Bentuk Kata – Pengertian, Kelas, Makna, Relasi, Contohnya

Diposting pada

Bentuk Kata – Pengertian, Kelas, Makna, Relasi, Contohnya : Kata adalah satuan bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Umumnya terdiri dari akar kata tanpa atau dengan beberapa afiks. Kata dikombinasikan untuk membentuk frase, klausa, atau kalimat.


Pengertian kata
Pengertian kata

Pengertian Bentuk Kata

Kata adalah satuan bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Umumnya terdiri dari akar kata tanpa atau dengan beberapa afiks. Kata dikombinasikan untuk membentuk frase, klausa, atau kalimat.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Diksi ( Pilihan Kata ) Pengertian Dan ( Fungsi – Syarat – Contoh )


Bentuk Kata

  • Fenom

Fonem merupakan satuan bunyi bahasa yang terkecil yang mampu menunjukan perbedaan  makna dalam ilmu bahasa. Fonem itu ditulis diantara dua garis miring /…/ misalnya bunyi a/,/i,/u/e/,dan/o. Jika satu fonem saja diganti atau dihilangkan atau bahkan ditambahkan maka akan mengubah kata. Fonem dibedakan atas vocal dan konsonan.


Contoh kasta, kista, kusta, kata-kata ini hanya dibedakan oleh fenomena a/,i/, dan u/. Contoh  lainnya yang fenomenanya berupa huruf konsonan misalnya kata jari, hari, tari, lari, kata-kata tersebut dibedakan oleh fonem/j/,/h/,t/,l/. Fungsi fonem itu sendiri untuk membedakan makna perbedaan bunyi. Pada fonem yang membedakan makna ini menegaskan adanya fonem-fonem yang berbeda pula. 


  • Morfem

Morfem adalah suatu bentuk terkecil yang dapat membedakan makna dan atau mempunyai makna. Morfem –an, -di, me-, ter, -lah, jika digabungkan dengan kata makan, dapat membentuk kata makanan, dimakan, memakan, termakan, makanlah yang mempunyai makna baru yang berbeda dengan makna kata makan.


Morfem boleh dibagi dua, yaitu morfem bebas dan morfem terikat.

  • Morfem bebas

    dapat menjalankan fungsinya secara mandiri (dapat diucapkan tersendiri, dan dapat diletakkan dalam hubungan kalimat).

                 Contoh : buku, uang, orang.


  • Morfem terikat

    adalah morfem yang tidak dapat dapat berdiri sendiri dari satu makna. Maknanya baru jelas setelah dihubungkan dengan morfem yang lain. Morfem terikat mencakup :

    • Awalan : Ditambah pada bagian depan kata dasar. Misalnya membaca, menghafal.
    • Akhiran: Ditambah pada bagian belakang kata dasar.
    • Sisipan: Diselit di antara unsur unsur kata dasar. Misalnya telapak (tapak)
    • Apitan: Ditambahkan serentak pada awalan dan akhiran kata dasar. Misalnya, imbuhan per….an dalam permainan

  • Kata

Kata adalah satuan bentuk terkecil (dari kalimat) yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna. Kata yang terbentuk dari gabungan huruf atau gabungan morfem; atau gabungan huruf dengan morfem, baru diakui sebagai kata bila bentuknya mempunyai makna. Dari segi bentuk, kata dibagi atas dua macam:

a.Kata yang bermorfem tunggal (kata dasar), yaitu kata yang belum mendapat imbuhan.
b.Kata yang bermorfem banyak, yaitu kata yang sudah mendapat imbuhan.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Konjungsi Adalah : 20 Contoh, Pengertian, Jenis, Fungsi (LENGKAP)


Pembagian kelas atau jenis kata:

1)      kata benda (nomina)               6) kata bilangan (numeralia)

2)      kata kerja (verba)                    7) kata sambung (konjungsi)

3)      kata sifat (adjektiva)               8) kata sandang (artikel)

4)      kata ganti (pronomina)            9) kata seru (interjeksi)

kata keterangan (adverbia) 10) kata depan (preposisi.


