Peninggalan Zaman Mesolitikum

Diposting pada

Peninggalan Zaman Mesolitikum – Kebudayaan, Alat & Kepercayaan – GuruPendidikan.Com – Untuk kali ini akan memberikan informasi mengenai Zaman Mesolitikum yang dimana dalam hal ini meliputi pengertian, peninggalan dan hasil kebudayaan, nah agar dapat lebih memahami dan mengerti kalau begitu simak saja uraian dibawah ini.

Zaman-Mesolitikum

Pengertian Zaman Mesolitikum

Zaman batu pertengahan “Mesolitikum” diperkirakan berlangsung kurang lebih 20.000 tahun silam, pada zaman ini kehidupan manusia tidak jauh berbeda dengan zaman batu tua yakni berburu, mengumpulkan makanan, dan menangkap ikan, mereka juga sudah mulai hidup menetap di guas, tepi sungai atau tepi pantai.


Mesolitikum atau Zaman Batu Madya “Bahasa Yunani; mesos “tengah”, lithos batu” adalah suatu periode dalam perkembangan teknologi manusia, antara Paleolitik atau Zaman Batu Tua dan Neolitik atau Zaman Batu Muda. Untuk alat-alat perkakas yang digunakan pada masa Mesolithikum hampir sama dengan alat-alat pada zaman Palaeolithikum hanya sudah sedikit dihaluskan.


Zaman Mesolithikum (zaman batu madya)

Mesolithikum juga di sebut zaman batu tengah atau zaman batu madya, yang di perkirakan berlangsung pada masa Holosen (10.000 tahun yang lalu). Perkembangan kebudayaan pada zaman ini berlangsung lebih cepat dari masa sebelumnya. Hal ini di sebabkan antara lain.

  1. Keadaan alam yang sudah lebih stabil, yang memungkinkan manusia dapat hidup lebih tenang, sehingga dapat mengembangkan kebudayaannya
  2. Manusia pendukungnya adalah dari jenis Homo sapien, mahluk yang lebih cerdas di bandingkan pendahulunya.

Mesolitikum secara bahasa dapat diartikan sebagai batu tengah, merupakan tahapan perkembangan masyarakat masa pra sejarah antara batu tua dan batu muda. Tidak jauh berbeda dengan peride sebelumnya, kehidupan berburu atau mengumpulkan makanan. Namun manusia pada masa itu juga mulai mempunyai tempat tinggal agak tetap dan bercocok tanam secara sederhana. Tempat tinggal yang mereka pilih umumnya berlokasi di tepi pantai (kjokkenmoddinger) dan goa-goa (abrissousroche) sehingga di lokasi-lokasi tersebut banyak ditemukan berkas-berkas kebudayaan manusia pada zaman itu.


Pada zaman ini manusia telah mampu membuat gerabah yang di buat dari tanah liat, selain kapak genggam Sumatra (Sumatralithpebbleculture), alat tulang yang di temukan di Sampung (boneculture), dan sejumlah flakes yang di temukan di Toala (flakesculture). Kehidupan manusia semi-sedenter, banyak dari manusia purba yang tinggal di gua-gua di tebing pantai, yang dinamakan dengan abrissousroche, dimana banyak ditemukan tumpukan sampah dapur yang di sebut dengan kjokkenmoddinger.


Ciri Zaman Mesolithikum

  • Nomaden dan masih melakukan foodgathering (mengumpulkan makanan)
  • Alat-alat yang dihasilkan nyaris sama dengan zaman palaeolithikum yakni masih merupakan alat-alat batu kasar.
  • Ditemukannya bukit-bukit kerang di pinggir pantai yang disebut KjokenMondinger (sampah dapur)
  • Alat-alat kebudayaan Mesolithikum yang ditemukan di gua Lawa Sampung, Jawa Timur yang disebut AbrisSousRoche antara lain: Flakes (Alat serpih),ujung mata panah, pipisan, kapak persegi dan alat-alat dari tulang.
  • Alat-alat zaman mesolithikum antara lain: Kapak genggam (Pebble), Kapak pendek (hacheCourte) Pipisan (batu-batu penggiling) dan kapak-kapak dari batu kali yang dibelah.
  • Alat-alat diatas banyak ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Flores.

