Pengertian Gen Letal Beserta Macam-Macamnya

Diposting pada

Gen-Letal

Pengertian Gen

Gen adalah suatu unit fungsional dasar hereditas yang merupakan titik focal dalam ilmu genetika modern. Pada semua cabang-cabang ilmu genetika, gen merupakan benang merah yang mempersatukan keberagaman dalam pelaksanaan percobaan.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penyebab Mutasi Gen – Pengertian, Alam, Buatan, Faktor, Jenis, Mekanisme, Konsekunsi


Pengertian Gen Letal

Gen letal atau gen kematian adalah gen yang dalam keadaan homozigotik dapat menyebabkan kematain individu yang dimilikinya. Ada gen letal yang bersifat dominan dan ada pula yang resesif. Kematian ini dapat terjadi pada masa embrio atau beberapa saat setelah kelahiran. Akan tetapi, adakalanya pula terdapat sifat subletal, yang menyebabkan kematian pada waktu individu yang bersangkutan menjelang dewasa. Ada dua macam gen letal, yaitu gen letal dominan dan gen letal resesif.


Gen letal dominan biasanya menyebabkan letal dalam susunan homozigot, sedangkan dalam sususunan heterozigot ada yang subletal, ada pula yang bisa hidup sehat sampai dewasa dan berketurunan. Yang heterozigot seperti halnya letal resesif, mewariskan karakter buruk itu kepada keturunan. Bedanya dengan letal resesif, heterozigot letal dominan ada memperlihatkan fenotipe cacat atau kelainan, sedangkan heterozigot letal resesif tidak ada, artinya hidup normal dan tak memperlihatkan kelainan.


Gen letal atau Gen Kematian merupakan gen yang dalam keadaan homozigotik atau homozigot yang menyebabkan kematian pada indivindu. Berhubungan dengan itu hadirnya gen latel pada suatu indivindu menyebabkan perbandingan fenotip dalam keturunan menyimpang dari hukum Mendel. Namun hal ini ada batas penyimpangannya dari keadaan normal yang dimana suatu makhluk hidup tidak mampu untuk hidup. Kematian dari makhluk hidup ini bisa terjadi pada tingkat perkembangan apapun mulai dari segera pembuahan, selama proses embrionik saat kelahiran atau setelah kelahiran.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Fungsi Utama Fibrinogen Dalam Biologi


Penyebab dan Faktor Gen Letal

Kematian dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti luka, penyakit, kekurangan gizi, dan radiasi yang membahayakan seperti sinar X dan sinar Gamma. Dapat dikatakan semua penyebab kematian ini sebagai letal effect. Satu diantara demikian banyak penyebab kematian adalah perubahan gen yang tidak sesuai. Gen-gen ini dikenal sebagai gen-gen letal. Terdapat gen-gen lain yang disebut semiletal atau subletal, menyebabkan kematian muda setelah lahir atau sewaktu-waktu dalam masa kehidupannya.


Ada juga gen lain yang tidak menyebabkan kematian namun jelas sekali dapat menurunkan daya hidup atau ketegaran. Gen-gen ini disebut sebagai gen-gen nonletal atau detrimental. Penyebab Letal antara lain :

  1. Gen-gen letal
  2. Mutasi stuktur kromosom dan genom
  3. Mutasi aneuploid

Terdapat dua macam gen letal, yakni gen letal dominan dan gen letal resesif. Gen letal dominan dalam keadaan heterozigot dapat menimbulkan efek subletal atau kelainan fenotipe, sedang gen letal resesif cenderung menghasilkan fenotipe normal pada keadaan homozigot dominan dan heterozigot.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Aplikasi Bioteknologi Modern – Pengertian, Genetika, kedokteran, pertanian, peternakan, limbah, Biokimia, Virologi, Biologi sel

Macam-macam Gen Letal

Terdapat dua macama gen latel yakni gen letal dominan dan gen letal resesif. Gen letal dominan dalam keadaan heterozigot dapat menimbulkan efek subletal atau kelainan fenotipe, sedang gen letal resesif cenderung menghasilkan fenotipe normal pada keadaan homozigot dominan dan heterozigot. Untuk lebih mengetahuinya mari simak uraian berikut ini.


