimir Koppen, seorang ahli klimatologi Jerman mengklasifikasikan iklim dunia menjadi lima kelompok. Klasifikasi iklim yang dilakukannya berdasarkan curah hujan dan suhu udara. Selain itu, juga mempertimbangkan vegetasi dan penyebaran jenis tanah.


Sistem klasifikasinya disusun dengan menggunakan huruf besar dan kecil. Setiap kelompok menggunakan simbol satu huruf besar. Sedang subkelompok menggunakan dua huruf, yaitu gabungan huruf besar dan kecil. Klasifikasi iklim menurut Koppen, yaitu kelima kelompok iklim tipe A, B, C, D, dan E.


  • Iklim Tipe A (Iklim Hujan Tropis)

Wilayah beriklim tipe A memiliki curah hujan tinggi, penguapan tinggi (rata-rata 70 cm3/tahun), dan suhu udara bulanan rata-rata di atas 18° C. Curah hujan tahunan lebih dari penguapan tahunan, tidak ada musim dingin. Wilayah beriklim tipe A dikelompokkan menjadi tiga sebagai berikut.


  • Iklim tipe Af memiliki suhu udara panas dan curah hujan tinggi sepanjang tahun. Di wilayah beriklim tipe A terdapat banyak hutan hujan tropik. Contoh: wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Wilayah beriklim tipe Af memiliki ciri:

  1. a) hutan sangat lebat dan heterogen (bermacam-macam tanaman);
  2. b) terdapat banyak tumbuhan panjat; serta
  3. c) terdapat jenis tumbuhan seperti pakis, palem, dan anggrek.

  • Iklim tipe Am, memiliki suhu udara panas, musim hujan, dan musim kemarau yang kering. Batas antara musim hujan dan kemarau tegas. Wilayah beriklim tipe Am antara lain terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua bagian selatan. Wilayah beriklim tipe Am memiliki ciri:

  1. a) curah hujan tergantung musim;
  2. b) jenis tanaman pendek dan homogen; serta
  3. c) hutan homogen yang menggugurkan daunnya ketika kemarau.

  • Iklim tipe Aw, memiliki suhu udara panas, musim hujan, dan musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan dengan musim hujan. Wilayah beriklim tipe Aw terdapat di wilayah Jawa Timur, Madura, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Kepulauan Aru, dan Papua bagian selatan. Wilayah beriklim tipe Aw memiliki ciri:

  1. a) hutan berbentuk sabana (savana);
  2. b) jenis tumbuhan padang rumput dan semak belukar; dan
  3. c) pohonnya berjenis rendah.

  • Iklim Tipe B (Iklim Kering)

Ciri Iklim tipe B adalah penguapan tinggi dengan curah hujan rendah (rata-rata 25,5 mm/tahun) sehingga sepanjang tahun penguapan lebih besar daripada curah hujan. Tidak terdapat surplus air. Di wilayah beriklim tipe B tidak terdapat sungai yang permanen. Wilayah beriklim tipe B dibedakan menjadi tipe Bs (iklim stepa) dan tipe Bw (iklim gurun).


  • Iklim Tipe C (Iklim Sedang Hangat)

Iklim tipe C mengalami empat musim, yaitu musim dingin, semi, gugur, dan panas. Suhu udara rata-rata bulan terdingin adalah (–3)°C – (–8)°C. Terdapat paling sedikit satu bulan yang bersuhu udara rata-rata 10° C. Iklim tipe C dibedakan menjadi tiga, sebagai berikut.


  • Iklim tipe Cw, yaitu iklim sedang basah (humid mesothermal) dengan musim dingin yang kering.
  • Iklim tipe Cs, yaitu iklim sedang basah dengan musim panas yang kering.
  • Iklim tipe Cf, yaitu iklim sedang basah dengan hujan dalam semua bulan.

  • Iklim Tipe D (Iklim Salju Dingin)

Iklim tipe D merupakan iklim hutan salju dengan suhu udara rata-rata bulan terdingin < –3° C dan suhu udara rata-rata bulan terpanas > 10° C. Iklim tipe D dibedakan menjadi dua:


  • Iklim tipe Df, yaitu iklim hutan salju dingin dengan semua bulan lembap.
  • Wilayah beriklim tipe Dw, yaitu iklim hutan salju dingin dengan musim dingin yang kering.

  • Iklim Tipe E (Iklim Kutub)

Wilayah beriklim tipe E mempunyai ciri tidak mengenal musim panas, terdapat salju abadi dan padang lumut. Suhu udara tidak pernah melebihi 10° C. Wilayah beriklim tipe E dibedakan atas tipe Et (iklim tundra) dan tipe Ef (iklim kutub dengan salju abadi). Iklim tipe E terdapat di daerah Arktik dan Antartika.