Jenis Kata

Sementara itu, ilmu bahasa termasuk morfologi terus berkembang. Pembagian kelas kata bahasa Indonesia yang paling mutakir adalah yang diajukan oleh Tim Depdikbud RI yang terdapat di dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (edisi perdana 1988). Di dalam buku itu, Moeliono, dkk. mengelompokan kata ke dalam lima jenis, yaitu :


  • Verba (Kata Kerja)

 Adalah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan, proses, dan keadaan yang bukan merupakan sifat. Umumnya berfungsi sebagai predikat dalam kalimat.


  • Ciri-ciri kata kerja:

1) Dapat diberi aspek waktu, seperti akan,sedang, dan telah.
Contoh: (akan) mandi
2) Dapat diingkari dengan kata tidak
Contoh: (tidak) makan
3) Dapat diikuti oleh gabungan kata (frasa) dengan + kata benda atau kata sifat.
Contoh: tulis + dengan pena (KB) menulis + dengan cepat (KS)


Selain bentuk di atas, ada bentuk verba yang lain, yaitu:

a) Verba reduplikasi atau verba berulang dengan dengan atau tanpa pengimbuhan, misalnya makan-makan, batuk-batuk.

b) Verba majemuk, yaitu verba yang terbentuk melalui proses penggabungan kata, namun bukan berupa idiom; misalnya terjun payung, tatap muka.

c) Verba berpreposisi, yaitu verba intransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu; misalnya tahu akan, cinta pada.


  • Adjektiva (Kata Sifat)

Adalah kata yang menerangkan sifat, keadaan, watak, tabiat orang/binatang/suatu benda. Umumnya berfungsi sebagai predikat,


objek, dan penjelas dalam kalimat. Dibedakan atas dua macam, yaitu:

1) kata sifat berbentuk tunggal, dengan ciri-ciri:

    1. dapat diberi keterangan pembanding seperti lebih, kurang, dan paling: misalnya lebih baik.
    2. Dapat diberi keterangan penguat seperti sangat, sekali; misalnya sangat senang, sedikit sekali.
    3. Dapat diingkari dengan kata ingkar tidak, misalnya tidak benar.

2) kata sifat berimbuhan.

Contoh: abadi, manusiawi, kekanak-kanakan.


  • Adverbia (Kata Keterangan)

Adverbia adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat. Kalimat Saya ingin segera melukis, kata segera adalah adverbia yang menerangkan verba melukis.


Menurut Alwi dkk. (1998 : 366), keterangan di dalam kalimat ada Sembilan macam, semua keterangan itu diisi oleh beraneka bentuk adverbial seperti tampak dalam contoh di bawah ini. Contoh:


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Diksi ( Pilihan Kata ) Pengertian Dan ( Fungsi – Syarat – Contoh )


  1. Yang menyatakan waktu :sekarang, besok, beberapa hari lagi, pada masa lalu, sejak tahun 1945;
  2. Yang menyatakan tempat dan arah :di sana, ke kampus, dari bogor, diatas meja, di selatan khatulistiwa ;
  3. Yang menyatakan tujuan :demi keluarga, untuk mencerdaskan bangsa, bagi tanah air dan Negara;
  4. Yang menyatakan cara :sekuat – kuatnya, lama – lama, baik – baik, kecil – kecilan, dengan terang – terangan, dengan perhatian penuh ;
  5. Yang menyatakan penyertaandengan karyawan, bersama rakyat, tanpa guru ;
  6. Yang menyatakan alat :dengan kereta api, dengan sepeda, dengan gunting, dengan kapak merah ;
  7. Yang menyatakan kemiripan :laksana puteri, bagaikan karang, seperti petinju ;
  8. Yang menyatakan penyebaban :karena inflasi, karena krisis keuangan, karena cinta ;
  9. Yang menyatakan kesalingan :satu sama lain ;

  • Rumpun Kata Benda

Kata Benda adalah kata yang mengacu kepada sesuatu benda (konkret maupun abstrak). Kata benda berfungsi sebagai subjek, objek, pelengkap, dan keterangan dalam kalimat.