  • Gen Letal Dominan

Gen letal dominan ialah gen dominan yang bila homozigotik akan menyebabkan individunya mati. Gen letal dominan dalam keadaan heterozigot dapat menimbulkan efek subletal atau kelainan fenotipe, Peristiwa letal dominan antara lain dapat dilihat pada ayam redep (creeper), yaitu ayam dengan kaki dan sayap yang pendek serta mempunyai genotipe heterozigot (Cpcp).


Ayam dengan genotipe CpCp mengalami kematian pada masa embrio. Apabila sesama ayam redep dikawinkan, akan diperoleh keturunan dengan nisbah fenotipe ayam redep (Cpcp) : ayam normal (cpcp) = 2:1. Hal ini karena ayam dengan genotipe CpCp tidak pernah ada.

Beberapa contoh gen letal dominan adalah sebagai berikut :


1. Pada ayam Creeper

ayam Creeper

Pada ayam dikenal gen dominan C yang jika homozigot menyebabkan sifet letal, alelnya resesif c mengatur pertumbuhuhan tulang .ayam heterozigotnya Cc yaitu ayamnya hidup tapi menunjukkan kecacatan yaitu memiliki kaki pendek disebut ayam redep ( dalam bahasa inggris disebut creeper) meskipun ayam ini hidup tetapi sebenarnya menderita penyakit keturunan yang disebut achondraplasi.ayam homozigot yang dihasilkan tidak pernah dijumpai hidup sebab sudah mati sejah masih embrio banyak kelainan padanya misal kepala rusak,tulang tidak terbentuk,mata mengecil dan rusak. Perkawinan antar dua ayam creeper menghasilkan perbandingan 2 ayam creeper : 1 ayam normal : 1 letal. Bagaimana jika gen letal CC tidak pernah ada bisa terjadi ayam creeper? Sebenarnya ayam creeper (Cc) dihasilkan dari ayan normal (cc) yang salah satu gen resesif c mengalami mutasi gen menjadi gen dominan C. Perhatikan papan catur persilangan ayam creeper berikut :

Pada ayam Creeper


2. Pada manusia dikenal Brakhifalangi

manusia Brakhifalangi

Ialah keadaan orang dengan jari pendek disebabkan tulang – tulang jari pendek dan menjadi satu.. cacat ini diakibatkan oleh gen B yang besifat keturunan. Penderita brakhifalangi ialah heterozigot Bb,sedang orang yang normal adalah homozigot resesif bb sedang homozigot dominan BB akan menunjukkan sifat letak. Jika 2 orang yang sama-sama brakhifalangi menikah maka akan menunjukkan perbandingan 2 brakhifalang :1 normal : 1 letal. Perhatikan bagan berikut :

Pada manusia dikenal Brakhifalangi


3. Pada tikus gen letal dominan Y (dari bahasa inggris yellow)

tikus gen letal dominan Y

Yang dalam kondisi heterozigot menyebabkan kulit tikus berpigmen kuning. Tikus homozigot dominan YY tidak dikenal karena letal.tikus homozigot resesif yy normal berbulu kelabu. Persilangan dua tikus kuning menyebabkan perbandingan 2 tikus kuning : 1 tikus kelabu (normal). Perhatikan peta persilangan berikut ini.

Pada tikus gen letal dominan Y

Dari persilangan tersebut tampak gendomina letal baru akan muncul dari perkawinan heterozigot dan dalam keadaan heterozigot gen dominan letal tidak menyebabkan kematian namun biasanya menimbulkan kecacatan.


4. Ayam berjambul

Karakter ayam berjambul diamati pertama kali oleh Charles Darwin (1887). bulu di kepala panjang dan tegak. Ayam ini nampak menarik dan banyak disenangi orang sehingga diternakan sebagai binatang kesayangan. Ayam berjambul itu bergenotipe heterozigot Crer. Yang homozigot dominan (CrCr) mati waktu embrio dierami sekitar 10 hari (normal 21 hari). Jika diperiksa tengkorak embrio itu, ternyata lobang tulang dahi itu besar sehingga otak daerah cerebrum menjulur, membentuk burut (hernia). Jika ayam berjambul dikawinkan sesamanya maka Y bagian telurnya tak menjadi. Dari yang menetas 1/3 tak berjambul (normal), 2/3 lagi berjambul.