Ada tiga bagian penting kebudayaan Mesolithikum:

  1. Pebble-Culture (alat kebudayaan kapak genggam dari KjokenMondinger)
  2. Bone-Culture (alat kebudayaan dari Tulang)
  3. FlakesCulture (kebudayaan alat serpih dari Abris Saus Roche)

Baca Juga : Masa Pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945)


Manusia pendukung kebudayaan Mesolithikum adalah bangsa Papua–Melanosoid. Di situs Sampung, dimana di temukan alat-alat dari tulang, arkeolog Van Stein Callenfels juga menemukan fosil dari ras Austromelanosoid, yang di perkirakan sebagai nenek moyang suku bangsa Papua sekarang. Hasil budaya lain yang cukup menonjol pada zaman ini adalah lukisan gua, yang kemudian banyak di teliti oleh dua orang bersaudara Roder dan Galis terutama lukisan gua yang ada di daerah Papua. Dari penelitian tersebut, terdapat bukti bahwa lukisan itu di buat antara lian dengan tujuan.


  • Sebagai bagian dari ritual agama, seperti ucapan untuk menghormati nenek moyang, upacara inisiasi, upacara memohon kesuburan, upacara meminta hujan.
  • Untuk keperluan ilmu dukun, seperti tampak pada gambar binatang yang dianggap memiliki kekuatan magis.
  • Memperingati peristiwa penting yang terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka.

Lukisan gua ini tersebar hampir di seluruh kepulauan indonesia terutama di wilayah indonesia bagian timur. Hal menarik lainnya dari penemuan ini adalah tema dan bentuk lukisan menunjukan kemiripan antara yang satu dengan lainnya, meskipun lukisan gua tersebut diperkirakan berkembang sekitar 40.000 tahun SM ini sudah mengenal teknik pewarnaan. Warna merah berasal dari hematite (oksida besi atau oker merah), putih dari kaolin (kapur), sementara warna hitam terbuat dari arang atau mangan dioksida.


Lukisan tapak tangan lainnya ditemukan juga di gua Leang-Leang, Sulawesi Selatan, cap jari tangan warna merah disana diperkirakan sebagai simbol kekuatan atau lambang kekuatan pelindung terhadap gangguan roh-roh jahat, dan cap-cap tangan yang jari-jarinya tidak lengkap diperkirakan sebagai ungkapan duka atau berkabung.


Kebudayaan Mesolithikum


Kebudayaan Pebble (PebbleCulture)

  • Kjokkenmoddinger (Sampah Dapur)

Kjokkenmoddinger

Kjokkenmoddinger adalah istilah yang berasal dari bahasa Denmark yaitu kjokken artinya dapur dan modding artinya sampah jadi Kjokkenmoddinger arti sebenarnya adalah sampah dapur. Dalam kenyataan Kjokkenmoddinger adalah timbunan atau tumpukan kulit kerang dan siput yang mencapai ketinggian ± 7 meter dan sudah membatu atau menjadi fosil.


Baca Juga : Pengertian Jenis Dan Ciri Manusia Purba


Kjokkenmoddinger ditemukan disepanjang pantai timur Sumatera yakni antara Langsa dan Medan. Dari bekas-bekas penemuan tersebut menunjukkan bahwa manusia purba yang hidup pada zaman ini sudah menetap. Tahun 1925 Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya banyak menemukan kapak genggam yang ternyata berbeda dengan chopper (kapak genggam Palaeolithikum).


  • Pebble (kapak genggam Sumatera = Sumateralith)

kapak genggam Sumatera

Tahun 1925, Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya menemukan kapak genggam. Kapak genggam yang ditemukan di dalam bukit kerang tersebut dinamakan dengan pebble/kapak genggam Sumatra (Sumatralith) sesuai dengan lokasi penemuannya yaitu dipulau Sumatra. Bahan-bahan untuk membuat kapak tersebut berasal batu kali yang dipecah-pecah.


  • Hachecourt (kapak pendek)

Hachecourt

Selain pebble yang diketemukan dalam bukit kerang, juga ditemukan sejenis kapak tetapi bentuknya pendek (setengah lingkaran) yang disebut dengan hachecourt/kapak pendek.


Baca Juga : Pengertian Prasejarah Manusia Purba Pada Zaman Batu Dan Zaman Logam


  • Pipisan

Selain kapak-kapak yang ditemukan dalam bukit kerang, juga ditemukan pipisan (batu-batu penggiling beserta landasannya). Batu pipisan selain dipergunakan untuk menggiling makanan juga dipergunakan untuk menghaluskan cat merah. Bahan cat merah berasal dari tanah merah. Cat merah diperkirakan digunakan untuk keperluan religius dan untuk ilmu sihir.


Kebudayaan Tulang dari Sampung (Sampung Bone Culture)

Berdasarkan alat-alat kehidupan yang ditemukan di goa lawa di Sampung (daerah Ponorogo – Madiun Jawa Timur) tahun 1928 – 1931, ditemukan alat-alat dari batu seperti ujung panah dan flakes, kapak yang sudah diasah, alat dari tulang, tanduk rusa, dan juga alat-alat dari perunggu dan besi. Oleh para arkeolog bagian terbesar dari alat-alat yang ditemukan itu adalah tulang, sehingga disebut sebagai Sampung Bone Culture.