               Ciri kata benda:

Dapat diingkari dengan kata bukan.

Contoh: gula (bukan gula).

Dapat diikuti setelah gabungan kata yang + kata sifat atau yang sangat + kata sifat.

Contoh: buku + yang mahal (KS).


Ada tiga jenis kata yang juga mengacu kepada benda, yaitu:

  1. Nomina (kata benda) : kata yang dipakai untuk menyatakan benda konkret.
  2. Pronomina (kata ganti) : kata yang dipakai untuk mengacu kepada nomina lain.Contoh: mana, kapan, Bu
  3. Numeralia (kata bilangan) : kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya orang, binatang, atau barang. Contoh: tiga, puluhan.

  • Rumpun Kata Tugas

Kata Tugas adalah kumpulan kata dan partikel. Lebih tepat dinamakan rumpun kata tugas, yang terdiri atas:


  • Kata depan (preposisi)

Kata depan adalah kata tugas yang selalu berada di depan kata benda, kata sifat atau kata kerja untuk membentuk gabungan kata depan (frasa preposional).

Contoh: di kantor, sejak kecil.


  • Kata sambung (konjungsi)

Kata sambung adalah kata tugas yang berfungsi menghubungkan dua kata atau dua kalimat.

Contoh: – …antara hidup dan mati (dalam kalimat)

– Situasi memang sudah membaik. Akan tetapi, kita harus selalu siaga.


  • Kata seru (interjeksi)

Kata seru adalah kata tugas yang dipakai untuk mengungkapkan seruan hati seperti rasa kagum, sedih, heran, dan jijik. Kata seru dipakai di dalam kalimat seruan atau kalimat perintah (imperatif).

Contoh: Aduh, gigiku sakit sekali!

Ayo, maju terus, pantang mundur!


  • Kata sandang (artikel)

Kata sandang adalah kata tugas yang membatasi makna jumlah orang atau kata benda. Artikel ada tiga, yaitu:

    • yang bermakna tunggal: sang putri
    • yang bermakna jamak: para hakim
    • yang bermakna netral: si hitam manis.

Partikel

Bermakna unsur-unsur kecil dari suatu benda. Partikel yang dibicarakan di sini adalah partikel yang berperan membentuk kalimat tanya (interogatif) dan pernyataan, yaitu:


  • kah: Apakah Bapak Ahmadi sudah datang?
    Berfungsi sebagi kalimat tanya yang membutuhkan jawaban
  • lah: Apalah dayaku tanpa bantuanmu?
    Berfungsi sebagai kalimat tanya yang tidak membutuhkan jawaban tetapi tetap diberi tanda tanya.
  • lah: Dialah yang Maha Kuasa.
    Kata  lah dalam kalimat ini menunjukkan partikel dan harus ditulis dengan huruf kecil.


Pengertian Makna Kata

Makna adalah denotasi.  Kadang – kadang  “Makna”  itu selaras dengan “Arti” dan kadang tidak selaras. Apabila makna sesuatu itu sama dengan arti sesuatu itu, maka makna tersebut disebut Makna Laras (Explicit Meaning). Apabila maknanya tidak selaras dengan “Arti”, maka sesuatu itu disebut memiliki Makna Kandungan (Implicit Meaning) atau Makna Lazim (Necessary Meaning).


Sebagai contoh kata “Sapi”, ia memiliki arti dan makna.  “Sapi” sudah memiliki arti sebelum kata tersebut dimasukan ke dalam kalimat, tapi ia belum memiliki makna, karena makna hanya akan terbentuk apabila kata itu sudah dimasukan kedalam kalimat.