Ayam berjambul


5. Ayam Redep

Pada ayam ada gen dominan yang menyebabkan kematian waktu embrio dalam susunan homozigot. Yang heterezigot dapat hidup, tapi memiliki keabnormalan atau cacat. Alel resesif gen itu rupanya adalah gen yang asli, yang berperanan mengatur pertumbuhan tulang, khususnya differensiasi tulang rawan. Alel mutatnya yang dominan menyebabkan pertumbuhan tulang terganggu. Yang heterozigot memiliki anggota pendek, baik kaki maupun sayap. Disebut redep atau creeper. Simbol genetis: Cp-Cp. Yang homozigot dominan (CpCp) kalau diperiksa memiliki aneka kelainan atau cacat (sindroma): mata bercelah, tubuih lebih kecil, tak ada kelopak mata, kepala rusak, rangka tak mengalami osifikasi.

Ayam Redep


Umumnya CpCp mati ketika embrio dierami 3 hari. Kadang ada yang tahan sampai 19 hari eraman, dekat waktu menetas.meski ayam Cpcp hidup dengan kaki pendek, redep, dan nampak biasa, tapi sesungguhnya ia menggandung penyakit keturunan khronis, yang disebut achondroplasia (chondrodystrophy). Tabel di atas memperlihatkan keturunan redep kalau kawin sesamanya. Ratio fenotip F1-nya ialah: 2redep: 1normal. Karena dari ratio genotipe 1CpCp: 2Cpcp: 1CpCp mati embrio.


  • Gen Letal Resesif

Gen letal resesif cenderung menghasilkan fenotipe normal pada individu heterozigot danmengalami kematian ketika dalam keadaan homozigot resesif misalnya adalah gen penyebab albino pada tanaman jagung. Tanaman jagung dengan genotipe gg akan mengalami kematian setelah cadangan makanan di dalam biji habis, karena tanaman ini tidak mampu melakukan fotosintesis sehubungan dengan tidak adanya khlorofil.


Tanaman Gg memiliki warna hijau kekuningan, tetapi dapat terus hidup sampai menghasilkan buah dan biji, jadi tergolong normal. Jika dua tanaman yang daunnya hijau kuning dikawinkan maka keturunannya akan memperlihatkan perbandingan  1berdaun hijau normal : 2 berdaun hijau kuning. Akan tetapi bagaimanapun juga semua keturunannya normal. sedang tanaman GG adalah hijau normal. Persilangan antara sesama tanaman Gg akan menghasilkan keturunan dengan nisbah fenotipe normal (GG) : kekuningan (Gg) =1 : 2. Beberapa contoh dapat diberikan disini :


1. Pada jagung ( Zea mays ) dikenal gen dominan G

Bila dalam kondisi homozigot menyebabkan tanaman membentuk klorofil (zat hijau daun) secaranormal, sehingga daun berdaun hijau benar alel nya resesif g bila homozigot gg akan menyebabkan gen letal , sebab klorofil tidak akan terbentuk samasekali pada zigot sehingga kecambah akan segera mati.


Tanaman heterozigot Gg akan mempunyai daun hijau kekuning- kuningan, tetapi akan hidup terus sampai dapat menghasilkan buah dan biji jadi tergolong normal. Jika kedua tanaman yang heterozigot ini sama-sama disilangkan akan diperoleh pebandingan 1 berdaun dijau normal : 2 berdaun hijau kekuning-kuningan .akan tetapi bagaimanapun juga semua keturunannya normal semua.

Pada jagung


2. Pada manusia dikenal gen letal resesif i

Jika homozigot akan memperlihatkan pengaruhnya letal. Yaitu munculnya penyakit ichtyosis congenita kulit menjadi kering dan bertanduk, pada permukaan tubuh terdapat benda-benda berdarah. Biasanya bayi telah mati sebelum dilahirkan. Orang dengan homozigot dominan II dan heterozigot Ii adalah normal. Hanya pada perkawinan dengan sama-sama heterozigot akan memunculkan peluang gen letal.