  1. Iklim Menurut Schmidt–Ferguson

Schmidt–Ferguson mengklasifikasikan iklim berdasarkan jumlah rata-rata bulan kering dan jumlah rata-rata bulan basah. Suatu bulan disebut bulan kering, jika dalam satu bulan terjadi curah hujan kurang dari 60 mm. Disebut bulan basah, jika dalam satu bulan curah hujannya lebih dari 100 mm.


Iklim Schmidt dan Ferguson sering disebut juga Q model karena didasarkan atas nilai Q. Nilai Q merupakan perbandingan jumlah ratarata bulan kering dengan jumlah rata-rata bulan basah. Nilai Q dirumuskan sebagai berikut.

Q=((Rata-rata bulan kering):(Rata-rata bulan basah)) x 100%

Nilai Q ditentukan dari perhitungan rata-rata bulan kering dan bulan basah selama periode tertentu, misalnya 30 tahun.


  1. Iklim Menurut Oldeman

Penentuan iklim menurut Oldeman menggunakan dasar yang sama dengan penentuan iklim menurut Schmidt-Ferguson, yaitu unsur curah hujan. Bulan basah dan bulan kering dikaitkan dengan kegiatan pertanian di daerah tertentu sehingga penggolongan iklimnya disebut juga zona agroklimat.


Misalnya, jumlah curah hujan sebesar 200 mm tiap bulan dipandang cukup untuk membudidayakan padi sawah. Sedang untuk membudidayakan palawija, jumlah curah hujan minimal yang diperlukan adalah 100 mm tiap bulan. Selain itu, musim hujan selama 5 bulan dianggap cukup untuk membudidayakan padi sawah selama satu musim. Dalam metode ini, dasar penentuan bulan basah, bulan lembap, dan bulan kering sebagai berikut.


  1. Bulan basah, apabila curah hujannya > 200 mm.
  2. Bulan lembap, apabila curah hujannya 100–200 mm.
  3. Bulan kering, apabila curah hujannya < 100 mm.

  1. Iklim Menurut Junghuhn

Junghuhn mengklasifikasikan iklim berdasarkan ketinggian tempat dan mengaitkan iklim dengan jenis tanaman yang tumbuh dan berproduksi optimal sesuai suhu di habitatnya. Junghuhn mengklasifikasikan iklim menjadi empat


  1. 0-700 m, zona panas, contoh- karet, kopi, tebu, jagung, kelapa
  2. 700-1500 m, zona sedang, contoh- teh, kina
  3. 1500-2500 m, zona sejuk, contoh- pinus
  4. > 2500 m, zona dingin, contoh- lumut

Sifat Iklim

  • Memiliki jangka waktu yang lama
  • Memiliki sifat yang Meliputi sebuah daerah yang luas.
  • Mempunyai Sifat iklim yang dihasilkan oleh rata-rata cuaca, bukan
  • yaitu sebuah pencatatan baru.

Dampak Perubahan Iklim

Tentu saja dari perubahan iklim ini dapat menimbulkan dampak negative. Untuk Indonesia sendiri, ada sejumlah dampak perubahan iklim seperti :


  1. Ekosistem

– Kemungkinan punahnya 20-30 persen spesies tanaman dan hewan bila terjadi kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1,5-2,5 derajat Celcius.


– Bertambahnya CO2 di atmosfer akan meningkatkan tingkat keasaman laut. Hal ini berdampak negative pada organisme-organisme laut seperti terumbu karang dan spesies-spesies yang hidupnya bergantung pada organisme tersebut.


  1. Pangan dan hasil hutan

– Diperkirakan produktivitas pertanian didaerah tropis akan mengalami penurunan bila terjadi kenaikan suhu rata-rata global antara1-2 derajat Celcius, sehingga meningkatkan resiko bencana kelaparan.


– Meningkatnya frekuensi kekeringan dan banjir akan memberikan dampak negative pada produksi local terutama pada penyediaan pangan di subtropics dan tropis.


  1. Pesisir dan dataran rendah

– Daerah pantai akan semakin rentan terhadap erosi pantai dan naiknya permukaan air laut. Kerusakan pesisir akan diperparah oleh tekanan manusia didaerah pesisir.


– Diperkirakan tahun 2080, jutaan orang akan terkena banjir setiap tahun karena naiknya permukaan air laut. Resiko terbesar adalah dataran rendah yang padat penduduknya dengan tingkat adaptasi yang rendah. Penduduk yang paling terancam adalah yang berada di delta-delta Asia dan Afrika, namun yang paling rentan adalah penduduk di pulau-pulau kecil.


  1. Sumber dan Manajemen air tawar

– Rata-rata aliran air sungai dan ketersediaan air didaerah subpolar dan daerah tropis basah diperkirakan akan meningkat 10-40 persen.


– Sementara didaerah subtropics dan daerah tropis yang kering, air akan berkurang 10-30 persen, sehingga daerah-daerah yang sekarang sering mengalami kekeringan akan semakin parah kondisinya.