Contoh Makna Laras:
Gara membeli sapi.

Kalimat ini memiliki makna yang sama dengan artinya, yaitu sapi.  Pengertian yang menyeluruh tentang sapi tersebut itulah yang disebut dengan Makna Laras (Explicit Meaning). Ketika Gara membeli sapi, tentu yang dibeli adalah keseluruhan tubuh sapi. Oleh karena itu, makna “Sapi” dalam kalimat tersebut adalah sama dengan arti “Sapi”, sehingga disebut memiliki Makna Laras.


Contoh Makna Kandungan:
Gara memukul sapi.

Yang dipukul oleh Gara adalah sebagian tubuh sapi itu, oleh karena itu “Sapi” dalam kalimat tersebut tidak selaras dengan artinya, melainkan hanya kandungan arti tersebut.  Oleh karena  itu  “Sapi” dalam kalimat  tersebut  memiliki Makna Kandungan.


Contoh Makna Kata Lazim:
Gara Menarik sapi.

Kata “Sapi” dalam kalimat tersebut adalah memiliki Makna Lazim, karena ketika Gara menarik sapi, sebenarnya yang dipegang adalah talinya. Dia menarik tali itu secara tidak langsung menarik tubuh sapi. Kendatipun yang gara pegang dan dia tarik secara langsung adalah tali kedali sapi dan bukan sapinya secara langsung, tetapi sudah lazim dikatakan bahwa hal itu disebut menarik sapi. Itulah mengapa disebut Makna Lazim.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian, Fungsi, Dan Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan Secara Lengkap


Relasi Makna Kata

Di dalam Bahasa Indonesia, banyak ditemukan suatu kata yang memiliki hubungan atau relasi semantik dengan kata lain, seperti kesamaan makna, lawan kata, kegandaan kata, ketercakupan makna, kelainan makna, dan sebagainya. Di bawah ini akan dijelaskan macam-macam relasi makna tersebut.


  • Sinonim

Secara etimologi kata sinonimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma  yang berarti “Nama”, dan syn  yang berarti “Dengan”. Maka secara harfiah kata sinonim berarti “Nama lain untuk benda atau hal yang sama” (Chaer, 1990:85). Sinonim atau bisa disebut kegandan makna dapat diartikan sebagai dua kata atau lebih yang memiliki makna yang sama atau hampir sama. Dikatakan hampir sama karena meskipun dua kata tersebut sama, kata tersebut tidak dapat atau kurang tepat bila menggantikan kata yang lain dalam sebuah kalimat. Contohnya seperti di bawah ini :


Tikus itu mati diterkam kucing.
Tikus itu meninggal diterkam kucing.

Dalam dua kalimat di atas, kita dapat menemukan dua kata yang bersinonim, yaitu mati dan meninggal. Namun kata “Meninggal” pada kalimat kedua tidak dapat menggantikan kata “Mati” pada kalimat pertama. Hal ini karena kata “Mati” dapat digunakan pada semua makhluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan, sedangkan kata “Meninggal” hanya digunakan pada manusia.


  • Antonim

Kata antonimi berasal dari kata Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti “Nama”, dan anti yang berarti “Melawan”. Maka secara harfiah antonim berarti ‘nama lain untuk benda lain pula’(Chaer, 1990:85). Kata antonim atau sering disebut lawan kata dapat diartikan sebagai dua kata yang memiliki makna yang berlawanan atau bertentangan. Misalnya,  hidup-mati, diam-gerak dan sebagainya.


  • Homonim, homofon, homograf

Kata homonimi  berasal dari bahasa Yunani kuno onoma yang berarti “Nama” dan homo yang artinya “Sama”. Secara harfiah homonimi dapat diartikan sebagai “Nama sama untuk benda atau hal lain” (Chaer, 1990:85). Homonim adalah dua kata atau lebih yang memiliki ejaan  dan lafal yang sama namun memiliki makna yang berbeda. Misalnya, kata “Bisa” dapat diartikan dua makna, yakni “Bisa” yang berarti “Dapat” dan “Bisa” yang berarti “Racun”.