 Kebudayaan Flakes (FlakesCulture)

Kebudayaan Flakes

  • Abris Souce Roche

AbrisSousRoche adalah goa-goa yang yang dijadikan tempat tinggal manusia purba pada zaman Mesolithikum dan berfungsi sebagai tempat perlindungan dari cuaca dan binatang buas. Penyelidikan pertama pada AbrisSousRoche dilakukan oleh Dr. Van Stein Callenfels tahun 1928-1931 di goa Lawa dekat Sampung Ponorogo Jawa Timur.


Kehidupan Sosial

sebagian dari mereka sudah mulai menetap tinggal di gua-gua dengan berkelompok/individu dan mulai bercocok tanam secara sederhana. Mereka bercocok tanam dengan amat sederhana dan di lakukan secara berpindah-pindah,sesuai dengan kesuburan tanah. Yang mereka tanam adalah umbi-umbian. Mereka juga sudah mulai belajar menjinakkan hewan untuk diternak. Di zaman ini mereka saling membutuhkan dan mereka juga saling membantu.


Baca Juga : “Zaman Neolitikum” Pengertian & ( Ciri – Hasil Peninggalan )


Kepercayaan

Masyarakat mesolithikum di Indonesia sudah mulai mengenal kepercayaan dan penguburan mayat. Lukisan manusia dipulau Seram dan Papua merupakan gambar nenek moyang dan dianggap memiliki kekuatan magis sebagai penolak roh jahat. Demikian halnya gambar kadal di wilayah tersebut,dianggap sebagai penjelmaan nenek moyang atau kepala suku sebagai lambing kekuatan magis. Pemujaan terhadap binatang yang dianggap memiliki kekuatan magis disebut Totemisme.


Bukti-bukti penguburan dari zaman mesolithikum ditemukan di Gua Lawa (Sampung ) dan di kjokkenmodinger. Mayat-mayat tersebut dibekali dengan keperluan sehari-hari,seperti kapak-kapak yang indah dan perhiasan. Ada pula mayat yang ditaburi cat merah dalam suatu upacara penguburan dengan maksud memberikan kehidupan baru di alam baka.


Manusia Pendukung

Pendukung kebudayaan Mesolithikum adalah manusia dari ras Papua-Melanesoid. Hal ini terbukti dengan ditemukannya fosil-fosil manusia ras Papua Melanesoid,baik pada kebuyaan tulang sampung maupun dibukit-bukit kerang di Sumatra. Pendukung kebudayaan Toala menurut Sarasin diperkirakan adalah nenek moyang orang suku Toala sekarang yang merupakan keturunan orang Wedda dari Srilangka ( Ras Weddoid ).


Batu Tengah Madya/Mesolithikum

Merupakan masa peralihan di mana cara pembuatan alat -alat kehidupannya lebih baik dan lebih halus dari zaman batu tua. Contohnya: Pebble/Kapak Sumatera. Dengan adanya keberadaan manusia jenis Papua Melanosoide di Indonesia sebagai pendukung kebudayaan Mes olithikum, maka para arkeolog melakukan penelitian terhadap penyebaran pebble dan kapak pendek sampai ke daerah teluk Tonkin daerah asal bangsa Papua Melanosoide.


Dari hasil penyelidikan tersebut, maka ditemukan pusat pebble dan kapak pendek berasal dari p egunungan Bacson dan daerah Hoabinh, di Asia Tenggara. Tetapi di daerah tersebut tidak ditemukan flakes, sedangkan di dalam Abris Sous Roche banyak ditemukan flakes bahkan di pulau Luzon (Filipina) juga ditemukan flakes. Ada kemungkinan kebudayaan flakes b erasal dari daratan Asia, masuk ke Indonesia melalui Jepang, Formosa dan Philipina.


Berdasarkan uraian materi di atas dapatlah disimpulkan:

  1. Kebudayaan Bacson – Hoabinh yang terdiri dari pebble, kapak pendek serta alatalat dari tulang masuk ke Indones ia melalui jalur barat.
  2. Kebudayaan flakes masuk ke Indonesia melalui jalur timur. Untuk lebih memahami penyebaran kebudayaan Mesolithikum ke Indonesia, maka simaklah gambar 1.6 peta penyebaran kebudayaan tersebut ke Indonesia.

Sekian penjelasan artikel diatas tentang Peninggalan Zaman Mesolitikum – Kebudayaan, Alat & Kepercayaan semoga bisa bermanfaat untuk pembaca setia GuruPendidikan.Co.Id