  1. Industri, permukiman dan masyarakat

– Industri, permukiman dan masyarakat yang paling rentan umumnya berada didaerah pesisir dan bantaran sungai, serta mereka yang ekonominya terkait erat dengan sumber daya yang sensitive terhadap iklim, serta mereka yang tinggal didaerah-daerah yang sering dilanda bencana ekstrem, dimana urbanisasi berlangsung dengan cepat.


– Komunitas miskin sangat rentan karena kapasitas beradaptasi yang terbatas,serta kehidupan mereka sangat tergantung kepada sumberdaya yang mudah terpengaruh oleh iklim seperti persediaan air dan makanan.


  1. Kesehatan

– Penduduk dengan kapasitas beradaptasi rendah akan semakin rentan terhadap diare, gizi buruk, serta berubahnya pola distribusi penyakit-penyakit yang ditularkan melalui berbagai serangga dan hewan.


Meski tingkat emisi GRK terus meningkat, ada banyak peluang untuk menguranginya. Salah satu cara melalui perubahan gaya hidup dan pola konsumsi. IPCC memberikan rekomendasi kebijakan dan instrument yang dinilai efektif menurunkan emisi GRK, seperti :

Sektor Energi

  • – Mengurangi subsidi bahan bakar fosil.
  • – Pajak karbon untuk bahan bakar fosil.
  • – Kewajiban menggunakan energi terbarukan.
  • – Penetapan harga listrik bagi energi terbarukan.
  • – Subsidi bagi produsen

Sektor Transportasi

  • – Kewajiban ekonomi bahan bakar, penggunaan biofuel dan standar CO2 untuk alat transportasi jalan raya.
  • – Pajak unstuck plebeian endbrain, STNK, bahan bakar serta tarif penggunaan jalan dan parker.
  • – Merancang kebutuhan transportasi melalui regulasi penggunaan lahan serta perencanaan infrastruktur.
  • – Melakukan investasi pada fasilitas angkutan umumdan transportasi tak bermotor.

Sektor Gedung

  • – Menerapkan standard dan pemberian label pada berbagai peralatan.
  • – Sertifikasi dan regulasi gedung
  • – Program-program demand side management.
  • – Percontohan oleh kalangan pemerintah termasuk pengadaan.
  • – Insentif untuk energy services company.

Sektor Industri

  • – Pembuatan standar
  • – Subsidi, pajak untk kredit.
  • – Izin yang dapat diperjualbelikan
  • – Perjanjian sukarela.

Sektor pertanian

  • – Insentif financial serta regulasi-regulasi untuk memperbaiki manajemen lahan, mempertahankan kandungan karbon didalam tanah, penggunaan pupuk dan irigasi yang efisien.

Sektor kehutanan

  • – Insentif financial (nasional dan internasional) untuk memperluas area hutan, mengurangi deforestasi, mempertahankan hutan, serta manajemen hutan.
  • – Regulasi pemanfaatan lahan serta penegakan regulasi tersebut.

Sektor manajemen limbah

  • – Insentif financial untuk manajemen sampah dan limbah cair yang lebih baik.
  • – Insentif atau kewajiban meggunakan energi terbarukan.
  • – Regulasi manajemen limbah.

Selain itu kita sebagai masyarakat dapat melakukan upaya pengurangan emisi seperti :

  • – Gunakan penerangan secara efisien dan efektif. Penggunaan lampu hemat energi dan jadwal penerangan rumah yang tepat

  • – Gunakan peralatan elektronik, seperti komputer,TV, radio dan AC, seperlunya saja.
  • – Kurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi.

  • – Maksimalkan penggunaan kendaraan umum dan jika terpaksa menggunakan kendaraan pribadi, upayakan untuk berbagi dengan mereka yang memiliki tujuan sama.
  • – Berjalan kaki maupun memanfaatkan angkutan tak bermotor untuk jarak dekat.

  • – Jika harus memiliki kendaraan pribadi, pilih yang penggunaan bahan bakarnya lebih hemat dengan jenis bahan bakar yang lebih bersih.

  • – Kejelian dalam memilih produk merupakan bantuan besar dalam mengendalikan emisi GRK. Secara keseluruhan, produk lokal akan memberikan emisi GRK yang lebih kecil.

  • – dibandingkan produk impor. Sebab produk impor akan mengemisikan GRK dalam proses transportasinya dari negara asal ke negara tujuan.

  • – Jangan lupa, tanamlah pohon di sekitar lingkungan anda tinggal. Selain berguna untuk
  • – menyegarkan udara di sekitarnya, pepohonan juga berfungsi untuk menyerap emisi GRK.

Perubahan iklim jelas menyengsarakan kehidupan umat manusia. Kerugian materi dan juga korban nyawa adalah akibat yang harus kita terima. Oleh karena itu, sudah saatnya kita, pemerintah, industri dan masyarakat, bahu-membahu berupaya untuk menghambat terjadinya perubahan iklim.


Semoga apa yang dibahas diatas bermanfaat abgi pembaca. Sekian dan Terima Kasih.

Baca juga refrensi artikel terkaitnya :