Homofon (homo berarti sama, fon berarti bunyi ) adalah dua kata atau lebih yang memiliki lafal yang sama walaupun ejaan dan maknanya berbeda. Misalnya, kata “Bang” dan “Bank”. Homograf (homo berarti sama, grafi berarti tulisan) adalah dua kata atau lebih yang memiliki ejaan yang sama namun memiliki lafal dan makna yang berbeda. Misalnya, “Tahu” (baca “Tahu”)  bermakna salah satu produk makanan yang berasal dari kedelai, sedangkan kata “Tahu” (baca “Tau”) bermakna mengetahui.


  • Hiponim dan hipernim

Kata hiponimi berasal dari bahasa Yunani kuno , yaitu  onoma berarti “Nama” dan hypo berarti “Di bawah”. Jadi, secara harfiah berarti “Nama yang termasuk di bawah nama lain” (Chaer, 1990:85). Hipomimi dan hipermimi berhubungan satu sama lain, hipomimi merujuk pada kata yang lebih khusus yang merupakan subordinat dari hipermimi. Misalnya, kata “Tongkol” dan “Ikan”, kata “Tongkol” merupakan hiponim dari kata “Ikan” sedangkan kata “Ikan” merupakan hipernim dari kata “Tongkol”.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian, Tujuan Dan Fungsi Akuntansi Manajemen Menurut Para Ahli


  • Polisemi

Polisemi adalah satuan bahasa (bisa kata atau frase) yang memiliki makna  lebih dari satu. Misalnya pada kalimat di bawah ini :

Kepalaku sakit sejak kemarin.
Kepala sekolah menemui para murid di kelas

Kata “Kepala” yang pertama bermakna bagian tubuh yang berada di atas leher sedangkan kata “Kepala” yang kedua bermakna pemimpin.


Jenis Makna Kata

Makna di dalam sastra Bahasa Indonesia ditentukan dalam beberapa kriteria atau jenis dan juga sudut pandang. Jenis makna dalam Bahasa Indonesia sangat banyak diantaranya: Berdasarkan jenis semantiknya, dapat dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal, berdasarkan ada atau tidaknya referen pada sebuah kata atau leksem dapat dibedakan adanya makna referensial dan makna nonreferensial,


berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata/leksem dapat dibedakan adanya makna denotatif dan makna konotatif, berdasarkan ketepatan maknanya dikenal makna kata dan makna istilah atau makna umum dan makna khusus. Lalu berdasarkan kriteri lain atau sudut pandang lain dapat disebutkan adanya makna-makna asosiatif, kolokatif, reflektif, idiomatik dan sebagainya.


  • Makna Lesikal dan Makna Gramatikal

Leksikal merupakan bentuk adjektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon.  Satuan dari leksikon adalah leksem, yaitu satuan bentuk bahasa yang bermakna. Dengan kata lain makna lesikal adalah makna unsur-unsur bahasa (leksem) sebagai lambang benda, peristiwa, obyek, dan lain-lain. Seperti kata tikus makna leksikalnya adalah sebangsa binatang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Makna ini tampak jelas dalam kalimat Tikus itu mati diterkam kucing, atau Panen kali ini gagal akibat serangan hama tikus.


Biasanya makna leksikal dipertentangkan dengan makna gramatikal. Jika makna leksikal berkenaan dengan makna leksem, maka makna gramatikal ini adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi. Proses afiksasi awalan ter- pada kata angkat dalam kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh adik, melahirkan makna “Dapat”, dan dalam kalimat Ketika balok itu ditarik, papan itu terangkat ke atas melahirkan makna gramatikal “Tidak sengaja”.


  • Makna Referensial dan Makna Nonreferensial

Perbedaan makna referensial dan makna nonreferensial berdasarkan ada tidak adanya referen dari kata-kata itu. Bila kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu, maka kata tersebut disebut kata bermakna referensial.