3. Albino Pada Tanaman

Pada tanaman karakter albino tergolong letal, karena tak mengandung klorofil yang mutlak dibutuhkan untuk fotosintesis. Karena tanaman itu tak dapat hidup saprofit atau parasit maka ia pun tidak dapat membuat makanan organis, lalu mati. Ini sering dijumpai pada tanaman jagung. Karakter letal ini bersifat resesif oleh gen G-g. G= normal, ada klorofil g= albino, tidak berklorofil. Tanaman normal bergenotipe GG. Yang heterozigot Gg hidup terus sampai berbunga dan berbuah, tapi kekuningan.yang homozigot resesif gg mati waktu kecambah. Karena gg mati waktu berkecambah berarti individu yang bergenotipe demikian tidak bisa berketurunan. Kelainan itu diwariskan kepada keturunan melalui individu heterozigot Gg. Sebagai contoh apabila jagung kekuningan dikawinkan sesamanya terdapat benih yang memiliki ratio penotif 1normal: 2 kekuningan: 1albino. Beberapa hari kemudian kecambah albino mati dan yang tumbuh terus sampai dewasa dan berbuah memiliki ratio 1 normal: 2 kekuningan. Jadi disini ratio penotif waktu dewasa ialah 1:2 antara normal dan kekuningan.

Albino Pada Tanaman


4. Sapi “bulldog”

Diantara gen letal resesif yang banyak itu, yang paling terkenal ialah pada sapi bulldog. Yakni bayi sapi yang lahir mirip anjing bulldog, karena bentuk kepala dan moncongnya aneh. Biasanya anak sapi bulldog digugurkan (abortus) saat berumur 6-8 bulan dalam kandungan. Sapi bulldog turunan dari sapi ras Dexter. Sapi ini bertubuh pendek, dan secara gen terbukti bergenotipe heterozigot, berarti karrier terhadap gen letal. Jika sapi Dexter dikawinkan sesamanya, A bagian anak mereka bolldog. A persis seperti P yakni Dexter dan A normal. Yang normal ini bertubuh biasa disebut sapi Kerry. Karena yang bulldog mati setelah lahir maka perbandingan penotif setelah lahir itu ialah 2:1 antara dexter dan Kerry. Simbol gennya: D-d (D dari kata Dexter.)

Sapi “bulldog”


5. Kelinci Pelger

Anomali Pelger ini, yang homozigot resesif ini biasanya mati sebelum lahir atau segera setelah kelahiran, Yang heterozigot ini disebut kelinci pelger Simbol genetis P-p (dari kata Pelger). Jika kelinci Pelger kawin sesama, maka A atau 25% anak mereka mati waktu sebelum lahir.

Kelinci Pelger


6. Rubah Platina

Rubah normal bulunya berwarna merah, ada warna platina (kelabu kebiruan), ada pula perak dan hitam. Kalau platina dikawinkan sesama, ternyat ada A bagian anak mereka yang berbulu putih dan mati saat lahir atau beberapa hari setelah lahir (paling tahan sebulan). Ternyata pula A anak mereka itu berwarna perak dan A lagi platina seperti P. Itu bearti bahwa karakter warna bulu platina itu bersifat letal. Rubah platina ternyata heterozigot Pp, sedangkan perak homozigot dominan PP

Rubah Platina


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Reproduksi Bakteri – Aseksual, Seksual, Biner, Fragmentasi, Konjugasi, Transformasi, Pertumbuhan, Waktu Generasi


Mendeteksi dan mengeliminir Gen letal

Dari keterangan di muka dapat diketahui, bahwa gen letat dominan dalam keadaan heterozigot akan memperlihatkan sifat cacat, tatapi gen letat resesif tidak demikian halnya. Berhubung denganitu lebih mudah kiranya untuk mendeteksikan hadirnya gen letal domianan pada suatu individu daripada gen letal resesif.


Gen – gen letal dapat dihilangkan dengan jalan mengadakan perkawinan berulang kali pada individu yang menderita cacat akibat adanya gen letal. Tentu saja hal ini lebih mudah dapat dilakukan pada hewan dan tumbuhan , tetapi tidak pada manusia.