Kalau kata-kata itu tidak mempunyai referen, maka kata itu disebut kata bermakna nonreferensial. Kata meja termasuk kata yang bermakna referensial karena mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut “Meja”. Sebaliknya kata karena tidak mempunyai referen, jadi kata karena termasuk kata yang bermakna nonreferensial.


  • Makna Denotatif dan Konotatif

Makna denotatif atau konseptual adalah makna kata yang didasarkan atas penunjukkan yang langsung (lugas) pada suatu hal atau obyek di luar bahasa. Makna langsung atau makna lugas bersifat obyektif, karena langsung menunjuk obyeknya. Jadi, makna denotatif ini menyangkut informasi-informasi faktual objektif. Oleh karena itu, makna denotasi sering disebut sebagai ’makna sebenarnya.


Seperti dalam  kata perempuan dan wanita kedua kata itu mempunyai dua makna yang sama, yaitu “Manusia dewasa bukan laki-laki”.

Makna konotatif merupakan lawan dari makna denotatif. Jika makna denotatif mencakup arti kata yang sebenarnya, maka makna konotatif sebaliknya, yang juga disebut sebagai makna kiasan. Lebih lanjut, makna konotasi dapat dijabarkan sebagai makna yang diberikan pada kata atau kelompok kata sebagai perbandingan agar apa yang dimaksudkan menjadi jelas dan menarik.


Seperti dalam kalimat “Rumah itu dilalap si jago merah”. Kata “Si jago merah” dalam kalimat tersebut bukanlah arti yang sebenarnya, melainkan kata kiasan yang bermakna “Kebakaran”. Makna konotatif dapat juga berubah dari waktu ke waktu. Misalnya kata ceramah dulu kata ini berkonotasi negatif karena berarti “Cerewet”, tetapi sekarang konotasinya positif.


  • Makna Kata dan Makna Istilah

Setiap kata atau leksem memiliki makna, namun dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Berbeda dengan kata, istilah mempunyai makna yang jelas, yang pasti, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Oleh karena itu sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks. Hanya perlu diingat bahwa sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Perbedaan antara makna kata dan istilah dapat dilihat dari contoh berikut


(1) Tangannya luka kena pecahan kaca.
(2) Lengannya luka kena pecahan kaca.

Kata tangan dan lengan pada kedua kalimat di atas adalah bersinonim atau bermakna sama. Namun dalam bidang kedokteran kedua kata itu memiliki makna yang berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai ke jari tangan; sedangkan lengan adalah bagian dari pergelangan sampai ke pangkal bahu.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Fungsi, Tujuan, dan Prinsip Manajemen Keuangan Lengkap


  • Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Yang dimaksud dengan makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun. Kata kuda memiliki makna konseptual sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Jadi makna konseptual sesungguhnya sama saja dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial.


Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misalnya, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian.


  • Makna Idiomitikal dan Peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat ”Diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Contoh dari idiom adalah bentuk membanting tulang dengan makna “Bekerja keras”, meja hijau dengan makna “Pengadilan”.


Berbeda dengan idiom, peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya ”Asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. Umpamanya peribahasa Seperti anjing dengan kucing yang bermakna “Dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur”. Makna ini memiliki asosiasi, bahwa binatang yang namanya anjing dan kucing jika bersama memang selalu berkelahi, tidak pernah damai.


  • Makna Kias

Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan istilah arti kiasan digunakan sebagai oposisi dari arti sebenarnya. Oleh karena itu, semua bentuk bahasa (baik kata, frase, atau kalimat) yang tidak merujuk pada arti sebenarnya (arti leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif) disebut mempunyai arti kiasan. Jadi, bentuk-bentuk seperti puteri malam dalam arti “Bulan”, raja siang dalam arti “Matahari”.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Manajemen Investasi Beserta Portofolio Dan Contohnya